LITTLE FLOWER

Inspirated by a great film, STOKER

Dengan beberapa perubahan

BTS fanfiction

Characters belongs to God, BTS belongs to Bighit

Minyoon

.

.

.

Dang! Kutekan tuts piano dengan kasar.

Aku masih memikirkan mayat Hoseok yang tersimpan di kulkas basement. Ini membuatku geram. Aku tak lagi berani turun ke sana. Aku tak lagi inginkan es krim. Makan pun aku segan. Apalagi untuk bicara dengan Jimin.

Walau aku tak bertanya apapun, walau dia tak katakan apapun, aku tahu. Aku tahu siapa yang sudah membekukan Hoseok di sana.

Apa harus ku bilang kalau aku takut?

Dihantui ketakutan?

Lantas apa yang harus ku lakukan?

Aku memejamkan mata membayangkan hari-hari yang telah berlalu semenjak ada Jimin di rumah ini. Saat dia tiba, saat dia tersenyum padaku untuk pertama kali, saat dia menatap sepatu lusuhku, saat dia memasak bistik, saat dia menatapku sementara mulutnya bicara pada kakakku, saat dia bertengkar dengan Hoseok.. saat dia... saat dia...

Akh!

Bayang-bayang Jimin memenuhi kepalaku. Jariku menekan tuts, menyesuaikan irama, menaruh sebagian pikiranku yang ku paksakan fokus pada lagu yang seharusnya lancar ku mainkan.

Aku bernafsu. Antara amarah dan tak pahamnya diriku atas ketakutan itu. Aku tak punya bentuk agresi, lari enggan, tinggal pun jadi beban. Walau tak ku katakan, aku mungkin telah menuduh Jimin terang-terangan. Tapi kenapa aku berhenti sebatas menuduh?

Jari-jariku terus bergerak sementara carut-marut isi kepalaku ingin ku hamburkan tapi tak bisa. Lagu itu rasanya jadi kasar dan tak nikmat didengar.

Dang! Aku menekan seluruh tuts yang ada di bawah jariku dengan satu sentakan.

"Hah..."

Aku mendongak, meluruskan punggung dan membuang napas jengah. Ku tatap langi-langit sejenak sebelum aku memejamkan mata. Aku menarik napas panjang dan membuangnya lagi dengan berat.

Aku kembali memposisikan kedua tanganku di atas piano. Ku mainkan ulang lagu tadi. Dari awal.

Aku mencoba bermain dengan lembut.

Dang, dang, dang.

Tak ku kira, bagian paling kiri di nada rendah dimainkan oleh dua tangan dengan urat menonjol yang kemarin menekan tuts dengan kaku.

Aku meliriknya, Jimin yang membungkuk dan mengimbangi irama tersenyum padaku. Permainan ini dapat tamu tak diundang. Aku masih terus memainkan pianoku dan dia juga tak berhenti mengisi kekosongan nada. Dia melengkapi harmoni dengan nada-nada rendah yang dia tekan.

Dia tahu lagu ini. Dia tahu apa yang ku mainkan. Dia tahu harmoninya. Dan dia bisa bermain piano.

Dia telah berbohong pada kakakku saat itu.

Dia bohong.

Nada aneh yang ditekannya menghentikan musik yang ku mainkan. Dia menggeser dudukku dan ambil tempat di spasi yang tersisa. Dia mengganti lagu dengan tempo yang cepat. Kami, dengan tangan yang bergerak saling mengejar, duduk berdampingan di atas sebuah kursi kayu yang sempit. Bahu kami saling bersentuhan. Aroma parfum yang manis-getir itu tercium lagi.

Aku tak mau kalah darinya, maka aku mainkan nada-nada bagianku seapik mungkin. Hanya, dia masih saja santai sementara tangannya bergerak lincah. Ada rasa ingin bersaing yang mulai muncul. Aku sangat ingin membuat lelaki itu telak berhenti.

Tapi lama-lama, tensi lagunya semakin naik. Permainanku dan permainannya semakin teraduk, melebur jadi satu.

Aku memejamkan mata. Lagu ini akan semakin dekat pada titik tertinggi, pada klimaksnya.

Dia terus menuntunku untuk tetap stabil pada irama. Gerakan kami makin cepat, kombinasi nada yang kami mainkan makin rumit. Aku mendongak, meresapi satu rasa yang entah mengapa menusuk tapi nikmat. Sesuatu yang indah yang bisa telingaku dengar. Walau yang ku sentuh adalah tuts yang selalu sama, tapi kali ini, ada sesuatu yang membuatku membumbungkan khayalku tinggi-tinggi.

Aku menikmatinya.

Nikmat terajaib yang pernah ku rasakan.

Aku melayang...

Selama musik itu terus kami mainkan, aku berkali-kali bergumam tanpa tertahan. Ada bagian-bagian tubuhku yang terasa tegang karena adrenalin. Punggungku, leherku, sikuku, lututku. Aku menekuk kakiku yang bersilangan jadi lebih rapat. Suara gesekan sol sepatuku dan karpet tak ku pedulikan. Di telingaku, hanya ada alunan musik yang meracuni.

"Yoongi..."

Ku dengar bisikan itu tepat di telingaku. Walau aku tak menoleh, aku tahu lelaki itu telah mengikis jarak di antara kami. Ku rasakan napasnya yang halus dan panas. Rambutnya mengenai daun telingaku.

Aku meremang. Tapi tanganku tak juga berhenti.

Lalu ku dengar nada yang paling tinggi dimainkan. Saat ku buka mata, sebelah tangan Jimin melewati punggungku dan bergerak lincah di ujung kanan piano. Membuat harmoni yang lebih sempurna, dengan nada paling rendah dan paling tinggi yang melengkapi dasarnya.

Kepala itu masih ada di sampingku, hidungnya mengendus, permukaan bibirnya yang halus mengenai rahangku. Dia terus bernapas di sana. Membuatku tak lagi punya pertahanan. Kenikmatan bunyi yang ajaib ini, dan hembusan napasnya membuatku luluh. Aku tak bisa menahan remang itu lagi. Aku melenguh. Terganggu tapi juga suka akan sensasinya.

Kami memainkan piano itu dengan gairah. Nada gairah.

"Love..."

Dang!

Dia menghentikan permainannya tiba-tiba. Tanganku turut berhenti perlahan.

Aku mengangkat kepala, seolah udara di atas lebih banyak bisa ku raup. Aku terengah-engah dengan napas yang tak beraturan. Kepalaku pening. Ujung-ujung jariku yang masih bersentuhan dengan tuts piano itu tak ku tarik turun. Masih di sana. Jimin juga, masih sama.

"Love..."

Dia mengulang panggilan itu lagi. Kepalanya bergerak lembut menyeruduk sambil mengendusku.

"Nghh—"

Napasnya, bibirnya, menggelitik. Aku meneleng. Lantas dia menjauh dan tak ku rasakan lagi napas panasnya di telingaku. Kemudian aku menoleh. Ku dapati dia tengah memandangku—dengan sorot mata yang paling teduh dari yang pernah ku lihat sebelumnya. Mengapa...

"Permainan yang bagus."

...mengapa dia begitu memesona?

"Yoongi, love."

Kami saling bersitatap. Dia punya mata yang berbeda dari Namjoon-hyung. Dia punya magnet di sana, dalam kelamnya. Dia menarikku untuk tenggelam dalam samudera itu.

Aku telah kalah.

Aku kalah darinya.

"Love, love..."

Dia berbisik dengan racaunya.

Dalam keheningan, ku rasakan bibir lembutnya menyentuh. Ku pejamkan mata. Aroma bunga liar itu merasuk.

Dialah yang pertama bagiku. Dia menciumku.

Dang.

Ketika satu tuts tak sengaja ku tekan, aku membuka mata. Dia menghilang.

.

.

.

Little Flower

.

.

.

Aku tak bisa tidur. Gelap kamarku tak membantu untuk megusir rasa gelisah yang mengganggu. Aku bangun untuk duduk di atas ranjang. Gelap. Gelap. Dan aku sadar kalau aku sudah termenung lama di atas ranjang. Terlalu lama sampai matahari meninggalkanku. Tapi pakaianku masih tetap sama. Outer cardigan sewarna rumputku masih melekat. Aku bahkan tak ingat untuk makan atau apapun.

Akhirnya aku memutuskan untuk turun, meninggalkan kamarku demi segelas air.

Di lantai satu, kudengar musik klasik mendayu. Aku mencari dari mana suara itu berasal. Ku buka pintu dapur, tak ada siapapun di sana. Lantas aku berbelok ke ruang makan.

"Sepertinya kau tinggal lebih lama dari yang ku kira."

"Salahkah jika aku merasa nyaman tinggal di sini?"

"Oh, Jimin."

Ada tawa yang saling berbalas. Aku berhenti di balik dinding, bersembunyi dari cahaya yang menerangi ruang itu. Di sana, ada kakakku dan Jimin, juga wine di atas meja.

"Kau ingin aku pergi?"

Jimin berdiri dengan menyimpan tangannya dalam saku—aku jadi hapal pada kebiasaannya yang satu itu. Dia tersenyum pada Yoonji-noona dengan lengkungan bibir yang menawan. Yang aku baru sadari, dia punya itu. Tapi kemana pesonanya beberapa hari ke belakang? Kenapa aku terlambat untuk menangkap indah dari senyumnya itu?

Kakakku tertawa pelan.

"Ayolah, Yoonji-ah." Jimin masih memasang wajah itu. "Kau mau berdansa?"

Kakakku diam sejenak, tapi tak lama dia menaruh gelas winenya di atas meja. Dia mengitari benda berbentuk persegi panjang itu, sampai pada tempatnya biasa duduk. Dia menaruh satu tangan di atas kepala kursi. Kemudian menaikkan sedikit dagunya—menjual mata indahnya.

"Aku cukup mahir berdansa, apa pengelana sepertimu bisa mengimbangiku?" ucap kakakku. Terdengar sarkastis, tapi tak juga menusuk.

"Kalau begitu ajari aku, dear."

Aku mendengar panggilan sayang itu terlontar dari mulutnya. Jimin memanggil kakakku dengan sayang. Hanya, dia tak mengucap panggilan yang sama seperti dia memanggilku.

Lelaki itu mendekat, berjalan lambat seirama ketukan musik yang melambai. Saat mereka benar-benar tak lagi punya jarak yang berarti, ku lihat tangan itu melingkar di pinggang kakakku.

Mereka berdansa diiringi musik klasik yang lembut. Saling menatap. Saling melempar senyum. Saling menjual pesona. Saling memikat.

Kakakku mengenakan gaun tipis itu di depan Jimin. Gaun tidur yang hanya dia tunjukkan pada Namjoon-hyung sebelumnya.

"Kau ini siapa sebetulnya? Kenapa... kau muncul tiba-tiba?"

"Kau peduli siapa aku? Apa sekarang itu masih jadi pertanyaan?"

Mereka saling balas berbisik. Tawa itu juga jadi bisik. Aku masih terdiam di balik dinding, mengintip tanpa melepas pandanganku dari dua orang yang berdansa dengan mesra itu.

"Jimin..."

"Hm?"

Mereka berhenti berdansa, tapi masih dalam posisi yang sama, saling berhimpitan, saling mengalung.

"Apa kau merasakan hal yang sama denganku?"

Dua kepala itu terantuk pelan. Ujung hidung mereka saling bersentuhan.

"Kau peduli dengan itu?"

Tak ada jawaban atas pertanyaan yang berbisik itu. Mereka hanya saling menatap, menelisik.

Kemudian mereka berciuman.

Sekali, dua kali. Seperti tak cukup sekali melumat dan berhenti, mereka terus melakukannya, makin tak seirama dengan musik yang mendayu. Mereka lebih cepat sedikit.

Aku mengintip dengan nanar.

Lalu ku lihat tangan Jimin mulai naik dari pinggang Yoonji-noona, ke bahunya, meremasnya di sana, kemudian turun lagi dan berhenti di dadanya.

Tangan kakakku mengikutinya, menuntun tangan itu tetap di sana.

"Mmhh..."

Lenguhan itu—aku tak sanggup mendengarnya. Aku tak sanggup.

Tidak. Tidak!

.

Aku lari sekencang-kencangnya. Aku berlari ke hutan, meninggalkan cardiganku yang ku buang. Aku merasa ada sesuatu yang terbakar di dadaku. Aku tak paham, tapi aku benci ketika melihat mereka bermesraan. Aku tak begini sebelumnya. Kenapa? Apa yang terjadi?

Apa yang salah denganku?

"Hah... hah..."

Aku tak tahu seberapa jauh aku berlari meninggalkan rumahku. Dadaku sesak. Aku mulai berhenti berlari saat aku sadar kakiku telah jauh berlari sampai ke jalan raya. Ke tempat di mana cafe-cafe menyumbang cahaya dengan lampu temaramnya.

"Hiks..."

Aku menangis tanpa tahu kenapa. Aku tak punya alasan yang jelas untuk itu. Aku hanya ingin menumpahkan kebobrokan hatiku, juga kertas kusut di otakku lewat tangisan itu. Rasanya perih. Tapi perihnya berbeda ketika aku menangisi Namjoon-hyung.

Aku bingung.

"Yoongi?"

Mataku berkabut. Aku mencoba melihat siapa yang memanggilku, tapi aku tak mampu menangkap dengan jelas sosok yang berjalan mendekatiku dengan langkah lebar itu.

"Sedang apa kau di sini?"

Hanya, aku kenal suaranya.

"Hoi, sudah, hentikan!"

"Jangan ganggu dia!"

"Kalian sendiri juga hanya buang-buang waktu mengganggu dia. Sana, nonton rugby."

"Maaf untuk itu. Mereka memang kurang ajar. Abaikan saja."

"Yoongi! Kau mau kemana?"

"Yoongi!"

"Yoongi?" tepukan itu menyadarkanku dari lamunan. Tangannya ada di bahuku. Reflek aku mundur selangkah. Aku tak bisa bersentuhan dengan orang lain—tak suka, tak terbiasa. "Sedang apa kau di sini? Malam-malam begini?"

Aku menyeka jejak tangisanku dengan kasar. Bodoh memang diriku ini, kenapa bisa aku berlari tanpa peduli kemana arah yang kutuju? Kenapa aku harus bertemu dengan dia yang mengenalku?

"Yoongi. Hei."

Aku tak sengaja bersitatap dengannya. Dia menatapku dengan matanya yang sebentuk dengan mata rubah. Dahinya berkerut. Lelaki dengan jaket kulit dan jeans robek-robek itu menatapku seperti... saat Namjoon-hyung tahu aku menangis.

"Apa yang terjadi?"

Dia mengamit tanganku.

Aku mencoba untuk tidak lagi menghindar—dengan tetap bertahan dalam genggaman tangan besar itu.

Entah kenapa lirihnya membuatku tergugu. Apalagi ketika dia melepas jaketnya, untuk dia sampirkan di bahuku.

"Kau tidak pakai mantel atau apapun, walau musim panas belum benar-benar berakhir tapi malam tetaplah dingin. Kenapa kau berada di jalanan hanya dengan kemeja tipismu itu?" ujarnya. Dia mengomel padaku.

"... Taehyung." ini pertama kalinya aku menyebut namanya. Kami sekelas di beberapa mata pelajaran. Tapi aku tak pernah bicara dengannya sekalipun.

"Kau mau masuk ke dalam?" dia menunjuk sebuah cafe di sampingnya. Tempat di mana dia keluar dan berpapasan denganku. Ku lirik ke dalam, ada beberapa lelaki yang berpakaian serupa dengannya. Jaket kulit. Di luar cafe itu banyak motor besar terparkir. Ah, dia dan teman-temannya.

"Tidak."

Dia mendengung.

"Lalu kemana kau ingin pergi?"

Tawarnya. Dia ingin aku yang menuntun.

.

.

.

Little Flower

.

.

.

Dia mengikutiku dari belakang. Aku berlari, melompati rel kereta yang sudah usang termakan usia. Kami masuk ke bagian gelap, jauh dibalik terang jalanan. Banyak pohon besar yang berdiri kokoh, sementara bekas taman bermain itu karatnya berbau seperti hujan. Aku berhenti di sana, duduk di ayunan yang berderit ketika aku gerakkan.

"Taehyung."

"Kenapa kau memilih tempat seperti ini? Apa yang ingin kau lakukan?" dia menontonku bermain ayunan.

"Taman bermain ini berbatasan langsung dengan halaman rumahku." aku memilih tak menjawab pertanyaannya. Ku utarakan apa yang ingin ku katakan saja. Itu cukup.

"Benarkah?"

"Aku punya rumah dengan halaman yang sangat luas. Ada hutan. Semak belukar. Danau. Lapangan tenis." ku pandang bulan yang sempurna bentuknya di atas sana. Menerangi langit malam yang gelap, memberi kami sedikit cahaya lembut.

"Lalu maksudmu, kau ingin aku mengantarmu pulang?" dia tersenyum. Tampan. Walau gelap, aku lihat wajahnya yang tersinari rembulan. Dia punya senyum yang manis.

Tapi itukah alasanku memilihnya?

Aku memberinya senyum. Lantas aku bangkit dari dudukku, aku berlari lagi.

"Yak, setidaknya katakan sesuatu sebelum lari begitu saja." dia menggerutu di belakangku, tapi dia tetap mengikutiku tanpa berhenti. Kami berkejaran.

Aku tertawa. Ada gelenyar yang aneh ketika mendengar suara tawanya yang selalu sama, kekeh itu. Aku merasa, hanya dia yang bisa membuatku lupa akan beban yang kubawa.

Kami terus berlari, menyusuri jalanan gelap yang berbatu, melewati rumput liar yang lembap, mengusik pohon yang berdiri di kanan-kiri.

"Kena kau."

Dia menarik lenganku dan membuatku jatuh ke pelukannya. Lelaki bernama Taehyung itu bersandar di pohon, tertawa sambil memberiku mata rubahnya yang cukup menawan.

"Kau tahu tidak, kita sudah sampai di halaman rumahku."

"Oh sungguh?"

Kami tertawa. Dia mengatukkan dahinya pada puncak kepalaku. Aku mendongak. Sambil masih tertawa, aku menatapnya, dan tanpa pikir panjang kucium bibir itu.

Tak sangka, dia memagut, mengulum bibir atasku dan mengecap-ngecap, membuat suara lucu hadir diantara kami yang bercumbu dalam kegelapan malam. Aku mengabaikan suara serangga yang nyaring, atau juga ribut dedaunan.

Taehyung memberiku penawar atas perasaan tak jelas yang meracuniku. Dia seolah membuang segalanya. Membuatku merasa kosong tapi juga dia isi dengan sesuatu yang menyenangkan. Ya, ku akui berciuman dengannya adalah hal yang menyenangkan. Tentang bagaimana dia bermain dengan ritmenya sendiri, bagaimana gerak seduktifnya dan tatapan manipulatif itu membuatku makin tertarik padanya. Tertarik karena sepasang mata dan sebuah ciuman. Itu aku pada Taehyung.

"Mmh—ngh..."

Lama-lama ciuman menyenangkan itu berubah lebih intim, intens, setengah kewarasanku hampir dia renggut. Mungkin sama dengannya, karena kami tak lagi hanya saling bertumpu di pinggang masing-masing, tapi juga menjalar ke bagian lain. Tanganku di tengkuknya, tangannya di dadaku. Dia laki-laki penyuka wanita, dia meremas dadaku seolah aku memiliki payudara. Dia memperlakukanku seperti kaum hawa...

Aku memang lelaki, tapi aku tak keberatan diperlakukan seperti itu olehnya. Sekali lagi ku katakan, dia memberiku penawar. Maka ku biarkan penawar itu membersihkan aku dengan caranya sendiri.

"Argh—!"

Bersamaan dengan geraman itu, dia mendorongku menjauh darinya. Ciuman kami berakhir. Kami sama-sama terengah dengan dada yang terasa ditempa. Kami mengais udara dengan kalap. Tapi dia tersenyum padaku, membalas kebingunganku atas apa yang dia lakukan.

"Yoongi—ssh... aku tak mengira." ia menempelkan ibu jarinya ke ujung lidah. Ada darah di sana. Ah, aku telah menggigitnya tanpa sengaja. "Apa yang orang-orang di sekolah katakan tentangmu..."

Aku mulai merasa senyumannya itu berubah. Jadi seringai.

"Mereka tak tahu apa-apa."

"Akh!"

Dia menarikku dengan paksa, mendekapku dengan kuat, tak mengijinkanku bergerak barang sedikit. Aku yang merasa tak nyaman pun meronta. Tapi tanganku tertekuk di dalam pelukannya. Aku berteriak.

"Lepaskan! Aku ingin pulang!"

"Diamlah. Kau tak mau melanjutkan ini? Kau yang memulainya 'kan?"

Ada kabut nafsu yang kelam di matanya. Dia berubah tak terkendali. Aku masih berusaha melepaskan diri sementara dia semakin kuat mengungkungku.

"Akh! Hentikan! Hentikan!"

Dia menyusuri leherku dengan ciumannya.

Aku tak inginkan ini. Aku tak inginkan Taehyung yang begini.

"Hentikan!"

Buagh! Aku memukulnya saat kungkungan itu melonggar. Tinjuku tepat mengenai rahangnya dan dia tersungkur di tanah. Napasku pendek-pendek. Mengeluarkan tenaga sebesar itu benar-benar membuatku kelelahan. Tapi aku berhasil melawannya.

Aku pun berbalik dan hendak berlari saat dia masih tersungkur di sana, tapi, tangannya dengan cepat menarikku kembali.

"Sialan kau Yoongi!"

Bukh! Dia meninju perutku. Aku dipukulnya hingga aku jatuh berlutut.

"Aaargh!" geramku. Aku menatapnya nyalang. Tapi dia masih menyeringai, membuang darah dari mulutnya kemudian.

"Diam di situ."

"Ngh!"

Dia menendangku dengan keras. Aku jatuh terbaring di tanah dengan benturan di kepalaku. Lelaki itu menatapku dengan mata pemangsa yang lapar. Ada desah frustasi dari bibir itu.

"Mari kita selesaikan ini dengan cepat."

Dia berlutut di tanah, membungkuk rendah dan menarik kerah kemejaku dengan kasar, membuatku sedikit terbangun secara paksa. Aku memegang tangan tan itu dengan sisa tenaga yang kumiliki.

"Diamlah, tenang saja, ini tidak akan sakit."

Aku masih mencoba melawan meski bibirku telah dia bungkam dengan ciuman brutal. Aku memejamkan mataku kuat-kuat, mengumpulkan sisa diriku yang masih sadar dan punya keinginan untuk berontak. Tapi tubuhku tak sama kuatnya dengan keinginan itu.

Dia membuka paksa kemejaku hingga beberapa kancingnya lepas.

Aku tak tahu lagi apa yang harus ku lakukan.

Aku tak mau seperti ini.

"Mmh—!"

Mengapa aku memilihnya? Mengapa aku bisa membuat pilihan yang salah? Dia tak manusiawi. Dia sama saja dengan binatang buas.

"Yoongi."

Di tengah pergumulan kami, ku dengar langkah kaki yang mendekat. Telingaku masih berfungsi dengan baik untuk mendengar itu, hingga aku membuka mata dan mendapati sepasang sepatu yang pernah kulihat sebelumnya.

"Arkh—"

Tautan itu lepas. Kepala Taehyung terangkat dengan hentakan.

Di atasku, lehernya dijerat gesper.

.

.

.

Little Flower

.

.

.

CONTINUED

Serius, adegan main piano berdua itu menurut saya adalah klimaks dari filmnya, yang paling bikin berkesan malah. Baca-baca di review filmnya di gugel, banyak orang yang sependapat. Coba deh kalo ada yang penasaran, silakan cek STOKER piano scene di Youtube. Lagunya menggugah, satu scene tanpa dialog tapi bener-bener punya banyak arti. Di ff ini, saya usaha buat menggambarkannya lewat kata-kata. Susah beuutttt... tak semudah nontonnya *iyalah*

Betewe, ada beberapa scen di film yang saya skip, dan jelas, latar belakang tokohnya yang sedikit dirubah.