Bruk
Jongin jatuh, kakinya terasa lemas, matanya membelalak besar, nafasnya tercekat dan jantungnya serasa berhenti berdetak. Seperti jiwanya ditarik dengan paksa dan ia tidak bisa melakukan apapun.
Apa itu tadi?
Itu Yixing.Kai berucap dengan nada khawatir. Sisi wolf dalam dirinya itu tidak bisa memungkiri suara bergetarnya.
Ia benar-benar ketakutan.
Apa yang sebenarnya terjadi? Ia mencoba bertanya lagi seraya mencoba mengembalikan jiwanya yang serasa masih belum kembali. Sekujur tubuhnya masih lemas sekali.
Itu ledakan energi. Sepertinya Yixing sudah tidak bisa mengendalikan emosinya lagi. Kai berucap. Nadanya penuh dengan emosi kesedihan yang mendalam. Aku sudah tau kalau ini semua akan terjadi. Cepat atau lambat.
Maksudmu?
Yixing menahan semuanya. Semua yang ia rasakan. Rasa kemarahan, kesedihan, tidak terima dan rasa sakit hatinya. Namja itu menahan semuanya. Dan inilah akibatnya.Kai menjelaskan maksud dari ucapannya barusan. Masih dengan suara penuh kekhawatiran.
Tapi, kau bilang itu ledakan energi, kan? Setau Jongin, ledakan energi hanya bisa terjadi ketika seorang Alpha tidak berhasil mengendalikan wolf yang ada di dalamnya. Karena energi besar yang tidak terkendali terus bergejolak, segel yang mengekang energi tersebut akhirnya goyah, retak, kemudian pecah dan hancur. Di saat yang sama itulah, ledakan energi akan terjadi.
Yixing-ge-nya 'kan sudah berhasil membuat Lay bertekuk lutut padanya. Kenapa bisa terjadi ledakan energi seperti ini?
Ne, itu benar. Tapi kau lupa 'kan kalau Yixing itu seorang Black moon. Dia punya kekuataan yang begitu besar. Meskipun dia sudah mengendalikan Lay, ledakan energi masih bisa terjadi. Mata Jongin kembali membulat.
W-wae?
Tekanan psikisnya sangat kuat, tidak sepertimu. Bagaimanapun, dia calon Head Alpha yang keras kepalanya dan egonya sangat tinggi. Sudah begitu, kali ini Yixing hanya menggunakan segel biasa. Sesuatu yang benar-benar aneh sekali. Karena seingatku, segel itu masih segel khusu berlapis kemarin.
Apa maksudmu? Penjelasan tersebut membuat nafas Jongin semakin tercekat. Membuat jiwanya yang sudah sejengkal dari tubuhnya, kembali menjauhi dirinya. Membuat sekujur tubuhnya semakin melemas.
Maksudku, ada seseorang yang memutus segel penjaga Yixing dan menggantinya dengan segel biasa yang begitu lemah dan rentan hancur.Kai berucap dengan nada penuh tanda tanya dan ketakutan yang teramat sangat.
Itu tidak mungkin! Jongin hampir berseru diluar kepalanya. Itu tidak mungkin. Sama sekali tidak mungkin terjadi.
Bagaimana caranya seseorang memutus Shio segel? Tidak ada yang bisa memutus segel itu, bahkan anggota Clan Wu sendiri sulit melakukannya. Butuh waktu yang sangat lama untuk bisa memutus segel itu tanpa diketahui sedikitpun.
Itu semua benar-benar tidak masuk akal!
Aku juga tau akan hal itu! Kai berseru. Ia berna-benar tidak mengerti bagaimana semua ini bisa terjadi. Mereka ada di kamar di sebelah kamar Yixing. Bagaimana dia yang seorang pendetektor tidak bisa merasakan kehadiran siapapun di sekitar mereka?
Ini benar-benar tidak masuk akal! Kecuali jika...Kai tidak berani melanjutkan kalimatnya. Matanya terasa panas dan jantungnya benar-benar berhenti berdetak.
Tubuh Jongin gemetar hebat. Matanya kembali membelalak besar.
Seseorang, seseorang sedang berusaha...
Membunuh mereka...
.
.
.
reYHan ft. Hana
present
first Sequel of XOXO drama (KaiLay ver)
The Ritual
Rate: T-M
Pair: LayKai (Main) and other
Warning: typo(s), gaje, aLay, lebay, dipenuhi kata-kata yang ada di Kamus Wolf by reYHana, kurang hot, gak nyambung ama fic utamanya, kepanjangan, de el el de el el
Gak suka? Tidak usah baca gak papa
Suka, monggo di lanjut.
Enjoy
.
.
.
The Ritual
Chapter Tree part B
Answered
Yixing terdiam. Matanya menatap nanar segel baru yang ada di balik perban yang menutupi seluruh pergelangan tangan dan telapak tangannya. Entah tengah memikirkan apa.
Jauh dalam dirinya, Lay juga sedang terdiam. Terdiam menatap 'rumah baru'-nya yang lebih luas namun begitu tertutup dan hanya memiliki satu jalan keluar. Sesuatu yang sama sekali tidak ia sukai.
Aku tidak mau berada di sini. Ia bergumam pelan. Mata merah kelamnya menatap ke seluruh penjuru ruangan. Mencoba mencari jalan keluar.
Meskipun dirinya sendiri tau bahwa semua itu sia-sia.
Ini hanya sementara. Butuh waktu lama untuk mempersiapkan Black moon segel, kau tau. Yixing mencoba menjelaskan. Yang hanya dibalas dengan putaran bola mata bosan oleh Lay.
Aku tau akan hal itu. Tapi, Papamu 'kan hebat. Wolf-nya berada di atas kita. Apa butuh waktu selama ini untuk menciptakan segel itu? Sebenarnya Lay tidak suka menggerutu dan mengeluh seperti ini. Apalagi tentang Papa.
Tapi, apa boleh dikata, ia sama sekali tidak suka dengan tempat ini.
Ia sungguh tidak bisa merasakan apapun selain aurnya sendiri. Ia bahkan tidak bisa merasakan aura Yixing. Ia hanya bisa mendengarkan bocah itu berbicara. Itu pun harus ia lakukan dengan konsentrasi penuh.
Cih, sialan! Ini benar-benar segel rumah baja.
Yixing menghela nafasnya. Kemudian menghempaskan tangannya yang masih berbalutkan perban itu ke samping tubuhnya. Sementara tangan yang lain naik untuk menutup kedua matanya yang masih terasa begitu perih dan panas.
Bersabarlah sebentar lagi. Yixing berucap. Nadanya begitu datar dan setengah kesal serta tidak sabaran.
Aku tidak bisa bersabar. Aku tidak bisa merasakan apapun selain diriku sendiri, bagaimana kalau kau diserang di saat-saat seperti ini? Aku tidak mau mati sia-sia, kau tau?
Kita hampir mati sia-sia tadi, bodoh. Ucapan tersebut tepat menohok hati Lay. Mata sisi wolf Yixing itu membelalak, tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
Ck, sepertinya sifat Black moon-nya sedikit-sedikit mulai keluar.
Aku tau. Itu salah kita berdua dan tentunya para tetua sialan itu. Yixing hanya bisa menghela nafasnya. Kemudian menurunkan tangannya yang menutupi kedua matanya seraya mencoba membuka kedua matanya sedikit demi sedikit.
Yixing sebenarnya tidak mau berfikiran seperti itu. Sayangnya, yang dikatakan Lay benar. Ini kesalahan mereka dan para tetua yang senang sekali cari gara-gara itu.
Yixing tidak tau kenapa mereka begitu membenci dirinya. Mungkin tidak sampai benci, tapi pasti setidaknya mereka benar-benar tidak suka dengannya. Mengingat segala misi tidak masuk akal dan hukuman gila yang hampir membuat Papanya meledak yang mereka berikan untuknya.
Satu pertanyaan selalu mengusiknya. Apa sebenarnya kesalahannya?
Ia tidak mengerti. Bukankah seharusnya mereka senang dengan kehadirannya sebagai Black moon? Itu berarti next generation of Head Alpha mereka akan sama kuatnya dengan Head Alpha sebelumnya. Mereka yang selalu haus akan kekuasaan dan kejayaan, serta sangat tinggi gengsinya, harusnya merasa sangat senang, bukan?
Bukannya memanjakan dirinya, mereka malah melakukan hal yang sebaliknya. Sebenarnya, apa sih yang salah dengan dirinya?
Mereka takut kau akan seperti Papamu. Selalu membantah apa yang mereka mau untuk kepentingan mereka sendiri. Itu sebabnya mereka membuatmu seperti ini dan mencoba menyingkirkanmu dari posisi putra mahkota. Komentar Lay dengan nada kesal yang jelas kentara.
Yixing mendecih pelan.
Soal itu aku tau. Tapi, bukan 'kah kalau aku lengser, yang akan menggantikanku adalah Sehun. Dengan kata lain, sama saja, kan?
Mereka punya calon lain. Yixing sontak menaikan sebelah alisnya.
Calon lain? Dari mana kau tau mereka punya calon lain?
Aku bisa membaca pikiran lawan, kau lupa? Mereka mencoba memasukkan anak termuda dari The Old One kedalam jajaran The Main Family. Yixing mengerutkan keningnya.
Henry-ge? Lay hanya menganggukkan kepalanya kecil. Menyetujui apa yang barusan dikatakan Yixing. Kemudian mendecih kecil.
Dia bahkan hanya seorang Alpha biasa dan mereka mencoba memasukkannya ke dalam The Main Family. Gumam Lay masih dengan nada kesal. Ia benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran para tetua itu.
Jika merka menjadikan Henry, yang notabe-nya seorang Alpha biasa (common Alpha), menjadi Head Alpha, bukankah itu akan menjatuhkan nama dan martabat dari Clan Wu? Bukankah itu sama saja dengan bunuh diri?
Mereka semua gila, kau tau 'kan akan hal itu. Yixing berucap seraya kembali menutup matanya. Guh... matanya masih saja terasa perih sekali untuk melihat dan sekujur tubuhnya masih terasa begitu lemas.
Tadi itu memang benar-benar pengalaman diambang kematian.
Mungkin saja, jika ia bukan seorang The Black moon Healer, ia pasti sudah tinggal nama saja sekarang. Yang namanya Ledakan Energi itu akan membawa siapapun yang mengalaminya menuju gerbang kematian.
Ledakan Energi sama saja dengan meledakkan jiwamu sendiri alias bunuh diri. Tidak ada yang bisa lolos dari peristiwa maut itu. Apalagi yang sebesar itu –seluruh wilayah mansion yang berhektar-hektar ini bisa merasakannya.
Mereka benar-benar beruntung. Sangat beruntung.
Untuk kali ini saja, aku akan setuju denganmu. Kita benar-benar beruntung. Yixing hanya bisa tersenyum kecil seraya kembali menutup matanya dengan lengan kirinya. Mencoba menghalau sinar lampu yang membuat matanya terasa sakit.
Kemudian, keduanya pun terdiam.
Hei.
Hm...
Kau mau coba balas dendam?
Hm?
Ma-maksudku mereka sudah kerterlaluan. Padamu, juga Papa. Apa kau fikir kita bisa... balas dendam? Tanya Lay setengah tidak yakin. Oh ayolah... yang sedang ia ajak balas dendam ini adalah sang guardian angle –
Ya.
Eh? Apa kau bilang?
Ayo balas dendam. Balas dendam atas apa yang sudah ia lakukan dengan kita dan orang-orang yang kita cintai. Mereka sudah benar-benar keterlaluan.
Yixing benar-benar sudah sepenuhnya menjadi Black moon. Lay tidak bisa lebih senang dari ini, sebenarnya.
Tapi...
Kau serius? Maksudku, apa kau benar-benar serius dengan semua ini? Yixing hanya bisa menganggukkan kepalanya. Mengiyakan.
Mereka sudah terlalu keterlaluan. Ini sudah berlebihan. Aku... Yixing tidak mampu menyelesaikan kalimatnya. Telapak tangan kirinya mengepal. Bibir bawahnya ia gigit.
Semua ini benar-benar sudah keterlaluan.
Lay hanya diam. Kembali terdiam. Yixing sudah membulatkan tekatnya. Kalau sudah begitu, susah diganggu gugat.
Baiklah. Kita akan –
Tok tok tok
Sontak, keduanya terdiam. Tangan Yixing yang semula berada di atas matanya turun perlahan seiring dengan kepalanya yang menoleh ke arah pintu kamarnya.
Kita bicara nanti.
"Masuk." Ia tidak bisa merasakan siapa itu. Lupakan, ia bahkan tidak bisa merasakan apapun selain dirinya sendiri. Makanya ia tak tau siapa itu.
Perlahan, pintu kayu berwarna putih terbuka. Menampakkan sosok Papanya yang berwajah sedih yang coba ia sembunyikan. Sesuatu yang sama sekali tidak berhasil karena Yixing bisa melihatnya. Dengan jelas.
Sial! Ia benar-benar benci hal ini.
"Hey, Xing." Papanya menyapa dengan senyum khas miliknya. Yang tampak begitu dipaksakan.
Sialan!
Yixing mengalihkan pandangannya dari Papanya. Ia benar-benar tidak suka melihat Papanya seperti itu. Apa lagi menjadi sumber dari kesedihannya.
Ck, menyebalkan.
Yifan sendiri hanya bisa menghela nafasnya. Ia tau bagaimana perasaan anaknya sekarang. Yang sama sekali tidak jauh-jauh beda dengan perasaannya dulu.
Buah tidak jatuh jauh dari pohonnya, kan?
"Kau sudah baikan?" tidak ada jawaban. Yifan hanya bisa menghela nafasnya lagi.
Setelah menutup pintu, Yifan perlahan berjalan menuju tempat tidur Yixing. Ia pun mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur ber-cover ungu gelap itu. Kemudian menyandarikan punggungnya di headboard tempat tidur Yixing. Membuatnya kini duduk tepat berdampingan dengan putranya yang masih dalam posisi tiduran.
Kemudian suasana hening menyapa.
.
.
Apapun yang terjadi tadi, ia harus mengetahuinya. Secara detail dan mendalam.
Itulah yang ada dipikiran Jongin sesaat setelah ia sadar. Ia tidak peduli kalau badannya sakit semua dan penuh luka. Ia juga tidak peduli kalau kepalanya pusing dan matanya setengah berkunang-kunang dan seluruh dunia berputar.
Pokoknya ia harus tau. Harus tau!
"Kalau dia sudah seperti ini, apa boleh buat." Itulah yang dikatakan Heechul pada Tao yang semula merasa bahwa sebaiknya Jongin dibiarkan istirahat saja dulu sebelum tau semuanya.
Quadruplets dan Joonmyeon, semua anak Choi Siwon itu sama saja. Persis seperti Daddy mereka. Kalau sudah menginginkan sesuatu, mereka akan berusaha mendapatkannya. Meski harus bekerja keras dan tidak meperdulikan diri mereka sendiri.
Dasar...
Mau tidak mau akhirnya kedua ibu itu membuka mulut mereka untuk menjelaskan semuanya pada Jongin.
Menurut hasil dari investigasi rahasia, Ledakan Energi itu di sebabkan 2 faktor utama. Yang mana salah satunya sama sekali tidak masuk akal.
Pertama, faktor yang paling tidak masuk akal, yaitu faktor dari segel Yixing. Sama seperti yang dijelaskan oleh Kai, segel yang tadi dipaka Yixing itu adalah segel untuk werewolf biasa. Bukan segel khusus untuk kaum sejenis dirinya.
Sebenarnya, segel Yixing adalah segel yang sudah diberi pengamanan tambahan dengan segel khusus sejak pertama ia lahir. Sebuah segel langka yang hanya bisa dilakukan the Holy Wu, yang tak lain adalah kakek buyut Yixing sendiri. Kakek dari Yifan. The New Moon chain.
New Moon chain, adalah sebuah segel yang khusus digunakan pada mereka yang memiliki kekuatan berlebih yang bisa membahayakan diri mereka sendiri. Meski sifatnya hanyalah sebuah segel pengamanan tambahan dan segel utamanya tetap Shio segel, segel ini cukup untuk membuat Yixing tetap bertahan meski energinya meluap-luap.
Tapi, entah bagaimana caranya, segel Yixing bisa berganti menjadi segel biasa. Bukan lagi kedua segel tersebut. Tao sendiri baru mengetahuinya sesaat setelah ia memeriksa mantra segel yang ada di pergelangan tangan Yixing tadi.
Ia memang tau kalau banyak orang yang bermain api di belakang tubuh mereka. Hanya saja, ia tidak tau bahwa mereka-mereka ini memiliki kekuatan yang sebegitu besarnya sampai bisa memutus kedua segel yang seharusnya tidak bisa putus sama sekali ini. Hebatnya lagi, mereka bisa menutupi mantra segel tersebut sampai tidak terdeteksi oleh siapapun. Bahkan oleh Yifan dan dirinya sendiri.
Kecuali Kai. Tentunya. Karena sejak mereka bangun tadi pagi, ia sudah merasakan sesuatu yang aneh. Sayangnya, tidak tau sama sekali apa itu.
Utusan kepercayaan Tao dan Yifan sekarang sedang mengadakan infestigasi rahasia mengenai hal ini. Untuk sementara waktu sampai kasus ini terkuak, semua cerita mengenai segel Yixing yang diganti ini akan jadi rahasia untuk orang luar dan Yixing sendiri.
Sementara itu, yang kedua, faktor yang sudah bisa Tao tebak sejak awal, yaitu faktor dari psikisnya yang terus menerus di tekan sementara ia tidak bisa mengeluarkan apa yang ia mendam yang terlalu lama.
Pada dasarnya, semua putra Wu Yifan itu –Mamanya bilang- suka sekali memendam perasaan mereka. Mereka beralasan bahwa itu adalah salah satu dari bentuk pengendalian diri.
"Sifat ego dan gengsi tinggi yang mengalir dalam darah mereka terlalu kental sampai-sampai mereka tidak ingin siapapun tau bahwa mereka tersakiti." Itulah apa yang di katakan Mama. Matanya menerawang jauh dan tampak sedih.
Sejak kecil, Yixing memendam semuanya dan hanya mengeluarkan sikap ceria dan angelic-nya saja. Tanpa membiarkan seorang pun tau bahwa ia sedang merasa tertekan. Menurutnya, hal itu tidak boleh terjadi. Ia tidak mau merepotkan orang lain atau pun menjatuhkan harga dirinya.
Yixing tidak suka melihat orang lain tersiksa hanya karena dirinya. Dia tidak suka dikasihani. Suatu sifat mendasar dari seorang Black moon.
Hal ini dimanfaatkan oleh beberapa pihak yang ingin membuatnya lengser. Mereka-mereka, yang sialnya, punya hak tinggi untuk mendidik Yixing, memanfaatkan kesempatan ini untuk membuatnya tertekan. Membuatnya merasa tidak beguna, tidak diinginkan dan tidak dihargai. Dengan begitu, secara otomatis, Yixing telah menggali kuburannya sendiri.
"Yixing tidak pernah berbeda dengan Yifan. Barang satu kali pun, mereka tidak pernah tampak berbeda." itu yang dikatakan Tao sebelum air mata jatuh dari kedua matanya dan cerita mengenai Yifan yang juga pernah mengalami hal yang sama dimulai.
Harusnya ini adalah rahasia, tapi karena kedua Clan akan menjadi keluarga dan pada kenyataannya Jongin memang harus tau mengenai hal ini. Tao memutuskan untuk menceritakannya.
Tidak seperi Yixing, Yifan memiliki takdir yang jauh lebih buruk. Terlahir sebagai golongan terkuat dari yang terkuat, Yifan tidak bisa mendapatkan perlakuan yang seharusnya hanya karena sesuatu yang memang memiliki potensi sangat tinggi untuk terjadi.
Kematian ibunya, Female Head Alpha Clan Wu yang berharga. Sang fallen angel.
Semua orang menyalahkannya. Semua orang menganggapnya monster. Tidak ada yang mau mengurusnya. Bahkan Papanya sendiri.
Hanya kakeknyalah yang mau mengurusnya, the Holy Wu. Sejak kecil sampai ia dewasa dan berada di posisinya sekarangg ini. Segala sesuatu yang Yifan butuhkan diurus oleh kakeknya.
Meskipun demikian, tidak semua hal bisa dilakukan kakeknya untuknya. Seperti memasang segel The eclipse padanya. Karena segel The eclipse hanya bisa diberikan Ayah dari sang Eclipse atau memberinya kasih sayang berlebih sebagaimana orang tua memberi kasih sayang kepadanya.
Bagaimanapun juga, kasih sayang dari orang tua dengan dari kakek dan nenek itu berbeda. Meskipun keduanya memiliki persamaan, tapi, tetap saja berbeda 'kan?
Makanya, ia harus bertahan sendirian. Mencoba mengendalikan diri sendirian. Merasakan kesakitan sendirian. Meskipun ada beberapa orang meng menopangnya, mereka tidak pernah bisa selalu ada di sisinya.
Jadi intinya, Yifan selalu sendirian.
"Entah apa yang akan terjadi jika aku tidak bertemu dengannya malam itu. Mungkin saja, dia sudah tinggal nama sekarang. Padahal, aku yakin, dia belum genap berusia 10 tahun waktu itu." Tao berucap. Air mata membasahi kedua pipinya. Tapi wajahnya datar sekali.
Meskipun selalu tertekan, sendirian, dan kesepian sampai ingin bunuh diri, Yifan tidak pernah menangis. Setetes air mata tidak pernah keluar dari kedua sudut matanya. Kali pertama dan terakhir ia menangis adalah saat ia dilahirkan.
"Bagi Yifan, anak-anaknya adalah jiwanya. Yixing dan Sehun adalah harta paling berharganya. Makanya, ia bisa menangis seperti itu. Benar-benar menangis. Padahal, ia tidak menangis ketika ia bermimpi bertemu Mamanya. Bahkan ia tidak menangis ketika Papanya meninggal."
Ya, Yifan tidak menangis ketika Papanya meninggal. Sesuatu yang dianggap aneh karena waktu itu ia hanyalah bocah 15 tahun yang seharusnya penuh dengan emosi.
Sebaliknya, ia malah marah. Dalam benaknya ia befikir, jika ayahnya meninggal, itu artinya, ia akan menjadi Head Alpha yang baru. Sesuatu yang tidak ia inginkan sama sekali. Begitu juga semua orang yang ada di sekelilingnya.
Tapi, hubungan darah tidak bisa diputus. Begitu pula tradisi. Yifan, dengan atau tanpa keinginannya, harus menjadi seorang Head Alpha yang baru.
Disitulah ia mulai kehilangan kendalinya dan mulai goyah.
"Dia hanya seorang anak berusia 15 tahun yang dijauhi oleh keluarganya. Dia seorang eclipse muda yang hanya dijaga Shio segel. Dia bahkan belum benar-benar bisa bicara dengan Kris dengan baik. Reaksi apa yang kau harapkan darinya ketika tiba-tiba semua orang menginginkannya mulai berlatih menjadi seorang Head Alpha?" Air mata bening itu membuat Jongin dan Mommy-nya ikut meneteskan kristal yang sama pula.
Di malam yang sama dengan malam ia diminta menjadi Head Alpha yang baru oleh The Old One, Yifan meledak.
Bukan main, Ledakan Energi itu bahkan sampai mengakibatkan seluruh werewolf yang ada di Hongkong dan sekitarnya melemah tak berdaya selama beberapa saat. Termasuk para tetua yang kala itu ada di sekelilingnya.
Tapi, ledakan sebesar itu tentunya mengambil semua kekuatan Yifan. Meninggalkannya sekarat dan tidak berdaya.
"Untungnya, para tetua sialan itu masih waras. Jadinya ia segera di sembuhkan. Kalau tidak, aku tidak tau lagi apa yang akan terjadi." Tao bergumam pelan seraya menghapus air matanya.
Setelah itu, tentunya Heechul bisa menebak sendiri. Karena ia ada di sana. Mereka berada di satu sekolah yang sama di China. Heechul, Yifan juga Siwon. Jadi, Tao menyelesaikan ceritanya sampai di sana.
"Maka dari itu, Yifan hampir membunuh para tetua itu dengan Holy Arch-nya tadi. Meskipun ia berjanji hanya akan menggunakannya dikala sangat terdesak dan gawat saja. Baginya, anaknya yang berada dalam keadaan seperti itu adalah keadaan paling terdesak dan gawat. Apapun akan ia lakukan untuk anak-anaknya."
"Ia tidak mau Yixing atau Sehun merasakan apa yang ia rasakan. Ia tidak bisa membiarkan mereka dalam bahaya sedikitpun. Seperti yang aku bilang tadi, baginya, anak-anaknya adalah harta paling berharga. Nyawanya yang paling berharga."
Kemudian Tao terdiam. Menggigit bibir bawahnya.
"Hanya saja, hanya saja, takdir itu tidak bisa dirubah. Yifan dan Yixing adalah masa depan dan masa lalu yang sedikit membaik. Bahkan Sehun... Sehun juga memiliki beberapa takdir buruk yang hampir persis dengan milik Yifan di masa lalu. Bahkan lebih buruk." Tao menundukkan kepalanya. Menangis dalam diam.
Jongin sama sekali tidak butuh penjelasan lagi. Semuanya sudah cukup.
.
.
"Papa tidak perlu menceritakan hal itu. Aku sudah tau akan hal itu dengan baik." Yixing berucap. Pandangannya lurus menatap kakinya yang bersembunyi di balik selimut tipis khusus musim panasnya.
Ia tau tentang cerita Papanya yang pernah mengalami Ledakan Energi tapi bisa selamat. Ia tau dengan sangat baik saat ia pertama kalinya bertemu dengan the Holy Wu. Beliau menceritakan segalanya tentang Papanya. Masa lalunya dan segalanya. Yang terdengar begitu persis dengan apa yang terjadi pada dirinya, meskipun jauh lebih baik.
Tidak. Bukan hanya 'terdengar'. Tapi, memang benar terjadi.
Yifan hanya tersenyum kecil.
"Lalu kenapa kau masih melakukannya? Mengulangi kesalahanku? Harusnya kau lebih pandai mengendalikan diri lagi dibandingkan aku kalau kau memang tau dengan baik. Cobalah contoh Sehun." Ujarnya setengah menyindir. Yixing hanya bisa diam dan menutup matanya.
"Mereka bermain-main dengan nyawa Jongin, Pa." Gumamnya pelan seraya membuka matanya. Kedua manik kelam itu tampak berkoar dengan amarah yang meletup-letup.
"Siapapun yang bermain-main dengan nyawa orang-orang yang aku cintai, mereka tidak akan pernah aku ampuni." Yifan hanya bisa menghela nafas mendengar hal itu.
Benar kata Tao ataupun Kakeknya, mereka bertiga sama. Ia, Sehun dan Yixing. Terlalu sama persis.
Tidak ada pilihan lain. Selain membuat dua anaknya benar-benar dalam perlindungan yang kuat.
Tanpa mengatakan apapun, Yifan perlahan meraih tangan kanan Yixing yang masih terbalut perban. Membuat Yixing yang sedari tadi berusah menghindari tatapan matanya, menoleh ke arah Papanya.
Yifan membuka perban itu. Perlahan dan sangat hati-hati. Ia tidak mau menyakiti putranya. Meskipun sebenarnya ia tau, dibalik perban itu, luka parah akibat pecahnya segelnya tadi sudah sembuh.
Bagaimanapun juga, ia adalah seorang Great Healer –lambangnya Unicorn bukan lambang Healer biasa- dan Black moon. Penyembuhan dirinya berjalan 100x lebih cepat dari siapapun saat dia dalam keadaan normal dan 50 x lebih cepat saat dalam keadaan down seperti saat ini. Meskipun syaratnya ia harus sudah membuat Lay bertekuk lutut padanya.
Yifan tersenyum kecil mengingatnya. Waktu yang dibutuhkan Yixing dan Sehun lebih cepat dari waktu yang ia tempuh untuk membuat Wolf mereka bertekuk lutut.
Benar-benar...putra-putranya memang menakjubkan. Mereka jauh lebih hebat dan lebih kuat dari Yifan. dan ia benar-benar bangga akan hal itu.
Sangat bangga.
Seandainya saja kutukan takdir ini tidak menurun pada kedua putranya, Yifan yakin, mereka bisa lebih membanggakan dari ini. Bisa lebih hebat dari ini.
Dalam diam, Yifan mengeraskan rahangnya.
Sial!
"Aku akan membuat segelmu yang baru. Ini segel milikku sendiri." Yixing mengerutkan keningnya.
"Segel baru?" Yifan menganggukkan kepalanya. Ia pun kemudian meletakkan perban itu di meja nakas di samping tempat tidur Yixing.
"Ya. Katakan pada Lay bahwa aku akan membuka segel ini. Jadi jangan coba-coba untuk memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan."
Cih, kau fikir aku punya tenaga yang berlebih untuk melakukan hal itu? Yifan hanya tersenyum kecil.
"Baik, baik. Bersiaplah. Ini akan menyakitkan." Yifan menggenggemam pergelangan tangan kanan Yixing. Matanya melirik ke arah Yixing yang menganggukkan kepalanya kemudian menutup kedua matanya.
Yifan menarik nafasnya, kemudian menghembuskannya perlahan. Mencoba menormalkan debaran jantungnya yang berdegup kencang. Ia gugup dan khawatir.
Ini segel baru miliknya sendiri, ia tidak bisa membuat dirinya sendiri yakin bahwa segel ini akan bekerja seperti sebagaimana seharusnya. Ia tidak ingin segel ini berefek samping buruk pada anaknya.
Percaya dirilah. Aku yakin kita pasti bisa. Kalau kita baik-baik saja, Yixing pun pasti akan baik-baik saja.
Yifan hanya mengangguk, mencoba percaya pada apa yang dikatakan Kris barusan. Kemudian menarik nafas lagi seraya menutup matanya. Bersiap untuk membuat segel.
"The new eclipse." Mata Yifan terbuka, menampakkan matanya merah kelam. Telapak tangannya yang menggenggam tangan Yixing bercahaya seiring dengan raut kesakitan muncul diwajah putranya.
Yifan kembali mengatur nafasnya. Kemudian menutup matanya lagi.
"Segel..."
"ARGHHHHHH!"
Perih dan menyakitkan. Itulah yang dirasakan Yixing sekarang. Ia bisa merasakan aliran darahnya mulai berbalik arah. Pembulu darah di sekitar pergelangan tangannya terasa seperti dipilin. Jantungnya berdegup kencang sekali.
Ini benar-benar menyakitkan. Sangat menyakitkan!
ARGGHHHH! STOP! STOP! KAU MENYAKITIKU! Untuk pertama kalinya dalam seumur hidupnya, Lay berteriak penuh kesakitan. Kedua matanya tertutup, tapi dari sudut matanya, air mata kesakitan mengalir setetes demi setetes. Sementara ia mencoba menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya yang seolah dihujam seribu jarum.
Ini benar-benar menyakitkan. Sangat amat menyakitkan!
"Tahan sedikit, Yixing." Gumam Yifan seraya terus berkonsentrasi menyegel kekuatan putranya.
The new eclipse, segel ini adalah segel baru yang ia ciptakan atas dasar segel The eclipse. Kerjanya sama seperti The eclipse, yaitu membuat sisi wolf mereka berada pada posisi sama dengan sisi manusianya. Dengan begitu, sisi manusianya bisa mengendalikan sisi wolf mereka dengan baik tapi tidak berjalan sebaliknya.
Dan di situlah letak perbedaannya. The new eclipse memperbolehkan kedua sisi saling mengendalikan. Baik sisi wolf maupun manusianya. Maksud dari Yifan adalah agar kedua sisi ini bisa saling menjaga dan memahami satu sama lain dengan baik. Dengan begitu, kekuatan dan ikatan mereka bisa berlipat ganda.
Selain itu, The new eclipse ini bisa diterapkan pada semua golongan Moon dan mengejutkannya golongan Pearl*. Yifan berharap, jika ada lagi keturunan Moon atau mereka para Pearl di Clan Wu, mereka bisa menggunakan satu segel ini saja dan tidak perlu pusing akan pengamanan ganda.
Meskipun The new eclipse bisa dilakukan oleh orang selain ayah, Yifan hanya bisa merubahnya sejauh pada keluarga terdekat yang masih berada di atas sang Moon. Selain itu, efek samping penerapan segel ini juga bertambah menjadi kedua sisi, manusia dan wolf, akan merasakan kesakitan yang sama karena penyamaan posisi ini.
Makanya, Yifan agak tidak yakin dengan segel ini dan hanya menerapkannya pada dirinya sendiri dengan bantuan Kakeknya.
Tetapi, di sisi lain, demi menjaga kedua putranya agar tidak mengalami kejadian yang sama, mau tidak mau, suka tidak suka, Yifan harus menerapkan segel ini. Segel ini akan menjaga Yixing dan Sehun lebih aman dibandingkan segel Black moon, Shells Segel** ataupun Shio segel yang diperganda pengamanannya.
Teriakan-teriakan penuh rasa kesakitan terus saja terdengar. Baik dari Yixing sendiri maupun Lay. Menandakan bahwa ritual penyegelan yang tampak sederhana dan tidak ada khususnya sama sekali ini benar-benar sangat menyakitkan.
"Tahan, tahan." Yifan hanya bisa mengatakan hal itu. Entah untuk dirinya sediri atau untuk anaknya. Ia sendiri bingung dan hanya bisa fokus pada menyelesaikan penyiksaan ini.
Ugh!
Di saat yang bersamaan dengan menghilangnya cahanya dari pergelangan tangan kanan Yixing dan munculnya lambang unicorn di punggung tangannya, Yixing langsung jatuh. Nafasnya tidak teratur dan tubuhnya tampak bergetar. Debaran jantungnya begitu kencang sampai kepalanya benar-benar pusing.
Sementara itu, Yifan juga dalam keadaan yang hampir sama. Sang Head Alpha itu langsung menyandarkan dirinya di headboard. Nafasnya sedikit tidak teratur. Warna matanya langsung kembali ke semula.
Meskipun keadaannya demikian, Yifan sempat mengecek pergelangan tangan Yixing. Ia pun langsung tersenyum begitu ia melihat rentetan mantra The New Eclipse yang melingkar di pergelangan tangan Yixing dan satu lambang The eclipse –satu lingkaran kecil di tengah-tengah rentetean mantra- tapi dengan warna hitam kelam –The eclipse biasanya tidak memiliki warna.
Ia berhasil.
"Kau hebat Yixing-er." Yixing hanya bisa tersenyum kecil menanggapi pujian tersebut. Ia masih di dalam rasa sakit yang amat sangat.
Kemudian keduanya diam. Berusaha mengatur nafas masing-masing. Meredakan debaran jantung masing-masing. Masih dengan senyum puas di bibir mereka. Tipis, tapi senyum itu ada di sana.
Setelah beberapa saat, Yifan tiba-tiba teringat sesuatu.
"Hey, Xing-er."
"Hm?"
"Kau bisa pergi ke Fair lake kalau kau mau. Sebagai hadiah." Senyum pun langsung menghilang dari wajah Yixing.
.
.
.
Kau bisa mendengarku, Jongin? Jongin!
Jongin terkejut ketika tiba-tiba suara Yixing masuk ketelinganya. Matanya langsung membelalak.
"Ge-Gege!" Ia berseru di luar batinnya. Sangat kencang sampai ia yakin pita suaranya bisa saja putus saat itu.
Perasaan khawatirnya memang masih ada, tapi ia sudah sedikit lega akhirnya bisa mendengarkan suara Gegenya lagi. Ia sempat hampir mati di tempat akibat aura Yixing yang begitu...
Jongin meringis.
Begitu tipis dan samar sampai ia tidak bisa merasakan apapun. Membuatnya benar-benar panik.
Ge-Gege, kau baik-baik sa –
Tidak ada waktu lagi, Jongin. Teleport, sekarang! Seruan bernada memerintah itu memutus perkataan Jongin yang belum selesai. Membuat namja itu terkejut dan semakin panik.
W-wae?
Tidak perlu banyak bertanya. Cepat lakukan. Ucapan Yixing barusan terdengar begitu tidak sabaran. Membuat Jongin semakin panik dan berfikiran yang tidak-tidak.
Kenapa, Ge? Apa yang terjadi? Kenapa –
Aku akan menjelaskannya nanti, Jongin. Kita benar-benar tidak punya waktu! Nadanya semakin tidak sabaran. Membuat Jongin berfikir bahwa memang ada sesuatu yang terjadi. Itu membuatnya semakin panik.
Ge, ada a –
Jongin, aku mohon. Ikuti abaku dan teleport tepat dikoordinak aku berada. Meskipun Yixing meminta seperti itu, dalam keadaan yang panik seperti ini...
Aku t-tidak bisa, Ge! Ia berucap dengan sangat panik. Sekujur tubuhnya kembali bergetar dan pikirannya acak-acakan.
Apa yang harus ia lakukan?! Apa yang harus ia lakukan?!
Dengarkan saja aku, Jongin. Lakukan seperti apa yang aku kataka –
Aku terlalu panik! Aku terlalu panik, Ge! Aku tidak bisa!
Kau bisa, kau pasti bisa. Lacak aku sekarang. Kita benar-benar tidak punya waktu.
Aku –
Jongin, kau bisa. Lacak aku. Nada yang ia gunakan kini tak lagi terdengar tidak sabaran. Melainkan begitu lembut. Membuat Jongin, entah bagaimana, bisa sedikit tenang.
Lacak aku, oke? Perlahan, Jongin berusaha berkonsentrasi dan melacak jejak Yixing meskipun tubuhnya bergetar seluruhnya.
Sudah? Jongin mengangguk dengan nafas yang tidak beraturan.
Saat aku bilang teleport. Kau teleport, kau mengerti? Lagi, Jongin hanya menganggukkan kepalanya. Tak mampu berkata-kata. Takut kehilangan koordinat dimana Yixing berada.
Siap?
Jongin menarik nafasnya.
Sekarang! Teleport! Sekuat tenaga, Jongin memindahkan dirinya tepat menuju koordinat dimana Yixing berada saat itu seraya menutup kedua matanya.
Dalam sekejap mata, Jongin sudah sampai di tempat koordinat di mana Yixing memintanya untuk teleport. Perlahan, ia membuka mata dan pandangannya pun langsung bertemu dengan sebuah kolam berwarna merah.
Darah...
"KYAAAA!"
"Dengar Jongin, secepatnya kau harus minum air dari kolam itu." Suara Yixing terdengar entah dari mana. Jongin terlalu panik untuk dapat berkonsentrasi dan menemukan di mana gerangan koordinat Yixing berada.
"I-Itu darah! Darah! Bagaimana bisa kau –"
"Itu hanya air yang bercampur dengan darahku –"
"DARAHMU?!" Jongin merasa ia ingin pingsan sekarang.
Seberapa banyaknya darah Yixing sampai membuat satu kolam besar ini berubah menjadi lautan darah seperti ini?!
"Tenanglah. Air kolam itu bereaksi dengan darahku. Satu tetes darah milikku bisa membuat seluruh kolam itu berubah menjadi merah!" serunya yang tentunya tidak digubris Jongin yang telalu panik tentang seberapa parahnya luka Yixing sampai ia bisa membuat lautan darah seperti itu.
"Ge-Gege! Kau baik-baik saja, kan? Gege –"
"Jongin, kita benar-benar tidak punya –"
"Apa kau terluka sangat para –"
"Jongin-ah –"
"-I-Ini lautan darah, Ge! Bagaimana kau –"
"-Cepat minum darah itu sebelum kau mati!"
Jongin lantas langsung membeku di tempatnya. Tubuhnya tidak bisa bergerak. Otaknya tidak bisa berfikir. Semuanya langsung membeku seketika.
M-mati? Ma-Ma-MATI?!
Ia bisa merasakan Yixing menghela nafasnya.
"Aroma menyenangkan dan menenangkan yang kau cium tadi sampai membuat kakimu berjalan sendiri itu adalah aroma black rose. Mawar hitam itu adalah tanaman paling berbahaya. Meskipun aku yakin kau sudah dicekoki ramuan yang membuatmu aman, skenario terburuk masih bisa terjadi."
Jongin terdiam. Memang benar. Sebelum ia masuk tadi, ia sempat diberi minum. Tapi, itu hanya air putih.
"Terlihatnya seperti itu, tapi bukan. Jika kau terhipnotis terus dan berhasil masuk ke taman black rose, kau bisa pingsan berhari-hari. Tapi, kalau kau sampai terhipnotis lebih jauh dan meminum air dari black rose... jiwamu dan jiwa Kai akan terpisah –"
"Dan aku akan mati..."
"Y-Ya... makanya! Segera minum dan turuti instruksiku lagi! Kita benar-benar tidak punya waktu sebelum efek black rose kembali padamu! Cepat Jongin!"
Bukannya segera meminum air dari kolam itu, Jongin malah terdiam. Mematung dan membeku di tempatnya berdiri. Membuat Yixing mengerang kesal.
"JONGIN! Cepat minum air itu dan segera lakukan apa yang aku katakan!" dengan amat terpaksa, Yixing menggunakan Alpha tonenya. Membuat Jongin langsung tersadar dan segera jatuh terduduk dengan kepala menduduk. Dengan segera, namja itu mengambil mangkuk dan mengisisnya dengan air dari kolam.
"Segera minum." Masih dengan Alpha tonenya, Yixing menyuruh Jongin meminum air penawar itu. Tanpa melawan, Jongin langsung meminum air yang terasa seperti air biasa itu.
"Sekarang, aku hitung sampai 3, kau segera lari lurus –"
"Bagaimana dengan kau –"
"Turuti saja aku dan larilah lurus! Jangan pernah berbelok! Jangan pernah berhenti! Jangan pernah menengok kebelakang apapu n yang kau dengar! Mengerti?!"
"Tapi, kau –"
"Mengerti?!" Jongin langsung menundukkan kepalanya begitu Alpha tone kembali terdengar. Ia pun menganggukkan kepalanya. Dan Yixing menghela nafasnya.
"Sekarang bersiap."
"Satu..."
"Dua..."
"Tiga! Lari sekarang Jongin!" secepat kilat, Jongin berlari lurus. Kedua matanya tertutup. Mencoba untuk tidak melihat apapun yang ada di hadapannya.
Sayangnya, telinganya bisa mendengar dengan baik dan ia bisa mendengar erangan kesakitan dari Yixing.
Ia begitu ingin berbalik. Sangat ingin berbalik. Tapi, Yixing sudah memerintahkannya untuk terus lari. Ia tidak boleh melanggar hal itu.
Sama sekali tidak boleh.
Maka dari itu, Jongin terus berlari sekuat tenaganya. Meski kakinya sakit, meski ranting-ranting menggores kulitnya. Ia terus berlari.
Seraya berdoa semoga Yixing baik-baik saja.
.
.
.
Jongin terdiam menatap danau yang ada di hadapannya. Namja yang hanya mengenakan kimono mandi dan membawa sebuah handuk itu terdiam menatap keindahan danau bernama Fair lake itu.
Menurut apa yang dikatakan Mama, danau ini adalah magical lake yang bisa membawamu pada ketenangan. Sekali saja kau masuk ke sana, dan kau akan langsung tenang. Tidak hanya itu, ia juga bisa membuat lukamu menjadi baik.
Ingin mencobanya, Jongin pun dengan segera menuju ke sini. Dengan bantuan Luhan –yang katanya sedang kabur dari Sehun- ia pun berhasil menuju ke tempat ini tanpa siapapun –kecuali Luhan- tau.
Sebenarnya ia tidak ingin melakukan hal itu. Hanya saja, entah mengapa, perasaannya mengatakan bahwa ia harus pergi ke sini sendirian. Tanpa memberi tahukan siapapun.
Perlahan, Jongin melepaskan kimono mandinya, meninggalkan tubuhnya tak tertutup apapun. Berbekal handuk di tangan, salah satu kaki Jongin mulai menapak ke dalam danau yang bisa dibilang lebih mirip tempat pemandian terbuka itu.
Benar saja kata Mama, ia sudah merasakan ketenangan ketika air sejuk danau menyapa kakinya.
Seolah tertarik ke dalam, Jongin pun terus melangkahkan kakinya masuk ke danau itu. Satu demi satu langkah ia ambil sampai akhirnya hanya tersisa kepala sampai bahunya saja yang terlihat.
Danau ini benar-benar ajaib. Itulah yang ada dipikirannya. Tanpa sadar, senyum mengembang di bibirnya.
Air sejuk itu terasa memeluknya. Menggelitik permukaan kulitnya dengan perlahan. Membersihkan seluruh tubuhnya dari kotoran dan luka-luka yang ia dapatkan akibat ritual tadi.
Suasana di sekitarnya begitu tenang. hanya ada suara angin pelan dan gemericik dedaunan yang lembut. Membuat perasaannya benar-benar tenang dan damai.
Rasanya benar-benar nyaman sekali. Sangat amat nyaman. Tubuhnya terasa lebih ringan dari biasanya. Seolah, semua beban telah hilang dari tubuhnya. Ia begitu ringan.
Benar-benar nyaman sekali.
Splas
Jongin langsung membuka matanya ketika ia mendengar suara itu. Keningnya langsung berkerut.
Siapa itu?
Penasaran, ia pun perlahan berjalan mencari asal suara itu. Ia tidak mungkin berenang. Ia tidak ingin membuat siapapun itu menyadari kehadirannya. Ia tidak ingin menyebabkan masalah lebih jauh lagi setelah hari ini.
Ia terus berjalan. Terus berjalan dengan perlahan dan sepelan mungkin, menuju ke tengah danau yang bersekat –
Eh? Bersekat?
Merasa semakin aneh, Jongin pun berjalan menuju sekat itu.
Masa' ada sekat di tengah danau. Ini aneh sekali.
Begitu ia sudah sampai di tengah sekat itu, Jongin pun langsung meletakkan tangannya di sana. Dan kesejukan pun bisa ia rasakan. Rasa dingin yang menenangkan mengalir dalam dirinya. Membuatnya nyaman sampai-sampai bisa merasakan aura Yixing-ge-nya.
Eh? Sebentar!
I-I-ini bukan perasaannya saja! I-ini!
Jongin membelalakkan matanya.
"Ge-Gege? Kau ada di sana?"
"N-ne. Kau juga ada di sana, Jongin?" mata bulat Jongin semakin membulat. Sontak namja berambut kecoklatan itu langsung berbalik. Tanpa ia sadari ia menahan nafasnya, kedua pipinya berubah menjadi kemerahan.
Eo-eotteokhae? Kenapa ini bisa terjadi?!
Kenapa ia harus bertemu dengan Yixing di saat-saat ia sedang... sedang tidak berpakaian seperti ini!
Memalukan!
"Apanya yang harus kau permalukan? Sebentar lagi juga aku akan melihatnya. Di tempat tidur lagi. Sudahlah jangan malu-malu! Hitung-hitung 'kan latihan." Ucapan dengan nada menggoda itu sukses membuat kening Jongin berdenyut.
"A-Apa kau bilang?! Dasar mesuuuuum!" serunya dengan wajah yang semerah tomat matang.
Astaga benar-benar, Gegenya itu! Bisa-bisanya di saat-saat seperti ini!
"Kenapa? Aku 'kan benar. Kita akan segera saling melihat satu sama lain. Kenapa harus malu?"
"Ge, kau diam sekarang atau aku akan menghancurkan sekat ini dan mengajarmu habis-habisan –"
"Oh datang saja ke sini. Aku akan dengan senang hati menerimamu dalam pelukkanku –"
"GEGE!"
"Ne, ne, ne. Mianhae, Wangyeo-nim."
Jongin mem-pout-kan bibirnya. Kedua tangannya disilangkan ke depan dadanya. Perasaan kesal langsung menyelimuti dirinya.
Benar-benar menyebalkan.
Tanpa keduanya sadari, keheningan menyapa.
Di satu sisi, Jongin masih dengan sikap cemberutnya. Kekanakan memang, tapi ia sulit mengindarinya!
Sementara itu, di sisi yang lainnya, Yixing hanya terdiam. Pipinya yang masih lebih pucat dari biasanya tampak merona.
Sebenarnya sih, ia juga malu akan hal ini. Bagaimanapun juga, ia tidak pernah sekalipun berhadapan dengan sesuatu yang... yang seperti ini.
Oke, ia akui ia memang masih sangat polos. Bahkan Laysendiri juga tidak nyaman dengan posisi mereka sekarang. Tidak usah dibayangkan sih apa sisi wolfnya itu sedang merona atau tidak. Yang jelas, ia yang masih tidak nyaman dengan segel mereka, benar-benar tambah tidak nyaman dengan posisi mereka sekarang.
Ah... bicara soal segel, Yixing langsung mengangkat tangan kanannya. Manik kelamnya menatap rentetan mantra tebal yang membentuk segel itu. Rasanya berbeda sekali dengan tampilan Shio segel yang tipis dan sederhana. Segel itu tampak seperti tato gelang di tangannya. Membuatnya setengah tidak nyaman.
Sudah begitu, posisi dirinya dengan Lay yang sekarang sejajar membuatnya setengah risih. Ia tidak terbiasa dengan Lay yang tepat berada di sisinya. Walau sebenarnya terasa begitu nyaman dan aman, ia tetap merasa sedikit... bagaimana gitu...
Menghela nafas, Yixing pun menutup matanya. Bagaimanapun ini demi keselamatannya. Ia dan Lay harus terus berusaha untuk menyamankan diri mereka dan beradaptasi dengan posisi sekarang.
Yah.. setidaknya, Sehun juga akan mendapatkan segel yang sama. Mereka akan punya teman yang bisa diajak galau bersama.
Membuka matanya perlahan, Yixing pun mencoba menggerak-gerakkan telapak tangan kanannya yang masih terasa agak kaku dan dingin. Efek dari pengaktifan segel. Menimbulkan bunyi kecipak kecil yang menemani keheningan mereka.
"Sssshhh..." desisan kecil yang Yixing harap tidak terdengar sama sekali sukses membuat Jongin tersadar dari sikap kekanakannya.
Seketika perasaan khawatirnya langsung kembali.
Sebelum datang ke sini, ia sempat bertemu dengan Papa. Wajahnya yang tampak kelelahan membuat Jongin tidak tahan untuk bertanya apa yang terjadi padanya. Ia khawatir, kalau-kalau kejadian tadi siang itu berefek berkepanjangan padanya.
Yifan sendiri hanya bisa tersenyum. Kemudian mengacak rambut Jongin seraya menjelaskan bahwa tidak, ia baik-baik saja. Ia hanya habis memasangkan segel baru pada Yixing. Sebelum kemudian tersenyum lagi dan pergi dari hadapannya. Meninggalkan Jongin setengah bingung sendirian.
Memang, secepatnya Yixing harus dipasangkan segel lagi. Walaupun Lay sudah berhasil ia taklukan, Yixing tetap harus di segel demi menekan kekuatannya agar tidak berbalik menyerang dirinya sendiri atau orang-orang yang tidak bersalah.
Melihat Papa yang sampai seperti itu, Jongin berani bertaruh kalau segel yang dipasangkannya pada Yixing adalah segel yang sangat kuat. Yang artinya, segel itu akan meninggalkan rasa sakit yang cukup besar beberapa saat setelah diaktifkan.
Jongin menundukkan kepalanya. Wajahnya tampak sendu.
Ia benar-benar merasa bersalah akan semua ini. Seandainya saja..
Jongin menggigit bibir bawahnya.
Merasa aura Jongin mulai menggelap Yixing menutup matanya. Perasaan nyaman yang ia dapat dari danau itu entah bagaimana tidak cukup kuat untuk menghalau perasaan menyesalnya.
Kemudian, keheningan tidak menyenangkan yang selalu ingin Yixing hindari pun datang tanpa diundang.
"Ge –"
"Aku tidak apa-apa, Jongin. Hanya luka kecil." Bagian terakhir itu adalah sebuah kebenaran. Baginya, luka seperti itu memang hanyalah luka kecil yang dengan cepat akan sembuh. Meskipun kondisinya seperti ini.
Tapi, untuk yang pertama... ada benarnya, tapi jika dilihat dari sisi lain, tidak juga.
Jongin tau itu. Tau dengan baik.
Lagi, keheningan menyapa. Lagi.
"A-Aku sudah tau semuanya... dari Mama..." Yixing menutup kedua matanya.
Ia memang tau, cepat atau lambat, dengan atau tanpa restunya, Jongin akan tau masalah 'Yixing sama dengan Yifan' itu.
Itu yang terbaik sebenarnya. Tapi, di sisi lain, Yixing merasa bahwa Jongin tidak perlu mengetahuinya.
Itu hanya akan merepotkan.
"A-aniya... aku tidak kerepotan. Malah aku terbantu. Setidaknya, aku tau apa yang harus aku lakukan pertama kali jika sesuatu terjadi padamu." Jongin bergumam pelan seraya menatap pantulannya di air yang jernih itu.
Dalam diam, Yixing tersenyum kecil.
"Xie xie, Jongin-er." Jongin tau ini agak memalukan, tapi, mendengar ucapan itu, yang begitu manis dan penuh perasaan, membuat pipinya merona.
Aigo! Memalukan.
"Tapi aku janji, aku akan menjaga diriku dengan baik. Bagaimanapun juga, akulah yang harusnya menjagamu dan calon keluarga kita nantinya." Ucap Yixing dengan mata yang menerawang jauh ke atas. Dia tidak tau apa yang akan terjadi nantinya. Meskipun semua orang bilang ia adalah Papanya dan takdir mereka sama.
Ia akan memegang janjinya dan berpegang teguh padanya. Bagaimanapun juga, ia adalah Dominant Alpha dan calon Head Alpha yang baru untuk Clan terbesar di China.
Ia harus berusaha. Berusaha lebih keras lagi. Demi keluarga besarnya dan keluarga kecilnya nanti yang akan ia bangun bersama Jongin.
Tanpa sadar, memikirkannya membuat Yixing tersenyum.
Sementara itu, Jongin benar-benar tidak bisa menahan rasa malunya sekarang. Kata-katanya terdengar begitu manis ditelinganya. Meskipun apa yang ia katakan adalah kenyataan yang –menurutnya- pasti akan terjadi, ia tetap tersipu mendengarnya.
"G-gomawo, Gege."
Kemudian keheningan kembali menyapa mereka. Kali ini lebih nyaman dari sebelumnya.
Malam itu, di tengah Fair lake yang tampak bersinar meski bulan belum sepenuhnya bulat, Yixing dan Jongin terdiam. Menikmati air sejuk menenangkan tersebut. Bibir mereka terkulum membentuk senyum kecil.
Tanpa menyadari segel High Wall mereka perlahan memudar dan menghilang.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Oke, ini adalah updetan part B-nya yang kemarin. Gue emang sengaja nyepetin updatenya. Dari pada pada mati #kagak bakal mati juga kali ya# penasaraan ama cerita kemaren yang kayaknya gantung banget itu, jadinya gue langsung update deh.
Gimana? Udah kejawab semuanya 'kan? Sorry banget loh kalo banyak typo. Hana kagak bantu kali ini, dia lagi sibuk mau ulangan MTK peminatan #ngebayangin jaman SMA#merinding.
Bales riview dulu ah...
ExileZee
Danke! Thanks udah baca. Hmm... gak usah saya jawab ya? Udah kejawab 'kan semuanya di atas.
Tetua emang ngeselin. Kapan orang-orang tua gila kekuasaan itu gak ngeselin? #marah2 sendiri#gampared.
Udap update! Danke!
Cute
Danke! Thanks udah baca. Thanks juga udah suka fic rada ancur-ancuran dan gak jelas ini. Hehehehe...
LayKai selamet kok. Kayaknya sih bakal selamet terus. Kalo nggak, trus NC-nya kagak jadi dong #gampared#bakared#
Update mah kagak bisa cepet. Saya ini siput, meow!
Zy
Danke! Thanks udah baca. Hai juga! Baru riview? Kaga apa2. Kagak riview pun tak apa2 lah
Eh, jangan nangis dulu. Simpen dulu air matanya. Saya masih punya chap lebih menyedihkan dari ini #ketawa nista#dihajar LayKai#
Semua pertanyaan kayaknya udah kejawab. Hehehe...
Danke! Thanks udah baca. Oh belom. Klimaksnya bukan ini. Belum saatnya klimaks!
Saya ini siput, saya kagak bisa update asaaaaaaaaaaap! #nangis dipojokan#dasar namja aneh#
Novisaputri09
Danke! Thanks udah baca. Kagak, kagak kenapa-napa kok. Kagak lucu 'kan kalo dua2nya mati. Padahal fic ini akhirnya happy ending #eh gue ngomong#dibakar Hana#
'kan aku dah bilang, nikahnya masih ntar! Abis mereka lulus sekolah #nikah humanly maksud saya# ini mereka baru 'nikah' wolf-ly (mating). Gila aja saya nikahin mereka humanly pas mereka masih SMA. Pernihakan dini dong #jyah... gue ngomong lagi#dibacok Hana#
20K itu belom banyak! Beloom banyaaaak! #derita orang yang demen baca fic +25K#
Xing mae30
Danke! Thanks udah baca. Udah lanjooooot!
SodariBangYifan
Danke! Thanks udah baca. Hehehe... jangan bilang begitu... saya 'kan jadi malu #ter-ikan-sapu-sapu# kagak apa-apa baru riview, kagak riview kagak apa2 kok #pasang topeng Yixing pas lagi senyum#
Saya sih pengennya juga si Tetua itu dibunuh juga. Tapi, kalo kagak ada yang nentang itu rasanya flaaaat bangatz.
Kalo langsung nikah (mating) kagak seru. Saya suka membuat mereka meraih sesuatu yang berharga setelah berusaha keras #jiah bahasanya gue#gampared.
Sukmawindia
Danke! Thanks udah baca. Hai juga! Udah kejawab 'kan pertanyaannya?
Yah... emang kayak gitu. Seperti yang udah saya bilang, para tetua sialan yang gila kekuasaan itu emang nyebelin bin bikin frustasi!
Ren Choi
Danke! Thanks udah baca.
Emang mereka mah sialaaaaaan! Nasib mereka sih emang baik-baik aja. Tapi tetep aja! #woy lo yang bikin cerita kenapa lo yang kesel#biarin weeek#ditendang#
Wah... stop! Stop! Abang Yifan! jangan kau berikan dia panahmu! Kagak seru kalo tetua sialan itu mati #berebut ama Yifan#dipanah yifan# mati#idup lagi# disenyumin seohyun#mati lagi#gapared
Saya ini siput! Siput! Siput! #pundung# Hana bilang salam juga buat kamu ^_^ !
Guest
Danke! Thanks udah baca. Hmmm... kalo udah baca chap ini masih bingung kagak? Kalo kagak berarti gue gagal #pundung di pojokan#
HanbiJung
Danke! Thanks udah baca. Hua! Ada namdong! Aseeek! Akhirnya ada yang manggil gue Hyung! Hehehe... saya sendiri juga berasa bikin novel. Cuma, rada aneh aja...
Thanks juga atas pujiannya. Hana sama Saya emang kagak suka yang maenstream. Kagak seru lah yaw!
Oh Sehun itu kalo dimandarinin jadi Wu Shushen #tau dari temen gue gak tau bener apa kagak# makanya saya jadiin anaknya Yifan. kan ngepas!
Tenang aja, soal NC, dijamin anda puas #tapi dosa tanggung sendiri# dan soal LayKai, kagak bakal kenapa2. Saya bikin sekarat sih iya, tapi kagak bakal kenapa2 #dihajar EXO-L#mati
Danke! Thanks udah baca. Udah lanjut! Thanks atas pujiannya!
Redfly
Danke! Thanks udah baca. Bagus deh kalau puas bacanya. Hehehe...
Saya ini siput! Tolong jangan suruh saya cepet-cepet! #pundung dipojokan.
Mutira Park
Danke! Thanks udah baca. Gak apa2. Kagak riview aja kagak apa2 kok. Thanks yah udah suka ini fic aneh. Hehehe...
Sihyunaaa
Danke! Thanks udah baca. Eh? Marathon baca. Uwa... berarti baca lebih dari 20K dong! Ckckck... hebat!
Panggil abang aja! Tapi jangan abang baso! Saya demennya mie ayam! Panggil abang mie ayam aja #gaje#plak!
Inspirasi mah dari mana aja. Saya sama Hana itu penggemar buku2 fiksi yang model beginian. Selain itu, fic2 english banyak yang ngangkat cerita kayak gini dan banyak yang jauh lebih ribet dari ini. Selain itu juga, ada beberapa yang Hana ambil dari ritual Indonesia yang diubah biar ngepas sama fic ini.
Danke! Thanks udah baca. Tenang aja, fic ini bakal lanjut kok. Cuman lama banget updatenya. Sabar ya! Thanks atas semangatnya!
Askasufa
Danke! Thanks udah baca. Iya, ini sequel. Tapi, kayaknya kagak nyambung sama sekali #pundung#
Emang fokusnya di sana. Soalnya, gimanapun juga, ini fic LayKai. Jadi porsinya mereka hampir 80%. Hehehe... thanks atas pujiannya!
TaEun, JaeJong, LayKai, sama N.A.P (CAP x Niel) itu OTP-ku. Berhubung aku demen banget ama ntu Quadruplets (kembar 4). Jadi pasti seenggaknya mereka bakal muncul walau dikiiiiit banget di setiap fic ku. Hana juga gitu. Hehehe!
M Aldianor Alvon Kpopers II238
Danke! Thanks udah baca. Maap ya kalo bingung. Semoga chap ini kagak bikin bingung!
Eh dah! Jangan! Jangan punyanya dia! Saya masih normal! Kalo barang2-nya SNSD yang dilempar mah, saya kagak apa2 #digampar bolak balik#dibakar SONE#dibakar semua orang#
Joy Wu.94
Danke! Thanks udah baca. Maap, maap. Saya ini siput, jadi lama banget. Maap yak! Maap! #bow berkali2#
Wokeh! Kalo nambahin words mah, siap bos!
Bener, FFn suka error #joged ERROR-nya VIXX#dihajar starlight# kagak apa2 lah! Tapi, nge-pas beut dah sama gue lagi ngedit ulang nih fic!
Oke dah! Kalo ada yang riview tapi kagak kejawab. Gue minta maaf ya. Gue kagak bisa buka akunya Hana. Ntah apa yang terjadi. Jadi gue bales apa yang masuk ke G-Mail-nya Hana aja. Jadi, buat siapapun yang kagak kebales sorry.
Soal pertanyaan kemaren kayaknya kagak ada yang respon yak? #pundung# ya udahlah kagak apa2 #nangis#
Oh ya, ada titipan dari hana, buat yang udah baca I Got A Boy and respon pertanyaannya, gue mau ngumumin pemenangnya.
Jeng jeng jeng
Jawabannya!
Hana!
Gue cuma kedapetan beta doang #makanya berantakan# dan ngisi bagian authors note supaya bikin bingung. Hehehe... kalo ada yang merhatiin, bagian awalnya beda sama bagian awal fic-fic punya gue. Trus bagian introducing fic-nya juga beda. Gaya penulisannya juga rada beda. Hehehe...
Siapa pun yang merasa bener. PM ya!
Oh ya, satu lagi. Gue harus bilang kalo fic besok itu ada 2 ritual barengan soalnya cuma satu hari kayak yang ini. Jadi panjang banget. Terus gue juga mau kasih key words buat ritual chap selanjutnya. Gue pengen bikin kalian tambah penasaraaaaan! #dihajar bersama#
Key word 1: Kertas
Key word 2: Air
Key word 3: Raven (biru gelap)
Key word 4: Merah darah
Key word 5: Danau
Key word 6: Hanbok
Key word 7: Bulan
Key word 8: the Holy Wu
Key word 9: Alpha
Key word 10: ...
.
.
.
.
Wu 'Youngin' Renxing
C u next taim
reYHan
