dangerouSHIRO present :

"Maple Love Story"

All chara own by SMent

This fanfic using MALExMALE story

So, if you DON'T LIKE that thing…

Make it simple!

DON'T READ my fanfic!

I DON'T NEED FLAMER OR BASHING!

( ¯ _ ¯!)

And if you don't like all pairing in this story,

Just GO AWAY!

XOXOX

Kantin SM Senior High-School tampak penuh sesak, semua siswa serta staff pengajar masing-masing berebutan tempat untuk menikmati jatah makan siang mereka. Begitu pun dengan Changmin, pemuda tinggi itu tengah mengitari pandangannya untuk mencari seseorang. Siapa lagi kalau bukan Kangin, sosok yang selalu ada bersamanya sejak lama. Namun sepertinya Changmin kurang beruntung kali ini, karena sosok bertubuh tinggi besar Kangin tak terlihat sama sekali.

Dengan menghela nafas kecewa, Changmin mengitari pandangannya lagi untuk mencari tempat kosong. Dan sekali lagi, Changmin harus menelan kecewa karena kursi-kursi yang ada didekatnya sudah terisi oleh manusia-manusia yang tengah brutal menyantap makanan mereka. Changmin sudah lesu, "aku malas mencari tempat lain. Masa iya aku harus makan ala lesehan?"

"Ternyata memang otak kampungmu ga bisa hilang ya walaupun kau sudah ada di Seoul?"

Changmin menoleh ketika mendengar suara yang selama hampir dua hari ini terasa familiar baginya. Dan benarlah, ketika ia menoleh sudah ada sosok menyebalkan Kyuhyun yang tengah membawa nampan makan siangnya. Changmin menatap Kyuhyun sebal, "sudahlah Kyu! Aku sedang tidak ingin bertengkar denganmu, kau tahu?"

"Memang siapa yang mau bertengkar denganmu? Aku mau makan siang kok…"

Changmin hanya bisa bersabar mendengar jawaban Kyuhyun, namja tampan itu menahan dirinya untuk tak melemparkan susu kotak yang bertengger manins di nampannya pada Kyuhyun. Changmin mengernyitkan pandangannya, "kau juga lagi cari tempat buat makan ya?"

"Bukan urusanmu, dasar orang kampung!" Kata Kyuhyun sadis. Changmin menggigit bibirnya untuk tidak benar-benar melemparkan susu kotaknya pada namja manis bermulut-tak manis disampingnya itu. Kyuhyun menoleh, "apa? Kenapa kau menatapku begitu?

"Kau mau tahu? Sedari tadi aku menahan emosi agar aku tidak melemparmu dengan susu kotak ini sebagai balasan kotak pensilmu tadi!" geram Changmin.

Kyuhyun menaikan satu alisnya, "apa itu penting bagiku? Kurasa tidak." Katanya seraya pergi meninggalkan Changmin. Changmin mendengus kesal, baru kali ini dia bertemu dengan namja semenyebalkan Kyuhyun. Namja tinggi itu memperhatikan sosok Kyuhyun yang tengah mengedarkan pandangannya mencari tempat kosong, "anak itu terbuat dari apa sih? Menyebalkan sekali dia..."

"Hei orang kampung! Kau mau makan sambil berdiri atau mau duduk disini?"

Changmin menatap kearah Kyuhyun yang sudah duduk manis disalah satu meja paling ujung. Namun Changmin kali ini lebih memilih untuk tak menyahuti Kyuhyun, bisa-bisa kalau ia duduk bersama Kyuhyun dimeja itu...akan ada perang makanan kedua disana.

Jadi Changmin lebih memilih untuk mencari meja lain, walaupun ia harus berjalan cukup jauh, namun itu lebih baik.

"Entah kenapa aku selalu sial jika ada disampingnya..." gerutu Changmin.

XOXOX

"Changmin!"

"Hyung-ah! Kau kemana saja? Aku sedari tadi mencarimu saat jam makan siang tahu." Sungut Changmin ketika sosok yang sedari tadi dicari olehnya kini berdiri dengan wajah tanpa dosa. Changmin melirik kearah samping, dimana disamping Kangin telah berdiri namja yang kelihatannya lebih dewasa dari mereka berdua. "Annyeong, Nuguseyo?" tanya Changmin pada namja itu.

Kangin yang mendengar perkataan Changmin yang terkesan informal, langsung memukul belakang kepala sang dongsaeng. "Kalau kau bicara, perhatikan aksenmu! Namja ini adalah seonsangnim untuk mata pelajaran seni disekolah ini."

"Mwo? Jadi anda ini seonsangnim? Aigooo...maafkan kata-kataku tadi, ummm-,"

"Yunho, Kim Yunho imnida." Jawab namja yang ternyata adalah Yunho.

Changmin mengangguk mengerti dan menundukan kepalanya sedikit, "ne! Jeongmal mianatta Yunho seonsangnim."

Yunho menepuk bahu Changmin pelan, sebagai tanda bahwa hal itu bukanlah masalah. Yunho lalu menatap Kangin, "kurasa aku harus bergabung dengan para guru. Aku permisi Kangin-sshi, dan?"

Changmin tersentak, "ah? Naneun Shim Changmin imnida, bangapseumnida seonsangnim."

Yunho mengangguk kecil, "ne Changmin-sshi, bangaptta. Dan sampai jumpa dipelajaran seni pertamamu..." pamit Yunho. Sepeninggal Yunho, Kangin duduk dihadapan Changmin yang masih meminum susu kotaknya. Kangin menyambar susu kotak yang tengah berada dibibir dongsaengnya itu, hingga menuai protes dari sang empunya susu kotak.

"Aish! Kalau kau mau susu itu, ambil sendiri dong hyung! Kau sudah tua tapi menyebalkan." Gerutu Changmin.

"Aku malas kalau harus jalan ke dapur, Minnie-chagi..." jawab Kangin seenaknya. Mendengar Kangin memanggilnya dengan nada yang entah kenapa terdengar menjijikan, membuat Changmin refleks melemparkan kulit jeruk yang ada di nampannya kearah Kangin. "Kau menjijikan hyung!"

Kangin tak menjawab lagi, namja itu sepertinya lebih menikmati susu hasil rampasannya. Changmin menopangkan tangannya keatas meja, "hyung-ah...setahuku sekolah ini tidak pernah mengajarkan pelajaran seni. Kenapa sekarang ada Yunho seonsangnim?"

Kangin mengangkat bahunya, "molla. Aku juga tadi bertanya begitu pada Yunho seonsangnim, tapi jawaban yang dia berikan tidak terlalu memuaskan."

"Maksudmu, hyung?"

Kangin mengangkat bahunya lagi, "sudahlah. Ayo keluar, pelajaran selanjutnya akan dimulai lagi." Ajak Kangin.

XOXOX

Sore hari semua kegiatan belajar siswa SM Senior High-School telah rampung. Kini terlihat koridor-koridor yang tadinya lengang dan sepi, kini berbanding terbalik. Para namja beralmameter biru tampak berhamburan dan tumpah ruah keluar dari kelas mereka yang membosankan. Begitupun dengan Kangin, Sungmin, Shindong, dan Yesung. Empat namja yang sekelas serta sekamar itu melangkah beriringan, tampak sesekali tawa ataupun senyuman menghiasi langkah mereka.

Namun belum juga sampai di dorm, Yesung memisahkan diri dari ketiga temannya. Namja tampan berkepala besar itu berjalan menjauh menuju kearah taman belakang sekolah. Kangin yang heran, bertanya pada Sungmin dan Shindong. "Yesung-hyung mau kemana? Memangnya boleh keluar ya?"

Sungmin hanya mengulas senyum tipis, "Yesung-hyung memang selalu keluar dari sekolah tiap sore. Entah dia pergi kemana, tapi itu memang sudah menjadi kebiasaan Yesung-hyung sih. Memang kenapa hyung-ah?"

"Ah, anio. Aku hanya bingung saja, setahuku kan gerbang sekolah ini tak pernah dibuka untuk siswa-siswanya yang ingin keluar." Kata Kangin.

Shindong yang mendengar perkataan Kangin hanya tertawa, "hyung-ah...kau ini terlalu polos. Ada seseorang yang mengatakan bahwa peraturan itu ada, untuk dilanggar. Kau tidak pernah dengar kata-kata itu ya?"

"Aish! Aku sering mendengarnya Shindong, tapi aku kan namja yang patuh pada peraturan. Tidak seperti kalian ataupun Yesung-hyung." Jawab Kangin.

Sungmin dan Shindong saling berpandangan, lalu sama-sama berteriak sambil mengejar Kangin. "ENAK SAJA! Kami juga namja yang patuh terhadap peraturan!"

XOXOX

Yesung tengah mengendap-endap kearah taman belakang sekolah, dimana ditaman itu ada gerbang kecil yang biasanya dijadikan jalan keluar rahasia oleh para siswa yang ingin pergi sebentar dari SM Senior High-School. Dan kali ini seperti biasanya, Yesung akan keluar dari sekolah secara diam-diam.

Namun Yesung terkejut ketika didepan gerbang kecil yang telah usang itu, berdiri seorang namja tak dikenal. Yesung mendekat kearah namja yang kelihatannya lebih dewasa dari dirinya itu, "maaf...anda siapa ya?"

Namja itu menoleh, mata tajam bagai mata musang itu menatap Yesung sekilas lalu kembali menatap gerbang usang yang ada dihadapannya. "Kau siswa kan? Kenapa berkeliaran disini, bukankah kau seharusnya kembali ke dorm?" namja itu tak menjawab, dia malah balik melontarkan pertanyaan pada Yesung.

Yesung tampak salah tingkah, ia menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Errr...aku hanya ingin berjalan-jalan saja, aku bosan harus kembali ke dorm."

"Bosan? Kenapa kau bosan?"

"Entahlah. Aku hanya merasa kehidupan disini monoton, makanya aku pergi keluar secara diam-diam lewat gerbang ini." Kata Yesung.

Namja tak dikenal itu mengulurkan tangannya untuk menyentuh sisi gerbang yang mulai berkarat. "Jadi gerbang ini masih berfungsi seperti dulu ya?"

"Eh, maaf? Anda bicara apa tadi?"

"Ani. Kau mau keluar kan? Kalau begitu, silahkan. Jangan lupa untuk kembali sebelum jam makan malam ya." Namja itu menyingkir dari depan gerbang, membuat jalan untuk Yesung agar ia bisa keluar melewati gerbang tersebut. Yesung pun segera melangkah menuju gerbang itu dan membuka kuncinya yang tak tergembok. "Umm...kalau beloh tahu, anda ini siapa? Sepertinya anda bukan salah satu seonsangnim disini ya?"

"Kau akan tahu siapa aku nanti..."

XOXOX

Yesung kini tengah berdiri dihadapan sebuah rumah besar yang tampak tak terurus. Manik kelam dimatanya hanya mampu memandangi bayangan rumah itu dengan tatapn miris. Sayup-sayup Yesung bisa mendengar suara jeritan dan tangis diselingi suara makian dan pecahan benda-benda keramik.

Yesung memejamkan matanya, mencoba menghilangkan rasa sakit kala telinganya mendengar suara tangisan seorang namja dari dalam rumah itu.

"Appa, ampun...! Aku tak akan mengulanginya, aku akan bekerja kalau Appa membutuhkan uang. Ampun Appa, jangan pukul aku lagi."

Yesung meringis, entah kenapa hatinya selalu sakit jika ia mendengar suara tangis itu. Tangis pilu yang dicampurkan dengan lirihnya permohonan seseorang. Yesung sebenarnya tak tahu kenapa ia selalu merasakan hal seperti itu, padahal ia sendiri tidak pernah melihat ataupun bertemu dengan namja yang tangisannya selalu ia dengar selama hampir tiga tahun belakangan.

Yesung membuka matanya, mencoba kembali menatap bayangan rumah besar dihadapannya. "Andai aku bisa menolongmun, sekali saja..." ujar Yesung pada angin semilir yang menerpa wajahnya. Yesung melirik jam dipergelangan tangan kirinya, sudah hampir dua jam dia berdiri ditempat ini sejak kabur dari sekolah. Dan kini, saatnya ia kembali ke sekolah.

Yesung membenahi letak ransel dipundaknya, lalu dengan perlahan berjalan meninggalkan tempatnya berdiri menuju kearah SM Senior High-School. Tanpa Yesung sadari, dari balkon rumah itu ada seorang namja bertubuh mungil yang tengah menangis gemetaran. Namja mungil itu duduk dilantai balkon, matanya yang merah dan basah mengikuti kepergian Yesung. Sinar mata dari namja itu seolah berkata bahwa Yesung tak boleh pergi, namun lidahnya terasa kelu untuk memanggil Yesung.

Dan pada akhirnya, namja itu hanya bisa melihat sosok Yesung yang perlahan menghilang dibalik pepohonan. "Tolong aku, bawa aku...pergi...dari sini."

XOXOX

Kangin yang tengah asyik memandangi bangunan rumah sakit yang berdiri tak jauh dari gedung dorm. Jendela kamarnya ia buka lebar-lebar, membiarkan hawa malam masuk kedalam kamar. Iris berwarna kelam milik Kangin tak henti-hentinya memandangi salah satu jendela kamar dari bangunan rumah sakit itu.

Salah satu jendela yang pernah menampakan sosok namja bersurai madu dari sana, namun sayang...jendela yang selalu menjadi objek perhatiannya tak pernah terbuka lagi sejak saat itu. Jendela itu tertutup dan tak pernah terbuka selama dua hari ini.

Kangin menghela nafas panjang, "kenapa jendela itu tak pernah terbuka lagi..."

"Kau bicara apa hyung?" tanya Shindong.

"Aku sedari tadi memandangi jendela itu, tapi namja yang waktu itu aku lihat dari sana tak pernah muncul lagi. Aku frustasi jadinya!" kata Kangin dengan nada kesal. Shindong tertawa mendengar gerutuan ala Kangin, semenjak ia mendengar cerita tentang namja bersurai madu yang pernah dilihat oleh hyung sekaligus teman sekamarnya itu, ia hanya bisa sabar dan pasrah.

"Mungkin dia itu hantu dari kamar itu, Kangin-ah."

Kangin menoleh, dan mendapati sosok Yesung yang baru kembali. Kangin memajukan bibirnya, "enak saja kau hyung! Kalau bicara jangan sembarangan, aku tahu kok dia bukan hantu."

Yesung mengangkat kedua tangannya, "baik-baik. Aku menyerah, aku mau mandi dulu. Loh? Sungmin mana?" tanya Yesung ketika ia tak melihat magnae dikamarnya itu. Shindong yang tengah membaca buku sembari memakan potato chips hanya bisa mengangkat bahunya, tanda tak tahu.

"Sepertinya dia kekamar Kyuhyun ya? Anak itu...kenapa selalu menempel pada si evil itu." Gumam Yesung.

Kangin yang memang tak terlalu tertarik dengan percakapan dua room-matenya itu memilih untuk kembali memandang keluar kamar. Manik kemalm matanya masih terpaku pada jendela kamar rumah sakit itu, "kau itu sebenarnya siapa? Aku ingin kesana menemuimu, tapi sekolah ini tak memperbolehkannya. Aku harus bagaimana?" lirih Kangin.

XOXOX

Seoul State Hospital (ICU), 06.30pm...

Yunho memandagi sosok cantik yang tengah tertidur dengan damai-disertai beberapa peralatan medis yang terpasang ditubuhnya- disebuah ranjang rumah sakit lewat jendela kecil transparant yang terpasang dipintu. Sosok yang ia cintai, yang ia kasihi, dan yang berharga untuknya melebihi apapun.

Yunho mengelus kaca kecil dipintu ruang ICU itu dengan lembut, seakan ia tengah mengelus sosok yang tengah tertidur itu secara langsung. Air mata perlahan mengalir dipipi tirus milik Yunho, "aku berjanji akan membawanya untukmu Jae. Aku berjanji..."

'Aku tahu kau akan membawanya padaku, Yunho...'

"Kumohon bertahanlah lebih lama untuk itu. Aku mencintaimu Jae, aku mencintaimu..."

'Aku juga mencintaimu, Yun...'

T B C

Saya mau bilang apa ya?

Entahlah...

Kalo masih ada yang bilang chapter ini sama kyk filmnya,

Saya Cuma bisa bilang,

Itu penilaian kalian.

(¯ Д ¯ )

So?

Mind to leave me some review?

But, PLEASE BE KIND!