Leere – Side story

Disclaimer : Hetalia Axis Powers / Hidekaz Himaruya (tapi karakter Schwarz Blut saya yang bikin)

Warning : None

Pairing : None

Ini cerita tentang si Schwarz Blut, pake sudut pandang dia. Soalnya ada yang bilang karakter ini kurang jelas, ya jadilah saya bikin fic tambahan tentang dia.

Enjoy ~

XXX

Namaku Carl Goddard, namaku memiliki arti, yaitu "pria yang sangat kokoh". Mengapa aku diberi nama itu? Kata orangtuaku, mereka ingin aku menjadi pria yang kokoh dan kuat. Mungkin bisa diibaratkan sebagai pohon tua yang sudah hidup bertahun-tahun lamanya, mengalami musim gugur maupun musim semi, semua adalah rutinitas hidupnya. Das leben geht weiter, ja?

Aku berasal dari keluarga yang berkecukupan, hidup di ibukota Jerman, Berlin.

Sudah lama aku tertarik dengan bir. Ayahku adalah seorang bartender, ia memiliki pubnya sendiri. Aku juga kadang ikut membantu di pub Vatti.

Pub itu diberi nama "Leere". Apa artinya? Artinya adalah kekosongan. Mungkin Vatti sangat kesepian saat ditinggal oleh Mutti. Mereka sudah bercerai ketika aku masih berumur 17 tahun.

Pub tersebut memiliki tiga lantai, ditambah dengan ruang bawah tanah.

Ruang bawah tanah untuk menyimpan bir, suhunya dibuat 15°C agar bir tetap awet.

Lantai satu, tempat yang selalu ramai pengunjung, dekornya bisa dibilang bagus, memang agak remang-remang agar suasana pubnya terasa.

Lantai dua terdapat banyak kamar untuk orang yang terlanjur mabuk dan tidak bisa pulang sendiri. Disediakan ranjang king-size di setiap kamar.

Lantai tiga, tempat dimana kami tinggal, itu sudah cukup karena kami tidak usah repot-repot bolak-balik ke pub ini.

XXX

Sekarang usiaku sudah mencapai 27, aku terus membantu Vatti di pub itu. Makin lama pub ini makin sepi. Tidak seperti 10 tahun yang lalu, banyak pengunjung yang datang karena harga bir disini relatif murah dan tempatnya nyaman.

Vatti makin stres, ia membaringkan dirinya di ranjang kamarnya, "Sepertinya pub ini sudah mau bangkrut, Carl." katanya. Aku berusaha meyakinkannya sambil memegang erat tangannya yang sudah berkeriput, "Nein! Kita akan menjaga pub ini. Ini adalah harta berharga ayah kan?"

"Tidak, Carl. Vatti sudah tua, ditambah lagi dengan keadaan pub yang seperti ini." ia berkata, terlihat cairan bening yang akan keluar dari matanya.

Aku mempererat genggaman tanganku, "J-jadi apa yang harus kulakukan?"

"Ja..ga baik-baik pub..ini, Vatti akan..selalu melihat tindakanmu..dari atas sana. S-selamat.. t-ting..gal.." dan iapun menghembuskan napas terakhirnya.

"Vatti! Vatti!" teriakan histerisku mengisi seluruh ruangan itu.

XXX

Aku meneruskan usaha ayahku di pub yang sepi itu. Sekarang tinggal aku sendiri, para pegawai kupecat karena tidak ada yang harus dibantu. Jadi.. yang tersisa hanya aku.. dan pub ayahku yang sekarang menjadi milikku seutuhnya.

Aku menghela napas, mengeluarkannya lagi lewat mulutku, "Haah.. malam ini juga sepi."

Karena bosan tidak ada pengunjung, aku membaca novel misteri. Di samping pekerjaanku, aku juga suka membaca novel-novel bergenre misteri. Sepertinya cita-citaku untuk menjadi detektif tidak kesampaian. Hahaha.

Tiba-tiba kudengar suara langkah kaki yang mendekat. Ada pengunjung!

Kling.

Suara bel di sebelah kiri atas pintu terdengar. Terlihat dua laki-laki, yang satu kurus berkulit pucat dan berambut platinum blond, satunya lagi berbadan kekar dan bermata biru langit. Aku langsung terbelalak dengan kehadiran dua orang tamu tersebut, segera kusambut mereka, "Willkommen!"

"Disini ada bir apa saja?" kata seorang yang bermata biru.

"Ah, mari kubawa kalian ke gudang bir pub ini." Kubawa mereka ke ruang bawah tanah. Mereka melihat dengan pandangan takjub, memang disini tempat penyimpanan bir yang sangat banyak. Hawa dingin dari ruangan itu tidak mereka hiraukan.

"Hmm.. West, bagaimana kalau ini?" kulihat laki-laki bermata merah itu menunjuk satu bir yang terletak di atas, dan pria berambut blonde yang berada di sampingnya menjawab, "Boleh juga."

"Oke, minta yang ini satu." Kata laki-laki albino itu. Segera kuambil botol bir yang terletak di paling atas itu, tidak butuh kursi ataupun tangga, aku sanggup mengambilnya karena tubuhku yang jangkung.

"Silahkan menuju meja bar, tuan-tuan." Kataku sambil membawa bir yang tadi dipesan oleh mereka. Dua orang itu duduk di kursi bulat yang tinggi, kuambil pembuka botol dan dua buah gelas. Memberikannya pada mereka.

Mereka terus minum dan minum, gelas besar itu cepat sekali habis. Satu jam kemudian, kulihat mereka berdua menaruh kepalanya di meja, mengatakan hal tidak jelas. Mereka mabuk.

Dilihat dari gelagat mereka, sepertinya tidak akan bisa pulang dengan selamat. Saat mereka membayar dan hendak meninggalkan pubku, mereka jalan terhuyung-huyung. Ah, sebaiknya mereka dibawa ke kamar di lantai dua saja.

"Tuan, jika kalian pulang dalam keadaan seperti ini, saya tidak yakin dengan keselamatan anda, sebaiknya kalian menginap disini malam ini." Kataku sambil menghadang mereka yang hendak keluar, mereka saling rangkul-merangkul agar tidak jatuh.

Mereka menatapku, "Baiklah.. Antarkan kami.." jawab seorang yang lebih tinggi.

Kuantarkan mereka ke kamar di lantai dua, mereka merebahkan tubuh di ranjang yang besar, cukup untuk dua orang. Kututup pintu kamar mereka. Berjalan ke lantai satu, siapa tahu ada pengunjung lagi.

Tiba-tiba dari lantai dua, tempat dimana kedua tamuku sedang tertidur, terdengar suara jeritan. Aku heran. Tetapi kubiarkan saja karena mereka pasti masih mabuk.

Tetapi suara erangan itu terus terdengar. Dari lantai satu tempatku beradapun terdengar jelas.

Penasaran, aku coba mengintip ke dalam kamar mereka, mumpung lagi sepi juga.

Kulihat mereka berdua dari sela-sela pintu yang terbuka. Astaga! Aku tidak dapat mempercayai ini, segera kututup lagi pintu kamar mereka, berjalan ke bawah dan pura-pura tidak tahu. Lebih baik aku melanjutkan membaca novel yang sempat tertunda tadi.

XXX

Pagipun tiba. Aku menguap lebar, tadi malampun tidak ada tamu lagi selain mereka berdua.

Tamuku yang kubiarkan menginap turun dari lantai dua, masih terlihat mengantuk.

"Ah, terima kasih sudah memperbolehkan kami menginap." Terlihat semburat merah di wajah laki-laki yang berambut blonde, kemeja yang dipakainya agak berantakan.

"Ngomong-ngomong, pub ini sepi ya?" kata seorang lagi sambil menggaruk-garuk rambut bangun tidurnya.

Secara tidak langsung perkataannya sangat menusuk, tetapi aku tetap bersikap lembut karena kata ayahku tamu adalah raja. "Ja, tuan. Pub ini jadi sepi setengah tahun terakhir."

"Kalau begitu, kami akan mempromosikan pub ini ke teman-teman kami!" sahut laki-laki albino tadi sambil menepuk pundakku.

"V-vielen dank, Mr.!" aku membongkokkan badanku sebagai tanda terima kasih.

"Panggil saja aku Gilbert, dan yang itu Ludwig." Terlihat seringaian di wajahnya sambil menunjuk pria satunya lagi.

"Baiklah, Gilbert dan Ludwig. Kalian boleh panggil aku Carl." Aku tersenyum kepada mereka berdua.

Dua laki-laki itu melambaikan tangannya, "Bye-bye, Carl! Kami akan datang lagi dengan lebih banyak orang, pasti!" kulihat mereka keluar dari pintu pubku yang kecil. Ah, mereka pelanggan yang baik.

XXX

Dua hari berlalu tanpa seorangpun pengunjung, novel misteriku pun sudah habis kubaca.

Malam kembali datang ke kota Berlin ini. Dimana ya kedua orang itu?

Kling.

Ah, pas sekali. Baru saja kubicarakan sudah muncul. Gilbert dan Ludwig masuk, melambaikan tangan dan menyapaku. "Hai, Carl!"

Aku balas melambaikan tanganku sambil tersenyum. Kulihat pula gerombolan orang di belakang mereka.

Ada yang beralis tebal, sepertinya ia dari Inggris. Oh, ada juga yang berkacamata dan membawa hamburger, yang satu ini berisik. Umm, ada juga yang membawa mawar di mulutnya, mungkin orang Prancis. Ada orang yang tingginya sama denganku, memakai syal dan berwajah ramah, sama sepertiku. Ah, ada juga yang rambutnya dikuncir satu ke belakang, membawa.. Panda? Ada pria yang paling pendek, rambutnya berwarna hitam dan membawa kamera di tangan kanannya. Dan yang terakhir, pria yang memiliki rambut coklat kemerahan yang bergelantungan di tangan Ludwig, sambil mengatakan "Ve ~" dan masih banyak lainnya!

"Banyak sekali temanmu yang datang!" aku melebarkan mataku seakan tidak percaya dengan banyaknya tamu yang memenuhi pub kecil ini.

"Kesesesese ~ aku sudah berjanji kan bahwa aku akan mengundang teman-temanku!" kata Gilbert sambil menyeringai lebar.

Benar-benar orang yang baik hati! Aku langsung menawari mereka semua dengan bir-bir yang kupunya. Ternyata mereka peminum yang kuat juga, tetapi ada juga yang langsung mabuk dan ada juga yang tidak minum.

XXX

Mereka semua jadi sering datang ke pubku. Kadang hanya datang bermain-main ataupun untuk merayakan ulang tahun seseorang. Mereka benar-benar membangkitkan semangatku yang sudah hilang.

Aku juga sempat diajari memakai pedang oleh seseorang yang bernama Honda Kiku. Cara menggunakan pistol juga diajarkan oleh mereka.

Mereka tidak pernah cerita siapa mereka, tetapi sepertinya mereka sudah ahli dalam berperang. Aku pun ikut tertarik dan belajar menggunakan senjata.

XXX

Pelanggan-pelanggan setiaku tidak pernah terlihat lagi satu tahun terakhir. Jadi kuputuskan untuk menutup pub ini. Menyewa sebuah apartemen dan mencari pekerjaan baru untuk membiayai hidupku sendiri.

Sore hari, aku sudah pulang dari kantorku. Aku naik kereta api untuk sampai kembali ke apartemenku.

Di kereta yang penuh sesak itu, aku melihat sosok yang sudah kukenal. Ia berdiri tepat di depanku. Kulihat mata merahnya melihat ke arahku, ia harus mendongakkan kepalanya ke atas untuk melihatku dengan jelas. Sekilas aku tersenyum padanya dan ia tersenyum kembali padaku.

Aah, sepertinya dia sudah lupa akan diriku ini. Apa kubuat kejutan saja ya untuk Gilbert dan Ludwig di pubku yang kosong itu. Hihihi.. lebih baik aku bersiap-siap ~

-Fin-

Sebenernya fic ini di-request dari Giovanni 'Nadia' Nazuna

Katanya karakter Schwarz Blut gak jelas, jd ini side story nya tentang dia aja.

Maaf kl tetep ga jelas =_=

Translate :

Das leben geht weiter = Life goes on

Vatti = Father

Mutti = Mother

Leere = Emptiness

Willkommen = Welcome

Vielen Dank = Thank you so much