The truth about forever
(Kebencian Membuatmu Kesepian)
.
.
"Don't fall in love with me"
.
.
.
"Ternyata memang benar-benar aneh." Kata Luhan sambil melamun.
"Hmmm. Siapa maksud mu?" Tanya Kyungsoo sambil clingak clinguk.
Saat ini meeka sedang berada di kantin menunggu jam kuliah selanjutnya.
"Si alien" ujar Luhan. Kyungsoo langsung tersedak jus jeruknya.
"Kenapa lagi dengannya?" Tanya Kyungsoo tertarik.
"Dia orang yang tidak jelas, terkadang ia menjadi orang baik, terkadang juga jadi aneh. Dia orang yang tak bisa di tebak." Cerita Luhan lagi, Kyungsoo mengangguk-angguk.
"Aku, jadi ingin melihatnya, Lu."Ucap Kyungsoo tampak benar-benar penasaran.
"Pulang kuliah nanti, aku main ke tempat mu ya? Sudah lama juga aku tidak berkunjung."
"Terserah kau saja." Kta Luhan tak begitu mendengarkan, sementara Kyungsoo sudah bersorak girang.
.
.
ooOoo
.
.
Luhan men-starter skuternya sementara Kyungsoo naik di belakang untuk di bonceng Luhan.
Saat Luhan sedang mengendarai skuternya keluar dari parkiran tiba-tiba ia men-rem mendadak, membuat dahi Kyungsoo terkatuk kepala Luhan.
"Awwh.. Lu,apa yang kau lakukan,awhh." Ringis Kyungsoo, tetapi Luhan tak menjawab. Matanya terpaku pada sosok laki-laki bersweater abu-abu dengan headphoneyang melingkari lehernya di depan gerbang universitasnya.
.
.
Sehun sedang menyalakan ipod-nya. Setelah terdengar ia memasang headphonenya ketelinganya. Kemudian berbalik dan mendapati Luhan sedang menatapnya selama beberapa saat, mereka saling menatap sampai akhirnya Sehun mengalihkan pandangan. Sehun sama sekali tak tahu kalau Luhan berkuliah di Chung-Ang.
.
Luhan membawa skuternya menuju Sehun, lalu berhenti tepat di sampingnya. Kyungsoo yang tadinya sibuk memanggil Luhan langsung terdiam begitu melihat sosok Sehun. Detik berikutnya, dia baru saadar bahwa pria itulah 'alien' yang selama ini tinggal di sebelah kamar Luhan. Kyungsoo sampai lupa bernapas saking senangnya.
"Sedang apa kau di sini?" Tanya Luhan bingung. Sehun berusaha untuk tidak menatap Luhan. Dia sama sekali tak punya jawabannya.
"Sedang menunggu seseorang?"
"Ya, begitulah." Jawab Sehun akhirnya.
"Siapa?"
Tanya Kyungsoo memandang Sehun, membuat Sehun mengernyit.
" Ini Kyungsoo, teman ku." Kata Luhan membuat Sehun mengangguk-angguk, sementara Kyungsoo tersenyum lebar, mencoba tebar pesona.
"Jadi, sedang menunggu siapa?"
"Bukan urusan mu." Jawab Sehun membuat Luhan tertegun dan senyuman Sunny lenyap seketika.
"Oh." Ujar Luhan setelah beberapa saat. "Kalau begitu aku duluan."
Sehun mengangguk tanpa menatap Luhan. Luhan menancap gas dan segera meluncur ke jalan dengan pikiran kosong.
"Luhan!" Seru Sunny membuat Luhan kaget sehingga ia hamper kehilangan kendali.
"Apa-apaan kau ini? Kau ingin kita berakhir di rumah sakit?"Luhan kembali berseru setelah kembali seimbang.
"Aku tidak setuju kau dengan si 'alien' itu! Dia Sok cool sekali!" Seru Kyungsoo lagi , terdengar benar-benar emosi. Luhan terdiam selama beberapa saat.
"Siapa bilang aku mau bersama orang aneh itu?" ujar Luhan sementara Kyungsoo masih terus mengoceh.
Luhan tidak mendengarkan kata-kata Kyungsoo karena sibuk memikirkan alasan Sehun ada di kampusnya.
.
.
ooOoo
.
.
Luhan menatap kosong layar komputernya. Sudah sejak dua jam lalu ia melakukannya. Luhan masih teringat dengan kejadian tadi siang saat Sehun ada di kampusnya menunggu seseorang. Sehun tidak mau menatapnya dan kembali bersikap seperti pertama kali ia datang kemari.
Luhan membaringkan tubuhnya di lantai. Dia tidak merasa melakukan kesalahan apapun, jadi apa yang membuat Sehun bersikap seperti itu padanya?
Pusing, Luhan memutuskan untuk membuat susu coklat untuk menenangkan pikirannya. Sehun benar, alsan dia datang kemari bukan urusannya. Luhan menghela napas sambil membuka pintu ,elewati kamar Sehun, ia sedikit melirik. Tampaknya namja itu ada di membuang muka lalu berderap ke dapur.
Dia tak mau tahu lagi soal pria aneh itu.
.
.
ooOoo
.
.
Sehun sekarang sedang duduk bersila di lantai tiga dan menatap langit yang penuh bintang di atasnya. Hari ini ia kembali pulang dengan tangan kosong. Namun, bukan itu yang memenuh pikirannya. Ia sama sekali tidak tahu, bahwa universitas yang ia datangi adalah adalah universitas Luhan. Kalau saja ia tahu, ia akan lebih berhati-hati supaya tidak terlihat.
Sehun menghela napas berat, sambil mengacak rambutnya frustasi.
"Kenapa kau sangat sulit di temukan. Jika aku sudah bertemu dengan mu, aku akan segera pergi dan tidak akan beurusan lagi dengan orang-orang yang berada di sini."
Baru saja Sehun mengingat kejadian semalam, subjek yang di pikirkan muncul dari pintu dengan membawa mug yang mengepul.
Luhan menatap Sehun yang juga menatapnya, lalu bermaksud untuk pergi.
Luhan juga tidak tau kalau Sehun juga ada di sini, tahu begitu Luhan tidak akan naik.
"Mana untuk ku?" Tanya Sehun membuat Luhan tidak jadi turun. Dia berbalik dan menatap Sehun bingung.
"Hah?" tanyanya.
"Itu" Sehun mengendikkan kepalanya kearah mug yang di pegang Luhan.
"Mana untuk ku?"
"Heh, buat saja sendiri."Kata Luhan cepat, bingung dengan sikap Sehun yang sudah berubah lagi.
Sehun kembali menatap langit, dan menutup menatapnya ragu, lalu mendekati namja itu dan duduk di sampingnya. Angin semilir bertiup, mengerakkan poni Luhan kesana-kemari.
"Aku tau, apapun yang terjadi pada mu itu sama sekali bukan urusanku." Luhan memulai pembicaraan membuat mata Sehun terbuka.
"Tapi, bisakah kita membicarakan suatu hal? apapun selain itu? Seperti, apa yang sedang kau baca? Sudah menonton film terbaru Tobey Maguire atau belum?"
Seudut bibir Sehun terangkat sedikit. Dia mengamati punggung gadis itu. Kepala gadis itu menggeleng-geleng seolah salah bicara. Sehun kembali memejamkan matanya, menikmati sekitarnya dan mengabaikan pertanyaan Luhan.
"Jadi, sudah menonton film itu belum?" Tanya Sehun membuat Luhan menoleh dan menatapnya tak percaya.
"Belum, bagaimana dengan mu?" Tanya Luhan balik.
"Belum sempat." Jawab Sehun membuat Luhan menganguk-angguk.
"Di sini filmnya sedang di putar, kau ingin menonton bersama ku?" ajak Luhan membuat Sehun kembali membuka matanya. Tiba-tiba Luhan menoleh, panil.
"Bukan,bukan! Bukannya aku mengajak mu berkencan atau apa hanya sekedar menawari mu saja!"
Sehun terkekeh dan menegakkan tubuhnya. Luhan terus memperhatikan pria di sebelahnya itu.
"Eeeng, apa kekasihmu kuliah di universitas ku?" Tanya Luhan tiba-tiba membuat Sehun menatapnya heran.
"Tadi siang, kau sedang menunggu siapa? Sedang menunggu kekasih mu ya?"
Dahi Sehun segera mengerut seolah tak suka dengan pertanyaan Luhan.
"Baiklah, bukan urusanku. Aku mengerti." Kata Luhan cepat."Maaf."
Alih-alih menanggapi pertanyaan Luhan Sehun malah menatap kosong atap-atap rumah di depannya. Sejenak tak ada percakapan di antara mereka.
"Baiklah, begini saja. Berhubungan kehidupan mu top secret, bagaimana kalau aku saja yang bercerita,?" kata Luhan kemudian.
Sehun menatap Luhan tak mengerti.
"Baiklah, jadi, aku lahir tanggal 20 April…"
Luhan mulai bercerita, sementara Sehun hanya tersenyum simpul.
"Ayah ku Warga Negara China, dan Ibuku Warga Negara Korea. Aku hanya sampai sekolah menengah pertama di China, lalu aku pindah ke Korea saat aku di bangku SMA."
Sehun tak beursaha menghentikan cerita Luhan. Dan hanya mendengarkan tak sekalipun menyela.
.
.
ooOoo
.
.
"Aiiish, Hujan." Gumam Luhan begitu keluar dari kamar.
Musim memang mulai berganti. Mulai sekarang hujan akan terus membasahi kota Seoul, dan Luhan sebal karena ia tak suka mengendarai kendaraannya ke kampus menggunakan jas hujan. Selain merepotkan dia juga paranoid dengan kemungkinan jas hujannya seperti sayap Betmen.
Tiba-tiba pintu kamar sebelahnya terbuka. Sehun keluar dengan kaus putih polosnya dan rambut yang acak-acakkan. Begitu bersentuhan dengan hawa di luar, dia langsung bergidik.
"Asatagah, dingin sekali." Komentarnya sambil menggosok-gosokkan lengannya, berusaha menghangatkan diri. Di sebelahnya Luhan menatapnya lekat.
"Apa?" Tanya Sehun begitu sadar Luhan ada di sampingnya. Luhan hanya menggeleng sambil tersenyum simpul. Sehun menatap gadis itu heran lalu bergerak ke kamar mandi karena hasrat alamnya.
Luhan menatap geli Sehun yang kebelet. Semalam Luhan seperti bermimpi bisa mengobrol panjang lebar dengannya. Yah tidak bisa di bilang mengobrol karena hanya Luhan yang banyak bicara tetapi yang seperti itu juga sudah bisa di sebut kemajuan.
"Eh, tunggu." gumam Luhan,bingung sendiri. "Kemajuan apa?"
Luhan mendadak terkena serangan panik. Sehun yang sudah keluar dari kamar mandi menatapnya bingung.
"Ada apa dengan mu?" Tanyanya tapi Luhan hanya menatapnya dengan mata terbelalak.
"Ya ampun, ya ampun!" Luhan tak mau percaya. "Tidak mungkin!"
"Ada apa?" Sehun mulai kesal karena Luhan seperti hidup dalam dunianya sendiri.
"Ngomong-ngomong, di wajah mu ada nasinya."
"Hah? Sungguh?" Luhan segera mematut dirinya di jendela kamarnya, sementara Sehun buru-buru masuk kedalam kamarnya. Setelah lama bercermin dan tak menemukan satu butir nasi pun di wajahnya Luhan baru sadar jika dia belum sarapan dan tak mungkin ada nasi di sana.
"Yaaa!" Luhan berseru kearah pintu kamar Sehun.
Namun setelah itu dia tersenyum dan segera berangkat ke universitasnya dengan hati riang walaupun turun hujan.
.
.
ooOoo
.
.
Sehun tak pergi kemana pun hari ini karena hujan turun sepanjang pagi. Sekarang, setelah langit cerah ia sudah malas untuk menggerakkan tbuhnya. Sehun menggapai handycam lalu mem-play disk rekaman yang bertuliskan 'Busan 2000' setelah sempat ragu sejenak.
Baru sedetik film itu terputar, Sehun buru-buru menutup layar handycam dia memang masih belum mampu menontonnya. Sehun menatap kosong handycam di tangannya. Seharusnya dia tidak pernah menonton video ini.
Tiba-tiba Sehun ingin melihat pantai. Ia ingin berteriak sekuat tenaga untuk melepas semua kepenatannya. Sehun bangkit dan bersiap-siap pergi. Tak berapa lama ia menuruni tangga dan mendapati Luhan yang sedang memasukkan sekuternya ke garasi. Sehun mengamati sekuter Luhan dan mendapat ide. Luhan balas menatap Sehun bingung.
"Aku ingin meminjam sekuter mu." Kata Sehun tanpa basa basi.
"Hah?" Tanya Luhan heran, "Memang kau mau kemana?"
"ckk, sudahlah tidak usah banyak Tanya."
Sehun langsung menyambar sekuter Luhan
"Hei,, tunggu! Ini sekuter baru ku! Aku ikut."
Kata Luhan kemudian mengambil helm dari sekuter milik minwoo lalu membonceng ke belakang Sehun.
Seolah Luhan hanya sekarung beras, Sehun langsung melajukan kendaraannya. Luhan terjengkang dan hampir terjatuh jika tidak buru-buru merangkul pinggang Sehun.
"Sebenarnya kau mau kemana?" Sahut Luhan.
"Pantai." Jawab Sehun tenang dan Luhan hanya mengangguk-angguk. Tapi detik berikutnya Luhan tersadar.
"APA?! Pantai?!" serunya membuat Sehun oleng.
"Kau gila!?"
"Aku memang gila! Sekarang kau beri tahu saja arah jalannya pada ku." Kata Sehun lagi membuat Luhan semakin yakin jika Sehun benar-benar sakit jiwa.
.
.
ooOoo
.
.
Setelah menempuh beberapa menit perjalanan, mereka sampai juga di pantai. Sehun berjalan dengan tenang ke pantai sementara Luhan menatap sedih sekuter barunya karena di ajak jalan-jalan berkilo meter jauhnya.
"Sehun, tunggu!" Luhan menyusul Sehun yang seolah tak mendengarnya. Luhan menatap curiga, lalu membekap mulutnya saat melihat tatapan Sehun yang kosong. Ia lalu mengguncang-guncang bahu Sehun.
"Sehun! Sehun! Kau sedang tidak kerasukan makhluk halus, kan? Sehun, ku mohon sadarlah!"
Tepat ketika Sehun akan berbicara, Luhan menamparnya dengan sekuat tenaga. Sehun mersakan pipinya yang panas dan lehernya seperti inging patah akibat tamparan Luhan.
"Apa yang kau lakukan!" Amuk Sehun, pipinya berdenyut menyakitkan.
"Fiuhh, syukurlah" Luhan mendesah dengan mata berkaca-kaca, lega.
"Syukur bagaimana?!" Sahut Sehun sambil mengelus pipinya.
"Hah, kau tidak sedang di undang mahkluk halus, ya?" Kata Luhan polos dan membuat Sehun ingin menjitaknya.
"Habisnya, kau tiba-tiba ingin pergi ke pantai."
Sehun menghela napas, lalu meneruskan perjalanannya ke bibir pantai. Saat itu, karena habis turun hujan laut menjadi pasang. Pantai ini tidak begitu bagus –pasirnya coklat dan airnya tidak sebiru yag di inginkannya- tetapi lumayan untuk menenangkan pikiran Sehun.
"Wooaah~ langit setelah hujan sangat cerah,ya?" Komentar Luhan saat melihat awan biru di atasnya. "Sudah lama juga tidak kepantai."
Luhan meregangkan otonya dengan merentangkan kedua tangannya, bermaksud ingin merasakan angin yang berhembus. Sehun menatapnya sebentar lalu mengeluarkan handycam dan merekam Luhan di luar kesadarannya.
Luhan sendiri tidak sadar jika Sehun merekamnya. Dia benar-benar senang datang kepantai setelah lama tidak melakukannya. Dia berlari-lari ke air dan bermain kejar-kejaran dengan ombak sambil sesekali menerjerit kedinginan saat kakinya terkena air.
Sehun melepaskan tatapannya dari layar dan menatap Luhan yang sedang tertawa sendiri karena ombak yang datang begitu besar sehingga membasahi jeans nya yang sudah di lipat tinggi-tinggi.
"Sehun! Ayo kemarilah!"Sahut Luhan membuat Sehun tersadar. Sehun segera mematikan handycam nya dan mengikuti Luhan turun ke air. Memang benar, airnya sangat dingin.
Sementara ombak berderu di kakinya, Sehun menatap kelaut lepas. Dia bermaksud untuk berteriak sekuat tenaga tetapi Luhan tiba-tiba mendorongnya sekuat tenaga. Sehingga ia tercebur dengan wajah terlebih dulu menyentuh air. Luhan tertawa lepas melihat Sehun yang basah kuyup.
Sehun menatap Luhan sebal lalu bangkit dan mengejar gadis itu. Luhan segera berlari untuk menghindari Sehun tetapi akhirnya ia tertangkap juga dengan waktu yang singkat. Walaupun Luhan memberi perlawanan namun Sehun tetap berhasil menceburkan Luhan kedalam air. Sehun kemudian tertawa penuh kemenangan, dan beberapa detik setelahnya, ia tersadar.
"Ada apa, Sehun?"Tanya Luhan heran, saat melihat Sehun tiba-tiba berhenti tertawa.
"Tidak –tidak apa-apa." Jawab Sehun sambil kembali ke pasir dan terduduk di sana, sementara Luhan masih bermain-main dengan ombak. Sehun menatap pemandangan itu kosong.
.
"Apa yang baru saja ku lakukan? Kau bodoh Sehun!" gumamnya, lalu tertawa miris.
Sehun membaringkan tubuhnya di pasir yang lembab, lalu mencoba memejamkan matanya. Selama enam tahun terakhir baru kali ini ia tertawa selepas itu. Dan ia bahkan melakukannya dengan seorang gadis yang baru dikenalnya.
Luhan datang menghampiri Sehun.
"Sehun, kenapa kau malah tidur?"
"Tolong jangan menganggu ku sebentar saja." Kata Sehun tanpa membuka matanya. "Aku butuh ketenangan."
Benar, rencana awalnya adalah datang sendiri ke pantai, lalu melepaskan semua penatnya.
Lalu, kenapa gadis ini malah ikut?
"Oh, baiklah." Luhan mengangguk-angguk paham, lalu berjalan kembali kea rah pantai.
.
.
Entah berapa lama Sehun tertidur, tapi saat ia terbangun langit sudah berganti warna. Matahari sudah mulai tenggelam menyebar semburat jingga ke permukaan laut. Sehun duduk, lalu melihat Luhan yang sedang berlari kesana-kemari menyeret sesuatu yang bentuknya seperti layangan. Sehun menatapnya heran.
"Kau sedang apa?" Tanya Sehun bingung.
"Oh, sudah bangun?" Tanya Luhan dengan napas tersengal sengal. "Aku sedang bermain layangan."
Ternyata benar, layangan. Sehun menghela napas. Gadis satu ini memang benar-benar tidak bisa di harapkan. Sehun bangkit lalu merebut benang dari tangan Luuhan
"Pegang layangannya," perintah Sehun dan Luhan segera melakukannya.
"Jika aku bilang lepas, lepaskan layangannya, mengerti?"
Luhan mengangguk, Sehun menghela napas lagi lalu berkata "Lepas."
Luhan melepas layangannya, dan tepat pada saat itu Sehun menarik benangnya. Dalam seketika, layangan itu sudah terbang di udara.
"Uwaaaaaahhh! Hebat!" teriak Luhan sambil bertepuk tangan girang.
Sehun meliriknya heran kenapa gadis itu begitu senang melihat layangan terbang.
"Memang begini seharusnya bermain layangan, sebelumnya aku belum pernah melihat versi mu tadi." Kata Sehun, membuat Luhan mempoutkan bibirnya sebal. Namun detik berikutnya Luhan sudah kembali asyik menatap layangan itu.
"Boleh aku memegang benangnya?"Tanya Luhan berharap. Kemudian Sehun memberikan benagnya pada Luhan.
"Uwaaaahhhhh." Heboh Luhan.
Sebenarnya Luhan sedikit grogi menerima benang itu, takut layangan itu putus di tangannya. Luhan tak pernah sekalipun memegang layangan yang benar-benar terbang seperti itu. Itulah sebabnya ia memegang benangnya dengan ekstra hati-hati. Sehun kembali ke pasir dan duduk sambil melihat Luhan yang berteriak teriak girang seperti anak kecil, takjub melihat ekor layangan yang berkibar-kibar indah di tiup angin.
Sehun lantas merekamnya lagi dengan handycamnya.
.
Tak terasa matahari sudah hamper tenggelam. Luhan sudah puas dengan layangannya yang terbang karena peganggannya lepas. Sekarang ia terduduk kelelahan di samping Sehun yang sudah kembali tidur.
Luhan mengamati wajah polos Sehun yang terlelap. Luhan benar-benar senang, ia menghabiskan sore bersama Sehun seperti ini.
"Jangan menatap ku seperti itu." Kata Sehun tiba-tiba membuat Luhan kaget.
"Aku tidak menatap mu." Luhan segera salah tingkah dan membuang pandangannya. Namun tak bertahan lama karena di luar kesadarannya, ia kembali menatap Sehun.
"Hah, sungguh, nanti kau bisa menyukai ku jika terus menatap ku seperti itu." Kata Sehun lagi.
"Memang kenapa jika aku menyukai mu?" Tanya Luhan menantang.
"Jangan menyukai ku." Jawab Sehun setelah beberapa detik.
"Tapi, kenapa?" Tanya Luhan lagi dengan nada lirih, membuat Sehun menghela napas.
"Karena kita tidak punya masa depan." Balas Sehun tanpa membuka matanya.
Luhan menatap wajah Sehun lama. Tak mengerti akan perkataan Sehun tetapi entah mengapa Luhan tak punya keinginan bertanya lebih jauh. Luhan memiliki firasat kalau pun bertanya jawaban Sehun akan jauh lebih menyakitkan.
.
.
To Be Continued
.
.
Note: *Ikut nabokin sehun* konflik akan segera di mulai. Tolong siapkan pop corn dan tissue karena ini genre nya HURT/COMFORT
Tapi kalo ada yg bisa nahan air mata, tissue mah nggak di butuhkan :v
*Terima Kasih bagi yg sudah bersedia membaca,favorit dan follow*
