Disclaimer : Yana Toboso

Pairing : Sebastian X Ciel

Genre : Humor & Parody

Rated : T

Warning : OOC, Shonen-ai, Gaje, emh… kayaknya nanti humornya agak garing sedikit soalnya sense humor Ferl yang emang dibawah rata-rata agak berkurang sedikit jadi mohon maaf kalau mengecewakan, Typo, dan alur cerita yang super cepat, don't like don't read.

A/N : Huwwaaa~ maafkan Ferl yang lama nggak muncul-muncul di FFN, salahkan tugas busana Ferl yang menumpuk dan flash disk Ferl yang hilang entah kemana, hiksu! yasud deh kita langsung aja ya, cekkidot!

Romeo and Juliet versi Kuroshitsuji

Ciel menghempaskan diri ke kursi yang berada di belakang meja rias, membiarkan Sebastian melepaskan sepatu berhak tinggi yang dipakainya sedangkan ia mencoba rileks dengan menenggelamkan tubuhnya ke bantalan kursi.

"Sebastian," panggil Ciel kepada Sebastian yang kini tengah bergelut dengan tali sepatu yang melilit kaki Ciel.

"Ya, ada apa Bocchan?" tanya Sebastian seraya menghentikan kegiatannya dan mendongakkan kepalanya untuk bisa menatap bola-bola shaphire sang tuan.

"Apa para perusuh itu sudah kau bebaskan?"

"Belum. Haruskah saya membebaskan mereka sekarang tuan?"

"Hm… bebaskan saja. Lagi pula pertunjukannya sudah selesai 'kan."

"Baik," ujar Sebastian sambil melajutkan pekerjaannya yang sempat terhenti.

Flashback

.penasaran dengan apa yang terjadi setelah kekacauan yang dibuat oleh Grell dan yang lainnya di depan panggung saat scene pertarungan Sebastian dan Claude? nah ini ceritanya…

"Uuh~ Sebby, pelan-pelan dong, sesek nieh~" keluh Grell manja saat Sebastian mengikatnya dengan tali tambang bersama yang lain (baca : Lau, Agni dan Soma).

"Maaf ya Grell-san, saya terpaksa melakukan ini untuk kepentingan pertunjukan," kata Sebastian sambil mengencangkan ikatannya.

"Ukh~ tapi-tapi, kok bocah itu nggak ikutan diikat sieh~ dia 'kan udah seenaknya jadi Romeo dan Juliet dadakan bersama butlernya," kata Grell sambil nunjuk-nunjuk Alois yang lagi sembunyi dibelakang Claude dengan tangannya yang melingkar di pinggang sang butler.

"Tuan Alois masih bocah, jadi saya rasa biar butlernya saja yang mengurusnya," dalih Sebastian, mendengar kata-kata Sebastian tadi Alois pun melirik Grell dari belakang punggung Claude seraya melemparkan senyuman mengejek kearahnya.

"Hey! Kemari kau biar kuhajar nanti!" omel Grell yang merasa diejek oleh Alois.

"Ke sini kau kalau bisa, bweek!" ujar Alois sambil menjulurkan lidahnya.

"KAU!" geram Grell yang tambah sewot dengan wajah merah padam dan telinga yang berasap.

"Lan mao tolongin kakakmu yang cakep dan imut-imut ini dong~ *yang ngetik gatal-gatal* Lan mao baik deh," ujar Lau yang narsisnya nggak ketulungan.

"Baka" respon Lan mao dengan wajah datar.

"Lan mao… tolonglah kakakmu yang malang dan teraniyaya ini sayang…" mohon Lau lagi dengan wajah yang dilebay-lebaykan.

"Baka" respon Lan mao yang lagi-lagi dengan wajahnya yang datar sedatar tembok rumah Author yang udah jamuran.

"Iih~ Lan mao kok kamu gitu sih, apakah aku ini sudah tidak berarti lagi bagimu? Oh aku kecewa," ujar Lau lebay dan membuat semua orang yang ada di situ langsung sweatdrop melihat sikapnya yang udah kaya artis sinetron gagal.

"Ciel kok kamu tega sih ngelakuin ini sama aku, padahalkan aku hanya pengen eksis sekali saja masa gak boleh?" protes Soma kepada Ciel yang berada tepat di depannya.

"Heh! Memangnya kau pikir apa yang telah kau perbuat, hah! Kau hampir saja membuatku dihukum pacung oleh ratu karena telah mempermalukannya di depan tamu-tamunya, dasar!" umpat Ciel kesal.

"Tenanglah nona, seorang lady tidak boleh berteriak keras-keras," ujar Sebastian seraya menepuk-nepuk bahu porselinnya Ciel.

"Apa maksudmu Sebastian!" geram Ciel seraya menatap horor kearah Sebastian, sedangkan Sebastian hanya tersenyum gaje saat mendapatkan death-glare dari sang tuan.

"Maaf deh Ciel~ aku janji kok gak akan ngelakuinnya lagi, jadi please lepasin aku sekarang," mohon Soma sambil mengeluarin puppy eyes-nya yang bukannya ngebikin Ciel kasihan malah membuatnya enek ngelihatnya.

"Hentikan tatapan menjijikanmu itu! Dengar ya kalian tak akan kulepaskan sebelum pertunjukan ini berakhir, ayo Sebastian," ajak Ciel sambil berlalu dari hadapan mereka yang terikat bersama Sebastian dibelakangnya…

End of Flashback

"Mereka itu… memangnya apa yang mereka pikirkan ketika mereka menaiki panggung, apa mereka tidak pernah berfikir kalau perbuatan mereka itu bisa membuatku dalam masalah," kata Ciel kesal.

"Saya rasa ratu tidak akan mempersalahkannya tuan, dengan apa yang telah anda lakukan itu sudah cukup menutupi kekacauan yang mereka perbuat diatas panggung," ujar Sebastian berusaha menenangkan sang tuan.

"Yah mudah-mudahan begitu. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi kalau ratu kurang menyukainya, aku sudah cukup menahan rasa maluku saat memerankan tokoh Juliet apa lagi di tambah dengan kostum ini," ia lalu menghela nafas lelah sebelum melanjutkan.

"Aku heran apa yang sebenarnya yang dipikirkan ratu saat memberikan kostum ini padaku," keluh Ciel seraya menatap tubuhnya jijik ketika mendapati gaun yang seharusnya lebih cocok dikenakan untuk menari balet melekat ditubuhnya.

Setelah meletakan sepatu berhak tinggi itu di bawah meja rias Sebastian pun menegakkan tubuhnya dan meraih kapas dan sebotol pembersih wajah.

"Tapi tuan, anda terlihat manis dengan penampilan seperti itu," puji Sebastian sambil tersenyum menahan tawa. Tangannya bergerak untuk menuangkan isi botol itu kepermukaan kapas yang berada ditangan kanannya.

"Aku tahu kau sedang mengejekku, Sebastian," desis Ciel sambil melemparkan tatapan tajam kearah Sebastian ketika pria itu dengan lembut mendongakkan wajahnya.

Sedetik kemudian Ciel merasa sedang mengalami déjà vu saat melihat pria itu tersenyum lembut kearahnya dengan wajah mereka yang sangat dekat dan itu membuatnya mau tidak mau menghela nafas tertahan.

"Anda tahu saya tidak pernah berbohong, kata-kata itu tulus saya ucapkan dari lubuk hati saya yang paling dalam," ujar Sebastian seraya mulai membersihkan wajah Ciel dengan kapas yang sudah ia tuangkan cairan pembersih wajah.

"Oh manis sekali Sebastian, andai aku seorang gadis aku pasti akan tersipu. Atau, jangan-jangan kau yang sekarang ini sedang kerasukan arwah Romeo yang mengira aku julietnya sehingga kau bisa mengatakan hal manis nan menjijikan seperti itu padaku," ujar Ciel sarkastik tapi setelah itu tiba-tiba wajahnya berubah bingung begitu sadar apa yang sudah diucapakannya.

'memangnya iblis bisa kerasukan arwah, ya?' pikirnya

"Dan kupikir iblis tidak mempunyai hati," sambung Ciel cepat untuk menutupi pernyataan anehnya tadi yang disambut dengan senyuman aneh dari Sebastian.

"Anda benar, iblis memang tidak mempunyai hati… tapi mereka punya nafsu…" bibirnya tertarik melengkung membentuk seringaian saat ibu jarinya menyentuh bibir mungil Ciel yang agak membiru bekas luka gigitan yang tak sengaja terbuat ketika mereka berciuman dan yang telah sukses membuatnya lepas kendali dan lupa akan perjanjian mereka saat darah Ciel tercampur dengan saliva mereka.

Terdorong rasa penasaran akan 'rasa' Ciel yang kembali bergolak di dalam dirinya, ia pun mencondongkan tubuhnya menungkik tepat keradius privasi Ciel, tapi ia segera menghentikan niatnya itu ketika mendengar deheman keras dari Ciel yang sedang menatapnya tajam.

"Bisakah kau jauhkan wajah mesummu itu, aku memang mengizinkanmu menciumku waktu di atas panggung karena itu memang sudah menjadi suatu keharusan tapi kalau kau berani melakukannya lagi, akan aku pastikan tubuhmu tidak akan utuh lagi," ancam Ciel dan dengan itu Sebastian menjauhkan tubuhnya dari Ciel seraya berujar patuh.

"Ah, saya minta maaf atas kelancangan saya, Bocchan." mohon Sebastian seraya membungkukan tubuhnya di depan Ciel, Ciel hanya memalingkan wajahnya kearah lain seraya mendengus.

"Ngomong-ngomong Sebastian, aku mau tahu apa yang sedang kau pikirkan saat di atas panggung tadi, memang benar di ceritanya Romeo mengakhiri hidupnya dengan menusukkan pedangnya ketubuhnya sendiri tapikan kau tidak perlu benar-benar menusukan pedang itu ketubuhmu. kau bisa saja membuatnya meleset seperti yang ku lakukan."

"Saya hanya mencoba menghayati peran saya saja tuan."

"Huh ! kau pikir caramu itu bagus."

"Tidak ya? Tadinya saya pikir kalau aksi saya itu setidaknya bisa menutupi kehebohan yang dibuat orang-orang pembuat onar itu di atas panggung."

"Kau malah hanya akan membuat aku dan sang ratu dalam masalah dengan leluconmu yang keterlaluan itu, untung saja orang-orang itu cukup bodoh dengan mengira itu hanya sebuah trik untuk membuat pertunjukan jadi lebih nyata," ujar Ciel seraya menatap sinis ke arah Sebastian, yang di tatap Cuma senyam-seyum gaje.

"CIIIIIELE~" seru lizzie dan Alois yang tiba-tiba datang dan langsung memeluk Ciel dari belakang.

"E—Elizabeth, Alois. Apa yang sedang kalian lakukan di sini?"

"Apa yang kami lakukan?"

"Tentu saja mau menjemput Ciel dong."

"Memangnya mau kemana?"

"Yang lainnya sepakat mau buat pesta kecil-kecilan buat ngerayain kesuksesan pertunjukan pertama kita."

"Ayo Ciel, semuanya sudah menunggu di luar."

"Ah, tung–tunggu dulu aku mau ganti costume dulu."

"Nggak perlu. Ayo!"

"He—hei!"

.

.

.

Skip time~

Two week later…

"Ah, Bocchan. Anda disini rupanya," kata Sebastian saat menemukan tuannya diruang rekreasi.

"Mana sopan santunmu saat memasuki ruangan seseorang, Sebastian?"

"…Maafkan ketidak sopanan saya tuan, tadinya saya hanya ingin mengecek keberadaan anda saja. Soalnya waktu saya ke ruang kerja anda, anda tidak ada di sana."

"Aku hanya membutuhkan sedikit refreshing di sini, berada di ruangan itu terus-menerus bisa membuatku stress."

"Begitu," kata Sebastian seraya beranjak menemui Ciel yang sekarang sedang asyik memencet-mencet tombol remot di tangannya.

"Anda sedang apa Bocchan?" tanya Sebastian seraya mengerutkan kening begitu melihat Ciel yang lagi melotot dengan nafsunya(?) ke arah TV.

"Kau tidak lihat kalau aku sedang nonton TV."

"Tapi anda hanya menggonta-ganti chanelnya saja tuan."

"Aku hanya belum menemukan chanel yang tepat," kata Ciel, Sebastian hanya mengangguk mengerti dan mulai memperhatikan kegiatan tuannya lagi.

"Jadi apa maksudmu mencariku," tanya Ciel seraya menoleh ke arah Sebastian yang berada disampingnya.

"Oh iya tuan, in — " tiba-tiba saja kata-kata Sebastian terputus ketika terdengar suara alunan lagu india dari TV, serempak Ciel dan Sebastian pun menoleh dan langsung membelalakan mata mereka berdua ketika melihat layar TV tersebut.

Bagaimana tidak kaget, ketika melihat seorang pemuda berkulit tan berambut ungu sedang meliuk-liukan tubuhnya disebuah batang pohon bersama seorang pria yang juga berkulit tan berambut perak yang juga sedang meliuk-liukan tubuhnya dibelakang sang pemuda seraya berdendang 'kuch kuch hota he".

Sebenarnya yang ngebikin syok bukannya soal kalau mereka sedang yaoian, lagi pula mereka bukan sedang yaoian kok. Yang ngebikin mereka syok itu adalah orang yang berada di dalamnya itu sendiri yang mereka kenali sebagai pangeran Benggala ke 26 dan butlernya, yak! Mereka tidak lain dan tidak bukan yaitu Soma dan Agni. Yeeei tepuk tangan untuk duo diva kit…

EHEM!

Oke mari kita kembali ke Ciel dan Sebastian…

"A-apa-apaan mereka?" kata Ciel seakan tidak percaya apa yang sudah dilihatnya, sedangkan Sebastian hanya tersenyum maklum dengan keringat besar menggantung di kepalanya.

"Sepertinya mereka jadi terkenal setelah kejadian di pertunjukan teater kemarin," kata Sebastian.

Tidak habis dengan itu lavar TV itu lagi-lagi memunculkan sebuah adegan drama film antara seorang gadis berambut pirang dan bermata biru muda dengan seorang pria berambut hitam dan bermata kuning keemasan.

"Jangan begini Alice!" kata pria berambut hitam yang berada di dalam TV itu seraya meraih lengan lawan bicaranya yang hendak beranjak pergi.

"Jangan menghalangiku Gilbert! Biarkan aku pergi!" bentak gadis yang berada di dalam TV itu seraya menepis tangan pria yang menangkapnya.

"Apaan lagi nih?" bingung Ciel seraya mengangkat satu alisnya.

"Ini cerita drama film tuan, judulnya 'Suamiku selingkuh dengan pria lain'," terang Sebastian ke pada Ciel. Ciel hanya mengerutkan keningnya tanda heran ketika mendengar judul drama film yang disebutkan Sebastian tadi. Tidak mau ambil pusing Ciel pun melanjutkan acara menontonnya dan kembali mengerutkan keningnya ketika menyadari sesuatu.

"Sepertinya aku mengenali gadis yang di TV ini, siapa ya?" ujar Ciel seraya mengelus dagunya membuat gesture berfikir ala detektif.

"Anda tidak mengenalinya Bocchan?"

"Memangnya aku mengenalnya?"

"Anda mengenalnya Bocchan. Coba perhatikan baik-baik," saran Sebastian. mendengar saran Sebastian, Ciel pun memperhatikan layar TV itu dengan seksama dan sesaat kemudian ia pun tersentak ketika mulai menyadari kebenarannya.

"A-Alois!" sentak Ciel yang begitu sadar ketika melihat jidat ngecling milik si pria dan beberapa ciri khas dari dua orang aneh tersebut (Author dilempari Claude dan Alois pake pisau daging).

"Anda benar Bocchan."

"Kenapa mereka bisa membintangi drama film aneh seperti ini?"

"Mungkin ratu tertarik dengan akting mereka sehingga beliau meminta mereka untuk membintangi Filmnya. Bukannya anda juga pernah diajukan permintaan untuk membintangi salah satu drama film beliau"

"Oh ya, aku lupa," lirih Ciel seraya menolehkan wajahnya ketempat lain ketika mengingat surat dari ratu yang memintanya dan Sebastian untuk membintangi salah satu drama film milik beliau yang langsung ditolak Ciel dengan halus.

"Dessu~" tiba-tiba saja sebuah suara yang familiar menyapa gendang telinga Ciel yang dari tadi tengah berkelana di alam khayalnya, sontak Ciel dan Sebastian menolehkan kepala mereka kearah TV yang menampilkan sosok bersurai merah yang hanya memakai kemeja putih dengan celana hitam bahan, sedang tersenyum lebar kearah kamera. Ditangannya terdapat sebotol minuman softdrink berwarna merah cerah dan bertuliskan panda yang dicetak secara horizontal di tengah botol.

Ia lalu tersenyum lebar seraya melangkahkan kakinya lurus kedepan. Tangannya tergerak untuk membuka dua kancing teratasnya memperlihatkan dada bidangnya yang seputih pualam, senyumannya berubah menjadi senyuman menggoda.

Sang okama merah itu terlihat hendak membuka mulutnya sesaat sebelum dengan tiba-tiba Sebastian yang entah sejak kapan sudah berada di depan TV dan langsung mengayunkan sebuah martil besi yang didapatnya entah darimana ke arah TV.

'Braaakk! Bruuukk! Prakkk!'

"Se—Sebastian… apa yang kau lakukan?" Tanya Ciel dengan keringat besar menggantung di belakang kepalanya ketika melihat sang butler yang dengan beringasnya telah menghancurkan TV nista kesayangannya.

"Maafkan atas kelancangan saya ini tuan, tapi saya pikir dengan menonton yang seperti ini hanya akan merusak moral anda saja."

"Haa?"

"Dari pada itu saya tadinya ke sini untuk menyampaikan surat dari ratu untuk anda"

"Loh kenapa nggak bilang dari tadi?"

"Saya pikir anda tidak mau digangu nonton TV, jadi saya diam saja"

"Aku lebih baik membaca surat dari ratu dari pada menonton acara nista seperti tadi" ujar Ciel seraya dengan kasar mengambil surat dari ratu dari tangan Sebastian dan lalu membacanya.

Lama Ciel terdiam dengan mata yang bergerak-gerak seperti berusaha memastikan sesuatu sebelum wajahnya memucat penuh terror dan dengan dalam hitungan detik kemudian tubuh kecilnya pun ambruk kelantai.

"Eh? Bo—bocchan! Anda kenapa?" seru Sebastian yang langsung menghampiri Ciel dan membawanya kepelukannya satu tangannya ia gunakan untuk menepuk-nepuk pelan pipi kenyal tuannya.

Karena tidak ada respon sama sekali dari tuannya dengan satu desahan lelah Sebastian pun memutuskan untuk membawa tuan kecilnya itu kekamarnya untuk diistirahatkan.

.

.

.

Setelah memastikan sang tuan tertidur dengan nyaman di tempat tidurnya, dengan penasaran Sebastian pun membaca isi surat dari sang ratu yang di peruntukan kepada tuannya dan apa yang dibacanya langsung membuat matanya melebar. Sebenarnya apa ya isi surat itu? Mari kita tengok.

'Hai Ciel apa kabar. Sebelumnya aku ingin berterimakasih untuk pertunjukan kalian kemarin sangat mengesankan dan para tamuku sangat menyukainya, dan Berhubung dua minggu lagi mereka akan kembali kenegri asal mereka, aku ingin menyuguhkan satu pertunjukan lagi kepada mereka, oleh karena itu maukah kau bermain drama sekali lagi, Ciel? Soal cerita dan peran yang akan dipentaskan akan kuserahkan kepada kalian, tapi pastikan pemeran utamanya kamu dan Sebastian dan aku ingin sekali melihat kalian bermain drama yang lebih berani bisakan? Ku harap kau tidak menolak permintaanku kali ini. Akhir kata aku mengucapkan banyak terima kasih padamu Ciel-kun. Cup-cup bubay~'

"Huhhh… Bocchan…" desah Sebastian prihatin pada nasib tuannya yang harus menghadapi keinginan aneh dari sang ratu yang ternyata seorang fujoshi tingkat akut itu.

~{ The End }~

Author note : NANNIIII KOREEE! Kenapa jadi ngegantung gini akhirnya, huuu… huuu… huuu… gomen ne minna kalau akhirnya tidak seperti yang kalian harapkan, karena pada akhirnya hanya sebatas ini yang bisa Ferl lakukan untuk menyelesaikan fic ini, jidat Ferl udah selebar milik mas William akibat dijedukin ketembok gara-gara frutasi akibat WB berkepanjangan selama setahun lebih. Maaf juga udah gak bilang-bilang mau hiatus, habisnya karena ada sebuah situasi yang tidak mendukung Ferl mampir ke FFN untuk sementara.

Terlebih flash disk Ferl yang hilang entah kemana membuat Ferl tambah frutasi, soalnya semua proyek fic yang Ferl buat Ferl simpan di situ. Jadi sekali lagi Ferl minta maaf sebesar-besarnya karena sudah membuat kalian menunggu.

Oh ya Ferl mau berterima kasih buat :

Vivian muneca yang selalu ngereview lebih awal, terima kasih banyak ya .

Moussy phantomhive terima kasih atas apresiasinya dan maaf atas keterlambatannya.

Arasa koneko terima kasih udah mau nge-fave.

SoraShieru yang gak pernah ketinggalan mereview fic Ferl ini, terima kasih banyak.

Putri luna terima kasih udah mau nge-review dan salam persahabatan.

NekoMimiMyawMyaw terima kasih udah nge-review.

Aiko Enma terima kasih udah mau nge-review dan maaf kalau di chapter 4 ini kurang ada humornya.

Andasandra terima kasih udah mau nge-review

Kuroi Tsubasa terima kasih udah mau nge-review dan untuk pertanyaannya tentang kalimat 'Yare-yare' itu, sebenarnya Ferl kurang bisa menjelaskannya dengan baik tapi kalau tidak salah 'Yare-yare' itu artinya 'Ya ampun' tolong dikoreksi kalau Ferl salah.

Hana-1emptyflower terima kasih udah mau nge-review dan maaf atas keterlambatannya.

Martha hasibuan terima kasih udah mau nge-review dan untuk pertanyaannya tentang episode Romeo and Juliet di Kuroshitsuji. Maaf sebelumnya tapi di Kuroshitsuji tidak pernah ada Romeo and Juliet. Fic ini sendiri terinspiransi dari OVA Kuroshitsuji yang berjudul "His Butler, performer", di situ Ciel dan yang lain melakukan pementasan teater yang berjudul Hamlet.

Terima kasih juga pada reader yang udah ngereview dari chapter 1-4 dan juga kepada silent reader yang udah mau mampir di fiction ferl ini.

udah dulu ya~ sampai jumpa di fanfic lainnya

Bay~ X3