Disclaimer :

Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*

.

TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.

.

Warning :

OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!

.

Catatan :

Fic ini terinspirasi dari berbagai komik yang author baca, dan masih berusaha mencoba membuat fic bergendre komedi lagi, sangat berharap bisa membuatnya.

.

Peringatan...!

Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung suku, ras, agama dan apapun, hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.

.

Enjoy for read

.

But

.

Don't like Don't Read

.

.

~ Change ~

[ Chapter 3 ]

.

.

.

Sakura pov.

Saat menjadi mahasiswa kedokteran, dia, pria yang sedang duduk di sampingku ini adalah teman satu kampus, kami dulu berjuang bersama untuk mendapat kelulusan lebih cepat, hanya saja karena penempatan yang berbeda, kami terpisah jauh, namanya Sai, pria yang rajin senyum dengan wajah putih pucatnya, bahkan tubuhnya membuat banyak wanita iri, langsing dan tinggi, seperti wanita yang sangat menjaga tubuh dan melakukan perawatan, itu hanya pendapatku saja saat kesan pesan pertama bertemu dengannya.

Dia kembali ke Konoha dengan alasan pindah tugas dari pusat, dia menjadi dokter baru rumah sakit tempatku bekerja, ini akan menjadi lebih baik, aku jadi ada teman, meskipun banyak dokter yang akrab denganku, tapi tidak seakrab dokter Sai.

"Kau menolakku? Padahal sudah banyak wanita yang mengantri padaku." Ucapnya dan selalu saja menyombongkan diri akan wajah manisnya.

"Aku tidak mau dengan playboy sepertimu, rumor di kampus dulu beredar cukup ramai, apa kau senang panen wanita, ha? Satu saja tak cukup?"

"Hey jangan berbicara seperti itu, itu hanya rumor, aku tidak pernah gonta-ganti pacar, hanya mereka saja yang tidak sabaran menjalani hubungan dan malah ingin cepat-cepat ganti pacar."

"Jadi kau terus di campakkan? Aku tidak percaya, wajahmu tidak seperti itu."

"Kau sangat keterlaluan, kenapa menuduh temanmu terus? Kau seharusnya kasihan kepadaku."

"Aku bingung harus kasian atau ingin tertawa saja." Ucapku, bagaimana mungkin wanita akan mencampakkan pria yang manis dan penuh rasa humor ini? Mereka seharusnya tidak bosan akan sikapnya.

"Dasar, kau ini, sekarang bagaimana denganmu, apa masih gila pekerjaan dari pada mencari pasangan?"

"Aku akan segera menikah." Ucapku.

"Wah, baru bertemu dan kau akan menikah, perkembanganmu cepat juga, aku pikir kau akan jomblo seumur hidup."

"Hey, kau seperti mendoakanku. Ini juga terpaksa." Ucapku, pasrah.

"Maaf, aku tidak bermaksud. Kenapa? Perjodohan ya?"

Sebaiknya tidak perlu mengatakannya pada Sai, ini hanya sebuah aib, aku tidak ingin dia tahu yang sebenarnya, hamil di luar nikah itu memalukan.

"Ya, anggap saja perjodohan." Ucapku.

"Apa itu? Kau wanita modern dan masih terjebak dalam perjodohan?"

"Mau bagaimana lagi, aku juga malas mencari pasangan." Alasanku.

"Aku jadi bingung mau turut senang atau kasihan padamu."

"Kau sedang mengejekku?"

"Maaf, bagaimana kalau aku traktir minum hari ini, kau harus merayakan kedatanganku."

"Aku tidak minum."

"Baiklah, Kau masih tetap menjaga kesehatan, tambah teh lagi?"

Aku hanya tersenyum mendengarnya, dia benar-benar pandai mengubah suasana, seandainya sikap si Uchiha itu seperti dia, aku tidak perlu protes atau marah, lama-lama aku bisa lebih cepat tua dari usiaku jika terus bersama pria menyebalkan itu.

.

.

.

.

Hari ini apalagi? Dua hari yang lalu mereka mengajakku memilih gaun, pada akhirnya gaun tidak senonoh yang pria gila itu pilih, aku akan membakar gaun itu sebelum memakainya nanti, menatap beberapa cincin yang indah dan kalung yang sangat mahal.

"Pilihlah yang anda sukai nona." Ucap Jugo, dia lagi yang sedang menemaniku.

"Aku ingin tahu, apa tuan mudamu itu kena hipertensi? Dia selalu saja kesal padaku." Tanyaku.

"Tidak nona." Ucap Jugo dan sedikit menahan tawanya.

"Tuan arogan itu tidak ikut kan hari ini? Aku tidak suka padanya." Ucapku, melihat sekitar dan hanya ada para pengawal.

"Tuan muda Sasuke hari ini sedang sibuk menghadiri rapat penting, jadi dia tidak akan datang." Ucap Jugo.

"Ah, baguslah, aku jadi punya hak untuk memilih sendiri, dia sungguh pria gila yang keterlaluan." Ucapku dengan sangat jelas, aku bahkan tidak peduli jika nantinya Jugo akan melapor pada si Uchiha itu jika aku mengolok-ngoloknya sekarang.

"Aku ingin cincin yang ini saja." Ucapku, sebuah cincin dengan desain yang unik, seperti sebuah akar putih yang menjalar melilit pada jari dan terlihat beberapa butir berlian kecil menghiasinya, tidak terlalu berlebihan, tapi aku suka desain yang sederhana ini.

"Baik nona, dan tolong satu lagi untuk tuan Sasuke." Ucap Jugo.

"Apa aku harus memilihkannya juga?"

"Tuan sangat sibuk dan sulit ada waktu untuk memilih cincin."

Aku sangat malas memilih benda untuknya, aku bahkan tidak tahu ukuran jarinya seperti apa? Memikirkannya saja membuat kesal, aku harus memilih cincin yang bagaimana untuknya? Cincin yang terkesan aroga, aku harus menahan diri agar tidak tertawa, memikirkan cincin yang harus mirip Sasuke saat di tatap, pilihanku jatuh pada cincin polos saja, lagi pula untuk pria terlalu aneh saat dia mengenakan cincin yang terlalu unik.

"Apa ukurannya segini?" Tanyaku.

"Setelah ini, akan saya bawakan langsung pada tuan, jika tidak cocok saya akan mencari ukuran yang sesuai." Ucap Jugo, merepotkan, padahal jika dia datang, akan lebih baik, tapi aku tidak mau dia datang!

"Pilihan yang tepat nona, di dalam cincin ini ada sebuah ukiran kuno yang jika di artikan akan bahagia selamanya." Ucap pegawai toko itu.

Artinya menjijikan jika aku ikut membayangkan wajah pria arogan itu, kami tidak akan pernah hidup bahagia jika kami tidak saling menyukai.

"Dan cincin ini memiliki pasangan, apa nona ingin tetap mengambil cincin yang pertama atau cincin sepasang ini."

Jadi cincin kuno itu sepasang. "Aku ingin melihatnya." Ucapku, jika ada pasangan, mungkin lebih baik diambil saja, aku juga tidak terlalu pusing untuk sebuah cincin.

Pegawai itu memperlihatkan cincin yang menjadi pasangannya, sama-sama cincin kuno, cincinnya cukup indah, aku seakan bisa melihat banyak warna dari sebuah berlian yang terdapat pada atasnya, desainnya seperti berbentuk mahkota yang mini.

"Kalau begitu yang ini saja." Ucapku.

"Yang cincin ini pun punya sebuah ukiran kecil di dalamnya dan berbeda dengan cincin untuk si pria, jika di artikan-"

"-Baik-baik, itu saja, tidak perlu di jelaskan, potongku." Aku hanya ingin membeli sebuah cincin tidak perlu mendengar kalimat-kalimat yang hanya membuatku mual mendengarnya, lagi pula pasanganku pria itu.

"Tidak ingin perhiasan lainnya lagi?" Ucap Jugo padaku.

"Tidak usah, sejujurnya aku tidak begitu menyukai perhiasan." Ucapku.

Kegiatan memilih cincin ini akhirnya selesai dan sangat terkejut mendengar harganya.

"Apa! 20 milliar!" Ucapku, terkejut, hanya cincin kecil begitu.

"Ini cincin kuno yang langkah nona, harga di pasaran pun bisa mencapai 50 milliar." Jelas pegawai itu.

"Tidak apa-apa nona, nyonya sudah memintaku untuk memilih apapun yang anda sukai."

"Tapi i-ini terlalu mahal." Ucapku, serasa aku akan pingsan sebentar lagi.

Jugo tidak mendengarkan ucapanku dan segera melakukan pembayaran, aku tidak tahu jika cincin sepasang itu akan semahal ini, bahkan lebih mahal dari harga cincin pertama yang aku pilih. Baiklah, mari bersama bodoh.

"A-aku bukannya ingin merampok keluarga Uchiha yaa, aku hanya tidak tahu jika harganya sampai seperti itu." Ucapku pada jugo, aku harap dia melaporkan hal yang baik pada nyonya Mikoto, aku tidak ingin di anggap wanita matre yang gila harta karena akan menjadi nyonya kaya raya sebentar lagi.

"Baik nona." Ucap Jugo dan dia tersenyum ramah padaku, apa dia mengerti maksud dari ucapanku itu? Aku harap dia mengerti.

Dalam hitungan detik saja aku sudah menghabiskan sebanyak 20 milliar uang milik keluarga Uchiha, ini membuatku tidak enak, aku harus bisa bersikap lebih baik nantinya pada bibi Mikoto, aku tidak ingin dia beranggapan aku wanita buruk yang gila harta.

.

.

.

.

Persiapan sebulan itu terasa sebentar saja, kedua orang tuaku sudah kembali dan pernikahan akan segera di laksanakan, pernikahannya tidak begitu mewah, aku pikir ini akan menjadi berita besar, lagi-lagi keluarga Uchiha tidak begitu ingin mendapat perhatian publik secara berlebihan, aku boleh mengundang teman-temanku, dan Sasuke mengundang seluruh rekan bisnisnya, jadi seperti acara pernikahan yang benar-benar sakral dan tertutup tanpa perlu di publikasikan, tamu undangannya pun orang yang dikenal saja.

Sebelumnya, ada sesi untuk foro pra-wedding yang berakhir dengan kami saling berkelahi lagi, dia membuatku sangat kesal dan setiap ucapannya selalu ingin menjatuhkanku, jika saja tidak ada Jugo atau seorang pria lain yang katanya asisten pribadi Sasuke, Suigetsu, kami tak akan berhenti sampai ada yang masuk rumah sakit.

Saat akan persiapan, menatap gaun yang di bawa oleh seorang pelayan kepadaku, ini adalah gaun yang aku pilih, aku pikir dia benar-benar akan membeli gaun yang tidak senonoh itu, aku hampir saja berniat membakarnya, jadi apa dia yang mengubah keputusannya sendiri? Aku tidak percaya padanya, mungkin saja Jugo memberinya saran jika gaun itu tak pantas untukku, dia tidak mungkin memiliki pikiran orang yang baik dan peduli.

Aku pikir akan ada masalah hingga pernikahan ini di laksanakan, kami benar-benar tidak bertemu hingga hari ini datang, hanya saat di butik itu dan foto pra-wedding, setelahnya aku sibuk dan dia sibuk.

Setelah mengucapkan janji dan saling memasangkan cincin, dia sampai berisik padaku.

"Dari mana kau dapat cincin murahan itu?"

Murahan? Apa dia gila! Harganya itu 20 milliar dan dia masih mengatakan murahan, sial aku sangat ingin menonjoknya di hadapan semua orang, jaga sikapmu Sakura, kedua orang tuaku sedang terharu akan acara sakral ini, aku tidak boleh membuat masalah. Cincinnya pas, mereka tidak perlu menukarkannya lagi, ini sebuah kebetulan, aku hanya asal memilih saja untuknya.

"Murahan cocok untukmu." Balasku.

Aku bisa melihat tatapan itu, dia sangat marah.

"Kalian sudah resmi menjadi pasangan suami-istri dan silahkan pengantin pria untuk mencium pengantin wanitanya."

Apa! Aku lupa pada bagian ini, apa bisa di skip saja? Aku tidak mau menciumnya.

"Kau tidak dengar?" Bisik Sasuke.

"Tidak perlu ada ciuman." Bisikku, dengan nada kesal.

"Semua orang menantikan itu."

"Lakukan apapun, tapi jangan mencium bibirku!"

Terkejut, tangannya sudah melingkar pada pinggangku dan menarik ke arahnya, tubuhku sampai harus merapat padanya, terlalu dekat, apa boleh mencium di ganti dengan memukul pengantin pria? Aku lebih menantikan itu, Sasuke akan melakukannya dan aku tidak mau, mendorongnya akan membuat para tamu terkejut bahkan kedua orang kami, atau memukulnya saja? Itu akan menjadi berita heboh, menutup mataku, aku harap adegan ini segera berakhir.

"Jangan harap." Bisiknya di telingaku, membuka mataku dan sebuah seringai di wajahnya, dia sedang mengejekku? Menyebalkan! Sasuke tidak melakukannya, dia hanya mencium keningku dan berbisik jangan harap padaku, memangnya siapa yang sangat berharap ingin dicium pria gila sepertimu! Kaki bagian gaunku cukup menutupi kaki kami, menginjak kakinya dengan ujung sepatuku, menekannya cukup kuat agar dia bisa merasakannya disana. Sasuke menahan diri dan segera melepaskanku.

Apa itu sakit? Aku harap itu sangat sakit, memasang wajah puas agar dia sadar untuk tidak berpikiran menggangguku lagi.

Saat acara berlangsung, aku hanya bisa menyapa teman-teman kerjaku sebentar, bahkan itu Sai, Sasuke tidak membiarkanku pergi kemana pun dan harus menyapa rekan kerjanya yang kebanyakan adalah pria tua, walaupun masih ada beberapa yang terlihat sangat muda.

Aku baru bertemu dengan seluruh keluarga Uchiha, mulai dari kakak Iparku, Uchiha Itachi dengan istrinya, Uchiha Izumi, anak gadis mereka yang terlihat sangat manis, Uchiha Azu, umurnya masih 5 tahun, sepupu-sepupu Sasuke dan beberapa keluarga lainnya, keluarga Uchiha itu termasuk keluarga yang besar dan tersebar di beberapa kota, hanya Sasuke dan keluarganya yang tinggal di Konoha, yang lainnya tinggal di kota lain atau luar negeri.

[Ending Flashback]

.

.

Kediaman Uchiha.

Hanya saling menatap kesal dan pakaian pengantin saja belum kami lepaskan, kamar ini sangat indah, sengaja di persiapkan untuk kami, tapi aku benar-benar tidak bisa menikmati hari sebagai seorang pengantin yang sesungguhnya.

"Aku ingin membuat peraturan yang harus kamu patuhi, suka atau tidak suka." Ucapku, aku ingin ada peraturan dari kita sebelum memulai kehidupan bersama ini, aku lelah, tapi ini sangat penting, lagi pula kami menikah hanya karena kecelakaan itu.

"Kau mau memerintahku? Aku tidak mau."

"Hanya peraturan! Bukan memerintah!" Kesalku.

"Tidak perlu banyak peraturan, cukup tidak saling mengusik dan lakukan apapun seperti sebelumnya, jangan pernah berusaha melakukan hal kotor lagi padaku, apalagi berani-berani naik ke atas ranjangku."

"Ha! Yang benar saja! Aku bahkan tidak sudi di sentuh olehmu!" Ucapku.

"Kau, menjauh 200 meter dariku." Ucapnya dengan tatapan tajam, dia sampai menyemprot sesuatu seperti semprotan pembersih ruangan.

"Uhuk! Uhuk! Apa yang kau semprotkan! Kau pikir aku nyamuk!" Ucapku, marah, dia bahkan dengan sengaja menyemprot ke arahku.

"Agar ada yang sadar jika dia hanya akan mengotori ruangan ini." Ejeknya. Aku yakin dia sedang mengejekku.

"Ah! Cukup! Aku keluar!" Kesalku.

Aku tahu ini kamar pengantin, tapi aku tidak akan tidur dengannya, tidak akan! Seumur hidupku pun, aku harus punya kamar sendiri nantinya, pria menyebalkan yang tidak perlu di urus, tenanglah...~ tenanglah...~

"Nona, anda mau kemana? Di sana kamar pengantinnya." Ucap seorang pelayan padaku.

"Tidak, aku tidak akan ke sana, beri aku kamar kosong, meskipun itu kamar pelayan sekalipun." Ucapku.

"Ta-tapi-"

"-Cepatlah, aku sudah lelah dan butuh tidur." Tegasku agar pelayan itu tidak plin-plan dan malah memikirkan opsi lain.

Pelayan itu buru-buru mengajakku ke sebuah kamar tamu, ini lebih baik.

"Jangan katakan apapun pada ibu dan ayah mertua, dengarkan perintahku." Ucapku dan menatap tajam pada pelayan itu, dia mendengarkan ucapanku.

Mengangguk pelan dan pelayan itu pamit setelah mengucapkan 'selamat beristirahat' padaku. Akhirnya aku punya ketenangan untukku sendiri, entah bagaimana nantinya kami akan tinggal serumah dan bersikap sebagai suami-istri, iiiuuh...~ aku bahkan jijik menganggapnya suamiku, tidak akan!

.

.

.

.

Kemarin aku sangat lelah, selama acara harus berdiri dan menyapa tamu, tidur sendiri itu memang lebih nyaman, bergegas bangun, aku harus kembali ke kamar itu, jika ketahuan bibi Mikoto, ah bukan lagi, tapi ibu Mikoto, dia pasti akan kecewa kepadaku. Seluruh ruangan di rumah ini terlihat lebih jelas saat pagi hari, rumah ini benar-benar besar dan mewah, berjalan dan memperhatikan sekitar, keadaan masih aman, belum ada yang bangun dan bergegas ke arah kamar Sasuke.

Membuka pintu dan kamar ini kosong, bagus, pria arogan itu juga tidak ada, lebih baik tidur lagi, aku masih ngantuk dan lelah.

"Semalam baru saja di tegur, sekarang melakukannya lagi." Ucap seseorang.

Membuka mataku, melihatnya berdiri dan lilitan handuk itu pada bagian tubuhnya. Apa! dia masih berada dikamar ini! Apa dia habis mandi? Rambutnya basah, tatapan itu tetap saja terlihat menyebalkan.

"Jadi ini caramu? Kau mau melakukannya lagi? Naik ke atas ranjangku seenaknya? Dasar wanita penggoda." Ejeknya.

"Jika kau terus mengoceh, aku akan memukulmu." Ucapku.

"Memukulku? Kau pikir aku takut padaku." Ucapnya dan berjalan ke arahku.

"Mau apa kau!" Ucapku dan melayangkan kepalang tanganku ke arahnya, dia menahan tanganku dan aku kesulitan memukulnya, mengamuk dan berusaha mendorongnya, dia terlalu kuat dan terlalu berat. "lepaskan tanganku!" Rontahku.

"Jangan pernah memerintahku!" Kesalnya.

Tanganku sama sekali tidak bisa lepas dari genggaman tangannya, menggerakkan kakiku dan menendang perutnya, teriakannya cukup keras dan akhirnya menjauh dariku.

"Kau benar-benar wanita gila." Ucapnya dan memegang perutnya.

Menjauh dari ranjang dan berdiri lebih dekat ke arah pintu, dia sangat berbahaya, masih pagi dan dia sudah memulai perang.

"Kau pikir aku hanya mengancam? Aku juga tidak takut padamu." Tegasku.

.

.

TBC

.

.


update...!

semoga ada yang sadar dari fic yang aneh ini, cluenya udah muncul, tapi entah ada yang sadar atau tidak, ini bukan fic dengan alur yang lurus-lurus saja, *ngomong apa sih nih author* yak kira-kira gitu.

.

.

untuk A panda-chan : terima kasih atas pencerahannya. *hiks* author akan mencoba memikirkan alur yang lucu dan menghibur.

dan

untuk Azure Shine : terima kasih atas tebakannya. dan sarannya, *tampung gang*

.

.

Pengen update lagi besok kalau tak berhalangan. XD see you next chapter.