Katekyo Hitman Reborn © Amano Akira
—
Sogno e Realita
—I have a dream that I can live without fear—
G27, D18, 6927, 8059
Warning : AU, OOC, Shounen Ai
—
"Oi, kau mendengarku Al?"
Mengejapkan matanya sekali dua kali, memastikan kalau penglihatannya tidak salah. Pemuda berambut perak yang juga memiliki warna mata hijau tosca itu—yang selama 10 tahun tertidur seperti yang lainnya tampak sudah bangun dan menatapnya. Berjalan menghampirinya—dan mencoba untuk memukul kepala Gokudera.
"U—untuk apa itu semua!"
"Jadi—ini benar-benar kau?" Al masih belum percaya dengan apa yang dilihatnya—Gokudera sudah sadar dari tidurnya secara tiba-tiba seperti itu.
"Tentu saja sudah sadar!" mengaduh kecil, Gokudera memegangi kepalanya yang dipukul oleh Al. melihat sekelilingnya, masih belum terbiasa dengan keadaan sekitarnya—tetapi yang pasti ia ingat tentang semua yang terjadi dulu, "sudah berapa lama aku tertidur?"
"Sepuluh tahun, bagaimana keadaanmu?"
"Sepuluh—! Bagaimana bias aku tertidur selama itu!" tampak terkejut dengan perkataan Al, Gokudera langsung mencoba bangkit—sebelum tiba-tiba ia terjatuh lagi karena pusing dikepalanya, dan Al langsung menangkap tubuhnya sebelum terjatuh kebawah lantai.
"Kau baru saja sadar setelah 10 tahun, jangan paksakan dirimu utnuk langsung bangun," Al membantunya untuk duduk diatas tempat tidur, dan Gokudera hanya bisa membiarkan pemuda yang lebih tua darinya itu membantunya walaupun ia tidak suka.
"Dimana G—"
"Ah, dia…"
CEDEF—sebuah badan intelligent yang mengurusi semua keamanan di Sicilly. Satu-satunya organisasi yang memiliki wewenang untuk menciptakan dan memberikan hukuman pada orang yang menurut mereka bersalah.
Dipimpin oleh seorang Anima—Alaude, dan juga dibantu oleh Uminonya Hibari Kyouya. Walaupun mereka bekerja sama didalam organisasi itu, sudah menjadi rahasia umum kalau hubungan kedua orang itu sangat buruk diluar pekerjaan.
"Kyouya!" membuka pintu menuju kesebuah ruangan yang dipenuhi oleh orang-orang yang memakai jas hitam, seorang pria berambut pirang yang di Namimori sering dipanggil Dino Cavallone itu muncul dan menghampiri Hibari, memeluknya dari belakang.
"Haneuma, jangan—" melihat kearah Dino, Hibari tampak membelalakkan matanya ketika melihat bahwa pakaian Dino yang penuh dengan bercak darah, "—ada apa dengan…"
"Ah ini—hanya dicegat lagi oleh orang-orang Cielo," Dino menunjukkan noda darah dan juga beberapa luka yang ia dapatkan.
"AKu tidak mengerti, kenapa kau yang masih memiliki Anima selalu dipaksa oleh orang-orang Cielo untuk bergabung…"
"Karena aku kuat?" Dino tampak tertawa kecil dan menatap Hibari yang menatapnya dengan tatapan seolah mengatakan 'kau-bercanda?',"—aku kuat loh Kyouya!"
"Ya, ya—"
"Dimana Animanmu Cavallone?" suara itu langsung membuat Dino menoleh dan menemukan Alaude yang membawa beberapa berkas untuk diperiksa dan ditanda tangani.
"Alaude, Al menitipkan salam untukmu—dia sedang berada di bangunan itu untuk mengecek keadaan Namimori!" Dino melepaskan pelukannya dari Hibari dan menghampiri Alaude. Tiba-tiba handphonenya berbunyi—mengangkatnya dengan segera ketika ia melihat nama di kontak adalah telpon dari Al, "—ada apa Al?"
…
"Eh, benarkah?"
…
"Baiklah, aku akan segera memberitahu yang lainnya—" menutup handphonenya dan menghela nafas panjang. Hibari dan Alaude tampak menarik sebelah alisnya—bingung dengan percakapan yang tadi terjadi antara Al dan Dino.
"Gokudera-kun sudah sadar…"
Diruangan perawatan—dimana G dirawat, tampak Tsuna dan juga Giotto yang jug aberada disaan menjaga—dan dalam keadaan tertidur. Tsuna yang paling dekat dengan G, tampak tertidur dalam posisi duduk dan berada di samping tempat tidur G, sementara Giotto tampak tertidur di sofa yang ada didekat sana.
Tangan itu bergerak—perlahan dan diikuti dengan tubuhnya yang bergerak bangkit dari tempat tidurnya. Sosok G yang hanya diam dan menatap Tsuna serta Giotto yang ada disana. Tatapan matanya kosong seakan tidak ada jiwa yang berada didalam tubuh itu.
"Hayato—" seakan bias merasakan kalau Uminonya sadar, G bangkit dan berjalan keluar dari tempat itu tanpa membangunkan Giotto dan Tsuna—tanpa melakukan apapun pada baju dan apapun yang ia kenakan, seakan-akan ia sedang dikendalikan oleh sesuatu yang menyuruhnya untuk segera menemui Uminonya.
Sementara disebuah tempat yang tinggi—yang disebut sebagai menara Cielo, tampak sebuah ruangan yang berada ditengah bangunan yang tinggi itu. Seseorang tampak duduk disebuah bingkai jendela yang cukup besar. Menatap kearah bulan yang berwarna merah darah itu. Pemuda berambut biru panjang dengan mata heterochrome tampak menatapnya dengan tatapan kosong.
"Sedang menatap bulan malam ini?"
Suara yang dingin itu terdengar jelas dari kegelapan yang ada dibelakangnya/. Tetap tidak menoleh—mengetahui suara itu. Ia tidak mengatakan apapun dan tetap menatap kearah bulan merah itu.
"Oya? Kau sangat dingin Mukuro-kun—" berada diatas cahaya rembulan di jendela yang lainnya, ia membelakangi bulan—menunjukkan rambut birunya yang mirip dengan pemuda bernama Mukuro itu—hanya saja berwarna lebih terang, "—masih memikirkan Vongola?"
…
"Menurutmu?"
"Menurutku sih—" tersenyum sangat dingin dan terasa licik dan jahat, ia menatapnya dengan tatapan yang tidak kalah dingin dan kejam, "—kau masih kesal karena aku memaksamu dengan menggunakan Chrome sebagai ancaman?"
…
Kali ini mata heterochromenya tampak menatap pemuda itu—
"Kau membunuh Animanya didepan matanya sendiri—" memunculkan sebuah trident dan menyerang orang yang ada disana—sebelum sebuah scythe juga berada didepan lehernya ketika tridentnya terhenti juga tepat didepan leher pemuda berambut biru muda itu.
"Apakah kau—"
"Daemon Spade-sama—anda dipanggil oleh pemimpin sekarang, begitu juga dengan anda Rokudo Mukuro-sama!" seorang anak buah ditempat itu tampak menghampiri dan member hormat pada mereka tanpa perduli mereka sedang bertengkar. Spade—pemuda berambut biru muda itu hanya tersenyum dan menurunkan scythenya.
"Apakah kau tidak takut kalau membunuh Animamu, kau akan berakhir seperti Chrome dan juga Fong?"
"Aku tidak menerima kenyataan kalau kau adalah animaku—" menurunkan tridentnya juga, ia masih menatapnya dengan tatapan tajam, "—bahkan aku tidak percaya kalau kau menerima kenyataan kau adalah Anima, mungkin saja kau ingin membunuhku bukan?"
…
"Nfufu—ada satu alasan yang membuatku tidak membunuhmu Mukuro-kun, dank au akan mengetahuinya nanti…"
"Jadi—ingatan Tsuna belum kembali?"
Pemuda berambut dan bermata hitam itu tampak berada disebuah kamar rumah sakit dengan seorang pemuda berambut perak yang terbaring ditempat tidur itu. Setelah kejadian di kelas, tampaknya Gokudera juga ikut dalam keadaan yang sama seperti Tsuna—dan Yamamoto mencoba untuk menungguinya hingga sadar. Sementara itu, didepannya tampak Ugetsu yang duduk dan menyilangkan tangannya didepan dada.
"Begitulah—dan orang-orang dari Cielo mulai bergerak untuk mengerang kita—" berbeda dengan sifat Ugetsu yang biasanya, ketika Ugetsu bias mengatasi masalah dengan tenang, saat ini ia tampak kesal dan juga memancarkan aura yang tidak enak.
"La—lalu, apakah ada kejadian lainnya?"
"Orang-orang Cielo menyerang kami dan membuat G terluka—" aura menekan semakin terasa disekitar Ugetsu ketika ia menceritakan hal itu. Yamamoto hanya bias tertawa garing mendengar dan merasakannya, "—ah dan kudengar sepertinya Gokudera-kun sudah sadar…"
Dan yang dilihat oleh Ugetsu saat itu adalah Yamamoto yang sudah berlari dari sana secepat mungkin—
"Dasar—"
"Jadi, apa yang kau inginkan…"
Mukuro dan juga Spade yang tampak berada disebuah ruangan yang cukup besar dan berdiri ditengah-tengahnya. Didepan mereka tampak seorang yang sedang duduk dan memangku kepalanya dengan sebelah tangan.
"Bagaimana ya—ada sesuatu yang aku ingin kalian selidiki," sosok itu yang seakan menyatu dengan kegelapan—selalu tertutupi oleh kegelapan hanya tersenyum dan menatap mereka, "kalian bias kembali kebangunan itu bukan?"
…
"Kau tidak akan mengecewakanku bukan—Mukuro?"
Mukuro tampak mengeratkan giginya tanpa menunjukkannya pada yang lain. Tangannya digenggam dengan erat hingga memerah.
"Tentu saja—" tanpa ada seutas senyumanpun yang menghiasi wajah pucatnya, Mukuro tampak menatap sosok itu sebelum berbalik dan berjalan menjauhi tempat itu.
"Daemon—"
"Ada apa?"
"—awasi dia…"
…
"Nfufufu—" tertawa kecil, tubuh Spade perlahan menjadi pasir dan menghilang dari tempat itu, "—tenang saja, aku pasti tidak akan mengecewakanmu…"
"Bagaimana mungkin si bodoh itu bisa tertusuk orang-orang Cielo itu!" Al yang mendengar teriakan dari Gokudera yang mendengar kabar dari G hanya bisa menutup telinganya dan mengangguk.
"Yah—karena Tsuna sudah kembali, dan sudah menjadi sifatmu dan G yang selalu melindungi Tsuna ataupun Giotto bukan?"
"Tentu saja, karena Juudaime adalah prioritas—" terdiam ketika mendengarkan pernyataan dari Al, Gokudera tampak membelalakkan matanya, "—kau bilang Juudaime sudah sadar?"
"Ah begitulah—tetapi…"
"Hayato!" seorang pemuda berambut hitam dengan luka sayatan kecil di dagunya tampak membuka pintu dan menatap kearah kedua sosok yang ada disana—yang tentu saja langsung menatapnya dengan tatapan bingung, "—ah, kau benar-benar sudah sadar!"
"Ya—yakyuu bakka, bagaimana kau bisa tampak segar-segar saja setelah beberapa tahun tidak sadar?"
"Eh, aku selalu mampir kemari kok—" menunjuk dirinya sendiri, Yamamoto tampak tersenyum lebar, "—tetapi karena Namimori menyenangkan dengan adanya kau dan Tsuna, jadi aku kebanyakan menghabiskan waktu di Namimori…"
…
"Apa maksudmu?"
"Aku selalu ingat dengan Mondo dan juga semuanya—jadi, mungkin aku bisa dikatakan sebagai pengawas?" jawab Yamamoto enteng sambil menaruh kedua tangannya dibelakang leher.
"Hah, bagaimana bisa?"
"Ada keanehan dengan pemisahan tubuh Yamamoto menuju ke fase Sogno, jadi—ia tidak pernah melupakan kejadian yang ada disana dan juga disini…"
"Apakah G melakukan sedikit kesalahan?"
"Entahlah tetapi—"
"G, kenapa kau sudah sadar?" suara Ugetsu tampak terdengar diluar ruangan, dan membuat mereka berempat menoleh dan menemukan G dan juga Ugetsu yang berusaha menghentikannya. Tatapan G masih kosong dan tidak memperdulikan panggilan Ugetsu.
"G?"
…
Al yang menyadari keanehan G dan juga tatapan matanya yang kosong tampak mencoba menyadarkannya. Tetapi ia sadar akan satu hal ketika melihat mata merah G adalah, mata kanannya tampak berubah menjadi bentuk Spade.
"Vongola—" G mengeluarkan pistolnya dari balik kemeja putihnya, mengarahkannya pada Gokudera yang bahkan belum menyadari apa yang terjadi.
"Gokudera-kun, ada yang aneh dengan G!"
BANG!
Tersentak dari tidurnya, Tsuna seakan bisa merasakan ada sesuatu yang terjadi pada Gokudera maupun pada tempat itu walaupun ia masih belum sadar sepenuhnya.
"Ada apa—" melihat kearah ranjang yang ada didepannya, membuatnya tersentak dan segera mencari orang yang seharusnya ada disana. G menghilang, dan membuatnya langsung bangun. Ketika ia melihat kearah sofa tempat Giotto tidur, ia juga tidak menemukan apapun disana. Ia sendirian—
"G-san, Giotto?"
Belum sempat Al menghentikan G, ai sudah melepaskan tembakan tepat kearah Gokudera. Dengan segera Ugetsu menjatuhkan pistol itu dan membuat G pingsan. Sementara Al dan juga Yamamoto tampak memeriksa keadaan Gokudera.
"Tch bodoh—sebenarnya apa yang ia lakukan," kesadaran Gokudera tampak semakin menurun. Darah dari tubuhnya terus mengalir dari luka tembaknya. Al mencoba untuk menghentikannya dan Yamamoto menghubungi beberapa orang untuk datang.
"Jangan bicara dulu—kau bisa kehabisan darah…"
"Aku harus—" baru saja ia akan melanjutkan perkataannya sebelum ia menyadari sesuatu—ia memutuskan untuk membisikkannya pada Al sebelum tangannya terjatuh begitu saja dan Gokudera kembali dalam keadaan tidak sadarkan diri.
"Hayato!"
"Kalau tidak dihentikan—ia akan mati kehabisan darah…" Al tampak mencoba untuk mengobati luka dan Yamamoto terus mencoba menghubungi orang-orang yang bisa menolong, "bagaimana keadaan G?"
"ia hanya pingsan—apa yang sebenarnya terjadi…"
"Aku akan mengatakannya nanti—yang pasti kita harus menyelamatkan Gokudera terlebih dahulu…"
Duduk disalah satu pohon yang tumbuh kering didekat gedung itu, Mukuro tampak hanya diam dan menatap kearah kamar tempat peristiwa penembakan Gokudera itu. Ia hanya bisa diam, ia mengetahui akan terjadi hal ini.
Dan ia juga tahu siapa yang melakukan semua ini…
"Tugasku sudah selesai—"
"Siapa…" suara itu langsung membuatnya tersentak dan menatap kearah seseorang yang ada disalah satu jendela. Seharusnya tidak ada yang menyadari keberadaannya karena ia menggunakan ilusi. Dan ketika melihat kearah jendela itu, tampak Tsuna yang menatap kearahnya.
"Tsuna—yoshi?"
Ditempat lain, diatas gedung tempat Giotto dan juga yang lainnya berada, tampak Spade yang berdiri dan menatap kearah bawah. Tempat dimana Mukuro dan Tsuna berada, dan dimana penembakan itu terjadi ia juga mengetahuinya.
"Semua berjalan sesuai rencana…" ia berbicara lewat headphone yang ia kenakan. Masih menatap kearah bulan yang berwarna merah terang dihadapannya, ia hanya tersenyum.
"Sudah lama tidak bertemu—" tanpa menatap kearah belakang, ia sudah bisa tahu kalau ada seseorang yang mendatanginya dan menatapnya.
"Giotto…?"
To be Continue
