Title : Kiseki no Sedai

Cast :

Kim Jong In a.k.a Kai

Do Kyung Soo a.k.a Kyungsoo

Other Cast

Pair / Slight : KaiSoo / Exo Official Couple

Genre : Romance, School Life

Rate : T

Leght : Chapter(s)

.

.

.

.

.

Story By; Miss Galaxy

.

.

.

.

.

WARNING THYPO !

DON'T READ IF YOU NOT LIKE !

.

.

.

KYUNGSOO KAI MINE ! KAI KYUNGSOO MINE ! AOMINE LAXY MINE! AND KAISOO MY MINE ! XDD

.

Happy Reading ^^

.

.

.

.

.

.


"Kau yakin?" Luhan bertanya cemas menatap sosok Kai yang sudah berganti seragam tim dan tengah melakukan pemanasan dipinggir lapangan. Kyungsoo juga menatap lelaki itu sebelum mengangguk yakin. Ya! Dia harus yakin.

"Tolong perhatikan dia eonni, aku dan Baekhyun akan menyusul Suga." Luhan mengangguk atas permintaan Kyungsoo, membiarkan gadis manis bermata bulat itu pergi menuju ruang kesehatan bersama Baekhyun sementara dirinya masih diam ditempat. Peluit tanda mulainya permainan berbunyi, Kai kini sudah memasuki lapangan, bergabung bersama Chanyeol dan yang lainnya. Luhan mendesah pelan, merasa tidak yakin. Lelaki itu, bisakah dipercaya?

Sementara dilapangan, Chanyeol menatap Kai yang baru saja memasuki lapangan. Tatapan keduanya sejenak tertaut sebelum Kai mengalihkan wajahnya kearah lain. Tatapan lelaki itu sangat datar, mata birunya menatap lapangan dengan dingin, seolah mata manapun akan membeku jika tanpa sengaja menatap Kristal birunya. Bahkan Chen pun sampai bergidik, memilih mengambil posisi pertahanan dibelakang garis daripada berdekatan dengan Preman mengerikan itu.

Pritt!

Peluit berbunyi dan permainan dimulai.

.

.

.

"Bagaimana ini bisa terjadi?"

"Entahlah." Baekhyun mengangkat kedua bahunya, menatap Suga yang tengah ditangani oleh tim medis. Lelaki itu meringis kesakitan saat pergelangan kaki kirinya dibalut perban. Kyungsoo jadi sedih, gadis itu menatap shooter Seirin itu sendu.

"Aku bahkan tidak tahu jika ada salah satu anggotaku yang cedera." Sesalnya.

"Sudahlah, jangan merasa sedih begitu." Baekhyun menepuk pundaknya dengan senyuman, lalu saat tim medis sudah selesai menangani Suga dan pergi, segera kedua gadis mungil itu memasuki ruang kesehatan dan berdiri disisi ranjang lelaki itu.

"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Kyungsoo cemas dan respon lelaki itu hanya tatapan sedih.

"Maafkan aku."

"Kenapa minta maaf?" Baekhyun menyahut, dia duduk disisi ranjang dan mengusap lengan lelaki itu lembut. "Jika aku masih menjadi managermu, sudah kupastikan aku akan mematahkan lehermu karna berani menyembunyikan hal penting seperti ini. Cih, beruntunglah managermu sekarang adalah gadis baik." Baekhyun mencibir dengan dagu mengarah kearah Kyungsoo yang hanya tersenyum paksa, dan Suga tertawa dibuatnya. Lelaki itu mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.

"Dan beruntung kau bukan menagerku lagi nona Byun,"

"Jadi bisa katakan apa yang membuatmu cidera hm? Setahuku kau tidak punya riwayat cidera sebelumnya, apalagi dibagian paling vatal." Pertanyaan Baekhyun barusan membuat tawa Suga surut dan lelaki itu langsung bungkam. Dia menatap Kyungsoo dan menager mungil itu hanya mengangguk.

"Siapa yang menggantikan posisiku sekarang?"

"Kai." Sahut Kyungsoo pelan. Suga mendesah, membawa pandangannya kearah jendela, tatapannya terlihat kosong disana. Kedua gadis itupun saling berpandangan dan bersiap mendengar cerita Suga.

"Aku membenci anak kelas satu itu." Ucap Suga pelan. "Aku benci Kai, keberadaannya membuat posisiku sebagai shooter terancam."

"Bakat Kai bukanlah shooter, dia point guard,"

"Lalu menjadi Ace?" Kyungsoo menutup bibirnya rapat saat Suga menatap tajam kearahnya.

"Aku tahu anak itu berbakat, tapi dia adalah anak kelas satu yang egois. Dia terus berlagak seolah dialah yang terhebat dan menguasai semuanya." Suga mendengus, kembali membawa arah pandanganya ke jendela.

"Saat sesi latihan kemarin, aku melihatnya mampu mencetak semua shoot yang Kyungsoo berikan. Saat dia melakukan One on One dengan Chanyeol, dia bahkan mampu mencetak skor hanya dalam tiga detik. Dia benar–benar berbakat, dan aku membenci itu karna aku merasa bahwa dia suatu saat nanti akan menggeser posisiku. Jadi aku mulai berlatih dengan lebih keras lagi, agar aku menjadi kuat dan tidak terkalahkan sehingga dia tak bisa merebut posisiku sebagai shooter." Suga menghela nafas, menjeda ceritanya. Lelaki itu kemudian menatap pergelangan kaki kirinya yang terbalut perban dengan tatapan menyedihkan.

"Tekadku terlalu besar untuk menjadi kuat sampai aku mengabaikan bahwa aku telah kehabisan energy. Malam itu aku berlatih tanpa henti, dan..yeah, aku terjatuh dan kakiku cidera. Hal yang mengecewakan bahkan saat aku belum berhadapan langsung dengannya dan aku sudah kalah. Hh, menyedihkan."

Keadaan seketika menjadi hening, Suga yang sudah mengeluarkan air mata dalam diam dan Baekhyun yang menghela nafas.

"Lalu kenapa kau memaksa untuk bermain jika kau tahu sedang cidera?"

"Karna aku tak mau kalah dengan anak itu." Ucap Suga dengan tegas. Kyungsoo menghela nafas panjang, dia mendekat dan meraih tangan lelaki itu untuk dia genggam. Dia berikan senyum termanisnya untuk lelaki itu.

"Aku tahu perasaanmu. Kau hanya mencoba mempertahankan apa yang tengah kau punya saat ini. Tapi.. kau juga harus melihat situasinya, jika kau memaksakan diri, bukan keberhasilan yang kau dapat, tapi malah penyesalan. Suga-ya, kumohon..jangan memaksakan diri! Aku berjanji akan membuat Kai berubah." Suga diam, menatap manager cantiknya itu dalam kebisuan. Lelaki itu menghela nafas, balas menggenggam erat tangan Kyungsoo.

"Aku sungguh benci monster itu."

"Aku tahu," Kyungsoo terkikik pelan.

"Dan akulah yang akan menjinakkan monster itu."

.

.

.

Bola memantul dengan cepat kelantai, suasana memanas dan seketika menjadi tegang saat Kai yang berada dibelakang garis line–up berhasil menshoot bola tanpa halangan, membebaskan diri dengan mudah dari block Youngjae, pemain Kaijou bernomor punggung 10.

Priit!

Time out! Kedua pemain masing–masing kembali kesisi lapangan. Chanyeol mendesis dalam diam, lelaki itu menatap papan skor dan cukup dibuat kesal saat papan skor menunjukkan angka 78 – 80 untuk Seirin – Kaijou. Sial! Preman Amerika itu berhasil mengimbangi skor yang tertinggal jauh dengan cepat hanya seorang diri. Well, Chanyeol memang mengakui itu, lelaki tan itu hebat. Tapi, apa gunanya kemampuan jika tidak digunakan untuk kepentingan bersama yang jelas–jelas harus ada didalam sebuah permainan basket?

"Kuharap kau tidak egois dengan menguasai bola seorang diri." Chanyeol berdiri dihadapan lelaki itu. Tatapannya tajam dan jatuh tepat kearah Kai yang tengah duduk dikursi dengan kepala menunduk menatap lantai, lelaki tan itu tak bereaksi, handuk yang tersampir dikepalanya pun tak dia hiraukan, membuat keringat bercucuran setetes demi setetes dari dahinya, lalu jatuh kelantai. Chanyeol mendengus karna dia diacuhkan, dia kemudian memilih meraih botol minumnya, menyiapkan diri untuk pertandingan quarter terakhir, masih ada dua puluh menit pertandingan.

Pritt!

Peluit kembali berbunyi, tanda permainan kembali dimulai. Chanyeol dan timnya kembali maju. Namun Chen memilih mundur dan Ravi segera maju menggantikan. Kai menyeringai sebelum dengan perlahan mengangkat kepalanya dan bangkit berdiri. Berjalan santai memasuki lapangan bergabung dengan yang lainnya. Tatapan tajamnya mengarah tepat kearah tim lawan yang kini terlihat was–was, si nomor punggung 1 menatapnya intens sebelum mendecih remeh kearahnya, berbicara pelan pada si nomor punggung 10 dengan pelan. Kai hanya terkekeh, tatapannya berbeda, manik itu membiru dengan nyalang. Seolah tengah memperingatkan bahwa dia bukanlah sembarang orang yang mudah ditandingi, tidak dengan sinomor punggung 1, 10 ataupun semua tim Kaijou itu.

"Dia mengerikan, aku sungguh tak tahan bermain satu tim dengannya." Chen mengusak rambutnya kasar, ekspresinya terlihat takut menatap lelaki tan yang berdiri tepat disisi Chanyeol itu.

"Apa dia sebegitu mengerikannya?" Tanya Minhyun dengan tampang polosnya, lalu Zelo disebelahnya hanya mengangguk menunggu jawaban Chen dengan penasaran.

"Ya begitulah, aku seperti merasakan aura dingin jika berada disisinya, hii.. membuatku menggigil." Ucap Chen menghayati kalimatnya sementara anak–anak kelas satu mendengarkan dengan serius. Didepannya Luhan hanya diam, mata rusanya tetap memperhatikan gerak–gerik anak Seirin yang mulai melakukan Deffense dilapangan.

"Chen sunbae bahkan takut." Luhan mendengar bisikan lirih itu karna dia merasakan nafas hangat Sehun disekitar tengkuknya, pasti posisi lelaki itu saat ini sangat dekat dengannya. Luhan hanya mengguman sebagai jawaban, kembali fokus kelapangan.

Tuk!

Bola memantul saat Jin melakukan block pada lawan, Chanyeol dengan segera mendribbling bola mendekati ring, namun dia mendapat penjagaan cukup kuat sehingga dia membawa bola berbalik kembali kebelakang dan bola saat ini berada ditangan Kai. Lelaki tan itu berdiri disana, menyeringai sesaat sebelum membungkuk dan mulai maju. Menggiring bola melewati pertahan tim Kaijou, lalu melompat setinggi mungkin untuk mencetak kembali tiga angka. Semua yang ada disana tercengang. Aliran permainan memanas.

"Cih," Chanyeol mendecih sambil mengusap dahinya pelan. Anak ini, benar–benar keras kepala dan egois. Waktu permainan masih lima menit dan skor mereka seimbang. Peluit ditiup dan permainan kembali dimulai. Bola kembali memantul kesana kemari dan Kaijou tampaknya harus menelan kekecewaan karna skor mereka tertinggal jauh saat ini. Kai menguasai lapangan, bermain seorang diri tanpa memberi kesempatan untuk timnya mencetak skor. Sebagian skor adalah miliknya, lelaki itu melakukannya sendiri, menerobos lawan dan melakukan shoot tanpa henti. Tak ada yang menghentikannya, tentu saja. Dia kuat, cepat dan lompatannya tinggi. Bahkan Yongguk hanya terdiam dengan tatapan tajam, merasa malu karna timnya baru saja dihancurkan oleh Seirin, tepatnya oleh lelaki bernomor punggung 88 itu.

Pritt!

Peluit berbunyi tiga kali, tanda permainan telah berakhir dengan Seirin keluar sebagai pemenang latih tanding hari ini. Namun kemenangan kali ini tak disambut sorak–sorak seperti biasanya. Semua pemain hanya diam, mereka bungkam saat Kai kembali dan duduk dikursi istirahat.

"Brengsek!" Chanyeol mengumpat dan akan meninju wajah tampan Kai jika saja Suho dan Jin tidak cepat menahannya.

"Kau bermain seorang diri dilapangan. Kau fikir kau itu pahlawan hah?" Chanyeol memaki, tangannya mengepal kuat dibawah sana. Sebagai kapten, dia merasa terhina karna salah satu anggotanya berani bermain seorang diri menguasai lapangan tanpa memegang prinsip kerjasama, Chanyeol benci hal itu. Dalam tim, kelompok dan kerja sama adalah semuanya. Bukan egois seperti apa yang Kai lakukan tadi.

"Itu tadi bukan kemenangan!" Ucap Chanyeol kesal, menatap anak kelas satu yang hanya diam ditempat. "Anggap hanya sebuah kebetulan,"

"Kebetulan yang hebat bukan?" Kai terkekeh, menatap tajam Chanyeol.

"Kau marah karna kau tak mampu menutupi kelemahanmu kan?"

"Apa katamu bajingan?" Cekalan Suho dan Jin lepas, kini kapten Seirin itu meraih keras seragam Kai dengan kasar. "Aku tidak lemah," Desisnya.

"Cih, lalu untuk apa kau mempermasalahkan 'kemenangan tanpa kerja sama'? Karna bagiku, kemenangan adalah milikku sendiri."

"BAJINGAN!"

"CUKUP!" Luhan datang, menengahi kedua lelaki itu. Gadis cantik itu melepaskan cekalan Chanyeol dibaju Kai dan menatap kedua laki–laki itu kesal.

"Bersikaplah dewasa. Setidaknya sadarlah bahawa kita masih berada disekolah orang." Luhan memekik tertahan. Dia kemudian menatap semua anggota dengan garang.

"Sekarang ganti pakaian dan bersiap pulang! Kalian semua! Tanpa terkecuali!" Luhan memberi perintah dengan tegas, membuat semua anggota tersentak dan mulai menuruti apa kata mantan manager itu. Sehun sempat terdiam sejenak sebelum mengikuti langkah Mino kearah ruangan yang sudah disiapkan Kaijou untuk mereka.

"Yeol, sudahlah. Tahan emosimu, biarkan pria ini menjadi urusan Kyungsoo." Luhan mendengus sebelum berbalik pergi, meninggalkan Chanyeol yang mendengus malas dan Kai yang hanya terkekeh senang.

"Calm down bro," Ucap Kai mengejek dan lelaki itu mengambil tasnya diatas lantai, berbalik pergi meninggalkan Chanyeol dengan tangan terkepal kuat. Chanyeol menatapnya, kemudian menghela nafas.

"Andai kau disini bung," Lirihnya pelan.

.

.

.

Suga sudah memasuki taxi dan Kyungsoo berbicara pada sang supir untuk memastikan agar Suga sampai dirumahnya dengan selamat. Setelah berbasa–basi sejenak, kaca taxi tertutup dan kendaraan berwarna biru itu sudah melaju meninggalkan gerbang Kaijou. Kyungsoo menurunkan tangannya yang baru saja dia gunakan untuk melambai kearah taxi yang Suga tumpangi.

"Dia harus istirahat total Baek," Kyungsoo berguman dan Baekhyun mengangguk mengiyakan.

"Jangan biarkan dia bermain sampai dia sembuh total,"

"Ya," Kyungsoo setuju. Dia kemudian menatap Baekhyun, menepuk jidatnya saat dia teringat sesuatu yang dia tinggalkan diruang kesehatan. Ah, bagaimana dia bisa melupakan tasnya?

"Baek, tasku tertinggal diruang kesehatan."

"Benarkah? Aish! Bagaimana bisa? Yasudah ambil sana, perlu kutemani?" Kyungsoo menggelang tanda menolak tawaran Baekhyun.

"Aku sendiri saja, kau menunggu yang lain disini ya. Tunggu sampai aku kembali."

"Oke." Baekhyun mengangkat jempolnya dan Kyungsoo segera berbalik pergi kembali menuju ruang kesehatan. Beruntung gadis manis itu masih ingat jalan menuju keruang kesehatan, jadi tidak perlu cemas jika nyasar. Ah, Kyungsoo akhirnya menemukan ruangan tempat Suga dirawat tadi. Dan beruntung juga tasnya masih ditempat yang sama sebelum Kyungsoo meninggalkan tempatnya tadi, diatas nakas sisi ranjang. Kyungsoo segera meraih tasnya, menyampirkannya dibahunya yang mungil. Setelah selesai, dia segera beranjak pergi dari sana, melewati kembali lorong–lorong yang dia lewati tadi menuju halaman depan sekolah. Hari sudah sore, matahari sudah condong hendak kembali keperaduannya, lampu–lampu sekolah juga sudah menyala menerangi lorong, susasana cukup sepi, membuat Kyungsoo merengut dan berjalan lebih cepat lagi.

"Kyungsoo?" Langkah kecilnya sontak terhenti karna panggilan itu, Kyungsoo berbalik dan menemukan Daehyun tengah berjalan kearahnya dari arah tikungan lorong. Oh, beberapa lelaki yang Kyungsoo yakini juga sebagai tim Kaijou ada dibelakangnya.

"Daehyun?"

"Apa yang kau lakukan disini sendiriian Kyungsoo?" Lelaki itu bertanya dengan alis berkerut, sementara Kyungsoo sendiri dibuat gugup karna empat lelaki sisanya kini tengah menatapnya dengan intens dari atas kebawah. Gadis mungil itu menggigil pelan, merasa terintimidasi. Dia takut, dia perempuan dan seorang diri diantara lima lelaki.

"U..um, tasku tadi tertinggal," Jawab Kyungsoo gugup, dan kegugupannya itu ternyata dianggap lucu oleh si nomor punggung 09.

"Santailah nona," Lalu si lelaki dengan suara berat itu berucap, menatap Kyungsoo dengan seringaian.

"Kau manager Seirin? Perkenalkan, aku Bang Yongguk, kapten tim Kaijou, tim yang baru saja dipermalukan oleh timmu." Yongguk berucap sinis diakhir kata, membuat Kyungsoo mengedip bingung. Jadi Kaijou kalah? Yeah, Kyungsoo bahkan baru tahu tentang hal itu. Tentu saja, dia kan tidak mengikuti jalannya pertandingan karna sibuk menjaga Suga. Dan apa maksud 'dipermalukan' tadi? Mendadak Kyungsoo jadi was–was, gadis itu menunduk saat tatapan lima orang lelaki didepannya itu terasa tajam mengintimidasi. God! Siapapun tolong keluarkan aku dari sini, bisik Kyungsoo dalam hati.

"Maaf, aku harus segera pergi. Senang bertemu dengan kalian.." Kyungsoo membungkuk dan hendak terbirit pergi jika saja tangan si kapten Kaijou tidak menahannya, Kyungsoo memekik tertahan.

"Eits, tunggu dulu nona. Apa kau tidak mau merayakan kekalahan timku bersama hm?"

"Tidak, aku..aku harus pergi,"

"Setelah apa yang kau dan timmu lakukan disekolahku?" Ucap Yongguk skak dengan sinis. Oh! Apa yang telah Seirin lakukan sampai membuat tuan rumah Kaijou marah? Apa Kai berulah? Astaga! Anak itu.

"Kumohon," Kyungsoo menatap Daehyun berniat meminta pertolongan, namun lelaki yang mulanya terlihat baik itu hanya menggelang dengan senyum sinis disudut bibirnya. Gadis itu mengerang dalam hati, memberontakpun percuma karna lelaki yang mencekal lengannya ini luar biasa tinggi, tenaganya juga besar. Kyungsoo lelah berontak, membuat lima lelaki itu tertawa dibuatnya. Yatuhan! Kyungsoo tidak mau berakhir disini.

"Lepaskan aku! Aku akan berteriak jika kau berani macam–macam," Kali ini Kyungsoo mulai menjerit frustasi.

"Berteriaklah sesukamu nona," Si lelaki berambut pirang lainnya berucap santai, membuat Kyungsoo frustasi.

"Hentikan!"

Kyungsoo terdiam, kepalanya sontak menoleh kearah sumber suara dan mendapati Kai berdiri sekitar lima meter didepannya dengan wajah datarnya.

"Lepaskan gadis itu," Ucapnya dingin. Yongguk menyeringai kecil, lelaki itu semakin mengeratkan cekalannya ditangan Kyungsoo, membuat gadis itu langsung meringis.

"Oh, ada yang mencoba menjadi pahlawan rupanya," Yongguk terkekeh, kemudian menatap Kyungsoo remeh. "Kau mau gadis ini? Ambillah." Yongguk kemudian mendorong Kyungsoo, membuat gadis itu jatuh terjembab kebawah.

"Awh." Kyungsoo mengerang sakit, gadis itu kemudian terduduk kesakitan sambil memegangi pergelangan tangan kirinya yang memerah akibat cekalan kuat milik Yongguk tadi. Aish! Apa salahnya sampai–sampai dia diperlakukan seperti ini?

"Oh! Jadi ini tim Kaijou?" Kai maju, berdiri disisi Kyungsoo yang kini mendongak menatapnya. Kai menunduk, sejenak tatapan keduanya bertemu sebelum Kai kembali menatap kedepan dengan mata birunya yang menyala.

"Tak kusangka ternyata tim yang sebegitu terkenalnya ini memiliki anggota seperti sampah, tak berguna." Kai menyeringai sementara kelima lelaki didepannya mulai menegang karna tersinggung. Yongguk maju duluan, hendak melayangkan pukulan jika saja Kyungsoo tidak segera bangkit sambil menjerit keras.

"HENTIKAN!" Kyungsoo menaraik lengan Kai kebelakang, berusaha menghalau terjadinya perkelahian. Tidak, ini gawat! Kai dan Yongguk tidak boleh terlibat perkelahian, itu bisa membuat keduanya terlibat masalah. Maka sebelum terjadi kemungkinan buruk, Kyungsoo membungkuk kecil sambil mengucapkan maaf beberapa kali sebelum menarik paksa Kai untuk pergi dari sana. Keduanya berhasil pergi dari sana dan berhenti saat merasa sudah cukup jauh dari tempat Yongguk berada, Kyungsoo melepaskan pegangannya pada lengan Kai dan beralih pada lengannya sendiri. Meringis kecil karna pergelangan tangannya masih perih.

"Kenapa kau pergi seperti pengecut?" Kyungsoo menoleh, menatap Kai yang berdiri disampingnya.

"Aku hanya menghindari permasalahan," Sahut Kyungsoo dan kini mulai meniup–niup pergelangan tangannya. Kai menatapnya, manik biru itu menatap tangan Kyungsoo dan mendesis kesal.

"Mereka memang sampah." Kai meraih pergelangan tangan kiri Kyungsoo kemudian melihat bekas kemerahan disana, telunjuknya mengusap memar kemerahan itu sehingga Kyungsoo yang sempat terdiam kaku itu meringis kecil. Lelaki itu berdecak sebelum mendekatkan tangan mungil Kyungsoo kemulutnya dan meniup–niupnya pelan. Oh! Wajah Kyungsoo perlahan memerah. Benarkah ini Kai? Tumben sekali lelaki ini sedikit care dengannya, biasanya jangankan peduli, menengarkan omongannya saja tidak. Oh, astaga! Jantung berhentilah berdetak kencang. Tangan itu sangat hangat dan kuat, seperti ada sengatan listrik ratusan volt saat kulitnya dan kulit lelaki itu bersentuhan.

"Sudah tidak apa–apa kok." Kyungsoo segera menarik tangannya menjauh dari jangkauan tangan Kai dan tersenyum kecil meyakinkan jika dia baik–baik saja. Ah, ada apa dengannya? Kenapa dia jadi gugup?

"Lagipula, bagaimana pertandingannya?" Kai menatapnya dengan manik biru yang menyala.

"Kurasa kau tahu,"

"Yeah, dan aku yakin Kaijou marah karna hal itu." Kai tertawa remeh, lelaki itu kemudian berucap.

"Orang lemah memang selalu mencari cara untuk menutupi kekalahan mereka."

"Kai," Tegur Kyungsoo dan Kai hanya mengangkat bahunya acuh. Duh, anak ini mulai lagi kan. Gadis manis itu menarik nafasnya panjang sebelum menghembuskannya pelan. Kai mulai melangkah kembali, dan Kyungsoo mengikuti disebelahnya. Oke, cari obrolan saja.

"Kenapa kau kembali? Maksudku, bagaimana kau bisa menemukanku? Tapi huh, untung kau datang. Jika tidak, aku tidak tahu bagaimana jadinya." Kyungsoo mengoceh dan respon Kai hanya dengungan dingin. Lelaki itu melirik Kyungsoo dengan ekor matanya.

"Apa kau kembali berniat mencariku?" Tanya Kyungsoo, dia hanya penasaran kenapa Kai bisa menemukannya. Hihi.

"Cih," Kai mendecih, membuat Kyungsoo langsung merengut ditempat. "Chanyeol yang memintaku dan aku menyetujuinya karna aku merasa kasihan padamu," Lanjutnya.

"Jadi itu bukan karna kemauanmu?"

"Untu apa aku mencarimu? Tidak penting bagiku Kyungsoo."

"YA!" Kyungsoo memekik, lelaki ini kembali menyebalkan seperti biasanya.

"Bagaimanapun aku ini sunbaemu! Hormatlah sedikit padaku, setidaknya panggil aku nona."

"Apa?" Kai berhenti dan sontak Kyungsoo juga melakukan hal yang sama, lelaki itu membawa pandangannya kearah tubuh Kyungsoo, menatapnya intens dengan dahi berkerut dari bawah keatas selama dua kali, membuat Kyungsoo langsung salah tingkah. Kai kemudian menggelang, terlalu mungil dan datar.

"YA! Apa yang kau lihat?" Kyungsoo sontak menyilangkan kedua lengannya didepan dada karna malu.

"Nona? Kau bahkan lebih pantas menjadi bocah SMP dari pada sunbaeku, kau itu terlalu kecil dan datar," Ucapnya santai yang membuat Kyungsoo membulatkan matanya heboh.

"YA!" Wajah Kyungsoo memerah, dia malu bukan main dikatai anak SMP oleh orang yang notabe adalah adik kelasnya. Sialan! Kai hanya berdecak, kemudian kembali melangkah pergi.

"YA! Tunggu aku," Kyungsoo berlari–lari kecil mengikuti langkah lebar lelaki itu dengan senyum kecil. Well, lelaki itu bicara banyak padanya, Kyungsoo harus merasa senang karna Kai sepertinya sedikit 'jinak' dari biasanya. Buktinya, dia tadi mengeluarkan candaan yang meskipun bagi Kyungsoo itu sangat memalukan!

"Hei, tunggu aku." Kyungsoo berhasil mensejajari langkah Kai, mereka sudah keluar dari lorong dan menuju gerbang dimana teman–teman yang lain sudah menunggu disana.

"Mereka masih menunggu kita," Kyungsoo berucap senang dan balas melambai pada Baekhyun.

"Kau lama sekali sih, aku khawatir tahu." Ucap Baekhyun.

"Kau kemana saja sih? Nyasar ya?" Cerca Luhan sebal, mengabaikan Kyungsoo yang meringis meminta maaf.

"Maaf, ada sedikit masalah tadi." Sahut Kyungsoo tersenyum. "Tapi untung Kai datang diwaktu yang tepat,"

"Dia tidak melakukan hal–hal yang aneh kan Kyung?" Alis Baekhyun berkerut, menatap Kai yang kini berdiri dibelakang Kyungsoo dengan tatapan datar.

"Tidak kok," Ucap Kyungsoo meyakinkan. Dia kemudian berbalik menatap kearah Kai yang hendak pergi dari sana.

"Eh, Kai kau mau kemana?" Kai yang sudah hendak melangkah berhenti sejenak sebelum berucap.

"Pulang," Kemudian berjalan kembali.

"Tapi kita harus pulang bersama, kita akan makan malam dulu." Kyungsoo tersenyum saat Kai menghentikan langkahnya. Lelaki itu kemudian berbalik dan berjalan kearah Kyungsoo, membuat gadis itu senang karna berfikir bahwa Kai akan ikut pulang bersama. Tapi jangan terlalu senang dulu Kyungsoo.

"Kembalikan!" Kyungsoo mengedip, menatap tangan kanan Kai yang menengadah kearahnya.

"Apa?"

"Kembalikan!"

"Huh?"

"Ponselku!"

Kyungsoo terdiam mendengar kalimat dengan nada tinggi barusan. Gadis itu menggigit bibir bawahnya kuat. Dia kira.. Kai sudah agak jinak, nyatanya dia masih terlalu dini untuk bermimpi.

"Ponselku Do Kyungsoo!" Kyungsoo tersentak dan buru–buru dia membuka tasnya dan mengembalikan ponsel itu dengan tangan bergetar. Kai meraihnya kasar kemudian berbalik.

"Jangan berfikir karna aku telah menolongmu, berarti aku sudah mendengar ucapanmu. Cih, kau terlalu dini untuk berharap Kyungsoo." Kemudian setelah mengucapkan kalimat menyakitkan itu, Kai segara pergi tanpa menoleh kembali kebelakang, meninggalkan Kyungsoo dalam kebisuan sampai matanya tak lagi melihat punggung tegap itu dibalik kegelapan.

Oh!

Kyungsoo meringis, dia fikir Kai sedikit berubah. Nyatanya, lelaki itu masih sama. Tapi kenapa? Kenapa dia berubah bahkan hanya dalam waktu kurang dari satu menit saja?

"Kyung?" Baekhyun menyentuh pundaknya, mengusapnya pelan.

"Semua masih butuh proses, suatu saat nanti dia pasti jinak ditanganmu." Ucapnya pelan. Well, bahkan semua anggota yang ada disana terdiam, tidak berani menyela ataupun mencoba membantu Kyungsoo untuk mengatasi manusia egois itu.

"Tapi Baek–"

"Sstt. Sudah ya, jangan difikirkan! Lebih baik sekarang kita pergi dan makan–makan, bagaimana?"

"YES! MAKAN!" Ravi yang tadinya terdiam langsung bersorak heboh, membuat beberapa orang memekik kearahnya. Suasana yang awalnya membisu itu kini sudah kembali seperti semula. Chen dan Ken sibuk mengejar Ravi serta anak kelas satu yang tertawa–tawa karna menganggap aksi ketiga sunbaenya itu lucu. Hah! Terimakasih untuk si moodmaker Ravi. Chanyeol yang awalnya diam mendekati Kyungsoo, kemudian menatap gadis dengan raut wajah sedihnya itu dengan perasaan bersalah.

"Dia melampiaskan semuanya padamu. Maafkan aku," Kyungsoo menggelang, dia kemudian mendongak menatap kapten Park tersebut.

"Dia membenciku mungkin," Ucap Chanyeol dan Kyungsoo menggelang kembali.

"Tidak ada yang perlu dimaafkan, mungkin dia hanya butuh waktu. Sekarang kita pergi dan bersenang–senang." Jawab Kyungsoo mencoba tersenyum paksa.

"Oke." Baekhyun mengangguk setuju, dia kemudian memeluk lengan Chanyeol dengan manja.

"Kita abaikan saja preman itu! Sekarang kita bersenang–senang!" Seru Baekhyun dan disambut sorakan dari yang lain. Kyungsoo menghela nafas, berbalik dan mengikuti langkah ringan Baekhyun yang tengah berbicara mesra dengan Chanyeol.

Oh! Terlalu susah untuk percaya pada Kai.

Mereka kemudian kembali melangkah bersama–sama, mengabaikan apa yang baru terjadi, melupakan satu lagi anggota yang sudah pergi. Diantara semua orang yang terlihat sudah melupakan kejadian barusan, Sehun berjalan dengan kedua tangan masuk kedalam saku. Lelaki itu menunduk, wajahnya berekspresi seolah dia tengah berfikir keras memikirkan sesuatu, dan sesuatu itu adalah orang yang baru saja dilupakan.

Kai.

.

.

.

Kai mendesis, meninju tempok pagar disampingnya dengan kasar, menimbulkan bunyi debuman yang lumayan keras. Nafas lelaki itu terengah dengan manik biru yang menyala–nyala nyalang.

"Beraninya..hah, beraninya kalian.."

Kai berguman pelan, namun diiringi intonasi tajam yang sanggup membuat siapapun merinding. Dengan kasar lelaki itu mengepalkan tangannya kuat. Sialan! Dia benci, sangat benci pada orang yang memberikannya tatapan remeh. Siapapun itu, yang berani meremehkan seorang Kim Kai, harus mati.

"Kubunuh kau," Kai mendesis, kemudian sudut bibirnya menyeringai. Yeah, 'dia' yang berani merendahkannya, orang yang berani menghalangi keinginannya, bersiaplah untuk hancur ditangan Kai.


.

.

.

.

Tbc!

.

.

.

.

KnB lovers, ada yang udah dengerin lagu barunya AkaKuro yang Answer? Aaaa . Sumpah lagunya bikin melting . *iklan

.

WEHE!

HALLO~! MASIH INGAT DENGAN FANFICT INI? SEMOGA TIDAK LUPA YA .

Bagaimana? Apa terlalu lama? Yah, maafkan aku T.T Inspirasinya soalnya sempet tersangkut(?) jadi harus nunggu lamaaaa biar dapet ide buat ngelanjutin ^.^

Nah, gimana dengan chapter ini? Semoga suka dan memuaskan!

Lah Kai kenapa? Mau ngebunuh siapa? Tenang aja, istilah membunuh disini bukan membunuh sampai mati kok. Tapi membunuh dalam artian bahwa Kai akan menghancurkan orang itu dengan basketnya.

Hehehehe XDD

Udah segitu saja ^^

.

Terimakasih buat kalian semua yang bersedia membaca dan menunggu fanfict ini ^^

THANK'S FOR FOLLOWING. FOLLOWERS & RIVIEW ^^

SEE YOU NEXT CHAPTER !

ARIGATOU

AND

SARANGHAE 3