Sakura keluar dari dalam kelas setelah ia menghampiri Ino untuk mengajaknya pulang. Ternyata Ino dijemput oleh teman kecilnya yang ia ceritakan waktu itu, dan Sakura harus pulang sendirian. Astaga, ia lupa kalau ia kerja paruh waktu di toko rajut. Sepertinya ia harus pergi ke mall sekarang.
Gadis itu berjalan menuju ruang loker untuk mengambil beberapa barang. Ketika ia sampai di depan barisan lokernya, mata hijau gadis itu memicing saat ada secarik kertas yang menempel di sana. Dengan gerakan lambat, ia menarik kertas itu dan mulai membacanya.
Mencari pertolongan, Haruno sialan?
Lihat saja. Kau pantas menerima yang lebih lagi dari ini.
Aku tidak segan-segan untuk menggunakan cara kasar, anak kecil.
Sakura berdecak pelan, meremas kertas itu dan melemparnya ke sembarang arah. Dengan cepat ia mengambil barang-barang yang diperlukannya dan keluar dari ruangan loker.
Kakinya melangkah lurus sampai akhirnya berhenti di depan motornya yang terparkir paling ujung, karena ia adalah siswa yang datang paling pagi di sekolah. Setelah memakai jaket dan helm, ia segera melajukan motornya menuju tempat kerja.
Ketika Sakura membuka pintu tempat ia bekerja, ia langsung disambut oleh senyuman hangat––hangat sekali––oleh Naruto yang sedang mengajari seorang anak kecil cara merajut topi bayi. Sakura memberikan balasan senyuman yang ditujukan pada anak kecil itu, lalu segera menuju ke belakang untuk berganti baju.
"Hei," sapa Temari, membuat Sakura menoleh dan tersenyum. "Kau sudah pulang sekolah?"
"Tentu saja, memangnya aku harus pulang jam berapa?" gurau Sakura, mengeluarkan bajunya dari tas dan berhenti untuk memandang Temari sekilas. "Apakah kau sudah menyelesaikan pesanan besar itu?"
Temari menggeleng. "Belum. Tapi aku bisa melakukannya, kau tidak perlu khawatir."
"Aku mengerti."
Sakura masuk ke dalam ruang ganti dan mengganti pakaiannya dengan cepat, lalu kembali ke ruang depan untuk melihat-lihat keadaan toko. Ia membawa sweater Kakashi yang sedang di kerjakannya agar bisa ia lanjutkan disini. Terlihat Naruto yang sedang bergurau ke anak laki-laki di depannya.
"Bukankah lebih baik kalau kau menyelesaikan topi terlebih dahulu?" tanya Naruto tiba-tiba yang entah kapan sudah berada di belakangnya. "Menurutku kalau kita menyelesaikan yang besar lebih awal daripada yang kecil, hasilnya bisa timpang."
Sakura mengerutkan alisnya. "Begitu?" tanyanya bingung, lalu segera meletakkan sweater yang tadi ingin ia selesaikan. "Baiklah, aku akan menyelesaikan topi dulu kalau begitu."
"Wah, tumben sekali kau mendengarkan perkataanku. Sudah mulai menyukaiku, eh?" tanya Naruto, yang berhasil membuat Sakura mendengus kesal ke arah pemuda itu. "Sudah terlambat, Sakura-chan. Hatiku sudah bukan untukmu lagi. Kau harus mencari pria lain untuk bisa kau jadikan tiang penyangga."
"Uh, aku sedih sekali." Sindir Sakura kesal, lalu menggeser tubuhnya dengan maksud agar Naruto angkat kaki dari sana.
Tapi aku tidak tahu... Kakashi sensei menginginkan topi warna apa, pikir Sakura, tiba-tiba teringat. Gadis itu menggeram pelan, lalu segera berjalan ke arah Temari yang sedang asyik memainkan ponselnya di belakang mesin kasir.
"Temari," panggil Sakura, membuatnya menoleh. "Saat itu, Kakashi sensei memesan topi warna apa?"
Temari mengerutkan keningnya. "Gurumu itu?" tanyanya memastikan. "Hitam."
"Kau yakin itu bukan untuk sweater-nya?"
Temari lalu menepuk keningnya. "Astaga, kau benar! Hitam untuk warna sweater-nya... ah, tidak, Sakura. Hitam itu untuk warna sarung tangannya. Dan... aku tidak merasa dia memesan warna khusus untuk topi dan sweater-nya." Ujar Temari, mencari-cari catatan yang diatasnamakan oleh Kakashi. "Ini dia. Benar, tidak ada catatan khusus untuk warna kedua benda itu. Kau bisa menanyakan warna apa yang dia mau atau cukup membuatkan apa adanya saja, atau samakan dengan warna sweater."
"Abu-abu juga? Kalau nanti dia menolak warnanya bagaimana?" tanya Sakura ragu.
"Tidak apa-apa, buatkan saja yang baru dan kita dapat menjual barang itu di akhir tahun nanti." Ujar Temari, lalu kembali mengambil ponselnya dan mengacuhkan Sakura. "Sudahlah. Pergi sana."
.
.
Sakura keluar dari dalam toko rajut. Waktu sudah cukup larut sekarang, dan ia harus segera pulang. Salah satu keuntungan mendapat detensi adalah kau tidak perlu mengerjakan tugas. Sakura tersenyum memikirkannya. Setidaknya hari ini dia bisa tidur dengan tenang hari ini tanpa memikirkan tugas sama sekali.
Kakinya melambat ketika ia melihat sosok Kakashi di sebuah kedai kopi. Kakashi sedang duduk disana, terpaku pada laptop hitamnya dan kacamata yang bertengger di hidungnya––yang tidak pernah Sakura lihat sebelumnya––dengan dua gelas kopi yang berada di atas meja.
Sakura baru saja memutuskan untuk berlalu ketika Kakashi mengangkatnya. Gadis itu tertangkap basah.
Kakashi tersenyum dari sana, dan tangannya melambai untuk memanggil Sakura mendekat.
"Kesini." Ujarnya, kalau Sakura tidak salah membaca gerakan bibir guru itu.
Sakura dengan ragu berjalan masuk ke dalam kedai itu. Tangannya terulur untuk mendorong pintu kaca di depannya, dan segera saja bunyi dentingan bell dengan halus terdengar memenuhi kedai yang sepi tersebut.
"Baru pulang?" tanya Kakashi, tanpa mengangkat kepalanya dari atas laptop.
"Iya." Jawab Sakura pelan, bingung harus melakukan apa. "Apa yang sedang sensei lakukan disini? Maksudku, ini cukup larut kalau hanya untuk meminum kopi."
Kakashi tersenyum kecil, mengangkat kepalanya sebentar. "Menunggumu."
Sebuah rona kecil muncul di kedua pipi Sakura––perlahan-lahan meluas dan menjalar sehingga wajah gadis itu penuh dengan rona merah. Dengan kikuk Sakura menundukkan kepalanya dan lebih memilih untuk memandangi kedua kedua tangannya yang terbungkus sarung tangan tebal.
"Jangan salah paham," ujar Kakashi, menyadari kalau muridnya ini mulai terlihat tidak nyaman. "Aku menceritakan kasusmu pada Asuma tadi siang, dan ia bilang padaku kalau kau bisa saja di serang oleh Kara dan teman-temannya. Jadi ia memintaku untuk mengawasimu, kalau aku sempat."
"Oh, Asuma sensei yang memintamu?" gumam Sakura pelan, semoga saja nada kecewa dalam suaranya tidak terlalu kentara.
"Ya. Dengan senang hati kulakukan."
Wajah Sakura yang tadinya mulai normal kembali memerah lagi. Ia menangkap sebuah seringai kecil dari wajah Kakashi ketika gadis itu secara tidak sengaja mengangkat kepala.
Sakura menghela nafasnya, menghilangkan rasa malunya. "Aku sudah pulang sekarang."
"Betul."
"Sensei juga sudah bisa pulang, kalau begitu."
"Masih ada yang harus aku kerjakan disini."
"Kalau begitu, aku pulang." Ujar Sakura, bangkit berdiri dan membungkuk singkat ke arah gurunya itu. "Terimakasih karena sudah mau menjalankan perintah Asuma sensei dengan senang hati."
Kakashi mengangguk, tidak menyadari ada yang janggal dari nada bicara Sakura. "Kau tidak ingin kopi?"
"Tidak, terimakasih."
"Hati-hati, Sakura."
Sakura segera keluar dari kedai kopi tersebut dan berjalan ke arah parkiran motor. Ia sama sekali tidak menyangka akan bertemu Kakashi lagi di luar sekolah, apa lagi ketika tahu alasan kenapa guru itu masih berada di mall sampai selarut ini. Perlahan-lahan wajahnya mulai kembali memerah.
"Ya. Dengan senang hati kulakukan."
Sakura menggelengkan kepalanya kuat-kuat dan berhenti di depan motornya. Gadis itu segera memakai helm dan mengeluarkan motornya dari sana, bersiap untuk pulang ke rumah dan bersantai.
Ia keluar dari kawasan pusat perbelanjaan itu dan tersenyum ketika dinginnya udara menyapu wajahnya yang kusut. Beberapa orang yang belum berniat pulang tampak memenuhi berbagai toko di pinggir jalan, dan ada beberapa yang sedang sibuk di halte dengan ponsel mereka masing-masing.
Sakura memberhentikan motornya ketika lampu lalu lintas berubah menjadi merah. Beberaa pejalan kaki yang sedari tadi menunggu giliran emnyebrang segera berjalan menyebrangi garis penyebrangan.
Sakura melihat sekelilingnya, dan pandangannya terpaku pada sebuah mobil hitam sedan yang berhenti di belakangnya. Bukan kemewahan mobil itu yang membuatnya terpaku, tapi pria di sana. Pria paruh baya yang sengaja membuka jendelanya––mungkin sama seperti Sakura yang ingin menikmati dinginnya angin malam––dan rambutnya merah mudanya yang terisisr rapi.
Rambut merah muda.
"Aa.."
Sakura hanya dapat mengeluarkan suara tersebut dan pria itu segera menoleh ke arahnya. Mata mereka bertemu dan keduanya tampak kaget, namun Sakura harus segera menjalankan motornya ketika beberapabunyi klakson mulai menggila di belakangnya.
Ini aneh, pikir Sakura, sambil menggelengkan kepalanya. Bagaimana bisa ada orang lain yang berambut merah muda sepertiku? Ia sudah terlalu tua untuk mencoba tren pengubah warna rambut. Belum lagi, merah mudanya nyaris sama seperti milikku!
Sakura menelan ludahnya, memikirkan kemungkinan yang ada.
Kara bilang padanya, kalau ia bukanlah anak kandung dari orang tuanya.
Dan sekarang ia bertemu dengan pria paruh baya berambut merah muda.
.
.
Sakura keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah. Gadis itu mengusap-usap kepalanya dengan handuk untuk mengeringkan rambutnya sembari berjalan ke arah dapur. Perutnya mulai menjerit sekarang, dan sepertinya, mi instan akan cukup menyenangkan untuk menghangatkan tubuh di malam hari.
Jadi si surai merah muda mulai meraih mangkuk dan merebus air. Ketika meraih telur di kulkas, matanya menangkap sebuah kotak es krim yang berada di rak terbawah. Entah sejak kapan es krim itu ada disana, tapi Sakura memutuskan untuk mengeluarkannya.
"Tidak buruk." Gumamnya pada diri sendiri, ketika rasa dingin es krim vanilla itu menyentuh indera pengecapnya. Sakura lalu berjalan ke arah mangkuknya dan menuangkan bumbu mi instan yang ada disana ke dalam mangkuk.
Setelah menuang air dan mi instan ke dalam mangkuk, Sakura segera membawanya ke ruang tengah untuk makan. Gadis itu memanjakan dirinya di sofa yang empuk dan menyalakan televisi, mencari-cari saluran mana yang malam-malam begini berbaik hati untuk menayangkan dorama.
"Aku tidak akan mendapat tugas selama masa detensi," gumam Sakura miris, namun sedikit bersyukur. "Lebih baik aku bersenang-senang dengan membeli kaset dorama saja. Pasti akan menyenangkan."
Sakura mengunyah mi instannya dan masih mencari-cari saluran yang pas. Saat itulah, matanya secara tidak sengaja menangkap gumpalan benang wol di sudut meja. Sweater Kakashi masih belum dibuatnya, entah kapan gadis itu akan menyelesaikan pesanan gurunya. Belum lagi baju olah raga Kakashi.
Dua stel baju olah raga milik Kakashi Hatake.
"Ah, lagi-lagi si umpan tampan itu." Sakura masih berbicara pada dirinya sendiri seperti orang gila, dan memberikan nama panggilan seenaknya pada guru olahraganya sendiri. "Kapan akan kukembalikan baju-baju itu? Kalau aku tidak mengembalikannya, apa ia bisa mengajar tanpa baju-bajunya?"
Sakura menyeruput kuah mi instan perlahan dan rasa hangat menjalari tenggorokannya––turun ke lambung dan perutnya terasa hangat. Baru saja gadis itu ingin kembali mengganti-ganti channel televisi, nada dering di ponselnya terdengar.
"Kakak?" gumam Sakura ketika membaca nama yang tertera di layar. "Halo?"
"Sakura, apa kau di rumah?" terdengar suara kakaknya dari seberang sana.
"Iya. Ada apa?" tanya Sakura sedikit canggung.
Sebuah helaan nafas lega terdengar dari sana. "Syukurlah. Sekarang, pergi keluar dan bukakan pintu gerbang untukku. Kalau kau melakukannya lebih dari lima menit, aku bisa mati membeku dan kau akan dituntut."
Sakura segera melempar ponsel itu ke sembarang arah dan berlari menuju pintu. Setelah mencabut kunci dari tempatnya, gadis itu melanjutkan larinya ke arah gerbang dan matanya berbinar-binar mendapati sesosok pria di depan sana.
"Kakak!" bisiknya tertahan, namun rasa bahagianya tidak dapat dibendung lagi. "Kenapa kakak kemari? Kakak tidak bilang apa-apa padaku!"
"Tidak penting, yang penting adalah kau buka dulu gerbang ini untukku."
Seolah tersadar, Sakura segera cepat-cepat membuka gembok kunci dan mendorong gerbang tersebut. Masih belum puas melihat kakaknya yang berdiri malas di samping mobil, Sakura segera memeluknya dan baru memberikan kesempatan bagi kakaknya untuk memasukkan mobil ke garasi.
"Rumah ini tidak berubah." Ujar laki-laki itu, memandang Sakura yang sekarang sedang berjalan di depannya. "Namun kuakui kau cukup berhasil merawatnya. Tidak terlalu kotor untuk gadis yang tinggal sendirian."
Sakura tersenyum, mengunci pintu rumahnya setelah kakak laki-lakinya masuk. "Kau pikir aku akan mencoret-coret temboknya dengan krayon, hah?"
Sudah lama Sakura tidak bertemu dengan pria berambut hitam ini. Sebelum berpisah, mereka sangat dekat. Sedekat jari manis dan jari kelingking––bahkan nyaris tidak terpisahkan. Orang inilah yang menjemputnya setelah sepulang sekolah––dan rela meninggalkan kerja kelompoknya saat itu––demi menjaga Sakura agar Kara tidak mencari masalah dengannya. Dan jika setelah itu ia harus kembali ke sekolah, laki-laki itu tidak keberatan melakukannya.
Sekarang mereka tinggal di kota yang berbeda, dunia yang berbeda. Cukup canggung untuk memulai pembicaraan satu sama lain. Ditambah lagi, pria berambut merah muda tadi membuat Sakura terus bertanya-tanya, apa benar yang dikatakan Kara padanya kalau ia bukan anak kandung dari keluarganya sendiri? Apa orang di depannya ini ternyata bukan kakak laki-lakinya?
"Kau sudah membuang baju-bajuku atau belum?"
Sakura menoleh, memandang kakaknya dengan bingung. "Apa maksudmu?" tanyanya, meraih mangkuk mi instannya dan segera duduk di samping laki-laki itu. "Tentu saja belum. Kalaupun aku berpikir baju-bajumu terlalu banyak dan hanya memenuhi rumah, aku akan menjualnya. Bukan membuangnya."
"Pintar sekali." Ujar kakaknya, tertawa kecil.
Sakura tersenyum, menggigit mi instannnya. "Lau, bagaimana kabar kakak? Baik-baik saja atau tidak?"
"Jauh lebih baik saat aku melihatmu." Ujarnya jujur, membuat Sakura terkekeh geli. "Kau sendiri, bagiamana? Apakah sekolahmu menyenangkan?"
"Kira-kira seperti itu." Jawab Sakura, entah sudah berapa kali ia berbohong pada orang-orang tentang sekolahnya.
Sakura kembali memikirkan pria yang tadi dilihatnya di jalanan. Apa ia harus bertanya pada kakaknya tentang ini? Bagaimanapun juga, pasti kakaknya tahu sesuatu. Pasti kakaknya juga bingung kenapa warna rambut mereka berbeda––padahal mereka dilahirkan (katanya) dari ibu yang sama. Tidak mungkin kakaknya tidak curiga.
"Kakak."
Aku sudah memutuskan, gumam Sakura dalam hati, memantapkan diri.
"Aku..." gumam Sakura lirih, nyaris tidak terdengar. "Aku.. apakah aku adik kandungnmu?"
.
.
"Apa maksudmu? Kau lupa kalau aku seorang guru, hah?"
Kakashi membalik telur mata sapinya dengan sedikit kewalahan. Ia tidak habis pikir kenapa kakak perempuannya gemar sekali menelepon tengah malam begini. Bukannya menggunakan waktu untuk beristirahat, wanita itu malah mengganggunya dan memberikannya pertanyaan yang aneh-aneh.
"Aku tidak mungkin lupa, adikku sayang. Tapi coba kau pikirkan lagi. Kalau kau ikut situs itu, kau bisa menemukan wanita lajang dengan cepat dan menikah. Bukankah hal itu bagus?" tanya kakaknya dari seberang sana.
"Aku belum cukup tua untuk mencari pacar sendiri. Dan lagi, kalau ternyata banyak muridku yang ikut mendaftar disitus macam itu, bagaimana?" tanya Kakashi, meletakkan telurnya di atas piring. "Kau tidak tahu apa yang bisa dilakukan remaja sekarang-sekarang ini. Mereka cukup tidak terkendali."
Terdengar suara tawa dari seberang sana. Wanita menyebalkan.
"Terserah, Kakashi. Aku tidak mau tahu. Tapi, terserah saja. Kau sendiri yang menjalani hidup nelangsa dan kesepian seperti itu, 'kan?" ujarnya, membuat Kakashi ingin membanting ponselnya sekarang juga. "Aku cukup terkejut ketika menerima undangan dari Kurenai. Kukira kalian berdua akan jadi."
"Dia sama menyebalkannya denganmu. Tidak mungkin aku menikahinya." Ujar Kakashi, mengeluarkan ultimatum.
"Kau memang adik kurangajar, Kashi uban. Tapi menyedihkan, hahaha!" Kakaknya kembali tertawa kencang di seberang sana. "Lebih baik aku tidur. Kau––datanglah ke rumahku sekali-kali. Jangan terlalu sombong. Kau bukan artis, 'kan?"
Kakashi menghela nafasnya, berjalan menuju meja makan. "Ya. Aku akan datang. Kau lebih baik tidur."
Setelah mengucapkan serentetan kata-kata tersebut, Kakashi memutuskan sambungan. Ia menyandarkan punggungnya di kursi meja makannya yang cukup tinggi dan memejamkan mata. Terlalu banyak kopi, gumamnya dalam hati, sedikit menyesal juga.
Kakashi menghabiskan makan––tengah––malamnya dan segera meletakkannya di atas meja begitu saja. Ia sudah terlalu malas untuk bersih-bersih jika waktu sudah menujukkan lewat pukul sebelas malam begini. Dengan gontai, pria itu berjalan melintas flat apertemennya dan masuk ke kamar.
Sekilas ia melihat bayangannya sendiri dicermin dan tersenyum.
Tidak terurus, begitulah cibiran Kurenai padanya akhir-akhir ini. Ia memang mengalami penurunan berat badan yang cukup hebat––enam kilogram––karena terlalu pusing mengajar, mungkin?
Kakashi kali ini memutuskan untuk melepaskan stresnya sedikit. Ia meraih jaketnya dan kunci motor. Setelah mematikan semua lampu yang tidak diperlukan––hasil didikkan ibunya terbawa sampai dewasa, meskipun listrik dan air di apartemen ini ditanggung oleh pemiliknya––dengan tetap menyalakan pendingin ruangan, Kakashi membuka pintu dan menguncinya.
"Malam, Kashi." Sapa seorang ibu tua yang sepertinya baru pulang.
Kakashi tersenyum, meletakkan kuncinya ke saku. "Bibi," Kakashi menyapa balik. "Baru pulang?"
"Sayuran lebih segar di malam hari. Baru saja sampai dari pusatnya." Ujar bibi itu, sembari memutar kunci dan meraih gagang pintu. "Keluar malam? Jangan mabuk-mabukan, ya? Aku bisa repot kalau kau mengigau di depan pintu."
Kakashi terkekeh pelan. "Jangan khawatir."
Setelah berbicara beberapa lama, Kakashi menekan tombol lift dan masuk setelah ada bunyi berdenting. Ia menekan kembali tombol lantai dasar dan menyandarkan tubuhnya di dinding lift sambil menutup matanya. Entah kenapa otaknya tidak mau berhenti berpikir sekarang, dan pikirannya selalu melayang ke satu hal.
Kara Tamada.
Ada satu hal yang Kakashi menjanggal setiap Kakashi melihatnya––lebih tepatnya melihat mata anak itu. Pernah sekali saat ia akan mengambil nilai berenang, ia tidak sengaja melihat Kara yang sedang tidak memakai softlens biru yang biasanya ia kenakan. Dan saat itu ia langsung tertegun.
Matanya terlihat familier.
Setelah menelusuri beberapa hal atas dasar rasa penasarannya, Kakashi mendapati sebuah fakta yang sangat membuatnya terkejut. Pantas saja ia kadang tertegun melihat Kara, atau kadang ia tidak mampu menghukum gadis itu ketika ia melakukan kesalahan.
Ia pernah melihat Kara sebelumnya. Ia pernah melihat gadis itu ketika berumur tujuh tahun, di sebuah foto kecil yang ditunjukkan seseorang padanya.
Yang ditunjukkan oleh guru yang disukainya.
Kara Tamada, putri dari Namiko Hiroto. Guru bahasa Jepang yang pernah ia sukai.
.
.
"Saku. Saku.."
Sakura menarik selimutnya lebih tinggi lagi sampai menutupi kepalanya. Sai––kakak laki-lakinya––ini memang sangat ia rindukan, tapi ia tidak menyangka Sai akan bisa menjadi semenyebalkan ini. Untuk apa kakaknya itu berusaha untuk membangunkannya tengah malam begini?
"Saku... temani aku minum sake..."
Sakura menggeram pelan, mencengkram tangan Sai dengan kesal. "Diam. Aku ingin tidur."
Sai berdecak pelan, segera menarik selimut Sakura dan melempar selimut itu dengan kesal. "Sakura Haruno, adik perempuanku yang manis dan berambut semanis permen kapas. Aku sedang lelah sekali dan butuh pelampiasan untuk rasa lelahku. Kalau kau ingin menemaniku, aku akan mengantarmu besok sekolah."
"Kau... lebih menyebalkan. Sai jelek."
"Kau tidak memanggilku nii?!" desis Sai kesal, segera menarik tangan Sakura dan memasaknya untuk tegak. "Tidak sopan! Hukumannya sekarang, temani aku minum sake. Wajahmu tidak terlalu muda untuk anak berumur tujuh belas tahun, tidak akan ada yang meminta kartu pelajarmu selama kau tidak minum. Aku jauh-jauh datang dari Hokkaido untuk bertemu denganmu dan melepaskan rasa lelahku, dan kau menolakku begitu saja?!"
Terkutuklah nii, umpat Sakura dalam hati, memukul punggung Sai dan akhirnya bangun.
Sakura segera mencuci mukanya sementara Sai dengan girang bersiul sambil mencari-cari kunci mobilnya yang entah dimana. Setelah merasa dirinya tidak terlalu menyeramkan lagi sekarang––lingkaran hitamnya sudah melebihi batas normal––dan rona mulai menjalari wajahnya, Sakura meraih jaket yang biasa dia pakai dan muncul di hadapan Sai.
"Ayo, Sakura manis. Temani aku minum sake."
"Nii akan mati kalau tidak pulang lebih dari jam satu. Aku bersekolah besok." Gumam Sakura tidak jelas dengan maksud memperingati. Walau sudah mencuci wajahnya, namun rasa kantuk masih menyergapnya dengan kuat. Dengan nyawa yang masih belum terkumpul seutuhnya, Sakura berjalan terkantuk-kantuk mengikuti Sai.
Mereka masuk ke dalam mobil––tepatnya Sai saja, karena Sakura harus turun dulu untuk membuka dan mengunci pagar––lalu melaju ke arah pertengahan kota. Entah Sai berkendara kemana. Ia hanya berharap kakaknya belum lupa seluk beluk Tokyo dan dengan sok tahu mencari kedai sake yang mungkin saja ada disana.
"Sakura."
Sakura menghentikan aktivitasnya mengecek ponsel ketika mendengar suara berat Sai. Ia menolehkan kepala dengan gerakan lambat, tapi ternyata laki-laki itu sedang serius menyetir dan kedua matanya lurus menatap jalan.
"Mengenai pembicaraan itu," gumamnya, membelokkan mobil ke arah kiri. "Kau, adik kandungku atau bukan, adalah perempuan yang sangat penting bagiku dan sangat kusayangi."
.
.
nonono tunggu dulu
cinta jangan buru-buru
jangan buru-buru ya kakashi, sakura. kalian guru dan murid loh. love story-nya harus santai supaya, sst... gak ketauan!
makasih banyak ya buat kalian yang review/fav/follow. wah, itu berarti banyak sekali buat aku.
tiada kesan tanpa kehadiranmu.
TBC ASAP!
