Catatan Author:

Akhirnya Update juga! Maaf kalau nunggu lama!

Hahahaha.. Banyak yang ngira Natsume bakal mati, padahal gak mungkin Aline tega.. Aline 'kan Natsume Lover paling setia..*dibacok Fans Natsume*. Lagian kalo Natsume beneran mati, berarti genre-nya harus diganti menjadi Horor/Mistery/Angst...de..el..el

Oya, makasih juga buat yang udah RnR chapter sebelumnya..! (NaruEls, Rihiko Hazuki-chan, So-Chand Luph pLend, awlia, Ran Ishibazaki, aLmaa, dan CRyMson LyL4c, dll).

okey deh basa-basinya! langsung aja... ini adalah chapter yang diawali dan diakhiri dengan Natsume's POV.. Check it Out! Enjoy!^^

Disclaimer: Tachibana Higuchi-sensei

You're Not Natsume

Chapter 4

'The Darkness'

Gelap. Hitam, kondisi dimana tak ada sedikitpun cahaya. Kenapa semua tampak hitam? Apakah aku tak pantas mendapatkan sebuah cahaya dan warna? Diam, sunyi, dan dingin. Kini aku sadar, hitam adalah kegelapan yang tak berujung... dan aku berada di dalamnya.

"Hai, Apakah itu kau?" Sebuah suara menyeruak di sekelilingku dan menggema teratur. Aku hanya bergidik mendengarnya.

"Siapa itu?" kataku pelan, mencoba mencari asal suara dengan menoleh kanan kiri. Tapi bahkan aku tak bisa melihat suatu apapun. Lalu aku menunggu detik-detik berikutnya untuk mendengar suara itu datang, tapi mungkin itu hanya khayalan palsu.

Tiba-tiba sebuah cahaya mulai berpendar sedikit demi sedikit dari ujung penglihatanku. Aku mencoba meraihnya, namun cahaya redup itu hilang.. Bak harapan yang sirna seketika...

Padahal aku berharap aku akan menemukan setitik cahaya, tapi lagi-lagi aku hanya dalam kegelapan yang sempurna...

xxXxx

10 hari kemudian...

Natsume's POV

Aku tak bisa merasakan apa-apa. Tubuhku kaku, tapi sepertinya aku masih punya harapan untuk membuka mata, meski berat.

Aku merasa aku tak lagi berada dalam ambang kematian.

Tak pernah aku merasa membuka mata begitu berat. Lebih baik kau suruh aku untuk mengangkat barbel dua kali tubuhku. Tapi apa daya, aku harus membuka mata, jika tidak aku akan berada dalam keadaan seperti ini selamanya, selamanya…

Akhirnya aku berhasil membuka mataku pelan-pelan. Aku merasa seperti terlahir kembali.

Hal pertama yang aku rasa adalah aku terbaring lemah dengan selang oksigen dan infus yang bermuara ke tubuhku. Aku sadar aku sekarang berada dalam ruangan di rumah sakit Alice Academy karena aku telah hapal seluk beluk arsitektur ruangannya.

Aku menatap jam dinding didepanku, menunjukkan pukul 03.00. Ditengah kesunyian malam ini, yang terdengar hanya suara mesin penghitung frekuensi detak jantung yang aku yakin berada di samping kiriku dan suara nafas yang teratur berasal dari sebelah kananku.

Aku hendak menoleh, tetapi kepalaku serasa berat. Akhirnya aku hanya memiringkan sedikit kepalaku dan melirik kebawah.

Seorang wanita berambut brunette tertidur ditepi ranjangku. Dia duduk, memeluk erat tangan kananku, dan membenamkan wajahnya disitu.

Aku menggerakkan jemari kananku untuk menyadarkannya. Yah, hanya tangan kananku yang bisa digerakkan, mengingat anggota gerakku yang lain terbungkus gips tebal.

Dia belum tersadar. Kali ini aku menggerakkan jari-jariku lebih kuat agar dia benar-benar bangun.

Dia membuka matanya, menoleh padaku, dan menatapku tak percaya.

Mata hazzelnya terlihat lelah karena nampak kantung mata dibawahnya. Namun ia tersenyum, senyum tulus seperti baru terlepas dari beban hidup yang ia derita.

"Natsume, kau sudah sadar?" tanyanya dengan nada lembut dan rasa senang yang luar biasa. Sambil tersenyum lebar dan mata berair dia memeluk tubuhku.

"Syukurlah."

Dia memelukku dengan hangat serta sama sekali tidak menyakiti tubuhku yang kaku. Dia terasa bagai malaikat yang menjagaku saat terlelap dan tersenyum saat aku terbangun.

Aku ingin berkata padanya, tapi sulit. Pita suara ini susah untuk diajak kompromi. Aku berusaha keras dan akhirnya dengan suara samar dan terputus-putus aku mengucapkan…

"Si..a..pa..kamu?"

Yah, siapa dia? Aku sama sekali tak mengenal gadis ini. Sepanjang keseharianku di Alice Academy aku tidak mempunyai seseorang teman wanita yang begitu perhatian padaku. Bahkan aku pertama kali melihat wajah gadis polos ini..

Dia bangkit dan menatap dalam mata crimsonku. "Ini aku... Mikan."

Mikan? Baru kali ini aku mendengar nama seaneh itu.

"Je..jeruk?" Aku balik bertanya padanya dengan suara serak.

"Natsume, jangan bercanda. Ini tidak lucu," katanya kemudian.

Aku hanya bisa menampakkan ekspresi bertanya-tanya padanya.

"Natsume… kau..? Kau benar-benar tidak ingat aku?" tanyanya lagi. Seolah dia meragukan pendengarannya sendiri.

Aku mengangguk pelan.

"Ini aku. Mikan. Partnermu! Ayo sadarlah!" dia berkata histeris dan mengguncangkan bahuku dengan wajah seolah berkata 'Cobalah Ingat aku!'

Aku mencoba mengingat, mengorek memory dalam otakku. Tapi aku sama sekali tak ingat. Hal terakhir yang aku alami adalah aku terluka saat mendapat misi satu tahun lalu dari Persona hingga aku masuk rumah sakit ini.

Semakin aku menekan otakku untuk berpikir, aku merasa tersiksa dan rasa sakit tiba-tiba menyerang saraf-saraf di dalam kepalaku.

"Aargh..!" aku menjerit kesakitan. Sakitnya terasa amat sangat.

"Natsume?" gadis itu nampak panik. Dia cepat-cepat memencet tombol merah pada samping ranjangku.

"Oh, tidak. Ada apa denganmu, Natsume?" dia mencoba menenangkanku, tapi itu tak akan berhasil.

"Natsume, maafkan aku..! Jangan mencoba mengingat lagi!" dia histeris dan sangat panik dengan wajah amat pucat. Aku tetap menjerit kesakitan.

Dia berlari menuju keluar, aku yakin ia hendak memanggil suster untuk menenangkanku.. Tapi selang beberapa detik kemudian sebelum ia keluar, terdengar langkah kaki yang tergopoh-gopoh..

Beberapa orang memasuki ruangan..

Dua orang suster dan dibelakangnya tampak Persona, Nobara, Rui, Hayate, dan Hajime.

Wanita bernama Mikan itu terkejut.

"Kenapa kau disini?" tanya Persona terkejut melihat kehadiran gadis itu, sementara suster menghampiriku dan menyuntikan cairan kedalam infus.

"A, aku.." Mikan tampak pucat.

"Lagi-lagi kau menyelinap masuk! Rui dan Hayate, usir dia!" Persona tampak murka.

Dengan cepat Rui dan Hayate menyeretnya, dia meronta, tapi tak cukup kekuatannya untuk melepaskan tangan-tangan Rui dan Hayate.

"Mi, Mikan-chan." Nobara hendak menolong, tapi entah kenapa Persona menatapnya dengan tajam. Akhirnya Nobara hanya berdiam diri melihat pemandangan didepannya.

"Tidak... Biarkan aku masuk!" perintah Mikan. Wajahnya yang tampak cekung itu menangis, lalu dengan pasrah ia terseret sambil menahan kesedihan yang sangat jelas menyebar dari hatinya..

Dia menatapku sebelum benar-benar ia keluar dari ruangan ini. Tatapan yang menyedihkan. Lalu ia menghilang. Menghilang dibalik tembok.

Obat yang diberi suster telah berhasil mengenaiku. Aku terlelap dengan membawa kebingungan dalam hati...

End of Natsume's POV

xxXxx

Normal's POV

Dia terduduk lesu dengan pandangan kosong sambil memeluk lututnya. Matahari sudah beranjak tinggi, tapi dari tadi ia hanya menatap pintu ruangan tempat Natsume dirawat dengan melamun. Entah apa yang ia pikirkan. Ia hanya memandanginya.

Dua orang berseragam Alice Academy menghampirinya.

"Mikan? Lagi-lagi kau menyelinap malam-malam kemari?" kata wanita berambut pendek. Mikan hanya diam tak bergerak mendengar temannya itu berkata.

"Pak Narumi menanyaimu kenapa tak masuk sekolah, ternyata kau disini. Dan kau tampak pucat, Sakura." kata Seorang lagi disampingnya. Seorang laki-laki blonde. Wajahnya khawatir, tak kalah khawatir dari si Rambut pendek.

Melihat Mikan yang tak bereaksi, mereka menyeret tubuhnya.

"Ayo, lebih baik kau pulang," kata mereka nyaris berbarengan.

"Tidak! Hotaru.. Luca.. Natsume sudah sadar. Aku mau disini!" Mikan berkata dengan pandangan masih kosong.

"A, apa? Dia sudah sadar?" tanya Luca seolah tak percaya.

"Kenapa kau tidak masuk?" sambung Hotaru.

"A, ada mereka.. melarang masuk," Mikan terbata-bata. Wajahnya makin lama makin menyedihkan. Lalu ia ambruk.

"Sa, Sakura!" Luca mulai panik.

Mereka berdua lebih membawa Mikan ke asrama dari pada di rumah sakit karena mereka tidak mau Mikan menyelinap lagi ke ruangan Natsume. Karena ulahnya itu, Mikan menyiksa dirinya sendiri, dan ia telah mengulanginya selama 10 hari terakhir. Semua orang yang tahu pasti mengira ini semua penyebabnya adalah rasa bersalah Mikan karena tidak bisa menolong Natsume dalam kejadian waktu piknik itu. Selain itu, banyak pula yang menyalahkannya dan mengira ia sengaja menjatuhkan Natsume. Ia terlihat sungguh depresi.

Keesokan harinya...

"Kasihan dia," gumam Luca melihat wajah orang yang dicintainya itu terbaring lemas dengan wajah menyedihkan. Sejak kemarin Mikan tidak sadarkan diri. Setelah diperiksa ternyata ia hanya kurang tidur dan kelelahan.

"Bodohnya Mikan. Dia hanya menyiksa dirinya sendiri. Semua yang dia lakukan agak berlebihan," sambung Hotaru sambil mengusap rambut Mikan.

"Natsume memang sudah sadar," kata Luca kemudian.

"Apa kau telah kesana?"

"Sudah, tapi sebelum benar-benar menjenguknya aku diusir," Luca menerawang kejadian kemarin sore.

"Diusir?" tanya Permy, KoKo, dan Tsubasa berbarengan. Mereka tiba-tiba menyelonong masuk ke kamar Mikan. Sontak Hotaru dan Luca kaget.

"I, iya," jawab Luca.

"Tapi kenapa?" tanya Permy.

"Aku tidak tahu, tapi Natsume hilang ingatan."

"Hah? Amnesia maksudnya? Benarkah?" tanya Tsubasa dengan wajah tak percaya.

"Aku bertanya pada suster yang merawatnya dan ia berkata seperti itu. Entah benar atau tidak, aku tidak tahu."

"Aku tidak percaya!" Permy berapi-api.

"Aku pun tidak percaya. Semoga saja itu gak benar, tapi perasaanku gak enak," sambung Koko.

Mereka semua terdiam dan tampak berpikir kecuali Luca.

"Eh, tunggu.. Si, siapa yang mengusirmu dari ruangan Natsume?" tanya Tsubasa pada Luca.

"Orang-orang Dangerous Ability Class!" jawab Luca tegas.

"Hah? Kenapa mereka melakukan itu?" Tsubasa mulai naik darah dengan suara agak keras sehingga Mikan terbangun.

"A, ada apa ini?" Dengan wajah kusut Mikan mengucek matanya yang sakit oleh sinar matahari dari jendela.

"Mikan, kau sudah sadar?" Hotaru memeluk tubuh sahabatnya itu.

"Aku merasa pusing," kata Mikan sambil memegangi keningnya.

"Dari kemarin kau tidak makan, pantas jadi begini," Hotaru mengetuk-ketukkan jari telunjuknya pada Kening Mikan.

"Lebih baik sekarang kita biarkan Mikan memulihkan kondisinya. Mungkin besok kita akan membicarakan ini lagi," kata Luca yang prihatin dengan keadaan Mikan.

"Yah, kau benar, Luca. Dan untuk Mikan, kau jangan depresi lagi! Itu membuat kami semua khawatir," Tsubasa tersenyum pada Mikan dan kemudian keluar dari kamar Mikan bersama Koko, Permy, dan Luca. Dia terlihat sedang seperti memikirkan sesuatu.

"Baiklah, Mikan. Sekarang makan ini!" Hotaru menjejali Mikan obat-obat yang ia dapat dari Subaru Imai.

xxXxx

Keesokan harinya lagi..

"Mikan? Kau sudah sehat?" tanya Iinchou menghampiri Mikan yang mulai memasuki ruangan kelas bersama Hotaru.

"Yup. Maaf ya membuat kalian semua khawatir," kata Mikan sambil tersenyum.

"Awas kalau kau lakukan itu lagi! Aku sih gak bakal khawatir, tapi melihat wajah teman-teman semua yang khawatir membuat aku jadi sebal," Permy melipat kedua tangannya didada dan terlihat jelas kalau dia memang khawatir dengan Mikan walau kata-katanya berbeda.

"Hehe.." Mikan meringis.

"Kenapa kau meringis seperti itu?" tanya Permy sebal.

"Aku tahu kau khawatir sekali, kalau tidak kau tak mungkin menjengukku kemarin," jawab Mikan.

"A, aku cuma mengikuti Koko dan Kak Tsubasa," wajah Permy merah karena ketahuan bo'ongnya.

"Haha... Jelas kau bohong. Aku bisa membaca pikiranmu Lho.." Koko mulai menggoda Permy.

"Awas kau, Mind reader sialan!" Permy mengejar Koko dengan aura mematikan.

"Kurasa kelas kembali normal," kata Anna dan Nonoko pada Mikan dan Hotaru.

"Yah, kalian benar," balas Hotaru, "Tak ada Mikan membuatku bosan."

"Ho, Hotaru." Mikan memeluk Hotaru dengan puppy eyes.

Tiba-tiba kelas menjadi diam, beberapa orang memasukki ruangan kelas dan itu mengejutkan sebagian murid. Yah, yang memasukki kelas adalah Natsume. Ia duduk di kursi roda dengan didorong oleh Luna dan Yo-chan.

"Kau sepertinya sangat senang, Mikan?" tanya Luna dengan ekspresi menjengkelkan.

Mikan merasa aneh. Senyum yang semula mulai ia tunjukkan kini hilang.

"Yeah, bagi orang yang membuat Natsume cacat seharusnya sekarang merasa menyesal, tapi sepertinya tidak dengan kau!" lagi-lagi ucapan Luna yang tajam membuat Mikan sakit hati.

Sementara Luna mengeluarkan kata-kata pedasnya, Natsume hanya duduk dikursi roda tanpa ekspresi.

"Diam kau, Luna sialan!" ejek Permy.

"Ho, mencoba membela si Bodoh itu?"

"Tidak! Dari awal aku memang membenci kau!"

Dan.. dimulailah adu mulut antara Permy dan Luna...

PLok..Plok..! Narumi menepuk tangannya, membuat kelas jadi hening sementara.

"Baiklah, semuanya.. Pelajaran Bahasa Jepang dimulai. Semuanya duduk di tempat masing-masing," katanya. Narumi sedikit kaget dengan kehadiran Mikan dan Natsume dalam kelas, tapi ia membiarkannya. Dia tahu jika mereka bisa menyelesaikan masalahnya sendiri...

Jam pulang sekolah...

Mikan berjalan lesu dan sempoyongan. Tak diperhatikannya Hotaru, Luca, Permy, Iincho, Koko, dan Kitsuneme sedang memandangi dirinya prihatin.

"Sudahlah, Mikan. Mungkin Natsume dan Yo-chan cuma terkena Soul Sucking Alice-nya Luna," kata Luca santai.

"Yah, aku juga yakin apa yang dikatakan Luca," sambung Permy.

"Terima kasih teman-teman. Tapi bukan itu yang sedang aku pikirkan," jawab Mikan.

"Lalu apa?" tanya Kitsuneme heran.

"Aku heran kenapa Persona melarang kita mendekati Natsume?" tanya Mikan sambil menggaruk-garuk kepalanya.

"Aku tahu jawabannya," Tsubasa tiba-tiba nongol bersama Misaki dan Tonouchi.

"Senpai!" Mikan memeluk Tsubasa, Tono, dan Misaki.

"Hoo, Mikan. Kau sudah sehat?" tanya Tono dengan wajah gembira.

"Yup. Lihat ini!" Mikan mengangkat kedua tangannya untuk memperlihatkan otot-ototnya.

"Haha.. Kau masih terlihat kurus, Chibi," sambung Misaki. Dia mengusap-usap rambut Mikan.

"hehe... Oh iya, katanya Kak Tsubasa tahu tentang Persona?" Mikan memandang Tsubasa dengan penuh tanya.

"Iya," jawab Tsubasa tegas.

"Apa?"

"Aku telah berpikir semalaman. Bisa kebetulan juga kita memikirkan hal yang sama, Mikan. Aku yakin Persona melakukan itu untuk sebuah alasan," jelas Tsubasa.

"Alasan?" Hotaru mulai angkat bicara.

"Yah, bukankah Persona tak ada alasan lagi untuk memaksa Natsume melakukan misi. Kurasa Natsume mulai sekarang akan dicuci otak oleh mereka."

"Benar juga ya... Bukankah Aoi-chan sudah bebas... Cuci otak?" gumam Mikan.

"Yah, dengan Soul Sucking Alice mungkin," balas Tsubasa.

"Bukan," sela Koko tiba-tiba.

"Apa maksudmu, Mind Reader?" Tonouchi heran.

"Luna tidak memakai alice. Saat Luna mengenai seseorang alice, orang tersebut akan kosong pikirannya, tapi tidak dengan Natsume. Bukannya Natsume lupa ingatan? Dan hal terakhir yang ia ingat adalah saat ia menjalankan misi 1 tahun yang lalu.. Mudah bagi mereka mengelabuinya dengan alasan Aoi masih dalam tangan Persona," Koko menjelaskan semua yang ada dalam pikirannya, "aku membaca pikirannya tadi, selama jam pelajaran Narumi," lanjutnya.

"Hah? Kau pintar juga Koko!" seru Permy.

"Ya, tidak sepertimu," Koko membalas dengan ejekan.

"Awas kau.." Aura mematikan dari Permy mulai keluar.

"Eh, tunggu... Kalau yang dikatakan Mind Reader dan Kak Tsubasa benar, lalu apa yang akan terjadi dengan Natsume? Apa yang harus kita lakukan?" Mikan mulai cemas.

"Aku ada ide," Luca tersenyum. Dari tadi ia hanya diam, tapi ternyata ia sedang memikirkan suatu solusi.

"Apa itu Luca-pyon?" tanya Mikan.

"Bukankah masalah ini berawal dari Natsume yang jatuh masuk ke jurang?" dia bertanya dengan pertanyaan yang tak perlu dijawab.

"I, iya.. Lalu apa idemu?" Tono mulai penasaran.

Luca membisikkan sebuah Rencana kepada mereka. Sebuah rencana yang brilian.

End of Normal's POV

xxXxx

Natsume's POV

Dokter berkata kepadaku bahwa aku kehilangan ingatan. Aku mengakui itu karena ternyata ini sudah satu tahun dari hal yang aku ingat. Bukankah aneh jika aku mengingkari kalau tidak terjadi apa-apa padaku?

Semuanya terasa memang sangat amat aneh. Aku seperti berada di masa yang berbeda dengan orang-orang disekelilingku.

Aku juga merasa melewatkan sesuatu yang penting dalam hidupku. Entah kenapa aku tak bisa mengingat semua itu. Termasuk si Gadis Brunette.

Yang ada dihadapanku sekarang hanya gadis yang menyebalkan, Luna namanya. Dia mengaku padaku bahwa dialah partnerku, tapi aku merasa sesak saat mendengar hal itu.

Luna sekarang menyuapi aku makan malam dikamarku, padahal dia tahu bahwa kondisiku fisikku mulai membaik dengan Healing Alice Stone. Aku bisa menyendokkan makananku sendiri, kok!

Dia memaksa. Rasanya dia tambah centil! Padahal aku juga tidak yakin mengingat dan berteman baik dengan dia. Mana mau aku dekat-dekat dengan gadis centil macam Luna. Wueeks!

Kalau saja Persona tidak mengancamku tentang Aoi, mana sudi aku dekat-dekat dengan dia.

Oya, bagaimana dengan Aoi? Berarti sudah satu tahun dia terkurung disuatu tempat di Alice Academy ini? Aku lagi-lagi merasa bersedih dan mungkin aku akan mimpi buruk malam ini.

"Natsume aku kembali ke kamarku ya!" Kata Luna saat piring ditangannya itu kosong dari makanan.

Cih, baru saja aku mau mengusir dia!

Luna lalu ngeluyur pergi. Aku senang melihatnya keluar dari ruangan ini. Tapi begitu ia keluar, sepi merayapiku.

Tiba-tiba pertanyaan muncul dari kepalaku, 'Kenapa aku tak boleh menemui Luca? Apa yang diinginkan Persona? Tidak puaskah dia menjauhkan aku dari Aoi?'

Tapi disela-sela keheningan entah mengapa aku teringat kejadian itu...

Flash back mode:ON

12.00 siang tadi..

"Natsume!"

Seseorang memanggilku. Aku yang masih berada di kursi roda menoleh. Ternyata si Gadis Brunette.

Aku diam.

"Hosh...hosh..." dia terengah-engah karena mungkin mencariku keliling sekolah sementara aku sekarang berada di halaman yang terpencil.

"Natsume aku mencarimu kemana-mana," katanya kemudian.

Aku teringat kata-kata Luna tentang gadis ini. Luna bilang gadis inilah yang mendorongku jatuh masuk ke jurang. Aku menjadi antipati padanya.

"Mau apa kau?" aku mengeluarkan kata-kata yang ketus.

"Natsume maafkan aku," katanya dengan ekspresi memohon. Keningnya berkerut dan matanya berkaca-kaca.

Hening.

Hening.

Hening.

"Mengapa kau diam saja?" tanyanya heran.

"Aku benci padamu! Pergi sana! Kau tidak usah minta maaf karena sampai kapanpun aku tidak akan memaafkanmu!"

"A..?" air matanya menetes, keluar dari mata hazzel-nya yang bening.

"Jangan mencoba menjilat!"

Ugh, kenapa aku bisa mengeluarkan kata-kata sekejam itu? Mungkin karena gadis ini yang membuatku celaka! Memory satu tahun yang hilang itu tak bisa kembali dengan hanya kata 'maaf'!

"Baiklah. Kalau tidak mau memaafkanku ya sudah! Aku pergi..." dia menunduk, menyembunyikan wajahnya dariku. Apakah ia malu telah membuatku celaka?

Dia membalikan badannya. Dia hendak pergi. Namun ia menoleh kembali.

"Asal kau tahu saja, Natsume..." kata-katanya terhenti. Dia mulai terisak-isak lagi, "aku sudah berusaha keras memegang tanganmu.." katanya sambil melihat tangannya sendiri yang ada bekas luka gesekan. Dia meresapi kata-katanya. "Aku minta maaf kalau aku lemah.." lanjutnya lirih.

Dia lalu berlari meninggalkan aku. Aku memandangi punggungnya yang kemudian menjauh dan hilang dari pandanganku.

Rasanya sakit.

Flash back mode:OFF

End Of Natsume's POV

-to be continued-

.

.

.

.

Yah,,, selesailah chapter ini...

aku rasa kayak sinetron-sinetron masa kini ya...? Pake amnesia segala.. ck..ck.. *di timpuk sama readers*

Maaf kalau jelek.. maaf... maaf... *nangis darah...darahnya habis... tinggal tulang...is death..*

Caci-maki, saran, kritik, kata-kata gak penting (?), kelemahan Fic, penyemangat, pujian, atau pertanyaan silakan berikan pada saya..

Review Please..

Sampai berjumpa di next chapter (Aline berusaha yang terbaik buat chapter selanjutnya!)

luv,

Aline Light