Naruto fict

Desclaimer : Masashi Kishimoto

Rating : Apa aja dach.. Suka-suka Reders.. :D

Pairing : SasuSaku

Warning : Gaje tingkat akut -_-

.

.

Don't like? Don't read. . And RnR please.. ^_^

.

.


Cerita Seblumnya

Sasuke POV

Aku pulang dengan pikiran melayang. Benarkah Sakura mengingat serpihan memori-memorinya? Tapi kenapa Gaara yang diingatnya? Mengapa dia tak mengingatku lagi? Yah benar saja, aku juga hampir melupakannya dulu. Arghh.. Bingung..

Sasuke POV end.

Back to Story

1 Minggu Kemudian

"Ah.. MOS yang melelahkan.. Bagaimana menurutmu, Sakura?" tanya Ino.

"Yah. Tapi Menyenangkan. Ino, aku lihat pembagian kelas dulu yah.. Semoga kita sekelas.." izin Sakura.

"Ha'i. Kabari aku secepatnya!" teriak Ino saat Sakura semakin jauh.

Sakura menghampiri kerumunan orang banyak. Sempit, terlalu sesak. Sakura pun memutuskan untuk menunggu. Saat menunggu tanpa sengaja Sakura melihat Sasuke. Ya, semenjak MOS berlangsung, bicara dengan Sasuke pun tak pernah terjadi.

"Sa-Su-Ke-kun.." ucap Sakura dengan nada yang tak akan terdengar.

Namun ternyata, tiba-tiba Sasuke menoleh ke arah Sakura. Sakura begitu terkejut dan akhirnya memalingkan wajahnya ke arah lain menahan malu. Sasuke hanya merespon kelakuan Sakura dengan senyum tipis.

"Dasar, menyebutkan namaku tapi malah cuek." Keluh Sasuke.

"Ada apa Teme?" tanya Naruto penasaran.

"Tidak ada apa-apa, Dobe." Jawabnya.

"Ooooohhhh.."

"Hn."

"Aish.. Semenyebalkan kata 'Ooohhh' milikku, ternyata memang lebih menyebalkan saat kau mengatakan kata tak jelas itu!" keluh Naruto setengah teriak-teriak.

Sakura yang melihat tingkah Sasuke bersama sahabatnya hanya tersenyum menahan tawa. Tak lama, Sakura sadar papan pengumuman mulai sepi. Dengan memberanikan diri, Sakura mendekati papan itu. Ia melihat satu persatu tabel yang ada di sana.

"Sakura Haruno, Ino Yamanaka, kelas... X A? Yeeeeeyyy... aku sekelas sama Ino-pig.." loncat kegirangan Sakura.

Sakura baru saja akan berbalik dan menemui Ino namun..

BUK.

Sakura POV

"Ino-." Ucapku terputus saat terjatuh karena menabrak seseorang.

"Auch.." ringisku kesakitan.

"Daijoubu ka?" tanya seseorang bersuara baritone.

"S-Sasuke-kun? Ha'i.. Daijoubu Desu.." jawabku sambil menerima uluran tangan Sasuke.

"Lain kali hati-hati." Sarannya.

"Ha'i.. Arigatou.." ucapku dan langsung berlari menuju Ino.

"Jadi, bagaimana? Kita sekelas?" tanya Ino.

"Iya. Kita sekelas. XA" jelasku singkat.

"KYYYYYAAAAAA! JIDAT!" sorak Ino kegirangan yang langsung memelukku tak karuan.

"Aduh.. Ino.. S-Sakit tau!" keluhku.

"Ha'i.. Ha'i.. Gomen.." pintanya dengan senyum garingnya(?).

Aku dan Ino pun berjalan ke luar dari Aula Konoha High School. Tak jauh, ternyata Aniki sudah menunggu.

Sakura POV end.

"Sakura-chan.." panggil Sasori.

"Sasori nii-san!" ucap Sakura girang.

"Jadi bagaimana? Kalian dapat kelas apa?" tanya Sasori pada dua gadis bersahabat yang ada di depannya.

"X A" sorak mereka.

"Hahahahaha.. Kalian seperti semangat sekali. Kalau kau kelas apa, Sasuke?"

Dua gadis tersebut terkejut mendapati Sasuke dan Naruto ada di dekat mereka.

"X A" ucap Naruto dengan cengirannya.

"Sekelas eh? Wakattteiru.. Sakura-chan.. Ayo kita pulang." Ajak Sasori.

"D-Demo.. Sasori nii-san.. Watashi.."

"Hm?" Sasori mengangkat sebelah alisnya.

"Aku mau.. Aku mau jalan-jalan dulu.. Boleh?" tanya Sakura ragu.

"Baiklah. Ayo.. Ke mana?" tanya Sasori.

"Ke taman dekat rumah."

Deg

"Untuk apa ke sana, Sakura-chan?" tanya Sasori sedikit khawatir.

"A-Ano.. Aku merasa ada sesuatu yang terlupakan di sana.. jadi.. aku.."

"Aku akan menemaninya, Sasori.." ucap Sasuke.

"Bagaimana Sakura? Kau mau di temani Sasuke?" tanya Ino.

"Jika itu tidak merepotkan.. Arigatou, Sasuke-kun." Ucap Sakura.

"Baiklah, aku akan pulang, Ino. Mau ku antar pulang?" saran Sasori.

"Gomen, Sasori-san. Tapi aku akan dijemput oleh Sai. Gomennasai.." tolak Ino.

"Yosh! Sasori-san. Kau temani saja aku. Aku pasti akan membawamu ke tempat yang paaaaaaaallllliiinnngg keren untuk pacarmu, dattebayo!" ajak Naruto sambil menarik Sasori menjauh.

"Ayo, Sakura. Ino, kami pergi duluan." Pamit Sasuke.

"H-Ha'i. Jyaa.. Ne.." balas Ino.

Sakura dan Sasuke pun berjalan keluar gerbang sekolah. Sakura sedikit heran, kenapa Sasuke tidak mengendarai kendaraan. Padahal kakaknya punya mobil. Apa mungkin Sasuke sama seperti dirinya? Alias di antar dan di jemput. Mereka menuju halte bus.

"S-Sasuke-kun." Panggil Sakura ragu.

"Hn."

"K-Kau tidak di izinkan membawa kendaraan ke sekolah yah?"

"Kalau kau ku bawa naik motorku, kau bisa jantungan." Jawabnya dengan wajah datar.

"Hiieee? Kau suka ngebut?"

"Hn."

"Itu tak mengartikan suatu jawaban, Sasuke-kun."

"Hn."

'Ya ampun.. benar-benar hemat kata..' batin Sakura.

Tak lama kemudian, sebuah bus datang. Segera saja Duo S ini menaiki bus tersebut. Sakura duduk di kursi yang dekat jendela. Sedangkan Sasuke duduk di sebelahnya. Diam, hanya itu yang ada di antara mereka berdua. Tak ada bahan pemicaraan. Yang terdengar hanyalah hiruk pikuk kendaraan di jalan raya itu. Sasuke terlihat sedikit risih karena tak ada bahan pembicaraan. Setaunya, gadis yang ada didekatnya sekarang ini sangatlah cerewet. Dengan membuang ego Uchiha miliknya, dia memulai pembicaraan.

"Apa yang sedang kau pikirkan, Sakura?"

"Eh? Tidak ada.. Iya.. Tidak ada yang kupikirkan.. hehehe." Bohong Sakura.

"Aku tahu kau berbohong." Balas Sasuke.

"Eee? E-Etto.. Aku berpikir bahwa aku seperti melupakan sesuatu. Tapi setiap aku berusaha untuk mengingatnya, aku benar-benar tidak ingat." Jelasnya.

"Ehm.. Aku ingin tanya satu hal lagi."

"Nani?"

"Saat seseorang bertemu dengan orang yang tak dikenalnya, dia pasti memanggilnya dengan surfiks-san. Tapi kenapa kau memanggilku dengan surfiks-kun?" tanya Sasuke dengan wajah serius.

Deg Deg

"Eeehh? Ehm.. A-Ano.. Aku juga tak mengerti kenapa bisa seperti itu. Tapi.. Aku merasa seperti pernah bertemu denganmu sebelumnya saat testing waktu itu. Dan sifatmu seperti tak asing bagiku. Dan saat memanggilmu, entah kenapa aku malah memanggilmu seperti itu. Gomennasai. Mungkin aku tidak sopan yah?" tanya Sakura setelah penjelasannya panjang lebar.

"Tidak apa-apa.. bukan masalah. Asal jangan memanggilkan surfiks itu pada orang lain." jawab Sasuke dengan senyum tipisnya.

"A-Ap-Apa? Tidak boleh apa?" tanya Sakura.

"hn."

"Sasuke-kun baka!"

CTAAKK

"Ittai, Sas- Eh? Sasuke-kun.."

"Hm?"

"Apa memang kita pernah seperti ini?" tanya Sakura saat menyadari sesuatu.

"A-Aku merasa.. kita pernah bertengkar seperti ini, tapi di.. Arrggghh.. Aku tidak ingat.." keluh Sakura sambil memukul-mukul kepalanya.

"Jangan Sakura, hentikan. Kau tak boleh memukul kepalamu seperti itu. Kalau kau memang tak ingat. Mungkin itu hanya mimpimu saja." Cegah Sasuke.

"Eh? H-Ha'i. Sasuke-kun.. Sepertinya kita sudah sampai."

Sasuke lekas berdiri dan menarik tangan Sakura bersamanya untuk turun dari bus. Mereka menelusuri taman. Walaupun saat ini Sakura berada di taman, namun tetap saja pikirannya tak pada tempatnya.

"S-Sasuke-kun." Panggil Sakura saat mulai menyadari suatu hal.

"Hn?"

"Kenapa aku membayangkan darah saat ada di sini?"

"Hn?" Sasuke melihat sekelilingnya.

Sasuke terkejut. Pasalnya, mereka sudah berada di danau tempat awalnya Sakura akan kehilangan ingatannya. Sasuke mendekati Sakura.

"Sasuke-kun. Apa kau tahu sesuatu? Kau adik dari Itachi nii-san 'kan? Kau pasti tahu sesuatu." Jelas Sakura.

"Huh? Aku tak tau apa-apa." Jawab Sasuke.

".."

"Sakura.." panggil Sasuke.

"Ya?"

"Kau lihat di sana? Ada cafe sederhana di tengah taman. Kau mau ke sana?" tunjuk Sasuke.

"Ehm.. Boleh juga.." ajak Sakura sambil menarik tangan Sasuke.

Sakura dan Sasuke pun berjalan ke arah cafe itu. Pelanggan di sana cukup banyak mengingat ini adalah tempat satu-satunya terdekat dari taman untuk membeli makanan saat berada di taman.

Sasuke POV

Aku dan Sakura sudah tiba di cafe. Aku sengaja mengajaknya ke mari agar Sakura tak langsung mengingat kejadian yang dulu. Lagipula, ini adalah cafe favourite-ku bersama Sakura. Tapi sepertinya Sakura tak ingat.

"Sasuke-san.. Anda mau pesan apa?" tanya seorang pelayan.

"S-Sasuke-kun.. Kau kenal pelayan ini?" tanya Sakura.

"Hn. Aku pesan jus tomat dan terserah kw saja.." jawabku dingin.

"Ha'i. Sakura-san?" tanya pelayan itu lagi.

"K-Kena-.."

"Seperti biasanya saja.." jawabku.

"Ha'i.. Ha'i.. Tunggu sebentar yah.." ucap pelayan itu.

"S-Sasuke-kun.." panggil Sakura.

"Hn."

"Maksudmu seperti biasa saja apa?" tanya Sakura yang sepertinya bingung.

'Ugh.. Ayolah Sakura.. Jangan membuatku bingung menghadapi memorimu itu..' batinku.

"Dia pasti tahu kesukaanmu. Terlihat jelas dari warna rambutmu dan jam tangan yang kau pakai." Jawabku asal.

"Benarkah?" tanya Sakura sedikit ragu dengan ucapanku.

'Menyesal aku membawanya ke mari.' Batinku.

"Ha'i. Ini pesanannya. Jus tomat dan menu terserah ala Sasuke. Dan Milkshake Strawberry dan pudding dengan rasa yang sama ala Sakura. Silahkan dinikmati.." jelas pelayan cafe sambil menaruh pesanan kami.

"Arigatou, err~.. Z-Zari-san.." ucap Sakura.

'Apa? Dia ingat Zari?' batinku.

"Ha'i. Sakura-san sudah lama tak ke mari.. Dan kau ragu atas namaku yah? Ckckckck.." respon pelayan tersebut yang bernama Zari.

"Hn. Zari-san. Kau bisa kembali. Aku ada urusan dengan Sakura. Ini penting." Kataku.

"Baiklah, Sasuke-san." Ucapnya pamit.

Aku menaatap Sakura. Mata emeraldnya terlihat sendu. Apa dia mulai memikirkan sesuatu? Atau dia bersihkeras mengingat ulang memorinya yang telah lama terkubur?

"S-Sasuke-kun.." panggilnya.

"Hn."

"Apa aku memang pernah bertemu pelayan itu? Kenapa aku tau namanya? Kenapa saat.."

"Makan saja.. Tak usah berpikir yang tidak-tidak." Potongku.

"H-Ha'i.." responnya.

'Sakura. Gomen.. Aku tak ingin kau mengingat semuanya terlalu cepat. Aku membawamu ke tempat yang salah. Gomennasai, Sakura.' Batinku dan segera meminum jusku.

15 menit kemudian, kami memutuskan untuk pulang. Aku mengantar Sakura terlebih dulu karena mengingat jarak rumahnya yang sudah tak jauh dari taman. Selama perjalanan, Sakura terlihat murung. Aku tak berani menegurnya takut dia menanyaiku yang tak sanggup ku jawab secara langsung. Aku tak mau terlalu banyak berbohong padanya.

"Arigatou, Sasuke-kun." Ucap Sakura dengan senyum lembutnya.

"Sudah sampai ya? Aku tak sadar. Okey, Jaa.." ucapku.

Aku berjalan meninggalkan Sakura. Semoga setelah ini Sakura tak berpikir yang tidak-tidak lagi.

"OOOOiiiii! Otouto!" panggil seseorang yang tak asing bagiku.

Aku menoleh ke arah rumah Sakura. Aku mendapati Sakura yang menatap heran pada anikiku yang baka itu.

'Kenapa dia ada di sini?' batinku.

Aku pun terpaksa berjalan ke arah mereka berdua lagi.

"Oi.. Kau mau ke mana? Tak rindu kah kau pada anikimu ini, hn?" tanya Itachi padaku.

"Ha? Rindu? Yang ada kau yang rindu padaku, baka!" jawabku ketus.

"Hei.. Sudah-sudah.. Lebih baik masuk ke dalam.." perintah Sakura sambil mendorongku dan juga Itachi masuk ke dalam rumah.

Dengan berat hati, aku masuk ke dalam rumah berharap tak bertemu dengan ayah Sakura, Kizashi Haruno.

"Ohh.. Ternyata ada adik Itachi juga.. Silahkan masuk.." ujar orang yang paling malas kutemui.

"Otou-san.. Mood Sasuke langsung menurun jika kau menyambutnya seperti itu." Ujar Sasori yang mendukungku.

"Hahahahaha.. Memang tak berubah kau Sasuke.. Lama tak jumpa heh.." sapa paman Kizashi.

"Hn. Semoga kita tak bertemu lagi." Jawabku merotasikan mataku.

"Hahahaha.. Anak muda sekarang semakin ada-ada saja.. Bagaimana Mebuki?"

"Otou-san.." tegur Sakura.

"Heee? Anakku sendiri malah membela anak berambut pantat ayam ini?" seru paman Kizashi.

"SIAPA YANG PANTAT AYAM EH?" marahku.

"Hahahahahaha.." semua orang malah tertawa melihatku yang tiba-tiba emosi.

"Ha'i.. Ha'i.. Sasuke.. Duduklah.. Jangan marah-marah.. Ini minum.." ucap ibu Sakura, Mebuki Haruno. Sosok lain dari Sakura.

Aku menerima teh Ocha buatan ibu Sakura. Rasanya tak beda jauh dari buatan ibuku. Aku sangat menyukai teh buatan dua orang tua ini. Ku lihat Sakura yang membantu ibunya menuangkan teh untuk aniki, Sasori dan paman Kizashi, entah perasaanku saja, atau memang benar, Sakura terlihat semakin cantik.

"Hei Sasuke. Jangan melamun." Tegur Itachi yang ada di sampingku.

"Hn." Responku dan memejamkan mataku menahan malu tertangkap basah.

"Minna. Sepertinya aku mau istirahat dulu. Gomennasai." Pamit Sakura untuk beristirahat.

"Ha'i.. Istirahatlah, Sakura-chan. Kau pasti lelah. Ingat.. Besok kau harus sekolah!" ujar paman Kizashi sembari meminum teh ocha miliknya.

"Ha'i.. Konbanwa, Otou-san, Okaa-san, Saso-nii, Itachi-nii, Sasuke-kun.." pamitnya dan menuju ke kamarnya yang ada di lantai dua.

Setelah Sakura berlalu, rasanya memang seperti ada yang aneh darinya. Entah karena terlalu memikirkannya, Sasori langsung menegurku.

"Ada apa, Sasuke? Wajahmu aneh sekali.." tanyanya.

"Hn." Responku dingin dan langsung beranjak dari dudukku.

"Hei.. Mau ke mana kau pantat ayam?" tanya Paman Kizashi.

"Sudah kubilang jangan panggil aku seperti itu paman.." tegurku dingin.

"Soal Sakura?" tebak bibi Mebuki.

Aku yang mendengar tebakan wanita paruh baya itu berbalik dengan wajah yang.. ehmm.. mungkin akan terlihat aneh karena melenceng dari sifatku yang biasanya.

"Kalau soal Sakura, dia memang harus istirahat. Tidak sengaja, tadi tangannya sedikit hangat. Mungkin dia akan demam jika tidak istirahat. Tolong biarkan dia menyendiri dulu Sasuke.." jelasnya.

"Tidak. Kalau dia sendirian, dia akan bertambah sakit." Ucapku.

Seisi ruangan diam tak ada sahutan. Aku sedikit mendengus kesal.

"Baiklah.. Aku akan pulang.. Itachi-nii san.. Aku duluan.." pamitku.

Sasuke POV END

Sasuke pun pulang sendirian. Sepeninggal Sasuke, seisi ruangan berpikir keras maksud dari kata-kata Sasuke. Sasori yang sepertinya sedikit mengerti akhirnya memutuskan untuk pergi ke kamar Sakura.

Tok tok tok.

"Masuklah.." jawab Sakura dari dalam kamarnya.

"Sakura.. Kau baik-baik saja?" tanya Sasori dengan wajahnya yang khawatir.

"Eh? Kenapa bertanya seperti itu, nii-san? Aku kan baik-baik sa-.." ucap Sakura terpotong saat Sasori memegang dahi lebarnya(?).

"Nii-san.."

"Kenapa tidak bilang saja kalau kau sedang tidak sehat? Kenapa tidak langsung beristirahat?" tanya Sasori beruntun.

"Eh? Nii-san khawatir eh? Hehehehehe.. Aku baru saja habis mengganti pakaianku dan membereskan buku-bukuku. Setelah ini aku akan istirahat kok, Nii-san.." jelas Sakura dengan polosnya.

Sasori yang melihat tingkah adik angkatnya yang begitu polos itu sedikit lega. Sasori menarik tangan Sakura untuk berdiri dari tempatnya. Membmbing Sakura ke tempat tidurnya, membaringkannya dan menyelimutinya.

"Nii-san?" ucap Sakura yang merasa terlalu dimanja.

"Istirahat saja.. Aku yang akan membereskan semuanya untukmu. Aku juga akan menemanimu di sini. Itu amanat Sasuke." Jelas Sasori yang langsung beranjak.

"Sas-Sasuke-kun?"

"Hn. Istirahat saja." Perintah Sasori.

Sakura yang sudah diperintah seperti itu akhirnya mencoba untuk tidur. Namun sayangnya, matanya sulit sekali untuk terpejam. Sudah berapa kali Sakura membolak-balikkan tubuhnya di atas tempat tidurnya. Sasori yang sudah selesai membereskan urusan Sakura akhirnya menyadari kejanggalan itu. Sakura pun bangun dan terduduk di atas tempat tidurnya.

"Ada apa, Sakura?" tanya Sasori.

"Aku.. tidak bisa tidur.. Sesuatu yang aneh terus mencoba untuk kupikirkan terus menerus. Aku tidak tahu apa itu, tapi.. aku sangat ingin tahu." Jelas Sakura.

"Hm? Seperti apa itu?" tanya Sasori.

"Ehm.. yang terlintas dipikiranku adalah... Air, merah, rumput, dan.."

"Dan apa?" desak Sasori.

"Tanganku yang berlumuran darah." Ucap Sakura.

Sasori yang mendengar itu terkejut. Sejak kapan memori-memori ini kembali dari masa lalu Sakura? Yah.. Tak ada yang tahu.

"Apakah sesuatu pernah terjdi padaku, Nii-san?" tanya Sakura dengan pandangan mata yang cukup untuk menuntut jawaban dari sang Akasuna Sasori.

Hening. Itulah yang terjadi di kamar soft pink Sakura. Dua orang kakak beradik yang tak sedarah daging ini diam tanpa kata. Masing-masing bergelyut dengan pemikirannya.

"Sakura.. Sebaiknya kau istirahat saja. Aku janji suatu hari nanti, kau akan mengetahui itu walau itu bukan langsung dariku. Jadi, beristirahatlah, Sakura." Jelas Sasori sambil mengulas senyum di bibirnya.

Sakura pun menuruti perkataan aniki-nya itu.

"Nii-san.. Tapi apa aku boleh tahu siapa orang itu?" tanya Sakura sebelum ia tertidur.

"Dia adalah orang yang selalu mencoba untuk menjagamu, Sakura." Jelas Sasori yang penuh tanda tanya.

Sakura merasa cukup puas dengan jawaban dari sang kakak. Saat ini, Sakura hanya perlu menunggu dan menunggu. Orang yang dapat mmemberitahunya tentang seuatu kejadian yang lalu. Kejadian yang sangat sulit untuk diingatnya.

'Aku berharap segera bertemu orang itu' batin Sakura.

Berminggu-minggu telah berlalu. Namun Sakura tetap tak dapat mengingat masa lalunya yang entah bagaimana. Sedangkan Sasuke tetap terus berusaha untuk membuat Sakura mengingat masa lalunya walau sedikit demi sedikit tanpa menyakiti perasaannya. Karena hal tersebut, akhirnya Sasuke dan Sakura kembali akrab seperti sejak mereka masih kanak-kanak.

"Sasuke-kuuuunnn..." panggil Sakura saat melihat Sasuke dari kejauhan.

"Hn?" respon Sasuke sambil menoleh ke arah Sakura yang berlari menuju dirinya.

"Sepulang sekolah nanti aku ingin ke taman itu lagi." Ucap Sakura dengan tegas.

"Lagi?" tanya Sasuke dengan wajah yang tetap datar.

"Ha'i.. Aku ingin mengingatnya.. Sungguh-sungguh ingin mengingat semuanya." Ujar Sakura dengan semangat.

"Hn. Aku akan menemanimu nanti." Jawab Sasuke.

Teett teett..

"Baiklah.. Baru saja bel masuk kelas. Aku duluan yah ke kelas yah Sasuke.." ujar Sakura dan berlari menuju kelasnya.

'Anak itu bersemangat sekali. Tak bisakah kalau ke kelas bersama-sama saja? Dasar..' batin Sasuke.

Sasuke pun berjalan menuju kelasnya. Tanpa di sadari, seseorang mendengar perbicaraan mereka. Pemuda berambut merah dan bertato 'Ai' di dahinya, Sabaaku no Gaara.

Sepulang sekolah..

Sasuke dan Sakura akhirnya menuju taman bersama dengan menaiki sebuah bus seperti biasanya. Namun Sasuke merasa seseorang mengikuti mereka, sehingga Sasuke sedikit lebih awas selama perjalanan menuju taman. Dan tak lain tak bukan orang yang mengikuti mereka adalah Gaara. Gaara mengikuti mereka karena ingin mencari tahu apa yang ingin Sakura lakukan di taman itu. Karena taman itu adalah kenangan terpahit Sakura bersamanya.

Sesampainya di taman.

"Wah.. Taman ini memang tempat yang indah seperti biasanya.. Iya 'kan Sasuke-kun?" tanya Sakura dengan wajahnya yang menggemaskan.

"Hn. Terserah kau saja" jawab Sasuke dengan wajah datarnya.

"Ehm.. Aku mau berkeliling dulu.. tapi, aku hanya ingin sendiri.. Kau mengerti?" tegas Sakura.

"Hn"

"Jangan Hn saja.. Kau biasanya malah mengikutiku diam-diam.." keluh Sakura.

"Hn.."

"Yah.. Baiklah.. Ku anggap itu jawaban iya.. Aku akan kembali setelah 30 menit.." terang Sakura.

Sakura pun pergi sendirian. Memang benar, selama ini saat Sakura mengatakan ingin berkeliling sendirian di taman itu, Sasuke pasti akan mengikutinya. Namun untuk kali ini, Sasuke mengizinkan Sakura sendirian. Sekali-sekali dia harus mengiyakan permintaan sahabatnya yang satu itu pikirnya.

Sakura POV

Untuk yang entah sekian berapa kalinya aku meminta pada Sasuke untuk membiarkanku berkeliling taman itu sendirian. Dan hari ini sepertinya dikabulkan. Benar-benar dikabulkan. Aku menelusuri jalan setapak yang memang disediakan unatuk dilewati para pengunjung taman.

Entah sudah berapa lama aku berjalan. Aku melirik jam tanganku.

"Ehm.. Sudah hampir 30 menit rupanya.. aku harus segera kembali sebelum Sasuke mencariku." Ucapku ketika aku akan berbalik arah.

Namun siapa sangka, aku berhenti melangkah saat ada seseorang yang membuat langkahku terhenti. Ya, Sabaaku no Gaara. Orang yang paling menyebalkan menurutku, entah karena apa..

"Sakura, aku ingin berbicara padamu.." ucapnya.

"Aku tak punya waktu untuk berbicara denganmu, Gaara." Jawabku ketus.

"Sebentar saja.. tak bisakah? Aku ini pacarmu.." katanya dengan wajah yang seakan-akan memohon.

"Apa? Pacar? Aku tak percaya.. Kau bukan pacarku Gaara.." bantahku.

"Apa aku harus memberimu bukti?" tanyanya dengan seringainya yang menurutku er~ mengerikan mungkin.

"Bukti? Aku tak butuh bukti" jawabku yang tak kalah ketus dari sebelumnya.

Sejenak kami terdiam. Angin berhembus di antara kami. Kami hanya saling menatap. Gaara menatapku dengan mata yang seakan-akan berharap. Dan hanya ku balas dengan tatapan marahku.

"Kenapa kau tak memerlukan bukti?" tanya dengan tegas.

"Karena aku sudah mengingat semuanya." Jawabku tanpa kusadari.

"Ingat? Semuanya? Tentang apa?" tanya yang sepertinya sedikit panik.

"Ingat.. Ehm, aku sudah ingat tentang kejadian di taman ini. Itu yang kau khawatirkan?" tanyaku dengan sedikit senyum kemenanganku.

"Eh? Kejadian apa? Kau ngelantur Sakura. Yang pasti kau pacarku." Ujarnya.

"Tidak. Waktu itu, di hari itu. Aku.. memutuskan hubungan kita dan kau mencari celah untuk menciumku. Namun aku mengelak hingga aku terjatuh. Benar? Sungguh memalukan" ucapku tanpa sadar dan enteng.

"T-Tidak mungkin kau ingat semua itu, Sakura.. Kau.. Kau masih pacarku." Ucapnya sambil berjalan ke arahku.

Aku masih diam di tempatku. Aku sendiri bingung kenapa dengan lancarnya aku mengingat semuanya. Apakah yang berbicara adalah diriku yang lain? Diriku yang mengingat semua kejadian itu? Diriku yang sudah lama terkubur dalam ingatanku? Aku tak tahu. Tiba-tiba sebuah cengkraman mendarat pada dua bahuku.

"Sakura. Ini hanya keputusan putus secara sepihak. Kita belum putus secara resmi! Dan kau sudah tak bisa lari dariku!" ujar Gaara dengan nada bicara yang cukup membuatku takut.

"A-Apa maksudmu? Aku sudah mengatakan putus. Apakah itu keputusan sepihak atau bukan. Yang pasti kita sudah putus, Sabaku no Gaara!" jawabku yang tak mau kalah.

Dalam hitungan detik, Gaara mendorongku hingga terjatuh. Aku hanya bisa merintih kesakitan. Dan tiba-tiba Gaara menamparku.

"Kau menyiksaku?" tanyaku dengan nada miris.

"Terserah kau mau menganggap apa.. Tapi kau! Kau lebih menyiksaku Sakura. Kau tak tau semuanya. Ku fikir kau benar-benar tahu.. Apa yang kau tahu dari semua kejadian itu hah?" gertak Gaara.

"Cukup, Gaara." Ucap seseorang.

Aku menoleh asal suara itu berasal. Aku terkejut melihat Sasuke yang saat ini menatap tajam Gaara. Aku kembali memperhaikan wajah Gaara yang saat ini sepertinya sedang marah karena kehadiran Sasuke.

"Kau tak usah ikut campur, Uchiha" ujar Gaara.

"Apa yang kau lakukan terhadap Sakura di masa lalu. Tolong lupakan itu." Ucap Sasuke tiba-tiba.

"A-Apa?" ucapku bersamaan dengan Gaara.

"Kalian. Tak seharusnya jadi begini. Dan kau Gaara. Hubunganmu dan Sakura sudah tak ada lagi." Jelas Sasuke sambil membantuku berdiri.

"K-Kenapa? Apa maksudmu hah?" tanya Gaara masih dngan emosinya.

"Karena.. Sakura adalah tunanganku." Ucap Sasuke.

"Hah?" ucap tanpa sadar.

"tidak mungkin. Sejak kapan?" tanya Gaara yang mendekati kami.

"Sejak kami masih sangat kecil. Aku sendiri baru tahu.." ujar Sasuke yang saat ini berada di belakangku.

Gaara semakin dekat denganku. Aku tak tahu harus berbuat apa. Dan kenapa Sasuke justru berada dibelakangku dan menjauh? Apa yang akan dilakukan Gaara padaku?

"M-Mau apa k-.." ucapku terputus saat aku mendapat pelukan dari Gaara.

"G-Gaara?" ucapku terkejut.

"Biarkan tetap seperti ini, Sakura. Aku menyesal meninggalkanmu waktu itu.. Aku menyesal melakukan itu padamu.. Aku menyesal melakukan semuanya.. Aku harap.. Kau bisa memaafkanku, Sakura" ujarnya sambil tetap memelukku semakin erat.

"Yah.. Aku maafkan. Bagaimanapun juga, kau adalah mantanku." Jawabku sambil membalas pelukannya sebentar.

"Hei.. Sudah selesai maaf-maafannya? Aku tunangan Sakura hanya diam berdiri seperti ini?" ucap Sasuke yang spontan membuatku melepaskan peukanku.

"Sejak kapan kau bisa bercanda seperti itu?" tanyaku.

"Sejak aku tahu kau tunanganku." Ucap Sasuke dingin tapa menatapku.

Aku menatap lekat-lekat Sasuke. Sasuke yang selalu menjagaku. Sasuke yang selalu mencoba menghiburku. Sasuke yang pernah kuhianati. Sasuke yang.. Semua bayangan ini membuatku..

"Hiks.. Hiks.."

"Eh? Sakura? Kau kenapa?" tanya dua orang lelaki yang ada di sekitarku saat ini bersamaan.

"A-Aku.. hiks.. Gomen ne, Sasuke-kun.. Hiks.." ucapku.

"Kau minta maaf karena apa? Kau tak salah apa-apa.." ucap Gaara yang mengelus kepalaku.

"Singkirkan tanganmu Gaara. Dia bicara padaku.." ucap Sasuke.

Tanpa kusadari, aku tersenyum melihat tingkah mereka namun masih tetap mengalirkan air mataku. Mungkin karena sadar aku yang tak henti-henti menangis walaupun dengan senyuman yang entah senyum bahagia atau apa. Sasuke memelukku dan di susul Gaara yang memeluk kami berdua. Entah seakan-akan emosi Gaara hilng seketika.

"Aku ingin Sasuke sebagai orang yang mengobati lukamu karenaku Sakura.." ucap Gaara.

"heh?"

"Setidaknya dia sudah memberiku kesempatan untuk berpacaran denganmu walaupun sebenarnya dan ternyata kalian sudah dalam ikatan yang serius. Terima kasih.." ucapnya.

"Kenapa kau bicara seperti itu?" tanya Sasuke.

"Aku akan berangkat ke Amerika. Aku menitipkkan Sakura padamu." Ucapnya.

Gaara pun pergi meninggalkanku dan juga Sasuke. Aku menatap Sasuke lekat-lekat.

"Jadi.. Bagaimana?" tanyaku.

"Apa yang bagaimana?" tanya Sasuke yang masih menatap kepergian Gaara.

"Hubungan.. Hubungan kita.." lanjutku.

"Sahabat." Jawabnya singkat.

"Sahabat?" ulangku.

"Yah. Aku ingin bersahabat denganmu Sakura.. Sampai waktu kita menikah. Aku hanya ingin bersahabat denganmu. Gaara, begitu menyukaimu. Aku bisa merasakannya." Jelasnya.

"Ckckckck.. Benarkah? Kau bisa menyadari hal-hal seperti itu? Haha itu tak seperti kau yang biasanya" ucapku.

"Oh ya? Tapi, aku mencintaimu, Sakura.." ucap Sasuke.

"Eh? Kau bilang kita bersahabat saja."

"Tapi aku mencintaimu, Sakura Haruno." Tegasnya.

"Yah baiklah tuan Keras Kepala.." jawabku dengan senyumku.

Kami pun pulang bersama. Aku berharap hubungan kami dan Gaara tidak terputus hanya karena jarak. Dan aku mengharapkan kehadiran Gaara di pernikahanku jika memang aku akan menikah dengan Sasuke. Dan Aku harap Sasuke bisa dengan tulus mencintaiku.. apa adanya..

'Aku mencintaimu, Sasuke..' batinku.


~~Fin~~

Akhirnya selesai juga.. Ehm... Bagian Akhir Gaje banget kayaknya.. Hahahaha..
Tapi sudahlah.. Namanya juga pemula *malah minta dimaklumin.. -_- *

RnR please.. ^_^