Halloow, minna-san!!

Jumpa lagi dengan saiia, author gaje yang selalu telat apdet... Kkke..kke..kkke... Balesan repiu kalian udah pada nangkring di inbox masing-masing..

Buat yang lagi males login atau belum punya account, ini balesan ...

Dari Ruki_ya: Baru repiu pas chappie 3 juga nggak pa-pa kok... Yang penting makasih dah mau repiu.. ^^ Tentang apa penyakit Hitsu dan siapa yang dicari Hitsu liat aja di chappie selanjutnya.. Makanya, R&R terus, yach!! *maunyaaaa....!!!*

Saiia seneng banget ternyata ada juga yang mau baca sekaligus repiu fic ini... Hhohohoo~ Sankyuu semuanya... Dan kebanyakan pada tanya Hitsu sakit apaan dan siapa orang yang dicari Hitsu.. Tenang aja, penyakit Hitsu bakal terungkap pada chappie 6—may be.. Bentar lagi, kok! Dan untuk siapa yang dicari Hitsu, kita lihat saja nanti... Kkkhu..kkhu..kkhu.. *ditimpuk reader*

Jadi, langsung ke cerita aja, ya.........

Summary:

Seberapa berharga, sih, satu detik itu? Tik. Sebentar saja dia langsung berlalu.

Tik. Satu detik pergi lagi.

Tak ada harganya.

Tapi tunggu sampai kau sadar waktumu hampir habis. Tik.

Kau ingat selama ini jarang beramal. Tik.

Kau teringat mimpi-mimpi yang tak sempat kau wujudkan. Tik.

Kau sadar tak cukup menyayangi keluarga dan teman-temanmu.

Tik. Tik. Tik.

Kau panik, takut menyia-nyiakan lebih banyak waktu lagi.

Toushiro merasa demikian ketika divonis tak akan berumur panjang. Tapi bukannya memanfaatkan waktu yang tersisa sebaik-baiknya, dia malah diam-diam pergi ke Karakura. Kedatangannya ke sana tak lain untuk balas dendam kepada orang yang dianggapnya bertanggung jawab atas semua ini. Bahkan kalau perlu mati bersama.

Saat itulah cinta datang. Memberi pengharapan, membuatnya merasakan sedikit kebahagiaan di dalam kelam hidupnya. Dan sekarang, keputusan ada di tangan Toushiro. Karena cinta dan benci tak akan pernah akur.

Warning: AU; OOC; cuma cerita dari sebuah novel yang menurut saiia bagus, jadi saiia cuma ingin kalian baca cerita ini, buat yang udah pernah baca, nggak baca fic ini nggak apa-apa kok, tapi kalo emang mau baca, silahkan...

Disclaimer:

BLEACH © Kubo Tite

THE TRUTH ABOUT FOREVER © Orizuka

Saiia?? Cuma mempublikasikan kok! T.T

Enjoy, please!!!!!

RnR!!!


Chapter #4

DON'T FALL IN LOVE WITH ME

"Ternyata, emang bener-bener aneh," kata Rukia sambil melamun.

"Hn? Siapa?" tanya Rangiku sambil clingak-clinguk. Mereka sedang berada di cafetaria menunggu jam kuliah selanjutnya.

"Si alien," ujar Rukia lagi. Rangiku langsung tersedak lemon tea-nya.

"Apalagi sekarang?" tanyanya, tertarik.

"Orangnya nggak jelas. Kadang baik, kadang aneh. Nggak bisa ditebak," cerita Rukia lagi. Rangiku mengangguk-angguk.

"Gue jadi pengen liat, deh," kata Rangiku, tampak benar-benar penasaran. "Pulang ntar gue main ke kost-an elo, ya? Udah lama juga nggak ke sana."

"Terserah aja," kata Rukia tak begitu mendengarkan, sementara Rangiku sudah bersorak girang.


Rukia men-starter motor birunya, sementara Rangiku naik untuk dibonceng. Begitu Rukia keluar dari parkiran, ia mengerem mendadak. Kepala Rangiku sampai terantuk helm Rukia.

"Kenapa, sih? Sakit, nih!" serunya, tetapi Rukia tak menjawab. Mata violet-nya menangkap sesosok cowok berambut putih seputih salju dengan sweter abu-abu dan headphone besar melingkar di lehernya, yang sedang berdiri membelakangi Rukia di depan gerbang kampus.

Toushiro sedang menyalakan iPod-nya, lalu setelah lagu terdengar, dia memasang headphone ke telinganya. Dia kemudian berbalik dan mendapati Rukia sedang menatapnya. Selama beberapa saat, mereka saling tatap sampai akhirnya Toushiro mengalihkan arah pandangnya. Toushiro sama sekali tak tahu kalau Rukia kuliah di kampus ini, Fakultas Ekonomi.

Rukia menjalankan motornya sampai ke dekat Toushiro, lalu berhenti. Rangiku yang tadinya sibuk memanggil Rukia, terdiam saat melihat sosok Toushiro. Dia menyadari bahwa itulah alien keren yang selama ini tinggal di sebelah Rukia. Rangiku sampai lupa bernapas saking senangnya.

"Ngapain elo di sini?" tanya Rukia bingung. Toushiro berusaha untuk tidak menatap Rukia. Dia sama sekali tak punya jawabannya. "Lagi nunggu seseorang?"

"Yah, begitulah," jawab Toushiro akhirnya.

"Siapa?" tanya Rangiku, membuat Toushiro mengernyit.

"Oh, dia Matsumoto Rangiku, temen gue," kata Rukia, membuat Toushiro mengangguk-angguk, sementara Rangiku nyengir lebar, mencoba tebar pesona. "Jadi, lagi nunggu siapa?" tanya Rukia lagi.

"Bukan urusan lo," kata Toushiro dingin, membuat Rukia tertegun dan cengiran Rangiku lenyap.

"Oh," ujar Rukia setelah beberapa saat. "Kalo gitu, gue duluan."

Toushiro mengangguk tanpa menatap Rukia. Rukia menancap gas dan meluncur ke jalan dengan pikiran kosong.

"Kuchiki Rukia!!!" seru Rangiku emosi membuat Rukia kaget sehingga motornya oleng.

"Apaan, sih?!" Rukia balas berseru setelah motornya kembali seimbang.

"Gue nggak setuju kalo elo sama alien itu!! Sok banget!!!" seru Rangiku membuat Rukia terdiam.

"Bukannya kemarin-kemarin lo bilang kalo dia itu cool?? Lagian siapa bilang gue mau sama dia," ujar Rukia sementara Rangiku masih terus mengoceh.

Rukia tidak mendengarkan sisa kata-kata Rangiku karena sibuk memikirkan alasan Toushiro ada di kampusnya.


Rukia menatap kosong layar komputernya. Sudah sejak dua jam lalu dia melakukan hal itu. Rukia masih teringat dengan kejadian tadi siang, saat Toushiro ada di kampusnya dan sedang menunggu seseorang. Bahkan, Toushiro tidak mau menatapnya sama sekali dan kembali bersikap seperti pertama kali dia datang ke sini.

Rukia akhirnya berbaring. Dia tidak merasa melakukan kesalahan apapun, jadi apa yang membuat Toushiro bersikap seperti itu padanya?

Rukia memutuskan membuat cokelat panas untuk menenangkan pikirannya. Toushiro benar, alasan dia datang ke sini memang bukan urusan Rukia. Rukia menghela napas sambil membuka pintu kamarnya. Saat melewati kamar Toushiro, dia melirik sedikit, dan tampaknya cowok itu tidak ada di dalam. Rukia membuang muka, lalu berderap ke dapur. Dia tak mau tahu lagi soal cowok aneh itu.


Toushiro menatap langit yang penuh bintang di atasnya. Hari ini, dia kembali pulang dengan tangan kosong. Namun, bukan itu yang memenuhi pikirannya sekarang. Dia sama sekali tidak tahu kalau kampus yang tadi didatanginya adalah kampus Rukia. Kalau saja dia tahu, dia akan lebih hati-hati supaya tidak begitu terlihat.

Toushiro menghela napas berat. Kenapa, sih, "orang itu" begitu susah dicari? Kalau sudah ketemu, Toushiro akan segera pergi dari tempat ini dan tak akan berurusan lagi dengan orang-orang di kost ini.

Baru saja Toushiro mengingat kejadian tadi siang, subjek yang dipikirkannya muncul dari pintu dengan membawa mug yang mengepul. Wajahnya tampak kaget.

Rukia menatap Toushiro yang juga menatapnya, perempuan itu bermaksud untuk pergi lagi. Rukia tidak tahu kalau Toushiro ada di sini. Tahu begitu, Rukia tidak akan naik ke atap.

"Mana buat gue?" tanya Toushiro membuat Rukia tak jadi turun. Dia berbalik dan menatap Toushiro bingung.

"Hah??"

"Itu," kata Toushiro sambil mengedikkan kepalanya ke arah mug yang dipegang Rukia. "Mana buat gue?"

"Ih, bikin sendiri sana," kata Rukia cepat, dia bingung pada sikap Toushiro yang sudah berubah lagi.

Toushiro kembali menatap langit dan menutup matanya. Rukia menatapnya ragu, lalu mendekati cowok itu dan duduk di sebelahnya. Angin semilir bertiup, menggerakkan poni Rukia ke sana ke mari.

"Gue tau, apa pun yang terjadi sama lo, itu bukan urusan gue," kata Rukia memulai pembicaraan, membuat mata teal Toushiro terbuka. "Tapi, bisa nggak kita ngobrol apa pun selain itu, kayak misalnya, apa yang lagi lo baca, udah nonton Fade to Black apa belum...."

Sudut bibir Toushiro terangkat, dia melihat punggung Rukia yang tampak kecil. Kepala cewek itu menggeleng-geleng, seolah merasa salah bicara.

"Jadi, udah nonton Fade to Black belum?" tanya Toushiro membuat Rukia menoleh dan menatapnya tak percaya. Toushiro memejamkan matanya lagi.

"Belum. Elo?" tanya Rukia balik.

"Nggak sempet," jawab Toushiro membuat Rukia mengangguk-angguk.

"Hm... di sini lagi diputer, lho. Nonton, yuk?!" Ajakan Rukia membuat mata Toushiro terbuka lagi. Tahu-tahu, Rukia menoleh, panik. "Eh, bukan, bukan! Bukannya gue mau ngajak elo date atau gimana! Cuma nggak sengaja!"

Toushiro tersenyum kecil, dia duduk dan menyalakan rokoknya. Rukia memerhatikan kepulan-kepulan asap yang dibuat Toushiro.

"Ng... cewek lo ada di kampus gue, ya?" tanya Rukia tiba-tiba, membuat Toushiro mentapnya heran. "Tadi di kampus, elo lagi nungguin cewek lo, ya?"

Toushiro mengernyit, seolah tak suka pada kata-kata Rukia.

"Oke, oke, bukan urusan gue, gue ngerti," kata Rukia cepat. "Sori."

Toushiro menatap atap-atap rumah di depannya kosong. Sejenak, tak ada yang bicara di antara mereka.

"Oke, gini aja," kata Rukia kemudian. "Berhubung kehidupan lo top secret banget, gue aja yang cerita. Gimana?"

Toushiro menatap Rukia, tak mengerti.

"Jadi, gue lahir tanggal 14 Januari di Rokungai," kata Rukia, membuat Toushiro terkekeh. "Otou-san gue orang Karakura, okaa-san orang Rokungai. Gue cuma sampai SMP di Rokungai, terus waktu SMA gue pindah ke Karakura...."

Toushiro tak berusaha menghentikan cerita Rukia. Dia hanya mendengarkan dan tak sekalipun menyela.


"Wah, hujan," kata Rukia begitu keluar dari kamarnya.

Musim memang sudah berganti. Mulai sekarang, hujan akan terus membasahi kota Karakura dan Rukia sebal karena dia tak suka naik motor menggunakan jas hujan.

Tiba-tiba, pintu kamar sebelah terbuka. Toushiro keluar dengan kaus oblong dan rambut acak-acakan. Begitu bersentuhan dengan hawa luar, dia langsung bergidik.

"Gila, dingin banget," komentarnya sambil menggosok-gosok lengannya, berusaha menghangatkan diri. Dia tidak sadar kalau di sebelahnya Rukia sedang menatapnya.

"Apa?" tanya Toushiro begitu sadar dan Rukia cuma menggeleng sambil tersenyum. Toushiro menatap cewek itu heran, dia lalu bergerak ke kamar mandi karena hasrat alamnya.

Rukia menatap geli Toushiro yang kebelet. Semalam, Rukia seperti bermimpi bisa mengobrol panjang lebar dengannya. Yah, tidak bisa dibilang mengobrol, sih, karena cuma Rukia yang bicara, tetapi itu sudah bisa disebut kemajuan.

"Eh, tunggu," gumam Rukia bingung sendiri. "Kemajuan apaan???"

Rukia mendadak terkena serangan panik. Toushiro yang sudah keluar dari kamar mandi menatapnya bingung.

"Kenapa lo?" tanyanya dan Rukia menatapnya tak percaya.

"Ya ampun, ya ampun," kata Rukia masih menatap Toushiro tak percaya. "Nggak mungkin!!"

"Apaan, sih?" tanya Toushiro kesal karena Rukia seperti hidup dalam dunianya sendiri. "Ngomong-ngomong, di muka lo ada nasinya tuh."

"Hah? Masa, sih?" kata Rukia sambil bercermin di jendela kamarnya, sementara Toushiro buru-buru masuk ke dalam kamarnya. Setelah lama berkaca dan tak menemukan satu butir pun nasi di wajahnya, Rukia baru sadar kalau dia belum sarapan dan tak mungkin ada nasi di wajahnya.

"Heeiii!!!" seru Rukia sebal ke arah pintu kamar Toushiro. Namun, setelah itu dia tersenyum dan berangkat ke kampus dengan hati riang walaupun hujan yang turun tambah deras.


Toushiro tidak pergi ke mana pun hari ini karena hujan turun dengan lebat sepanjang pagi. Sekarang, setelah langit cerah, dia sudah malas untuk menggerakkan tubuhnya. Toushiro menggapai handycam, lalu menyetel kaset yang bertuliskan "Seireitei Beach 2000" setelah sempat ragu sejenak.

Baru sedetik film itu terputar, Toushiro menutup layar handycam-nya. Ternyata, dia memang masih belum mampu menontonnya. Toushiro menatap layar handycam-nya kosong. Seharusnya dia tak pernah menonton video ini.

Toushiro tiba-tiba ingin melihat pantai. Dia ingin berteriak sekuat tenaga untuk melepaskan semua kepenatannya. Toushiro bangkit, dan bersiap-siap pergi. Tak berapa lama, dia sudah menuruni tangga dan mendapati Rukia baru memasukkan motornya ke dalam garasi. Toushiro menatap motor Rukia dan seketika mendapat ide. Rukia balas menatap Toushiro bingung.

"Gue pinjem motor lo, dong," kata Toushiro.

"Hah? Emang mau ke mana?" tanya Rukia heran.

"Udah deh, nggak usah banyak tanya," jawab Toushiro sambil mengambil helm Rukia dan membawa motornya.

"Eh!! Tunggu!! Ini motor baru!! Gue ikut!!!" seru Rukia sambil mengambil helm dari motor Renji dan melompat ke belakang Toushiro. Rukia tidak bisa membiarkan Toushiro pergi dengan motor hasil dari warisan orang tuanya.

Toushiro segera tancap gas, membuat Rukia terjengkang dan hampir jatuh.

"Mau ke mana, sih?" sahut Rukia.

"Pantai," jawab Toushiro tenang dan Rukia cuma mengangguk-angguk. Tetapi, tak lama kemudian dia tersadar.

"HEEEH??? Pantai??!" serunya membuat motor oleng. "Elo gila, ya?"

"Iya, lo kasih tau jalannya, ya," jawab Toushiro lagi, membuat Rukia semakin yakin kalau Toushiro benar-benar sakit jiwa.


Setelah menempuh perjalanan selama dua jam, mereka sampai juga di pantai Karakura. Toushiro berjalan tenang ke pantai, sementara Rukia menatap sedih motor barunya yang kepanasan karena baru diajak jalan-jalan sepanjang berkilo-kilo.

"Oi, Toushiro, tunggu!" sahut Rukia menyusul Toushiro yang tatapannya kosong. Rukia menatapnya curiga, lalu mendekap mulutnya. Lalu dia mengguncang-guncang bahu Toushiro. "Toushiro!! Lo nggak 'diundang' kappa, kan?? Toushiro, sadar!!!"

Tepat ketika Toushiro akan bicara, Rukia menamparnya sekuat tenaga, membuat pipi Toushiro terasa panas dan lehernya serasa patah.

"Apaan, sih, lo?" amuk Toushiro. Pipinya berdenyut menyakitkan.

"Hhh... Syukur, deh," kata Rukia dengan mata berkaca-kaca, lega.

"Syukur apanya!?" sahut Toushiro membuat Rukia bingung.

"Lho? Emangnya lo nggak 'diundang' ama kappa, ya?" katanya polos, membuat Toushiro gemas dan ingin menjitaknya. "Abis, lo tiba-tiba aja mau ke pantai."

Toushiro menghela napas, sambil meneruskan perjalanannya ke pantai. Saat itu karena habis hujan, laut menjadi pasang. Pantai ini tidak begitu bagus, tapi lumayan untuk menenangkan pikiran Toushiro.

"Wah, langit abis hujan cerah banget, ya," komentar Rukia saat melihat langit biru tanpa awan. "Udah lama juga gue nggak ke pantai."

Rukia meregangkan ototnya lalu merentangkan tangannya, bermaksud merasakan angin yang berhembus. Toushiro menatapnya sebentar, mengeluarkan handycam dan merekam Rukia di luar kesadarannya.

Rukia tidak sadar kalau Toushiro sedang merekamnya. Dia benar-benar senang datang ke pantai setelah lama tidak melakukannya. Dia berlari-lari ke air dan bermain kejar-kejaran dengan ombak sambil sesekali menjerit kedinginan saat kakinya terkena air.

Toushiro melepaskan matanya dari layar dan menatap Rukia yang tertawa sendiri karena ombak yang datang begitu besar sehingga membasahi rok se-lututnya.

"Toushiro! Lo ngapain? Ayo sini!" sahut Rukia membuat Toushiro tersadar. Toushiro segera mematikan handycam-nya dan mengikuti Rukia untuk turun ke air. Memang benar, airnya dingin sekali.

Toushiro menatap ke laut lepas, dia bermaksud untuk berteriak sekuat tenaga, tetapi tiba-tiba Rukia mendorongnya sekuat tenaga sampai dia tercebur. Rukia lantas tertawa lepas melihat Toushiro yang sekarang basah kuyup.

Toushiro menatap Rukia sebal, dia bangkit, bermaksud mengejar cewek itu. Rukia segera berlari menghindari Toushiro, tetapi akhirnya tertangkap. Walaupun Rukia memberi perlawanan, Toushiro berhasil menceburkan cewek itu ke air. Toushiro berganti tertawa penuh kemenangan, tapi beberapa detik kemudian, dia tersadar.

"Kenapa, Toushiro?" tanya Rukia, heran melihat Toushiro yang tiba-tiba berhenti tertawa.

"Nggak apa-apa," kata Toushiro sambil kembali ke pasir, dan terduduk di sana sementara Rukia masih bermain-main dengan ombak. Toushiro menatap Rukia kosong. "Barusan gue ngapain, sih," gumamnya, lalu tertawa miris.

Toushiro membaringkan tubuhnya di pasir yang masih lembab, mencoba memejamkan matanya. Dalam lima tahun terakhir, baru kali ini dia tertawa selepas itu. Dan bahkan dengan cewek yang baru dikenalnya. Saat pertama kali mendengar kenyataan pahit yang menimpanya, jangankan tertawa, untuk tersenyum saja rasanya sulit sekali.

"Toushiro, kok malah tidur?" tanya Rukia yang menghampirinya.

"Tolong jangan ganggu gue sebentar," kata Toushiro tanpa membuka matanya. "Gue butuh sendiri."

Benar. Rencana awalnya adalah dia datang sendirian ke pantai dan melepaskan semua kepenatannya. Tapi, kenapa cewek ini malah ikut?

"Oh, oke," kata Rukia, dia berjalan kembali ke pantai.

Entah sudah berapa lama Toushiro tertidur, saat dia terbangun, langit sudah berganti warna. Matahari sudah mau tenggelam. Toushiro duduk, melihat Rukia yang sedang berlari menyeret sesuatu yang bentuknya seperti layangan. Toushiro menatapnya heran.

"Lo ngapain?" tanya Toushiro bingung.

"Oh, udah bangun?" tanya Rukia dengan napas tersengal. "Gue lagi main layangan."

Ternyata benar, layangan. Toushiro menghela napas. Cewek satu ini memang tidak bisa diharapkan. Toushiro bangkit, lalu mengambil benang dari tangan Rukia.

"Pegang layangannya," perintah Toushiro dan Rukia segera melakukannya. "Kalo gue bilang lepas, dilepas."

Rukia mengangguk. Toushiro menghela napas lagi, lalu berkata, "Lepas."

Rukia melepas layangannya, dan tepat pada saat itu, Toushiro menarik benangnya. Dalam seketika, layangan berbentuk burung itu sudah terbang.

"Uwwaaahh!!! Hebat!!" sahut Rukia sambil bertepuk tangan girang. Toushiro meliriknya, heran kenapa cewek di sampingnya itu begitu senang melihat layangan terbang.

"Emang begini harusnya maen layangan. Gue nggak pernah liat versi lo tadi," ejek Toushiro, membuat Rukia mendelik.

"Eh, gue boleh pegang nggak?" tanya Rukia penuh harap, Toushiro menyerahkan benangnya. "Uwaaahhh!!"

Sebenarnya, Rukia agak grogi saat memegang benang layangan itu, takut layangan itu putus. Rukia tak pernah sekali pun memegang layangan yang benar-benar terbang seperti itu. Itulah sebabnya, dia memegang benangnya dengan ekstra hati-hati. Ekor layangan itu berkibar-kibar indah membuat Rukia takjub. Toushiro kembali ke pasir dan duduk sambil melihat Rukia yang masih berteriak-teriak girang seperti anak kecil. Toushiro lantas merekamnya lagi dengan handycam-nya.

Tak terasa, matahari sudah hampir tenggelam. Rukia sudah puas dengan layangannya yang terbang karena pegangannya terlepas. Sekarang, dia sedang duduk lelah di samping Toushiro yang tertidur lagi.

Rukia menatap wajah polos Toushiro yang sedang tertidur. Rukia benar-benar senang bisa menghabiskan sore bersama cowok itu seperti ini.

"Jangan ngeliatin terus," kata Toushiro tiba-tiba membuat Rukia kaget.

"Siapa juga," kata Rukia blushing + salah tingkah dan berusaha membuang pandangannya. Namun, tak berlangsung lama, karena di luar kesadarannya, dia kembali menatap Toushiro.

"Serius. Ntar lo suka sama gue," kata Toushiro lagi.

"Emangnya kenapa kalo gue suka sama lo?" tanya Rukia menantang.

"Jangan," jawab Toushiro setelah beberapa detik.

"Kenapa?" tanya Rukia lagi, membuat Toushiro menghela napas.

"Karena kita nggak punya masa depan," jawabnya tanpa membuka mata. Rukia menatap wajah itu lama, tak mengerti akan perkataannya, tetapi entah mengapa dia tak punya keinginan untuk bertanya lebih jauh. Rukia memiliki perasaan, kalaupun bertanya, jawaban Toushiro pasti akan lebih menyakitkan.


---Masih lama ---


(A/N)

Jangan tanya ama saiia gimana bisa Rukia yang kecil itu bisa ngeboncengin Rangiku pake motor, karena hal itu adalah salah satu fenomena alam *lhah??* yang sangat sulit untuk dijelaskan... *alesaannnn... bilang aja nggak bisa jelasin!!!*

Hahhay~ Aneh juga, ya, masa' chara BLEACH nonton movie.a ndiri... Mana tokoh Rukia ndiri lagi... parah~!! Hhhehe... saiia bingung mau nulis film apaan.

Ngomong-ngomong, kok setiap awal chapter selalu "menampakkan" sesi curhatnya Rukia ama Rangiku, ya??? Aneh juga.. ^^

Kerasa OOC dan GaJe nggak, sih?? Jadi bingung saiia... juga aneh, ya??

Terus, enak.a Rukia pake bahasa aku-kamu atau gue-loe, ya?? saiia masih ngerasa gimana gitu...

Maaph kalo chappie ini pendek banget... Dan maaph juga kalo saiia selalu always telat apdet... T.T

Oia, di profil saiia ada poll tentang siapa yang bakal dicari Hitsu nantinya... Sebenernya mau saiia tentukan sendiri, tetapi berhubung masih agak-agak bingung, jadi saiia minta bantuan reader sekalian... Tolong silakan di-vote, yaw!!

Mind to review, minna-san???

Yeeeiii~

Give me R... Give me E... Give me P... Give me I... Give me U...

YaHa!!!! Repiu, pliiiisz!!

*nari-nari pake pom-pom+bazooka--?--*

Karena repiu anda adalah kebahagiaan saiia!! ^^