DECLAIMER : Naruto hanyalah milik Keira Miyako *digetok Masashi-sama*, a-ano maksudku milik Masashi Kishimoto *ngelus-ngelus kepala*

PAIRING: SasuHina

Rated: T

Warning: OOC banget, Gaje, terinspirasi dari manga yang aku baca, typo bertebaran, siapkan ajah ember wat menampung muntahan anda sekalian.

::^^:: HAPPY READING ::^^::

"Pagi..." sapa seorang gadis cantik berambut indigo dan bermata lavender –yah siapa lagi kalau bukan Hinata. Seperti biasa pagi ini pun juga Hinata berangkat dengan Sasuke.

"Ne, Hinata-chan, Sasuke-kun pagi juga..." sapa balik Tenten.

"Wah, hari ini juga berangkat bareng yah?," tanya Ino.

"Umm" gumam Hinata. Sasuke yang daritadi berada di samping Hinata hanya menguap lalu berjalan menuju bangkunya.

"Hina-chan dan Sasuke-kun mesra sekali yah? Jadi iri..." ungkap Ino.

"Ne, bukannya Ino-chan sudah punya Shikamaru-kun?", tanya Hinata.

"Iya, tapi dia tak seromantis Sasuke. Huft," keluh Ino.

"Hei, syukuri apa yang ada donk. Kamu masih mending punya pacar? Nah aku? Aku belum punya pacar sama sekali nih semenjak putus dengan Shino 6 bulan yang lalu, huft..." Tenten juga mengeluh. Ya, Tenten pernah pacaran dengan Shino, temannya sejak kecil.

"Kalau gitu kamu balikan aja sama Shino, bukannya dia masih suka kamu?," tanya Ino.

"Ck, mana mungkin? Aku udah nggak suka lagi sama dia. Dia itu sukanya mainan serangga. Siapa yang gak risih coba? Huh, merepotkan," ucap Tenten lesu.

"Haha,iya ya? Dasar maniak serangga. Btw jangan copy trademark Shikamaru nanti yang punya marah," celetuk Ino.

"Haha, iya nanti Shikamaru-kun marah," timpal Hinata.

"Huh, biarin. Hm, kalau begini terus... Bisa-bisa aku nggak punya pacar sampai lulus nanti," kata Tenten lagi.

'Haha, aku juga Cuma pura-pura kok, ne? What the...Hell? pura-pura? Berarti aku nggak bakal punya pacar sampai lulus nanti donk?,' batin Hinata,pundung.

"Ck, sudah kubilang kan? Itu Cuma kepercayaan bodoh di sekolah kita. Nggak usah percaya deh..." sergah Ino.

"Iya sih, yasudahlah," kata Tenten pasrah. Ino dan Tenten terus melanjutkan pembicaraan mereka, namun tidak bagi Hinata. Hinata tengah berkutat dengan pikirannya. Berbagai pertanyaan meluncur di kepala Hinata.

"Hinata-chan...? Oi... Hinata?," teriak Ino sambil mengibaskan tangannya di depan muka Hinata.

"A-ah iya?," kata Hinata, gagap.

"Kau melamun? Kenapa melamun? Apa kau punya masalah?," tanya Ino lagi.

"Iya, kenapa dari tadi kau diam?," tumpal Tenten.

"A-ah tak apa, aku hanya sedikit pusing. Ehehe," kata Hinata sambil memaksakan tersenyum.

"Oh, tapi kamu nggak papa kan? Nggak perlu ke UKS kan?," tanya Tenten.

"Nggak kok," kata Hinata. Beberapa saat kemudian bel tanda pelajaran dimulai pun berbunyi. Seorang guru berwajah cantik dan bermata merah yang tak lain adalah Kurinai-sensei pun datang. Dia adalah guru matematika.

"Ohayau minna san," sapa Kurinai-sensei.

"Ohayou , Senseiii..." jawab sang murid serempak.

"Buka buku kalian halaman 115, kita akan masuk ke bab baru," kata Kurinai-sensei. Kemudian murid-murid pun mengikuti instruksi Kurinai-sensei. Namun, sepanjang pelajaran berlangsung Hinata tak pernah sekalipun mendengarkan Kurinai-sensei yang sedang mengajar. Di kepalanya masih terlintas banyak pertanyaan-pertanyaan yang membingungkan. Kemudian ia pandang bangku Sasuke yang berada di samping jendela.

Hinata's POV

Kepalaku masih dejejali pertanyaan yang sama dengan tadi. Aku hanya pura-pura pacaran dengan Sasuke apakah aku akan jomblo sampai lulus nanti? Tapi benar kata Ino-chan. Itu hanya kepercayaan bodoh di sekolah ini. Mana mungkin itu benar-benar terjadi? Haha konyol sekali. Namun... aku tak pernah berfikir untuk memutuskan hubunganku dengan Sasuke-kun. Entah kenapa aku selalu merasa aman dan nyaman ketika bersamanya. Meski terkadang dia menyebalkan namun dia baik. Apakah aku memang harus memutuskannya?.

End of Hinata's POV

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Bel pulang sekolah telah berbunyi, seperti biasa Sasuke dan Hinata pulang bareng. Namun disepanjang perjalanan tak ada satupun yang mau memulai pembicaraan. Hanya kesunyian yang mengiringi perjalanan mereka menuju rumah. Sasuke yang bingung dengan sikap Hinata yang berubah menjadi pendiam pun akhirnya bertanya.

"Hinata..."

"..." tak ada jawaban.

"Hei..."

"..." masih tak ada jawaban.

"HINATA HYUUGA," teriak Sasuke kesal.

"A-apa?," Hinata menjawab dengan bingung.

"Kenapa kau bengong terus sih? Kau sakit?," ucap Sasuke sambil menempelkan dahinya sendiri ke dahi Hinata. Hinata yang blushing langsung melepaskan diri dari Sasuke.

"J-jangan bersikap begitu... Kita kan bukan pacar sungguhan..." kata Hinata.

"Berisik, aku khawatir tahu..." kata Sasuke lagi.

"Tapi nggak harus begitu kan? La-lagi pula kita bukan pacar sungguhan? Dan... dan aku nggak mau pacaran dengan kamu lagi," kata Hinata sambil menunduk lesu.

"Hn?," kata Sasuke bingung.

"Ke-kepercayaan disekolahku kalau sampai ulang tahun sekolah yang akan diadakan 2 minggu lagi, nggak punya pacar nanti sampai lulus nggak akan punya pacar," kata Hinata lagi.

"Kepercayaan bodoh," ucap Sasuke ketus.

"M-mungkin bagimu ini kepercayaan bodoh, t-tapi bagiku ini penting... Kau tak tahu kan bagaimana perjuanganku untuk berubah dari si culun bermata empat menjadi seperti ini?," tanya Hinata, air mata sudah menggenang di pelupuk matanya.

"Dasar bodoh, kau masih belum menggerti juga rupanya. Kau tahu? Keadaan fisik seseorang itu tidak penting. Yang penting itu hatinya, bukan wajah atau penampilan atau apapun," kata Sasuke lagi.

"Ta-tapi Naruto bilang-"

"Rupanya kau masih suka dengan si bodoh itu," potong Sasuke cepat.

"T-tidak... bukan begitu... tapi...tapi... faktanya laki-laki kan m-memang suka cewek yang cantik kan? Bukan cewek culun sepertiku..." kata Hinata sambil terisak.

"Keh, kau memang belum mengerti. Sudahlah kita akhiri saja, aku tidak ingin pacaran dengan orang sepertimu. Tenang saja aku tidak akan membocorkan masa lalu mu kepada siapapun. Dan maaf aku telah memaksamu menjadi pacar pura-pura ku," kata Sasuke sambil berlalu.

DEG...

Hati Hinata serasa tersayat-sayat. Ia pun tak tahu apa penyebabnya. Saat mendengar kalimat 'Kita akhiri saja, aku tidak ingin pacaran dengan orang sepertimu' rasanya hati Hinata seperti terkoyak. Sakit. Ia pun hanya bisa menangis disepanjang jalan ke rumahnya.

Disisi lain ternyata ada sepasang mata yang sedari tadi mengawasi permbicaraan Sasuke dan Hinata. Pemilik mata itu menyeringai puas sambil bergumam.

"Keh, ternyata begitu," katanya.

.

.

.

.

.

"Tadaima," kata Hinata dengan lesu sesampainya dirumah. Hanabi yang dari tadi duduk disofa ruang tengah sambil membaca manga pun bingung dengan tingkah Hinata.

"Okaeri, Onee-chan. Loh? Nee-chan kenapa?," tanya Hanabi.

"Tidak papa kok Hana-chan," kata Hinata dengan senyum yang dipaksakan.

"Ne, Hinata-nee sakit yah?," tanya Hanabi lagi yang hanya dibalas oleh gelengan lemah Hinata.

"Benar?," tanyanya lagi.

"Ummm, Nee-chan hanya kecapekan saja. Nee-chan keatas dulu ya Hana-chan?," kata Hinata sambil berlalu menuju kamarnya.

"Ya, istirahat ya Nee," kata Hanabi sambil memandang Hinata khawatir.

Sesampainya dikamar Hinata mengunci pintunya lalu menghempaskan tubuhnya ke tempat tidurnya. Suara isakan-isakan kecil terdengar dari bibir Hinata.

"Hiks... kenapa? Kenapa begini?," tanya Hinata entah pada siapa.

"Kenapa hatiku begitu sakit?,"

"Kukira...Kukira ... ini akan mudah... Hiks... Ta-tapi... ternyata berakhir seperti ini...hiks..." katanya lagi masih terus terisak.

"A-ada apa denganku? K-kenapa aku berharap banyak dari Sasuke...hiks... Kukira dia... dia menyukai ku... t-tapi ternyata dia sama saja dengan Naruto," kata Hinata lagi.

"Apa? Apa yang tidak kumengerti? Hiks... apa yang tidak kumengerti?," tangisnya pecah lagi bahkan semakin parah dari yang tadi. Kata-kata 'Keh, kau memang belum mengerti. Sudahlah kita akhiri saja, aku tidak ingin pacaran dengan orang sepertimu' masih terus terngiang di kepala Hinata. Semakin dia mengingat kalimat itu semakin hatinya terasa sakit. Serasa tersayat-sayat sembilu. Beberapa jam kemudian Lavender itu menutup. Ia tertidur dengan keadaan menangis. Rupanya ia kecape'an gara-gara menangis.

.

.

.

.

.

.

.

Tenten dan Ino sedang berjalan menuju kelas mereka sebelum langkah mereka terhenti karena ada sebuah suara bariton yang menyapa mereka.

"Hei," kata suara itu. Tenten dan Ino serempak menoleh. Mata mereka menangkap seorang cowok berambut coklat panjang yang berekspresi datar dan bermata serupa dengan Hinata tengah berdiri didepan mereka. Satu kata yang terlintas di otak mereka "Cakep".

"A-ah iya ada apa ya?," tanya Ino kepada si cowok itu. Sementara Tenten masih tampak melongo karena melihat ciptaan Tuhan yang begitu sempurna itu.

"Kalian satu kelas dengan Hinata Hyuuga tidak?," tanya cowok itu.

"I-iya, kami sekelas? Memang kenapa? Siapa kau?," tanya Ino lagi.

"Ah begini aku Neji kakaknya Hinata. Hinata sakit, dia menyuruhku menyampaikan surat izin ini kepada guru. Karena aku terburu-buru, bisakah kalian menyampaikan surat ini untuknya?," tanya cowok yang ternyata Neji –kakaknya Hinata sambil mengangsurkan surat ke pada Ino.

"A-ah, dengan senang hati," Tenten yang baru sadar dari bengongnya pun akhirnya menjawab.

"Kalau begitu aku pergi dulu," kata Neji kemudian berbalik.

"Tunggu, Neji Nii-san ... Hinata sakit apa?," tanya Ino. Neji yang tadi sudah berbalik kemudian membalikkan badannya menghadap mereka lagi.

"Dia demam, tadi malam badan nya panas sekali. Jadi aku tidak mengizinkannya sekolah," katanya.

"Oh, kalau begitu sampaikan salam kami kepada Hinata ya, mungkin nanti pulang sekolah kami akan menjenguknya," kata Ino lagi yang hanya dibalas oleh anggukan serta senyuman tipis dari Neji. Setelah Neji pergi, Tenten langsung berteriak-teriak gaje pada Ino.

"Kyaaaa~ Kakkoi desu... Oh my, Oh my... Kenapa Hinata tidak pernah bercerita kalau dia punya cowok secakep itu sich? Gyaaa~," teriak Tenten. Ino hanya menggelengkan kepala melihat tingkah sahabatnya itu.

"Ckckck, kau ini... Seperti nggak pernah liat cowok cakep saja," kata Ino.

"Cih, biarin" ucap Tenten sambil menjulurkan lidah.

"Ayo ke kelas," kata Ino. Kemudian merekapun berjalan menuju kelas mereka.

Sesampainya dikelas...

"Hei, Sasuke-kun... apa kau sudah tahu kalau Hinata-chan sakit?," tanya Ino kepada Sasuke yang sedang membaca buku.

"Hn? Sakit?," tanya Sasu balik.

"Jiah ditanya malah balik nanya, belum tahu ya?," tanya Ino lagi.

"Hn,"

"Kau ini gimana sich? Pacar sakit masak gak tahu?," timpal Tenten yang berada dibelakang Ino.

"Hn, dia nggak ngasih tahu," kata Sasuke cuek sambil melanjutkan membaca.

"Aneh, kalian tidak sedang ada masalah kan?," tanya Ino curiga. Yang ditanya hanya mengangkat bahu. Lalu bel tanda masuk pun berbunyi.

"Ah, yasudahlah," kata Tenten sebelum pergi ke bangkunya.

.

.

.

.

.

.

.

Tok...tok...

"Hinata chan? Kau ada dirumah kan," seru Tenten.

"Kami datang untuk menjengukmu Hinata," seru Ino juga. Mereka sekarang sedang berada didepan rumah Hinata. Tidak hanya Ino dan Tenten yang datang menjenguk Hinata, tapi ada beberapa anak lagi yaitu Shikamaru, Kiba, Lee. Dan Sasuke? Ah tidak dia tidak datang. Beberapa saat kemudian pintu terbuka.

"Wah, teman-temannya Hinata-nee ya? Ayo masuk," kata Hanabi.

"Iya, kamu Hanabi ya?," tanya Ino.

"Iya," katanya.

"Oh iya dimana Hinata?," tanya Tenten.

"Hinata-nee ada diatas, kesana saja. Anggap saja rumah sendiri," kata Hanabi sambil menyunggingkan senyum kepada mereka.

"Oh, baiklah..." kata Ino.

"Hinata, kami masuk ya?," kata Ino ketika mereka sampai didepan pintu kamar Hinata.

"Uhuk, iya..." ucap Hinata dari dalam kamar. Setelah mereka masuk Lee langsung dengan wajah dibuat se kawatir mungkin menggenggam tangan Hinata.

"Oh Hinata-Hime... kau kenapa?," tanya Lee dengan wajah lebaynya yang langsung dijitak Shikamaru.

"A-aku tidak apa-apa kok. Cuma uhuk agak demam," kata Hinata sambil sedikit terbatuk.

"Cuma kau bilang? Kami mengkhawatirkanmu bodoh," kata Ino sambil memeluk Hinata.

"Iya, kami mengkhawatirkanmu" kata Tenten juga.

"Makasih teman-teman," ucapnya. "Oh iya ka-kalian datang ber lima saja? Ma-maksudku... maksudku... Sasuke..." lanjut Hinata malu.

"Ah, dia... tadi kami mengajaknya tapi dia ada urusan keluarga. Jadi dia nggak ikut deh," kata Ino. Hinata yang mendengarnya hanya menunduk lesu. ' Apakah dia benar-benar marah padaku?' batinnya.

"Tapi tenang saja, tadi dia bilang padaku kalau urusannya sudah selesai dia bakal kesini kok," kata Shikamaru yang menyadari perubahan mimik wajah Hinata.

"Umm," kata Ino menimpali omongan kekasihnya itu.

"Oh, " gumam Hinata.

"Eh iya, ini kami membawakan buah spesial untukmu Hime," kata Kiba.

"Aku juga membawakanmu bunga lavender kesukaanmu Hinata-Hime," kata Lee tak mau kalah.

"Ah, arigatho... maaf merepotkan," kata Hinata.

"Tak apa kok..." kata mereka serempak.

"Eh iyah Hinata? Mana kakakmu? Kok dari tadi aku nggak lihat?," tanya Tenten tiba-tiba.

"Eh? Kakak? Memang kenapa?," tanya Hinata.

"Itu lho Hina-chan, Tenten lagi kesengsem sama kakakmu i-aww," celetuk Ino yang langsung disikut oleh Tenten.

"B-bukan begitu Hina-chan...A-aku-"

"Cieee...cieee... Tenteeeeennnnn~~~," goda Kiba.

"A-apaan sih?," kata Tenten malu.

"Hihihi, Tenten-chan suka Neji-nii ya?," tanya Hinata.

"E-enggak kok Hin," kata Tenten.

"Cieeeee," dan kata-kata itu terus menggema dikamar Hinata.

TBC

Kei-chan : "Hoi Kiara, baru ditinggal 2 chapter ajah nih cerita udah ancur. Bagus ya... *ngasi deathglare ke Eira*

Keira : " Ssst, jangan panggil pakeg nama asli donk. Btw ancur gimana? *pasang tampang watados*"

Kei -chan : " Tuh cerita lu jadi gaje gitu"

Keira : "Ah, perasaan kamu ajah kali"

Kei-chan : "Beneran, nih cerita tuh gaje banget tauuu~"

Keira: "Iyakah? *mewek mode on*

Kei-chan : " Ho'ohh,"

Keira : " Huaaaaa Kei-chan jahattttt *mukul Kei chan*

Kei-chan : " Hoi apaan sih lu, maluuu tauuu... udah gedhe cengeng banget si..."

Keira : "Biarin..."

Kei-chan: "Yaudahlah, bales ripyu yang gak log in sono"

Keira : "Ga mao *manyun*"

Kei-chan: "yah, ngambek nih. Yaudahlah gue ajah yang baca... Hmm... yang pertama dari...

D'classic : Oke ni dah lanjut sampe chapter 4... hehe

Shaniechan: iyah, emang sulit ditebak. Authornya juga sulit ditebak. Haha... RnR lagi ya?

Uchan : Orang ketiga? Bentar aku tanyain sama author gebleg dulu ya? Hoi author gebleg... Orang ketiganya kapan muncul? Ada yang nanya nih...

Keira: "*Masi mewek* chapter depan"

Kei-chan "Oh chapter depan katanya, Uchan sabar ajah ya. RnR?"

Penelopi : Lah bukannya udah dibilangin ama author gebleg itu kalo ini terinspirasi dari komik? Hehe tapi beda kok... tuh buktinya ceritanya tambah ancurrrr kayag gitu... RnR?

Kei-chan : "wuah, udah gue balesin nih. Udah jangan mewek..."

Keira : " Iya deh, yaudah gomen yah kalau update nya lama and typonya banyak. Yosh, Review Please...?"

Kei-chan :" review...review...review *upin ipin mode on*"