Don't Like Don't Read
Minseok menghela nafas lelah. Tangan kecilnya mengurut pelan dahinya yang berdenyut-denyut menyakitkan. Pikirannya dipaksa bekerja lebih keras untuk mengurai keanehan yang terjadi di sekitarnya belakangan ini.
"Apa yang terjadi sebenarnya?" gumam Minseok lirih, entah pada siapa. Karena pemuda mungil itu sedang sendirian di ruang kelasnya.
Minseok mencorat-coret kertas kosong di hadapannya, menuliskan semua keanehan yang terjadi dua hari terakhir. Jemarinya lincah mencatat apa yang ada di pikirannya.
.
1. Kyungsoo menghilang dan tak ada yang mengingatnya.
Sudah dua hari sahabat baikku sejak kecil itu tak masuk sekolah. Anehnya, setiap orang yang ditanyai tentang keberadaan Kyungsoo selalu menatapku aneh sambil menanyakan pertanyaan yang sama,
"Siapa itu Kyungsoo?"
Apa dua hari tidak melihat bocah burung hantu itu membuat keberadaannya dilupakan? Impossible.
Mungkin pulang sekolah aku akan mengunjungi rumah sahabatku itu dan langsung bertanya pada kakeknya Kyungsoo.
2. Seorang murid yang menggantikan keberadaan Kyungsoo dan hanya aku yang tidak ingat kalau pernah mengenalnya.
Namanya Xi Luhan. Mereka bilang dia anak China yang lama tinggal di sini dan sudah menjadi bagian dari kelas ini sejak dua tahun lalu, sejak kelas satu. Bila itu memang benar, bagaimana bisa aku tidak ingat dan merasa asing dengan anak itu?
Belum lagi tatapannya menakutkan. Dia memang tampan, manis kalau boleh kukatakan, tetapi ada yang ganjil dengan tatapannya.
Ketika kami bertatapan, rasanya seperti menatap hewan liar –perasaan yang sama ketika aku menatap hewan-hewan di kebun binatang.
3. Foto Kyungsoo di foto kelas yang tergantung di kamar berubah menjadi foto Xi Luhan.
Ini yang membuatku merinding. Bagaimana bisa Kyungsoo di foto kelas yang ada di kamarku berubah jadi Luhan ?. Seakan-akan Kyungsoo memang tidak pernah ada dan eksistensi Xi Luhan memang sudah lama jadi bagian dari kelasku.
.
"Minseok, Minseok, halo?"
Sebuah tangan mengayun di depan wajah imut Minseok dan menyadarkannya dari lamunannya. Minseok tersentak.
Di depannya, salah satu orang yang membuatnya melamun, Xi Luhan, menatapnya dengan tatapan bertanya.
"Kau tidak apa-apa kan, Minseok?" tanya Luhan.
Minseok tersenyum samar, berusaha menutupi keterkejutan –dan sedikit ketakutannya.
"Ya, aku baik-baik saja. Ada apa –uhmm– Luhan?" tanyanya lembut. Luhan balas tersenyum.
"Aku hanya ingin membahas waktu pengerjaan tugas kelompok biologi ini, kapan sebaiknya kita lakukan?"
Ah, tugas kelompok biologi. Minseok sama sekali lupa pada tugasnya itu. Tugas yang diberikan minggu kemarin dan dikerjakan oleh dua orang. Seharusnya Minseok mengerjakannya bersama Kyungsoo, tapi kini dalam catatan guru tertulis bahwa dirinya satu kelompok dengan orang yang (baru-baru ini) ditakutinya, Xi Luhan.
"Menurutmu, kapan sebaiknya kita kerjakan?" Minseok balik bertanya. Luhan tampak berpikir sejenak,
"Bagaimana kalau pulang sekolah nanti?"
Minseok mengerutkan kening, lalu tersenyum kecil,
"Maaf, pulang sekolah nanti aku tidak bisa, aku harus pergi,"
"Kemana?" tanya Luhan penasaran.
"Kuil di timur kota,"
Tatapan Luhan menajam, sedikit membuat Minseok merinding. Minseok yakin sekali ada kilatan samar di mata Luhan tadi.
"Ke –Kenapa, Luhan?"
Tatapan Luhan menjadi normal lagi. Kini matanya menatap Minseok dengan pandangan memohon,
"Boleh aku ikut?" tanya Luhan penuh harap.
Ah, Minseok selalu lemah dengan tipe tatapan seperti itu.
"Ba –baiklah,"
.
.
.
.
.
.
"Mantranya tidak sekuat yang kubayangkan, eh,"
"Selalu ada anomali dari semua kejadian, begitupun dengan mantra itu,"
"Hmm..."
"..."
"..."
"..."
"Lalu menurutmu, kenapa bisa terjadi?"
"Ada dua kemungkinan,"
"Dua?"
"Pertama, dia dia punya ikatan kuat dengan Kyungsoo. Kedua, darah shaman mengalir di nadinya,"
"Maksudmu, dia keturunan shaman?"
"Hmm, begitulah, atau..."
"Atau?"
"Atau dua-duanya," atau dia adalah keturunan shaman yang punya ikatan kuat dengan Kyungsoo.
.
"Hm, menarik."
.
.
.
.
.
.
"Selamat sore, kakek,"
Pria tua itu menoleh mendengar sapaan pemuda imut di belakangnya. Dupa menyala di tangannya disimpannya dahulu sebelum berjalan mendekati sang penyapa.
"Ah, Minseok," sang kakek mengenali pemuda itu, Minseok, teman baik cucunya, "Ada apa kemari?" tanyanya ramah.
Minseok tersenyum manis, "Hanya ingin berkunjung,"
Tangan mungilnya menunjukkan kue beras yang dibelinya bersama Luhan di perjalanan menuju kuil tersebut.
Pendeta kuil tersebut menyambut tangan Minseok dan membawa kue di tangan teman cucunya tersebut. Keduanya berjalan menuju sisi kuil, tempat biasa sang pendeta menerima tamu atau bercengkerama dengan cucunya. Keduanya sama sekali melupakan keberadaan Luhan yang sedari tadi mengekor di belakang Minseok.
Ngomong-ngomong soal Luhan, sepertinya siswa misterius satu itu tidak berjalan mengikuti dua manusia di depannya. Luhan tampak lebih memilih menikmati suasana kuil dan melihat-lihat sekitar halaman kuil.
Tatapannya menajam ketika matanya menangkap sebuah patung batu berbentuk dewa berwujud anjing –atau serigala?
Pupil Luhan berubah menjadi tipis ketika jarinya menyentuh patung batu tersebut. Aura yang dikeluarkan tubuhnya berubah menjadi kelam. Luhan berubah menjadi lebih mengerikan.
"Jadi begitu, eh?" bibir tipisnya menyeringai, menampakkan sepasang taring tajam yang lumayan panjang. Dijilatnya jari yang tadi menyentuh patung batu tersebut.
Tangannya terjulur lagi, kali ini mengangkat patung tersebut. Tangan satunya berusaha mengambil sesuatu yang berada di bawah patung batu tersebut. sebuah batu berwarna hitam berbentuk bulat. Dikantunginya benda tersebut.
"Luhan, sedang apa di situ?"
Mendadak aura di sekitar Luhan berubah hangat, seakan aura gelap pekat tadi tidak pernah ada. Gigi dan pupilnya pun berubah normal.
Luhan menoleh dan tersenyum lebar.
"Ah, Minseok, kau sudah selesai?" tanya Luhan. Minseok mengangguk. Tangannya terulur untuk membantu Luhan berdiri, yang langsung disambut dengan senang hati oleh si misterius.
"Sedang apa kau di situ?" Ulang Minseok. Nampaknya si pipi bakpau ini penasaran. Luhan tersenyum,
"Ah, ini, patung batu ini menarik," jawabnya ringan. Minseok menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Ayo kita pulang," ajak Luhan.
.
.
.
.
.
.
Di sepanjang jalan, mereka hanya diam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Meskipun Minseok dan Luhan duduk bersebelahan di bis, mereka tampak seperti dua orang yang tidak saling kenal.
Sesekali Minseok melirik pada pemuda di sampingnya itu, bukan lirikan malu-malu namun lebih ke lirikan curiga. Ketika lirikannya bertemu dengan tatapan Luhan yang heran dengan temannya itu, Minseok hanya tersenyum kecil dan buru-buru mengalihkan tatapannya.
"Ada apa, Minseok?" tanya Luhan setelah dua kali mendapati Minseok menatapnya curiga.
Minseok tersentak kecil dan buru-buru menggeleng, "Tidak ada apa-apa,"
Luhan tertawa pelan, "Kalau tidak ada apa-apa lalu kenapa kau melirik-lirik begitu?"
Minseok tampak gugup, membuat Luhan benar-benar ingin tertawa.
"Aku bukan melirikmu, aku melirik jendela," ujar Minseok tidak meyakinkan. Matanya berusaha menghindari kontak mata dengan Luhan. Luhan terkekeh.
"Begitukah?"
Minseok mengangguk kecil.
Tangan Luhan mengacak-acak puncak kepala Minseok. Minseok sendiri sedikit berjengit merasakan dinginnya tangan pucat Luhan.
'Dingin sekali,' gumam Minseok dalam hati.
Lagi-lagi pikiran Minseok melayang pada obrolannya dengan kakek Kyungsoo tadi.
'Apa maksudnya itu? kenapa kakek berkata seperti itu?' batin Minseo bingung. Tanpa sadar dia menggigit ujung jempolnya sendiri, tanda sang pipi bakpau itu sedang berpikir keras.
.
Flashback (Minseok POV)
"Aku sebetulnya cukup terkejut kau ingat dengan Kyungsoo, tapi itu semua masuk akal," ujar kakek Kyungsoo. Aku mengerenyit, cukup terkejut? Memang apa yang aneh.
"Kenapa kakek harus terkejut?" tanyaku tidak mengerti.
Kakek menghela nafas berat. Guratan lelah tampak begitu jelas di wajah tuanya –Kyung, maafkan akuuu~ tapi kakekmu memang sangat tua!
"Karena seharusnya, tidak ada lagi yang mengingat Kyungsoo. Begitu lah hukumnya,"
Tidak ingat? Kenapa? Hukum? Hukum apa? kenapa pertanyaan di kepalaku malah semakin banyak?
"Soo-ie pernah bercerita, Minseok bisa melihat mahluk halus, bukan?" tanya kakek membuatku semakin mengerenyit.
Apa hubungannya dengan kemampuanku melihat mahluk halus?
Ngomong-ngomong, aku memang bisa melihat mahluk-mahluk tak kasat mata itu, seperti yang ikut membaca di samping kalian itu.
–hahaha, bohong kok.
Akhirnya aku hanya mengangguk.
"Sebetulnya, Kyungsoo ditawan oleh mahluk yang bukan berasal dari sini,"
–ngiiiiing. Kenapa otakku mendadak memutarkan gambar wanita berambut panjang yang suka duduk di pohon dari negeri tetangga?
"Maksud kakek apa?" jujur, aku sulit untuk percaya.
Bukannya menjawabku, kakek malah tersenyum lembut.
"Sepertinya hanya itu yang bisa kakek ceritakan untuk saat ini," Ujar kakek Kyungsoo ini.
Tak ada pilihan lain, aku pun hanya bisa mengangguk dan berpamitan pada pendeta kuil ini.
Sebelum pergi, kakek memberiku sebuah kertas jimat sembari bertanya dengan wajah memohon,
"Bisa kakek minta tolong pada Minseok?"
Aku mengangguk.
"Jangan lupakan Kyungsoo, ya,"
.
"Dan, Minseok," tangan itu semakin keras mencengkeram kertas jimat yang sudah berada di tanganku, "Hati-hati dengan pemuda yang bersamamu itu,"
End flashback (Minseok POV end)
.
"Seok?"
"Minseok?"
Sebuah tangan mengguncang bahu Minseok, mengembalikan kesadarannya.
"Eh, kenapa?" tanya Minseok kaget. Luhan, sang pelaku pengguncangan, tersenyum.
"Halte tempatmu turun sebentar lagi sampai, lebih baik kau bersiap-siap,"
Minseok mengerejap, sebelum menoleh pada jendela. Benar saja, halte tempatnya biasa turun sudah terlihat di depan mata.
"Ah, terimakasih, Luhan. Aku turun duluan," pamit Minseok diiringi senyum kecil. Luhan membalasnya dengan lambaian tangan.
Bis sudah melaju kembali dan Minseok baru sadar satu hal.
.
"Kenapa Luhan tahu aku harus turun dimana?"
TBC
.
.
.
Omake
"Bagaimana?" tanya bayangan di cermin.
Luhan mendengus kesal. Tidak pernahkah orang –atau bayangan– di depannya berbasa-basi sedikit saja.
"Dia tetap ingat. Bahkan ingatannya tentang Kyungsoomu itu tidak berkurang sedikit pun,"
Sosok itu terdiam.
Luhan dengan santai membuka seragamnya di depan sosok tersebut. Tak peduli dengan perut rata kotak-kotaknya yang terlihat oleh sosok menyebalkan yang terlihat di cermin kamarnya.
Sosok bayangan di cermin hanya mendengus kesal.
"Apa itu berbahaya?" tanya Luhan. Kini dia duduk di tempat tidurnya sambil tetap menghadap cermin panjang horizontal tersebut, sama sekali tidak ada niatan untuk menutupi tubuh bagian atasnya.
"Apa kau berniat menyingkirkannya?" bayangan itu balik bertanya.
"Apa harus?"
Sosok itu menggeleng pelan, "Tidak perlu sebenarnya. Tapi kalau memang kau mau menyingkirkannya aku tidak akan melarang,"
Luhan menaikkan satu alisnya,
"Jadi, dia boleh untukku?"
"Terserah,"
Luhan menyeringai lebar. Dibiarkannya wujudnya kembali seperti saat di halaman kuil.
Pupil tipis, aura menekan, taring memanjang. Ditambah kini ada tato-tato berwarna hitam melintang di punggung dan dadanya.
"Terimakasih...
Kai,"
.
.
Real TBC
.
.
Chap ini perkenalan tokoh lainnya... masih penasaran sama si cewek kucing di cermin? Tenaaang, belum waktunya direveal.
.
.
Thanks to:
baekhyunniewife, T.A, kriswu393, ia, Mami Fate Kamikaze, NS Yoonji, naideel, Jung Eunhee, exindira, BabyBuby, miszshanty05, Retnoelf, Guest, ayp, BangMinKi, Natsuko Kazumi, Kiryuu Kaitou, kyungexo, , FriederichOfficial, jongindo, 12, taufikunn9, cheinnfairy, KrystalCloudsJaejoongie, regitata, 369, Lisan, MdeerM, HunHanie, baekji, Kim Hyunshi, ArraHyeri2, kimberlyjj, alexandra. , Khaplatinum, wolfyxo, mimi1301
.
.
NS Yoonji: mianhaeeee,, bukan maksud melupakanmu#plakk.. maaf-maaf heheheh..
.
.
Sedikit curcol:
ASDFGHJKL #Menggila
Maafkan saya, akang teteh sadayana... mendadak hilang dan baru timbul kembali, hehehe..
Salahkan Kuroko No Basuke yang menghipnotis saya hingga tidak sadarkan diri #plakk! Kurokooo~ kenapa kamu uke sekali naaak~
Mianhamnida... gara-gara lagi suka yg harem-harem, jadi lah saya untuk beberapa waktu mangkal dulu di ff sebelah itu, banyak banget ff haremmmm! (example, kisekikuro)
Maaf maaf, silahkan rajam sayaaaa
.
.
.
Reviewnya?
