Hari berikutnya, hujan turun sangat deras Kyungsoo mendapatkan panggilan dari wali kelasnya bahwa kakeknya pingsan.

"Kyungsoo ah. sebaiknya kau pulang, Kakekmu pingsan." Begitu kata wali kelas Kyungsoo disaat ia sedang mengikuti pelajaran.

Kyungsoo terdiam kaku. Sementara Jongin ikut cemas menatapnya.

"KAKEK!"

Kyungsoo membuka paksa pintu rumah kakeknya, ia basah kuyup karena menerabas hujan.

"Aish!"

Kyungsoo kesal setengah mati. Kakeknya tampak baik-baik saja, Kakek melempar kaleng bir kepadanya.

"Mau bagaimana lagi, cuaca buruk dan Jika tak minum, aku akan menyesal." Jelas kakek Kyungsoo.

"Jadi kakek memanggil pulang cucumu hanya untuk minum? Sebenarnya kakek tidak sedang terkena serangan jantung, Tega sekali!" Kyungsoo sangat kesal sekarang.

Sang kakek melengos pergi kearah pintu dan membalik papan pemberitahuan dengan papan 'MOHON TIDAK MENINGGAL HARI INI'

"Dan Kakek sekarang membalik papan pemberitahuan, apa kau merencanakan sesuatu?" Tanya Kyungsoo dari baliklemari penyimpanan cawan abu jenazah.

"Tidak, aku hanya ingin minum bir dan berbicara."

"Bicara tentang apa?"

Sepulang sekolah, Jongin naik bus yang membawanya berhenti tepat di depan rumah kakek Kyungsoo.

Kakek Kyungsoo berjalan menuju jendela besar tempat dimana dia biasa menghabiskan waktu dengan Kyungsoo.

"Kau jatuh cinta pada seseorang?"

Tanyanya tiba-tiba, membuat Kyungsoo tak berkutik. Sidikit takut.

"Kenapa bertanya?" sahut Kyungsoo gugup.

"Cukup jawab ya atau tidak, apa itu sulit?"

Kyungsoo menenggak separuh birnya, "Ada masalah apa sebenarnya ini?"

"Mau dengar tentang cinta pertamaku?"

"Kisah percintaan antara kakek dan nenek?"

"Bukan. Cinta pertamaku."

Kyungsoo membelalakkan matanya, "Nenek bukan cinta pertama Kakek?"

"Bukan, bodoh."

Tiba-tiba terdengar suara pintu didorong oleh seseorang. Sosok itu terlihat di depan mata Kyungsoo.

"Jongin-ah," Kyungsoo beranjak dari tempatnya dan menyambut kedangan Jongin.

Sang kakek hanya menatapnya tak bergeming.

"Aku membawakan tasmu." Jongin menyerahkan tas Kyungsoo.

"Ah, terima kasih. Kakek, ini temanku Jongin." Kyungsoo mengenalkannya pada kakeknya.

"berapa usiamu?" tanya kakek Kyungsoo agak tak wajar.

"Usia? Ah aku 18 tahun." Jawab Jongin mencoba ramah.

"Berputarlah 18 kali."

Jongin mengernyitkan dahinya, tak tahu apa yang dimaksud kakeknya Kyungsoo.

"Apa?"

"Ini tahayul, lakukan saja." Bisik Kyungsoo pada Jongin dengan sedikit berjinjit, jongin lebih tinggi darinya.

"Lakukanlah." Kakek Kyungsoo kemudian mengambil tempat duduknya yang nyaman.

Jongin menutup matanya dan berputar sebanyak 18 kali, sesuai permintaan Kakek Kyugsoo.

"sudah-sudah, Hentikan." Kakek Kyungsoo menginterupsi.

Jongin terhuyung pusing dan dipapah oleh Kyungsoo.

"Dia tak boleh diikuti hantu jahat."

Kyungsoo membawa Jongin duduk di kursi satunya.

"Kau pusing?" tanya Kakek Kyungsoo.

"Iya, sedikit."

"Minum bir sedikit akan membuatmu merasa lebih baik."

Jongin menganguk dan menenggak habis bir yang diberikan oleh Kakek Kyungsoo, kemudian bersendawa panjang.

"Maaf,"

Dari tempatnya duduk, Jongin bisa melihat tembok rumah yang dipenuhi berbagai tulisan hangul tata cara merawat jenazah.

"Ini pertama kalinya aku di tempat seperti ini."

"Tak baik sering datang kesini." Jawab kakek.

"Benar. Ah lanjutkan ceritamu Kek, " Jongin berusaha mengakrabkan diri.

"Mengenai apa?"

"Cinta Pertamamu."

Kakek menghela nafas dan memandangi Kyungsoo dan Jongin bergantian. Ia beranjak dari tempatnya dan menuju ke deretan foto yang ada di atas laci antik. Kakek tersenyum dan mengambil foto nenek Kyungsoo yang telah meninggal, kemudian membaliknya. Ada foto seorang perempuan cantik yang menggunakan hanbok.

"Aku juga memiliki cinta pertama. Saat pertama kali melihatnya, kupikir aku melihat malaikat. Mataku dibutakan, aku tidak bisa melihat dengan jelas."

Kyungsoo dan Jongin tampak terbius dengan awal cerita kakek.

"Dia terlalu berharga bagi orang sepertiku untuk memimpikannya. Tentu saja keluarga kami menentang, kami dari dua dunia yang berbeda. Tapi kami saling mencintai. Kami saling mencintai hingga ajal."

Flashback

Saat itu Kakek Kyungsoo muda yang bernama Man-geum terdaftar sebagai tentara yang akan dikirim ke perang Vietnam. Suasana setasiun sangat ramai dengan antusiasme warga korea menyemangati tentara yang akan berangkat. Tidak untuk kakek Kyungsoo, ia semakin muram saja meski peluit kereta telah dibunyikan dan kereta mulai bergerak. Atasannya datang untuk memeriksa senjata para prajurit muda.

Dilain sisi, seorang gadis berjuang melawan kerumunan warga di setasiun demi menemui kekasihnya.

"Kim So-im!"

Seseorang dari dalam gerbong kereta memanggil namanya. Si gadis pun merespon dengan cepat,

"Man-geum!"

Man-geum, kakek Kyungsoo tau siapa itu. So-im adalah gadis yang sangat ia cintai.

Man-geum melompat dari gerbong kereta dan memeluk So-im erat.

"Kembali dalam keadaan hidup. Kumohon kembali dalam keadaan hidup." So-im tak henti-hentinya menangkup pipi Man-geum, ia tak rela dan takut. Berita di koran mingu-minggu kemarin cukup membuat kalut hatinya, ratusan tentara korea mati di medan perang, bahkan tak ditemukan jasadnya.

Man-geum melepas kalung identitas prajuritnya dan memberikannya pada So-im.

"Apa ini? ini barang terpentingmu! Ini identitasmu."

Man-geum memegang erat tangan So-im dan tersenyum.

"Ini adalah bukti bahwa aku tidak akan mati. Kau harus percaya, jasadku tidak akan pernah ditemukan di medan perang, karena aku akan menikahimu."

"Tapi..."

Belum sempat So-im menyelesaikan kalimatnya, Man-geum telah melompat kembali masuk ke dalam gerbong kereta karena kereta telah melaju.

Man-geum diam-diam menangis sambil mendekap dadanya, agak sakit disana.

End of Flashback.

Suara furin dan ombak terdengar kembali dari dalam ruangan rumah kakek. Jongin dan Kyungsoo membatu seperti patung. Sore telah datang. Kakek melanjutkan kembali ceritanya.

"Setelah perang aku kembali. Tapi tidak ada yang menungguku. Aku mengerti arti 'hidup tapi tidak hidup, mati tapi tidak meninggal' Aku..."

"Tidak bisa bertemu dengannya lagi."

Malamnya harinya Jongin sedang duduk di ruang keluarga dan menulis sesuatu di buku hariannya. Sambil memandangi buah pome. Di belakangnya orang tua Jongin sedang menikmati buah pir. Wanginya enak, begitu kata Ibu Jongin.

Jongin monologue :

'Aku memikirkan kata-kata kakekmu. Mungkin membuatmu kesal tapi aku memahaminya.'

'Luar biasa! Mencintai seseorang selama hidupnya.'

'Tapi sekaligus aku merasa lega'

'Jika kakekmu menikahinya, kau tidak akan lahir. Dan itu tidak baik untukku.'

End of jongin monologue

Kyungsoo memandangi deretan foto-foto keluarga yang terpasang di dinding rumahnya. Ia tersenyum begitu melihat foto neneknya.

Chanyeol menatap dua insan yang sedang asyik dengan dunia mereka sendiri ketika pelajaran praktikum biologi berlangsung.

"Sukar dipercaya, kakekmu menyimpannya di dalam hatinya selama 50 tahun!" Jongin memelankan suaranya namun tetap terdengar jelas di telinga Kyungsoo.

"Dia kejam." Sahut Kyungsoo.

"Siapa?" tanya Jongin.

"Kakekku."

Jongin terdiam dan tetap menatap Kyungsoo.

"Selama ini hidup dengan nenekku, ia mencintai orang lain."

"Apa yang kau lakukan jika kau menjadi kakekmu?" Jongin kembali bertanya.

"Bisakah kau mencintai satu orang saja selama 50 tahun?"

Kyungsoo menghela nafas, ia tak memberikan jawaban apapun selain merubah posisinya menjadi duduk tegak.

Jongin melakukan hal yang sama, tapi ia lebih cepat menangkap keanehan suasana kelas. Ya, seisi kelas termasuk songsaengnim memperhatikan mereka berdua, sama seperti kejadian di kantin pada waktu lalu saat Kyungsoo membelikan Jongin kroket. Bagaimana tidak, mereka mengobrol saat pelajaran berlangsung.

"Kalian bertiga berdiri dengan tangan diangkat." Kata Songsaengnim datar.

Jongin, Kyungsoo dan Chanyeol segera melaksanakan perintah itu, mereka pergi ke belakang kelas dan mengangkat kedua tangannya. Hukuman bodoh, bisik Kyungsoo.

"Tunggu." Kata songsaengnim.

"Yah! Park Chanyeol. Kau tidak ikut kelas ini, Untuk apa kau disini?"

Kyungsoo menyenggolkan tangannya ke tangan Chanyeol, menyuruhnya memberi penjelasan kepada songsaengnim.

"Pergi ke kelasmu!" teriak songsaengnim yang kemudian dijadikan bahan tertawaan murid sekelas.

Chanyeol menurunkan tangannya , menunduk malu dan segera pergi meninggalkan kelas.

"Anak nakal!" Songsaengnim menjewer telinga Chanyeol dan menyeretnya keluar.

"Aaa!" teriaknya kesakitan.

Kini tinggal Kyungsoo dan Jongin yang berada di belakang kelas.

Jongin tak berhenti tersenyum melihat Chanyeol diseret keluar kelas, ia merasa kasihan karena Chanyeol tidak melakukan kesalahan selain ia memang membolos dari kelasnya di XII-C.

Kyungsoo memanfaatkan kesempatan itu untuk mendekati Jongin.

"Kakekku membuat kita bisa bertemu." Bisik Kyungsoo.

Jongin berhenti tersenyum dan memandang Kyungsoo.

"Seperti katamu, jika cintanya jadi kenyataan kita takkan bertemu."

Jongin tersenyum lagi, Kyungsoo selalu bisa membuat suasanya kembali nyaman. Namun suasana saat ini sepertinya tidak. Seisi kelas menatap mereka kembali.

Akhirnya mereka dikeluarkan dari kelas dan melanjutkan hukuman 'angkat tangan' di koridor kelas.

"Apa kau percaya kehidupan setelah mati?" tanya Jongin tiba-tiba di sela-sela hukuman mereka.

"Kenapa?" Tanya Kyungsoo yang kini sedang melakukan peregangan tangan, ia merasa kram.

"Kakekmu berharap menemukan cintanya di kehidupan setelah mati."

"Aku percaya Tuhan, tapi kehidupan setelah mati tidak." Jawan Kyungsoo.

"Apa bedanya Tuhan dengan kehidupan setelah mati?" Jongin mengkerutkan alisnya, tak puas dengan jawaban Kyungsoo.

Setting dengan cepat berubah dengan keadaan dimana Jongin dan Kyungsoo sedang berolahraga. Dengan pembicaraan yang sama.

"Menurutku kehidupan setelah mati hanya karangan manusia." Kyungsoo masih berpegang teguh dengan argumennya.

"Bagaimana dengan kakekmu yang terlanjur percaya?" Jongin agak terengah-engah, akibat dari lari enam putaran yang langsung membuat persendiannya melemas.

"Bukankah dia hanya menghibur hati dengan memikirkan hal itu." Kyungso meregangkan otot tangannya.

"Kau juga menangis saat mendengar ceritanya." Jongin menghentikan langkah Kyungsoo.

"Kau menangis, aku juga."

Kyungsoo membuang pandangan kearah selain wajah Jongin.

"Menurutmu, setelah mati kita menghilang?" tanya jongin.

"Jika tidak, dunia setelah mati akan penuh sesak." Jawaban Kyungsoo tak memuaskan Jongin.

"Maksudmu, hanya orang bodoh yang mempercayainya?" Jongin mencekal lengan Kungsoo. Sakit karena Jongin sedikit meremasnya.

"Siapa yang bilang bodoh?" Kyungsoo bingung, Jongin semarah ini.

"Kau jahat sekali karena tidak mempercayainya." Jongin mendorong Kyungsoo dan berlari menjauh.

"Tunggu! Jongin ah!"

"Kau egois Do Kyungsoo."

"Bukan itu maksudku, yak! berhenti Kim Jongin!"

Jongin menepis tangan Kyungsoo kasar.

"Bagus sekali kau seperti ini padaku. Aku kehilangan temanku karena dekat denganmu dan kau memperlakukan aku seperti ini sekarang." Kyungsoo setengah berteriak, namun Jongin terlanjur pergi.

Suasana menjadi canggung setelah pertengkaran yang sebenarnya tidak penting itu. Jongin tak acuh terhadap Kyungsoo dan Kyungsoo kembali pada teman-temannya. Di jam istirahat hari berikutnya, mereka berada dalam satu kelas. Kyungsoo menyantap bekal bersama Baekhyun dan Sehun sementara di sebelah Jongin ada salah seorang bunga kampus yang mencari kesempatan dekat dengan Jongin dengan meminta bantuan tutorial mengerjakan soal matematika.

"Menurutmu, dia bertanya pada Jongin memang karena dia tak paham?" tanya Sehun.

"Dia siswi terpandai di kelas ini." Baekhyun menaikkan kacamatanya yang sempat melorot.

"Aku sebal dengan gadis seperti itu." Lanjut Sehun sembari memasukkan udang goreng kedalam mulutnya yang kecil.

"aigo... lihat mereka berdua asyik sekali."

Kyungsoo menatap tajam pada siswi yang sedang mencari perhatian ke Jongin itu. Muak. Garpu yang ia pegang rasanya mau bengkok.

"Ada sesuatu di rambutmu." Gadis itu mendekatkan diri dengan jongin, berusaha meraih sisa bekas penghapus yang menempel di rambut Jongin. Entah sengaja atau tidak, gerakannya itu membuat dadanya menempel di siku Jongin.

Kyungsoo sedikit murka, sendok logam milik Baekhyun telah berbentuk siku 90 derajad di genggamannya.

Suzy, nama gadis itu tau sejak tadi Kyungsoo menatapnya terus. Gadis cantik itu mengembangkan senyumnya, merasa Kyungsoo cemburu padanya.

"hyaaa!" Kyungsoo berteriak, menuju meja Jongin.

Baekhyun dan Sehun menahannya sebelum Kyungsoo

"Kau kenapa?" Jongin tetap pada posisinya sementara Suzy ketakutan dan memilih bersembunyi di balik bahu Jongin.

"Kyungsoo, dia hanya lupa meminum obat penenangnya pagi ini." Baekhyun mencari alasan supaya Jongin percaya padanya kalau amarah Kyungsoo ini hanya bersifat sementara.

"Kau kira aku gila? Stress?"

Kyungsoo berdecih, kemudian meninggalkan kelas begitu saja. Jongin menatapnya datar.

Tak biasanya Jongin berada di jalan belakang sekolah. Ia akan segera pulang jika jam sekolah telah berakhir jika tidak sedang pergi ke suatu tempat bersama Kyungsoo. Dua buah kroket berada di kedua tangannya, suatu prestasi yang luar biasa bagi Jongin bahwa ia bisa membelinya sendiri, bersaing dengan puluhan murid yang ingin mendapatkannya. Pikirannya hanya terpenuhi oleh keadaan sekitar saja, mengenai menghadapi Kyungsoo... akan ia pikirkan nanti ketika si pemilik mata bulat dan bibir penuh itu melewati jalan itu. Ia menunggu Kyungsoo, ya Kyungsoo selalu lewat jalan itu ketika pulang sekolah dengan sepedanya. Tak perlu menghentikan Kyungsoo dengan tenaga, cukup memberinya senyuman maka semuanya akan terasa mudah dan Jongin cukup yakin akan hal itu. Namun seharusnya Jongin tahu jika keyakinan yang berlebihan akan berdampak buruk pada saat keyakinan itu tidak dapat mengabulkan keinginannya. Ternyata memang buruk sekali. Kyungsoo melintas di depannya tapi Kyungsoo membuang mukanya kearah lain dan melajukan sepedanya dengan kencang, mengabaikan senyuman Jongin yang menawan. Kali ini Jongin harus memakan dua porsi kroket.

Kyungsoo sangat kesal,

Kyungsoo mengayuh sepeda kearah rumah kakeknya dengan kecepatan tinggi. Kejadian tadi siang kembali teringat di kepalanya. Ternyata, setelah ia berteriak pada Suzy dikelas pada saat jam makan siang ia kabur entah kemana, namun tak lama Jongin menangkap dan menariknya ke tempat sepi. Taman belakang sekolah.

Flashback

"Bodoh, kenapa kau marah?" tanya Jongin.

"Tidakkah kau Tahu, Kim Jongin?!" Kyungsoo bersungut marah.

"Apa karena Suzy?"

"Apa karena dia bertanya matematika padaku?"

Cerocos Jongin.

Kyungsoo diam saja dan masih bersungut.

"Tsk, Jika itu alasannya aku akan kecewa." Jongin tersenyum tipis sedikit dengan nada ejekan, kemudian melanjutkan kata-katanya lagi,

"Kau tak tahan melihatku bicara dengan orang lain. Jika aku menikahi orang lain, kau takkan bertahan selama lima menit, apalagi selama 50 tahun."

End of flashback

Kyungsoo memarkir sepedanya asal-asalan di depan rumah kakeknya. Ia menyelonong masuk tanpa permisi dan duduk di balai-balai, menunggu kakeknya selesai melayani pengunjung.

Kakeknya agak terkejut dengan kedatangan Kyungsoo, tak biasanya cucu laki-lakinya itu bersikap seperti itu. Setelah selesai memberikan barang pesanan. Setelah pengunjung pergi Kyungsoo pindah ke kursi kecil khusus pengunjung yang ada di depan meja kakeknya.

"Dia berkata omong kosong setelah mendengar cerita cinta pertamamu. Harusnya kau tak menceritakannya padanya." Kyungsoo melipat tangan dan menghela nafasnya.

Kakeknya memasukkan sesuatu ke saku seragamnya dan berkata, "Jangan menghela nafas, itu mengusir nasib baik."

"Kenapa kakek menceritakan kisah cinta pertama pada orang melankolis seperti Jongin? Alhasil kupingku berdengung setiap ia bercerita soal cinta yang utuh selama 50 tahun, cinta sampai ajal, dan berbagai hal aneh lainnya. Itu semua bertentangan denganku, bagiku kebahagiaan hari ini adalah milik hari ini dan mengenai esok hari dan seterusnya biar nasib yang mengatur. Dan juga kakek, nasib baik tak dapat ditentukan dengan menghela nafas. Aku akan melakukannya selama 100 kali setiap hari dan aku yakin nasibku akan baik setiap hari karena perasaanku memang sedang bahagia!."

Kakek menaikkan alisnya setelah mendengar perkataan Kyungsoo yang terkesan buru-buru itu.

"Setelah itu kau tak pernah bertemu dengannya lagi kan?" Kyungsoo kini bertanya pada kakeknya, soal cinta pertama kemarin.

"Lupakan sajalah, dasar anak nakal. Kau datang seperti bocah yang tak percaya dongeng dan sekarang kau malah memintanya."

Kakek Kyungsoo membuka jendela sangat lebar dan menatap langit yang cerah dengan beberapa awan yang bergantian menghalangi sinar matahari yang turun ke bumi.

"Karena kau tak pernah bertemu dengannya lagi makanya aku kurang percaya kalau kakek masih mencintainya, ditambah lagi kakek telah menikah dengan nenek dan memiliki banyak anak."

"Aku akan sangat senang sekali jika ucapanmu benar-benar terjadi padaku, Kyungsoo. Ya kami memang tak bicara pada saat kami bertemu kembali. Tentu saja itu bisa terjadi. Aku diminta keluarga So-im untuk mengurus pemakaman suaminya. Entah dia mengenaliku atau mengacuhkanku, dia hanya menangis. Itulah karma."

"Aku tetap tak mengerti apa itu takdir." Kyungsoo

"Jika kau pikir semua berjalan seperti yang kita inginkan, tapi hidup meletakkan banyak belokan di jalanmu. Satu belokan kecil bisa menimbulkan takdir yang berbeda."

"Jadi, Salah satu cara untuk kembali ke jalan utama adalah bagaimana kita membuat takdir itu tetap berjalan semestinya?"

"Sepertinya memang harus. Seperti nenekmu yang telah terpilih menjadi takdirku, karena aku menghindari belokan yang curam itu, maka aku kembali pada takdirku."

Kyungsoo mengayuh dengan kecepatan penuh berbalik arah menuju rumah Jongin, masih dengan keadaan terengah-engah, ia melempar kerikil ke arah jendela kamar Jongin, dengan maksud memberi tahunya bahwa ia datang dan ingin bicara. Kyungsoo ingat ini jam belajar Jongin, tak bisa diganggu. Namun sial kaca itu pecah dan membuat Kyungsoo panik dan langsung kabur.

Kyungsoo merutuki kebodohannya dengan memukul-mukul kepalanya pelan.

"Kenapa aku bodoh sekali."

Gumamnya selama perjalanan, hingga ia berhenti tepat di sebuat gerai telepon umum. Pikirannya berubah.

Dengan cepat Kyungsoo merogoh sakunya dan memasukkan koin logam ke dalam telepon.

...

...

"Jongin ah... kata kakek seseorang memiliki takdirnya sendiri. Bagi kakek, takdirnya adalah nenek dan bagi Ayah, takdirnya adalah Ibu."

"Dan... aku, aku berharap kau menjadi takdirku, aku tidak hanya senang bersamamu, tapi ingin bersamamu. Itu saja." Kyungsoo menggenggam erat teleponnya, setidaknya ia lega.

"Kalau begitu sama."

Kyungsoo bergetar dan dengan cepat membalik tubuhnya. Jongin berdiri di belakangya, nafasnya tersengal.

"Kau mendengar semuanya?"

Jongin tersenyum lebar, kyungsoo membalas senyuman Jongin.


Jika kamu membaca ini, review adalah bonus untuk author agar author tau kalo ini dibaca ^^ thanks