Title : Memelihara Ong Seongwoo

Cast : Kang Daniel X Ong Seongwoo

Warning!

semoga segala kelakuan Ong Seongwoo diampuni

enjoy~


Seongwoo mengakat wajahnya, dan menemukan sesosok wajah tampan diarah jam sepuluh, "Kwon Hyunbin!"

"Astaga! Kau mengagetkanku! Breng-" hampir saja lelaki bernama Kwon Hyunbin itu mengumpat, tapi tidak jadi. Dia masih punya etika untuk tidak mengumpat pada orang yang baru ia temui, terlebih orang ini tau namanya. Bagaimana jika ia ternyata salah satu penggemar? dia akan dihantui rasa bersalah seumur hidup jika sampai mengumpat didepan penggemarnya.

"Kau benar benar Kwon Hyunbin?" tanya Seongwoo takjub, kedua matanya seolah memancarkan bintang bintang virtual.

"Iya, aku Kwon Hyunbin. Kenapa? Mau minta tanda tanganku? Atau berfoto denganku?" tebak Hyunbin percaya diri.

"Aku mau keduanya. Tapi, bisakah aku memintanya nanti setelah aku beli ponsel baru? Omong omong namaku Ong Seongwoo" Seongwoo mengulurkan tangan untuk saling berjabat, senyuman cerah masih setia menempel dibibir tipisnya.

"Aku Kwon Hyubin" Hyunbin balas menjabat tangan Seongwoo ramah.

"Astaga aku benar benar tidak menyangka akan bertemu super model seperti mu. Wah tempat ini memang benar benar hebat! Aku suka tinggal disini" lelaki itu memekik kampungan. Kawasan elit memang menyenangkan. Selain semuanya serba ada dan serba mewah, dia juga bisa bertemu model papan atas sekelas Kwon Hyunbin. Siapa tau nanti atau besok ia bisa bertemu selebriti lainnya.

"Oh, kau tetangga baru? Yang mana apartemenmu?" tanya Hyunbin. Apartemennya kebetulan berseberangan dengan milik Daniel. Ia baru tau kalau ada tetangga baru karna sudah dua hari ia tidak pulang ke apartemen karna jadwal pekerjannya yang super padat. Eh, tapi seingatnya tidak ada apartemen kosong di lantai ini.

"Ini" telunjuk Seongwoo mengarah ke belakang, menunjuk pintu apartemen Daniel.

"Kau pacarnya kak Dan?" duga Hyunbin, bibir merahnya terbuka beberapa centi.

"Apa? Pacar? Tentu saja bukan, aku hanya teman yang baru kemarin pindah ke sini" Seongwoo juga terkejut, tidak mungkin kan baru kenal kemarin tiba tiba jadi pacar? apa lagi Daniel dan dirinya ini sesama jenis, tidak mungkin sekali bukan?

"Lalu apa yang sedang kau lakukan disini? Kenapa berjongkok seperti gelandangan didepan apartemen sendiri?" Hyunbin bertanya seperti itu seolah tidak menyadari posisinya yang juga sedang berjongkok karna mengelus kepala Peter.

"Ini karena kebodohanku, aku baru pindah dua hari lalu dan Daniel belum memberitau passwordnya. Aku juga sudah mengetuk pintu, tapi sepertinya Daniel belum bangun" jawab Seongwoo sedih, bibirnya melengkung kebawah lagi.

"Kenapa tidak menelponnya saja?" saran Hyunbin.

"Aku tidak punya ponsel" Seongwoo jadi tambah sedih. Hyunbin terdiam sebentar. Ini sudah tahun 2017, tidak mungkin manusia jaman sekarang tidak punya ponsel -pengecualian untuk Seongwoo-.

"Baiklah, aku akan menelpon kak Dan untukmu" putus Hyunbin. Lelaki super model itu mengeluarkan ponsel dari saku kemeja dan menelpon Daniel setelahnya. Untung saja Daniel menjawab setelah bunyi deringan keempat.

Seperti yang diharapkan, Daniel membuka pintu apartemen dengan tampilan khas bangun tidur. Baju kusut dan rambut seperti sarang burung. Lelaki itu terkejut karna mendapati dua orang lelaki berjongkok didepan pintu, yang ternyata Seongwoo dan Hyunbin, tetangganya. Di mata Daniel, Seongwoo benar benar seperti peliharaan saat berjongkok seperti tadi. Jika Seongwoo memakai bando telinga kucing dan sarung tangan paw kucing pasti akan sangat menggemaskan.

"Kau dari mana? Kenapa tidak izin padaku dulu?" tanya Daniel setelah Hyunbin pamit dan Seongwoo masuk ke dalam apartemen.

"Maaf, aku tadi hanya jogging disekitar sini karna bangun terlalu pagi" ungkap Seongwoo menyesal. Ia menyeret langkahnya menuju dapur untuk mendapatkan air mineral, lalu duduk di kursi meja makan. Daniel mengikutinya, dan mengambil tempat diseberang Seongwoo.

"Kenapa tidak menelponku kalau tidak bisa membuka pintu?" Daniel tidak melihat ke arah Seongwoo, ia asyik mengoles selai di roti gandum.

Seongwoo memutar bola matanya jengah sebelum menjawab, "Yang pertama aku tidak punya nomor ponselmu, dan yang kedua aku tidak punya ponsel" jarinya membuat gesture angka satu dan dua.

"Memangnya kemana ponselmu?" topik mengenai Seongwoo tidak punya ponsel agaknya membuat Daniel penasaran, dia menatap heran Seongwoo.

"Tentu saja aku menjualnya, aku belum cerita ya?" Daniel menggeleng, "Aku juga menjual jam tangan dan kameraku. Aku hanya menyisakan laptop karna aku membutuhkannya" jelas Seongwoo, kedua tangannya bertumpu di meja, menatap Daniel yang tiba tiba terdiam dengan ekspresi datar.

"Kalau begitu nanti malam kita akan beli" ia memutus kontak mata dengan lelaki didepannya ini dan mengunyah roti gandum yang sudah siap disantap.

"Beli apa?" tanya Seongwoo sangsi.

"Tentu saja ponsel dan jam tangan" Seongwoo sudah sering mendengar jawaban bernada santai milik Daniel, tapi tetap saja ia belum terbiasa, "Satu jam lagi aku ada kuliah sampai sore, kau bisa memasak sendiri kan?" lanjut Daniel. Seongwoo mengagguk, meskipun sebenarnya ia hanya bisa menggoreng telur dan memasak ramyeon. Daniel beranjak, mulutnya masih sibuk mengunyah, "Jangan pergi kemana mana sebelum aku pulang, peliharaanku" tangan Daniel menyempatkan untuk bertengger di puncak kepala Seongwoo dan mengusaknya pelan. Seongwoo hanya menggerutu tanpa suara.

...

Genap tiga minggu Seongwoo tinggal bersama Daniel –Peter dan Rooney juga tentunya-, sedikit banyak ia sudah hapal jadwal kuliah dan kebiasaan kebiasaan lelaki berhati malaikat itu. Seperti memakan jelly dan membaca komik sebelum tidur, meminum susu vanila di pagi hari, bahkan ia sudah tidak kaget jika Daniel pingsan -tertidur lebih tepatnya- tiba tiba. Sekarang Seongwoo sudah tau arti dari narcolepsy yang pernah Daniel bicarakan. Jadi Daniel akan tiba tiba tidur dimanapun seperti orang pingsan, baru saja kemarin Daniel ketiduran di dapur setelah memberi makan Peter dan Rooney.

Seongwoo itu mahasiswa tahun terakhir, dia sudah bebas dari semua mata kuliah, hanya tugas akhir saja yang sekarang sedang menjeratnya. Ia tidak punya alasan ke kampus selain hari kamis dan jumat untuk bimbingan. Sedangkan jadwal Daniel penuh dari senin sampai jumat, ada kuliah, praktikum dan juga kegiatan club b-boying.

Daniel sebenarnya merasa sangat senang dengan kehadiran Seongwoo disini. Dia jadi punya teman, tidak kesepian lagi seperti tiga tahun belakangan ini, sejak sang ayah jarang mengunjunginya karna sibuk. Sekarang ada yang menjawab sapaannya saat ia membuka pintu, bukan suara meongan Peter dan Rooney lagi, tapi suara bernada ceria yang akan menanyakan apakah harinya menyenangkan? Daniel tentu tidak bisa untuk tidak tersenyum. Seongwoo seperti sebuah energi baru untuknya, dia bisa dijadikan teman berbagi dan pendengar yang baik. Tingkahnya yang kadang tidak masuk akal juga mampu membuat Daniel tertawa terbahak bahak, meskipun kadang ia juga dibuat malu dengan tingkah random Seongwoo.

Seperti saat Hyunbin bercerita pada Daniel mengenai Seongwoo yang meneriakinya di pertemuan pertama. Daniel ikut menimpali bahwa Seongwoo juga meneriakinya di pertemuan pertama mereka, lelaki bermata sayu itu jadi malu, ia sebenarnya tidak bermaksud begitu tapi mengelakpun tetap tidak akan memutar balikkan fakta. Satu lagi kejadian yang membuat Daniel benar benar malu setengah mati. Dua hari lalu Seongwoo membangunkan Daniel pagi pagi sekali untuk mengajaknya jogging di bawah. Daniel mengiyakan, lagi pula tidak setiap hari juga Seongwoo mengajaknya jogging.

Track jogging sejauh satu kilo meter itu sudah mereka lalui, sekarang Seongwoo mendudukkan pantatnya di rumput, Daniel masih berdiri seraya berkacak pinggang melihat lihat sekitar, "Aku mau beli bubble tea, kau mau?" tawar Daniel setelah menemukan food truck penjual bubble tea diseberang jalan.

"Ya, rasa coklat" jawab Seongwoo tanpa pikir panjang, ia suka rasa coklat.

Tidak perlu waktu lama Daniel sudah kembali dengan dua gelas plastik berisi bubble tea coklat. Minum minuman dingin saat berkeringat memang memberikan kenikmatan tersendiri, bahkan Seongwoo sudah menyedot habis tanpa sisa –dia benar benar menyedotnya tanpa bernafas- Daniel sampai dbuat melongo, ah biarlah bukankah Seongwoo memang orang yang ajaib?

"Aku ingin ke toilet, kau mau ikut?"

"Tidak, aku disini saja" tolak Seongwoo, Daniel berlalu ke toilet.

Sepuluh menit kemudian, dia dibuat panik karna lelaki yang datang bersamanya tadi sudah tidak ada ditempat semula. Bagaimana jika Seongwoo tersesat? Seharusnya ia mengajak Seongwoo saja tadi ke toilet. Tidak, Daniel tidak perlu panik dulu. Siapa tau Seongwoo hanya berjalan jalan tak jauh dari sini. Kepala Daniel akhirnya sibuk menoleh kesana kemari, dan ia mendapati seseorang memakai baju persis seperti yang Seongwoo kenakan tadi. Tapi posisi orang itu sedang menungging di tengah aliran air parit buatan, dan letaknya dekat dengan jogging track. Daniel mengamati sebentar, tidak ingin salah orang, setidaknya menunggu orang itu berdiri sempurna atau berbalik.

Lelaki pecinta kucing itu mengusap wajahnya kasar saat mengenali postur orang aneh yang sedang berjongkok di parit buatan tersebut ternyata benar benar Seongwoo. Daniel tidak punya pilihan lain selain menghampirinya, bahkan ia melihat sepatu Seongwoo teronggok ditepi parit. Celana training dan jaketnya juga ia lipat sebatas tulang engsel terdekat. Daniel diam saja sembari memasang pose bersedekap, ekspresinya antara kesal dan tak habis pikir. Ternyata Seongwoo sedang menangkap kecebong air yang asyik berenang renang di parit. Gelas plastik bekas bubble tea coklatnya tadi sudah beralih fungsi sebagai tempat menampung kecebong.

Daniel menghela nafas, ia bisa saja meninggalkan Seongwoo dan pura pura tidak mengenalnya, jika saja Seongwoo tidak berteriak kegirangan memanggil nama Daniel seraya memamerkan hasil tangkapannya. Beberapa orang disekitar sana ikut menoleh, ada yang menatap Seongwoo aneh, ada juga yang tertawa, Daniel jadi semakin ingin menghanyutkan diri di parit agar sekalian berenang dengan kecebong kecebong itu.

"Dan, lihatlah kecebong kecebong ini, mereka lucu sekali. Bolehkah aku memeliharanya?" pinta Seongwoo mengeluarkan jurus anak kucing ingin dipungut, dia tau Daniel lemah dengan ekspresinya yang seperti itu.

"Tidak!" jawab Daniel tegas, tanpa berpikir dua kali.

"Kenapa tidak? Aku ingin melihat mereka berubah jadi kodok" Seongwoo mengutarakan maksudnya. Selama 22 tahun hidup di dunia, ia memang belum pernah melihat proses pertumbuhan seekor kecebong menjadi kodok. Maka dari itu ia jadi penasaran.

"Lalu kau ingin rumahku dipenuhi oleh kodok yang melompat kesana kemari, begitu?" Daniel bertanya balik, berharap pertanyaan sarkasnya mampu menyadarkan Seongwoo dari keinginan tidak rasionalnya itu.

"Tapi kecebong ini lucu Dan, kau kan dokter hewan kenapa tidak suka kecebong? Jadi boleh ya?" Kali ini Seongwoo mengedipkan kedua matanya cepat agar semakin terlihat imut dimata Daniel. Namun Daniel malah mengumpat didalam hati. Bukan. Bukan karna keimutan Seongwoo, tapi karna jalan pikiran Seongwoo yang tidak pernah ia mengerti. Lalu kenapa kalau ia dokter hewan? Mau dia dokter hewan atau dokter kandungan sekalipun, membiarkan kodok melompat lompat didalam rumah itu bukan ide yang bagus.

"Tidak!" jawab Daniel kukuh, matanya menatap tajam Seongwoo.

"Boleh! Boleh! Boleh!" Seongwoo membalas tak kalah keras kepala.

"Tidak! Tidak! Tidak! Tidak!" Daniel masih bertahan, yang jelas tidak akan membiarkan Seongwoo membawa pulang kecebong kecebong itu.

"Boleh! Boleh! Boleh!" Seongwoo membalas lagi.

"Kau lupa siapa yang berkuasa disini? Cepat lepaskan mereka!" bentak Daniel, dia rasa itu senjata terakhir agar Seongwoo mau melepaskan para kecebong yang di anggapnya lucu, dengan mengingatkan bahwa Daniellah yang memelihara Seongwoo, dan berkuasa penuh atas diri Seongwoo.

Lelaki yang lebih tua menunduduk sebentar, bibirnya melengkung ke bawah, lalu melepaskan beberapa kecebong hasil tangkapannya ke parit. Seongwoo melangkah ke rerumputan, duduk disana seraya mengenakan kaos kaki dan sepatunya. Setelah itu ia berjalan duluan meninggalkan Daniel, seolah menggap dia tidak ada. Daniel jelas tau Seongwoo sedang marah padanya, tapi ia diam saja nanti juga berbaikan sendiri. Seongwoo itu butuh dirinya. Sepanjang perjalan menuju apartemen mereka diam saja, Seongwoo mengunci diri di kamar begitu tiba, padahal biasanya ia akan langsung sarapan dan menghisap rokok paginya bersama Daniel di meja makan.

"Seongwoo" Daniel mengetuk pintu kamar Seongwoo, "Ong" dia mngetuk lagi, "Ong Seongwoo" masih tidak ada jawaban dari dalam, "Aku berangkat dulu. Aku sudah memasak sup ayam untukmu, makanlah" pamit Daniel, dia tidak ingin terlambat menghadiri kuliah dosen tergalak seantero fakultasnya.

Seongwoo ada dikamar dan dia tidak tidur. Dia mendengar semua apa yang dikatakan Daniel, diam saja adalah pilihan tepat. Daniel sudah membuatnya kesal hari ini, moodnya berubah jadi buruk. Padahal kecebong kecebong tadi lucu, tidak kalah lucu dengan Peter dan Rooney. Tapi sup ayam buatan Daniel sepertinya menggoda untuk dicicipi. Baiklah, Seongwoo memutuskan untuk keluar, lagi pula Daniel juga sudah berangkat. Aroma kepulan asap sup ayam benar benar membuat Seongwoo tidak tahan, panci berisi sup ayam itu habis tak bersisa. Kedua kaki Seongwoo ia naikkan ke kursi, lalu meraih sebatang rokok yang selalu Daniel tinggalkan saat berangkat kuliah. Daniel itu tidak pernah merokok di kampus, sebenarnya larangan merokok juga ada di fakultasnya, maka dari itu Daniel tidak pernah membawa rokok ke kampus. Dua batang rokok Seongwoo rasa cukup sebelum kembali ke kamar mengerjakan tugas akhirnya.

Tepat pukul dua Daniel sudah datang, dengan dua kotak pizza ditangan kiri dan skateboard ditangan kanan. Jika sedang tidak ada praktikum diluar Daniel lebih memilih ke kampus menggunakan skateboard dari pada mobil, jarak kampus dan apartemennya juga tidak terlalu jauh. Dia juga memberi izin pada Seongwoo untuk memakai mobilnya kemanapun saat ia tak memakainya.

Daniel meletakkan pizza diatas meja, bersama dengan itu ia tersenyum mendapati panci sup sudah kosong tergeletak ditempat cuci piring. Ia bersyukur Seongwoo sudah memakannya, isi dalam bungkus rokok juga berkurang dua batang. Lihat kan? Seongwoo tidak benar benar marah padanya. Tanpa di duga ternyata Seongwoo keluar dari kamar mandi, merasa tidak pernah ada masalah sebelumnya, jadilah Daniel tersenyum menyapa Seongwoo.

"Kau suka supnya?" sapaan berentuk kalimat tanya terlontar dari bibir Daniel, tak lupa dengan senyuman pertanda puas karna sup buatannya sudah habis tak bersisa.

"Sup apa? Jangan memaksaku makan, aku tidak lapar" Seongwoo malah balik bertanya ketus. Daniel terkekeh sebentar, tentu saja ia tidak lapar karna tadi sudah menghabiskan sepanci sup ayam.

"Sup ayam buatanku. Kau sudah memakannya kan?" tanya Daniel seraya menggulung lengan kemejanya sebatas siku, bersiap memberi makan Peter dan Rooney.

"Tidak, aku tidak memakan apapun sejak tadi" bantah Seongwoo.

"Memangnya siapa lagi yang menghabiskan sup ayam di atas meja?" Pertanyaan Daniel bernada sarkas agar Seongwoo tidak bisa mengelak.

"Aku tidak tau, mungkin Rooney yang menghabiskannya" Seongwoo seenaknya menuduh makhluk berbulu kesayangan Daniel, bola matanya berputar ke berbagai arah menghindari pemilik si tertuduh.

"Apa setelah Rooney makan ia bisa membawa panci sup ke tempat cuci piring?" selidik Daniel, "Dan rokok ini berkurang dua batang, sebenarnya aku tidak yakin kucing kucingku itu bisa menghisap rokok" ia melipat kedua tangan didepan dada, menunggu sangkalan seperti apa lagi yang akan dilontarkan Seongwoo.

"Sudah ku bilang bukan aku pelakunya" pungkas Seongwoo galak.

"Aku sudah beli dua kotak pizza, ayo kita makan bersama"

TBC

Kak Mello Note :

Halo semuanya karna panggilan thor rada ga ena dikuping, jadi panggilnya kak mello aja yha ehe. Soalnya saya yakin usia kalian pasti masih belasan, sedangkan kakak uda dua puluhan yorobun sekalian ehe. Kak Mello terharu chap kemaren banyak yang ngereview, rasanya seneng banget dapet notif rame. Maaf kalo chap ini ceritanya kurang ngefeel, bertele tele dan masih banyak kekurangan lainnya. Eh iya chap kemaren banyak typo ya setelah di cek lagi, maapin. Trus banyak yang ngira hyunbin bapaknya niel, tapi ternyata bukan ehe. Makasih banyak buat semuanya yang sudi baca, ngreview, ngefav, dan ngefollow ff ini. Semoga hidup kalian seneng terus, amin.

Sampe jumpa di chap depan, insyaallah bakal update paling cepet hari jumat lagi lah.

eh iya satu lagi, kak mello sebenernya punya ff oneshot uda jadi, ceritanya anak sekolahan gitu. Genrenya friendship comedy sih, ga ada romancenya. Kalo di post disini kira kira ada yang doyan ga ya? trus castnya juga masih bingung, nah maunya sih anak anak produce yang 1995 line. Kenapa 1995 line? soalnya kalo kak mello liat nih, uda banyak ff anak sekolahan biasanya pake yang 1999 line, misalnya jihun, ujin, ucup dkk. Nah makanya kak mello bikin yang anti mainstream ehe.

Balesan review dari kak Mello :

jeonwonlust : ciee samaan ciee tapi beda kampus yha ehe

Park RinHyun-Uchiha : soalnya ga ada kerjaan lain yang bikin ong cepet tajir kecuali ya itu ehe, hayo tebak bapak kerjaan bapaknya niel apa

SJMK95 : huaaa makasih uda suka sama tulisanku yang modelnya kek begini, jadi terhura :') coba tebak kira kira apa kerjaan bapaknya niel, trus si hyunbin uda kejawab kan dia jadi apa di chap ini ehe

Re-Panda68 : kok kamu uda tau duluan sih si hyunbin jadi model disini? kok kita bisa satu hati gini ciaaa

dheea : tiap chapter aku bikin 2K lebih dikit biar anu ehe. uda kejawab kan hyunbin bukan bapaknya niel. kalo penjelasan ada dichap selanjutnya, di tunggu yha

Shining Peach : iya kita sepemikiran *toss* ternyata hyunbin cuma tetanggaan sama niel ehe

preetybeauty : ngga kok ngga, mereka bedua cuma tetanggaan ga ada hubungan darah santuyy aja ehe

WannableRii : iya biar si daniel ga sendirian ehe

Sky Onix : chap depan insyaallah dimulai anu anunya

Kfcfmd : yoi tengkyu ehe

nomunini : kalo yang review banyak insyaallah bakal cepet juga apdetnya ehe

yourhope : uda kejawab kan siapa si hyunbin ehe makasih banyak uda bilang ff ini kek nyata terhura jadinya :')