"Apa kalian saling mengenal sebelumnya?" tanya Mebuki yang heran melihat sambutan anak dan sahabatnya itu terhadap dua pemuda yang akan dijodohkan dengan mereka masing-masing.

"Tidak, baa-san. Kami tidak saling mengenal," kejar Naruto tak membiarkan dua gadis itu bersuara. Sakura melotot ke arahnya tidak percaya. Apa-apaan ini? Kenapa malah menjadi drama bodoh yang menyudutkan dirinya dan Hinata, pikir Sakura.

Setelah berujar demikian, Naruto duduk di kursi yang telah disediakan begitupun dengan Sasuke yang langsung duduk di sebelah Naruto. Mereka bersikap sangat sopan dan terus mengulum senyum kepada semua orang tua yang duduk di sini. Sakura sudah mengepalkan tangannya kuat-kuat. Dan Hinata masih cengo dengan semua yang terjadi. Drama bodoh apa lagi ini? pikir Hinata dan menggeleng keras.

.

Disclaimer Always Masashi Kishimoto

Genre: Romance, Humor, Drama, hurt/comfort, etc

Pairing: NaruSaku & SasuHina plus little bit other

.

Warning: AU, Ooc pake banget-jadi jangan aneh-, typo(s), rush, dan kesalahan lainnya

.

Story is mine

.

Don't Like Don't Read

Happy Reading :)

.

A Foolish Married

Chapter 4 "More Terrible"

.

.

.

"Sudah-sudah, jadi, sepertinya satu minggu dari sekarang mereka akan menikah, Mebuki, Kizashi, Hiashi, bagaimana?" ujar Jiraiya memecah ketegangan yang entah sejak kapan terbentuk.

"Aku sebagai tou-chan Sakura tentu saja sangat setuju, Jiraiya-san," tandas Kizashi membuat Sakura merenggut. "Tentu aku juga setuju," susul Hiashi membuat Hinata shock. Setahunya tou-channya itu tak pernah mau mengurusi hal merepotkan seperti ini.

"Baiklah. Semua persiapan sudah dilakukan dan pernikahan akan dilangsungkan di Tokyo. Kami hanya mengundang beberapa kerabat saja dan sisanya adalah keluarga besar, dan nanti malam, orang tua Naruto maupun Sasuke akan langsung ke sini."

Tiga orang dewasa di sini hanya mengangguk serempak. Menyetujui apa yang dikatakan oleh Jiraiya. "Oh ya, nanti kalian akan honey moon di sini dan baa-san akan mencarikan tempat yang paling bagus di Konoha."

Sakura dan Hinata semakin menganga lebar mendegar penuturan Tsunade barusan. Honey moon? Jangan bercanda! Bahkan tak ada satu pun di antara mereka yang mengharapkan pernikahan ini.

"Lalu, bagaimana dengan undangannya? Apa itu pun sudah selesai?" tanya Mebuki semakin memperlebar perbincangan ini. Tsunade mengangguk pasti membuat Mebuki mengulum senyum ke arahnya. "Tentu saja, desain undangannya sudah ada dan tinggal dicetak."

"Jadi, apa yang perlu kami lakukan Tsunade-san?" Kali ini Hiashi bertanya kembali. Sakura hanya bisa menepuk jidat lebarnya. Bukankah tadi Tsunade-sama sudah bilang semuanya telah dipersiapkan, pikirnya.

"Kalian hanya perlu ke Tokyo bersama putri kalian."

Sakura meringis dan Hinata bergidik ngeri mendengar nama kota itu. Pasalnya sumber dari segala sumber masalah ini berasal dari kota Tokyo. Dan mereka tak pernah menyangka semuanya tak selesai dengan indah. Kota itu sudah dianggap sebagai kota kutukan oleh kedua gadis ini. Obrolan ringan terus menyertai semua orang tua di sekeliling meja besar ini. Sesekali tawa renyah terdengar dan tentu sangat memilukan untuk Sakura dan Hinata.

"Tou-chan, Kaa-chan, Hiashi-jiichan, Tsunade-sama dan Jiraiya-sama, aku dan Hinata ingin berbincang dengan dua pemuda ini agar lebih dekat, boleh kan?" Suara Sakura mengintrupsi obrolan kelima orang dewasa. Semuanya menoleh tak percaya ke arahnya. Sedangkan Sakura melirik dengan tersenyum kikuk pada sang sahabat. Hinata hanya bisa menganga dan membulatkan matanya.

Dan dua pemuda di seberang mereka memicingkan matanya ke arah Sakura lalu sedetik kemudian menyeringai. Dengan gesit, Sakura menarik paksa Hinata untuk berdiri dan menghampiri dua pemuda masing-masing. Seolah mereka sudah tahu siapa yang akan dijodohkan dengan mereka. Sakura menyeret Naruto dan Hinata menyeret Sasuke. Keempatnya menjauh dan keluar dari restoran milik keluarga Hyuuga itu.

"Bagaimana mereka bisa tahu pasangan mereka?" tanya Mebuki heran menatap kedua gadis yang baru saja berlalu itu, lalu menoleh bingung ke arah Tsunade. Bukannya menjawab, nenek muda ini malah tertawa melihat reaksi dua anak didiknya di kampus. "Mungkin itu yang namanya jodoh?" Jiraiya menjawab bergurau dan ikut tertawa dengan istrinya.

.

.

"Kalian! Bagaimana mungkin kalian bisa menemukan kami? Dan kenapa kalian bisa mengenal Tsunade-sama?" kejar Sakura tak sabar sesampainya mereka di luar. Naruto melempar pandangannya sebentar ke arah sahabat ayamnya itu. Dan Sasuke memutar manik onyxnya tak minat.

"Memangnya kalian mengenal aku dan dia?" tanya Naruto dengan wajah yang dibingungkan sembari mengarahkan telunjuknya ke arah dadanya sendiri juga ke arah Sasuke. Mendapat respon seperti itu membuat Sakura melotot tak percaya dan Hinata masih bingung, mereka benar-benar tak mengenalnya juga Sakura atau hanya pura-pura.

"Jangan bercanda, pirang no baka! Kalian sudah melupakan orang yang kalian tindas selama di Tokyo ini, hah?" bentak Sakura membuat Naruto kembali menautkan alisnya. Emosi Sakura sudah membuncah, benar-benar tak habis pikir dengan dua macan ini. Kenapa mereka senang sekali menganggu hidupnya juga Hinata? Oh mungkin itu juga bukan sepenuhnya salah pirang dan ayam itu.

"Memangnya kita bertemu di Tokyo kapan?" Naruto kembali bertanya dengan bodohnya membuat Sakura semakin menggeram kesal. Tangannya sudah mengepal hebat, matanya memancarkan emosi yang membara. Hinata pun ikut bergidik ngeri melihat emosi sahabatnya yang sudah benar-benar tersulut.

"S-sakura-chan b-bersabarlah! Mungkin mereka benar-benar tidak ingat." Hinata mencoba mencairkan emosi Sakura yang sudah meledak-ledak. Dengan lembut, dia mengusap bahu Sakura. Memejamkan mata sebentar lalu Sakura pun menghela napas begitu dalam. Sedang mencoba meredam emosinya sendiri, malu juga kalau dia harus marah-marah di sini, pikirnya.

"Dengar ya, pirang no baka! Mungkin kalian bisa membodohi orang tuaku dan orang tua Hinata, bahkan Hinata pun berpikir kalian lupa dengan kami. Tapi, kau tidak akan pernah bisa membohongiku!" Naruto terkekeh mendengar penuturan Sakura yang kian pasti itu.

"Jadi…apa lagi yang kalian rencanakan, hah?" lanjut Sakura menuntut jawaban. Sasuke berdecak melihat kelakuan pasangan sahabatnya ini, benar-benar temperamental, pikirnya. Oh, sepertinya Sasuke tidak sadar dengan apa yang dia lakukan pada Hinata di Tokyo.

"Sudahlah Naruto untuk apa kita terus-menerus pura-pura tidak mengenal mereka," sahut Sasuke santai dengan tangan yang masih berada di kantung celana dan pandangan tak minatnya itu. Mau tak mau Hinata menoleh ke arahnya. Sasuke yang ditatap hanya mengangkat sebelah alisnya dengan seringaian yang tercetak jelas.

"Hahaha…kau benar Sasuke. Ternyata mereka masih mengenali kita, aku pikir setelah mereka kabur dengan sangat tidak bertanggung jawab mereka sudah lupa pada kita." Jitu! Ucapan Naruto membuat Sakura menggerutu dan Hinata menunduk merasa bersalah, memang siapa yang tak tahu? Ide ini kan tercetus dari otaknya.

"Sudahlah, memang apa salah kami? Kami kan hanya tidak mau jadi korban kalian saja!" sergah Sakura membela diri, sebenarnya dia cukup tahu itu tindakan yang mungkin sedikit tidak bertanggung jawab. Tapi, sungguh dia tidak akan mengorbankan masa depannya begitu saja.

"Dan yang lebih penting bagaimana kalian bisa menemukan kami? Dan kenapa kalian bisa mengenal Tsunade-sama?" Sakura bertanya dengan cepat seolah tidak ada waktu lagi baginya untuk mendengar itu semua, ya terlalu berlebihan memang.

"Takdir mungkin? Tsunade-baachan itu bibi Ibuku, Sakura-'chan'." Mendengar itu Sakura menggelengkan kepalanya keras-keras. Kenapa bisa jadi begini? Kenapa semuanya malah di luar prediksi mereka?

"Kau, Hinata kenapa kau malah ikut-ikutan kabur dengan sahabatmu itu?" tandas Sasuke sarkastik dan menatap tajam Hinata. Hinata merenggut. Kenapa lagi-lagi pemuda ini menindasnya seperti ini, pikirnya.

"Itu ideku, ayam. Aku tidak mengikutinya," aku Hinata dengan sedikit mengangkat sebelah alisnya. Sasuke yang mendengar itu hanya bisa melebarkan mata tak percaya. "Memang kau pikir siapa yang mau tiba-tiba menikah begitu, 'tuan ayam'?" lanjut Hinata dengan pandangan menantang ke arah Sasuke.

Sasuke kembali menggeleng keras, perempuan lugu yang ia kira ternyata tak ada bedanya dengan perempuan pasangan sahabatnya itu. Dia benar-benar tak menyangka. "Lalu, kau ingin meninggalkan tanggung jawabmu begitu saja padaku? Hutang-hutangmu, ingat kan?" tukas Sasuke membuat Hinata menggembungkan pipi chubbynya kesal.

"Jangan seolah aku memilik banyak hutang padamu! A-aku bisa melunasinya kok sekarang!" sergah Hinata pasti membuat Sasuke menyeringai. "Oh, sayangnya itu sudah terlambat 'hime'! Kita tetap akan 'menikah', ingat itu!" Sasuke menyeringai menang dan Hinata menghentakan kaki kesal.

"Lalu, bagaimana mungkin kami malah dijodohkan dengan kalian?" paksa Sakura, rasa penasarannya sudah benar-benar membuncah. "Memangnya kenapa? Itu mungkin saja, kan?"

"Tidak mungkin! Orang tuaku tak pernah memiliki pemikiran kuno seperti itu!"

"Tapi buktinya?" Sakura memejamkan matanya. Ia sadar kini ia kalah telak. Tapi, ia juga yakin ada yang tidak beres. Mana mungkin orang tuanya tiba-tiba menjodohkannya seperti ini.

Tak lama kemudian, Sakura kembali membuka kelopak matanya. Dia menatap tajam Naruto dan Sasuke bergantian. Naruto hanya mengendikan bahunya tak peduli dan Sasuke memandangnya tak minat. "Aku yakin kalian dalang di balik perjodohan ini, kan?" lanjut Sakura memicingkan mata, curiga pada mereka berdua.

"Sudahlah yang pasti kalian tidak akan bisa kabur lagi!" tandas Naruto membuat Sakura berdecak sebal dan memalingkan wajahnya ke kanan. "Terus kenapa kalian tadi pura-pura tidak mengenal kami?" tanya Hinata dengan muka polosnya membuat Sasuke dan Naruto terkekeh.

"Ya hanya ingin mengerjai kalian, apa salah? Kalian juga sudah mengerjai kami, kan? Pontang-panting kesana kemari mencari-cari kalian malam-malam. Apa kalian tidak punya otak?" jawab Sasuke sarkastik membuat Hinata kembali merenggut. Apa-apaan itu beraninya ayam satu ini mengatainya tidak punya otak.

"Jangan bilang kami tidak punya otak! Bahkan otak kalian sendiri sudah disumbangkan pada hewan!" lawan Sakura lebih sarkastik. Sasuke menatap Sakura malas dan Hinata sedikit gugup dengan suasana tidak bersahabat begini. Ya, memang sih dia cukup tahu kalau dua pemuda ini bukan sahabatnya sama sekali bahkan bisa dikatakan musuh yang harus dihindari.

"Maksudnya apa?" Naruto ikut andil memperlebar adu mulut ini, sepertinya hanya Hinata yang lebih memilih berdamai dalam keadaan dan mematungkan diri. "Apa? Memangnya otak kalian dimana? Bisa-bisanya kalian membawa kami ke masalah kalian sendiri! Kalau kalian jomblo tak laku ya ratapi nasib lah!"

Hinata menoleh ke arah Sakura dengan menganga tidak percaya. Sakura terlalu frontal, dia menggelengkan kepalanya. Sepertinya hanya aku yang waras di sini, pikir Hinata. Mendengar penuturan Sakura tidak membuat dua pemuda itu marah sama sekali. Mereka malah tertawa kencang seperti orang gila membuat Sakura tersentak dan bergidik ngeri.

"Kau lucu dan manis sekali, Sakura-chan. Sepertinya kita memang cocok, ya?" gurau Naruto yang lansung merangkul bahu Sakura. "Wah, kalian sudah akrab ya." Hampir saja Sakura menepis tangan milik Naruto, sayangnya sapaan Mebuki mengurungkannya, jadilah dia membiarkan tangan itu merangkulnya kali ini.

'Pantas saja si pirang ini tiba-tiba bersikap manis seperti itu ternyata ada ibuku.' Sakura membatin dalam hatinya dan sedikit berdecak. Sasuke pun tak mau kalah, dia melingkarkan tangannya di pinggang milik Hinata dari belakang. Membawa gadis itu mendekat padanya, mendapat perlakuan seperti itu membuat Hinata menoleh cepat dan hanya dihadiahi seringaian kecil oleh Sasuke.

"Kami mau ke mall, apa kalian mau ikut?" tawar Tsunade pada mereka berempat. Tak pelak saling pandang memandang pun terjadi. Hinata memandang Sakura seolah bertanya 'bagaimana? aku tak mau berduaan dengan ayam ini'. Melihat sorot mata Hinata membuat Sakura menghela napas dalam. Sedangkan, Naruto memandang Sasuke seolah berbicara 'sepertinya asyik' dan Sasuke hanya mengangguk pasrah.

"Kami mau ikut, baa-chan. Bukan begitu, Sakura-chan? Kau juga kan Sasuke?" seru Naruto dengan semangat membuat Sakura dan Hinata langsung menegang. Hari ini sepertinya akan menjadi hari yang suram. Serempak dua gadis ini menundukan kepalanya, meratapi nasibnya yang sangat mengenaskan.

"Baiklah. Sakura, Hinata, kalian naik mobil baa-san bersama Naruto dan Sasuke. Nanti, baa-san dan jii-san pakai taksi saja," ujar Tsunade dan diresponi anggukan pelan dan sunggingan senyum yang sangat dipaksakan. Sedetik kemudian, mereka semua langsung masuk ke dalam mobil dan melaju kencang menuju Mall Konoha.

Sesampainya di sana, mereka langsung turun dan memasuki mall. Sasuke menyeret Hinata ke dalam toko buku dan Naruto menyeret Sakura ke game center. Mereka memilih jalan masing-masing, tak ingin diganggu oleh siapapun sepertinya.

.

.

.

"Sakura-chan, ayo kita main basket? Kita bertanding bagaimana?" Naruto berujar antusias tanpa rasa bersalah membuat Sakura mendengus sebal.

"Jangan panggil aku begitu! Cukup Sakura saja! Itu terdengar menjijikan! Tidak, aku mau cari minuman lagipula aku tidak bisa bermain basket," respon Sakura dengan ketus berharap pemuda satu itu bisa sedikit mengerti bahwa ia tak sudi sama sekali berjalan dengannya.

"Baiklah aku titip coca cola, ya?!"

Naruto melesat pergi meninggalkan Sakura sendirian. Sekarang siapa memangnya yang tak bertanggung jawab? Dia sendiri yang memaksa Sakura untuk ikut dan sekarang dia yang meninggalkannya begitu saja? pikir Sakura. Tapi, setidaknya bagus karena ia memang tak perlu berduaan dengan pirang satu itu.

Dengan santai Sakura melenggangkan kakinya menuju salah satu Jidohanbaiki-Coke Vending Machine Touchscreen-. Sakura memasukan koin ke dalamnya dan menekannya lalu menunggu beberapa detik keluar dua buah kaleng coca cola. Setelah mengambilnya, Sakura kembali melangkah menuju pemuda pirang yang membuatnya terpaksa datang ke sini.

Tanpa mengucapkan kata-kata, Sakura menyodorkan satu kaleng coca cola ke hadapan Naruto yang sedang menghapus keringatnya. Naruto yang memang sedang kehausan langsung mengambilnya dan menengok ke arah gadis yang berbaik hati membawakan minum untuknya. "Arigatou, Sakura." Naruto berujar dengan cengirannya seperti biasa dan hanya diresponi anggukan kecil dari Sakura.

"Hey, kau yakin tak mau mencoba bermain?" ujar Naruto sesaat setelah meneguk kaleng itu.

"Tidak." Tolak Sakura pasti dengan gelengan kepala.

"Ayolah," paksa Naruto sambil menyeret salah satu lengan Sakura yang bebas. Diseret seperti itu membuat Sakura sedikit meringis dan mendelik tajam kepada sang pelaku.

"Sudah kubilang aku tidak bisa, baka!" sergah Sakura ketus dan langsung kembali menarik pergelangan tangannya.

"Tenang aku ajari! Tidak sulit kok." Melihat Naruto yang antusias membuat Sakura terkekeh kecil sambil menggelengkan kepala. "Baiklah baiklah, aku menyerah."

Dengan perlahan Sakura mengambil salah satu bola basket dan menghadap ring yang tersedia. Kakinya sedikit ia jingjit dan kedua tangannya sudah ia angkat mencoba memasukan bola. Tiba-tiba kedua punggung telapak tangannya menjadi hangat seperti ada yang sedang menggenggamnya. Naruto.

"Bagaimana akan masuk bila memegang bolanya saja kau salah?" Sakura menahan napas. Deru napas Naruto menerpa leher jenjangnya. Ya, pemuda satu itu sudah terlalu dekat. Gadis bubblegum itu pun menjadi salah tingkah sendiri. "Eh, um, memangnya yang benar bagaimana?" Mati-matian Sakura menahan kegugupan yang tiba-tiba melanda.

Naruto malah tertawa kecil membuat Sakura semakin geli. "Letakan kedua telapak tanganmu di belakang bola dan buat jari tulunjuk dan ibu jari tanganmu mendekat seperti akan membentuk bangun segi empat." Naruto melepaskan telapak tangannya dari punggung tangan Sakura, namun dia belum ingin melangkah mundur dan mencuri wangi tubuh Sakura dari belakang.

Sakura yang memang masih gugup dan tegang mencoba membentuk tangannya seperti apa yang diterangkan Naruto barusan. "Begini?" tanya Sakura tanpa menoleh karena dipastikan apabila dia menoleh ke belakang wajahnya akan bersentuhan dengan wajah tan milik pemuda menyebalkan itu. Hell no. Itu tidak boleh terjadi.

"Bukan begitu, Sakura. Seperti ini." Naruto menuntun tangan lentik Sakura untuk memegang bola, perlahan namun pasti sampai tangan putih Sakura tertutup oleh tangan tan miliknya yang lebih besar itu. "Nah, iya seperti itu." Setelah berucap demikian Naruto melangkah mundur menciptakan jarak di antara mereka. Sakura akhirnya sudah bisa kembali menghirup napas lega.

Setelah menghirup napas lega, Sakura kembali menjingjitkan kakinya dan hendak melompat kecil untuk memasukan bola ke dalam ring. "Kakinya masih salah, Sakura. Harusnya kaki kanan dimajukan sedikit." Penuturan Naruto kembali membuat Sakura mengurungkan untuk melempar bola. Dia mendengus sebal, kenapa daritadi terus diprotes sih? Memangnya siapa yang menyuruhnya untuk bermain permainan menyebalkan ini?

Tapi, meski begitu Sakura menurut saja dengan intrupsi Naruto, toh itu tidak terlalu merugikan. Ia pun memajukan sedikit kaki kanannya dan kembali berjingjit. Oh, oke, ini sudah ketiga kalinya ia mencoba untuk memasukan bola. Awas saja kalau sampai Naruto mengintrupsinya lagi, bisa dipastikan. Pukulan monsternya akan mendarat di kepala pirang pemuda menyebalkan itu.

Slup…

Yap! Lemparan Sakura berhasil masuk ke dalam ring dengan mulus. Karena memang begitu senangnya Sakura langsung melompat-lompat kegirangan. Mau bagaimana lagi? Kan memang selama ini ia belum pernah sama sekali memasukan bola basket ke dalam ring semulus tadi. Ia pun membalikan tubuhnya ke arah Naruto. Dengan mata berbinar ia kembali melompat dan mengguncang-guncang bahu Naruto antusias.

"Lihat Naruto. Aku berhasil! Sungguh ini pertama kali bola basket aku masukan seindah tadi." Naruto mengangguk dan tersenyum kecil melihat kelakuan Sakura seperti ini, "Ya, kau memang hebat," puji Naruto sembari mengacungkan jempol miliknya membuat Sakura semakin bangga dan tersenyum puas.

Entah sudah berapa lama Sakura terus melompat membuat Naruto menggelengkan kepalanya keras-keras. Gadis temperamental ini ternyata memiliki sisi kekanak-kanakan yang kentara juga, pikirnya. Riuh rendah pengunjung game center lain yang sedikit membicarakan kelakuan anehnya itu tak diindahkan. Biarkan saja, lagipula setiap orang bebas berekspresi, bukan?

Surai merah muda sebahunya ikut bergoyang mengikuti tempo lompatannya membuat sang surai sedikit berkibar. Senyum puasnya, wajahnya yang berseri-seri dan tingkahnya membuat Naruto terpaku sejenak. Meniliti setiap lekuk wajah Sakura yang masih berseri-seri. Manis. Naruto yang sempat berpikir demikian langsung kembali menggeleng dan menepis pikiran nistanya itu. Bagaimanapun juga dia adalah seorang wanita monster! Naruto membatin sendiri di dalam hati.

Tiba-tiba kaki Sakura terpeleset membuatnya hampir terjatuh ke depan. Refleks, Naruto yang melihat langsung mendekat dan memeluknya agar tidak terjatuh. Sakura pun tak kalah gesit, ia langsung melingkarkan tangannya pada leher Naruto. Jadilah mereka seperti ini. Saling memeluk satu sama lain dengan tubuh yang sangat dekat membuat sang empu terdiam beberapa puluh detik.

"Kamu tidak apa-apa, Sakura?" Suara Naruto memecah kesunyian di antara mereka yang entah sejak kapan tercipta dengan sangat tidak elitnya. Sakura yang merasa namanya disebut langsung mendongak. Sesaat setelah ia mendongak, Sakura langsung menahan napas. Sakura merutuk dalam hati, bagaimana ia bisa seceroboh tadi membuatnya harus terlalu dekat begini dengan macan pirang yang sedang memeluknya.

Wajahnya dengan wajah Naruto begitu dekat, hidung mereka pun hampir bersentuhan. Tak kuasa lagi, pipi Sakura sudah menunjukan rona merah tipis. Dengan kasar ia mendorong bahu Naruto membuat sang korban dengan terpaksa melepaskan pelukannya. "Tenang saja, aku baik-baik saja."

"Yokatta kalau begitu."

Ucapan Naruto menjadi akhir dari perbincangan mereka. Keterbekuan kembali tercipta. Mereka berdua kembali sama-sama canggung dan tak berminat untuk kembali membuka sesi pembicaraan selanjutnya dengan topik yang berbeda.

Suara semilir angin yang hanya terdengar di sekitar mereka berbarengan dengan hembusan napas mereka yang tarik ulur. Naruto mengusap tengkuknya pelan mencoba menghilangkan kegugupan yang tiba-tiba mendera. Sakura berkali-kali menyelipkan rambutnya ke belakang telinga dan menengok kanan kiri tak tentu arah.

"Sakura." Kontan mereka kembali tersentak dan menoleh serempak ke arah sumber suara. Sakura melebarkan netranya melihat siapa yang menyerukan namanya barusan, sedangkan Naruto menaikan sebelah alisnya sambil memicingkan mata ke arah pemuda berambut nanas tersebut. Sedetik kemudian, seringaian tercetak jelas di bibir Naruto.

Perlahan namun pasti Naruto kembali mendekati Sakura. Lalu, tanpa pamit terlebih dahulu, Naruto untuk yang kedua kalinya melingkarkan tangannya pada pinggang gadis yang memiliki surai merah muda tersebut. Tentu saja itu membuat sang empu berjengit dan menoleh ke arah samping. Melotot tak percaya pada sang pelaku yang menarik tubuhnya mendekat.

"Siapa dia, Saku?" Shikamaru menatap tak suka pada Naruto dengan mata sayunya dan hanya diresponi senyum mengembang dari Naruto dan langsung menyodorkan tangannya yang bebas. "Naruto, tunangan Sakura."

Glek…

Sakura menelan ludahnya sendiri. Sungguh, ini adalah keadaan yang paling menyebalkan untuk dihadapi. Apa yang harus ia katakan memangnya kepada Shikamaru? Namun, ia pun tak ingin benar-benar kehilangan pemuda itu.

"Aku sudah tahu namamu. Kau adalah orang yang sengaja menggagalkan makan siangku dengan Sakura tadi, kan? Berpura-pura memanggilku bahwa ada yang mencariku."

Pemaparan Shikamaru membuat kening Sakura mengerut. Menggagalkan? Mencari? Ia putar kembali memori pertemuannya dengan Shikamaru beberapa jam yang lalu. Ah, ya! Sakura ingat, saat itu ada orang yang tiba-tiba berkata bahwa Shikamaru dicari seseorang. Jadi, pria aneh itu Naruto! Pantas saja Sakura seperti tak asing dengan seringaiannya. Mendapati fakta itu Sakura hanya bisa menggelengkan kepalanya tak percaya.

"Jadi apa yang ingin kau ketahui, hm? Hubunganku dengan Sakura? Sudah jelaskan tadi kubilang? Aku adalah tunangan Sakura."

"Benar begitu Sakura?" Sakura membisu, benar-benar bingung apa yang harus ia katakan. "Eh? Um, dengarkan penjelasan aku dulu Shika-kun!" Sakura menatap langsung onyx milih Shikamaru dan menatapnya was-was.

"Jadi, benar? ternyata yang selingkuh itu kamu? Bisa-bisanya ya pertemuanku dengan Temari kamu jadikan alasan kita untuk berpisah! Aku salah menilai kamu, Saku! Mendokusai." Shikamaru mendecih dan langsung pergi begitu saja meninggalkan Naruto dan Sakura.

"Shika bukan begitu! Tunggu! Aku harus menjelaskan ini padamu!" Teriakan Sakura tak dihiraukan sama sekali oleh Shikamaru. Ia tetap berjalan lurus tanpa peduli apa yang diteriakan oleh Sakura. Ternyata memang benar, semua perempuan itu merepotkan, pikirnya. Hatinya sudah terlanjur kecewa. Sakit. Tapi, siapa peduli dia bukan seorang perempuan yang harus menangis di saat terkhianati seperti itu.

Grep…

Tangan Naruto menahan pergelangan tangan Sakura yang hampir saja berlari untuk mengejar dan menjelaskan semuanya pada sang mantan kekasih. Hatinya nyeri saat Shikamaru berkata bahwa dialah yang selingkuh. Sungguh, dia tak terima sama sekali. Di sini ialah yang menjadi korban tapi kenapa seolah-olah dia yang salah. Dengan hati yang sudah remuk Sakura mencoba melepaskan tangannya dari cengkraman Naruto.

"Lepas Naruto! Aku harus mengejarnya dan menjelaskan semuanya! Enak saja dia bilang aku selingkuh! Aku benci omongannya aku benci tapi hiks…hiks aku juga tak mau kehilangannya."

Tangis Sakura sudah meledak. Ia tak tahan lagi, pokoknya ia harus bicara panjang lebar dengan Shikamaru sekarang juga! Air matanya mengalir semakin deras, kesalahpahaman ini membuat lukanya semakin meradang. Sesak. Sedih.

"Sudahlah Sakura." Naruto mendekat dan mencoba membawa Sakura ke dekapannya. Dengan gesit Sakura menepis tangan Naruto yang hampir saja merangkul tubuhnya dan membawanya ke dalam pelukan sang pemuda.

"Kamu pikir ini salah siapa, hah? Apa maksudmu berkata seperti itu? Harusnya biarkan saja aku yang menjelaskan semuanya! Aku semakin membencimu macan pirang!"

Naruto terpaku mendengar penuturan Sakura barusan. Memang ia sebegitu salahnya sampai-sampai gadis itu membencinya? Tak ada yang bisa ia lakukan lagi melihat Sakura berlari sambil menghapus jejak airmatanya. Membiarkan gadis itu tenang untuk sejenak dan ia tak ada alasan untuk kembali mengganggunya. Dengan gontai dan kepala menunduk, Naruto berjalan menyusul Sakura perlahan menuju mobil. Entah karena alasan apa hatinya merasa sedikit nyeri melihat Sakura berkata membencinya. Sudah berapa kali dia menyakiti perasaan gadis itu memangnya?

.

.

Pemuda berambut raven itu berjalan santai meninggalkan Hinata yang tertinggal di belakangnya. Ia mencari-cari buku fiksi mengenai urban legend, tak mengacuhkan keberadaan gadis itu sedikitpun. Namun, sungguh sang gadis bersurai indigo itu tak peduli. Dia pun lebih memilih untuk memilah buku fiksi horror di salah satu rak. Melihat-lihat judul yang mana yang kira-kira menarik untuk dibaca.

Kebetulan rak buku yang mereka cari bersebalahan. Mereka menyisir setiap buku dari ujung satu sampai ke ujung lainnya. Saking fokusnya dengan buku yang mereka cari masing-masing itu, mereka sampai tak sadar bahwa di lawan arah mereka ada orang yang juga sedang mencari. Ya, akhirnya pemuda bersurai raven dan gadis bersurai indigo itu bertubrukan membuat masing-masing mengaduh berbarengan.

"Hati-hati dong!" protes Sasuke sambil mengusap keningnya pelan. Hinata mendelik tajam mendengar penuturan pemuda itu. "E-enak saja! Kau yang harusnya lihat-lihat, ayam!" tukas Hinata sarkastik.

"Sudahlah. Kau suka bacaan horror?" Sasuke menaikan sebelah alis matanya ke arah deretan buku yang baru saja disisir oleh Hinata. Dengan mantap, Hinata menganggukan kepalanya membuat Sasuke kembali mengendikan bahu tak peduli.

"K-kau sendiri suka urban legend, S-sasuke-san?" Hinata tak tahu apalagi yang harus ia tanyakan. Jadi, dengan bodohnya ia menanyakan hal yang sama dengan apa yang dituturkan Sasuke padanya.

"Hn." Satu kata tak bermakna itu mengakhiri perbincangan mereka dan membuat masing-masing kembali dengan kegiatannya.

Setelah menyisir kembali buku-buku tersebut dengan lebih seksama, Hinata menemukan satu judul yang membuat matanya sedikit berbinar. Dengan antusias dia mencoba mengambil buku itu yang terdapat pada rak yang paling atas. Kepayahan Hinata mencoba mengambil buku tersebut. Sudah menjingjitkan kakinya pun tetap saja ia tak sampai untuk mengambil buku tersebut.

Hinata berdecak dan menghentakan kakinya kesal karena buku itu tak bisa ia capai tadi. Dengan menarik napas panjang, Hinata kembali mencoba mengambil buku tersebut. Kakinya sudah benar-benar ia jingjitkan kembali dengan full. Hampir dapat, namun naas tubuhnya oleng ke belakang. "Kyaa!"

Hinata menutup matanya tak kuat untuk merasakan bagaimana rasa malu juga sakitnya bila ia benar-benar sampai terjatuh. Hinata mengumpat dalam hatinya, merutuki sialnya keberadaan buku tersebut. Kenapa buku itu harus ada di rak yang paling atas? Pikirnya. Beberapa belas detik berlalu begitu saja. Dengan mata yang masih terpejam, Hinata mengerutkan keningnya. Seharusnya ia sudah mendengar cekikikan orang dan kerasnya lantai.

"Sampai kapan mau terus aku pegangi begini?" Loh? Cepat-cepat ia buka sepasang netranya dan terbelakak tak percaya. Ternyata Sasuke sedari tadi menjadi penyangganya? Pantas saja ia tidak kunjung jatuh. Hinata menolehkan kepalanya ke sebelah kiri, enggan bertatapan langsung dengan onyx milik Sasuke. "Arigatou."

"Hn, tapi bisa tidak cepat berdiri? Tubuhmu berat." Dengan tampang datarnya Sasuke berucap sadis seperti itu membuat Hinata kembali menggembungkan pipinya. Sedetik kemudian, ia langsung mendirikan tubuhnya dengan sempurna.

"Dasar sadis! Aku t-tidak gendut!" omel Hinata yang sudah mengerucutkan bibirnya. Siapa yang tidak marah bila dikatai berat seperti itu? Hinata cukup tahu bahwa badannya memang tidak terlalu langsing tapi tidak sepatutnya berbicara terang-terangan seperti itu di tempat umum, kan?

Beberapa pengunjung yang menyaksikan tingkah mereka sedari tadi hanya cekikikan dan ada pula beberapa yang menahan tawanya yang sudah di ambang batas itu. Hinata yang menyadari bahwa ia dan Sasuke sudah menjadi pusat perhatian langsung menundukan wajahnya yang sudah memerah sempurna. Sedangkan Sasuke? Ia tak peduli sama sekali dengan tatapan pengunjung lain.

Sasuke yang memang sedari tadi sudah memerhatikan tingkah Hinata langsung mengambil buku yang hendak diambil oleh gadis itu dengan mudah karena memang tubuh Sasuke lebih jangkung dibanding gadis tersebut. Dengan perlahan ia kembali mendekat pada Hinata dan menyodorkan buku itu ke depan wajah Hinata yang masih menunduk.

Hinata mendongak dan menatap Sasuke bingung. Apa maksudnya itu? Apa dia juga mengincar buku yang sama?

"Kau ingin mengambil yang ini, bukan? Setidaknya berterimakasihlah karena aku membantumu lagi."

Pipi Hinata kembali bersemu. Bagaimana pemuda itu tahu bahwa ia sempat terjatuh karena berusaha keras untuk mengambil buku yang masih dipegang oleh Sasuke tersebut? "Um, A-arigatou, Sasuke." Hinata mengambil perlahan buku tersebut disertai senyuman manisnya.

"Hn." Sasuke mengangguk dan menarik pergelangan tangan Hinata dengan paksa membuat gadis itu kembali bingung. Rasanya Sasuke memang senang sekali melakukan tindakan seenaknya tanpa memberitahu dulu akan apa pada Hinata.

Seperti biasa. Hinata hanya menurut dan pasrah. Hembusan napasnya terdengar sedikit berat. Ingin sekali ia melepaskan tangannya dari genggaman pemuda tersebut namun ia malas bila harus kembali mendapat semburan dari sang pelaku.

Ternyata Sasuke mengajak ke arah kasir untuk membayar bukunya juga buku Hinata.

"Buku ini biar aku yang membayar. Aku takut kau tak punya uang." Apa? Enak saja pemuda ini berkata seperti itu?! Hinata tak semiskin itu! Mendengar penuturan Sasuke membuat Hinata kembali berdecak tak senang. Sepertinya pemuda temperamental yang mungkin akan menikah dengannya itu senang sekali mengatainya.

Selesai bertransaksi, mereka kembali berjalan beriringan menuju parkiran untuk pulang dan sepertinya kedua sahabat lainnya sudah menunggu di sana. Entah karena alasan apa, Hinata menoleh ke arah Sasuke dan menatap wajah pemuda itu dari samping. Kali ini, pemuda ayam ini sudah menolongnya dua kali. Ia tersenyum kecil mengingat kejadian di toko buku itu.

"Jangan memandangiku begitu! Kau bisa benar-benar menyukaiku!" Gotcha! Kontan Hinata langsung meluruskan kembali wajahnya. Sungguh memalukan! Bagaimana ia bisa tertangkap basah seperti itu! Semakin percaya diri saja kalau begini.

Pipinya yang bersemu semakin memerah karena hawa dingin yang tiba-tiba menyergap. Ah, Hinata baru ingat. Ini kan sudah memasuki awal musim dingin. Pantas saja rasanya sedari tadi suhu terasa lebih dingin. Dengan perlahan Hinata menggosokan kedua telapak tangannya hanya untuk sekedar menghilangkan rasa dingin di sekitar telapak tangannya itu.

"Kau kedinginan?"

Hinata menoleh kembali dan menggeleng pelan sebagai jawaban. Melihat respon Hinata, Sasuke berdecak dan langsung melepas jasnya dan memberikannya pada Hinata. "Jangan bohong. Pakai saja."

Dengan tidak yakin, Hinata menerima jas milik Sasuke dan memakaikannya perlahan pada tubuhnya. Ya, Hinata akui setidaknya rasa dingin yang ia rasakan sedikit berkurang.

Semilir angin menemani perjalanan mereka. Hiruk pikuk pengunjung lain sudah tak bisa di dengar lagi oleh indera pendengaran Hinata. Kenapa Sasuke bisa peduli padanya seperti itu? Meski memang tak seperti di film-film yang biasa sahabatnya tonton sih. Tapi, tetap saja itu membuat Hinata sedikit melayang. Siapapun wanitanya pasti akan senang bila ada yang memerhatikan dan peduli. Tapi bukan berarti mereka jatuh hati secepat itu juga, kan?

Tak bisa dipungkiri lagi. Degup jantung Hinata lebih cepat berpacu. Hatinya entah kenapa semakin berdebar tak karuan. Ah, kenapa berdekatan dengan pemuda ini bisa membuatnya salah tingkah? Sejenak Hinata tiba-tiba teringat akan Gaara yang beberapa jam yang lalu bertemu dengannya di sini. Andai saja yang berada di sampingnya adalah Gaara. Andai saja yang memberikan jas itu adalah Gaara dan andai saja yang menolongnya tadi Garaa.

Tidak! Hinata langsung menggelengkan kepalanya cepat. Bagaimana ia bisa-bisanya berharap seperti itu? Tidak baik bukan saat ada orang yang melakukan kebaikan malah diharapkan orang lain yang melakukannya?

"Kamu kenapa?"

"Eh?" Hinata lagi-lagi menoleh ke arah Sasuke dan menatapnya bingung. Memangnya dia habis melakukan apa? pikirnya.

"Kamu tidak sakit, kan? Kenapa menggelengkan kepala seperti itu?"

"Eh? T-tidak apa-apa kok. Hanya saja sedang memikirkan suatu hal?" jawab Hinata sedikit tak yakin. Yang bertanya hanya menganggukan kepalanya seolah mengerti dan kembali melanjutkan langkah kaki mereka yang sempat terhenti tersebut.

"Kamu masih kedinginan? Sini tanganmu."

Dengan polos Hinata mengerutkan keningnya dan memberikan tangan sebelah kirinya ke arah Sasuke.

"Begini pasti tidak terlalu dingin."

Hinata kembali bersemu. Tangannya digenggam oleh Sasuke? Digenggam? Dan itu agar Hinata tidak merasa kedinginan? Oh, sejak kapan pemuda dingin juga temperamental ini bisa sebegini pedulinya? Sepertinya memang ada yang salah dengan otak Sasuke.

Akhirnya dengan tangan yang masih saling menggenggam mereka sudah sampai di parkiran dan menuju mobil milik Tsunade tersebut. Ternyata di dalam mobil sudah ada Naruto dan Sakura yang masih berdiam-diaman. Mau tak mau mereka-Hinata dan Sasuke- mengangkat sebelah alis mereka melihat sahabatnya masing-masing.

Dengan perlahan Sasuke membukakan pintu mobil untuk Hinata dan menutupkannya kembali setelah dia masuk. Setelah itu ia berjalan ke arah kursi depan tepat sebelah kursi supir yang diduduki Naruto. Dengan cepat ia pun melesat masuk ke dalam mobil sport itu.

"Hey kau kenapa, dobe?"

"Ck, si pinky marah padaku." Setelah berucap demikian ia menekan pedal gas dan langsung mengemudikan mobil meninggalkan Mall Konoha ini.

.

.

Pemuda berambut nanas yang masih merasa kecewa terhadap sang mantan terus berjalan terburu tanpa melihat jalan sambil merapalkan trademarknya berkali-kali. Ia tak percaya, sungguh tak percaya bisa-bisanya Sakura mengkhianatinya seperti itu sampai dia sudah memiliki tunangan. Brengsek, pikirnya.

Dari arah berlawanan gadis berambut pirang dengan gaya ponytail sedang berjalan santai dengan pandangan yang terus fokus terhadap gadget yang sedang ia pegang. Karena memang sedang tak fokus pada jalan masing-masing, akhirnya mereka pun bertubrukan membuat keduanya mengaduh dan si gadis jatuh terduduk sedangkan sang pemuda mengulurkan tangannya untuk membantu.

"Gomen, kau tak apa, kan?" Ino-nama gadis itu- Menjabat uluran tangan Shikamaru dan mendirikan tubuhnya dibantu oleh pemuda dengan rambut seperti nanas tersebut.

"Okey. No problem." Ino menyahut setelah berdiri dengan sempurna diiringi senyum termanis yang ia punya. "Ah, your hair is so cute, it's like pineapple, right?" tambah Ino dengan sedikit kekehannya membuat Shikamaru kembali merapalkan trademarknya. "Sorry, just kidding. My name is Ino, yoroshiku." Dengan bungkukan badan seadanya Ino memperkenalkan diri diakhiri oleh bibirnya yang kembali terangkat.

"Hm, Shikamaru, mendokusai. Aku buru-buru, duluan."

Setelah berucap demikian Shikamaru meninggalkan gadis pirang tersebut sendirian. Dan yang ditinggalkan hanya bisa mengangkat sebelah alisnya dan mengendikan bahu tak peduli lalu kembali mengambil langkah.

.

To Be Continued


A/n : Oke saya senang bisa update setelah beberapa waktu yang lalu kepikiran buat hiatus/? selamanya gara-gara kecewa berat hiksu*nangis di pojokan

Gomen kalau sangat mengecewakan dan absurd begini*bungkuk2* semoga feelnya masih ada walu sedikit hehehe. Pernikahan mungkin chap depan bisa dilangsungkan/? , jadi adakah yang mau memberi saya sedikit ide#dor , tapi ini serius saya membutuhkan ide '_'

Oh ya saya usahakan ini akan terus update walau molor karena kesibukan author abal ini di RL, semoga masih ada yang mau menunggu*wink* dan author sudah sangat usahakan mengubah tata bahasa hehe

Buat Zha-nee ini update :p semoga bisa menghibur walau sedikit '_' dan Lita a.k.a Renvel semoga kau tidak melupakan fic ini nakkk/tereak nangis, dan minna-san juga semuanya semoga masih inget sama fic abal-abal ini hiksu

BIG THANKS:

Ae Hatake, avrillita97, Gray Areader, Hallow-Sama, hanhuw, AyuClouds69, Rini desu, Zee-leven Seven, Pembaca , Renai Rey Fern, Al Blue Blossom, shanzec, Renita Nee-chan, Puypuy, Rini Andriani Uchiga, chan, Hee-chan, lutfisyahrizal, aichan14, devil paper, SasuHinaGaa4ever, pipoy12, asysyaffa, Aiichi Onna, Aralia, emma-nyaaan, Renvel, Haruka Michi, NamiMirushi, Huang Youngie HappyVirus EXO-L, dinarock35, harunami56, narusaku lovers, sakura uzumaki, sarah, nona fergie kennedy and all guest :)

So, what do you think about this chap? Kritik? Saran? Concrit? Maybe Flame? Author terima dengan senang hati*nengadahin tangan* and don't forget to

.

Review, Please! ^^

.

.

.