Snowdrop

(Chapter 3)

Diamond no Ace belongs to Terajima Yuuji

Snowdropbelongs to shinjishinyuki

A.N: Fanfiksi ini akan mengambil beberapa scene dari film Somewhere Only We Know, karena dari situlah Yuki mendapat inspirasi untuk menulis ini. Yuki tetap berterima kasih atas semua ripiuw rusuh yang buat Yuki ngakak gegulingan di lantai. Dan betewe, untuk yang sudah baca fanfiksi EIJUN dari si ngerepotin itu, sumpah, Yuki itu bukan cowok berumur 25 tahun. Makasih buat si bebi Acchan yang udah ngebeta.

Oke, Happy Readiiiing~!

.

.

.

.

.

Sebuket periwinkle white di pangkuan. Bunga yang manis. Miyuki tersenyum menatapnya. Kei segera menarik mantel Miyuki, membuatnya menoleh. "Ne, Ne, Kazuya-san,coba lihat itu." Kei menunjuk kearah tumpukan salju di samping bangku mereka.

"Apa? Hanya tumpukkan salju." Balas Miyuki.

Kei menoleh, menatap kearah Miyuki dan menunjukkan cengirannya. "Memang hanya salju. Hahahaha!"

Miyuki tidak tertawa.

Hanya mampu terdiam.

Karena saat menatap mata Kei, Miyuki menyadari satu hal.

Kedua iris yang indah sewarna cokelat keemasan.

.

.

.

.

"Kuramochi-Senpai."

Kuramochi yang sedang membaca majalah segera menyahut singkat."Hm?"

"Apa Senpai tahu tentang Kisah Cinta Senja Termanis?" Tanya Sawamura.

Kuramochi terdiam. Dia segera menutup majalahnya lalu menatap langit-langit kamar. "Kau tahu darimana?"

"Dari teman sekelasku. Tadi mereka menanyakanku soal itu. Katanya itu kisah nyata yang terjadi dalam klub bisbol. Makanya dia bertanya padaku. Tapi aku juga tidak tahu."

Sang senior menatap kosong. Bingung ingin menjawab apa. Karena bagaimanapun, ini topik yang agak sensitif untuk dibicarakan.

"Itu bercerita, tentang seorang gadis bernama Ishima Seira." Akhirnya Kuramochi memulai.

Sawamura segera bangun dari tidurnya. Ia turun dari tempat tidur, lalu duduk di atas lantai. Memastikan bisa melihat Kuramochi dengan jelas saat bercerita.

Kuramochi tersenyum sendu. "Ishima, menyukai seorang anggota klub. Lelaki dengan mulut menyebalkan." Kuramochi tertawa pelan. Tapi tawanya justru membuat Sawamura ingin memeluk seniornya itu. "Ishima hanya seorang gadis biasa. Dia selalu mengatakan dirinya seperti itu. Dia manajer klub bisbol. Tidak ada yang terlalu menonjol darinya selain kepintarannya yang luar biasa."

"Terus?"

"Lelaki yang disukai Ishima itu adalah orang yang populer. Mereka cukup dekat. Hanya saja lelaki itu memang menyebalkan, sehingga ucapannya kadang membuat Ishima sakit hati." Kuramochi kembali tersenyum. "Tapi Ishima masih tetap mencintainya."

Raut wajah Sawamura berganti dari bingung dan penasaran menjadi kagum pada Ishima Seira yang diceritakan Kuramochi. "Lalu, lelaki itu menyatakan perasaannya pada Ishima, ternyata dia juga menyukainya. Dia memeluk Ishima saat senja. Itu sebabnya disebut sebagai Kisah Cinta Senja Termanis." Kuramochi segera duduk lalu menatap Sawamura. "Puas?"

Sawamura mengangguk dan menyadari satu hal, "lalu siapa laki-laki yang Ishima-san sukai itu? Dan dimana Ishima-san sekarang?"

Kuramochi mengangkat bahu."Oyasumi."

"Tunggu, Senpai!"

Kuramochi tidak menoleh lagi. Pasrah, Sawamura segera naik ketempat tidurnya dan mulai memejamkan mata. Mencoba tidur tapi tetap dengan rasa penasaran menyelubungi pikirannya.

.

.

Sawamura menghela napas. Ia melirik Miyuki yang sedang memungut bola disampingnya. Mereka tidak sengaja berdebat panjang saat latihan tadi. Sehingga pelatih memutuskan member mereka hukuman; membersihkan lapangan usai latihan. Anggota lain sudah kembali ke asrama masing-masing.

"Hei, Sawamura."

"Apa?"

"Kenapa kau tidak fokus saat latihan tadi?"

Sekali lagi Sawamura menghela napas. Kembali memunguti bola di atas tanah. "Aku masih memikirkan soal itu."

Terdengar decakan dari Miyuki. "Bodoh. Apa kau tidak memiliki hal lain untuk dipikirkan? Apa hal itu sebegitu pentingnya hingga mengalihkan perhatianmu? Kau tahu tidak, bagaimana kini Furuya berkembang? Kalau begitu kapan kau akan meraih nomor ace yang selalu kau teriakkan itu—"

"Jangan membandingkanku dengan Furuya!"

Miyuki seketika terdiam. Ia menatap Sawamura yang menunduk. Bola ditangan dicengkram semakin erat. Sawamura menggigit bibir, mengangkat kepala lalu menatap Miyuki. "Aku tahu, aku ini tidak sehebat Furuya. Tapi berhentilah membandingkanku! Aku dan dia itu berbeda! Aku… aku…" Sawamura menghela napas berat. "Maafkan aku. Lain kali aku akan fokus pada latihan." Sawamura membalikkan badan, bersiap menuju sisi lapangan lain yang masih penuh dengan bola berhamburan jika saja sepasang lengan tidak segera meraih pinggangnya dan memeluk erat.

Bola ditangan Sawamura terjatuh. Ia membeku. Aroma maskulin dari tubuh Miyuki merangsek ke indra penciumannya. Pikiran Sawamura seketika blank. Merasakan hangat dari pelukan pemuda mata empat.

"Maafkan aku." Miyuki berujar. "Aku tahu aku salah. Semua yang kukatakan begitu kasar padamu. Maafkan aku." Kedua lengannya memeluk Sawamura semakin erat. "Hanya saja… aku tidak tahu bagaimana caraku untuk mengungkapkan perasaan. Aku tidak tahu. Dan tanpa sadar, aku menyakiti hatimu. Maafkan aku…"

Jantung Sawamura berdetak cepat. Pipinya memerah. Bahkan ia merasakan sengatan di matanya saat air mata bersiap untuk segera membasahi pipi.

"Aku… mencintaimu."

Sawamura menahan napas. Ia masih bersugesti pada dirinya bahwa ini bukan mimpi.

Miyuki tersenyum. Sawamura bisa merasakan senyuman itu dibalik pundaknya. "Itulah… yang kukatakan pada Ishima Seira sehingga disebut sebagai Kisah Cinta Senja Termanis." Pelukan itu dilepas.

Sawamura menoleh. Menatap Miyuki yang tersenyum seperti biasanya. Tapi ada yang kurang dari senyuman itu. "Sekarang, fokuslah pada latihan melemparmu." Ujar Miyuki lagi. "Latihanlah dengan giat. Jangan pikirkan mengenai itu lagi. Kau sudah tahu, 'kan? Ayo, kita bersihkan lapangan sebelum pelatih mencari kita."

"U-um." Sawamura mengangguk. Kembali berjongkok dan memungut bola.

Yang dia ingat saat itu, hanyalah dia yang membersihkan lapangan, mandi dan berganti baju. Lalu tenggelam dalam selimut di kamar asrama.

Serta Kuramochi dan Masuko yang bertanya padanya mengapa ia menangis.

Juga…

Betapa hancur hatinya saat itu.

.

.

.

.

"Kei!"

Miyuki dan Kei mengangkat kepala. Setelah kemarin dia terkejut melihat Tetsuya, kali ini dia tidak tahu harus apa ketika Kei mengucapkan sampai jumpa dan berterima kasih. Berlari kearah pria yang memanggilnya.

"Sa-" Miyuki bahkan tidak mampu berkata-kata. "Sanada Shunpei."

.

.

.

.

A.N: Jadi… alurnya terlalu cepat ya? Kumat deh sisi nyebelin si Yuki. Tapi teteup aja, plish, review? /pasangin Eijun kostum maid/