Disclaimer belong to Kubo-sensei
Tidak banyak yang bisa dilakukan Ichigo selain makan tidur dirumah Shiba Kukaku sambil menunggu hari pernikahan Rukia-Ukitake tiba. Dan besok adalah hari besar itu. padahal sampai detik ini Ichigo belum mengambil keputusan. Semakin hari hatinya semakin bimbang. Tidak pernah hatinya sebimbing ini, terlebih ketika mendengar langsung dari mulut Kukaku alasan dari keputusannya membantu Ukitake.
'Maaf, aku tidak menyangka akan jadi serumit ini!' katanya santai. Kalimat itu meluncur mulus dari bibirnya ketika Ichigo yang kalap menodongkan zanpakutou-nya sekembalinya dari rumah Kuchiki. Ichigo meneriaki Kukaku atas sikapnya yang membuat dia dan Rukia jadi menderita begini. Dia terus mencaci maki Kukaku dan menyalahkannya. Menumpahkan semua kekesalan yang seharian dia pendam.
'Sudah selesai ngomelnya?' tanya Kukaku tetap tenang. Ichigo yang kehabisan nafas karena terus –terusan mengomel menjatuhkan tubuhnya ke tatami dengan posisi tidur terlentang.
'Aku masih belum puas!' balas Ichigo sengit.
Kukaku mengambil posisi duduk di dekat kepala Ichigo. Mata bulatnya menatap Ichigo. Dia menghela nafas sekali. Cukup dengan melihatnya Kukaku bisa merasakn keresahan dan putus asanya Ichigo. Baru kali ini dia melihat si rambut orange tidak bersemangat.
'Maaf deh maaf, tujuan awalku hanya ingin membantu Ukitake dan Rukia, itu saja!' lagi-lagi Kukaku minta maaf dengan santai seolah-olah semua itu bukan masalah besar.
'Bukannya tujuan utamamu membuat Rukia menderita, balas dendam atas sakit hatimu karena dia membunuh Kaien!' lagi-lagi Ichigo berkata ketus.
Kukaku membuang jauh-jauh pandangannya. Sesaat kilasan gambar kenangan Kaien kembali diputar dalam benaknya. Dulu dia memang sempat marah pada Rukia, menyalahkan Rukia karena membunuh saudaranya. Tapi itu dulu. Seiring dengan berjalannya waktu rasa sakit di hatinya mulai terobati dan dia mulai belajar merelakan dan memaafkan. Dendam dan kemarahan sudah lama hilang dari hatinya.
'Jadi seperti itu ya aku dimatamu?' katanya pada Ichigo. 'Aku tidak pernah tahu kalian saling mencintai. Bukankah dulu waktu pertama kali kemari kau bilang ingin menyelamatkannya karena balas budi. Karena itu kupikir hubungan kalian hanya sebatas teman.'
'Dulu memang begitu! Aku juga tidak tahu kapan aku mulai menyukainya,' kata Ichigo membela diri.
'Yah, sejauh yang aku tahu, orang yang di cintai Rukia adalah Kaien, kakaku. Kupikir mungkin kalau ada laki-laki lain disisinya, Rukia bisa melupakan Kaien dengan mudah. Aku tahu dia tidak bermaksud membunuhnya. Bisa kubayangkan rasa bersalah dan penderitannya selama ini karena membunuh orang yang dicintainya.'
'Itu sudah lama sekali kan?'
Kukaku menjawab dengan anggukan. 'Tapi dalamnya luka hati manusia tidak terukur oleh waktu, Ichigo! Aku hanya ingin dia terbebas dari belenggu masa lalu. Itu saja!' lalu Kukaku berdiri dan meninggalkan Ichigo.
Ichigo tersadar dari lamunanya. Kata-kata terakhir Kukaku terus terdengar di otaknya, setiap hari. Dia tidak lagi menyalahkan Kukaku. Maksudnya baik. Siapa yang menyangka akan berakhir begini. Karena itu juga Ichigo jadi kepikiran tentang perasaan Rukia pada cinta pertamanya, Kaien.
Ichigo jadi berpikir apakah Rukia mencintainya melebihi cintanya pada Kaien. Bagaimana sakitnya hati gadis itu ketika dia menghunuskan pedang ke tubuh Kaien dan menyaksikan detik-detik terakhir kematian orang yang dicintai. Ichigo tidak bisa membayangkan.
kalau sampai hari ini Kaien masih hidup dan Rukia masih mencintainya, apa dia akan tetap menerima lamaran itu? Ichigo terus berpikir dan berpikir. Mungkin cinta Rukia padanya tidak sedalam cintanya pada Kaien karena itu dia memutuskan menerima lamaran Ukitake. Mungkin setelah setahun menikah dia akan melupakan dirinya dan mencintai suaminya apa adanya.
Ukitake juga bukan lelaki yang buruk, suka tidak suka, Ichigo harus mengakui dia lebih baik dari dirinya. Lebih bijaksana dan lebih bisa diandalkan. Bukan anak SMU seperti dirinya yang suka bertindak tanpa pikir panjang. Dimana kelebihannya dibandingkan Ukitake. Laki-laki itu juga lebih dulu mengenalnya.
'Masih bepikir juga!' kedatangan ganju yang tiba-tiba memaksa Ichigo berhenti berpikir. Selama tinggal di rumah ini raut wajah yang ditampilkan Ichigo hanya raut wajah orang strees dan bingung.
'Iya,' jawab Ichigo. 'Menurutmu aku harus bagaimana?' Ichigo malah balik bertanya.
'Pertanyaan serupa sudah kau tanyakan padaku lebih dari seratus kali. Jawabanku tetap sama, sebanyak pertanyaan yang kau ucapkan, pergi dan rebut dia! Titik!'
Ichigo memaksakan sebuah senyum diwajah. Kalau dia tidak bertemu Byakuya malam itu, kalau dia tidak mendengar ucapan Kukaku, jawaban ganju sudah menjadi keputusannya.
'Hidup tidak semudah itu! ini jauh lebih rumit dibandingkan ketika aku menyelamatkan dia dari tiang gantungan.'
'Apa bedanya! Apa saat itu kau berpikir bahwa yang kau lakukan adalah kriminalitas tingkat tinggi. Apa saat itu kau berpikir bagaimana nasib kalian berdua setelah menyelamatkan diri?'
Ichigo menatap biji mata ganju. Setiap kali dia mendengar ganju berkata begitu dia merasa sedikit keberaniannya bangkit, lalu setelah laki-laki besar itu pergi, hatinya kembali menciut.
'Sejak kapan kau jadi laki-laki pengecut begini?'
Ichigo diam saja dikatai pengecut oleh ganju, memang itulah keadaannya saat ini.
Ganju menepuk pundak Ichigo dua kali sebelum pergi. 'Tinggal besok, itu kesempatan terakhirmu!' pesan terakhir ganju sebelum menghilang dari pandangan Ichigo.
'Aku tahu!' jawab Ichigo untuk dirinya sendiri. Ini kesempatan terakhirnya. Dan Ichigo sudah mengambil keputusan, keputusan yang bukan berdasar pada keinginannya saja, tapi keinginan Rukia juga.
'Ichigo!' Rukia memekik kaget ketika memasuki kamarnya dan menemukan sosok Ichigo sedang duduk santai dia atas ranjang.
'Yo!' sapa Ichigo sambil mengangkat tangan kanannya.
'Apa yang kau lakukan disini, Ichigo!' bentak Rukia.
Ichigo buru-buur berdiri, berlari ke arah Rukia lalu mendekap mulutnya dari belakang hingga tubuh mereka bersentuhan.
Rukia menarik paksa tangan Ichigo dimulutnya hingga tangan kekar itu terjatuh ke pundaknya. 'Apa-apaan ini!' protes Rukia.
Ichigo yang panik tanpa sadar melah mendekap tubuh Rukia hingga dadanya berhimpitan dengan punggung Rukia.
'Lepaskan aku Ichigo!'
Ichigo tidak menuruti, dia malah mendekap Rukia semakin erat. Satu tangan melingkar di pundak, satunya lagi melingkar di perut Rukia.
'Akan kulepaskan setelah kau tenang!' janji Ichigo.
Badan Rukia bergerak meronta, memaksa melepaskan diri dari pelukan erat Ichigo. Sayang usahanya sia-sia saja. Tenaganya tidak sebanding dengan pelukan erat Ichigo.
'Aku teriak!' ancam Rukia.
'Silahkan dan mereka akan tahu kau memasukan laki-laki ke kamar sebelum hari pernikahanmu!' balas Ichigo.
Kata-kata barusan seperti pukulan telak bagi Rukia. Bodohnya dia, karena panic dia sampai tidak memikirkan kemungkinan itu. untung saja Ichigo menyadarkannya sebelum dia mempermalukan dirinya sendiri. Akhirnya Rukia berhenti meronta dia pasrah saja.
Sunyi. Tidak ada satupun dari mereka yang bergerak dan berbicara selama hampir semenit. Yang terdengar hanya nafas mereka berdua. Dekapan Ichigo yang begitu erat membuat Rukia bisa mendengar detak jantung Ichigo. Rukia sendiri bisa merasakan detak jantungnya yang seirama dengan detak jantung laki-laki yang memeluknya saat ini. Detakan yang keras yang membuat dadanya sakit.
Ichigo sendiri mulai menyadari posisinya yang menguntungkan, memeluk Rukia seperti ini adalah sesuatu yang hanya terjadi dalam mimpinya. Sekarang mimpi itu jadi nyata. Semua urusan pernikahan dan penyelamatan menguap dari kepalanya. Yang ada dibenaknya saat ini hanya tubuh Rukia yang begitu nyata dan aroma wangi cewek itu.
Sayangnya ini bukan saat yang tepat untuk bermesra-mesraan. Tujuannya menyelinap bukan untuk ini. Ada sesuatu yang harus dia lakukan, sesuatu yang menyangkut keputusan yang harus diambilnya besok.
Dengan berat hati Ichigo melepaskan tangannya dari tubuh Rukia lalu dengan lembut membalik tubuh mungil itu hinggi kini mereka saling berhadapan. Rukia menunduk, dia memang sengaja menghindari kontak mata dengan Ichigo. Ichigo tidak tinggal diam, dengan lembut dia mengangkat dagu Rukia hingga bola mata mereka saling bertemu.
'Rukia,' panggilnya lirih.
Rukia memalingkan pandangannya. Suara lirih Ichigo sudah cukup untuk membuat hatinya goyah.
'Aku hanya ingin melihatmu bahagia, itu saja.'
'Aku sudah bahagia!' Rukia berbohong dan kebohongan itu tergambar jelas diwajahnya.
'Lihat aku Rukia, lalu ulangi ucapanmu tadi!' paksa Ichigo. Tangan Ichigo membelai dengan kasar rambut Rukia, menelusuri rambut hitam itu dengan jarinya. Dia ingin mendekap kepala itu di dadanya memeluknya tanpa harus melepaskan.
'LEPASKAN AKU!' Rukia menepis tangan Ichigo. Dia menatap lurus mata Ichigo. 'Aku mohon pergilah, tolong jangan siksa aku seperti ini!' Rukia mengatakannya dengan mata merah berkaca-kaca. Hanya tinggal menunggu waktu sampai butiran pertama air mata jatuh ke pipinya.
'Aku mohon, Ichigo, mengertilah!'
'Aku tidak mau mengerti!' bentak Ichigo.
'Kamu egois, Ichigo!'
'Aku egois karena keegoisan mu membuatku gila!'
Rukia terdiam. Rasanya sakit dibilang egois oleh laki-laki yang dicintainya. Kenapa Ichigo tidak mau mengerti juga. Rukia merasa sudah berkorban terlalu banyak. Tapi kenapa malah dia yang dikatai egois. Selama ini dia merasa tidak ada yang lebih menderita dibanding dirinya. Dia yang harus berkorban demi kepentingan dan kebahagiaan semua orang.
'Kamu tidak tahu Ichigo, kamu tidak tahu penderitaanku,' Rukia berkata sambil menahan isak tangis, butir pertama air mata sudah meluncur turun ke pipinya.
Ichigo menatap Rukia, memandang iba pada wajah yang menderita itu. Ichigo mengepalkan telapak tangannya. Amarahnya memuncak, dia ingin menuntut balas pada semua yang telah membuat gadis didepannya menangis dan menderita seperti ini. Sayangnya dia tidak bisa.
Sudah saatnya dia menjalankan rencananya, maka dengan kasar dia memegang dagu Rukia, memaksanya menengadah, mentap wajahnya. Lalu dengan penuh hasrat dia mencium bibir Rukia. Lalu tangannya berpindah dari dagu ke bagian belakang kepala Rukia, sedikit menarik rambut Rukia supaya gadis itu tidak bisa memalingkan wajahnya. Tangan yang satunya lagi sudah berada di pinggang Rukia. Dia sudah mengunci Rukia, memaksanya jadi miliknya.
Rukia melakuakn perlawanan yang tidak berarti sedikitpun bagi Ichigo. Kedua tangannya dia gunakan untuk mendorong tubuh Ichigo. Ichigo sama sekali tidak bergerak, dia tetap mengunci gerakan Rukia dan memaksakan ciumannya. Rukia bisa merasakan lidah Ichigo yang bergerak liar di rongga mulutnya. Dia ingin membalasnya, ciuman Ichigo yang begitu memaksa. Menuntut Rukia jadi miliknya. Tapi tidak boleh! Dia tidak boleh memberi harapan semu pada Ichigo maupun pada dirinya sendiri. Tidak ada masa depan untuk cinta mereka.
Tangan Rukia terjatuh lemas disamping tubuhnya. Dia sudah tidak melawan, tapi juga tidak membalas. Dia biarkan Ichigo bertindak seusakanya terhadap dirinya. Apa yang terjadi padanya begitu indah. Sayang semuanya hanya akan berlalu sebagai kenangan manis yang menyakitkan. Rukia memejamkan matanya. Air mata terus mengalir tanba bisa dia bendung membasahi wajahnya juga wajah Ichigo. Sebuah gigitan kecil di bibir bawah Rukia mengakhiri ciuman Ichigo. Pelan-pelan dia melepas tangannya dari tubuh Rukia seolah tidak tega.
'Kalau besok, kau masih bisa menerima ciuman pernikahanmu dengan Ukitake, aku akan merelakanmu, jika tidak….' Ichigo tidak melanjutkan kalimatnya. Dia mengecup lembut dahi Rukia lalu pergi lewat salah satu jendela kamar Rukia. Tujuannya sudah terlaksana meski dengan cara yang kurang terhormat. Reaksi Rukia besoklah yang akan menjadi keputusannya.
Rukia membuka matanya pelan. Dia sudah tahu Ichigo berada jauh darinya. Ciuman tadi masih membekas dalam ingatannya. Ciuman yang begitu diinginkannya selama ini. Rukia mendekap dadanya dengan kedua tangan. Jantungnya masih berdegup kencang, sama persis seperti Ichigo memeluknya tadi. Aku benci kamu Ichigo! Kenapa kamu begitu egois, membuatku menderita begini! Rintih Rukia.
'Rukia,' panggil Byakuya dari balik pintu.
'Ya,' balas Rukia dia berusaha menjawab dengan suara senormal mungkin. Buru-buru dia menyisir rambutnya yang sempat acak-acakan dengan tangan kiri dan membersihkan daerah sekitar pipi dan bawah mata dengan tangan kanannya sambil berjalan menuju pintu.
'Nii-sama, ada apa? Kata Rukia setelah membuka pintu kamar dan mempersilahkan kakaknya masuk.
Byakuya menatap dingin Rukia. Mata adiknya masih merah meski bekas butiran air mata itu telah hilang. Dia ingin melakukan sesuatu, tapi tidak tahu harus melakukan apa. Akhirnya dia hanya bisa mengusap lembut pipi Rukia dengan jemarinya yang panjang dan langsing.
'Kamu menangis?' tanya Byakuya.
Rukia menjawab dengan tetap diam yang berarti meng-iya-kan pertanyaan kakaknya barusan.
'Ada yang ingin kamu bicarakan?'
Rukia menggeleng pelan.
Byakuya melepaskan tangannya dari wajah Rukia, menunggu sebentar, siapa tahu adiknya berubah pikiran. Ternyata sama saja, Rukia tetap menatapnya dengan mata merah dalam diam.
'Tidurlah, besok hari penting-mu!' perintahnya.
'iya, Nii-sama.'
Byakuya berbalik dan sebelum pergi dia meninggalkan pesan. 'Pintu kamarku tidak terkunci, datanglah kapanpun. Aku bersedia mendengarkanmu dan membantumu sebisaku!'
'Terima kasih, Nii-sama.' Rukia menutup pintu dan berjalan kembali ke ranjang. Menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang yang empuk dan membenamkan kepalanya di bantal. Dadanya semakin sakit. Air mata membanjiri permukaan bantal.
Kenapa kalian begitu baik! Ichigo, Nii-sama. Kalau kalian sebaik ini, aku semakin tidak yakin dengan keputusanku! Bagaimana bisa aku menghadari pernikahanku besok! Rukia terus menangis dan menangis sampai matanya lelah dan tertidur sambil sesekali terdengar isakan tangis yang masih tersisa.
ditunggu repiuw nya buat karya saya yang makin hari kok rasanya makin gajebo begini.
