What you wish, Master? Ups! I mean Mistress!

CHAPTER 4

Seorang gadis dan seekor anak anjing berjalan dengan raut wajah khawatir. Gadis itu berambut pendek berwarna hijau dedaunan, di kuncir pinggir dan bola mata perak. Dipunggungnya memikul ransel kemah yang besar, pastinya berat. Ia memakai jaket bertudung yang di balik, ia menaruh anak anjing miliknya di tudung, di bawah lehernya. Gadis it uterus-menerus melihat ke langit, mengecek cuaca. Tentu dia khawatir, cuaca malam ini tidak mendukung. Mendung, gelegar petir berbunyi lantang dan kilat menyilaukan matanya. Tapi tidak bisa berbuat apa-apa, tidak tempat untuk berteduh di sekitarnya, hanya ada beberapa perumahan. Ia bingung.

GLEGAAAAAARRRR!

"kyaaaaahhhh!"

"Guk! Guk!"

Gadis itu dan anak anjingnya kaget oleh Guntur yang kencang, jantungnya berdegup semakin kencang. Ia menengok ke kanan dan kiri. Terlalu takut, ia nekat memasuki rumah seseorang sembarang untuk berteduh.

Sudahlah, urusan minta maaf bisa pikirkan nanti. Batinnya. Sekarang lebih baik menyelamatkan diriku dan Edgar.

Ia membuka pagar dan sebuah rumah besar bergaya barat. Berlari kencang melewati kebun mawar kala gerimis turun dan selamat! Ia berhasil berteduh di dekat pintu dan hujanpun turun deras. Gadis itu menghela nafas lega, beruntung ia tidak kehujanan. Mata peraknya melihat pintu, ia ragu apakah ia meminta izin untuk berteduh atau tidak. Jika beruntung ia ingin meminta berteduh di dalam tapi Ia khawatir pemiliknya galak. Bisa-bisa ia ditendang, basah-basahan tanpa mendapat belas kasihan. Ia berpikir keras dan mundar-mandir disekitar pintu.

Ketuk? Tidak? Ketuk? Tidak? Ketuk? Tidak? Ketuk? Tidak? Ia terus mengulang-ulang pertanyaannya sendiri.

Ketuk. Sudahlah! Ketuk saja!

Ia akhirnya mengetuk.

"Permisi."

Tok! Tok! Tok!

"Permisi."

Tok! Tok! Tok!

Hening.

Beberapa kali ia mengetuk dan mengucapkan permisi tapi tidak ada jawaban. Bahkan tanda-tanda ada seseorang.

"Kelihatannya rumah ini sepi. Hahhh.." ia menghela nafas berhenti mengetuk dan berdiri menjauh dari pintu. Ia pernah mendengar petir akan menyambar jika berdiri dekat pintu, entah mitos atau bukan. Tapi ia tidak mau mengambil resiko.

Kakinya lelah dan ia duduk dengan kedua lutut terangkat, untung saja ia memakai celana panjang jeans kalau tidak celana dalamnya pasti terekspos. Ia tidak peduli celananya kotor. Ransel disimpan di sebelahnya.

"Apa kau dingin, Edgar?" tanyanya sambil melihat ke bawah.

"Guk!"

"Tenang, aku akan membuatmu hangat." Ia membongkar ranselnya untuk mencari selimut dan menyelimuti anjingnya sampai tidak terlihat. Kemudian di taruh di pangkuannya dan memeluknya. "Tidurlah, Edgar. Malam masih panjang." Kedua tangan penuh, ia mengusap-usap kepala anak anjingnya lembung dengan dagu.

"Guk!" Edgar sepertinya menyukainya, matanya semakin menutup. Begitu gadis itu melantunkan melodi nina bobo, Edgar telah terlelap.

Mata peraknya menatap langit. Hujan turun deras, Guntur dan kilat saling berlombaan. Malam hari ini sangat dingin tapi ia bersyukur ini bukanlah musim dingin. Ia tidak mengeluh, ia tahu itu tidak berguna. Ia berpikir positif dan hanya berdoa semoga cuaca membaik.

Matanya tiba-tiba berat. Aneh, di malam yang penuh dengan keberisikan begini bagaimana ia bisa tidur? Tapi tetap saja, ia sangat mengantuk. Mungkin ia lelah? Mungkin. Tapi ia sudah tertidur sebelum berpikir lebih lanjut.


Petir menggelegar lagi, Yui sangat ketakutan. Ia dan para Sakamaki bersaudara sedang dalam perjalanan pulang sehabis bersekolah malam. Ia duduk di mobil, di samping Subaru. Tubuhnya gemetaran sambil menggenggam lampu Heroine dengan dua tangan di pangkuannya. Mata pink-nya melirik Ayato, tapi pria itu cuek bahkan tidak melirik sedikitpun padanya. Yui kecewa.

CTAARRRRR!

"KYAAAAHHH!" Reflek Yui melompat kaget dan menutupi kedua telingannya, melupakan lampu Heroine yang jatuh.

Di dalam lampu, Heroine merasakan gempa. Kepalanya terbentur oleh lemari besar miliknya dan pingsan.

"Berisik! Diamlah!" bentak Subaru.

Yui meminta maaf sambil terbata-bata.

"Teddy, dia terlihat ketakutan. Lucu sekali. Keh, hehhe." Kanato terkekeh sambil mengungkapkan komentar mengejek.

"Bitch-chan~ jika kau takut, kemarilah ke pelukanku saja. Aku akan menenangkanmu. Ufu~" goda Laito. Kata-katanya tercetak jelas niat mesumnya.

"Ti-tidak usah. Laito-kun." Yui menolak.

"Ufu~ tidak perlu malu, Bitch-chan. Kau juga pasti kedinginan di cuaca seperti ini. Biar tubuhku menghangatkanmu." Laito memaksa, ia mulai menggenggam tangan Yui untuk menariknya mendekat.

"La-laito. Hentikan." Yui kesusahan, tapi tidak ada yang menolongnya. Bahkan Shu hanya tidur sambil mendengarkan lagu di MP3-nya.

"Laito, hentikan. Sudah kubilang jangan lakukan kegiatan seperti ini di depan orang. Lakukan saja di kamarmu begitu kita pulang." Cegah Reiji sambil membetulkan kacamatanya.

"Aaahhh~ Reiji, itu tidak seru." Keluh Laito.

Reiji dan Laito sembar beradu pendapat tapi akhirnya Laito menyerah. Ia kembali duduk tenang di tempatnya.

"Te-terima kasih, Reiji-san." Ujar Yui.

"Hn. Kau juga pelankan suaramu. Jangan menggangguku dengan teriakan berisikmu." Balas Reiji sebelum kembali membaca bukunya.

Yui mengagguk pada Reiji. Ia menggumamkan kata 'maaf'.

Wajah Yui sedikit lega tapi tidak lama. Beberapa saat kemudian petir menggelegar lagi, kali ini ia menutup mulutnya agar tidak berisik.

Ayato sebenarnya memperhatikan Yui diam-diam. Yui saja yang tidak mengetahuinya karena timing mereka saling melirik tidak tepat. Ia melihat wanita pirang itu gemetar di kursinya sambil menutup mulut. Ia terlihat menderita.

Ayato berusaha menjauh dari Yui ketika mendengar pengakuan wanita itu, ia masih ragu. Hatinya selalu menolak apa itu 'cinta'. Baginya itu perasaan tabu, ia tidak pernah percaya cinta. Hal ini disebabkan contoh buruk dari kedua walinya, Karlheinz dan Cordelia.

Dirinyapung bingung, ia sering merasakan perasaan aneh di dadanya. Apalagi saat berada di dekat Yui, selalu tentang dia. Ayato benci kebingungan ini, ia menjauh untuk mengusirnya.

Tapi malam ini, ketika ia melihat kedua bola mata merah muda berkaca-kaca dan berair. Pikiran bawah sadarnya seakan menendangnya untuk bertindak.

"Oi, Yui!" Ayato menegur Yui. Ia menepuk sofa disebelahnya. "Kemari, duduklah di sebelah Ore-sama ini!"

Ayato memperhatikan reaksi Yui. Sejenak wanita itu terlihat kaget, tidak percaya. Kemudian ia menunjukkan ekpresi yang membuatnya kaget juga sekaligus puas. Yui terlihat senang. Iapun duduk di sebelah Ayato tanpa berpikir dua kali.

Laito mengeluh pada Yui. Wanita itu menolaknya tapi menerima tawaran saudara kembarnya. Ayo menanggapinya dengan seringai dan kata-kata membanggakan diri sambil memeluk Yui lebih erat.

Di dalam pelukan Ayato, Yui merasa tenang dan aman. ia tersenyum lega.

Mobil hitam Sakamaki bersaudara tiba di rumah mereka. Mereka turun di depan rumah dengan basah kuyup. Tapi perhatian mereka teralihkan oleh seorang manusia tertidur di depan rumah mereka. Subaru, Shuu dan Ayato tidak peduli. Mereka langsung masuk karena tidak nyaman kehujanan, kecuali Shuu, ia hanya tidak peduli pada apapun. Laito, Kanato dan Yui penasaran tapi mereka tetap masuk dengan alasan yang sama seperti Ayato dan Subaru. Kecuali Yui karena Ayato memaksanya.

Hanya Reiji yang tetap tinggal. Ia membangunkan gadis yang tertidur dengan menepuk-nepuk bahu kanannya.

"Bangunlah, bangun!"

"Ngh.." gadis itu menggumam pelan. matanya terbuka sedikit, Reiji berhasil membangunkannya.

Pemandangan seorang pria berseragam hitam membuat dirinya kaget, dengan cepat dia membuka kedua mata lebar-lebar. Ia mendapat seorang pria berambut hitam seperti seragamnya, wajah tampan dan mata merah yang menatap dingin. Pria itu berdiri dengan postur tegak sempurna, penampilannya sungguh bangsawan. Sekali tebak saja ia sudah yakin bahwa pria itu pemilik rumah besar ini, sungguh pantas. Gadis itu mengingat-mengingatingatan beberapa jam lalu, ia langsung bangkit.

"Tu-tuan! Maafkan saya seenaknya tidur di sini! Sungguh, ini tidak sengaja. Aku hanya ingin beristirahat sejenak tapi ketiduran. Maafka aku!" ia meminta maaf dengan menunduk beberapa kali.

"Apa yang seorang lady lakukan di depan rumah seseorang? Sangat tidak sopan."

Pandangan mata Reiji yang tajam membuat ketakutan gadis di depan matanya, gadis itu gemetar dan hanya bisa meminta maaf terbata-bata.

"Ma-maaf."

"Hmp. Manusia memang tidak tahu etika. Apalagi pakaian yang kau kenakan itu, kau pasti kalangan bawah. Sangat wajar dengan apa yang kau lakukan ini. Sungguh pemand angan yang tidak enak di lihat."

Eh, manusia? Caranya mengatakan hal itu terdengar janggal, padahal dia juga manusia, kan? Aneh. Tapi bagaimanapun juga aku berhak mendapat hinaan karena apa yang kulakukan ini.

"Aku benar-benar minta maaf, tuan!" Aku benar-benar merasa bersalah.

"Tidak pantas berbicara di depan pintu, lebih baik kau masuk dulu kemudian aku akan menanyakan beberapa pertanyaan padamu."

"Aku boleh masuk?" Tanya gadis itu, matanya terkejut.

"Ya, ikuti aku" Reiji mempersilahkannya masuk.

"Terima kasih banyak." Si gadis menunduk dengan sopan. "Aku sudah bersyukur jika diperbolahkan berteduh di luar tapi anda justru menerima saja masuk ke rumah anda. Anda baik sekali, tuan. Terima kasih." ia terharu dengan kebaikan Reiji.

Setelah gadis itu mengucapkan terima kasih dan pujiannya, Reiji menatapnya aneh. Ia merasa aneh, dirinya sebagai vampire, pangeran dari di kerajaan setan dikatakan sebagai orang baik? Sungguh ironis dan tidak masuk akal. Reiji menatap remeh gadis itu dengan pikiran negative. Ia berkomentar sinis dengan pelan, jauh dari pendengar manusia bahwa sungguh naïf gadis di sebelahnya kini. Ia bertanya-tanya apa reaksi dirinya ketika mengetahui bahwa ia di damping seorang vampire sadis sepertinya dan dibawa masuk ke kediaman para vampire. Bagaimana ia berteriak dan menderita kala kematiannya sam asaja sudah ia alami ketika menginjakkan kaki ke kediaman Sakamaki. Karena setelah masuk, tidak aka nada manusia yang bisa keluar dari rumah ini hidup-hidup. Takdirnya sudah tertulis dengan mengatakan dirinya sebagai korban persembahan para vampire sejak saat ini.

Membayangkan hal itu, Reiji menyeringai kelam.


BERSAMBUNG..