Backsound : KWill - Dream
Title : Secret Dance
Length : Chapter 3/?
Main Cast : Kai, Luhan (KaiLu) - Kpop Idol Lainnya
Pairing : KaiLu, HunHan, HunBaek, ChenMin dll
Genre : Angst, Romance, Fantasy
Disclaimer : what mine is just the plot
Warning : M
~000~
"KALIAN JADIAN?!"
Pekik Kyungsoo saat melihat Chen (setengah memaksa) menggandeng tangan Xiumin, masuk ke ruang latihan.
"Ehehehehe, terima kasih atas do'a kalian!"cengir Chen.
"Cih siapa yang mendoakanmu?"cibir Xiumin, sebisa mungkin dia mengalihkan pandangannya dari tatapan teman-temannya."Aku harap kalian tidak keberatan."ucapnya lirih sekaligus gugup.
"Tentu saja tidak!"Kyungsoo memeluk Xiumin, "Chukkae hyung! Aku turut bahagia!"katanya tulus memberi selamat.
"Yay! Akhirnya kalian jadi juga!"Baekhyun ikut bergabung dalam pelukan itu.
Sementara dari jauh, Luhan hanya tersenyum memandangi Xiumin. Mata mereka saling bertatapan. Luhan menyeringai, seolah berkata. 'Aku bilang apa?'
Xiumin mempoutkan bibirnya menanggapi seringaian Luhan.
Cup!
"Kyah! Kau menjijikkan Chen!"protes Kyungsoo, "Aku tahu kalian baru jadian tapi tidak perlu mencium Xiumin hyung di depanku begitu dong!" dia bergerak menjauh dari Xiumin dan Chen, diikuti oleh Baekhyun.
"Benar! Tidak perlu seperti itu juga!"desis Baekhyun yang terdengar iri.
Chen kembali menunjukkan cengirannya, "Xiuxiu-ku terlihat begitu menggemaskan barusan. Ehehe."
Plok!
Kepala Chen digeplak oleh Xiumin, "Sudah! Sudah! Ayo latihan!"pekiknya menghindar, wajahnya sudah semerah tomat.
"Sayang~!"panggil Chen mesra, "Kau masih susah berjalan normal, mana mungkin kita latihan."ucapnya jelas terdengar semua orang di ruang latihan mereka.
Hening sejenak sebelum akhirnya Xiumin melempar apapun yang bisa diraihnya kepada Chen. Sementara Kyungsoo dan Baekhyun mulai membayangkan yang iya-iya.
.
.
.
"Pelan-pelan Hunhhh," katanya lirih.
Sehun mencium hidung mungil Luhan.
"Tahan dikit ya hyung. Entar juga enak kok," katanya tersenyum.
Penisnya terus menekan masuk. Makin lama makin dalam. Sambil terus menggoyang pantatnya Luhan memperhatikan apa yang dikerjakan Sehun. Tangannya mengelus-elus rambut Sehun.
"Hunnahh…mmhh… ohh.. Gede banget Ahh.." Luhan mengerang.
Sehun tersenyum bangga. Penisnya emang gede. Pernah lihat terong ungu? Nah segitulah ukuran penis Sehun. Penis Sehun masuk sudah semuanya. Memenuhi rongga lubang Luhan. Bulu kemaluan Sehun yang lebat dan kasar menggesek-gesek pantat Luhan.
"Gimana hyung, johaaahh?" tanya Sehun tersenyum mesum.
"Neon miccheosso?" sahut Luhan tak percaya.
Kepalanya menoleh ke bawah memandang tak percaya pada lubangnya yang sempit namun bisa menelan penis Sehun yang gede seluruhnya. Ini berbeda dari biasanya.
"Kau menikmatinya hyung mmhh?"
"Penuhhh… mmhh…," jawab Luhan susah payah.
Sehun menarik penisnya keluar. Tak seluruhnya. Luhan mengerang. Gesekan penis itu tidak terasa aneh baginya. Sedikit perih namun enak. Sehun mendorong masuk lagi. Lalu tarik lagi, masuk lagi.
"Ahh.. fuck, gila akhhh Sehunhh nghh enak akhh," desah Luhan menahan hasratnya.
"Enak kan, nikmatin yah," Sehun bergerak terus.
Mulut Luhan ramai dengan lenguhan dan erangan. Sehun terus bergerak. Makin lama makin cepat, menimbulkan suara kecipak dan tepukan yang keras. Mulutnya mencari dada bidang Luhan. Pantat Sehun bergerak sangat cepat. Luhan mengerang antara enak dan sakit.
"Ahh.. Ah.. Ahh.. Dikithh.. Lagihh.. hyunghh.. Ahh.. Ahh.. Ahh.. " seru Sehun.
Gerakannya semakin cepat dan menghentak-hentak kuat. Ini tanda-tanda orgasme akan segera datang.
"Akuhhh jugahh mmhhh….," pasrah Luhan.
"He eh.. Ahh.. Ahh.. Ahh.. Ahh.." Sehun mencium dan mengulum nipple Luhan dengan kuat. Lalu pantatnya menghetak keras untuk kemudian menekan kuat. Penisnya berdenyut-denyut. Tak lama dari lubang penisnya menyembur cairan kental dan hangat. Menyemprot deras membasahi hole Luhan.
"Erghh.. " Luhan mendengus. Dalam keadaan mengocok penisnya sendiri dengan cepat, tak lama kemudian spermanya menyembur. Deras dan kuat. Melompat sampai mengenai wajahnya.
"Sehunhhh.. Ohh.. hunhhhh... Akkhh.. Akkhh.. Akkhh.."
Semprotan itu menimbulkan sensasi yang luarbiasa baginya. Nikmat. Tubuh Sehun roboh menindih Luhan. Ototnya menegang.
Kemudian tubuhnya terasa lemas. Tubuh Luhan ditariknya ikut bersamanya berbaring. Nikmatnya lubang Luhan membuat Sehun tak ingin segera melepaskan penisnya dari situ. Tubuh Luhan dipeluknya erat dari belakang. Ia berbaring di lantai dengan penis masih menyusup di celah hole Luhan. Nafas Sehun memburu. Luhan juga.
"Sial…."maki Luhan setelah nafasnya kembali teratur.
Sehun tersenyum dan semakin mempererat pelukannya, "Salahkan Baekhyun,"matanya terpejam. Benaknya kembali mengingat sosok Baekhyun.
Dahi Luhan mengerut, "Yah! Jangan macam-macam!"holenya kembali terasa penuh. Penis Sehun kembali menegang.
Tawa Sehun menggelegar, "Unghh…"lenguhnya pelan saat mengeluarkan kejantanannya dari hole Luhan. Namja tinggi itu bangkit dan mengutip kaos serta boxernya yang berserakan di lantai.
"Hyung, sepertinya, ini yang terakhir."ucapnya sambil melempar baju Luhan ke pemiliknya.
Luhan menatap punggung Sehun, "Maksudmu?"tanyanya bingung.
Sehun berbalik, dia memandang lurus ke mata Luhan, "Aku, tidak bisa menjadi partner sex-mu lagi."ucapnya serius.
Untuk beberapa saat mereka saling berpandangan, tapi kemudian Luhan ikut bangkit dan memakai bajunya.
"Wae?"tanya Luhan terdengar dingin.
Sehun tahu ini tidak akan mudah, "Aku serius menyukai Baekhyun."akunya sepelan mungkin.
Luhan mengangguk, "Lalu?"
Sehun menarik nafas panjang, "Aku hanya ingin menjadi orang yang lebih baik—"
"Bullshit."maki Luhan lirih. "Demi Tuhan! Kau baru saja menggenjot tubuhku!"
"Hyung! Aku tahu mengentikan ini tidak akan merubah masa lalu tapi setidaknya aku mencoba."jelas Sehun penuh kehati-hatian.
Luhan berjalan ke depan Sehun, "Terus? Apakah yang tadi itu semacam sex perpisahan?" dan Sehun memalingkan pandangannya, "Ssireo. Kau pikir, sementang dulu aku dengan mudahnya setuju menjadi partner sex-mu, lalu sekarang, aku juga akan dengan gampangnya setuju untuk mengakhiri ini semua?"
Seketika Sehun ingin mengutuk dirinya sendiri, adalah momen yang salah dia membahas ini dengan Luhan setelah dia baru saja menikmati tubuh namja cantik itu. Well, inilah yang terjadi saat kau berpikir dengan hati bukan dengan otak.
Sehun meletakkan tangannya di kedua bahu Luhan, "Hyung,"dia kembali menatap mata Luhan, "Hyung, apakah hyung akan tetap tidur denganku meskipun nanti hyung bersama Kai?"tanyany serius.
"Tentu saja tidak."jawab Luhan langsung.
"Itu yang kumaksud hyung, mana mungkin kita terus seperti ini sementara kita menjalin hubungan dengan orang lain. Aku tidak mungkin tidur denganmu sementara aku bersama Baekhyun."ujarnya. Paling tidak ini tidak sesulit yang dia bayangkan.
Dahi Luhan berkerut, ditatapnya Sehun dengan tajam "Tentu saja tidak mungkin aku bersama Kai. Dan kau bersama Baekhyun? Belum tentu dia mau denganmu."
Well, ini tidak segampang yang Sehun harapkan.
.
.
.
Hari yang indah!
Sinar mentari yang cerah. Angin yang menyejukkan. Langit biru dihiasi awan seputih kapas.
Serta Luhan yang berhasil di dandani oleh sahabatnya sendiri. Dandan bukan sembarang dandan. Luhan kini bertransformasi menjadi seorang tokoh manga jepang.
"Holy shit! Hyung! Hyung benar-benar cantik!"
Baekhyun berteriak girang melihat hasil karyanya sendiri.
"Sudah kuduga! Japanesse Lolita Gothic Style sangat cocok untuk hyung!"pujinya setengah histeris.
Luhan menatap refleksi dirinya di depan cermin. Berkali-kali dia membenahi letak bajunya. Sama sekali tidak nyaman dengan korset yang dipakainya. Belum lagi dia memakai bra yang disumpal sekitar tiga silicon padat pada setiap cup-nya. Mengganjal.
"Ommo yeppodaaaa~!"Baekhyun mondar mandir masih mengagumi penampilan Luhan. "Aku terharu hyung! Aku merasa baru saja membesarkan seorang putri."ucapnya dramatis.
"Baekhyun~ah, boots berheels tinggi ini benar-benar tidak nyaman."keluh Luhan, "Tidak bisakah aku memakai sneakers saja?"tanyanya setengah memohon.
"No no no!"tolak Baekhyun, "Mana mungkin cocok hyung~! Hyung sudah sangat sempurna sekarang."
Dia hanya bisa menghela nafas. Well, Baekhyun benar. Meskipun dia tidak suka ini, tapi, dia memang sangat cantik sekarang. Baju yang dikenakannya adalah dress lengan panjang berwarna hitam. Semi korset yang membaluti pinggang hingga dada Luhan membuatnya memiliki S-line. Dressnya disertai dengan kombinasi renda-renda diujung pakaian dan hiasan pita-pita. Pada bagian roknya dihiasi dengan crinoline dan petticoat. Penampilan Luhan dilengkapi dengan stocking yang juga berwarna hitam yang membungkus kakinya hingga lutut. Ah! Dan jangan lupa juga sepatu boots Marry Jane yang menghiasi kakinya.
"Kau memang cantik, hyung."puji Sehun tulus. Luhan hanya menatapnya dari pantulan cermin. Tidak ingin menanggapi.
Baekhyun mendekati Sehun, "Iyakan? Iya?"
Sehun mengangguk, "Tapi, kalau Baekhyun hyung yang memakainya, mungkin akan terlihat lebih cantik."bisiknya mesra di telinga Baekhyun membuat namja mungil itu bersemu merah.
"Aku memang cantik."ucapnya malu-malu, "Aku sudah mencoba gaun yang dipake Luhan hyung dan sempat selca, kau mau melihatnya?"tawar Baekhyun masih dengan malu-malu.
"Dengan senang hati."Sehun mengedipkan sebelah matanya, menggoda Baekhyun. Tangan mungil Baekhyun terulur menarik Sehun duduk di sofa yang tersedia di ruang yang memang disediakan panitia lomba untuk peserta. Mereka duduk berdampingan dengan Sehun yang merangkul Baekhyun dan namja mungil itu setengah bersandar pada dada Sehun.
Baekhyun mulai memamerkan selcanya yang memakai gaun-gaun yeoja. Sehun pun mulai menanggapi. Tangannya bersandar di pundak Baekhyun. Dia terlihat sangat senang. Sementara Baekhyun masih asik menjelaskan detail gaun-gaun itu pada Sehun yang hanya fokus pada penampilan Baekhyun yang sayang menggemaskan dan cantik di matanya.
Terabaikan, Luhan yang melihat gerak gerik kedua temannya hanya mendengus kesal. Mungkin semua akan lebih mudah jika semua namja seperti Sehun. Cuek, cenderung tidak peduli dengan tanggapan orang lain dan hanya peduli dengan apa yang dia rasakan. Sehun yang selalu ingin mencoba hal baru. Berani bertindak dan tidak neko-neko dengan keputusan yang diambilnya. Tegas.
Seandainya dia bisa seperti Sehun, mungkin semua akan lebih baik.
Dan tentu akan lebih baik jika Kai seperti Sehun.
"Aku akan ke toilet,"pamit Luhan lirih lalu keluar dari ruangan itu. Tidak didengarnya sahutan dari Baekhyun atau Sehun, mereka terlalu sibuk dengan dunianya.
Perlahan Luhan berjalan melewati koridor sekolah. Beberapa ruangan kelas di isi dengan para peserta yang sedang sibuk mempersiapkan diri. Agak gugup Luhan hanya berani berjalan tertunduk. Beberapa siswa serta peserta yang melihatnya, tidak sedikit di antara mereka yang berdecak kagum dengan penampilan Luhan.
Semakin risih, Luhan menghindari sebanyak mungkin orang yang ingin mengajaknya bicara. Beberapa di antaranya namja. Ada yang bahkan berani menggodanya dengan siulan atau decakan. Terlalu sibuk menunduk dan menghindar, Luhan tidak melihat jalan di depannya. Hingga…
Bhugg!
Luhan menabrak sesuatu, ah tepatnya seseorang. Luhan menatap ke depannya dan mendapati tiga orang yeoja memandanginya dengan tajam. Wajah-wajah itu, tidak asing bagi Luhan.
'Mereka….. kenapa mereka di sini? Bukankah seharusnya mereka sudah lulus dari sekolah ini?'batin Luhan bingung campur kaget.
Bukan hal sulit baginya mengingat siapa ketiga yeoja tersebut. Well, bisakah kamu melupakan orang yang telah membully-mu? Walaupun ingin, tapi tentu tidak bisa. Entah karena rasa takut, malu atau benci. Tapi yang jelas, tiga yeoja itu adalah yeoja yang dulu pernah menyirami Luhan di depan gerbang sekolah.
"Wah wah wah, lama tidak kemari, aku berjumpa hal yang menarik tapi menyebalkan."ujar yang satu. "Wajah ini tidak terlihat asing, tapi, aku yakin aku membenci wajahmu. Hey!"dia melangkah maju mendekati Luhan, membuat Luhan reflek melangkah mundur, "Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"tanya yeoja itu angkuh.
"Benar! Aku rasanya pernah melihat dia."ujar yang satunya ikut mendekati Luhan. Sementara Luhan, tubuhnya menjadi bergetar, kilatan memori perlakuan yang diterimanya dulu seakan terputar di benaknya. Ingin rasanya dia meraih smartphone yang diterselip digaunnya tapi kekuatannya seakan hilang.
Luhan ingin menjerit, tapi tidak ada suara yang keluar. Dia terlalu takut.
"Sunbaenim, kebiasaan kalian tidak berubah hm? Apakah kalian memperdalam ilmu perbullyan di kampus kalian?"
'Suara itu!'Luhan juga mengenal suara itu. Itu suara milik, Kai.
"Ck! Kau lagi!"kesal yeoja-yeoja itu bersamaan. Tanpa bereaksi banyak, para yeoja itu meninggalkan Luhan bersama dengan Kai.
De Javu
"Kau tidak apa-apa?"tanya Kai pelan.
Luhan mengangguk, masih dengan kepala yang menunduk.
Kai mendekatinya, "Benar tidak apa-apa?"ulangnya, "Kau tidak terluka?"
Luhan semakin mundur, namun kembali menganggukkan kepalanya.
'I'm so dead!'pekiknya dalam hati.
Kai menghentikan langkahnya, "Kau pasti peserta acara kontes itu kan? Aku gak tahu ini efek make up atau apa tapi, kau terlihat asing, pasti bukan siswi sekolah ini yakan?"selidiknya.
Sebenarnya Luhan hendak kabur tanpa kata-kata. Tapi, sepertinya Kai tidak mengenalnya. Dan jika Kai tidak mengenalnya maka, dia punya semacam kesempatan.
Perlahan Luhan mengangkat wajahnya, menatap Kai. Didapatinya namja tan itu tersenyum teduh padanya. Senyum yang bercampur antara rasa kagum dan ingin melindungi. Senyum khas milik Kai yang selalu dikaguminya.
'I'm so dead~'bisik Luhan dalam hati.
"Kau tersesat ya? Mau kuantarkan menuju aula?"tawar Kai padanya, ramah. Lagi-lagi Luhan mengangguk. "Baiklah, akan kuantar kau. Oh ya, aku Kim Jongin, tapi orang-orang memanggilku Kai." Dia mengulurkan tangannya.
Degup jantung Luhan semakin tidak keruan. Perlahan namun pasti, dia menyambut uluran tangan itu. Tangannya yang terbungkus sarung tangan satin lembut itu membuatnya sedikit merasa percaya diri untuk bersentuhan dengan Kai.
Kai masih menunggu jawaban Luhan, "Namamu siapa?"tanyanya mulai tak sabar.
Syukurlah Luhan itu cantik namun tidak terlalu bodoh untuk membuka mulut dan bersuara. Entah apa yang terjadi jika Kai mendengar dari penampilan girly seperti Luhan saat ini, justru terdengar suara rendah yang ngebass.
Syukurlah Luhan ternyata cerdas.
Maaf, aku mute. Kau bisa memanggilku Hannie. Senang bertemu denganmu, Jongin~
Kai terdiam sejenak setelah membaca tulisan di layar smartphone Luhan yang ditunjukkan padanya.
Mute?
.
.
.
'Gadis yang cantik.'
Dan Kai mulai daydreaming, mengingat wajah Hannie. Tatapan mata Hannie, hidung Hannie yang mungil, bibir Hannie yang penuh dan menggoda.
Kai jatuh cinta.
Ah bukan, mungkin dia hanya terpesona. Hanya kagum.
"Sayang dia mute….."gumamnya tanpa paling tidak dia berhasil memperoleh nomor handphone Hannie, meskipun tidak sempat menonton penampilan Hannie. Kai dipanggil secara mendadak oleh dance crew-nya.
"Hm? Siapa yang mute?"tanya Sehun.
"Seseorang."jawab Kai, wajahnya terlihat sendu, "Hya, kalau mute itu hanya sekedar tidak bisa bicara, iyakan? Bukan bisu atau tuna rungu?"
Sehun terlihat berpikir sejenak lalu mengangguk, "Eoh! Ne, biasanya itu disebabkan trauma atau luka pada saraf otak apa gitu aku juga gak begitu jelas."
Kini Kai tersenyum, "Jadi, ada kemungkinan sembuhkan?"
"Bisa jadi."angguk Sehun. Mendengar itu, Kai menjadi lega sekaligus bersemangat. Itu artinya, jika dia ingin mendengar suara Hannie maka dia harus bisa membuat gadis itu sembuh.
Pertama-tama, dia harus mencari tahu apa yang menyebabkan Hannie terluka atau trauma.
Kai, benar-benar ingin mendengar suara Hannie memanggil namanya.
"Kau tahu,"ucap Sehun, "Aku lupa bilang, bahwa kemarin, Baekhyun hyung, memenangkan kontes otaku itu."menyebut nama Baekhyun membuat bibirnya otomatis tersenyum, "Aku sudah menduga tapi ntah kenapa aku merasa bangga."
Tidak ada tanggapan dari Kai. Sehun menoleh dan melihat Kai tenggelam dengan pikirannya sendiri.
"Jadi yang mute ini sebenarnya siapa?"selidik Sehun setelah sukses menggeplak kepala Kai.
Namja tan itu tersenyum, mengabaikan rasa sakit di kepalanya.
"Namanya Hannie."tuturnya girang membuat Sehun tertarik, jarang-jarang dia melihat Kai segirang ini. Dan dimulailah pendeskripsian Kai tentang Hannie. Tentang betapa cantik dan mempesonanya seorang Hannie. Saking larut pada ceritanya sendiri, Kai tidak melihat ekpresi Sehun yang berubah menjadi semakin pucat.
.
Kai mengeringkan rambutnya yang basah sehabis mandi. Dengan tergesa dia mengambil smartphonenya dan mengetik sebuah pesan lalu mengirimkannya.
To : Hannie
Hai Cantik,
Sedang apa?
From: Hannie
(./.) aku baru selesai mandi
jongin?
Deg! Kai mendadak merasa kepanasan saat membayangkan Hannie mandi. Well, sebelum hidungnya mengeluarkan darah segar karena dia membayangkan Hannie cuma berbalut handuk, secepat mungkin dia membalas.
To: Hannie
Aku juga baru selesai mandi.
Bagaimana kalo lain kali kita mandi bareng?
HAH?! Hapus! Hapus!
To: Hannie
Aku baru selesai makan malam.
Hannie sudah makan malam?
Fiuhh, Kai menghela nafas lega, dia tidak senekat itu bukan? Well, bukan tidak, tapi belum.
From: Hannie
Aku juga sudah makan.
"Kyeowo,"komen Kai tanpa sadar, "Yeoja emang suka pake emot manis, hahaha."
To: Hannie
Kapan-kapan boleh dong makan bareng?
From: Hannie
Tentu (^/^)
Senyum Kai semakin lebar.
To: Hannie
Kujemput besok sore di taman kota ;)
From: Hannie
Oki doki (^/^)
Kai pun mulai mengkhayal.
.
.
.
Sementara itu, di tempat yang berbeda, Luhan mulai terlihat panik.
"Aku butuh Baekhyun! Aku butuh Baekhyun!"
Luhan mondar-mandir di kamarnya, dahinya berkerut cemas, tangan kanannya dia kepalkan dan dipukulnya ke telapak tangan kirinya. Bibirnya sesekali berkomat-kamit.
"Aku sudah gila!"Luhan berjalan ke kiri, "Kenapa aku melakukan ini?"dia berbalik ke kanan, "Lama-lama semua akan memburuk!"ke kiri lagi, "Aku harus melakukan sesuatu!"Luhan kembali ke kanan tapi terhenti, seseorang berdiri di hadapannya.
Sehun menatapnya, "Hyung, akan melakukan apa?"tanyanya serius. Luhan tidak menjawab, dia hanya tersenyum canggung, membuat Sehun semakin penasaran, "Hyung, merencanakan sesuatu?"tebak Sehun. Namja itu melihat ke dalam mata Sehun, di sana dia merasakan ke khawatiran yang besar, sama seperti yang dirasakannya.
Luhan mengabaikannya, "Aku mau mencari Baekhyun." Lalu berjalan melewati Sehun.
"Kai sudah menceritakan semuanya, hyung." Langkah Luhan terhenti, "Ini bukan ide yang baik."
Luhan memelas, "Aku hanya ingin berkencan dengannya Hun, hanya ingin bersama dengannya lebih lama dan hanya ingin—"tenggorokkan Luhan tercekat. Dia tidak bisa memungkiri bahwa ini adalah tindakan paling pengecut. Harus berdandan menjadi wanita hanya untuk bersama dengan orang yang dia sukai.
"Hubungan yang dimulai dengan kebohongan tidak akan berakhir baik, hyung."
Luhan berbalik dan menatap Sehun, "Aku mual mendengarnya."ucapnya marah, "Baiklah kalau itu menurutmu, maka ucapkan langsung di depan hidung Baekhyun tentang hubungan kita. Tentang apa saja yang pernah kita lakukan."
Merasa terpojok, Sehun menarik kasar lengan Luhan, "Kenapa harus bawa-bawa Baekhyun?"desisnya, "Aku cuma mau hyung berhati-hati, aku peduli pada hyung! Jangan sampai hyung terluka nantinya."
Luhan menepis tangan Sehun, ditatapnya tajam mata namja yang lebih tinggi darinya itu, "Terima kasih."ujarnya lalu pergi.
Mereka bilang Love is Blind, well, saat ini, Luhan sedang memasuki fase itu.
.
.
.
To Be Continued…
Maaf krna telat update…
busy month, dan ini aja nulisnya disela2 pacaran/? Lol
ah aku gak tau mo dibawa kmana ini ff
ceritanya makin absurd
maaf masalah typo
dan aku terpengaruh dengan ff dan gaya hidup western
jadi mungkin maknanya implicit #halahmakna wks
yah plis komen
dan special thanksnya aku include ke chapter depan
