Disclaimer:Mashashi Kishimoto
Warning: typo dll
Sebelum ke cerita gw mau berterimakasih pada reader yang memberi kritik dan saran, jujur itu membantu gw menjadi lebih baik. Meski masih banyak kesalahan pada cerita gw tapi kitik dan saran dari kalian benar-benar sangat membantu. Dan gw sangat TERHURA! melihat ada nama The Ereaser muncul di kolom review, jujur gw nunggu tuh orang dari pertama gw nulis cerita.
Oke itu aja sih. selamat menikmati.
.
.
.
.
Hari ini seluruh nggota osis dibuat heran dengan tingkah ketua mereka. Sejak masuk tadi pagi, sang kaicho sudah senyum-senyum sendiri. Tentu saja hal itu membuat mereka penasaran, kira-kira apa yang membuat ketua mereka sampai seperti itu? Karna biasa nya ketua mereka selalu tampak tegas di setiap waktu.
Sebagai wakil sekaligus sahabat dari Kaguya, Shion merasa paling penasaran. Karna sebab itu diri nya dan dua anggota osis lain nya memberanikan diri mengintip ketua mereka di dalam ruangan pribadi Kaguya. Dengan posisi kepala saling menumpuk, dimulai dengan Shion diposisi paling bawah Fuu di tengah dan Shizuka paling atas, tiga gadis itu saling berbisik melihat ketua mereka senyum senyum sendiri di tempat duduk nya.
"Kira-kira kaicho kenapa ya?." Ujar gadis dengan rambut hitam yang di kuncir kebelakang. Dia adalah Shizuka.
"Apalagi kalau bukan jatuh cinta, kau sudah dengar kabar yang beredar di kalangan murid kan?, katanya kaicho pacaran sama Naruto." Jawab gadis yang berada di tengah.
"Memangnya rumor itu benar?, kupikir hanya gosip saja." Ujar Shizuka lagi.
"Melihat kaicho senyum-senyum sendiri seperti orang gila gitu, kupikir kabar itu memang benar."
BLETAAK.!
"aduh!, kenapa kau memukul kepalaku Fuu!." Ujar Shion sambil mengusap kepalanya.
"Habis nya kau bilang kaicho seperti orang gila. Ingat Shion-chan, dia itu ketua kita."
"Memang benarkan?, coba saja lihat, kaicho senyum-senyum sendiri seperti orang gila kan?."
Benar sih apa kata Shion. Lihat saja Kaguya sekarang, gadis itu senyum-senyum sendiri. Kadang dia menutup wajah nya yang memerah entah karena apa. Mungkin benar apa kata orang jika jatuh cinta bisa membuat orang jadi gila. Kaguya contoh nya.
Anggota osis yang lain hanya bisa sweatdrop melihat tiga gadis yang mengintip kedalam ruangan Kaguya. Tapi lucu juga melihat mereka saling tumpuk seperti itu. Dalam hati mereka berdoa supaya mereka ketahuan. Pasti asik melihat mereka bertiga kena ceramah dari ketua mereka.
Dan seperti nya doa mereka terkabul. Di mulai dengan Shion yang tiba tiba oleng kedepan dan diikuti dua teman nya lalu.
GDUBRAAK..!
"aduh... sakit.." Ujar Shion. Dia yang paling menderita karna di tindih Fuu dan shizuka.
"Sedang apa kalian di situ?!."
'Ah! Ketahuan deh.' Ujar mereka dalam hati.
"Etoo.. a-aku sedang mencari koin kaicho. Tadi punyaku menggelinding kemari, hehe." Ujar Shion dengan tawa gugup.
"Ka-kalau aku sedang mencari kecoak, iya tadi ada kecoak masuk kemari, aku ingin membunuh nya."
Kaguya mengankat alis nya mendengar alasan Fuu. Membunuh kecoak?, melihat nya saja sudah membuat Fuu berteriak ketakutan. Dan gadis itu bilang mau membunuh nya?.
"Ehehehe, ka-kalau aku emm... aku mau kabur saja, Jaaa..." buru buru Shizuka berdiri dan berlari keluar. Dia tidak mau kena ceramah dari ketua nya.
"Eh!.. tu-tunggu aku Shizuka-chan."
"PENGHIANAT!..."
Teriak Shion jengkel saat melihat Fuu dan Shizuka kabur. Kan tadi mereka yang punya ide untuk mengintip, tapi kok sekarang dirinya yang di tinggal.
"Shion!, kemari."
Shion menoleh kearah Kaguya saat ketua nya bicara. Dia bangun dari jatuh nya dan berjalan mendekat.
"A-ada apa kaicho?." Tanya nya gugup.
"Duduk!."
Shion menurut saat mendengar perintah dari Kaguya.
'Kayaknya bakal dapet ceramah nih.' Ujar nya dalam hati.
"Aku tidak perlu menjelaskan soal sopan santun padamu karna aku yakin kau sudah tau, benar?."
"Haik!."
"Karna kau sudah tau pastinya kau tidak akan mengulangi perbuatan tadi, benar?."
"Haik!."
"Bagus!. Lalau, emm.. ba-bagamana caranya agar laki-laki lebih tertarik pada wanita?."
"Eh?!.. "
Shion terkejut mendengar ucapan Kaguya, biasanya ketua nya itu akan memberi ceramah panjang jika ada anggotanya yang bertindak tidak sopan. Shion bersyukur karna dengan begitu telinganya tidak akan panas . Tapi ucapan Kaguya membuatnya sangat penasaran. Apa katanya tadi? Membuat lelaki lebih tertarik pada wanita?. Untuk apa Kaguya menanyakan hal itu.
"Etoo... emm?.. kita bisa memberi perhatian pada mereka dengan memberi sesuatu, mungkin." Ujar nya tidak yakin.
Hey! Shion masih terkejut dengan pertanyaan Kaguya yang tiba-tiba, jadi dia menjawab sebisanya saja.
"Misalnya?."
"Yah, contoh nya dengan membuatkan makan siang atau sejenis nya. Bisa juga dengan hal-hal lain yang bisa membuat lelaki itu merasa di perhatikan. Dengan begitu mereka akan respek pada kita."
Kaguya mengangguk mengerti dengan ucapan Shion. Intinya wanita harus aktif melakukan pendekatan agar si laki-laki merasa di perhatikan. Jika beruntung si laki-laki akan sadar jika si wanita memiliki perasaan suka dan merespon nya.
"Tapi apa tidak terbalik?, harusnya kan pihak yang memberi perhatian itu laki-laki?."
"Tidak juga kaicho, kalau kita menginginkan sesuatu harus ada usaha, Jika kita hanya diam dan menunggu nanti keburu di ambil orang. Apalagi soal cinta, pihak yang menyukai harus aktif agar orang yang di sukai sadar, baik itu wanita ataupun laki-laki."
Kaguya mengangguk sebagai respon jika dirinya mengerti dengan ucapan Sion. Memang benar jika kita menginginkan sesuatu ya harus ada usaha. Kalau tidak mau berusaha jangan harap bisa mendapatkan apa yang kita inginkan.
"Ngomong-ngomong ada apa sampai kaicho bertanya hal seperti ini?. Apa kaicho sedang jatuh cinta? Atau udah punya pacar?."
Tiba-tiba saja wajah Kaguya bersemu, entah kenapa dia malu mendengar pertanyaan Shion. Padahal tidak ada yang aneh dengan pertanyaan itu.
"Ti-tidak keduanya."
Jelas saja Shion tau jika kaguya berbohong. Lihat saja wajah nya yang bersemu. Shion jadi ingin menggoda ketua nya.
"Hohh... benarkah?, bagamana dengan Naruto.?" Tanya Shion dengan senyum sambil menaik turunkan alisnya.
"Ka-kami tidak pacaran!."
Sekarang Shion tau jika semua yang dibicarakan para murid cuma gosip. Tapi dilihat dari reaksi Kaguya seperti nya gadis itu menyukai Naruto.
"Kalau begitu, kau pasti menyukainya kan.?"
"Ti-tidak." Jawab Kaguya bohong.
"Benarkah?.." ujar Shion dengan senyum menggoda.
"Te-tentu saja!."
"Kalau gitu untuku saja ya."
"Tidak boleh!."
Shion tersenyum lebar mendengar ucapan tegas ketuanya. Sekarang diri nya yakin jika ketuanya memiliki perasaan terhadap Naruto. Pantas saja tadi Kaguya bertanya perihal menarik perhatian laki-laki, sedang kasmaran toh.
Kaguya menunduk malu setelah bicara begitu. Wajah nya tersenyum dengan pipi merona.
"Iya, aku menyukainya." Ujar Kaguya pada ahirnya dengan nada lirih.
Shion tersenyum puas mendengar kajujuran Kaguya. Kalu gini kan diri nya bisa mudah membantu. Tapi dia tidak menyangka jika ketuanya akan jatuh cinta pada Naruto. Dia tidak habis pikir, apa sih yang menarik dari lelaki itu sampai membuat Kaguya kesengsem begini?.
"Tenang saja kaicho, sebagai sahabat sekaligus wakilmu, aku akan mendukungmu dengan sepenuh hati. Aku juga punya banyak cara untuk menarik perhatian Cowok." Ujar Shion sambil tersenyum. Biarlah Kaguya jatuh cinta pada siapapun, asal teman nya bahagia sebagai sahabat Shion juga merasa bahagian.
"Terimakasih Shion." Ujar Kaguya sambil tersenyum.
"Tapi shion, kalau kau punya banyak cara menarik perhatian lelaki kenapa kau masih jomblo?"
"...!"
Shion terdiam mendengar ucapan Kaguya, rasanya ada sesuatu yang menusuk hati nya.
.
.
.
.
Suasana kantin begitu penuh dengan banyak nya para murid yang sedang makan siang, dan tidak sedikit juga dari mereka yang tidak kebagian tempat duduk dan harus mencari tempat lain. Kebiasaan saat makan siang seperti ini, para murid akan bergosip ria dengan teman-teman nya. Ada yang membicarakan soal hubungan asmara, persahabatan dan lain-lain. Dari banyak nya murid yang bergosip, topik paling hangat di bicarakan saat ini ada dua hal. Satu hubungan Naruto dan Kaguya, dua soal kepala sekolah yang akan pensiun dan akan di ganti dengan pemilik sekolah itu sendiri. Kabar pensiunnya kepala sekolah cukup hangat di bicarakan terlebih melihat siapa sosok yang akan menggantikan nya. Senju/Namikaze Tsunade. Tentu saja para murid tau siapa orang itu, pemilik sekolah sekaligus ibu dari orang paling kaya nomor satu di jepang. Banyak dari para murid yang belum tau sosoknya, tapi menurut kabar Tsunade adalah nenek-nenek dengan perawakan yang masih seperti wanita usia tigapuluhan. Tentun saja para murid kususnya wanita sangat antusias ingin melihat sosok Tsunade, siapa tau mereka punya kesempatan untuk bertanya bagamana cara menjaga tubuh agar terlihat awet muda.
"Hey Naruto! Memang benar Obasanmu ingin menjadi kepala sekolah di sini?" Itu adalah pertanyaan dari dari choji setelah mendengar para murid membicarakannya.
"Iya, tapi kapan Tsunade-basan mulai menjadi kepala sekolah, aku tidak tau." Jawap nya. Saat ini Naruto tengah makan siang bersama dengan teman-teman nya di kantin, atau lebih tepat nya di sudut kantin.
Naruto sudah tau sejak awal jika neneknya akan menjadi kepala sekolah di KHS, jadi saat mendengar para murid membicarakan nya dia tidak terkejut. Sebagai cucu tentu saja Naruto adalah murid pertama yang mendengar jika nenek nya akan menjabat sebagai kepala sekolah. Dia sudah tau sejak lama meski dirinya tau dari sang ibu. Tapi kapan nenek nya akan menjabat dia tidak tau, toh neneknya juga belum pulang dari luar negeri.
"Kau enak dong kalau yang jadi kepala sekolah Obasan mu sendiri." Ujar Lee.
"Asal kau tau saja Lee!, Obasan itu orangnya tegas dan galak. Kalau marah mejapun bisa jebol di tinju nya." Naruto tidak membual soal sang nenek yang bisa menjebol meja dengan tinjua itu karna dia pernah melihatnya sendiri.
"Benarkah? Memangnya Obasan mu itu petinju apa?."
"Bukan bodoh! Tapi aku juga tidak tau kenapa Obasan bisa sekuat it-."
DRRTTT...! DRRTTT...!
Naruto tidak menyelesaikan ucapan nya saat hendphone yang dia letakan di meja bergetar.
'Kaguya-chan? Ada apa ya dia menelfonku?.'
"Moshi-moshi, ada apa kaguya-ch-."
"Ke atap sekarang! Penting!."
PIP!.
"Hah!. Naruto menatap layar handphone nya cengo saat Kaguya memutus telfon nya sepihak.
"Kenapa Naruto?."
"Gak tau nih, kaicho memintaku ke atap ."ujar Naruto menjawab pertanyaan choji.
"Mungkin dia ingin berduaan denganmu Naruto." Ujar Lee menggoda sambil menaik turunkan alis tebal nya.
"Kau iri? Makanya cari pacar!." Jawab nya dengan seringai menyebalkan.
Duduk pada sebuah kursi panjang dengan kotak bekal di pangkuan nya Kaguya tengah menunggu seseorang di atap, siapa lagi kalau bukan Naruto. Sebenarnya ini ide Sion, katanya jika ingin menarik perhatian laki-laki, diri nya bisa melakukan nya dengan cara makan siang bersama. Itulah alasan dirinya di sini.
Ini pertama kalinya Kaguya mengajak Naruto makan siang, jadi dia merasa gugup. Padahal dirinya pernah berciuman dengan Naruto jadi harusnya dia tidak perlu gugup begini.
CKLEK!.
suara pintu atap dibuka mengalihkan perhatian Kaguya. Dia menatap ke kanan dimana pintu atap berada, Dan dari pintu itu muncul Naruto yang langsung berjalan mendekat dan duduk di sampingnya.
"Jadi, hal penting apa sampai kau memintaku kemari Kaguya-chan?."
"Ya-yah.. emm.. aku ingin mengajakmu makan siang bersama." Jawab nya gugup.
Naruto mengangkat alisnya mendengar ucapan Kaguya, jadi ini hal penting yang di bilang Kaguya tadi, Makan siang?. Tapi sesaat kemudian Naruto menyeringai entah karena apa.
"Benarkah?, apa bukan karena kau ingin berduaan denganku, sayang~." Ujar Naruto berbisik di telinga Kaguya. Bahkan lelaki pirang itu dengan berani menggigit telinga Kaguya. Dan hasilnya.
BLETAK!.
"aduhh!..,"
Jitakan keras di kepala.
"Kalau kau mau lagi, aku bisa memberimu jitakan yang lebih keras." Ujar Kaguya dengan wajah datar. Salah siapa menggigit telinganya kan geli. Terlebih ada sensasi aneh yang di rasakan tubuh Kaguya saat Naruto menggigit telinganya.
Ah.. kaguya sensitif di bagian itu.
"A-ampun, aku nggak mau lagi." Ujar nya kapok.
"Bagus, sekarang kita makan!." Ujar nya tegas sambil membuka kotak bekal di pangkuan nya.
"Emm.. tapi aku tidak bawa makanan, hehe."
Tentu saja Naruto tidak bawa, tadi saja diri nya makan di kantin. Tapi saat melihat makanan di pangkuan Kaguya diri nya merasa kembali lapar. Andai saja tadi Kaguya bilang kalau mau mengajaknya makan siang bersama setidaknya Naruto bisa membeli makanan di kantin dulu.
Kaguya tidak berfikir sampai ke situ. Yang Shion katakan hanya mengajak Naruto makan siang bareng, tapi jika Naruto tidak bawa makanan, bagaimana?.
" ka-kau bisa makan punyaku, kebetulan aku bawa terlalu banyak."
"Benarkah? Hehe terimakasih." Tanpa tau malu Naruto mengambil kotak bekal di pangkuan Kaguya dan memakan makanan di dalamnya.
"Hem.. enak!, aku yakin suatu saat kau akan menjadi pembantu yang baik Kaguya-chan, hahaha!."
Kaguya cemberut mendengar ucapan Naruto. Harusnya kan menjadi istri yang baik bukan nya pembantu. Dia jadi menyesal memberikan Naruto makanan itu.
"Buka mulut mu!." Ujar Naruto tiba-tiba sambil menyodorkan makanan ke mulut Kaguya.
"Ehh!."
"Bukan Ehh!.. tapi Aaakk!.."
"I-iya." Kaguya melahap makanan yang di sodorkan Naruto padanya dengan pipi bersemu. Meski tadi dia cemberut tapi kalau Naruto menyuapinya seperti ini hilang sudah wajah cemberut nya.
"Lagi." Ujar Naruto. Dan Kaguya kembali melahap makanan yang di sodorkan Naruto dengan senyum senang.
Ah.. sepertinya Kaguya di buat makin cinta dengan Naruto.
Tidak terasa mereka berdua menghabiskan bekal milik Kaguya bersama, tentunya dengan Naruto yang terus menyuapi Kaguya sampai makanan habis. Selama Naruto menyuapi Kaguya, lelaki pirang itu tidak berhenti tersenyum sambil terkikik, itu karna wajah Kaguya yang terlihat malu-malu saat dia menyuapi nya. Kadang juga Kaguya cemberut saat dengan sengaja Naruto membelokan suapan nya sehingga mengenai pipi Kaguya. Dan lihatlah sekarang, pipi Kaguya belepotan makanan karna ulah Naruto.
"Bukan di situ, sini biar aku bersihkan." Ujar Naruto saat melihat Kaguya salah mengusap pipi yang kotor.
"Memang salah siapa sampai pipiku kotor begini?." Ujarnya sambil manyun.
"Iya, iya maaf. Gak usah manyun gitu, ku cium nanti."
Kaguya tersipu mendengar ucapan Naruto. Kenapa lelaki di sampingnya ini suka sekali bilang ingin menciumnya saat dia cemberut?. Apa Naruto tidak sadar jika ucapannya membuat Kaguya berdebar.
Dengan lembut Naruto menghadapkan wajah Kaguya ke arahnya lalu mengusap pipi Kaguya dengan ibu jari. Mereka juga saling tatap dengan waja Kaguya yang mulai bersemu. entah siapa yang memulai, tapi wajah mereka semakin mendekat setiap detik nya. Kaguya memejamkan matanya saat wajah mereka sudah sangat dekat, bahkan dia bisa merasakan nafas Naruto di wajah cantiknya. Dan pada akhirnya.
CUUPPP!..
Bibir mereka bertemu dalam ciuman.
Ini kedua kalinya mereka berciuman padahal hanya berteman, tapi masa bodoh dengan itu, mereka menyukainya jadi tidak ada yang perlu di permasalahkan. Bisa saja suatu hari status teman itu akan berubah melihat seperti apa keseharian mereka, dan jika itu terjadi sudah pasti Kaguya akan sangat bahagia. Mungkin lebih tepat jika hubungan mereka saat ini di sebut TTM. Teman Tapi Mesra.
Bibir mereka terpisah setelah beberapa saat berciuman dan saling tatap dengan jarak wajah yang cukup dekat. Mereka seperti terbuai dalam suasana romantis dimana dunia seakan hanya milik mereka.
"Bibir mu manis Kaguya-chan." Ujar Naruto dengan senyum menggoda. Dan ucapan nya semakin membuat wajah Kaguya memerah. Mungkin jika ini di dalam anime kepala Kaguya sudah mengeluarkah asap.
"Aku mau lagi." Ujar Naruto tiba tiba.
Belum sempat Kaguya mengekspresikan keterkejutan nya Naruto sudah membungkam bibir Kaguya dengan sebuah ciuman. Kali ini lebih dalam dari ciuman yang tadi dimana Naruto dengan berani melumat bibir bawah Kaguya dan menggigit nya kecil. Hampir saja Kaguya mengerang dalam ciuman seandainya dia tidak bisa menguasai diri. Mungkin karna rasa manis bibir Kaguya membuat Naruto sampai benar-benar terlena, dia bahkan mendorong tubuh Kaguya untuk berbaring dan menindih nya. Lalu ciuman itu semakin dalam dimana lidah Naruto menerobos masuk kedalam mulut Kaguya. Kaguya sendiri mengalungkan tengan nya di leher Naruto dan menahan nya seakan miminta Naruto untuk tidak berhenti. Tapi senikmat apapun ciuman itu pada ahirnya mereka harus menghentikannya karna paru-paru mereka membutuhkan pasokan oksigen.
Meski sekarang bibir mereka sudah terpisah, tapi mereka masih dalam posisi yang sama dimana Kaguya berbaring di kursi dan Naruto berada di atas nya. Lelaki pirang itu meletakan kedua tangan nya di samping kepala Kaguya untuk menahan berat tubuhnya.
" kau sangat cantik Kaguya-chan." Ujar Naruto lembut. Dia membelai pipi Kaguya sambil tersenyum.
Mendengar pujian seperti itu Kaguya semakin merona, dia tidak bisa menahan senyumnya karna Naruto bilang dia cantik.
"Te-terimakasih, kau juga tampan, Naruto-kun." Jawab nya membalas pujian Naruto.
" aku memang sudah tampan dari lahir kaguya-chan, hehe.." ujar nya narsis.
Kaguya tersenyum semakin lebar mendengar ucapan pede dari Naruto. Yah lelaki di atas nya ini selalu bisa membuatnya tersenyum.
" Nee.. kaguya-chan, kau tidak mau melepasku?, atau kau mau lagi?." Ujar Naruto menggoda.
Kaguya baru sadar jika kedua tangannya masih melingkar di leher Naruto, jadi lelaki di atasnya ini tidak bisa menegakkan tubuhnya jika Kaguya tidak melepaskan nya.
"Ah!, ma-maaf." Ujar nya sambil melepaskan tangannya yang dari tadi terus melingkar di leher Naruto. Tapi Kaguya di buat bingung dengan Naruto yang tidak kunjung bangkit dari atas nya, dan semakin bingung saat dirinya mencoba duduk tapi Naruto malah menahan bahunya.
Sambil tersenyum nakal, kedua tangan Naruto yang menahan bahu Kaguya bergerak menuju kancing baju paling atas milik gadis di bawah nya. Mengetahui apa yang akan Naruto lakukan Kaguya terlihat tidak keberatan, malah dia tampak pasrah dan membiarkan Naruto melakukan keinginannya.
KLIK!.
satu kancing.
Selesai dengan kancing paling atas, Naruto menurunkan tangannya menuju kancing di bawahnya. Dia juga merasakan debaran jantung Kaguya yang cukup cepat saat dia melakukan aksinya.
KLIK!.
Dua kancing.
Naruto tersenyum lebar melihat pemandangan indah di bawahnya, yaitu penampilan Kaguya yang lebih, lebih, dan lebih rapi setelah dirinya memasang kembali kancing baju Kaguya yang entah sejak kapan terlepas.
"Nah sekarang sudah rapi, ayo bangun."
"Te-terimakasih."
Mereka duduk bersebelahan dengan suasana canggung, mungkin karena mereka baru saja melakukan ciuman yang cukup panas. Kaguya meremas tangan di pangkuan nya sambil menunduk sementara Naruto cekikikan dalam hati melihat tingkah kaguya, dia sangat menyukai melihat Kaguya yang seperti ini. Di mata nya Kaguya terlihat lebih manis dan imut saat malu-malu.
"Kok menunduk gitu?, sini aku mau lihat wajahmu."
"A-aku malu."
"Kenapa malu?, tadi di cium tidak malu, hehe."
"Ja-jangan di ucapkan bodoh!."
Naruto ingin tertawa mendengar jawaban Kaguya, tingkahnya yang sering herubah-ubah membuat Naruto betah berlama-lama dengan gadis di sampingnya ini. Dengan lembut Naruto menangkup kedua pipi Kaguya dan menghadapkan ke arahnya.
"Jangan menunduk, kan sayang punya wajah cantik tapi tidak bisa di lihat."
Pipi Kaguya kembali bersemu saat melihat Naruto tersenyum sambil menangkap pipinya. Rasanya dia mau meleleh. Dan apa-apaan dengan wajah Naruto yang semakin mendekat itu?.
"Kau sangat cantik dan manis Kaguya-chan."
CUPP!.
ah! Dia mencium kaguya lagi. Dan hey! Ada apa dengan Kaguya yang dengan berani membalas ciuman Naruto dengan agresif itu? Tidak mencerminkan dirinya yang barusan malu-malu.
.
.
.
.
.
.
Saat ini waktu sudah menunjukan pukul tujuh malam dan seorang Uzumaki Naruto sedang mengayuh sepedanya menuju rumah. Dia baru saja dari rumah sikamaru untuk mengerjakan PR bersama, hanya saja dia terlambat pulang karna bermain game dulu. Beberapa kali dia menengok ke belakang saat dirasa sepedanya terasa berat saat di kayuh. Rasanya ada yang membonceng tapi saat Naruto melihat kebelakang dia tidak melihat apapun. Orang bilang hantu itu tidak terlihat jadi apa mungkin saat ini dirinya tengah membonceng hantu? Terlebih saat ini dia merasa merinding.
"Hantu itu tidak ada, kalaupun ada hantu tidak lebih seram dari Okaa-san yang sedang marah jadi tidak perlu takut." Ujar nya pada diri sendiri. Ucapannya terdengar jelas untuk memompa keberanian, tapi tetap saja dia masih merinding, apa karna malam ini lebih sepi dari biasanya? Orang bilang hantu suka muncul saat sepi kan?.
"KYYAAAAHHH!..."
GDUBRAK!.
"Aduuuh!... siapa sih yang tiriak malam-malam begini! bikin orang kaget saja." Ujar nya kesal. Hey! Dia terjatuh gara-gara kaget dengan terakan barusan. Jadi wajar jika naruto ngedumel.
Dia melihat kedepan dimana di jarak lima belas meter dari dirinya ada sebuah gang yang menjadi tempat datangnya suara teriakan. Dia juga melihat bahwa di depan gang itu ada mobil mewah yang terparkir. Setelah menyingkirkan sepeda yang menindih tubuhnya saat dia terjatuh tadi, Naruto berdiri dan berjalan mendekat. Dia mengamati mobil itu yang ternyata ban nya kempes, Lalu saat dia sampai di depan gang dan menengok kedalam sana, dia melihat empat orang lelaki yang terlihat seperti preman tengah menyekap dua gadis. Naruto bisa melihat siapa kedua gadis itu, mereka adalah Ino dan Hinata. Dua gadis yang bersekolah di tempat yang sama dengannya itu tengah di bekap mulutnya oleh dua laki-laki sementara dua laki-laki lainnya tengah mencoba membuka kancing seragam Ino dan Hinata.
Tidak perlu berfikir untuk mengetahui apa yang akan mereka lakukan pada Ino dan Hinata, dan tentu saja sebagai lelaki yang kata naruko baik, Naruto harus menolong mereka. Setelah mengambil batu yang kebetulan ada di samping kakinya, Naruto berjalan kedalam gang.
"Wah, wah, wah.. sepertinya ada pesta, boleh aku ikut? Kelihatannya menyenangkan."
Semua menoleh dan melihat Naruto yang berdiri dangan tangan kiri di samping tubuh sementara tangan kanan di belakang punggung, dan tentu saja mereka semua tidak tau jika Naruto membawa batu.
" ada orang, bagamana ini?." Ujar salah satu lelaki.
"Tidak apa, dia bilang mau bergabung jadi tidak usah kawatir." Dengan bodohnya lelaki yang terlihat seperti pemimpin dilihat dari pakaiannya malah percaya dengan ucapan Naruto.
"Baik! Kau boleh bergabung, tapi kau paling terahir." Jawab si bos sambil menyeringai ke arah Naruto.
Hinata dan Ino menatap tidak percaya ke arah Naruto, apa lelaki pirang itu beneran mau ikutan?. Yah.. mendengar ucapan Naruto tadi tidak salah jika mereka salah paham.
"Tidak masalah untukku. Tapi aku punya sesuatu agar pesta ini lebih menarik."
"Apa itu?."
"Ini!."
SYUTTT... BUAKK!
"hough!."
Dengan cepat Naruto melempar batu yang dia bawa dan hasilnya, batu itu tepat mengenai selangkangan si preman dan langsung membuatnya tersungkur sambil memegangi selangkangan nya.
' ahh!.. padahal aku mengincar kepalanya.' Ujar Naruto dalam hati. Dia tidak percaya jika kemampuan melempar nya seburuk itu.
"Brengsek kau!."
Preman kedua langsung berlari menuju Naruto dengan tangan terkepal. Dia ingin meninju wajah Naruto tapi dengan sigap lelaki pirang itu menghindar kesamping. Momen saat tinju si preman melewati kepalanya, Naruto dengan cepat menghantam perut si preman dengan lututnya. Tidak sekali tapi perkali-kali, lalu saat si preman sudah lemah Naruto meninju tepat di mata kanan si preman menggunakan tangan kiri. alhasil si preman terjatuh kebelakang dan pingsan.
Ino dan Hinata merasa senang melihat Naruto ternyata menghajar preman itu, tadi mereka sudah salah sangka. Tapi ini belum selesai, masih ada dua preman lagi yang tengan membekap mulut mereka.
"Dua selesai. Siapa berikutnya?!."
Ucapan Naruto terdengan keren di telinga Ino dan Hinata, dan apa-apan dengan mata berbinar itu? Apa mereka tidak sadar jika saat ini mereka masih tertahan oleh dua preman.
Tanpa pikir panjang preman yang menahan Hinata berlari menuju Naruto, sama seperti preman kedua, yang ini juga mengepalkan tinjunya bermaksut memukul wajah Naruto. Dengan cepat Naruto mengambil balok kayu yang kebetulan ada di sampingnya dan langsung menghantam preman ke tiga tepat kepala bagian samping. si preman langsung ambruk menerima pukulan itu dan Tidak mau menunggu si preman bangun kembali, Naruto menghantamkan ujung balok pada selangkangan si preman ketiga dan membuatnya mengerang sebelum pingsan.
"Tinggal satu lag-."
BUAK!..
Karena terlalu fokut dengan lawan nya, Naruto tidak sadar jika satu preman yang menahan Ino sudah mendekat dan langsung meninju pipinya. Alhasil Naruto harus terjatuh dengan pipi mengeluarkan darah.
"brengsek! Berani sekali kau membuat teman-temanku seperti ini! Akan ku hajar kau sampai pingsa-."
BUAK.! BUAK!. BUAK!.
"Kami yang akan menghajarmu sampai pingsan sialan!."
Siapa sangka Ino dan Hinata berani menghajar satu preman yang tesisa, mereka dengan semangat empat lima memukul berkali-kali preman ke empat menggunakan kayu yang cukup besar. Sepertinya setelah Ino di lepaskan dia mengajak Hinata untuk menyerang dari belakang.
"Hey! Sudah, dia sudah pingsan."
Barulah mereka berdua berhenti memukuli saat mendengar ucapan naruto. Tapi seakan belum puas, Ino berjaalan menuju preman pertama yang Naruto lempar denagan batu. Preman itu masih nungging sambil memegangi selangkangan nya.
"Kau juga akan ku buat pingsan sialan!."
BUAK!.
tanpa rasa ampun Ino memukul tengkuk si preman dan membuatnya pingsan menyusul temannya yang lain. Puas dengan hasil pukulan nya Ino kembali ke hadapan Naruto yang terduduk sambil memegangi pipinya. Ada sedikit darah yang keluar dari mulut Naruto pipinya juga tampak lebam.
"Kau tidak apa Naruto-kun?." Ujar Ino khawatir sambil berlutut di hadapan Naruto. Tapi kekhawatiran nya berubah jadi rasa bingung saat Naruto tersenyum bodoh sambil menatap dadanya. Mengikuti arah pandang Naruto, wajah Ino memerah saat sadar jika bajunya belum di kancing, itu membuat bra warna kuning nya terlihat.
"KYYAAA!.. HENTAI!."
PLAK!.
"Aduuh!.., kenapa kau kenamparku hah!." Teriak Naruto menderita. Rasanya sangat sakit karna Ino menampar nya tepat di pipi yang kena tonjok.
"Ma-maaf, habisnya kau melihat braku kan?."
"Salah siapa tidak mengancing bajumu dulu!. Lagian kalau tepat di depan muka gitu gimana aku tidak melihatnya!."
"Sudah, sebaiknya kita ke mobil, disana ada kotak P3K. kita obati luka Uzumaki-san dulu." Mendengar ucapan Hinata, Ino dan Naruto terdiam, Mereka mengangguk mengerti lalu berdiri.
"Sebelum itu, sebaiknya telfon polisi dulu agar mereka di amankan." Ujar Naruto.
"Haik! Aku akan menghubunginya."
Dengan itu, Naruto dan dua gadis lainnya keluar dari gang. Mereka menunggu polisi datang sambil mengobati luka di pipi Naruto. Harusnya sih begitu tapi kenapa dua gadis itu malah ribut dan berebut ingin mengobatinya? Apa mereka tidak merasa trauma setelah hampir menjadi korban pemerkosaan?.
"Biar aku saja hinata, aku lebih bisa merawat luka di bandingkan dirimu!" Ujar Ino sambil merebut kotak P3K di tangan Hinata.
"Tidak Ino! Aku sudah sering mengobati luka semacam ini, jadi biarkan aku saja yang melakukannya!." Ujar Hinata tidak mau kalah. Dia juga kembali mengambil kotak P3K di tangan Ino.
"Sudah nggak usah ribut, biar aku sendiri saja yang mengobati pipiku."
"TIDAK BOLEH!." Ujar Hinata dan Ino kompak, mereka juga menatap Naruto dengan tajam.
"Ehh?!. Ko-kok kalian malah membentakku?" Ujarnya penuh kebingungan. Jujur dia ngeri di tatap seperti itu oleh dua gadis sekaligus.
Dan pada ahirnya Naruto harus pasrah saat kedua gadis itu memutuskan mengobati lukanya bersama-sama. Lebih baik sih daripada mendengar mereka terus berdebat.
TBC.
Banyak jawaban dari pertanyaan yang gw ajukan di chap depan, dan jawabannya pun macam-macam. Ada yang begini ada juga yang begitu. Lalu muncul lagi pertanyaan di otak gw.
Apa kalian sudah melakukan nya? Maksutku melakukan apa yang kalian katakan itu?.
Kalau sudah, ya bagus. Kalau belum ayo lakukan.
