'Aku dimana...?'
Kicau burung-burung yang hinggap di jendela menyertai Isogai membuka mata. Semilir angin fajar yang sejuk memasuki relung dada. Sinar matahari yang cercah jatuh menimpa wajah. Wangi bunga memenuhi udara.
Isogai merasa seolah ia ada di surga. Tubuhnya begitu ringan terasa. Ia tak tahan kembali menutup mata, menggesekkan kepala seperti anak kucing pada induknya, tatkala merasakan belaian lembut pada pucuknya.
'Lembutnya... Seperti sentuhan Mama...'
Perlahan Isogai kembali membuka mata (kembali menutupnya, lalu membukanya... Berasa kayak main cilukba). Diangkatnya wajah demi bertatap muka dengan orang yang tengah membelainya—
"Nurufufufu~ Rupanya kau sudah bangun, Isogai-kun."
Isogai terbelalak. Dengan penuh horor berteriak;
"TOLOOONG! ADA BADUT GURITAAA!"
(insert OP song di sini)
OXDXC
Doki Doki Kira Kira Sailor Karma by Nyx Keilantra
Ansatsu Kyoushitsu by Yuusei Matsui
Warning(s): Yaoi, OOC, NISTA + GAJE SUMPAH, etc.
OXDXC
"Ihik... Ihik... Saya salah apa sih... Kenapa saya selalu diperlakukan seperti ini... Jahat sekali..."
"Isogai-kun, maaf ya, kau pasti syok melihat dia!"
"Mana pucukmu pake acara dipegang-pegang oleh dia pula... Aku punya air suci buat ngebasuh hadas mau gak? Gratis, tenang aja."
Dari ranjangnya, Isogai tersenyum lemah. "Terima kasih, Nagisa, Karma... Aku tidak tahu bagaimana aku bisa membalas kebaikan kalian berdua..."
Mengabaikan Koro-sensei yang terisak-isak di pojok kamar tidur Karma, sang surai merah dan Nagisa duduk di tepi ranjang kamar tamu yang dirombak semena-mena menjadi ruang sakit Isogai Yuuma. Isogai merasa seperti bocah sakit parah yang ditemani malaikat dan iblis saja—mana Nagisa berbalut piyama putih sederhana dan Karma memakai boxer hitam, pula.
(Iya, boxer-nya aja. AC di kamar Karma gugur dalam tugasnya tiba-tiba, jadi dia memilih tidur nyaris tanpa busana, daripada harus keringatan seperti saya yang kipas angin di kosnya rusak juga.)
(Lho kok curhat jadinya.)
Anyway, kembali ke Isogai-Nagisa-Karma. Lupakan si badut gurita.
"Isogai-kun, jadi kemarin itu kamu kenapa?" tanpa basa-basi, Nagisa mulai menginterogasi. Tapi karena berusaha menjaga image baik hati, ia tidak mengikat Isogai di kursi dan menanyai di ruangan yang hanya diterangi satu lampu mini meski Karma sudah menawari.
Jangan pikiri kenapa Karma punya ruang interogasi.
"Dan jangan coba-coba berdusta," tambah Karma sembari menyilangkan lengan di depan dada. "Gak usah pikirin reaksiku dan Nagisa. Kami cuma mau menolongmu mengatasi masalah dan tidak berniat mengambil keuntungan apa-apa."
"Alat penyadapnya nyaris jatuh dari saku celana, Karma."
"Eh, masa? Oh iya."
Isogai ber-hahaha karena bingung mau menjawab apa. Ia tidak yakin sepenuhnya Karma memang tulus ingin menolong Isogai saja atau mau sekalian mengumpulkan bahan blackmail juga. Tampang (dan kelakuan) Karma kayak penjahat sih habisnya.
"Yah, sebenarnya..." Isogai ragu-ragu bersuara, tapi mengumpulkan keberaniannya, ia menatap Nagisa dan Karma—berusaha sebisanya mengabaikan perekam suara yang menyembul dari saku celana Karma. "Namaku Isogai Yuuma. Dan aku punya hutang lima ratus juta."
"..."
"..."
"HAH?!"
Baik Nagisa maupun Karma sama-sama membelalakkan mata. Alat penyadap bahkan ditodongkan Karma, bagai wartawan mewawancara. Nagisa berpura-pura menjadi juru kamera, merekam mereka dengan ponselnya. Koro-sensei manyun di pinggir jendela, ngambek tidak diajak-ajak bermain oleh mereka.
"Ma, maksudnya lima ratus juta... Itu lima ratus juta rupiah?" tanya Karma, berusaha memastikan fakta. Dengan sedih Isogai menggelengkan kepala.
"Lima ratus juta dolar Amerika. Lima trilyun kalau di rupiah."
Luar biasa. Duit segitu banyaknya bisa buat beli somay berapa?
"Yang benar saja!" seru Nagisa tidak percaya. "Gimana ceritanya kamu bisa punya hutang sebegitu banyaknya?"
Nafas penuh derita dihela. Dengan suara rendah, Isogai mulai berkisah.
.
.
Flashback dua tahun sebelumnya...
PLAK!
Tubuh adik-adik Isogai gemetar. Mengintip dari balik pintu kamar, mereka melihat ayah digampar—bukan lagi ditampar, tapi digampar. Saking kerasnya digampar, ia bahkan sampai berputar-putar. Ibu Isogai sang pelaku penggamparan menggeram sangar, membuat suaminya gentar.
"Dasar kurang ajar!"
Mengapa orangtuanya tiba-tiba bertengkar? Untuk memahami alasannya terasa begitu sukar. Ayah-ibu Isogai biasanya bahkan tak pernah bertukar kata kasar. Sekarang mainan gampar. Jangan-jangan habis ini piring bakal dilempar.
"Bisa-bisanya kamu mengkhianati keluarga! Bisa-bisanya kamu mengorbankan Yuuma!"
Ibu Isogai berteriak dengan sangat tidak selow-nya. Tapi ayah Isogai juga tidak kalah drama, dengan sengit ia menatap istrinya.
"Justru aku melakukan ini demi keluarga! Demi kita semua!" serunya. Isogai pun menahan nafasnya, khawatir di sudut mata ia akan menangkap frasa 'Bersambung di episode berikutnya', padahal ia kan sedang asyik-asyiknya—eh salah, maksudnya, sedang mencemaskan kelangsungan hubungan kedua orangtua.
"Persetan dengan 'demi kita semua'!" ibu Isogai tidak menerima penjelasan suaminya. "Bagaimana dengan Yuuma, hah?!"
Isogai dan kedua adiknya bertukar pandang, wajah mereka kompak menyiratkan kebingungan. Ada apa gerangan sampai-sampai Isogai dibicarakan dan menjadi topik (?) pertengkaran? Perasaan Isogai mengatakan alasannya pastilah bukan sesuatu yang menyenangkan.
"Kamu tidak bisa seenaknya menikahkan Yuuma dengan dia!"
Isogai jantungan tiba-tiba. Dia akan dinikahkan dengan badut gurita?!
...oh, bukan dia itu maksudnya.
Dari menguping pembicaraan kedua orangtuanya, Isogai berhasil menyimpulkan fakta bahwa sang ayah telah khilaf meminjam uang dengan bunga tidak kira-kira dari seorang rentenir kaya. Rentenir ini adalah seorang duda yang disinyalir mengidap pedofilia—atau mungkin ebepofilia?—karena dia 'bersedia' menghapuskan hutang-hutang sang ayah asalkan boleh menikahi Yuuma.
E-nak-sa-ja. Namanya Isogai Yuuma, ya! Bukan Siti Nuryuuma! Sudah bukan jamannya orangtua tidak bisa membayar hutang dari orang kaya, lalu menikahkan anak mereka dengan si orang kaya demi menghindari penjara! Tidak heran ibu Isogai tidak terima.
"Lagipula uang itu kau pakai untuk apa?! Atau untuk siapa?! Apa—apa selama ini kau mendua?!"
Ibu Isogai nyaris bersimbah airmata. Ia memang sudah sedia teflon untuk menggibeng suaminya, tapi pria itu tetaplah suaminya. Mengapa, oh mengapa harus begini jadinya?
Ayah Isogai mengalihkan mata, tak kuasa menatap balik istrinya yang sudah berkaca-kaca.
"Memang—selalu ada dia..."
Apa?! Selama ini dia selingkuh dengan badut gurita?!
...oh, bukan dia itu maksudnya.
"Maafkan aku, Ma, meski sudah lebih dari satu dasawarsa kita bersama, aku tetap tidak bisa move on dari waifu-ku tercinta."
"Apa...?" teflon terhempas begitu saja. Pucat wajah ibu Isogai menatap suaminya. Sebelum rasa tak percaya dan terkhianatinya berubah menjadi amarah. "Kau... WIBU TIDAK BERGUNA!"
Ayah Isogai mengangguk pasrah. "Ya, memang benar aku tidak berguna-"
"KE LAUT SAJA SANA!"
"Aku gak bisa, uangku abis semua-"
"AKAN KUBAKAR SEMUA KOLEKSI HENTAI DAN DAKIMAKURA-MU TERCINTA!"
"JANGAN, MA!"
.
.
Begitulah. Ayah Isogai diceraikan dan didepak dari rumah esok paginya. Pada hari yang sama, ibu Isogai mencari kerja. Isogai juga, sekalipun harus secara rahasia karena bekerja sambilan dilarang sekolah. Tapi ia tahu bahwa mengumpulkan uang untuk membayar hutang mereka pastilah akan susah. Isogai tidak ingin ibunya sampai kenapa-kenapa. Lagipula, ia serba bisa seperti H*yate the Combat Butler (yang manga-nya saya baca cuma beberapa chapter pertama); bakat itu tak boleh dibiarkannya sia-sia jika bisa menghasilkan harta yang dapat membantu keluarga.
Tekad Isogai membantu menghidupi keluarga menggantikan sang ayah membuat hati Karma dan Nagisa tergugah. Mereka merasa hina dibandingkan dengan dirinya. Di mata mereka, Isogai tampak begitu bercahaya.
"Woy, Koro-sensei, itu spotlight buat apa? Matiin gak."
Koro-sensei meninggalkan mereka tanpa suara.
"Jadi begitulah," senyum Isogai pada Karma dan Nagisa yang berkaca-kaca. "Demi menutup hutang ayah dan memastikan keluargaku aman sentosa serta aku sendiri bebas dari dinikahkan dengan om-om kaya yang sudah menduda pengidap pedofilia—aku rela melakukan apa saja..."
Kesedihan tampak di wajah Isogai tiba-tiba.
"Karena itu, aku minta maaf ya, Karma, Nagisa."
Di akhir kalimatnya, Isogai melemparkan flash bomb yang entah didapatkannya darimana—dari keranjang Karma di chapter lalu, kah?—membuat Karma dan Nagisa spontan erat-erat menutup mata.
Saat sinar bom mereda, mereka mendapati Isogai sudah tidak ada.
Begitu juga dengan alat transformasi mereka.
Frasa 'Ini malapetaka' terlintas di benak Karma dan Nagisa, semakin diperkuat oleh Koro-sensei yang berteriak; "TYDAAAAQQQ!"
.
.
Hari demi hari berlalu tanpa terasa. Publik sempat resah, karena Sailor Karma dan Sailor Nagisa yang mendadak raib entah kemana—apalagi untuk Sailor Nagisa, kan sayang dia baru benar-benar beraksi di satu episode saja, masa sudah diganti pemainnya. ...eh maaf, ini bukan sinetron kejar tayang ya.
Tapi media segera dihebohkan oleh penampakan sailor ketiga, yang menggantikan Sailor Karma dan Sailor Nagisa dalam melindungi mereka. Sailor ketiga yang tak bernama, berkostum sederhana, tidak punya catchphrase yang bisa dengan mudah ditiru ucap oleh anak balita, dan jauh lebih tidak brutal dari kedua sailor sebelumnya yang membuat lembaga pensensoran (?) dapat menghela nafas lega.
Kata ibu A; "Dulu saat menonton sailor ini melawan monster, saya takut membawa anak saya. Saya tidak ingin ia terpengaruh oleh kebrutalan para sailor-nya. Sekarang berkat sailor tanpa nama, kami sekeluarga bisa menontonnya bersama-sama tanpa harus cemas apa-apa! Terimakasih, sailor tanpa nama!"
...gak gitu juga.
Sailor tanpa nama meninggalkan lokasi pertempuran. Dengan tenang nan cekatan ia menyelinap diantara gang-gang, mengganti pakaian untuk berbaur di kerumunan, sebelum akhirnya melangkah memasuki sebuah bangunan yang sudah lama ditinggalkan. Tanda 'Akan Diledakkan' yang tertera di pagar kawat luar bangunan ia acuhkan.
Dalam balutan jaket usang bertudung hitam, ia berdiri di tengah ruangan, dengan secercah sinar matahari dari langit-langit yang berlubang (bukan karena bangunannya ditinggalkan, tapi karena Sailor Karma yang pernah menendang kaijuu sampai homerun merusak bangunan) sebagai satu-satunya sumber pencahayaan. Ia memerintah pelan;
"Keluarlah, kalian!"
"Aku melihatmu beraksi barusan," sesosok berjubah hitam muncul dari persembunyian di balik sebuah tiang penopang bangunan. Tudung yang menutupi wajahnya sebagian masih menampakkan seulas senyuman—atau mungkin lebih tepatnya seringaian. "Kau patut mendapat pujian. Tidak banyak yang dapat beraksi demikian...
Apalagi mengingat alat transformasimu tidak memberi kekuatan tambahan."
Sailor tanpa nama tidak bereaksi kentara, tapi sosok berjubah pastilah tetap dapat menangkap rasa kagetnya, karena seringainya makin melebar layaknya kuchisake-onna. Sailor tanpa nama—ah susah amat sih sebut namanya, udahlah singkat aja jadi Saitama—mengepalkan kedua tangannya, nyaris tidak kuasa menahan amarah.
"Siapa kau sebenarnya?! Bagaimana kau bisa tahu tentang itu semua?!"
Sang sosok berjubah tertawa. Tawa yang horor dan berbahaya. Dalam hatinya, Saitama menyesal ia tidak hafal doa pengusir makhluk tak kasat mata.
"Aku bisa menjadi siapa saja. Bukan itu masalahnya. Kau juga tidak perlu mencemaskan bagaimana aku bisa tahu ini semua—termasuk juga fakta bahwa kau mencuri alat transformasi Sailor Karma dan Sailor Nagisa dengan harapan kau bisa menambah kekuatan dengan alat transformasi milik mereka. Sayang sekali kau tidak berhasil ya?
Padahal... Kau sudah sampai membuat mereka meregang nyawa..."
Tubuh Saitama membeku. Ditatapnya sosok berjubah yang memasang wajah pura-pura sendu (padahal gak keliatan karena tudungnya, duh). Nafasnya seketika menderu.
"Kau bicara apa?!" bentak Saitama. Ih nulis namanya jadi berasa lagi nulis fanfiksi fandom sebelah. "Aku hanya mengambil alat transformasi mereka! Mereka baik-baik saja!"
Sosok berjubah kembali tertawa, kali ini lebih keras volumenya. Saking kerasnya, suaranya sampai menggema di tengah bangunan yang memang agak seperti goa. "Saat kau meninggalkan mereka, ya, mereka masih baik-baik saja... kelihatannya. Asal kau tahu saja, Akabane Karma dan Shiota Nagisa telah ditipu oleh si monster gurita. Mereka tidak tahu faktanya bahwa, kalau mereka tidak bekerja melindungi dunia, mereka akan kehilangan nyawa. Kehilangan alat transformasi mereka berarti tidak bisa menjadi Sailor Karma dan Sailor Nagisa, yang berarti mereka-"
"Dusta! Dusta! DUSTA! Aku tidak percaya!"
Saitama gemetar, di pelupuk matanya terbit bulir-bulir airmata.
"Tapi memang demikian adanya, Saitama... Bukan, sailor tanpa nama... Bukan, ISOGAI YUUMA!"
Sosok berjubah menyibakkan jubahnya. Angin kencang masuk menerpa, menyibakkan tudung jaket yang sedari tadi melindungi pucuk Isogai Yuuma yang berjengit karenanya. Di saat yang sama, jubah yang dikenakan sosok di seberangnya ikut terlepas juga, menampakkan sejumput rambut merah.
"...eh astaga, aku lupa buat mempertimbangkan faktor cuaca."
Karma mengusap wajah. Isogai makin tidak bisa percaya. Apa-apaan Karma?! Bisa-bisanya si surai merah begitu tega mempermainkan dirinya?! Isogai nyaris menangis untuknya dan Nagisa!
"Isogai-kun, maafkan kami ya."
Tubuh Isogai tersentak untuk entah yang keberapa kalinya. Memutar kepala, ia mendapati Nagisa—sejak kapan dia ada di sana?!—menarik keluar dari saku celana Isogai alat transformasi mereka. Isogai sempat bertanya-tanya apakah Nagisa pernah dilatih menjadi copet atau semacamnya, tapi amarah mengambil alih pikirannya.
Hati Isogai tuh suci! Dia tidak bisa diperlakukan seperti ini!
Di tangannya terputar sebuah tongkat besi. Ia menyabetkannya penuh emosi.
"ENYAH! Enyah kalian berdua!"
Karma sudah siaga hendak melawan Isogai yang murka, begitu pula Nagisa. Tapi NagiKaru yang masih didominasi logika menyadari adanya bahaya.
Bahaya bahwa bangunan tempat mereka berada sudah tua-renta, dan dapat hancur dengan mudah.
Nagisa hanya sempat menjeritkan frasa; "Isogai-kun! Jangan gegabah!" sebelum langit-langit rubuh menimpa.
"Ah-"
.
.
'Aku dimana...?'
'Ah, untuk apa juga aku mempertanyakannya.'
'Aku lelah... Aku ingin tidur saja...'
'Maaf, Ma...'
.
.
"Doki doki kira kira! Sailor Karma!"
"Kyun kyun kira kira! Sailor Nagisa!"
.
.
"...?!"
.
.
"Isogai-kun tidak apa-apa?!"
"A, apa...?"
Isogai terbata. Ia terperangah, mendapati Sailor Karma dan Sailor Nagisa—bukannya balas dendam dan menyerangnya karena telah mencuri alat transformasi mereka—justru tengah melindunginya, menghalau reruntuhan bangunan dengan tubuh mereka.
'Tapi kenapa? Bukankah kalian berdua begitu haus darah?
...Kenapa kalian tidak menghabisiku selagi bisa?'
"Aku tahu aku memang tidak pantas disebut penyelamat alam semesta," ujar Sailor Karma tiba-tiba. Nada suaranya begitu biasa, padahal lengannya sudah gemetar menahan reruntuhan beton seberat anak gajah. "Sejak semula, aku hanya ingin membunuh waktu dengan menghabisi monster-monster ini saja. Aku juga tidak peduli berapa banyak collateral damage yang kusebabkan karenanya—selagi masih suka, aku akan terus menjadi ~*the ultimate magical girl penyelamat alam semesta*~. Coba pikir saja, aku bisa menghajar monster tanpa harus merasa bersalah, dielu-elukan media massa, dan digaji pula. Kurang apa?"
"Aku juga," imbuh Sailor Nagisa, nadanya lebih terengah. "Aku hanya mengincar uangnya. Peduli amat mau berbuat apa atau menghajar siapa, aku butuh uang dan aku akan memperolehnya dengan segala cara—yah, walau aku akan tetap berusaha mendapatkannya dari jalan halal kalau bisa..."
"Karena itulah," seulas senyum muncul di wajah Sailor Karma. Bukan senyum jahil atau menantang atau berbahaya khas Karma (baik Sailor Karma maupun Akabane Karma), melainkan senyuman tulus yang membuat benak Isogai paham seketika pesona dari seorang uke Karma. ...lupakan saja.
"Karena itulah, kamu yang punya hutang segitu banyaknya, tapi tetap berusaha menjadi seorang penyelamat yang sesungguhnya...
Buatku dan Nagisa, kamu luar biasa. Tidak seharusnya kamu kenapa-kenapa."
"Ibu dan adik-adikmu pasti mengkhawatirkanmu di rumah. Bagaimana kalau kamu tak ada?" Sailor Nagisa tersenyum pula.
Mengerahkan kekuatan mereka, Karma dan Nagisa akhirnya berhasil menyingkirkan puing-puing menjauh dari mereka bertiga. Kedua pemuda-berwujud-gadis-berkuncir-dua itu lalu mengulurkan tangan mereka pada Isogai yang kini benar-benar tidak bisa menahan airmata.
"Isogai-kun, jangan menyerah, ya?"
.
.
"Fuwa fuwa kira kira... Aku adalah—Sailor Yuuma."
Gaun off-shoulder putih bersih belum ternoda, dilapis renda di atasnya. Rok tea-length berlapis kain tulle jala mengekspos pergelangan kaki berstoking putih renda dan wedges putih bertali sederhana. Telapak tangan sampai lengan bawah berbalut renda. Bunga bakung putih serta rangkaian mutiara menghiasi kepala, dengan cadar berpinggiran renda di baliknya.
Tidak, Isogai tidak menikah dengan duda kaya pedofilia. Ia kini menggunakan kostum pertama Sailor Yuuma. Tersenyum ceria di sisi kanannya adalah Sailor Nagisa, berkostum serupa dengannya, namun berwarna biru muda dengan rangkaian aquamarine serta bunga hydrangea. Di sisi kirinya ada Sailor Karma, berkostum serupa pula, namun ber-tulle jala dan berenda hitam di atas dasar merah dengan rangkaian obsidian serta bunga mawar merah lengkap dengan durinya pula.
Bukannya buket bunga, di tangan mereka terdapat pedang rapier perak, ujung gagangnya bertahta permata serupa hiasan kepala mereka. Ketiga pedang itu diacungkan ke udara.
"Doki doki kira kira-"
"Kyun kyun kira kira-"
"Fuwa fuwa kira kira-"
.
.
"Bersiaplah! Kami sailor Kira Kira akan menghukum anda!"
.
.
"Nurufufufu~ Akhirnya happy ending juga—nyu?"
Koro-sensei yang mengamati mereka dari rimbunnya pepohonan sana dengan kepo menolehkan kepala. Ia—berikut ketiga sailor yang kini sudah kembali ke wujud semula—menyaksikan sebuah limousine hitam mewah berhenti di depan kediaman Isogai Yuuma. Limousine-nya pake chauffeur alias sopir mobil mahal, pula. Begitu pintu belakang mobil dibuka, tergelar karpet merah.
Karma-Nagisa-Isogai menganga. Isogai yang sempat khawatir mobil itu ditumpangi seorang duda kaya pedofilia sadar seketika kalau ini bukanlah dia—karena setahunya, sang duda kaya itu orang kaya lama, alias hartanya sudah diwariskan turun-temurun dari buyut orangtua. Yang pakai mobil norak begini cuma orang kaya baru aja.
Dan benar saja, bukan duda kaya pedofilia yang muncul dari sana. Seorang pemuda, berkacamata hitam dengan hiasan permata di sudut lensa dan berbalut kemeja sutra, melangkah menuju pintu rumah dan baru akan mengetuknya saat Isogai muncul membuka suara.
"Kau... Maehara?"
Si pemuda mem-pause aksinya. Dengan slow motion melepas kacamata, ia menggerakkan kepala, menyibakkan poninya yang langsung menebar efek sparkle kira-kira seperti di anime Nanbaka yang juga menebar efek sparkle gak kira-kira jumlahnya. Iya ini permainan kata emang disengaja, garing ya.
Si pemuda menampakkan senyum yang dimaksudkannya untuk tampak gagah, walaupun bagi Karma dan Nagisa ia lebih tampak seperti host muda.
"Bukan Maehara," lembut koreksi si pemuda. "Tapi Hiroto kan, Yuuma?"
Isogai tidak menjawabnya, tapi langsung menghambur ke pelukan Maehara. Karma terkekeh seram dengan tanduk serta ekor iblisnya, Nagisa tersenyum kalem mengabadikan momen dengan kamera.
Rupanya, Maehara Hiroto adalah teman baik Isogai sejak mereka masih di TK. Begitu mendengar kabar masalah finansial sahabatnya, Maehara berjanji pada Isogai akan menolongnya, tapi setelah itu ia menghilang entah kemana tak tahu kabarnya. Tidak tahunya ia sibuk bekerja menjadi artis idola muda, dan kini telah berhasil mengumpulkan uang untuk melunasi seluruh hutang sahabatnya.
"Sahabat apa sahabat tuh namanya? Kamu punya hutang sampe lima ratus juta aja aku gak bakal bisa bantu ngelunasin dah," komentar Karma.
Nagisa menyikut Karma memperingatkannya. "Udah ah, Karma, jangan iseng nyebarin gosip segala."
"Ini bukan nyebarin gosip, Nagisa, ini memastikan kapal bisa berlayar ke samudra."
"...ngomong apa."
Pokoknya happy ending lah.
~Tsuzuku~
(insert ED song di sini)
A/N: DAN AKHIRNYA FANFIKSI INI SELESAI JUGAAAA! *banting meja* Gila, selesai tepat pada hari H... Saya sungguh lelah, pembaca Q_Q"
Anyway, selamat tahun baru, minna-sama! Sekalipun chapter ini melenceng dari bagaimana saya membayangkannya (saya sempat membuat Isogai jadi dark!Isogai yang menculik dan mencambuk Koro-sensei, masa), saya bahagia akhirnya selesai juga :") Review, minna?
Trailer Episode Selanjutnya~
"Sudah liburaaan! Ayo kita ke pantai untuk liburan!"
"Ini penyiksaan."
.
.
"Kok aku ngerasa... Bakal ada masalah..."
(cue ledakan di kejauhan, diikuti jeritan dan raungan)
"Jangan dibilangin, makanya. Beneran kejadian kan sekarang jadinya."
.
.
"JANGAN LAKUKAN, KARMAAA!"
.
.
Libur musim panas tiba! Ketiga magical girls memutuskan untuk pergi liburan ke pantai bersama, tapi... ada masalah apa? Filler episode dimana ketiga ~*the ultimate magical girls penyelamat alam semesta*~ berlatih menambah kekuatan mereka, mempererat hubungan mereka, makan, mandi, dan tidur bersama—ha? Jangan lewatkan di episode selanjutnya! Episode 5: Doki Doki, Ini Kami!
Trailer Tamat~
