Fragile Sight

.

.

.

BL/Yaoi / KookV - Jungkook x Taehyung / dldr.

.

.

.

.

Aroma bekas sisa hujan semalam menyeruak terbawa hembusan angin hangat, mengundang sepasang kelopak mata yang membungkus netra sekelam malam pemuda tampan yang masih bergelung di dalam selimutnya untuk membuka.

Di sisinya ada makhluk yang bergelung dan menjadikan lengannya sebagai alas untuk bersandar.

Tersenyum, Jungkook mengarahkan jemari panjangnya mengusap pipi mulus tembam kekasihnya yang masih tertidur lelap. Taehyung pasti lelah, entah sudah berapa lama mereka tidak bercinta hingga semalam yang seharusnya dingin karena rintik hujan menjadi sehangat musim panas.

Desahan Taehyung masih tetap menjadi candu bagi Jungkook, bagaimana suara Taehyung memenuhi sudut kamar mereka, melebur bersama rendah suara Jungkook yang saling bersahutan, penuh gairah.

_

Ujung rambut Taehyung masih basah, ibu jari Jungkook bergerak menyusuri bulu mata panjang nan lentik yang lebih tua, membayangkan betapa indah binar mata cokelat yang tersembunyi di sana.

Lalu bibirnya mengecup bahu Taehyung yang tidak dilapisi apapun, perlahan menyapukan permukaan bibirnya pada kulit yang sehalus bayi.

Arah lirikan matanya kini mengarah ke bagian leher dan sekitar tulang selangka Taehyung yang dihiasi beberapa warna lebam keunguan hasil karya gigi dan bibirnya, sangat kontras dengan warna kulit kekasihnya yang cerah namun sedikit tan. Jungkook sangat menyukai warna kulit Taehyung, seperti madu yang mengkilap diterpa cahaya, dan manis tentu saja.

Merasakan pergerakan kecil Taehyung yang kian beringsut merapatkan tubuhnya, Jungkook terkekeh gemas, menggerakkan tangan besarnya untuk menarik selimut yang sempat melorot agar kembali menutupi tubuh telanjang Taehyung hingga mencapai dagu lancipnya.

Sepertinya si manis berkulit seksi itu kedinginan, dan dengan sebuah kecupan lembut di kening perlahan Jungkook bangkit dengan gerakan sangat pelan agar tidak membangunkan kekasihnya yang sudah kembali terlelap.

_

Tangannya bergerak telaten, fokus untuk menuang dan membalikkan sebuah adonan yang telah mengembang bundar berwarna keemasan di hadapannya.

"Sudah bangun, sayang?" Jungkook menoleh ke belakang punggungnya, suara langkah kaki berhasil menarik atensi sang dominan dari pancake yang tengah mengepul panas dengan aroma menggoda.

Di sana, Taehyung berjalan kearah dapur tempat Jungkook berada sekarang dengan sebelah tangan yang terangkat meraba-raba sekelilingnya. Pemuda manis itu sudah mengingat dengan baik posisi tatanan barang dan jalur di rumah yang mereka tinggali berdua, jadi ia dapat dengan leluasa bergerak tanpa bantuan tongkat stainless.

Bukannya menjawab atau sekedar memberikan ucapan selamat pagi pada kekasihnya Taehyung malah mendengus pagi-pagi. "Kenapa kau tertawa?" Wajahnya tampak imut merengut lucu. Taehyung tentu tahu kenapa tanpa perlu jawaban dari yang lebih muda.

"Tidak apa sayang, kau cantik." Jungkook tertawa. "Kemarilah."

Jangan salahkan Jungkook yang tak mampu menahan tawa melihat bagaimana penampilan Taehyung tiap kali mereka selesai bercinta. Yang dikenakan oleh Taehyung adalah sepasang piyama tidur, hanya saja berbeda motif dari celana dan baju.

Dan jangan salahkan Taehyung juga karena ketika terbangun ia tidak mendapati Jungkook di sisinya hingga ia hanya mengambil asal pakaian yang bisa terjangkau olehnya, jadilah sekarang ia mungkin tengah memakai celana piyamanya sendiri namun dengan atasan milik Jungkook karena jujur saja baju piyama yang ia kenakan sangat besar hingga cukup membuat bagian bahunya mengintip kurang ajar.

"Hari ini sirupnya rasa apa?" Langkahnya pelan, menarik ujung kursi untuk didudukinya. Taehyung duduk di kursi yang pertama kali digapainya.

"Strawberry, sayang." Jungkook meletakkan piring berisi pancake sirup, sepasang sendok dan garpu, dan segelas susu untuk Taehyung. "Ayo sarapan."

"Ne!"

_

Seharusnya tidak begini.

Taehyung yang berakhir mencuci semua piring dan peralatan dapur yang Jungkook gunakan tadi.

Tapi jika itu Taehyung yang meminta terlebih dengan caranya memohon yang pasti akan berhasil mengalahkan ego seorang Jeon Jungkook.

Dia bisa apa? Menolak?

Tentu tidak.

Dan Jungkook mengerti itu, kekasihnya hanya ingin membantu diluar keterbatasan yang dimilikinya. Taehyung selalu bilang.

"Jangan perlakukan aku seperti orang buta. Aku cacat. Tapi bukan berarti aku tidak berguna."

Sejak saat itu pula Taehyung mulai belajar melakukan pekerjaan rumah sendiriーdibawah pengawasan Jungkook tentu sajaー.

_

"Hyung."

Jungkook meraih pinggang Taehyung, memerangkap yang lebih kecil dalam dekapan hangat. Sembari mengendusi aroma chamomile yang menguar dari tubuh rampingnya -walaupun masih sedikit tercium sisa aktivitas mereka semalam.

"Hmm?"

"Bagaimana dengan taman bermain hari ini?"

"Kau tidak bekerja?"

"Nope. Aku ingin berkencan dengan manisku sayang ini." Kecupan ringan mendarat di pipi tembamnya. Bertepatan dengan satu gelas terakhir yang Taehyung letakkan di pantry. Mencuci tangan sebentar lalu mengeringkannya seadanya.

Taehyung memutar tubuh, menangkup pipi Jungkook yang teraba sedikit tirus di bawah permukaan tangannya. Mencoba menemukan netra jelaga kekasihnya seolah tengah menatapnya begitu dalam.

Taehyung tersenyum kemudian. Melingkarkan lengan kurusnya untuk memeluk sang dominan penuh kerinduan.

"Bawa aku kemanapun. Aku juga merindukanmu."

Tanpa tahu kedua netra cokelat Taehyung kini tengah digenangi air mata.

Ya, Taehyung merindukan Jungkook.

_

Jungkooknya yang dulu.

#sekian :")

#maafkan setelah sekian lama baru up lagi, i wont forget my work :")

Neomu neomu thankseu :")