Big Thanks To :

CloveRine26/duabumbusayur/hopekies/ROXX h/Seung yeon Kang/Pika WarbenJaegerManJensen/kiyo/Rina Putry299/daunlontar.

.

.

.

Jaehyun memasuki ruang latihan dengan langkah santai. Mengedarkan pandangannya, Jaehyun menemukan Kun dan Jungwoo sedang berbincang bersama di pojok ruangan. Tersenyum lebar, Jaehyun melangkah mendekati keduanya. Begitu sampai di dekat mereka berdua, Jaehyun lantas mendudukkan dirinya di dekat Kun. Membuat Kun tersentak kaget karena tak menyadari Jaehyun yang menghampirinya.

"Jaehyun?" Kun menatap Jaehyun bingung, karena tumben sekali dia datang ke sini sendiri. Biasanya juga bersama Johnny atau Doyoung, terkadang juga bersama Winwin.

"Hai Kun hyung, Jungwoo." Jungwoo mengangguk dan tersenyum membalas sapaan Jaehyun. "Hai hyung, tumben sendiri."

Jaehyun terkekeh kemudian menyandarkan tubuhnya pada dinding di belakangnya. "Ada yang salah jika aku sendiri?" Jaehyun bertanya dengan mata yang menatap Kun dan Jungwoo secara bergantian.

"Tidak. Hanya tumben saja. Biasanya kan kau bersama Johnny hyung, Doyoung, atau Winwin-ie." Kun yang menjawab seraya mengerjapkan matanya beberapa kali. Jaehyun mengangguk, tangannya meraih botol minum dekat dirinya, itu milik Kun.

"Aku hanya ingin lebih dekat dengan kalian. Tidak salah kan? Dan ngomong-ngomong, di mana Hansol hyung dan Lucas?" Jaehyun mengedarkan pandangannya mencari dua orang yang namanya ia sebutkan tadi.

Jungwoo meneguk minumannya yang sisa setengah itu hingga habis. Setelahnya, ia berdeham untuk mengalihkan perhatian Jaehyun. "Mereka sedang latihan vocal. Tadi pelatih memanggil mereka."

Jaehyun mengangguk mengerti dan dengan segera meminum minuman yang berada di tangannya. Tak mempedulikan Kun yang terus saja menatapnya dengan pandangan yang penuh akan arti. Jungwoo melihat itu, tersenyum tipis Jungwoo berdiri dari duduknya. Sepertinya ada yang perlu waktu untuk berdua saat ini.

Jaehyun yang melihat Jungwoo berdiri pun menatapnya bingung. "Kau mau ke mana?"

Dengan masih tersenyum, Jungwoo menjawab pertanyaan Jaehyun, "Aku mau ke toilet hyung. Sebentar ya, aku tinggal dulu." Setelah itu, Jungwoo benar-benar pergi dari hadapan keduanya. Membuat suasana di sekitar mereka mendadak berubah, menjadi lebih hening dan sedikit menegangkan. Entah itu hanya Kun yang merasakannya, atau Jaehyun juga ikut merasakannya.

Perlahan, Kun bangkit dari duduknya dan menyalakan tape musik yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Kun mencoba mengabaikan keberadaan Jaehyun yang membuat jantungnya berdetak cepat dengan mencoba fokus latihan dance. Matanya mencoba fokus pada bayangan dirinya di depan cermin sana namun gagal begitu melirik ke samping ternyata Jaehyun menatapnya sebegitu intensnya.

Mencoba tak peduli, Kun tetap saja menari sesuai dengan musik yang terdengar. Tapi begitu ia memutar tubuhnya, tiba-tiba saja kakinya terkilir yang membuat dirinya akhirnya ambruk. Jaehyun yang melihat itu segera berdiri dan menghampiri Kun yang masih terduduk diam. Jaehyun menarik pelan kaki Kun dan mencoba memijitnya.

Kun mendongak, menatap Jaehyun yang ternyata masih sibuk dengan pergelangan kakinya. Kun merutuk dalam hati, kenapa ia harus kehilangan konsentrasi begini? Lihat, dia merepotkan Jaehyun.

"Akhh." Kun meringis pelan begitu Jaehyun menekan kakinya dengan kuat. Jaehyun melihat ke arah Kun dan tersenyum. "Maaf hyung. Tapi jika tidak begini, mungkin kau akan terus kesakitan."

Kun mengangguk mengerti, mencoba menahan rasa sakitnya, Kun menggigit bibir bawahnya sendiri. Setelah sekian menit, akhirnya Jaehyun selesai dari acara memijit kakinya.

"Setelah ini, hyung langsung ke dokter ya? Aku takut terjadi apa-apa pada kaki hyung." Jaehyun menatap mata Kun yang membuat Kun meneguk ludahnya gugup. "Dan aku perhatikan hyung tadi tidak fokus. Apa ada masalah yang hyung fikirkan?"

'Yang aku fikirkan hanya kau Jaehyun. Kapan kau sadar akan perasaanku padamu.' Jawab Kun dalam hati.

Jaehyun melambaikan tangannya di depan wajah Kun saat melihat Kun yang mendadak diam dengan pandangan yang kosong. Mengguncangkan bahu Kun pelan sehingga Kun akhirnya sadar dan balas menatap matanya.

"Hyung kenapa? Merindukan Winwin?" Goda Jaehyun sambil mengedipkan sebelah matanya dan tertawa. Kun ikut tertawa, meskipun terdengar hambar. Kun mengalihkan pandangannya menatap cermin yang menampilkan wajah seseorang di depan pintu ruang latihan.

"Winwin?"

.

.

Jungwoo menatap bayangan dirinya di depan cermin. Lucas yang berada di belakangnya menatap bosan pada Jungwoo yang sejak tadi berada di sana.

"Kau tidak bosan hyung?" Lucas bertanya dengan nada bosan yang begitu kentara. Badannya ia baringkan pada kasur di bawahnya dan berguling-guling ke sana ke mari.

Jungwoo melihat Lucas dari bagian cermin yang berada di depannya dan tersenyum tipis. "Menurutmu?"

"Yakk hyung! Kenapa kau memberiku pertanyaan lagi?" Lucas mendengus kesal dan melemparkan bantal pada Jungwoo. Dengan sigap, Jungwoo menghindari lemparan bantal itu.

"Lagipula kenapa agensi tidak mengizinkan kita menonton konser Yesung sunbae sih? Kan aku mau melihatnya hyung~" Lucas merengek yang membuat Jungwoo tertawa kecil. Membalikkan tubuhnya, Jungwoo menatap Lucas yang tengah menatapnya kesal.

"Ya, aku juga tak tahu. Lagipula jadwal latihan dan pemotretan kita juga padat Lucas. Kau harus mengerti itu." Sekali lagi Lucas mendengus dan kini ia menutupi seluruh tubuhnya menggunakan selimut tebal miliknya. Tersenyum lebar, Jungwoo berdiri dan berjalan mendekati ranjang Lucas.

"Kau jangan seperti anak kecil begini eoh, ayo kita keluar. Kun hyung sudah menunggu." Dengan pelan, Jungwoo menarik tangan Lucas yang keluar dari selimut. "Ayo Lucas."

Lucas akhirnya bangun setelah Jungwoo menarik tangannya lebih kuat. Lucas menyingkap selimutnya dan duduk menghadap pada Jungwoo. Lucas mendongak dan membalas tatapan Jungwoo yang terlihat begitu teduh.

Jungwoo tersenyum tampan dan tangannya merapihkan rambut Lucas yang berantakan. Setelah dirasanya Lucas lebih rapi, Jungwoo menggenggam tangan Lucas membuat yang lebih muda sontak berdiri.

"Terima kasih hyung." Bisik Lucas yang dibalas anggukan dan senyuman oleh Jungwoo.

.

.

Setelah menghadiri konser sunbae satu agensi mereka, para member NCT pun pulang ke dorm. Ten memilih langsung menuju ke ruang latihan untuk menemui Hansol yang diikuti juga oleh Doyoung. Doyoung mengatakan jika ia begitu rindu untuk bertengkar dengan Ten setelah sekian lama mereka tidak berjumpa.

Keduanya pun berjalan beriringan menuju ruang latihan yang berada di lantai tiga gedung SM Entertaiment itu. Keluar dari lift, keduanya lantas berjalan santai menuju ruang latihan dengan sesekali berceloteh mengenai konser yang mereka tonton tadi.

Begitu memasuki ruangan, Ten lantas mengedarkan pandangannya mencari Hansol. Namun nihil, ia tidak menemukan pemuda Busan itu di sudut ruang latihan dance ini. Menghela nafasnya, Ten lantas mendudukkan dirinya di dekat dinding cermin yang disusul oleh Doyoung.

"Di mana Hansol hyung? Bukannya dia seharusnya ada di sini ya?" Ten terus saja mencari keberadaan Hansol yang membuat Doyoung menghela nafasnya lelah.

"Mungkin Hansol hyung pergi ke toilet atau ada latihan lain. Nanti juga Hansol hyung akan ke sini lagi Ten." Ten mengangguk lemah mendengar ucapan Doyoung. Menyenderkan kepalanya pada bahu Doyoung, Ten memejamkan matanya. Rasa kantuk yang menghantui dirinya semenjak tadi benar-benar tidak bisa ia toleransi lagi sekarang.

Doyoung melirik ke arah bahunya dan tersenyum senang begitu melihat Ten yang terlelap. Menyentuh rambut hitam Ten dan membelainya pelan, Doyoung tidak bisa untuk menahan hatinya berteriak karena bisa sedekat ini dengan Ten. Bukannya mereka tak pernah dekat seperti ini, namun rasanya sudah sangat lama Doyoung tidak menyentuh dan membelai kepala Ten penuh dengan kasih sayang.

"Doyoung?" Suara seseorang dari arah pintu membuat Doyoung tersentak kaget. Dengan segera, Doyoung menjauhkan tangannya dari kepala Ten dan menolehkan kepalanya ke arah pintu. Di sana, ada Hansol yang menatapnya dengan senyuman tipis terlukis di wajahnya.

Hansol melangkah masuk setelah menutup pintu ruang latihan. Mendekati Ten dan Doyoung, mata Hansol tak lepas dari wajah Ten yang terlihat begitu lelah namun nyaman karena bersandar pada bahu Doyoung. Sepertinya apa yang dikatakan Jungwoo tempo hari ada benarnya. Ten memang selalu mengaku jika dia mencintai dirinya, namun lihat sekarang? Ten terlihat begitu nyaman bersama Doyoung. Mengalihkan pandangannya dari Ten, Hansol beralih untuk memperhatikan raut wajah Doyoung. Terlihat ada binar kebahagiaan yang begitu kentara meskipun Doyoung berusaha menutupinya.

Menghela nafasnya pelan, Hansol kembali berfikir, mungkinkah ini saatnya untuk dirinya menyerah?

Mendudukkan dirinya di depan Doyoung dan Ten, Hansol meraih tangan Doyoung yang sontak membuat pemuda kelinci itu membulatkan matanya. Hansol tersenyum dan menggenggam tangan Doyoung. Matanya menatap bergantian antara Ten dan Doyoung.

"Doyoung-ah, setelah ini tolong jaga Ten dengan baik ya. Kalian berhak bahagia. Aku sadar, aku yang salah di sini." Doyoung menatap tidak mengerti pada Hansol yang tiba-tiba berkata seperti itu. "Maksudmu hyung?"

Hansol tersenyum sekali, tangannya mengacak gemas rambut Doyoung. "Aku sudah menyerah tentangmu."

Satu kalimat itu membuat jantung Doyoung terasa berhenti seketika. Entah kenapa, tapi ketika mendengar Hansol mengatakan hal itu, hati Doyoung langsung merasa kosong dan begitu kehilangan.

Doyoung mengerjapkan matanya beberapa kali dan menatap Hansol dengan kedua matanya yang terasa basah. "Ke-kenapa hyung?"

Hansol mengulum senyumnya, matanya sibuk menatap Ten. Terlihat dari raut wajah pemuda Thailand itu jika dia sudah terbangun. Namun, pemuda itu mungkin tidak atau belum mau bergabung dengan percakapan mereka.

"Bukankah kalian saling mencintai? Sebenarnya aku yang orang ketiga di antara kalian bukan? Jadi, sebagai orang yang bersalah, aku mau menebus kesalahanku." Hansol mengulurkan tangannya untuk mengusap pipi Doyoung yang basah karena tetesan air mata. Doyoung sekali lagi tersentak, sejak kapan dia menangis? Dan kenapa pula ia menangis?

"Hyung, apa kau tidak memikirkan perasaanku?" Ten berujar dengan mata yang masih menutup. Mencoba menghindari tatapan Hansol yang begitu sendu.

"Aku memikirkannya. Makanya aku memilih pilihan ini." Hansol meraih satu tangan Ten dan ikut menggenggamnya.

"Memangnya, apa saja pilihan yang kau punya hyung?"

.

.

Taeyong memasuki kamarnya dengan langkah yang begitu pelan. Ia tak mempedulikan sapaan Yuta dan Winwin yang berada di ruang tengah dorm mereka. Merasa ada yang aneh dengan sang kekasih, Yuta pun mengikuti langkah Taeyong menuju kamar sang leader dan sang tetua.

Taeyong lantas menjatuhkan dirinya di atas kasur miliknya dan menutup matanya. Yuta mendekati kasur Taeyong dan berdiri tepat di samping ranjang. Mata Yuta terbelalak begitu melihat wajah Taeyong yang begitu pucat. Dengan segera, Yuta memeriksa tubuh Taeyong dan benar dugaannya. Badan Taeyong lebih panas dari suhu normal.

Dengan langkah terburu, Yuta melangkah keluar dari kamar Taeyong dan sedikit berlari menuju dapur. Saat sampai di dapur, Yuta menemukan Jaehyun yang tengah duduk di kursi meja makan dengan secup ice cream di tangannya.

"Jaehyun-ah, bisa bantu aku?" Jaehyun bangkit dari duduknya dan menghampiri Yuta yang sibuk menuangkan air hangat dari termos ke sebuah baskom kecil.

"Apa yang bisa ku bantu hyung?" Menggigit sendok ice creamnya, Jaehyun terus saja memperhatikan Yuta yang tengah sibuk sendiri. "Tolong buatkan bubur ya? Taeyong sedang sakit."

Mata Jaehyun membulat kaget, pantas saja sejak tadi seperti ada yang tak beres dengan leadernya itu. "Tentu saja hyung. Aku akan membuatkannya dengan segera."

"Terima kasih sebelumnya, Jaehyun-ah." Setelah itu, Yuta lantas bergegas kembali ke kamar Taeyong dengan sebaskom air hangat juga sebuah handuk kecil.

Setelah menghabiskan ice cream dan mencuci tangannya, Jaehyun segera menyiapkan bahan-bahan membuat bubur untuk Taeyong. Dengan telaten, Jaehyun memotong beberapa sayuran untuk campuran buburnya nanti.

Jaehyun tidak menyadari, jika sedari tadi Winwin di belakangnya dan memperhatikannya. Melangkah pelan, Winwin mendekati Jaehyun dan berdiri tepat di samping pemuda itu.

"Butuh bantuan?" Jaehyun hampir saja melempar spatula yang digunakannya jika saja ia tidak cepat menyadari kalau orang yang bertanya itu teman satu grup sekaligus satu linenya.

"Aku rasa ada." Jaehyun mengangguk setelah sekian detik ia berfikir. "Apa?" Winwin menatap penuh antusias pada Jaehyun.

"Tolong kau carikan obat penurun panas di kotak P3K ya? Sepertinya tadi Yuta hyung tidak mengambil obatnya." Jaehyun berkata sambil mengaduk buburnya. Winwin mengangguk mengerti. Bergumam 'Baiklah' Winwin pun pergi menuju rak samping kulkas yang memang berisi kotak P3K dan juga obat-obatan yang lain.

Setelah menemukannya, Winwin kembali pada Jaehyun yang sudah menyiapkan semangkok bubur juga segelas air putih di atas nampan.

"Ini Jaehyun-ie." Winwin menyerahkan obat yang diambilnya tadi kepada Jaehyun yang langsung diterima. Mengerjapkan matanya, Winwin menatap polos pada Jaehyun. "Memangnya siapa yang sakit?"

Jaehyun mengangkat nampan tadi dan melangkah menuju kamar Taeyong yang diikuti juga oleh Winwin. "Taeyong hyung."

Winwin membulatkan bibirnya dan ber-oh ria seraya menganggukkan kepalanya mengerti. Mengetuk pintu kamar Taeyong, Winwin juga Jaehyun menunggu Yuta membukakan pintu. Jangan bertanya Taeil di mana sekarang. Yang pasti, dia sedang pergi bersama Johnny entah kemana.

Pintu terbuka dan menampilkan sosok Yuta yang terlihat sedikit sendu. Terlebih bagian matanya yang memerah. Sepertinya pemuda Osaka itu baru saja menangis.

"Ini hyung, bubur dan obatnya." Jaehyun menyerahkan nampan yang dibawanya dan diterima dengan hati-hati oleh Yuta. "Terima kasih Jaehyun-ie, Winwin-ie." Yuta memasang senyum tipis yang membuat Jaehyun juga Winwin meringis melihatnya. Senyum itu, terlihat terpaksa kau tahu?

"Jika butuh bantuan, panggil kami saja hyung." Yuta menganggukan kepalanya dan berjalan mundur sesaat sebelum menutup pintu kamar Taeyong menggunakan sebelah kakinya.

Jaehyun dan Winwin saling bertatapan. Sepertinya Taeyong hyung dan Yuta hyung, butuh waktu untuk bersama.

.

.

Mark melirik malas pada Haechan yang sedari tadi mondar-mandir tak jelas di dalam kamar mereka. Meletakan buku sejarah yang sedari tadi dibacanya, Mark kini fokus menatap Haechan yang terus saja melakukan hal penting begitu ditambah dengan posisi sok berfikirnya.

"Kau sedang memikirkan apa sih?" Mark bertanya dengan nada bingung. Haechan berhenti sebentar sebelum kembali melakukan kegiatannya.

Mark menghela nafasnya sebelum kembali meraih bukunya dan membaca kembali materi yang memang harus dipelajarinya. Haechan tiba-tiba saja berlari ke arahnya dan memeluknya erat dengan sesekali menggoyang-goyangkan tubuh Mark ke kanan juga ke kiri.

Mark yang begitu terkejut tidak bisa menolak semua perlakuan Haechan padanya. Mereka sedang berada di dorm NCT 127 jadi tidak akan ada yang membantu jika pun ia berteriak meminta tolong. Yang ada malah mereka berdua pasti akan dimarahi karena sudah hampir larut malam belum juga tidur.

"Hyung?" Haechan menghentikan kegiatan menggoyangkan tubuh Mark. Mark mendelik tak suka, kepalanya terasa pusing akibat perlakuan bar-bar dari Haechan barusan. "Apa?"

"Sepertinya," Haechan menggantungkan kalimatnya dengan mata yang menatap mata Mark. Mark meneguk ludahnya begitu melihat tatapan serius dari Haechan.

"Apa?" Hanya kata itu yang keluar dari mulut Mark. "Sepertinya, aku sudah tidak mencintaimu lagi." Haechan mengerjapkan matanya dan kembali menatap Mark dengan polos.

Mark membulatkan matanya begitu mendengar penuturan Haechan. Dengan cepat, Mark melepaskan pelukan Haechan pada tubuhnya.

Haechan mengerucutkan bibirnya dan menatap Mark dengan kesal. "Kau kenapa sih hyung?"

"Kau yang kenapa Lee Donghyuck?" Mark memijit pelipisnya yang terasa begitu berat seketika.

"Aku berkata jujur hyung. Aku rasa aku sudah tidak mencintaimu. Aku mulai mencintai Jaemin hyung." Haechan menunduk dan memainkan jari-jarinya.

Mark melirik Haechan sembari menghembuskan nafasnya pelan. Meraih sebelah tangan Haechan dan menggenggamnya, Mark tersenyum pada Haechan dan dibalas dengan Haechan yang menatapnya bingung.

"Akhirnya kau sadar juga Lee Donghyuck." Haechan pun mengangguk dan balas tersenyum.

"Dan sekarang, tinggal menyadarkan Jeno juga Renjun."

.

.

Jeno menatap punggung Renjun yang tertidur di seberang tempat tidurnya. Mungkin saja Renjun sudah tidur terlihat dari deru nafasnya yang sudah teratur. Jeno menghela nafasnya sebelum bangkit dengan pelan dan mendudukkan dirinya di atas ranjang miliknya.

Jeno menatap langit-langit kamarnya yang sudah gelap, efek lampu kamar yang mereka matikan, dan pandangan Jeno juga terlihat menerawang. Jeno terlihat memikirkan banyak hal yang akhir-akhir ini menghantui fikirannya. Apalagi tentang sikap Renjun padanya. Renjun terlihat begitu sangat jelas menghindarinya. Terlebih setelah pesta ulang tahunnya bulan lalu, Jeno merasa Renjun semakin jauh darinya dan semakin dekat dengan Mark.

Memikirkan hal itu, Jeno lantas menggeleng ketika fikiran jika cinta Renjun padanya sudah hilang dan beralih pada Mark. Fikiran Jeno menolak akan pemikirannya sendiri, namun dalam hati, Jeno juga tidak bisa memungkiri kalau masih ada perasaan cinta darinya untuk Jaemin. Memikirkan kisah cintanya yang begitu rumit, membuat Jeno mengacak rambutnya frustasi dan membuang nafasnya dengan berat.

Di seberang ranjangnya, tepatnya ranjang Renjun, Renjun terlihat memeluk boneka moominnya dengan begitu erat. Renjun mencoba tidur sedari tadi, namun tetap tidak bisa. Apalagi dia juga menyadari jika Jeno terus saja menatapi punggungnya dan juga Renjun mendengar setiap helaan nafas berat yang Jeno keluarkan.

Renjun sama seperti Jeno yang memikirkan tentang perubahan sifat dirinya sendiri yang memilih untuk menjauh dari Jeno dan juga Mark, sebenarnya. Namun Mark malah tetap saja mendekatinya yang membuat Renjun mau tak mau menerima semua perlakuan Mark padanya. Tapi masalah Jeno, sepertinya dia harus berhenti untuk mencintai Jeno dan juga membiarkannya bahagia bersama Jaemin. Tapi memikirkan Jaemin, bagaimana dengan Haechan nantinya?

Setelah bergelut dengan fikirannya yang kacau, Renjun akhirnya terlelap dan disusul dengan dengkuran halus dari ranjang sebelahnya.

.

.

.

TBC

.

.

.

A/N :

Pas bikin chap ini, aku ingin banget berkata kasar. Ini ide maksa, mana NCT jarang update kan akhir-akhir ini, jadi ya, aku menyambungkan beberapa updatean NCT beberapa hari terakhir dengan sedikit juga ide sendiri. Apalagi pas moment JaeKun itu, itu benar-benar dari otak ku sendiri. Kalau yg TaeYu itu, terinspirasi dari wajah Taeyong yg kelihatan pucat pas datang ke konsernya Yesung.

Sebelumnya, aku minta maaf untuk chap sebelumnya yg membuat beberapa dari kalian yg tersinggung dengan ff ini. Asli aku nggak sengaja. Tapi, ff itu memang tumpahan emosi author kan?

Ps : Jujur, kalian nunggu JohnJae or JohnIl kan? Mereka aku simpan dulu untuk next chap.

Pss : Maaf jika pendek.

Psss : Maaf untuk yg minta moment belum aku kabulkan. Nanti di next chap mungkin ada.

Pssss : WooCas tambahan pemanis untuk ff ini. Setelah TaeYu juga SungLe.

Psssss : Review juseyo~

Sampai jumpa!