Disclaimer : Harry Potter © J. K. Rowling

.

.

.

Potions

By. I Sunshine


.

"Kalian terkena efek ramuan cinta lebih dari satu hari, sungguhkah?" Slughorn tidak berniat menyembunyikan ekspresi geli setelah dua murid anggota klubnya mendatanginya di jam istirahat dengan serangkaian cerita, tawa kecil malah sempat keluar menggetarkan sisi kumis.

Harry menggangguk, gelisah di tempat duduk melihat guru ramuan mereka tidak kunjung menunjukkan tanda-tanda memberikan apa yang dibutuhkan. Slughorn malah kembali menuang teh ke canngkir mereka, bersemangat meminta kelanjutan cerita. "Yah—itu yang sedang terjadi pada kami, Profesor."

Slughorn kembali tergelak, hidungnya membaui sampel minuman bercampur ramuan yang berhasil mereka selamatkan beberapa hari lalu. Alisnya terangkat, lalu mengangguk sendiri mengedipkan mata pada Harry dan Hermione. "Aku tebak, ini produk Weasley bersaudara yang sedang terkenal itu bukan? Kau tahu nama ramuannya, Hermione?"

Berdehem menegakkan punggung, Hermione menaruh cangkir kembali ke meja. "Toko lelucon Weasley menjual empat produk ramuan cinta," Hermione memulai dengan nada cerdas penuh percaya diri seperti biasa. "Dari aroma khas mint dan percampuran dengan duri mawar—diantara ke empat ramuan, saya menebak ramuan itu adalah Kissing Concoction, Profesor."

Slughorn mengangguk-angguk puas, tidak pernah kecewa dengan kecerdasan anggota klubnya. Kini matanya telah berbalik menoleh ke Harry. "Dan apakah kau tahu seperti apa cara kerjanya, Harry?"

Pertanyaan Slughorn seolah mengingatkan Harry akan sesuatu. Dia mengingatnya—hari ketika mengunjungi toko lelucon, kata per kata. Namun, kenapa Harry bisa melupakannya beberapa hari ini?

Menelan ludah susah payah, Harry menarik napas sebelum mengatakan apa yang melekat pada memori. "Freed dan George mengatakan ramuan hanya bekerja dua puluh empat jam, sedikit bertahan lama jika yang memberi adalah orang yang menarik. Aku rasa Hermione menarik," Harry berbisik pada diri sendiri—awalnya, lalu kepala terangkat memandang Hermione dan Slughorn bergantian. Kata pujian terakhir untuk sahabatnya keluar tanpa sengaja membuat pipi Hermione bersemu, tapi Harry tidak begitu memperhatikan karena realita membuatnya lebih banyak memikirkan fakta-fakta lain. "Mungkin itu sebabnya ramuannya sedikit bekerja lebih lama hingga membuat kami nyaris berciuman malam itu."

Lagi—Slughorn tergelak. Jawaban yang diterima lebih terperinci membuatnya tidak berhenti mengocok perut. Mungkin karena masalah umur atau karena dia menjadi pihak pengamat, sehingga kedua murid cerdasnya belum memasuki fase tersadar pada sebuah fakta unik dibalik kondisi mereka yang saling terikat. "Kau mendapatkan poinnya, Potter. Dan aku juga tidak yakin yang kalian minum adalah Amortentia, mengingat yang meramu adalah Hermione. Terkecuali Harry membuatnya dan dengan sengaja mencampurnya pada minuman kalian."

"Aku tidak akan melakukannya!"

"Yah, yah ... tenang, Potter," tawa Slughorn mulai berkurang. Berdiri menyingkirkan serbet, kakinya melangkah pada meja kerja—mulai mencampur beberapa ramuan dalam satu kuali ramuan. "Aku tahu kau tidak, aku hanya ingin menggodamu," lanjutnya. "Meskipun aku yakin kalian berdua saling tertarik di luar kendali ramuan, tapi aku akan membuat penawarnya agar kalian bisa lebih lega."

Untuk beberapa menit berikutnya, ruangan hanya diisi oleh suara gumaman Slughorn menikmati meramu penawar. Hermione terlalu sibuk menatap pantulan diri dari cangkir, dan Harry—pemuda itu terpaku menatap Slughorn dengan tatapan kosong.

.

.

"Kau sedikit terlambat hari ini, Hermione?"

Acuh Hermione mengangkat kedua bahu mengambil tempat duduk di depan Ron, napasnya berembus lega menyantap sup labu hangat. Telinga dan ujung hidung gadis itu tampak merah kedinginan, membuat Ron bertanya-tanya apakah gadis itu baru saja menghabiskan waktu lama di luar dalam cuaca luar biasa dingin. Yah—Hermione memang terkadang sedikit memiliki sisi aneh ketika tengah mencari tahu sesuatu, tapi berlama-lama dalam cuaca dingin—sungguhkah?

Ron terus menatap curiga mengembangkan segala asumsi dengan otaknya yang sederhana, dia sudah nyaris melemparkan pertanyaan—sayang terpotong oleh kehadiran Harry sedikit tersandung mendekati meja makan.

"Hai, Harry!" Romilda bersemangat menyambut, bergeser memberikan tempat duduk untuk Harry.

"Ah, hai," berdeham canggung mengambil tempat duduk di samping Romilda karena membuatnya tetap berada di sebelah Hermione.

Kemunculan Harry membuat Ron semakin bertanya-tanya, kondisi sahabat bersurai hitam acak-acakan lebih mengerikan dari Hermione. Hidung dan telinga sama memerah, tetapi Harry jauh terlihat kedinginan—terlihat dari jemari menggigil tergesa meraih apa pun yang tampak hangat tersaji di meja. Ron tahu ada yang tengah disembunyikan kedua sahabatnya. Mata tidak berhenti mengawasi bergantian, tidak bisa menahan diri karena menangkap sesekali Harry atau Hermione akan tersenyum aneh ketika kedua mata mereka bertemu saling mencuri lirikan.

Pelan Ron memajukan badan, membungkuk berbisik mendekati kedua sahabatnya. "Apakah sesuatu terlewat di depan mataku?"

Harry diam, Hermione mengerut melemparkan tatapan terganggu. Berdoa saja Hermione tidak akan memukulnya tanpa alasan yang diketahui lagi. Untung gadis itu tampaknya dalam suasana hati bagus, hanya mendengus sesekali menyuap sup. "Kau yang terlalu sibuk dengan Lavender hingga meninggalkan kami berdua, Ron."

Ron tidak bisa menahan senyum, mengangguk-angguk kembali ke posisi duduk normal. "Oh, apakah Hermione kita cemburu sekarang?"

Hermione nyaris mengambil buku untuk menyapa kepala Ron. Tentu, itu akan dilakukannya sebelum suara Romilda menarik perhatian. Gadis satu asramanya itu menarik-narik lengan jubah Harry dengan menyimpan maksud tersembunyi. Memukul kepala Ron terlupakan, Hermione memilih tidak ingin Romilda merusak suasana hatinya dengan kembali menyantap sup dengan tenang.

"Kau mendapatkan undangan pesta Profesor Slughorn, Harry?"

Harry menurunkan sendok makan menoleh pada Romilda, sedikit terkejut karena keberadaan Romilda sungguh terlupakan. Selain Hermione, Ron, dan sup hangat—Harry tidak mengingat apa-apa saat menyantap makanan.

"Yah—aku mendapatkan undangan."

Romilda bersorak girang, menepuk tangan di depan bibir. "Aku dengar belum ada yang kau ajak untuk menjadi pasangan kencan untuk menghadirinya, kalau kau mau—aku bersedia berdandan terbaik untuk menemanimu."

Harry terpaksa memundurkan sedikit punggung, membuat sisi pundak kanannya bersentuhan dengan lengan Hermione karena gerakan Romilda yang memajukan badan mendekat. Gadis itu sungguh terang-terang melempar godaan.

"Bagaimana menurutmu, Harry? Kau senang bukan mengajakku?"

"Yah—itu, sebenarnya ... aku sudah memiliki pasangan ke sana."

Tawa rendah bernada ceria Romilda menunjukkan belum memiliki niatan menyerah, gadis itu malah lebih bersemangat mendesak, "Jangan bilang kalau kau merasa gugup mengajakku, jadi kau mencari-cari alasan untuk menolak. Tenang saja Harry, aku tidak akan mengecewakan."

Harry menggeleng. "Aku benar-benar akan bersama orang lain meskipun aku belum mengajaknya."

"Memangnya siapa yang kau ajak?" Ron yang gatal bertanya akhirnya melontarkan isi kepala, salah satu trio emas itu mulai tertarik mengetahui ada gadis menarik hati sahabatnya yang cukup pemalu.

Tatapan mata zamrud Harry otomatis melirik ke arah Hermione yang masih menyantap sup dengan tenang, tapi matanya beralih ke sisi lain agar tidak begitu kentara siapa gadis yang dimaksud. Hubungan mereka masih terbilang baru mengingat dua puluh empat jam belum berlalu, tidak bijaksana terlalu mengumbar ketika sesuatu baru di jalani. Harry ingin menutupi dahulu, setidaknya lebih menyelamatkan kekasihnya dari isu 'pengincar pemain Quidditch' walau sebagian besar orang-orang itu yang mengincar kekasihnya. Bintang besar Victor Krum di Yule Ball tahun ke empat, lalu jangan lupakan si populer kiper cadangan Quidditch Gryffindor Cormac McLaggen yang tengah gencar mengincar kekasihnya untuk dibawa ke acara Slughorn. Harry tahu semua itu. Berbagai isu terus muncul hasil kecemburuan gadis-gadis pada kekasihnya yang mereka katakan biasa saja, tidak terbayang menjadi seperti apa apabila hubungannya dengan sang kekasih terbongkar.

"Dia orang yang cukup kau kenal."

Ron menaikan alis, "Oh—ya, siapa?"

"Harry."

Harry menoleh pada panggilan Hermione, sempat berpikir menyusun kata lain untuk menghindari pertanyaan Ron tapi urung karena melihat gadis itu membereskan barang-barangnya di meja. Harry tahu ini akan terjadi, Hermione akan menghindar lagi agar tidak hanyut dalam kekesalan. Sejak tadi pemilik mata coklat itu tidak mengeluarkan suara sejak Romilda menlancarkan serangan—ditambah keingintahuan Ron yang tidak memandang tempat, Hermione pasti marah.

"Aku duluan ya."

Ron terdiam dengan mulut masih terbuka menjatuhkan roti yang sempat tergigit, dan disebelah Harry—Romilda terkesiap menjatuhkan sendok dari tangan. Tidak ada yang mengeluarkan suara untuk menghilangkan senyum aneh di bibir Harry, setidaknya beberapa orang yang menyaksikan apa yang baru saja terjadi serentak terkena serangan shock. Beberapa detik lalu—Hermione Granger pergi meninggalkan meja dengan mengecup Harry. Tidak benar-benar di bibir, hanya sudut saja. Namun, apa yang terlihat sudah barhasil menyampaikan maksud apa yang terjalin di antara mereka berdua.

"Ha,Harry ...," terputus-putus napas Ron melempar tanya pada sahabatnya, tidak sanggup mengeluarkan kalimat dengan lengkap efek dari sisa serangan shock. "Apa, apa—apa yang terjadi pada kalian berdua?"

"Ah, itu—" Harry sendiri masih tersenyum aneh membuat Ron cukup frustasi, mengusap-usap sudut bibirnya yang tertinggal aroma vanilla Hermione lalu dengan tatapan geli melanjutkan, "—Hermione memberiku ramuan cinta dari toko Freed dan George, dan—aku rasa itu cukup bekerja."

"Apa?!"

Terima kasih pada teriakan Ron, semua orang di aula makan mulai mempertanyakan apa yang terjadi pada Harry Potter.

.

.

Satu jam sebelumnya ...

Tidak ada yang mulai bicara, hanya keheningan diisi langkah sepatu cenderung berirama mengisi kesunyian lorong. Jam kosong sore sudah hampir habis, murid-murid lain tentu memilih bergegas mengisi aula ruangan makan ketimbang membuang waktu berjalan di lorong yang mengarah berlawan ke aula. Kesunyian membuat mereka bebas berpikir, menjadikan diam sebagai momen untuk memilah kebenaran hati.

Hermione menunduk sepanjang jalan, minim ekspresi tanpa mengenyahkan fokus pada langkah. Pikirannya terus terbang pada tiap-tiap perkataan diselingi canda Slughorn. Banyak yang mengisi kepala, memaksa si gadis Gryffindor melihat sisi lebih logis meskipun dia sudah memiliki jawaban sendiri. Otaknya berhenti menyibukkan diri saat jemarinya diraih untuk digenggam, Hermione menoleh dengan alis berkerut. "Harry?"

Pemuda bermata zamrud dibingkai kaca mata menyunggingkan senyum aneh, menghela napas sebelumnya menggeleng-gelengkan kepala. "Bagaimana perasaanmu?"

Hermione mengangkat kedua bahu, belum ada yang bisa menggambarkan perasaannya saat ini hingga dia hanya melontarkan jawaban asal, "Aku rasa ramuan Profesor Slughorn bekerja. Bagaimana denganmu?"

Kini Harry mengikuti tindakan Hermione, mengangkat kedua bahu. Keduanya tergelak, tawa rendah menertawai situasi konyol yang tidak terhindarkan. Mereka hanya remaja, bukankah kesalahan bisa diperbaiki untuk mematangkan diri? Hanya butuh sedikit keberanian, tapi—bukankah itu yang sudah mereka miliki? Gryffindor—singa pemberani, lambang rumah mereka.

Sejenak menoleh kiri dan kanan, Harry menarik Hermione ke pinggir agar sosok mereka tertutupi tinggi pilar yang menjulang. Ada sedikit jeritan protes diikuti irama tawa keduanya.

Harry tidak bisa menahan senyum menyadari seberapa merah pipi mereka bersemu, tangannya melepaskan genggaman bergerak melingkari pinggang Hermione. Perasaan bahagia yang membuncah membuat jantung berdegup menyenangkan, seolah-olah semua tindakan yang diambil adalah benar. Karena itu, tanpa malu-malu tubuhnya membungkuk hingga jarak wajahnya dengan Hermione terpisahkan senti meter.

"Apakah teman-teman akan kecewa kalau kehilangan lima poin apabila kita ketahuan?"

Pipi Hermione merona cantik, uap napas mereka yang beradu terlihat karena dinginnya cuaca. Gadis itu juga tidak mampu menahan senyum, main-main memukul dada Harry saat pelukan mengerat. "Mereka tidak akan mendapatkan ide bahwa kita pelakunya, ingat—Ron dan Lavender memiliki banyak peluang mengurangi poin karena mereka melakukannya di tempat terbuka. Yah—meskipun aku menyayangkan kita terlambat makan malam—"

Tidak ada suara mengisi lorong. Hanya bunyi bungkam beberapa detik, lalu disusul dengan suara kecupan. Hermione terlalu sibuk menjabarkan analisa, terlampau menikmati bagaimana Harry menghargai kecerdasannya hingga tidak sadar celotehannya mengundang minat. Gadis itu tidak memperhatikan bagaimana tatapan zamrud amat terpesona, menghanyutkan menghilangkan kesabaran menunggu. Hermione hanya sempat berkedip sejenak dari rasa terkejut, lalu ikut memejamkan mata—karena itu yang sudah Harry lakukan sejak tadi ketika mulai menciumnya.

Ya, akhirnya mereka berciuman—sungguhan.

Awalnya malu-malu, hanya menempelkan bibir untuk menyerapi rasa. Ketika degup jantung membuncah semakin terasa benar, kecupan bergerak berbagi dengan intens. Tidak posesif maupun lembut, itu hanya seperti adanya mereka. Membagi kecupan menunjukkan rasa yang tersimpan. Jermari Hermione bergerak melingkari leher Harry, mengundang untuk memperdalam ciuman. Angin mungkin terus berembus membekukan, sayang tidak akan berhasil membuat mereka mengakhiri sesi hangat diantara mereka lebih dini.

Slughorn benar ketika mengatakan Kissing Concoction hanya berfungsi dua puluh empat jam, benar juga dengan pendapat bahwa Harry tidak mungkin sengaja memberikan Amortentia pada sahabatnya, lebih benar lagi saat mengatakan dengan frontal bahwa baik Harry maupun Hermione—keduanya saling tertarik.

Ramuan memang bekerja dengan benar sesuai reaksi saat pertama kali dikonsumsi, penyebab hal kecil ketika dua kali mereka merasakan keinginan besar untuk berciuman. Mereka hampir melakukannya. Namun, gagal.

Dua puluh empat jam berlalu pengaruh ramuan hilang. Masuk akal karena terbukti mereka mampu mengendalikan diri tidak melakukan apa pun di perpustakaan selain berpelukan, tetapi—memori konyol tentang keinginan kuat ingin berciuman tentu tetap tertinggal. Keduanya keliru mengartikan kenangan sebagai reaksi ramuan yang masih bekerja. Harry maupun Hermione masih merasa keinginan kuat untuk berdekatan. Membuka tabir bahwa sesungguhnya mereka saling memiliki ketertarikan yang dipendam karena label persahabatan yang mereka miliki selama ini, dan—mereka mengalihkan diri dengan mencoba tertarik pada orang lain.

Harry mengembangkan minat pada Ginny, gadis yang memiliki sifat berbalikan dari sahabatnya. Ginny cantik dan pengertian, membuat Harry menemukan sesuatu yang baru dan tidak menyadari kenyamanan yang diberikan Hermione karena sahabatnya selalu tersedia tanpa sulit tergapai layaknya Ginny. Harry keliru membedakan minat dengan rasa suka. Namun, kesungguhan hati dipertanyakan saat perasaan tidak nyaman merasuki melihat Hermione terdiam menemukan Ron dan Lavender berpelukan. Harry tidak ingin Hermione berpaling darinya. Alasan logis kenapa dia tidak menyangkal ketika Slughorn melemparkan asumsi bahwa mereka saling tertarik.

Lalu—Hermione?

Jelas gadis itu lebih cerdas dari Harry. Dia yang tersadar tidak ingin membagi Harry dengan siapa pun saat mendengar Romilda bersemangat mengincar sahabatnya. Terlebih, kian yakin ketika tidak merasakan apa pun saat melihat Ron—orang yang setahunya dia taksir—berpelukan mesra dengan Lavender. Hatinya yang membohongi, mengambinghitamkan ramuan penyebab mati rasa. Karena itu, tidak butuh waktu lama menerima pendapat Slughorn. Hermione sudah jatuh pada kesimpulan, hasilnya akan tetap sama meskipun ramuan penawar telah mereka minum.

Ternyata hanya dibutuhkan dorongan ramuan untuk membuat mereka lebih jujur pada diri sendiri, dan—sepertinya dibuthkan waktu lama untuk pergi ke ruang makan mengingat mereka tidak menunjukkan tanda-tanda akan mengakhiri ciuman meskipun cuaca mendingin diikuti menggelapnya langit.

.

Potions

.

End


Oke, ini adalah ending