FALSE
NARUTO © MASASHI KISHIMOTO
FALSE © CHIZURU BOULEVARD
Genre: Drama/Romance/Hurt Comfort mungkin agak angst juga
Sepasang emerald mengedipkan kelopaknya pelan. Hanya seberkas cahaya matahari yang masih redup dan membawa sisa keheningan malam yang menerobos lalu menerangi sebagian sudut di kamar tempatnya berada. Sebagian benda dengan permukaan mengkilap berbalik memantulkan cahaya matahari ke sembarang arah sehingga tercipta bauran warna hijau temaram.
Sakura agak tersentak ketika jam beker di nakas di atas kepalanya berbunyi nyaring seolah meneriaki namanya dan memanggil kesadaranya untuk bangun. Dengan malas Sakura mematikan jam beker miliknya.
"Aku sudah bangun, dasar lamban." Ujarnya sembari terkekeh. Seharusnya Sakura juga menuruti kemauan jam beker miliknya untuk segera bangun dan melaksanakan rutinitasnya. Ah tapi hari ini Sakura tak ingin melakukanya dengan cepat, tentu saja karena ini hari Minggu. Dia tidak harus berangkat pagi-pagi sekali untuk menyiapkan ruangan Sasuke dan mengecek apakah ada tumpukan kertas yang tidak rapi, perabotan yang melenceng sekian milimeter dari tempat aslinya atau sekedar memastikan kalau tak ada debu yang menempel di permukaan mejanya.
Sakura memutuskan untuk menarik selimutnya menutupi dirinya lebih dalam sehingga dia bisa menikmati udara dingin minggu pagi yang malas bersamaan dengan kehangatan yang sudah dia kumpulkan di bawah selimut semalaman. Diam-diam dia berharap kemajuan teknologi akan menciptakan mesin pembuat kopi otomatis dan toast dengan selai coklat yang kemudian dihidangkan langsung ke hadapanya sehingga dia tidak perlu turun dari kasurnya. Tapi dia tau itu tak akan terjadi dalam waktu dekat ini.
Setelah puas memperpanjang durasi malas di pagi harinya, Sakura beranjak dari tempat tidurnya—dengan tekad secangkir kopi dan setangkup toast coklat—. Dia mendapati ruang tengah masih kosong, hal ini menandakan Ino masih belum bangun atau Ino sudah bangun pagi-pagi sekali untuk jogging. Ah benar, Sakura teringat. Hari ini adalah hari belanja. Itu berarti siang nanti dia dan Ino akan pergi ke supermarket dengan membawa pulang berkantung-kantung hasil belanja perlengkapan mandi dan lainya yang cukup untuk persediaan selama beberapa bulan dan makanan untuk beberapa hari.
Sakura mencuci muka dan menggosok giginya. Air dingin yang mengguyur wajahnya menaikan tingkat kesadaranya hingga penuh, membangunkan beberapa syarafnya yang masih tertidur. Pandanganya semakin jelas dan terfokus—dibandingkan beberapa detik lalu sebelum air dingin mengguyurnya—ketika dia menatap dirinya sendiri di cermin.
Setelah memastikan wajahnya sudah di basuh dan mulutnya segar karena pasta gigi mint, Sakura menandaskan segelas air putih, Sakura memanaskan air untuk membuat dua cangkir kopi dan menyiapkan roti.
"Pagi Sa-hu-ra." Ino muncul bersamaan dengan pintu kamarnya yang terbuka, matanya masih mengerjap berusaha menyesuaikan cahaya di sekelilingnya, rambut panjangnya terurai seperti singa—Sakura bertanya-tanya apakah Sai tau kalau ketika bangun tidur Ino kehilangan separuh kecantikanya dan menjadi singa jantan—. Dengan masih menguap Ino memanggil Sakura dan berakhir dengan gumaman. Hidungnya mengendus aroma kopi yang telah diseduh Sakura dan setangkup toast yang baru keluar dari panggangan. "Harum sekali." Katanya.
Sakura terkekeh geli mendengarnya. "Cuci muka sana. Lalu segera sarapan dan belanja. Kau ingat ini hari belanja?" tanya Sakura. Ino menjawabnya dengan anggukan dan menyingkir untuk membasuh wajahnya.
.
.
Sakura merapatkan hoodie hitam miliknya, dia menarik resleting yang tadinya tak terkait hingga menutupi sebagian tubuhnya. Kemudian dia menutupkan tudung ke kepalanya—Rambut pink sebahunya dikuncir kuda dan menyisakan helaian pendek yang tidak bisa terikat—. Sedangkan Ino tampil kasual dengan celana jeans yang dipadukan dengan blouse berwarna putih dan kalung yang sewarna dengan iris aquamarine miliknya. Ino selalu bilang Sakura seperti penguntit kalau dia menambahkan masker di wajahnya, dan Sakura yang tadinya berniat melakukanya mengurungkan niat.
Troli yang didorong Sakura sudah hampir penuh dengan banyak botol dengan warna yang saling bertabrakan. Sedangkan troli yang di bawa Ino berisi makanan. Akan tetapi kali ini mereka berbelanja makanan lebih dari biasanya karena malam ini Ino berencana merayakan kenaikan jabatan Sai. Dia akan membuat pesta BBQ kecil-kecilan diantara mereka. Shikamaru memberikan selamat dari Suna karena dia tidak bisa hadir di sini.
"Apa menurutmu daging ini cukup untuk nanti malam Sakura?" tanya Ino.
Sekura menimbang-nimbang, melihat beberapa daging yang dilapisi wrap di keranjang belanja Ino. "Kurasa tambah satu lagi. Lagipula kita hanya bertiga." Sakura memilih daging yang terlihat segar di sebelahnya dan memasukan ke keranjang belanja Ino. Kemudian pandangan Sakura beralih ke check list yang dipegangnya, melihat sebagian besar kebutuhan barang mereka sudah hampir semua tercentang, ini menandakan kalau sesi belanja siang ini hampir selesai.
"Hai." Sebuah suara berat terdengar dari balik punggung Sakura dibarengi dengan sebuah tepukan ringan.
Sontak Sakura memekik dan menjauh dari tempat dia berdiri lalu berbalik. Tanganya saling bertaut dan gemetar, karena suara seorang laki-laki yang tidak dikenal mengejutkanya. Seketika itu juga nafasnya hampir tidak beraturan dan sedikit tersendat. Lagi-lagi udara terasa terlalu pekat untuk dihirup. Sakura mendongak dan mendapati seseorang yang tampak sedikit familiar.
Pria itu memiliki iris hitam legam yang tampak mengantuk, rambut keperakanya tampak sedikit berantakan, bentuk wajahnya tegas dan dia memiliki bekas luka di mata kananya. Pria itu menggaruk kepalanya merasa sedikit aneh dengan reaksi Sakura yang langsung menjauh.
"Si..siapa..?" tanya Sakura terbata.
"Apa aku begitu mengejutkanmu?" tanya lelaki itu.
Sakura mengamati lelaki itu dengan pandangan waspada, dia menerka-nerka di mana dia melihat lelaki itu. Tapi benaknya tidak bisa mengingat dengan baik di mana dia pernah melihat sosok lelaki keperakan di hadapanya. Benaknya berkabut sementara dia sendiri tidak bisa mengendalikan dirinya untuk tidak gemetaran dan bernafas normal.
"Sakura!" Ino menyela kontak Sakura dengan lelaki keperakan itu. Ino terkejut saat mendengar Sakura memekik dan ketika dia berbalik dia mendapati Sakura sedang ketakutan melihat sosok yang sepertinya tidak Sakura kenal, karena bahkan Ino sendiri tidak pernah bertemu lelaki itu. Dia menutupi Sakura, berusaha memberikan ruang pada Sakura untuk bisa sedikit merasa aman. Kemudian Ino memberikan tatapan tak menyenangkan dan menyelidik pada lelaki perak di hadapanya. "Siapa kau?" tanya Ino.
"Aduh sepertinya aku mengagetkanmu ya? Maaf ya aku tidak bermaksud mengagetkanmu." Pria itu tersenyum. "Kau sekretaris Sasuke yang baru benarkan? Ingat beberapa hari yang lalu kita bertemu."
"Kau kenal dia Sakura?" tanya Ino.
Sakura mengerjapkan matanya dan berusaha mengingat-ingat lelaki di hadapanya. Lelaki itu mulai terasa tidak asing, tapi entah bagaimana dia terasa berbeda. Rambut keperakan yang mencuat ke atas dan bekas luka. Sakura teringat momen di mana Sasuke menemukan bekas luka pada pergelangan tanganya dan saat itu ada seseorang yang datang. Seseorang dengan masker dan rambut keperakan yang mencuat ke atas. "Kau..." Sakura berusaha mengingat-ingat nama yang pernah di dengarnya dari Suigetsu. "Anbu..Construction?" tanya Sakura tak yakin karena hanya nama perusahaan yang Sakura ingat setelah Sasuke meninggalkanya beberapa hari lalu.
Wajah lelaki itu sedikit berbinar. "Benar." Katanya. "Ah ya, kemarin aku pakai masker. Pantas saja kau tidak mengenaliku. Kakashi, panggil aku begitu saja. Anbu construction terlalu panjang bukan?" Kakashi terkekeh.
Ino mengendurkan penjagaanya dan bernafas lega. Ternyata laki-laki ini mengenal Sakura, atau setidaknya dia bukan lelaki yang benar-benar asing. "Maafkan aku, Kakashi-san." Kata Ino.
"Jangan dipikirkan, aku senang ternyata kalian berteman dengan sangat baik. Ngomong-ngomong aku belum tau namamu Nona, dan tentu saja teman baikmu." Kata kakashi. Nada bicara laki-laki bernama Kakashi itu cukup lembut dan menenangkan.
"Haruno..Sa..kura.." Kata Sakura denga sedikit terbata. Dia masih berusaha mengendalikan ketakutan yang tadi sempat mengambil alih kesadaranya. Pandanganya masih merunduk, dia belum berani meliha langsung sosok Kakashi di hadapanya.
"Perkenalkan aku Yamanaka Ino, sahabat Sakura sedari kami kecil. Anda sedang berbelanja untuk memasak makan malam?" tanya Ino.
"Iya, aku sekalian membeli makanan untuk anjingku di rumah."
Ino melirik keranjang belanjaan Kakashi dan menemukan lebih banyak makanan anjing kemasan besar daripada bahan makanan untuk di masak malam ini. Jadi lelaki di depanya adalah penyayang binatang.
"Ma..maaf saya tidak tau kalau anda Kakashi-san.." kata Sakura begitu dia bisa mengendalikan dirinya dan kembali mengingat kalau Kakashi adalah CEO Anbu Construction yang merupakan mitra penting dari Taka.
"Yah tidak perlu formal begitu. Ini kan sedang libur juga. Aku ingin menjadi biasa saja hari ini, Sakura." Kata Kakashi.
Sakura mencoba mengangguk dan tersenyum. Kakashi sedikit berbeda dengan sosoknya beberapa hari lalu, mungkin karena pengaruh masker yang menutupi wajahnya, Sakura jadi tak bisa menerka dengan baik seperti apa sosok lelaki misterius waktu itu. Tapi ketika dia membuka maskernya seperti ini, Kakashi tidak semengerikan itu.
"Kalau begitu aku akan pergi ke kasir dulu. Aku tidak ingin anjingku marah dan menggigitku karena lapar nanti. Sampai jumpa." Iris hitam it menghilang ketika Kakashi tersenyum dan digantikan dengan segaris lengkungan ramah.
"Sampai jumpa lagi." Jawab Sakura dan Ino bersamaan.
Kakashi berbalik dan perlahan meninggalkan kedua orang yang baru ditemuinya. Sejujurnya dia tidak menyangka bisa bertemu dengan gadis pink bernama Sakura dari ruangan Sasuke di sini, dia hampir tak memperhatikan sosok yang tertutup hoodie kalau beberapa helai rambutnya yang berwarna aneh mencuat. Saat itu dia menyadari kalau dia sedikit banyak mengenal atau mengetahui keberadaan gadis itu. Dan alasan Kakashi menyapanyapun, karena dia penasaran dengan perempuan itu. Mengingat dia melihat Sasuke menamparnya beberapa hari lalu. Kesalahan apa yang dia buat sampai Sasuke menamparnya seperti itu.
Akan tetapi bukanya mendapatkan petunjuk dia malah mendapatkan sesuatu yang mungkin tidak ada hubunganya dengan pertanyaanya sebelumnya.
Kakashi memindahkan satu demi satu barang belanjaanya dari troly ke meja kasir untuk membayarnya. Sesekali dia menoleh ke belakang ke arah Sakura dan Ino, dia sudah tidak menemukan mereka di sana.
Kakashi bukan orang yang bodoh untuk tidak mengerti situasi yang terlihat canggung tadi. Dia menyadari ada yang aneh dengan reaksi Sakura saat Kakashi menyapanya. Dia terlihat sangat terkejut, jauh lebih terkejut daripada apa yang biasa dia lihat, tubuhnya gemetar dan dia bisa mendengar nafas terengah dari bibir gadis itu. Saat itu dia tau ada sesuatu yang aneh. Dan dia merasa keanehan itu makin terasa ketika sahabatnya—Ino— bertindak sangat protektif dan melihat Kakashi sebagai seseorang yang harus diwaspadai. Dia tau betul Ino mengambil alih percakapanya dan memberikan waktu untuk Sakura bernafas dengan baik. Kakashi menyadari itu.
'kenapa dia ketakutan padaku sampai seperti itu? Apa yang dia takutkan?' pikir Kakashi.
"Yah tapi itu juga bukan urusanku. Dan tidak baik juga penasaran dengan orang lain." Kakashi menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
==oo0oo==
Sasuke membalik beberapa dokumen di hadapanya, memeriksanya dengan seksama sebelum dia memutuskan akan mengukirkan tanda tanganya pada salah satu bagian di belakang dokumen itu. Sasuke mengerutkan alisnya ketika huruf-huruf terlihat kabur. Dia memijat pelipisnya dan bertanya-tanya apa matanya terlalu lelah untuk membaca semua itu? Akhirnya dia memutuskan untuk mengistirahatkan sejenak tubuh dan matanya.
Sasuke menyandarkan tubuhnya pada kursi dan membuat dirinya merasa nyaman di sana, dia menutup berkas dan menatap langit-langit berwarna kelabu. Saat itu dia merasakan tenggorokanya sedikit gatal dan sekitarnya terasa nanar. Sasuke berganti melirik ke arah Sakura yang masih bergelut dengan perencanaan jadwal kerberangkatan Sasuke ke UK minggu depan selama seminggu. Sasuke menatap perempuan itu dalam diam, meski dengan segala kemarahan, meski dengan segala kekecewaan, meski lukanya seperti tak pernah sembuh, meski enggan mengakuinya, Sasuke tau sosok Sakura masih terlihat seperti musim semi.
"Hei. Buatkan aku teh chamomile hangat." Perintah Sasuke.
Sakura berdiri kemudian membungkuk ke arah Sasuke dan memberikan respon,"Baik Uchiha-sama." Lalu Sakura beranjak dari tempatnya berdiri dan menuju ke pantry kecil di balik bilik pemisah di ruangan Sasuke.
Sasuke mengekori pergerakan Sakura, mulai dari dia berdiri dan membungkuk ke arahnya, lalu berjalan dengan sedikit kikuk untuk melaksanakan perintahnya. Apakah Sakura selalu berjalan kikuk seperti itu? Di dalam fragmen ingatanya, langkah kaki perempuan itu terasa seperti kelopak bunga yang terbawa angin musim semi.
Uchiha-sama ya? Huh..
Sasuke mendengus. Nama itu terasa asing baginya. Tapi dia sendiri yang menginginkan itu, dia tidak ingin masa lalu yang menyakitkan itu kembali membawanya ketika perempuan jalang itu menyebutkan namanya. Bukankah seharusnya Sasuke baik-baik saja ketika semua kemarahan yang dia simpan, semua dendam yang ingin dia balaskan bisa terwujud? Tapi kenapa jantungnya berdenyut sakit ketika dia menemukan luka sayatan di pergelangan tangan kecil itu.
Kenapa dia merasa terluka?
"Cih, sialan." Sasuke mendecih juga mencemooh dirinya karena rasa lelah sepertinya telah melunakkanya. Tubuhnya terasa lelah, beberapa persendian dan ototnya terasa kaku dan malas untuk digerakkan
Suara derit pintu terbuka terdengar oleh telinga Sasuke, dia membuka mata dan mendapati Suigetsu berjalan ke arahnya.
"Uchiha-sama, sepuluh menit lagi kita harus berangkat untuk mengunjungi salah satu distrik di Iwa. Perjalanan akan memakan waktu kurang lebih 2 jam." Kata Suigetsu singkat.
"Hn, baiklah." Sasuke beranjak perlahan dari kursi yang entah kenapa terasa begitu nyaman hendak menyusul Suigetsu. Begitu dia berdiri rasa pening mendadak menyerang kepalanya. Dan semakin dia melangkah maju, dia merasa pengelihatanya berputar. Lalu seperti ada letusan bohlam, cahaya begitu menyilaukan dan perlahan semua menjadi gelap.
"SASUKE-SAMA!" Pekik Suigetsu. Suara bedebum di belakang Suigetsu membuat dirinya berbalik dan dia menemukan Sasuke sudah jatuh tak sadarkan diri di sana. Dengan sigap dia berbalik ke arah Sasuke. Sasuke terlihat pucat dengan semua keringat dingin di wajahnya. Suigetsu memeriksa suhu Sasuke dengan telapak tanganya di dahi Sasuke dan mendecih kesal ketika dia tau suhu Sasuke jauh lebih tinggi daripada biasanya.
"Ya Tuhan!" Sakura memekik. Dia baru saja akan membawakan teh Sasuke ketika dia melihat Sasuke ambruk dan segera meletakkan nampan berisi teh chamomile di atas meja Sasuke.
"Bantu aku Haruno, dia demam." Kata Suigetsu.
Suigetsu membopong bahu kanan Sasuke dan Sakura menyusul dengan menyangga bahu kiri Sasuke. Dia melingkarkan tangan Sasuke ke pundaknya dan menahanya agar tidak terjatuh. Saat itu Sakura bisa mencium aroma Sasuke dengan jelas, aroma selalu ada di dalam ingatanya, aroma air yang jernih juga menenangkan. 'masih sama seperti dulu.' Pikir Sakura.
Keduanya membawa Sasuke ke sofa yang cukup panjang di sudut ruangan dan membaringkan Sasuke di sana. Sakura memastikan suhu Sasuke dengan telapak tanganya. Wajah Sasuke terlihat tidak berdaya, nafasnya terengah dan Sakura yakin saat ini Sasuke merasa sangat tidak nyaman karena demamnya tinggi.
"Ah sial. Kurasa dia terlalu lelah." Desis Suigetsu. Dia tampak sedang memikirkan sesuatu sembari sesekali melirik ke arah Sasuke yang tak sadarkan diri di atas sofa. Kunjungan hari ini harus tetap di jalankan tapi Sasuke sedang tidak sadarkan diri. "Kau rawat dia ya. Kunjungan hari ini tidak bisa dibatalkan. Terpaksa aku harus memaksa Gaara untuk berangkat menggantikan Sasuke.
"Anu..apa tidak sebaiknya dibawa ke rumah sakit?" kata Sakura.
"Percuma, kalau kau membawanya ke sana kau hanya akan menerima kemarahanya ketika dia bangun nanti. Lagipula dia hanya kelelahan." Kata Suigetsu. "Waktunya semakin mepet. Aku pergi dulu."
.
.
(ps: bisa sambil denger ost naruto Guren theme atau Zutto Miteta)
Sasuke membuka matanya perlahan, seberkas cahaya yang menembus melalui jendela kamarnya terasa terlalu menyakitkan untuk indra penglihatanya. Butuh waktu beberapa menit untuk matanya agar terbiasa dengan cahaya di ruangan itu dan perlahan pandanganya menjadi jelas. Tapi entah kenapa kedua bola matanya begitu berat. Dalam pengelihatanya yang samar, sudut matanya menangkap sekelebat bayangan pink.
"Oh Sasuke-kun, kau sudah bangun." Kata suara perempuan itu.
Sasuke ingat suara ini. Entah bagaimana, dadanya berdesir. Setiap kata dan huruf yang diucapkan perempuan itu beresonansi dan membaur dalam desiran di dalam dadanya. Cahaya itu masih terlalu silau untuk melihat.
"Sakura..tirainya..tutup tirainya.." kata Sasuke.
Ah benar, Sakura. Entah bagaimana pula Sasuke mengatakan nama itu begitu saja, seolah memang sudah seharusnya seperti itu dan memang harus seperti itu. Nama untuk perempuan musim semi miliknya.
Seperti sebuah fragmen yang bergerak lambat, tirai itu tertutup perlahan. Warna musim semi itu terlihat jelas. Iris emerald yang bersinar jernih ketika sisa cahaya di balik gorden menyapunya, perlahan berbalik menghadapnya.
Sakura. Sasuke menyebut nama itu jauh di dalam hatinya.
Sakura...
Sakura..
Sakura..
Entah bagaimana dia merasa begitu merindukan nama itu dan menyebutnya berulang kali seolah nama itu akan lenyap suatu saat nanti bersama dengan segala yang ada pada dirinya, senyumnya, tatapan jernihnya, suaranya, gerakan indahnya yang seperti angin musim semi, juga keindahanya.
"Sakura.." Katanya.
Gadis itu tidak menjawab Sasuke, sebagai gantinya dia berjalan mendekat ke arah Sasuke lalu mengulurkan jemarinya. Perlahan jemari sejuk itu menyentuh kening Sasuke, dia ingat sentuhan ini. tangan itu sejuk juga hangat, Sasuke tidak tau bagaimana mendiskripsikanya karena sentuhan kecil itu seperti memberinya sebuah arti, dan dia merasa hangat karenanya.
"Kau demam." Sakura terkekeh geli. "Ternyata kau bisa demam." Tambahnya.
Sasuke masih memandang lekat ke arah perempuan di sampingnya. Perlahan jemarinya menarik jemari Sakura yang ada di dahinya, lalu menurunkanya ke wajahnya. Sekali lagi dia ingin memastikan kalau sentuhan itu benar-benar nyata. Meski hanya fragmen tapi dia ingin semua itu benar-benar menjadi nyata. Lalu ketika memikirkan itu Sasuke merasa sesak. Tiba-tiba saja dia merasa sesak ketika sebagian dari dirinya mengatakan kalau semua ini tidaklah nyata.
"Sasuke-kun..apa kau merasa sakit?" tanya Sakura.
"Ya.." Jawab Sasuke. Tanganya yang lain menyentuh titik di atas jantungnya. "Di sini..entah kenapa sakit sekali.." kata Sasuke lirih. Jantungnya berdenyut seperti ada rasa sakit yang menyeruak ketika Sakura menanyakanya. Bahkan hanya dengan mengatakanya, perlahan air mata yang muncul dari sudut matanya, mengaburkan pandanganya, mengaburkan perempuan di hadapanya. Sasuke tidak mengerti kenapa dirinya sesakit ini.
Sakura tersenyum. "Tidurlah. Aku akan menemanimu." Sakura merebahkan dirinya di samping Sasuke, lalu dengan perlahan jemari miliknya menghapus air mata yang telah tumpah sebagian di wajah Sasuke. Sasuke hanya diam dan terus melihat lekat ke arah Sakura. Dia ingin menyimpan dan mengingat setiap detil dari Sakura sekarang ini. Semuanya. Seperti kotak pandora yang dibuka, rindu di dalamnya keluar tanpa bisa di cegah, membuncah dan memenuhi dirinya.
"Aku merindukanmu Sakura.."
Dia sangat merindukan gadis itu. benar-benar merindukanya seolah dia akan memberikan apa saja untuk bisa terus berada di sana bersamanya.
Seperti lulaby yang di perdengarkan untuknya, mata Sasuke mulai terpejam. Bahkan hingga akhir, dia ingin menangkap setiap visi dari pengelihatanya, sampai kegelapan menggantikan wajah wanita yang sangat dia cintai.
Detik berikutnya, ketika lelapnya terasa telah terlalu lama, kedua kelopak matanya kembali terbuka. Dan Sasuke mendapati dirinya berdiri sendiri di sana. Di tengah keramaian yang berlalu-lalang dan mengepungnya. Ditengah warna-warna gelap yang silih berganti dari jaket tebal orang-orang di sekelilingnya, udara terasa pekat untuk dihirup. Dia merasa begitu kedinginan.
Sasuke ingat saat-saat ini.
Sesaat setelah Sakura tidak bisa ditemukan di manapun Sasuke mencarinya, di setiap sudut jalanan yang tertutup salju, di setiap inci pertokoan, di sepanjang visi yang bisa dilihatnya. Sakura telah pergi begitu jauh sampai dia tak mampu meraih apapun dari Sakura. Gadisnya telah pergi meninggalkanya. Tak peduli berlapis-lapis mantel yang digunakan, kebekuan di dalam dirinya tak bisa hilang.
Setelah mencari begitu lama dengan segala yang dia miliki, dengan sisa tenaga terakhirnya, dan rindu yang tak bisa dibendung hingga akhirnya dirinya terseok kehilangan arah. Rasa lelah menderanya. Dia terlalu lelah bahkan hanya untuk bangkit dan mendongak melihat pergantian musim, sampai pada suatu malam dia meraung memohon. Memohon sampai kata-kata dan suaranya tak tersisa. Dan tak ada yang mendengarnya.
Ketika tersadar, dirinya telah kehilangan segalanya. Dan perih di titik di atas jantungnya yang tak pernah mereda, menyisakan luka menganga yang begitu besar.
Lalu Sasuke kehilangan dirinya sendiri.
.
.
'Ah..tangan ini lagi..' pikir Sasuke. Perlahan dia membuka matanya. Tidak seperti sebelumnya, cahaya tampak redup di sekelilingnya. Di tengah cahaya temaram di sekitarnya, Sasuke menyadari jika dia masih berada di ruangan kerjanya. Matanya mengerjap perlahan. Lalu sekali lagi, jemari yang muncul di dalam mimpinya, menyibakkan helaian rambutnya di dahi dan kemudian dia merasakan handuk dingin menggantikan jemari itu.
Lalu sekali lagi Sasuke menangkap jemari itu, dia ingin memastikan jika semua ini nyata. Ada bagian di dalam dirinya yang berhadap kalau ini adalah kenyataan. Pemilik jemari itu terkejut dan ingin menarik diri dari Sasuke namun Sasuke tak mengizinkanya. Sasuke bangkit dan duduk, handuk yang diletakkan dengan hati-hati itu terjatuh di sampingnya.
"Ma..maaf Uchiha-sama..sa..saya akan pergi.." suara Sakura tergagap.
'Tidak, tidak seperti ini' pikir Sasuke. Suara Sakura sarat akan rasa takut, Sasuke tidak menginginkan ini. Dia tidak tau kenapa dia tidak menginginkan ini padahal seharusnya tidak seperti ini.
"Saya..akan pergi.." Sakura mengulangi ucapanya.
'Pergi?' sekali lagi, titik di atas jantung Sasuke berdenyut. Mimpinya terasa begitu nyata. Bagaimana mungkin Sakura ingin pergi meninggalkanya lagi. Kenapa Sakura lagi-lagi akan pergi meninggalkanya.
Sasuke mengencangkan genggaman tanganya dan dengan satu gerakan singkat menarik Sakura mendekat padanya, mendudukanya di atas pangkuanya dan mengurungnya dengan kedua lengan. Dia menatap lekat iris emerald di hadapanya. Dalam hati dia bertanya, kenapa iris emerald milik gadisnya tidak lagi jernih seperti fragmen ingatanya?
Apa yang terjadi pada mereka sampai-sampai Sasuke harus ditinggalkan seperti ini?
"Katakan padaku.." Kata Sasuke.
Sakura berusaha menguasai ketakutan dalam dirinya ketika tiba-tiba Sasuke menariknya dan memerangkapnya. Dia membayangkan Sasuke akan menjambak rambutnya lagi atau menamparnya. Tapi ketika dia mendongak, dia mendapati sepasang obsidian yang sangat dikenalnya menatap dalam ke dalam dirinya. Sakura terdiam dan berfikir kenapa harus sepasang obsidian itu yang menerima luka? Kenapa obsidian itu melihatnya dengan tatapan terluka seperti itu? seberapa dalam luka yang ada pada diri Sasuke?
"Sakura.." berbagai emosi meluap, ketika Sasuke menyebut nama Sakura dari bibirnya. Kebingungan dan terluka, juga ketidakberdayaan mengambil alih batin Sasuke.
"Katakan padaku.." pandangan Sasuke perlahan-lahan buram, tanpa bisa dicegah, air mata mengalir keluar dari sudut matanya, meninggalkan jejak di wajahnya.
"Kenapa kau meninggalkanku?" Sasuke merundukkan kepalanya. Dia merengkuh Sakura pada dirinya, menenggelamkan wajahnya pada pundak dan leher Sakura. Sasuke melingkarkan lenganya melingkupi Sakura, berusaha menghilangkan celah yang ada pada mereka, menyesap eksistensi yang begitu dirindukanya, mengingat kehangatan musim semi yang dulu pernah berdiam di hidupnya dan menjadi rumahnya.
Sakura diam tak bergerak. Tubuhnya kaku ketika melihat air mata Sasuke perlahan-lahan muncul, lalu kemudian Sasuke mendekapnya dan menangis di pundaknya. Apa yang bisa Sakura lakukan? Dia tidak bisa menjawab Sasuke. Tidak tau bagaimana menjawab pada Sasuke. Pundak Sasuke bergetar di hadapanya. Lalu apa yang bisa dia lakukan untuk menyembuhkan Sasuke sedangkan dia tak bisa menjawab apapun perkataan Sasuke.
Ketidakberdayaan yang lagi-lagi muncul dan menenggelamkanya terasa begitu menyakitkan. Meski sudah berusaha menahan air matanya untuk tidak jatuh, tetap saja air itu juga meninggalkan jejak pada wajahnya. Dia bahkan tidak pantas untuk memeluk balik Sasuke yang sedang ada di hadapanya. Bagaimana mungkin dia mengatakan semuanya pada Sasuke kalau dia kehilangan segalanya, bagaimana mungkin dia mengatakan pada Sasuke kalau Sakura tidak bisa lagi menghadapi Sasuke? Bagaimana mungkin Sakura mengatakan pada Sasuke dia pernah mencoba mengakhiri hidupnya sendiri? Bagaimana mungkin dia mengatakan pada Sasuke betapa memalukannya kehidupanya ketika dia memutuskan untuk meninggalkan Sasuke?
"Maafkan aku..aku tidak punya pilihan..aku tidak mampu memilihmu..." kata Sakura di sela isakannya. Benar, dia tidak mampu memilih Sasuke saat itu. Dia egois karena tidak bisa mengatakan semuanya pada Sasuke dan memilih dirinya sendiri.
"Jelaskan padaku.. kenapa kau tidak bisa memilihku?" kata Sasuke.
Sakura menggeleng pelan.
"Siapa yang kau pilih?" tanya Sasuke lagi. Dia mempererat dekapanya pada Sakura. Di dalam benaknya terbayang ketika Sakura bersama pemuda berkulit pucat dan saling tersenyum satu sama lain dengan agak canggung di loby beberapa waktu lalu. Dalam hati Sasuke bertanya apakah pemuda itu yang Sakura pilih? Sasuke masih tidak paham tentang pilihan yang dimaksud Sakura. "Katakan padaku.."kata Sasuke.
Detik itu dengan sekuat tenaga Sakura mendorong Sasuke menjauh dan melepaskan dirinya dari Sasuke. Dan dengan cepat dia berdiri menjauh untuk mencapai pintu keluar. Dia harus keluar dari sini sebelum Sasuke menuntut jawaban yang tak bisa Sakura berikan. Langkahnya hampir mencapai pintu ketika dia mendengar Sasuke berkata di belakangnya.
"Jangan pergi Sakura. Aku memberimu kesempatan terakhir. Jangan melangkahkan kakimu keluar dari sini atau aku tak akan berhenti untuk menyiksamu."
Langkah Sakura terhenti. Sasuke memberinya kesempatan. Sakura memeluk lenganya, berusaha mencari kehangatan Sasuke yang tertinggal pada dirinya. Dia begitu merindukan Sasuke. Dia ingin berbalik dan menghambur pada Sasuke. Dia benar-benar ingin..tapi sungguh..dia tak berhak untuk itu. Hidupnya sudah cukup memalukan.
"Tetap di sini. Lihat aku dan jawab aku. Maka aku akan berhenti menyiksamu. Kumohon Sakura, ini kesempatan terakhir dariku." Sasuke masih terduduk di sofa dan membelakangi Sakura. Dia tidak mengerti dan masih saja tidak mengerti karena Sakura menolak mengatakan apapun dan terus membiarkanya bertanya-tanya seperti ini.
"Maafkan aku Sasuke-kun." Jawab Sakura cepat. Dia mengambil satu nafas panjang untuk mengatakanya tanpa jeda. Lalu tanpa menunggu Sasuke menjawabnya Sakura melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu.
Sasuke masih terdiam, dia mendengarkan langkah terburu-buru Sakura yang makin menjauh dan menjauh. Sakura benar-benar pergi meninggalkanya, untuk seseorang lain yang dia pilih. Lagi-lagi Sakura meninggalkanya bahkan ketika Sasuke memohon untuk kesempatanya sendiri. Sasuke sadar, ketika dia berkata dia memberikan satu kesempatan terakhir pada Sakura, dalam dirinya dia sadar kalau dialah yang ingin mendapatkan kesempatan dari Sakura. Dan Sakura tak mendengarnya lalu pergi. Rasa sakit di dalam dirinya membuncah keluar.
"AAAAARRRGGGG!" teriak Sasuke frustasi.
Lalu sekali lagi, Sasuke meraung. Sasuke telah benar-benar kehilangan Sakura.
.
.
Sakura menatap refleksi dirinya di cermin. Matanya sudah tidak memperlihatkan sisa-sisa tangisanya semalam. Setidaknya dia bersyukur karena Ino sedang ada dinas ke luar kota sampai besok sehingga dia tidak perlu repot mencari alasan atau mencari kata-kata untuk menjawab pertanyaan Ino ketika melihat wajah menangisnya semalam.
Dalam pikirnya kembali terbayang Sasuke. Rasa sakit kembali menyeruak ketika bayangan iris obsidian yang di tatapnya begitu terluka, tubuh yang memeluknya gemetar, lengan yang merengkuhnya seolah tak ingin kehilangan juga pertanyaan yang Sakura tak mampu berikan jawabanya.
Sakura membuka laci mejanya dan mengambil kotak berwarna beludru. Perlahan dia membuka kotak beludru itu dan di dalamnya terlihat cincin berwarna goldrose. Cincin itu tidak memiliki permata akan tetapi dibentuk dengan elegan dan di lingkar bagian dalamnya terukir sebuah kalimat 'PLEDGE'. Dengan perlahan Sakura mengusap cincin yang pernah tersemat di jemarinya sebelum dua tahun lalu.
"Pledge?"kata Sakura sembari memicingkan matanya untuk membaca huruf yang terukir di balik cincin berwarna goldrose ditanganya.
"Artinya janji." Jawab Sasuke.
"Aku tau. Kukira kau begitu narsis dan menyematkan namamu sendiri di sana." Sakura terkekeh geli.
Sasuke mengambil cincin yang berada di telapak tangan Sakura lalu membalikan telapan tanganya dan meraih jari manis Sakura. Lalu dengan perlahan dia menyematkan cincin itu di sana. "Cantik kan?" kata Sasuke.
Wajah Sakura bersemu. Momen ketika Sasuke memasangkan cincin itu terasa begaikan akan berlangsung selamanya, otakknya begitu lambat untuk bisa memproses tindakan Sasuke dengan benar. Sakura tak bisa mengalihkan pandanganya dari Sasuke yang masih melihat cincin di jemarinya. Dia tau Sasuke itu lelaki tampan, tapi dia tidak pernah berfikir kalau Sasuke akan begitu menawan seperti saat ini.
"Sakura." Kata Sasuke. Sakura tersadar dari lamunanya dan kini Sasuke balik memandangnya dengan seulas senyum. Perlahan jemari Sasuke menelusup di balik kepala Sakura dan menariknya semakin mendekati dirinya. "Kau milikku." Kata Sasuke sebelum dia menyapu bibir Sakura dengan bibirnya.
Sakura menutup kotak beludru di tanganya lalu memasukkan kotak itu kembali ke laci. Lalu dia segera pergi meninggalkan kamarnya sebelum rasa bersalah itu kembali mengambil alih dirinya. Mau tak mau dia akan menghadapi Sasuke hari ini. Dia akan menghadapi Sasuke setelah semalam Sakura menolak kesempatan yang Sasuke berikan padanya.
Mereka tidak bisa kembali lagi seperti masa itu.
.
.
"Iya aku makan dengan teratur hari ini tenang saja." Sakura mengetuk-ngetukan jemarinya ke meja. Tangan lain miliknya sedang mengangkat ponsel, menjawab tlepon dari Ino. Tentu saja Sakura mendapatkan sederet pertanyaan tentang apa saja yang dia lakukan selama Ino pergi dan seperti biasa Sakura akan menjawabnya dengan baik agar Ino tidak khawatir. Sakura melewatkan bagian Sasuke yang pingsan dan kejadian setelahnya, karena tentu saja dia tidak ingin Ino khawatir. Ketika Ino tau Sakura bertemu dengan Sasuke saja dia merasa hal itu sudah cukup membebani Ino.
"Baiklah kututup agar aku bisa bersiap pulang ya." Kata Sakura. "Apa? Sai? Oh tidak, Ino. Aku bisa pulang sendiri, aku tidak bisa selamanya dijemput oleh Sai. Cemburulah sedikit Ino." Kata Sakura dengan nada sedikit sebal. Sakura tau Ino tak akan cemburu pada Sakura, karena Sakura masih belum siap untuk kembali menjalin hubungan atau setidaknya siap untuk menerima cinta dari lawan jenisnya.
Ino menutup ponselnya dan berkata dengan tegas kalau dia akan dijemput oleh Sai sampai setidaknya Sakura menemukan orang lain yang bisa diandalkan untuk menjaganya. Sakura tidak tau harus lega atau terbebani dengan kebaikan Ino. Ini adalah kali ke duanya bekerja lembur dan pulang di atas jam 10 malam. Sebelumnya dia pernah mencoba naik kendaraan umum dan jujur saja Sakura masih belum bisa mengendalikan rasa takutnya dengan baik. Berbagai hal melintas di dalam benaknya dan membuat kepanikan dalam dirinya bisa meledak kapan saja.
Sakura mematikan PC di mejanya dan segera membereskan barang-barangnya yang tergeletak di atas meja. Setelah memastikan tidak ada barang yang tertinggal Sakura beranjak dari tempatnya duduk. Sebelum keluar dari ruang kerjanya, Sakura melirik meja Sasuke. Hari ini Sasuke tidak berangkat karena kunjungan ke beberapa kota. Sakura bersyukur hari ini dia tidak langsung bertemu dengan Sasuke setelah semalam dia menolak kesempatan Sasuke begitu saja.
Setelah menunggu selama beberapa menit Sakura melihat mobil Sai berhenti di depan loby. Tak berselang lama pemuda berkulit pucat itu keluar dari mobilnya dan melambai ke arah Sakura. Dengan sebuah helaan nafas Sakura bangkit dan berjalan ke arah Sai.
"Maaf aku merepotkanmu lagi." Kata Sakura canggung.
"Tidak apa. Aku sekalian bertemu Ino kok, naik saja." Kata Sai.
"Kuharap Ino punya sedikit saja rasa cemburu padaku sehingga kau tidak harus terus-terusan mengantarku pulang." Kata Sakura.
"Apa aku harus bilang begitu pada Ino?" tanya Sai.
"Tidak, aku sudah mengatakanya langsung. Dan aku tidak ingin menambah omelannya padaku hari ini. Terima kasih, kau cukup mengantarku pulang saja lalu lanjutkan acaramu dengan Ino." Sakura terkekeh.
Sepasang obsidian melihat lampu mobil menjauh dari loby kantornya. Tanganya terkepal erat hingga keduanya gemetar. Rahangnya mengeras ketika dia melihat seorang pria berkulit pucat yang tak asing. Di dalam dirinya emosi bergejolak.
"Sasuke-sama? Kenapa anda meminta saya untuk berhenti?" tanya Suigetsu.
"Jalan saja." Jawab Sasuke.
'Lelaki itu..' Pikir Sasuke. Dia ingat betul lelaki yang pernah dia lihat di loby. Dan tak lama setelah pria itu melambaikan tanganya, sosok yang dikenalnya berlari kecil keluar dari loby. Sakura. Langkah gadis itu berbeda dengan langkah kikuk di hadapan Sasuke kemarin, dan senyum itu kembali muncul.
'Maaf aku tidak bisa memilihmu.'
Sasuke teringat perkataan Sakura kemarin. Dengan alasan itu Sakura menolak kesempatan yang dia berikan. Sakura menolak kesempatan yang Sasuke berikan demi seorang laki-laki lain. Amarah di dalam diri Sasuke kembali membuncah dan menggerogoti dirinya.
'Bagaimana ini Sasuke-kun. Sepertinya aku jatuh cinta padamu lagi.'
Entah kenapa dia teringat sebuah kalimat yang pernah diucapkan gadis yang dulu pernah menjadi rumahnya. Gadis itu tersenyum dengan wajah bersemu. Seperti cherry. Lagi-lagi titik itu sakit, perlahan rasa sakit itu menyebar melalui pembulu darah, mengambil alih dirinya. Perempuan itu tidak akan kembali tersenyum padanya.
Dia bersumpah akan menghapus senyum di wajah itu selamanya.
=oo0oo==
To be continoued~
Terima kasih kepada temen-temen yang sudah review, : )
Guest, Ioi, Fujiwaraa, Kimm, Shaula, Yukochamm, Sina, SASUSAKU14124869, Ime Ooshima, Guest, XXX, Nia334, Ires, Guqinch, Guest 3
Aaaaaaa terima kasih banyak sekali buat review di chap 3. Nggak nyangka cerita ini bisa diterima sama temen-temen :") terima kasih buat semangatnya, reviewnya tidak ada yang kepanjangan kok, sungguh aku benar-benar senang membacanya : )) sebenernya saya ga tega juga sama Sakura waktu ditampar sama Sasuke, aku ngetik sambil ngilu jugaaa :") aku yang ngetik juga ikutan baper he he semoga chap ini dan chap-chap berikutnya menjawab pertanyaan temen2 yaa :")
Btw ketika bikin chap 4 ini, terutama pas bagian Sasuke mimpi itu, rasanya juga ikutan baper, :') mungkin sekedar usulan sih, pas bagian Sasuke mimpi sampai Sakura menolak kesempatan dari Sasuke itu sambil dengerin ost nya naruto yang Guren theme atau Zutto Miteta, saya nulisnya sambil denger ost itu dan rasanya lebih ngena : )
Semoga temen-temen suka dengan chapter empat FALSE jangan lupa review kalau ada kritik dan saran tentang gaya kepenulisan saya : )
Sampai jumpa di chap 5 : )))
