HunjustforHan Present

.

.

Maincast :Oh SehunLu Han

Genre :Angst/Romance

Rate : T+ (Nyerempet M dikiit)

Note: Cerita milik saya. Cast beserta lainnya milik Tuhan. Jika ada kesamaan jalan cerita, mungkin hanya kebetulan semata.

Summary:"Kau membungkus kebohonganmu sendiri, Hun. Dan sialnya kau menjadikan kebohongan kecilku sebagai pembungkusnya. Hanya aku yang terlihat bersalah, tanpa kau sadari bahwa sebagian besar akar permasalahan ini kaulah yang menciptakannya sendiri".

Terimakasih bagi yang sudah berkenan membaca dan meninggalkan jejak. ^^

.

.

PAST FLOWER ! FUTURE FLOWER!

.

.

Chapter 4

Luhan membuka pintu kamar, mendapati siluet tubuh Sehun sedang berdiri tegak disamping dinding kaca yang menampakkan kerlipan cahaya kota Seoul dibawah sana.

"Sayang, kau sudah pulang ?" sapa Luhan lembut sambil meletakkan dua buah kotak kado dimeja rias. Sehun tidak menjawab, melainkan menoleh pada Luhan dengan tatapan datar dan tajam. Menusuk retina mata si rusa hingga mampu membuat bulu tengkuknya merinding.

Ada apa dengan Sehun ?

"Apa itu ?" tanya Sehun sambil melirik sekilas pada kotak kado yang tadi Luhan bawa.

"Oh, itu gaun yang Yixing berikan padaku dan Baekhyun eonnie untuk dipakai dihari pernikahannya. Kau tau, ternyata Baekhyun eonni dan Yixing adalah sahabat. Ya Tuhan, dunia benar-benar sempit". celoteh Luhan panjang lebar namun tidak direspon sama sekali oleh Sehun.

Kau menyusun cerita dengan sangat baik, Lu.

Melihat tubuh Sehun yang begitu tegap dan matanya yang begitu tajam, Luhan berusaha untuk melupakan apa yang mengganjal hatinya dari tadi siang.

Ia mencintai lelaki ini, sangat mencintainya. Luhan tidak mau kehilangan Sehun, maka dari itu ia tidak akan memberatkan beban pikiran Sehun hanya dengan semburat kecemburuan. Ia tidak mau Sehun meninggalkannya hanya karena merasa Luhan terlalu posesif dan tidak mengerti dengan profesi seorang artis.

Luhan mengerti Sehun, dan ia percaya pada lelaki tampan tersebut.

Dengan langkah kaki sedikit cepat, rusa mungil itu menghampiri Sehun lalu mengalungkan lengannya manja pada leher sang kekasih. Memberikan pancaran cinta lewat kornea mata yang begitu berbinar mempesona.

"Apa kau sudah makan ? Mau ku masakan makan malam ? Atau mau kusiapkan dua gelas anggur untuk kita ?"

"Tidak. Aku lelah".

Deg!

Perasaan Luhan kembali bergemuruh hebat mendapati Sehun melepaskan rengkuhan tangannya dengan dingin dan berlalu masuk kekamar mandi tanpa kerlingan mata hangat seperti biasanya.

Wanita itu terdiam kaku, seolah tidak percaya akan hal yang baru saja terjadi.

Ada apa dengan Sehun ?

.

.

Luhan masih memandangi punggung Sehun yang membelakanginya dalam cahaya temaram. Sekarang sudah pukul 1 malam namun Luhan masih belum bisa terpejam. Beberapa kali ia memutar tubuh demi mencari posisi yang nyaman tapi tidak berhasil untuk menculiknya ke dunia mimpi. Sikap Sehun seolah menjadi kafein penahan rasa kantuk.

Seperti saat ini, Luhan menimbulkan getaran di ranjang karena gerakannya yang terus mengubah posisi. Tubuhnya seakan tidak bisa diam dengan tenang hingga suara bentakan itu membuatnya terdiam kaku.

"Diamlah, Lu! Aku lelah ! Kau membuatku tidak bisa tidur karena terus bergerak!"

Wanita itu menelan ludah kasar. Rasa terkejut dan takut bergabung menjadi satu hingga menimbulkan denyutan sakit dihatinya.

Ia tidak pernah dibentak seperti ini oleh Sehun.

Dengan suara berdecih kesal, Sehun beranjak keluar dari kamar. Tidak perduli lagi dengan panggilan-panggilan kecil yang terlontar bergetar dari bibir si rusa.

Ia sama sekali tidak bisa tidur, matanya mungkin terpejam tapi pikiran saat mendapati Luhan berbohong dan bertemu dengan laki-laki lain sungguh merusak keinginannya untuk terlelap.

Perasaan lelah dan curiga bersatu hingga menjadi suatu gumpalan emosi terpendam dalam pikiran dan hati Sehun. Ia ingin menanyakan langsung hal tersebut pada Luhan, namun nampaknya sekarang bukanlah waktu yang tepat karena mungkin saja ia akan tersulut emosi ketika berkepala panas seperti ini.

.

.

Pukul 2 malam. Sehun terbaring disofa dengan mata terpejam namun alam mimpi masih belum menyapanya sedari tadi. Lalu ia mendengar suara pintu kamar yang dibuka perlahan dan diikuti dengan suara langkah kecil yang samar-samar.

Tak berapa lama yang ia rasakan adalah sebuah selimut membungkus tubuhnya dari hawa dingin. Usapan halus dipuncak kepala, kecupan singkat dikening dan diakhiri dengan bisikan "Semoga mimpi indah, Sayang" keluar dengan nada suara sehalus sutra.

Langkah itu kembali menjauh dan menghilang setelah suara pintu tertutup dengan begitu lambat.

Sehun membuka mata. Sungguh, perasaannya sedang kalut sekarang. Rasa lelah seolah tidak mampu bersaing dengan rasa gundah yang sedang menggerogoti hatinya sedikit demi sedikit.

Mendapati fakta bahwa kau melihat kekasihmu berada diluar dengan seorang lelaki tengah bercenda gurau dan terlihat sangat bahagia hingga lupa dengan malam yang sudah menunjukkan pukul larut membuat Sehun benar-benar gelisah.

Ditambah dengan kebohongan kecil yang Luhan ucapkan tadi telah berhasil menyulut bara api yang terus menjalar hingga rasanya sulit untuk dipadamkan.

Kenapa Luhan harus berbohong jika tidak ada hubungan apa-apa antara dirinya dan pria itu ?

.

.

Pagi terasa lebih mencekam dengan kondisi dimana semua bunga yang hampir layu mendingin karena suasana. Wajah Sehun nampak gelap dari biasanya karena jujur saja ia sama sekali tidak bisa tidur akibat memikirkan apa kemungkinan yang terjadi antara Luhan dan Pria didalam cafe tersebut.

Tidak jauh berbeda dari Luhan yang terlihat tidak fokus memasak karena perasaan takut yang menggeluti hatinya. Takut jika sikap Sehun semalam berlanjut. Dan lebih takut lagi jika semua itu disebabkan karena wanita cantik dari masa lalu sang kekasih hingga Sehun mungkin mulai berpikir untuk menjauh dan pada akhir yang terburuk adalah meninggalkannya.

Tidak! Luhan tidak ingin membayangkan hal tersebut. Apakah ia sanggup hidup tanpa Sehun disisinya ?

Mendapati Sehun baru keluar dari kamar dengan rambut yang terlihat sedikit berantakan Luhan berjalan mendekat dengan senyum mengembang setelah menyelesaikan tatanan menu makan pagi di atas meja makan.

"Hun-ah .. Ayo sarapan.."

Sehun mengenakan jas hitam pekat miliknya, membalut kemeja putih bersih didalam dan sama sekali tidak berniat melihat wajah Luhan dengan senyuman manis. Ia sendiri bingung bagaimana perasaannya menjadi kacau balau dan berkecamuk penuh rasa tidak suka saat memikirkan kemungkinan Luhan memiliki hubungan lain dengan pria diluar sana.

Ia tidak suka Luhan berbohong. Walaupun mungkin ini untuk yang pertama namun Sehun takut bahwa ini akan menjadi awal Luhan memulai kebohongan-kebohongan seterusnya. Atau mungkin sudah ada kebohongan lain sebelum ini ?

"Hun-ah .."

"Aku telat. Makanlah sendiri"

"Hun .."

Dentuman pintu menjadi akhir suara panggilan Luhan pagi itu. Gelisah terus menggerayangi hatinya karena beribu pertanyaan datang dan terus menerus memaksa ia untuk berpikiran buruk penuh curiga.

Kenapa Sehun seperti ini ?

Kenapa Sehun terlihat berubah setelah bertemu dengan wanita itu ?

Luhan meremas jemari gundah ketika terlintas pikiran bahwa mungkin saja Sehun mulai bosan dengan dirinya yang begini-begini saja. Atau Sehun mulai jengah dengan hubungan mereka yang sudah berjalan tiga tahun. Lantas apa yang harus ia lakukan ?

.

.

Dua hari berlalu dan Sehun masih dengan sikap sedingin es di kutub utara, membekukan aliran nadi Luhan hingga rasanya ia bisa mati seketika. Luhan tidak suka seperti ini, sungguh!

Ia tidak suka mendapati Sehun semakin pulang larut dan berangkat sangat pagi tanpa pernah duduk untuk sarapan terlebih dahulu. Hari-hari terasa lebih membosankan dari pada menonton drama yang telah ditayangkan berulang-ulang.

Tidak ada lagi senyuman, pelukan ataupun ciuman hangat yang dulu selalu ia dapatkan ketika lelaki itu pulang ke apartement. Beberapa kali Luhan coba bertanya alasannya maka Sehun akan menghindar dengan mengatakan ia sangat lelah dan butuh istirahat.

Belaian-belaian yang dahulu menjadi penawar lelah bagi mereka kini terasa seperti sesuatu yang langka. Sentuhan-sentuhan Sehun yang menjadi penyedap rasa dalam hubungan mereka terasa hambar tanpa rasa sedikitpun.

Sehun berubah. Hanya itu yang dapat ia simpulkan dari apa yang dapat Luhan tangkap mengenai sikap Sehun belakangan.

Demi Tuhan ! ia bisa mati secara perlahan jika terus mendapatkan sikap seperti ini dari pemegang kunci hidupnya.

Maka dengan sisa keberanian dan sedikit alasan, Luhan berniat pergi ke lokasi shooting sang kekasih. Baekhyun ada disana dan gaun hadiah dari Yixing sedang ia pegang, seolah menjadi penolong yang sangat pas untuk berkunjung tanpa mengundang kecurigaan orang-orang akan siapa sosok Luhan.

Membetulkan ikatan tali dipinggang minidress putih polosnya, Luhan duduk di depan meja rias lalu menelpon seseorang.

-Yeoboseyo-

"Eonnie-ah .."

-Ne, wae Hannie ?-

"Eonnie jigeum eodiga ?"

-Tentu saja dilokasi shooting. Kau pikir dimana lagi ? Ada apa ?-

Luhan meremas jemari gugup, takut kalau Baekhyun tidak setuju akan idenya.

"A.. aku .. bolehkah aku kesana ? Gaun milik eonni dari Yixing ada bersamaku. Aku ingin memberikannya".

Sejenak Baekhyun terdiam dan selama waktu itu Luhan tidak mampu untuk menarik napas.

"Eonnie.. Kalau tidak bo..."

-Datanglah. Kurasa alasanmu cukup baik untuk datang kemari..-

Terdengar kekehan dari Baekhyun dan Luhan tau bahwa tujuan utamanya datang kesana telah diketahui terlebih dulu oleh wanita mungil nan manis tersebut. Hal itu membuat Luhan tersenyum malu namun dalam tarikan napas lega.

.

.

"Eonnie.. Aku sudah berada diluar.."

-Lihat kesampinng kanan. Aku disini-.

Luhan menoleh, mendapati Baekhyun sedang melambaikan tangan penuh keceriaan. Sedikit berlari wanita itu menghampiri Luhan dan memeluknya sebentar.

"Ayo masuk.." ajak Baekhyun dan Luhan hanya menurut ketika tangannya digaet dan langkahnya diseret masuk kedalam gedung. Perasaan berdebar begitu membuat nyali menciut.

Bagaimana jika ada orang yang kenal dirinya dan merasa curiga ?

Astaga!

Kau bukan artis Lu! Sadarlah!

.

.

"Ini.." Baekhyun menyodorkan satu cup cappucino pada Luhan setelah menyuruh wanita itu menunggu sebentar.

"Gomawo eonnie .." balas si rusa. Mereka duduk berhadapan dikursi sebuah ruangan.

Luhan tidak tau ruangan apa ini, namun terlihat banyak peralatan yang tergeletak disudut-sudut ruangan dengan berbagai ukuran dan bentuk yang asing dalam penglihatannya.

"Antingmu bagus,Lu.."

"eoh ? Benarkah ?"

Baekhyun memangguk antusias. Mood wanita ini terlihat sangat baik.

"Terlihat sangat manis dan cocok untukmu".

"Apa eonnie mau ?".

"Tidak! Tidak!". Sergap Baekhyun cepat mendapati Luhan sudah bersiap melepas anting kepala rusa dengan permata biru tersebut. Dari awal pertama bertemu Baekhyun sudah merasakan bahwa Luhan adalah wanita yang sangat dermawan. Bahkan terlalu dermawan.

"Aku hanya mengaguminya Lu, bukan berarti aku ingin memilikinya. Kau ini, apa setiap orang memuji barang milikmu kau akan memberikan barang tersebut ?". delik Baekhyun berpura-pura kesal.

Luhan terkekeh geli, "Jika eonnie adalah orang tersebut maka aku akan memberikan segalanya".

"Termasuk dia (Sehun) ?"

"Pengecualian untuk dia. Jika eonnie menginginkannya maka aku pastikan kita tidak akan menjadi sahabat lagi!"

Keduanya tertawa renyah seolah menyadari bahwa apa yang mereka bicarakan hanyalah hal konyol dan tidak berarti apapun.

"Dimana gaunku".

"Oh!. Mian eonnie, aku hampir lupa" seakan baru sadar Luhan mengambil sebuah paperbag disamping kaki kanannya dan memberikannya pada Baekhyun.

"Gwancanha.. Yixing memberikan ini padamu ?"

"Tidak. Chen yang memberikannya".

"Chen ?"

Luhan mengangguk.

"Iya. Chen, anak pemilik butik".

"Oohh, lelaki yang waktu itu berbicara denganmu ? Kalian terlihat akrab".

"Ne.. Dia temanku sewaktu Senior High School".

"Benarkah ?"

Hanya anggukan dan senyum manis Luhan rasa sudah cukup sebagai jawaban. Lalu nampak mata Baekhyun berpijar jahil, mendekatkan diri kemudian berbisik.

"Kau mau bertemu dengan Sehun ?"

"Bolehkah ?"

Baekhyun menarik diri, memencarkan pandangan disekitar lalu berhenti pada sebuah objek dan memanggilnya. Seorang wanita dengan tubuh tidak lebih kecil dari Baekhyun dengan sebuah gantungan setelan pakaian pria datang karena merasa terpanggil.

"Ini kostum untuk Oh Sehun ?"

"Ne, manager Baek.."

"Biarkan aku yang mengantarkannya.."

"Oh, ne .. Gomawo manager Baek.."

"Ne.."

Terjadi perpindahan tangan antara wanita yang Luhan yakini sebagai salah satu crew drama disana dengan Baekhyun. Selepas itu wanita tersebut pun berlalu.

"Ini .."

Lagi-lagi Luhan mengernyit mendapati Baekhyun kembali menyodorkan sesuatu padanya, dan kali ini setelan pria yang ia dengar milik Oh Sehun, sang kekasih.

Belum sempat ia menjawab, Baekhyun sudah meletakkan setelan pakaian itu kedalam genggaman Luhan kemudian berbisik, " Dia diruang make up. Ada diujung sebelah kanan".

Mata Luhan mengikuti arah telunjuk lentik Baekhyun lalu mendapati sebuah ruangan berdaun pintu coklat tua dengan tulisan 'Make Up room'.

Dia disana!.

Baekhyun memang penuh ide cemerlang. Pantas saja ia selalu diandalkan Sehun dalam segala masalah.

.

.

Lelaki dengan wajah tampan mendominasi tersebut terlihat gusar. Beberapa kali ia menggigit ujung kuku lalu berpindah mengetukkan jari pelan diatas meja kayu yang penuh dengan peralatan make up.

Kerutan didahi dan alis yang seolah ingin menyatu menandakan bahwa banyak pikiran bercabang-cabang sedang mencoba mengorek isi otak.

Ponsel Luhan.

Ya, ponsel wanita yang telah hidup serumah dengannya dua tahun terakhir. Sehun mengecek ponsel (dengan gambar wallpaper dirinya tengah mencium lembut wanita tersebut dibawah selimut) lalu mendapati Luhan berbalas pesan dengan seorang pria.

'Chen'

Begitulah nama yang terbaca. Tidak ada yang istimewa, hanya saja yang membuat Sehun dilalap api cemburu entah berasal darimana adalah selama ini wanitanya itu jarang sekali berhubungan dengan laki-laki lain. tentu saja karena Luhan sudah berhenti bekerja, dan si cantik tersebut tidak terlalu banyak memiliki teman pria.

Namun melihat ada nama laki-laki lain di kotak masuk Luhan membuat matanya panas, semakin mendalamkan rasa curiga yang menyelubungi hatinya sejak beberapa hari terakhir. Ditambah dengan pesan "Selamat Tidur" dari Chen seolah menjadi bahan bakar emosi Sehun untuk berselancar.

Oleh karena hal tersebut perasaan dan pikirannya menjadi berkecamuk. Antara rasa percaya dan curiga sangat samar untuk dibedakan dan terlalu tipis untuk dipisahkan.

Clek!

"Hun-ah .. Mau coffe ?"

Seolah baru kembali kedunia nyata, Sehun menoleh kebelakang dan mendapati Seulgi dengan minidress merah sedang memegang dua cup coffee berlambang nama sebuah cafe terkenal yang berada tidak jauh dari lokasi shooting.

Senyum wanita itu merekah sempurna, terlihat cantik dengan porsi wajah tanpa cacat. Dari dulu ia sudah mengagumi bagaimana wajah wanita ini diciptakan hingga menjadi begitu indah.

"Boleh..".

"Apa yang sedang kau pikirkan ?".

Seulgi mendaratkan cup coffe yang ia bawa ke meja depan Sehun lalu beranjak duduk ke kursi sebelah. Melipat kaki hingga setengah paha putihnya terekspos begitu saja.

Sehun mengendikkan bahu, "Hanya menghapal beberapa dialog" dustanya.

Seulgi mengangguk santai, lalu beberapa detik kemudian senyumnya kembali mengembang.

"Hun-ah .. Kemarin aku membeli gelang couple untuk kita"

"Jincha ?" berusaha tersenyum namun intonasi suara yang lemah dapat mengartikan bahwa sekarang Sehun tidak dalam keadaan bersemangat.

Seulgi memangguk mantap, memperlihatkan sesuatu yang entah sejak kapan ia genggam. Tanpa meminta persetujuan terlebih dahulu, wanita itu memasangkan gelang pemberiannya pada Sehun dan tersenyum manis, mengangkat tangan sebelah kanan demi memperlihatkan pasangan gelang yang sedang melingkar manis dipergelangan tangannya.

Sehun ikut tersenyum sangat tipis, memperhatikan gelang tersebut sekali lagi dan sedikit mengernyit mendapati ada ukiran disana.

"O.S ?"

Seulgi mengangguk (lagi), "Dulu kau pernah memberikanku sebuah kalung couple berinisial O.S kan ?. Apa kau masih menyimpannya ?"

"eum.." gumam Sehun terdengar ragu.

"O.S. Oh Seulgi. Waktu Senior High School kau selalu memanggilku dengan Oh Seulgi karena kau bilang bahwa aku akan menjadi istrimu suatu saat nanti. Kau ingatkan ?"

Sejenak Sehun terdiam, memori tentang bagaimana mereka menghabiskan waktu berdua dan berapa banyak kata cinta yang telah ia ucapkan pada wanita ini dulu seolah mengingatkan Sehun bahwa apa yang dikatakan Seulgi memang benar apa adanya.

Kisah cinta mereka benar-benar indah dan suram untuk dikenang dalam waktu bersamaan.

Dalam lamunan tentang masa lalu, Sehun terkesiap mendapati kini Seulgi telah berada dalam pangkuannya. Lengan wanita itu mengalung pas dileher dan wajah mereka saling berhadapan dalam jarak begitu dekat hingga deru napas saja bisa bertukar dalam sekejab.

"Hun-ah .."

"Heum?"

"Saranghae .."

Belum sempat lelaki itu menjawab, bibir Sehun sudah tertutup oleh sapuan bibir merah semerah darah milik Seulgi. Sehun terkesiap, namun melihat Seulgi seolah menikmati ciumannya maka ia juga ikut hanyut dalam permainan.

Membalas ciuman itu hingga menjadi lumatan dan berakhir dengan pagutan panas. Tangan kekar mulai menjalar hingga mampu membuat rambut rapi Seulgi berantakan dalam sekejap.

Keduanya seolah buta akan perasaan masing-masing, buta akan dunia tentang apa yang telah mereka perbuat, buta akan resiko yang akan mereka hadapi, buta akan langit yang bisa mengintip dimana saja, dan buta bahwa telah menyakiti seseorang dengan tubuh bergetar dibalik daun pintu coklat tua disana.

.

.

Hujan menghantam langit malam kota Seoul. Cukup lebat, terlihat dari butir-butir air yang menghantam dinding kaca disamping Luhan dengan begitu keras.

Jalanan menjadi sepi dengan pejalan kaki, hanya ada mobil yang berlalu lalu lalang dengan lincah karena jalanan begitu lenggang.

Dua cangkir cappucino hangat yang telah mendingin dan dua cup bubble tea yang telah mencair setia berada dihadapan Luhan tanpa tersentuh sedikitpun.

Dari jam dua siang ia berada disini, memesan beberapa minuman tanpa niat untuk meminumnya. Seolah cairan kental dan manis disana hanya menjadi penghibur dan alasan agar ia bisa lebih berlama duduk serta merenung didalam cafe.

Mata sembab, wajah berantakan serta aliran air mata yang telah mengering dipipi seolah membuktikan bahwa Luhan tidak baik-baik saja. Ia memang tidak peduli pada orang-orang yang memberikan tatapan aneh ataupun iba, bahkan pelayan di cafe tersebut sempat memberikan Luhan beberapa tissu ketika ia menangis tersedu-sedu.

Musim semi akan segera berakhir, dan Luhan merasa seolah-olah musim gugur akan menghampirinya pada tahun ini. Musim gugur dihati.

Tidak pernah terbayangkan bahwa tiga tahun kebahagiaan yang ia rasa akan memburam dalam waktu sesingkat ini. Angin musim semi yang seharum kelopak mawar ikut serta membawa butir-butir masa lalu kembali, tidak luput pula dari duri-duri halus tajam dan terselubung.

Entahlah, sekarang yang Luhan rasa adalah ia terluka dengan rasa cintanya yang terlalu besar untuk Sehun.

Melihat bagaimana kekasihmu membicarakan hal berbau cinta dengan seseorang yang penting dimasa lalunya tidakkah menguras perih tersembunyi ?

Itu yang Luhan rasakan.

Seharusnya ia tidak berada disana tadi siang, seharusnya ia tidak mengharapkan sesuatu yang bahagia. Seharusnya ia tidak sedang menangis sekarang jika saja apa yang ia lihat diruangan itu tidak terjadi.

Kalau saja Luhan bertahan dirumah dan tidak keluar kemana pun hari ini mungkin saja ia akan baik-baik saja. Iya, mungkin akan lebih baik-baik saja jika Luhan tidak tau kenyataan ini.

Masih tergambar jelas dalam ingatannya bagaimana sang kekasih dan wanita itu berpagutan liar nan mesra dengan aura cinta yang menyakitkan. Lutut Luhan bergetar hingga langkah yang tadi kokoh tersebut perlahan goyah dan hampir tumbang.

Bagaimana Sehun bisa melakukan semua ini setelah Luhan mencoba berusaha sebaik mungkin untuk mengubur rasa curiga dan cemburu yang perlahan menggerogoti tubuh?

Air mata menetes kembali. Luhan tidak berniat sama sekali menyeka aliran deras dipipinya seolah semua tangisan tersebut bisa membawa seluruh luka yang ia pendam bersamaan dengan tetes-tetes hujan diluar sana.

"Lu.."

Merasa terpanggil, Luhan mendongak, masih dengan aliran anak sungai dipipinya. Chen disana, memakai sweater hitam pekat dan syal abu-abu. Berdiri sedikit merunduk dan terlihat terkesiap mendapati kondisi Luhan yang jauh dari kata baik-baik saja.

"Lu .. gwaencanha ?.."

Tidak Chen! Bagaimana bisa seseorang yang sedang menangis menyedihkan seperti ini akan baik-baik saja ?

"Hey.. ada apa ?"

Isakan Luhan terdengar kembali seiring Chen yang duduk disisinya, menangkup kedua pipi tirus tersebut dan melihat airmata si rusa mengalir semakin deras. Ia tidak tau apa yang telah terjadi, tapi yang ia inginkan adalah merubah tangisan itu menjadi sebuah senyuman.

Juga karena naluri seorang lelaki, tanpa diperintah Chen seolah tau apa yang dibutuhkan Luhan saat ini.

Pelukan.

Ya, dari beberapa pengetahuan yang ia dapatkan tentang wanita adalah pelukan bisa menambah tangisan juga meredakannya kemudian. Maka dari itu Chen merengkuh tubuh rapuh yang bergetar dihadapannya, merasakan bahu Luhan bergetar hebat dengan napas tersengal-sengal. Namun cukup lama setelahnya yang ia dapati adalah napas Luhan kembali teratur, pertanda bahwa pelukan memang benar untuk meredakan tangisan diakhir.

Tapi mengapa disetiap cerita selalu terjadi hal yang tidak diinginkan pembaca ?

Karena SIALNYA! Mobil hitam itu melintas disaat bersamaan. Mengundang emosi memuncak karena kesalahpahaman juga waktu yang tidak tepat.

Mengapa Sehun harus melintas disaat Luhan dan Chen berada diposisi seperti ini ?

Seharusnya Sehun turun dan menghampiri mereka berdua sehingga ia dapat mencerna apa yang benar-benar sedang terjadi, bagaimana keadaan Luhan dan apa yang sedang mengalir dimata si seharusnya ia segera menginjak pedal gas mobil dan lari dari pintu yang mungkin bisa membawanya menemukan kebenaran didalam sana.

Demi Tuhan Sehun, Luhan sedang terluka! Dan itu semua karenamu!

.

.

Apartement masih gelap padahal sekarang sudah menunjukkan pukul 12 malam. Tidak ada lampu yang hidup menandakan bahwa belum ada orang yang masuk.

'Sehun pasti belum pulang' gumam Luhan tertahan karena pada kenyataannya sekarang ia tau alasan kenapa lelaki itu akan selalu pulang terlambat. Mengingat hal tersebut kembali mengungkit luka yang telah ia coba tutupi.

Hujan telah reda namun hawa dingin seolah telah bersahabat sepanjang malam.

Setelah kembali dari kamar mandi Luhan bergegas menuju ranjang. Tubuh, pikiran serta hatinya lelah hari ini. Ia ingin beristirahat dan berharap bahwa semua yang terjadi hanyalah mimpi belaka.

Namun ada sesuatu yang berbeda. Ranjang yang ia tempati terasa lebih besar, lebih dingin, dan lebih sepi.

Ini gila!

Luhan tau mendapati Sehun tidak berada disebelahnya bukanlah hal langka. Bukankah dulu ia telah terbiasa dengan keadaan seperti sekarang. Namun kekosongan yang ia dapati kini tidaklah berarti jika saja Sehun tidak sedang menghabiskan sisa waktu (yang seharusnya untuk Luhan) bersama wanita lain diluar sana.

Diantara gejolak yang terjadi, Luhan berperang melawan pikiran dan nalurinya sendiri.

Bagaimana ia mengatakan hal tersebut pada Sehun ?

Bagaimana cara ia mengungkapkan bahwa ia sangat mencintai Sehun dan tidak mau kehilangannya ?

Bagaimana jika ia bersikap kasar dan mengeluarkan semua emosi terpendam maka Sehun akan semakin murka lalu berniat pergi meninggalkannya sendiri ?

Sanggupkah Luhan ?

Entahlah, separuh dalam diri wanita ini telah berkata tidak sanggup diawal bahkan sebelum ia mencoba untuk jujur akan perasaan tidak sukanya akan sosok wanita dari masa lalu sang kekasih.

Lalu apa yang harus Luhan lakukan ?

Tetap berpura-pura tidak tau akan pengkhianatan Sehun ?

Ataupun berpura-pura tidak peduli demi mempertahankan lelaki tersebut tetap berada disampingnnya dan perlahan-lahan mati karena tercekik cintamu sendiri ?

Luhan tidak tau! Sungguh!

.

.

Pagi menjadi tidak bercahaya dan bahkan matahari terlihat tidak bersinar. Apakah bias hujan semalam masih berimbas pada pagi ini ? atau hanya aura apartement Luhan dan Sehun saja yang terasa begitu layu ?

Luhan meremas jemari gusar. Kenapa pagi diakhir hari-hari musim semi terasa begitu menyeramkan ? mengetahui jika kau tidur sendiri sepanjang malam dan kekosongan menyambut pagi yang seharusnya cerah bukanlah sesuatu yang bagus.

Semakin sulit saat mendapati duduk seorang diri menikmati sarapan dengan menu seadanya. Segelas susu dan roti panggang mungkin cukup untuk mengganjal perut. Karena jujur saja, nafsu makan Luhan telah tersesat sejak kemarin siang.

Kembali ia lirik ponsel yang tergeletak dimeja, tidak tau sudah berapa puluh kali panggilan yang telah ia luncurkan sejak semalam. Namun pagi ini bahkan nomor Sehun tidak dapat untuk dihubungi.

Dimana Sehun ?

Apa ia sudah bangun dan mendapatkan sarapan ?

Ia baik-baik saja bukan ?

Dimana ia tidur semalam ?

Tolong jangan bunuh Luhan dengan mengatakan bahwa mungkin saja sang kekasih menghabiskan malam berdua dengan wanita tersebut. Oh, sungguh!

.

.

Tidak ada yang lebih menyedihkan selain membuka setiap lembaran foto dengan wajah penuh aura kebahagiaan sedangkan pada kenyataannya semua senyuman itu mungkin saja akan segera menghilang.

Setidaknya dalam foto-foto tersebut masih tergambar jelas bagaimana kencan pertama mereka, bagaimana ciuman pertama mereka, dan bagaimana malam pertama Luhan melepaskan keperawanannya dibawah selimut hangat milik Oh Sehun.

Semua terasa benar jika bersama Sehun. Ia tidak pernah sedekat ini pada laki-laki dewasa, ia tidak pernah sepercaya ini pada makhluk adam selain Sehun, Luhan sangat percaya pada perasaannya pada laki-laki itu.

Kepercayaan yang membawanya menyerahkan segala hal kepada Sehun tanpa tersisa.

Tidak pernah terbayangkan bahwa hidup Luhan kini terasa begitu sulit karena Sehun. pada dasarnya lelaki itu adalah kebahagiaan Luhan, dan ia menapatkan kebahagiaan dari setiap apa yang Sehun lakukan.

Tapi sekarang, apa ia merasa bahagia ?

Untuk kesekian kali Luhan melirik jam didinding kamar. Sudah pukul 11 malam dan Sehun terlihat belum ingin kembali.

Menutup album foto bahagia mereka dan meletakkan dimeja nakas, Luhan mematikan lampu kamar hingga hanya tersisa bias-bias temaram dari lampu tidur. Membetulkan letak selimut demi mengharapkan sedikit kenyamanan agar hari melelahkan ini cepat berlalu dan kehilangan arah untuk kembali.

Baru saja mata itu terpejam,

Clek!

Suara pintu terbuka. Luhan menoleh lalu mendapati wajah datar nan tampan berdiri disana. Terlihat sangat berantakan dan penuh aura gelap.

"Hun-ah .." Secepat rasa rindunya secepat itu pula langkah Luhan menghampiri Sehun. mata laki-laki itu memerah dan aroma alkohol menguar keras, menusuk indra penciuman Luhan dengan tajam.

"Hun-ah.. Kau mabuk ?"

Belum sempat jemari Luhan menyentuh lengan kokoh sang kekasih, Sehun telah membungkam bibirnya dengan kasar, mendorong tubuh Luhan membentur tembok dengan cukup keras hingga menimbulkan ringisan yang teredam karena lumatan dibibir.

Sehun menyerang tanpa peringatan dan sangat kasar, tidak ada kelembutan seperti biasa. Luhan tidak suka!

Maka dari itu sekuat tenaga yang ia punya Luhan berusaha mendorong bahu sitampan agar menjauh dan memberikan ia sedikit ruang untuk bernapas.

"Hun-ah! Geuman! Mpptt".

Sehun tidak memberi kesempatan, menyerang dengan serangan lebih kasar dari sebelumnya. Namun Luhan juga terus berusaha melawan, ia tidak suka diperlakukan seperti wanita murahan seperti ini.

"Semmpptt hunmmpptt! Kau Mammpptt bukhh!"

Tatapan mata yang beradu mungkin saja bisa memancarkan api. Kekangan lengan Sehun dikedua pundak Luhan yang biasanya terasa begitu pas kini seolah menjadi jeruji besi.

Tidak tau harus mengucapkan dan melakukan apa diantara napas yang saling terengah, Luhan memejamkan mata sejenak demi membuang semua gumpalan kesal dalam kepalanya.

"Hun-ah.. Ireojima .."

"Wae?!"

"Kau mabuk.."

"Apa salahnya jika aku mabuk ?"

Menghela napas lemah, Luhan melepaskan diri dari kekangan Sehun. sungguh ia lelah hari ini, bahkan sangat lelah.

Tidakkah Sehun berpikir sedikit saja tentang bagaimana ia menahan segala gejolak amarah yang bisa saja menghanguskan tubuhnya seketika ?

Tidak taukah Sehun jika ingatan tentang bagaimana lelaki itu berpagutan mesra dengan mantan kekasihnya bisa saja membunuh Luhan saat ini juga ?

"Aku tidak suka disetubuhi oleh lelaki mabuk. Karena saat kesadaranmu hilang, maka kau akan memperlakukanku seperti wanita murahan".

Sejenak mereka saling terdiam, sampai pada akhirnya decihan geli keluar dari bibir tipis sitampan. Berkacak pinggang seolah tidak bisa percaya akan apa yang baru saja wanita dihadapannya ucapkan.

Entah karena efek beberapa gelas alkohol yang telah ia minum, ataupun karena memang suasana hati yang tidak mendukung, emosi Sehun seolah tersulut tanpa tau alasan. Dengan tiba-tiba ia kembali mendorong tubuh Luhan dengan kasar hingga wanita tersebut jatuh diatas ranjang.

Menindih tubuh mungil Luhan, mencari bibir yang dalam ketidaksadaran sangat ia rindukan, menjilat leher yang tanpa sepengetahuan telah menjadi vitamin untuknya, lalu merasa lebih marah mendapati sang kekasih melawan dan menolak segala sentuhan yang coba ia berikan.

Tanpa dapat ia mengerti, semakin Luhan menolak maka semakin kuat Sehun memaksakan kehendak hingga gaun tidur yang sedang Luhan pakai dirobek keji.

Menarik bra hitam milik sicantik dengan tidak berperasaan lalu mengulum payudaranya dengan begitu ganas. Tidak puas, tangan kokoh itu beralih meremas vagina Luhan seperti sebuah mainan yang sangat menggairahkan. Namun Luhan sama sekali tidak teransang seperti biasa, karena ia sadar bahwa lelaki yang sedang berbuat tidak senonoh padanya sekarang bukanlah Sehun.

Tubuh Sehun sedang dikuasai iblis nafsu yang menjijikkan.

Merasa dirinya tidak pantas untuk diperlakukan serendah ini maka sebuah tamparan keras ia layangkan pada pipi kekasihnya yang tampan sampai lelaki itu terdiam dengan mata nyalang.

Tidak ada sebuah titik pun tersirat sebagai bentuk penyesalan, sorot mata Sehun semakin berubah menjadi segumpal amarah terpendam dengan warna merah menyala.

Apa yang telah terjadi pada hubungan mereka ?

Nampak jelas jika lelaki tersebut telah kehilangan kontrol pada dirinya sendiri. Beranjak bangkit dengan gerakan sedikit sempoyongan, Sehun mulai melangkah. Mengumpat kecil, tidak jelas. Namun ada kalimat yang masih mampu Luhan cerna dan ia menyesal mengapa harus mendengar kalimat tersebut keluar langsung dari mulut lelaki yang ia cintai setengah mati ini.

"Percuma saja aku memiliki kekasih jika tidak bisa disetubuhi. Kau membuatku berpikir untuk tidur diranjang wanita lain".

Tak lama terdengar dentuman pintu, lalu semua ketegangan berubah menjadi hening tak bersuara. Hanya airmata yang sanggup menjelaskan bagaimana semua keadaan benar-benar menjadi sulit dan menyiksa.

Hanya seperti inikah Luhan dianggap ?

Kekasih yang dimiliki hanya untuk disetubuhi ?

Lantas apa arti semua kata dan bentuk cinta yang Sehun ungkapkan selama ini ?

Apa hanya sebatas kata-kata semata ?

.

.

Semua harum kelopak bunga yang gugur kini benar-benar memuakkan. Luhan tidak tau kenapa bisa ia membenci musim yang paling ia tunggu setiap tahun. Musim gugur memang akan segera datang, namun setidaknya ia masih berdiri dideretan tanggal akhir musim semi sekarang.

Angin malam ini nampaknya juga lebih dingin dan tidak bersahabat, namun Luhan bahkan tidak berniat untuk beranjak dari balkon kamar yang menjadi dunia kecilnya bersama Sehun.

Ia ingat bahwa dulu disini hanya akan diisi dengan tawa serta kemesraan penuh cinta. Tidak pernah terpikir sebelumnya bahwa malam ini ia akan menangis hebat sendirian dengan gaun yang sobek memalukan.

Hati Luhan hancur. Perasaannya berkata bahwa ia tidak lagi sanggup, tapi memikirkan berapa panjang waktu yang telah ia habiskan bersama Sehun membuat Luhan kembali berpikir untuk tetap tinggal ataukah menyerah saja.

Membayangkan bahwa sekarang mungkin Sehun benar-benar menghabiskan malam dibawah selimut wanita lain membuatnya benar-benar remuk redam. Bisakah ia menarik Sehun dari ranjang Seulgi ? Bisakah ia merebut posisi Seulgi dihati Sehun ?

Perlahan keyakinan dan kepercayaan yang ia pupuk selama ini layu tanpa bisa ditahan.

Seakan ia sekarang berada diantara dua anggapan jika terus memaksa bertahan seperti ini, Wanita Tulus atau hanya sekedar Wanita Bodoh!.

Tubuh Luhan merosot beriringan dengan airmata yang kembali mengalir deras. Kekasihnya kini mungkin sedang berbagi kehangatan dengan wanita lain sedangkan tubuhnya kini dibalut dingin hingga membekukan aliran darah.

.

.

Menyadari fakta bahwa ia menyambut pagi dibawah selimut dan terpaan sinar matahari dikamar asing, membuat sekelebat hati Sehun bergemuruh tentang apa yang telah ia lakukan. Namun mendapati sebuah senyuman manis seperti bunga melati disampingnya seolah membutakan Sehun akan sosok yang bahkan tidak tidur semalam demi menunggu dirinya pulang.

Sehun tidak tau alasan kenapa ia berada disini (lagi), menikmati malam bersama wanita yang berasal dari zona masa lalu, lalu berbagi senyum kebahagiaan saat pagi datang.

Ini adalah hal yang selalu ia bayangkan terjadi sejak dulu, melihat Seulgi tidur dalam dekapan dan bangun dalam pandangannya membuat Sehun lupa ada seseorang yang seharusnya ia jaga. Seseorang yang sedang mencoba memperbaiki keping-keping hati yang merekah.

Tapi melihat dan mengingat bagaimana Luhan berpelukan dengan lelaki lain membuat Sehun seolah merasa tidak lagi terlalu berdosa melakukan hal ini. Mungkin juga Luhan telah menghabiskan waktu bersama Chen saat ia sedang tidak berada dirumah. Mungkin saja bukan ?

.

.

Waktu berdetik begitu lambat dengan gema terdengar jelas. Ini sudah hari kedua dan Sehun sama sekali tidak datang membuka pintu kamar mereka lalu memeluk Luhan seperti dulu. Semua rasa perlahan menghambar.

Merasa ia benar-benar seperi manusia bodoh, mendapatkan mata sembab dengan lingkaran hitam disekelilingnya demi menunggu lelaki itu pulang. Tapi untuk segala penantian bodohnya Luhan menerima hadiah berupa potongan-potongan kemesraan Sehun dengan wanita tersebut.

Sekarang ia tidak bisa berpikir bahwa semua akan tetap menjadi baik-baik saja, ada sesuatu yang salah. Ia tidak bisa terus bertahan hanya berlandaskan kepercayaan dengan fakta bahwa telah jelas Sehun ingkar atas janji saling setia mereka.

Sehun menancapkan anak panah tepat ditengah jantung Luhan yang berdetak, memecah pusat kehidupannya hingga yang kini ia rasakan hanyalah sesak tanpa berpenghujung.

Sinar jingga yang menembus dinding kaca apartement mereka seolah menyiratkan seharusnya ia sekarang sedang tersenyum menyusuri taman bunga diakhir musim semi dengan langkah-langkah kecil dan minidress cantik.

Kembali ia berpikir lagi bahwa mungkin saja hubungan mereka dapat diperbaiki. Walaupun tidak seperti awal cerita, tapi setidaknya biarkan Luhan berusaha mendapatkan cinta dari Sehun sebagaimana kisah mereka sebelumnya. Biarkan Luhan berjuang untuk ikatan mereka sebelum menemukan kata untuk menyerah.

Disela langit jingga yang mulai menggelap, suara pintu terbuka lalu disusul dengan langkah tegap. Luhan terkesiap, berdiri tegak dan mendapati Sehun melangkah masuk dengan pakaian berbeda dari apa yang terakhir lelaki tersebut kenakan.

Akankah ini menjadi arti bahwa Sehun mungkin telah berpikir untuk kembali ? Bisakah kedatangan Sehun menjadi harapan bahwa mungkin saja masalah mereka akan segera selesai dengan kepala dingin.

"Hun-ah .." dengan senyuman bergetar Luhan mengejar langkah Sehun menuju kamar mereka. Bahkan setengah jiwa Luhan berteriak ingin merengkuh tubuh proporsional milik Sehun.

Ini tidak masuk akal!

Bahkan ia masih merindukan tubuh lelaki yang telah merobek seluruh lukanya tanpa berperasaan.

.

.

Mungkinkah masih bisa dipertahankan?. Salahkah Luhan perlahan mulai ragu akan pendiriannya ?.

Tanpa sepatah kata pun Sehun berlalu kekamar mandi, meninggalkan Luhan yang mengejarnya dengan senyum dipaksakan seperti orang bodoh.

Kenapa menunggu lelaki itu keluar dari ruangan yang penuh akan suara gemersik air tersebut bisa sangat mendebarkan seperti ini ? Luhan bahkan telah memegang sebuah piyama kembar kesayangannya, berpikir bahwa Sehun pasti telah kembali secara utuh.

15 menit terasa sangat mencekik, sampai suara pintu dibuka lalu menampakkan tubuh Sehun yang terlihat sangat segar. Tidak ada yang berubah selain tatapan mata yang semakin menggelap.

"Hun-ah .. Ini ..". tidakkah sepantasnya Luhan mendapatkan sebuah pelukan seperti biasa, namun kenapa kali ini yang ia dapatkan hanyalah lirikan malas.

"Kau pikir aku akan pergi dengan piyama memalukan seperti itu ?" Sehun beranjak menuju lemari pakaian dengan Luhan yang masih mengekor.

"Kau mau kemana lagi ? Pergi dengan siapa ? Apa menghabiskan waktu yang lama ? Kau baru saja pulang, Hun".

"Apa pedulimu ?"

"Tentu saja aku peduli! Aku kekasihmu, Hun!"

Tidak pernah kekehan Sehun terdengar menyebalkan seperti ini. Tak lama laki-laki itu berbalik dengan kemeja yang masih belum dikancingkan. Menatap Luhan dengan tatapan geli serta meremehkan.

"Kau tidak pernah bertanya seperti ini sebelumnya".

"Karena dulu aku percaya padamu"

"Lalu apa artinya sekarang kau tidak lagi percaya padaku ?"

"Buk.. Bukan begitu-"

"Jika kau benar kekasihku maka kau akan selalu percaya padaku! Kau tidak akan takut kehilanganku jika kau benar-benar setia!"

"A..apa maksudmu ?"

Sehun berdecih kesal, sejenak ia membuang pandangan kearah lain lalu kembali menatap Luhan dengan bola mata memerah.

"Berbohong saat bersama dengan lelaki lain lalu berpelukan mesra ditengah cafe saat hari hujan. Apa kau takut aku akan melakukan hal tersebut ? Apa kau takut aku juga akan melakukan hal yang sama dengan wanita lain ?!"

"Hun .. dia .. "

"JANGAN MENGUMBAR ALASAN! AKU MELIHATMU DENGAN MATA KEPALAKU SENDIRI!"Napas Sehun terengah menahan emosi, mata Luhan diselimuti genangan kesedihan. Mereka tidak berada dalam posisi yang baik satu sama lain.

"Lalu kau pikir apa yang membuatku bertahan disisimu selama ini ? Kau pikir menemani seseorang yang selalu menghilang sepertimu bukanlah sesuatu yang sulit ? Semua melelahkan, Hun.."

"Jika lelah kenapa kau tidak menyerah ?!"

"Demi Tuhan, Hun! Aku selalu berusaha mempertahankan hubungan kita agar baik-baik saja! Aku tidak ingin menyalahkanmu karena mungkin saja semua dasar retaknya hubungan kita juga karena kesalahanku".

"Bagus jika kau sadar!"

Beberapa kali menarik napas, Luhan mencoba untuk mengontrol hatinya sendiri agar tidak meledak dan mengkandaskan segala usaha untuk mempertahankan hubungan mereka. Dengan sedikit keberanian, Luhan meraih jemari Sehun lalu menggenggamnya bergetar.

"Ku mohon, malam ini saja.. tidak bisakah kita duduk berdua dan membicarakan semuanya secara baik-baik ? Aku kesepian, Hun .. ku mohon..".

"Kau kesepian ? Tidakkah selama aku pergi ada laki-laki lain yang menemanimu diranjang ?"

"SEHUN!"

PLAK!

Luhan tidak bisa lagi mengontrol emosinya, Luhan sudah dilalap emosi. Bukan ia yang berkhianat disini, tapi sang penghianat dengan tidak tau malu melemparkan semua kesalahan padanya.

Sehun memegang pipinya yang memanas, kembali terkekeh geli mendapati ia ditampar karena ucapan yang ia anggap benar.

Tidak memperdulikan kekakuan Luhan, lelaki itu lanjut memakai pakaian dengan sangat cepat. Berniat meninggalkan kamar tersebut namun jemari mungil yang sering ia kecup menahan pergelangan tangannya terlebih dahulu.

Dingin.

Genggaman Luhan sangat dingin.

"Aku hanya mengatakannya satu kali, dan tidak akan ada pengulangan". Menarik napas, Luhan melanjutkan, "Aku tau kemana tujuanmu pergi. Sebagai wanita, ini merusak harga diriku sebagai kekasihmu. Maka dari itu, ku mohon jangan pergi. Karena jika kau pergi, aku juga akan menyusulmu untuk pergi".

Lahi-lagi Sehun terdiam, mencoba mencerna makna dari kata-kata yang baru saja Luhan lontarkan. 'Jika kau pergi, aku juga akan menyusulmu untuk pergi'. Apa berarti Luhan akan mengikutinya bertemu dengan Seulgi ?

Oh, baguslah! Karena memang benar, malam ini Sehun memiliki janji makan malam berdua bersama dengan Seulgi. Jika Luhan melihat mereka berdua maka mungkin saja Luhan akan sadar akan penghianatannya sendiri.

Begitulah pikiran egois seorang lelaki milik Oh Sehun. tidak pernahkan terpikir olehnya bahwa apa yang sedang ia lakukan adalah apa yang sebenarnya disebut dengan penghianatan.

Namun seolah lupa, Sehun sama sekali tidak merasa bersalah, tetap menganggap bahwa Luhan adalah orang yang berhianat dalam hubungan ini.

Luhan tidak pernah berhubungan dengan laki-laki lain hingga saat ia berkomunikasi lebih dengan Chen menciptakan atmosfer berbeda dalam pandangan Sehun. Terlalu asing untuk dianggap sebagai sesuatu yang biasa ketika mendapati Luhan berpelukan dengan Chen.

Dalam ingatan tentang malam hujan waktu itu, tiba-tiba kembali menyulut emosi Sehun yang sempat mereda. Dengan setan yang berbisik ditelinganya, ia lupa akan kata hati lalu melepaskan genggaman erat Luhan tanpa sepatah katapun. Melangkah tanpa berniat berbalik demi melihat Luhan yang ambruk dilantai.

Ini terlalu menyesakkan hingga Luhan harus memukul dada keras demi menghirup oksigen yang terasa sangat menyempit.

Sehun lebih memilih wanita tersebut daripada dirinya. Itu adalah fakta yang harus Luhan terima sekarang.

Mungkin Sehun benar, jika ia memang lelah, kenapa ia tidak menyerah saja ?

.

.

.

To Be Continue

Yo yo yo Chapter 4 update! Maafkan aku telat update nya yak.. sumpah lagi sibuk sama something2 wkwkwkwk dijamin next Chapt agak Fast.. Thank You yang udah Follow Fav dan Review... Jangan Lupa Spam HunjustforHan di FB nya buat update itu BLACK PIANO... Kapan dia Update T_T Oke oke oke... SALAM SEMPAK HUNHAN!