Chapter 4 – Our Memories Like Disease
^^xoxoxoxonctxoxoxoxonctxoxoxoxonctxoxoxoxonctxoxoxoxonctxoxoxoxonctxoxoxoxonctxo
Tangan Marcia bergetar kuat. Perasaan menyesakkan ini kembali lagi. Terlalu sesak hingga napasnya seakan habis. Gambaran kecelakaan itu memenuhi kepalanya hingga mampu hampir memecahkannya. Ia meringkuk di sudut ranjang malam ini.
" Kau penyebab kecelakaan Taeyong ", ujar seorang laki-laki dewasa di ujung ruangan lainnya.
" Diam ".
" Kau pembunuh ".
" Aku bukan pembunuh Taeyong-oppa ".
" Lalu kenapa Taeyong meninggal ? "
Deg. Detakan jantung Marcia seakan berhenti. Matanya membelalak dan bergerak ke sembarang arah.
Prang. Marcia melempar vas bunga yang dapat ia jangkau ke arah laki-laki berjas dokter itu. Bunyi pecahan vas itu memenuhi ruangan yang sayangnya bisa disetting menjadi kedap suara dan tidak.
" Kenapa pembunuh ? Kau takut akan kenyataan kau membunuh Taeyong ? " ujar laki-laki itu sambil memberikan smirknya.
" Aku bukan pembunuh ", teriak Marcia.
" Lalu kenapa Jaejoong-ssi tak pernah terlihat ? Kenapa kedua kakakmu tak pernah membawamu pergi dari sini ? Karena kau pembunuh ".
" Diam ".
Grep. Laki-laki itu menangkap tangan Marcia yang akan meninjunya. Kekehan menakutkan terdengar di telinga Marcia. Ia berusaha melawan dan menendang ke sembarang arah namun tak bisa menggoyahkan posisi laki-laki itu.
Laki-laki itu mendekat dan mengecup pipi Marcia yang mulai dituruni oleh air mata.
" Menyerahlah ".
" Pergi ".
" Kubilang menyerahlah. Kau akan keluar dari sini jika menyerah ".
" Tidak. Tidak untuk yang selama ini kau dan Suho-ssi lakukan pada keluargaku ".
Kekehan itu kembali terdengar.
" Aku bisa menghancurkanmu seperti malam itu ".
Marcia berteriak ketakutan. Memori pelecehan seksual yang ia alami menyeruak dan membuat dirinya bergetar ketakutan.
Napasnya makin lama makin terdengar menakutkan. Lelaki itu memutuskan pergi saat Marcia mengalami kondisi kehilangan kesadarannya. Ya, ia pelakunya. Ia melenggang keluar dari kamar rawat Marcia. Tanpa siapapun sadari, sebuah sosok tak kasat mata mendekati ranjang Marcia dan berbaring di samping Marcia. Ia memeluk erat sosok gadis yang mengalami penderitaan berat itu.
" Maafkan aku. Maafkan aku ".
" Taeyong-oppa ", ujar Marcia lirih dalam kondisi tak sadarnya.
" Aku di sini. Aku di sini. Maafkan aku ", ujar sosok itu sambil memeluk Marcia lebih erat lagi.
^^xoxoxoxonctxoxoxoxonctxoxoxoxonctxoxoxoxonctxoxoxoxonctxoxoxoxonctxoxoxoxonctxo
Flashback
Tawa pecah dengan begitu keras. Kedua remaja yang sama-sama menjadi reporter sejak lama itu saling berkejaran tanpa tahu para pengunjung taman ikut tersenyum melihat keduanya. Hup. Taeyong menarik tubuh Marcia hingga bersentuhan dengan tubuhnya.
" Oppa ", pekik Marcia saat Taeyong mengelitikinya.
Taeyong terkekeh pelan dan meletakkan kepalanya di bahu Marcia meski akhirnya menggeser tubuhnya ke arah samping Marcia. Ia mengalungkan tangannya ke arah bahu Marcia sambil menjaga gadis kesayangannya itu. Senyuman Marcia mengembang melihat seorang lelaki tua menjual beberapa buah bunga mawar yang cantik.
" Can i buy some flowers ? " ujar Taeyong yang mengagetkan Marcia.
" Of course, young man. How many ? "
" Ah, i think all of them. Do you think these flower will fit with this young girl ? " ujar Taeyong.
" Of course. Beautiful flower always fit with beautiful young princess ", kata lelaki tua itu.
Marcia tersipu malu saat Taeyong memberikan sebuket besar bunga mawar itu. Lelaki tua itu memujinya dan memberikan sebuah kalung dengan tangan tuanya pada Marcia.
" You will have difficult time in future but young lady, you will overcome it ", ujar lelaki tua itu.
" Thanks for your advice. I will overcome anything with him. Goodbye grandpa and stay health ", kata Marcia sambil menggandeng Taeyong.
Lelaki tua itu memandang keduanya dengan tatapan sendu seakan dapat membaca takdir. Angin akhir musim semi berhembus cukup kencang hingga membuat Marcia sedikit menggigil. Dengan sigap, Taeyong menyampirkan syalnya dan merapatkan tubuhnya dengan Marcia.
Marcia selalu dapat tersenyum karena perhatian kecil Taeyong. Keduanya tetap berjalan sambil bergenggaman tangan. Sebuah kolam berukuran lumayan besar membuat keduanya berhenti dan memandangi kolam itu.
" Hari ini adalah hari itu ", gumam Marcia.
" Bersandarlah ".
Marcia menyandarkan kepalanya pada bahu Taeyong. Wajahnya menyendu.
" Jangan menangis lagi. Mereka takkan suka jika kau menangis lagi. Jessica-ahjumma, Donghae-ahjusshi akan membenci tangisanmu ".
" Aku selalu ingat hari itu ".
" Kita selalu punya memori. Entah itu menyenangkan atau menyedihkan namun memori itu yang membentuk kita ".
" Atau menghancurkan kita. Taeyong-oppa, jangan pernah pergi dariku. Aku tidak tahu harus bergantung pada siapa ".
Taeyong mengelus lembut rambut Marcia.
" Kau bisa bergantung pada yang lain ".
" Aku tidak bisa ".
" Kenapa ? "
" Meski aku memiliki Kris-oppa dan Krystal-unnie, aku tidak bisa menggantungkan diriku pada mereka. Aku tidak bisa membuat mereka khawatir akan kondisiku. Aku tidak bisa menangis di depan mereka. Biarlah aku menjadi maknae mereka yang selalu tersenyum. Setidaknya aku bisa percaya padamu ".
Taeyong memeluk Marcia erat. Ia selalu ingin berada di samping Marcia seperti saat ini. Memeluk gadis yang rapuh ini dan menguatkannya. Terbang bersamanya hingga sayapnya tak lagi bisa dikepakkan. Melihat indahnya dunia dan menua bersama.
" Aku akan selalu melindungimu bahkan saat kau tidak menginginkannya ".
Marcia tersenyum. Ia memejamkan matanya dan membiarkan angin musim semi membelai wajahnya. Ia ingin diam sejenak dan menikmati keheningan ini. Taeyong tersenyum dan membelai pelan rambut Marcia yang mulai memajang. Ia ingin merekam semua keindahan wajah Marcia meski ia dapat melihatnya setiap hari. Ia ingin mengingat semuanya bahkan setelah kematiannya nanti.
^^xoxoxoxonctxoxoxoxonctxoxoxoxonctxoxoxoxonctxoxoxoxonctxoxoxoxonctxoxoxoxonctxo
" Jungkook ".
Panggilan kecil itu membuat pemuda berusia berusia 24 tahun itu menoleh. Ia menemukan sahabatnya semasa high school itu mendekatinya.
" Ya Tuhan, Jaehyun, apa kabar ? Aku sudah lama tidak melihatmu ".
Pemuda itu yang dipanggil Jaehyun itu tersenyum kalem.
" Aku baru saja kembali dari bisnis di Amerika. Maaf belum mengabarimu ".
" Aigoo, tentu saja. Ada apa kau kemari ? "
" Bisa kita berbicara di ruanganmu ? "
Sikap Jaehyun itu memancing rasa ingin tahu Jungkook hingga ia mengiyakan saja permintaan sahabatnya itu.
Mereka melewati beberapa ruangan sebelum akhirnya tiba di ruangan kerja Jungkook. Jungkook mempersilahkan Jaehyun duduk di sofa sambil mengambil dua kaleng kopi instan. Sejujurnya ia tahu Jaehyun lebih suka kopi buatan barista dibandingkan kopi instan kalengan yang ia berikan.
" Kau mau berbicara ? " tanya Jungkook setelah Jaehyun meminum kopinya.
Ia mendengar helaan halus dari bibir Jaehyun.
" Aku belum menemui gadis itu. Bayangkan kami sudah menikah namun aku belum mengetahui istriku, Jungkook-ah ".
Ok, Jungkook mengerti sikap frustasi Jaehyun. Bayangkan kau menikah dengan seorang perempuan yang bahkan tak hadir di hari pernikahanmu dan kini dirimu sama sekali tidak tahu rupa istrimu.
Jungkook menepuk pundak Jaehyun. Sungguh jika dibandingkan dengan kisah cintanya yang begitu indah bersama istrinya, Taehyung, kisah Jaehyun terlalu banyak misteri di dalamnya.
" Aku tak tahu ini benar atau salah, aku ingin tahu nama data lengkap tentang Lee Minhyung. Mungkin Jimin-hyung bisa membantu ".
" Lee Minhyung, dia lahir tanggal 2 Agustus. Usianya sekitar 21 tahun. Dia lahir di Kanada dan besar di sana. Dia mantan wartawan CBS ".
Jungkook meneguk ludahnya.
" Kau yakin ? Apa nama Inggrisnya Marcia Lee ? "
" Eum, wae ? "
" Jaehyun, dia adalah korban pelecehan seksual Jongdae-uisanim dan korban selamat kejadian Fery Sewol ".
" Apa ? "
" Aku tidak bercanda. Kau bisa lihat di rekam medis milik Yerim-ssi ".
" Tidak mungkin ".
Jungkook berdiri dan mengambil sebuah berkas yang belum sempat ia baca dari meja kerjanya.
" Bacalah ".
Mata Jaehyun menelusuri semua kata demi kata yang tertulis di sana. Ia terlalu terkejut akan sebuah kata di sana. Skizofrenia.
" Dia gila ? " ujar Jaehyun tak percaya.
" Jaehyun, kau tak apa ? "
" Ini penipuan ".
" Jaehyun, tenanglah. Kau bisa memutuskan untuk menceraikannya setelah melihatnya di tempat ini ", ujar Jungkook sambil memberikan secarik kertas.
Jaehyun menegakkan badannya dan mengambil langkah lebar menuju tempat yang diberitahu oleh Jungkook.
" Aku harap kau bisa membantu gadis itu, Jaehyun-ah ".
^^xoxoxoxonctxoxoxoxonctxoxoxoxonctxoxoxoxonctxoxoxoxonctxoxoxoxonctxoxoxoxonctxo
Hai, Akira kembali lagi... Akira berterima kasih banyak untuk semua review yang sudah masuk dan semua yang membaca, favorite dan follow... Ok langsung aja ke review corner ...
markwife192-nim : Hai... makasih banyak sudah membaca cerita ini... Ff yang mana nih hehehe ? Well, Akira masih cari ide buat ff heroine soalnya filenya nggak sengaja ke hapus jadi masih perlu waktu buat nulis ulang lanjutannya... Fighting... Happy reading
Sampai jumpa lagi di chapter berikutnya...
