STIGMA 03
Jungkook terengah, menghentikan larinya sesaat untuk mengatur napas. Bagaimana bisa orang sakit berlari sekencang itu? Begitu pikirnya. Padahal dulu dia selalu menjadi urutan pertama lomba lari saat pelajaran olahraga di sekolahnya, tapi tetap saja kualahan begini. Ah, pasti karena semalam dia belum tidur. Oke, Jungkook mulai mencari-cari alasan.
"Ish, ke mana sebenarnya tujuannya?" gerutu pemuda itu seraya melanjutkan pengejarannya.
Baiklah, mari kita sedikit flashback ke beberapa menit sebelumnya, saat Jungkook dengan setia menguping pembicaraan (menjurus ke pertengkaran) ketiga orang di depan ruang ICU. Dia sebenarnya tidak tega melihat Cheonsa Hyung-nya yang seperti dipojokkan, tetapi dia juga merasa tidak berhak ikut campur, atau setidaknya belum. Untuk sementara pemuda itu hanya memilih mengamati, namun jika situasinya dirasa semakin memanas, baru dia akan turun tangan.
"PERGI DARI SINI KAU BOCAH SIAL! MATI SAJA KAU SANA!"
Nah, itu bisa menjadi salah satu indikasi situasi semakin memanas, 'kan? Yah, anggap saja begitu. Kakinya sudah akan melangkah maju saat mendadak sesuatu bergetar hebat di saku celananya. Itu ponselnya. Dan dia membatalkan lagi niatnya untuk 'menyelamatkan' Malaikat-nya.
"Kenapa?" sapanya kepada seseorang di seberang sana begitu benda persegi panjang itu menempel di telingnya, dan dia bisa mendengar decakan dari orang yang meneleponnya.
"Kau ini tidak bisa sopan sedikit pada yang lebih tua?" Hoseok di seberang menimpali, yang hanya dibalas Jungkook dengan gumaman malas. "Kau di mana?" lanjutnya setelah terdengar tiga kali melakukan latihan pernapasan.
"Di rumah sakit, dimana lagi," jawab Jungkook sambil sesekali mengecek keadaan di depan ruang ICU. Dia bisa melihat sang wanita paruh baya yang kini dipegangi oleh dua perawat.
"Kau belum pulang?"
"Kalau masih di rumah sakit ya belum pulang, Hyung." Jungkook sadar dirinya terkadang menyebalkan, dan dia yakin pasti di sana Hoseok sedang matian-matian menahan diri agar tidak membanting ponselnya.
"Terserah kau saja, Bocah Setan. Aku sudah selesai di kantor polisi, kau bisa menjemputku tidak? Dompetku tertinggal di rumah ternyata," Hoseok menguraikan niatannya menelepon.
Sementara di tempatnya Jungkook antara fokus dan tidak fokus pada penjelasan Hoseok, karena sekali lagi dia mendengar teriakan perempuan paruh baya itu.
"Ya, Jeon Jungkook, kau mendengarku tidak? Jemput—"
"PERGI!"
"Ya, suara siapa itu?"
"Hyung, aku harus menutup teleponnya." Jungkook melongokkan kembali kepalanya dari balik tembok persembunyiannya, nampaknya situasi di depan ruang ICU semakin tak terkendali. Wanita yang dari tadi meneriaki Cheonsa Hyung-nya itu sepertinya pingsan.
"Ya! Bocah sial—"
Dan Jungkook resmi memutus sambungan teleponnya, mengabaikan kakak sepupunya di depan kantor polisi sana yang mencak-mencak sambil memaki-maki dirinya. Dimasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana, lalu bergegas keluar dari tempatnya menguping, tetapi saat itu juga tiba-tiba tubuhnya terjungkal ke belakang dan pantatnya sukses beradu dengan kerasnya lantai. Baru saja dia ditabrak seseorang. Eh? Bukankah itu Malaikat-nya?
Begitulah kira-kira akhirnya Jungkook bisa berlari-larian hingga keluar gedung rumah sakit. Terengah-engah hampir kehabisan napas karena berusaha mengejar Cheonsa Hyung-nya. Sialan. Jungkook belum pemanasan untuk melakukan adegan kejar-mengejar di tengah cuaca dingin begini. Paru-parunya mulai berontak sekarang.
Beruntung kemudian malaikatnya itu memperlambat larinya, dan nampak berjalan sempoyongan ke tepi pagar besi. Jungkook turut menghentikan langkahnya, membungkuk dengan kedua tangan memegangi lututnya, khas pose orang kehabisan napas. Kepalanya menoleh kiri-kanan-belakang memindai daerah sekitarnya. Jembatan penyeberangan. Bisa dilihatnya jalanan di bawah sana ramai dengan kendaraan berlalu lalang. Wow, lokasi yang sangat cocok untuk bunuh diri.
"Sial!" umpatnya begitu matanya menangkap posisi malaikatnya yang kini sudah memanjat pagar besi jembatan. Mengabaikan napasnya yang setengah putus-putus, Jungkook tanggap berlari ke arah Cheonsa Hyung-nya. Lantas segera meraih tangan kanan pemuda itu dan menariknya turun.
Taehyung berontak, sebelah tangannya yang bebas mencoba kembali meraih pagar pembatas. "Lepaskan!" teriaknya yang masih berusaha menaiki pagar besi tersebut.
"Tidak akan!" Jungkook balas berteriak. Sekali lagi menarik pemuda itu lalu membawanya sedikit menjauh dari pagar.
"Lepaskan! Jangan ikut campur!" Taehyung berteriak lagi setelah—jujur saja—tadi dia sempat terlonjak akibat teriakan pemuda di hadapannya.
"Aku harus ikut campur karena kau berniat bunuh diri di depanku!"
"A-aku..." dan mendadak Taehyung tergagap, antara takut dengan bentakan pemuda di depannya dan emosi—karena percobaan bunuh dirinya digagalkan.
"Ikut aku," perintah Jungkook kemudian, kali ini dengan nada biasa saja. Ditariknya kembali lengan malaikatnya yang masih dalam genggaman tangannya.
"Ya, aku tidak mengenalmu," protes Taehyung begitu pemuda itu menariknya. "Lepaskan! Kau mau bawa aku ke mana?" Dia lagi-lagi mencoba berontak tapi cengkeraman dan tarikan di tangannya sangat kuat. Pemuda itu membawanya berjalan menjauh dari jembatan penyeberangan, sepenuhnya tak menghiraukan teriakan serta pukulan-pukulan Taehyung di punggungnya. "YA!"
.
.
.
Mereka duduk bersisian, saling diam. Satu orang sibuk mengunyah makanannya sambil sesekali melirik bingung, sementara satunya lagi tampak khusyuk memerhatikan pemuda di sebelahnya. Kira-kira sudah sepuluh menit keduanya duduk di tempat itu, namun sepertinya belum ada yang berniat buka suara lebih dulu.
"Silakan, selamat datang."
Keduanya menoleh bersamaan saat wanita di balik meja kasir menyapa ramah seorang pembeli yang baru saja masuk. Hanya sedetik, lantas mereka kembali pada aktivitas sebelumnya. Masih betah tanpa suara.
Si pemuda mata kucing sekali lagi melirik sosok di sampingnya—yang menatapnya seolah... takjub, membuat pemuda itu sedikit kesulitan menelan nasi kepalnya. Seumur hidup ia belum pernah diperhatikan secara terang-terangan begini, apalagi dalam jarak yang begitu dekat. Dibilang gugup, tentu saja dia gugup. Bukan apa-apa, dia merasa aneh saja diperhatikan sebegitu intensnya oleh orang yang tidak ia kenal.
Setelah menelan kunyahan terakhir makanannya, si pemuda kucing lantas meneguk dengan cepat jus kalengnya. Menepukkan kedua telapak tangannya yang terasa kotor sehabis makan lalu bangkit berdiri, sedikit kikuk. "Terima kasih makanannya, aku pergi dulu."
Namun belum genap dua langkah kaki Taehyung beranjak, pemuda di sampingnya itu meraih lengannya. "Mau ke mana?" tanyanya, ia pun ikut bangkit dari kursinya.
"Pulang...?" Entah kenapa jawaban Taehyung jadi bernada tanya begitu.
"Biar aku antar," katanya seraya siap menarik lengan Taehyung pergi.
"Shireo! Eh, maksudku tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri."
"Tapi aku tidak percaya padamu."
"Eh?" Dahi Taehyung berkerut, kenapa, sih, orang ini? tanyanya dalam hati.
"Kau bisa saja mencoba bunuh diri lagi kalau sendirian," jelas pemuda bersurai kecokelatan itu.
"Aku janji tidak akan melakukan hal bodoh itu lagi. Jadi, jangan khawatir dan terima kasih, aku pulang sendiri saja," Taehyung membalas agak terburu. Dilepas cekalan tangan di lengannya dan segera melangkah pergi, tetapi lagi-lagi pemuda itu berhasil meraih lengannya.
"Kau benar-benar tidak mengenalku?" tanya si rambut cokelat dengan nada yang terdengar seperti kecewa.
Dahi Taehyung kembali berkerut, matanya juga menyipit. Siapa dia? Apa aku mengenalnya? Kapan kita bertemu? Di mana? Duh, kepalanya yang pening bertambah pusing sekarang.
"Ck, rupanya ingatanmu cukup buruk," lanjut pemuda itu sambil berdecak.
Taehyung pun ikut berdecak, dalam hati saja. Dasar orang aneh—"Apa kita pernah bertemu?" tanyanya, yah... setidaknya Taehyung mempunyai sopan santun pada orang asing. Terlebih orang itu secara tidak langsung telah menyelamatkan nyawanya serta mentraktirnya makan, meski hanya dua bungkus nasi kepal—ah, dan sekaleng jus jeruk.
Pemuda itu kemudian melepas pegangannya pada Taehyung, lantas kedua tangannya bergerak ke belakang kepalanya sendiri. Melepas sebuah kalung yang lalu diperlihatkannya pada si mata kucing. "Kau ingat kalung ini?" tanyanya lagi.
Lumayan lama si pemuda rambut keperakan mengingat-ingat, sembari matanya memicing pada liontin berbentuk malaikat bersayap di depannya. Dan sekilas ingatan masa lalu melintasi benak pemuda itu. "Oh, bukankah ini kalung yang aku berikan kepada..." dia berhenti, ada bunyi 'klik' yang tiba-tiba memenuhi otaknya. "Kau anak yang diculik itu?"
Si pemuda yang lebih tinggi—beberapa mili—mengangguk-angguk seolah bangga, senyum pun merekah di bibirnya.
Kalau begini bentuknya sekarang, mana mungkin aku ingat, ini suara hati Taehyung. Pasalnya, bocah yang ditolongnya dulu masih berusia sekisaran anak sekolah menengah pertama, dan juga belum setinggi ini. Pun badannya masih kurus kering macam anak belum pernah mimpi basah, bahkan saat itu Taehyung kuat menggendongnya sejauh satu kilometer. Berbeda sekali dengan bentuk tubuhnya sekarang, tinggi, tegap, bidang, dan kelihatannya lumayan berotot—melebihi Taehyung yang memang tidak punya 'otot'.
"Jadi, sekarang kau sudah mengingatku, 'kan, Kim Taehyung? Perkenalkan, namaku Jeon Jungkook.
.
.
.
Apartemen itu tidak terlalu besar, hanya berukuran sedang yang terdiri dari dua kamar tidur, satu kamar mandi, ada ruang santai merangkap ruang tamu, dapur dengan tambahan meja dan dua kursi untuk makan, serta balkon kecil di salah satu kamar—yang kebetulan selama empat tahun ini ditempati oleh pemuda manis bernama Kim Taehyung.
Dulu Namjoon yang memaksanya menempati kamar itu. Padahal ini apartemannya, tapi laki-laki tersebut tetap bersikeras memilih kamar seberang yang lebih kecil—tanpa balkon pula—karena dia tahu Taehyung suka memandang langit malam. Katanya, dengan memiliki kamar berbalkon, adiknya itu bisa bebas menikmati langit malam sesering yang dia mau. Ah, Taehyung jadi merindukan Namjoon Hyung-nya. Bagaimana kondisi sang kakak? Sampai sekarang ia belum tahu.
Taehyung membuka pintu kamarnya dari dalam, pakaiannya kini sudah berganti dengan kaos abu-abu polos dan celana training. Pandangannya kemudian terpaku ke arah ruang santai, tepatnya pada sofa panjang yang saat ini ditiduri oleh seorang pemuda. Selangkah dua langkah Taehyung maju, berniat ke dapur tapi entah kenapa kakinya malah berpindah halauan menghampiri sosok yang tengah terlelap itu.
Dijongkokkan badannya di samping sofa, sementara matanya mengamati wajah pemuda di hadapannya. "Kyeopta," ucap Taehyung impulsif melihat gigi kelinci Jungkook yang nampak karena bibirnya sedikit terbuka.
Tidur Jungkook sepertinya lelap sekali, padahal Taehyung tadi masuk kamar kurang dari lima belas menit, namun pemuda itu kini sudah melayang ke alam mimpi. Meski Taehyung sendiri tidak tahu apakah saat ini Jungkook sedang bermimpi atau tidak, yah... pokoknya begitulah. Taehyung mengira-ngira pasti semalam pemuda itu kurang tidur—atau bahkan belum tidur sama sekali—karena mengguinya di rumah sakit.
Masih betah menatap, tangan Taehyung yang terlipat di atas kedua lututnya mendadak gatal ingin membenahi rambut Jungkook. Akibat posisi tidurnya yang miring, rambut-rambut nakal itu jatuh menutupi dahi dan matanya, membuat Taehyung risih lalu nekat menjulurkan tangan. Satu senti mendekati target, tiba-tiba tubuhnya justru tersentak ke belakang. Segera ditarik tangannya begitu mata pemuda di depannya terbuka. Taehyung gelagapan, pun jantungnya berdetak heboh seperti baru saja tertangkap basah hendak melakukan hal yang iya-iya.
"A-aku mau-menawarimu-minum," setelah tergagap, Taehyung mengatakannya dengan tempo terlampau cepat, sementara pemuda Jeon di hadapannya malah mengerjapkan matanya linglung.
"Kenapa Hyung duduk di bawah?" suara Jungkook terdengar serak, khas orang bangun tidur.
Taehyung sontak bangkit berdiri, sedikit terhuyung saat merasakan pening di kepalanya sebab dia bergerak terlalu mendadak. "Minum, kau mau minum tidak?" tanyanya mengulang alasannya tadi.
Jungkook menguap lebar, membangkitkan tubuhnya duduk lantas melakukan peregangan. Ditatapnya Taehyung dengan mata yang ia paksa-paksakan terbuka. Pemuda bersurai cokelat itu sejujurnya masih mengantuk berat. Dan bukannya menjawab pertanyaan Taehyung, dia malah menarik ujung kaos longgar Cheonsa Hyung-nya agar lebih mendekat ke arahnya, kemudian memeluk pinggang si Malaikat erat. Menenggelamkan kepalanya pada perut rata dalam dekapannya, yang otomotis membuat tubuh Taehyung membeku di posisinya sekarang.
"J-jeon Jungkook, apa yang kau lakukan?"
"Aku mengantuk, Hyung."
"Kalau ngantuk tidur saja di sofa."
Jungkook menggeleng di perut Taehyung. "Lebih nyaman seperti ini," balasnya seraya makin mengeratkan lingkaran tangannya di pinggul si mata kucing.
"Ya, posisi kita terlihat aneh," Taehyung mencoba protes.
"Hm? Aneh bagaimana?" tanya Jungkook yang kini menengadahkan wajahnya menatap Taehyung, masih sambil memeluk.
Taehyung mengerjap, balas menatap pemuda bermata bulat yang menempelinya seperti cicak. Wajahnya terlihat polos kekanakan jika seperti ini, mata bulatnya terbuka setengah—tampak sangat mengantuk, serta bibirnya mencebik lucu seolah tidak akan pernah rela melepas dekapannya. Ah, Taehyung, itu hanya wajah menipu, mana ada orang polos yang kelakuannya seperti ini.
Tidak mendapat jawaban dari Taehyung, Jungkook kemudian kembali memiringkan wajahnya ke sisi kanan untuk melanjutkan tidurnya. Sedangkan Taehyung tetap terdiam pada posisinya, seperti pasrah diperlakukan bagaimana saja oleh Jeon Jungkook. Entahlah, sejak dia menyadari keberadaan Jungkook di jembatan pagi tadi, ia seakan sulit menolak setiap kemauan pemuda bergigi kelinci itu. Rasanya dia memberi pengaruh tersendiri bagi Taehyung.
Beberapa menit berlalu keduanya masih dalam keadaan sama. Taehyung menguap. Sial, dia jadi ikut mengantuk sekarang. Kakinya juga mulai pegal, sementara pemuda SKSD—Sok Kenal Sok Dekat—yang menempelinya malah mendengkur pelan. Taehyung pun semakin tidak tega membangunkannya. Ck, meski hewan favorit Taehyung adalah Singa si Raja Hutan (padahal Singa habitatnya di sabana), pemuda itu mempunyai hati selembut bulu kucing Persia.
Di keheningan ruangan itu, tiba-tiba terdengar auman si Raja Hutan. Membuat Jungkook terkejut bangun dan reflek melepas pelukannya. Taehyung diam-diam menghela napas lega, dirogohnya ponsel di saku celananya yang masih mengaum dan bergetar itu, lalu mengambil duduk di samping Jungkook. Akhirnya dia bisa mengistirahatkan kakinya juga.
"Taetae sayang—agh, mian-mian, Hyung, keceplosan..."
Taehyung mengeryit begitu mengangkat panggilan dari si bantet—maksudnya Park Jimin. Ia juga bisa mendengar dengusan lain di seberang telepon, pasti Jimin sedang bersama Min Yoongi. Dan Taehyung yakin Jimin di sana baru saja mendapat pukulan dari friend with benefit-nya itu.
"... cuma My Sugar yang tersay—aw, kenapa Hyung memukulku lagi?"
"Taehyung sedang menunggu, Bantet."
"Oh, halo, Tae. Bagaimana keadaanmu? Kudengar kau dan kakakmu kecelakaan, sekarang kau di rumah sakit mana? Eh, kau sudah bisa mengangkat telepon, apa kau baik-baik saja?"
Taehyung menghela napas sebelum menjawab. Ah, kenapa jadi dia yang merasa lelah mendengar rentetan pertanyaan Jimin? "Aku baik-baik saja, Chim. Dari mana kau tahu aku kecelakaan?"
"Syukurlah. Barusan aku bertemu teman klub menariku, Jung Hoseok, dia bilang tadi malam ada kecelakaan dan dia menyebut namamu juga Namjoon Hyung, tapi aku lupa menanyakan di rumah sakit mana kalian dirawat. Jadi, kalian dirawat di mana? Oh," Jimin mendadak berhenti sebentar, kemudian melajutkan, "Hoseok Hyung juga bilang kalau Namjoon Hyung koma, apa itu benar, Tae?"
Rasanya seperti mendapat pukulan keras di dada tapi dengan benda tak kasat mata, begitulah yang dirasakan Taehyung saat ini. Matanya sampai menggenang saking sakitnya. Taehyung menoleh ke kanan, menatap Jungkook yang juga tengah menatapnya lekat—tidak lagi terlihat mengantuk.
"Tae, kau baik-baik saja?" Jimin di seberang kembali bertanya, suaranya terdengar khawatir.
"B-benarkah Namjoon Hyung koma?" bahkan suara Taehyung kini mulai bergetar.
"Hah, kau tidak tahu? Sekarang kau ada di mana?" tanya Jimin lagi, kebingungan. "Tae, kau ada di mana? Biar aku ke sana, kau baik-baik saja, 'kan?" lanjutnya yang terdengar lebih khawatir.
"A-aku..." dan Taehyung tidak mampu melanjutkan jawabannya. Bibirnya bergetar menahan isak yang sudah sulit ia bendung. Liquid di matanya pun telah menetes.
Jungkook bergerak, mengambil alih ponsel Taehyung yang masih tertempel di samping indra pendengar pemuda itu. Sementara tangan kirinya menarik bahu si mata kucing agar menyandar pada dadanya. Taehyung tak berontak, justru kini menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Jungkook. Berniat meredam suara tangisnya yang sudah mulai pecah.
"... Taehyung—"
"Taehyung Hyung sedang tidak bisa bicara sekarang, aku tutup dulu telep—" belum selesai Jungkook bicara, orang di seberang sana berteriak padanya.
"Ya! Siapa kau?! Di mana Taehyung?!"
Jungkook mendengus sebelum menjawab, "Aku temannya. Jangan khawatir, Taehyung Hyung aman bersamaku, dia di rumah. Sudah, ya, kututup," dan dua kali sudah hari ini bocah gila itu—mengambil sebutan dari Hoseok—memutus telepon sepihak.
.
.
.
TBC
