Title: Still
By: thie-yuek강희
Cast:
Luhan as Tan Luhan (namja)
Sehun as Oh Sehun (yeoja)
Disclaimer:
Mian kalau ada yang ngerasa ceritanya sama, aku cuma mengeluarkan ide yang terbersit di kepalaku. Para tokoh saling memiliki.
Summary:
"Kemarilah."~Luhan/ "Apa salahku padamu, sialan?"~Sehun/GS/AU/DLDR
~Happy Reading~
*#*#*#*#*#*
Sudah sebulan Luhan tak mengabarinya, dan sekarang pemuda itu medadak mengajaknya liburan bersama keluarga pemuda itu ke kampung halaman ibunya. Tentu saja ia tidak setuju, karena diajak mendadak.
"Aku ada banyak pekerjaan pada musim liburan ini, Lu. Kau lihat kan, cafe ayahku agak ramai saat ini. Lagipula bumonim-ku tak akan mengizinkan begitu saja."
"Bagaimana kalau aku diizinkan oleh ayahmu?" Luhan menerobos masuk cafe. Sehun mencoba manahan pemuda itu namun tak bisa. Luhan akhirnya bertemu dengan Tuan Oh yang baru selesai membuat kue. Sehun tak berani mendekat dan hanya memperhatikan mereka berdua. Luhan mendekati Sehun dengan wajah yang gembira.
'Appamu mengizinkan, ayo pergi." Luhan menarik Sehun menuju mobilnya, tidak membiarkan Sehun memberontak.
"Yaa! Biarkan aku berpamitan dulu dan mengambil dompetku!"
Luhan memberhentikan langkahnya, menarik Sehun ke dalam cafe.
"Yaa! Tan Luhann!"
*#*#*#*#*#*
"Omo, Sehunnie semakin cantik saja." Ujar Heechul melihat Sehun yang baru datang bersama Luhan. Sehun yang sedang cemberut tak dapat menyembunyikan kekesalannya, namun gadis itu tetap membungkukkan tubuhnya kepada heechul dan Hangeng. Mau bagaimanapun ia harus tetap hormat kepada yang lebih tua.
"Kenapa Sehun tidak pernah main ke rumah?" tanya Hangeng. "Padahal Papa menunggu kedatangan calon menantu kita yang cantik."
"M, ma,..."
"Kami terlalu sibuk dengan ujian, Pa." Potong Luhan, merangkul Sehun ke dalam pelukannya. Sehun melepaskan rangkulan tersebut.
"Jangan peluk – peluk."
"Sehun tidak usah malu, Papa mengerti kok."
"B, bukan begitu, Pa. Hanya saja Sehunnie sedang kesal pada rusa ini." Sehun memelototi Luhan imut yang membuat Luhan dan Hangeng terkekeh geli.
"Kenapa masih disini? Kakek dan Nenek sudah menunggu kalian berdua." Ujar Heechul dari pintu rumah. Luhan menggenggam tangan Sehun lembut.
"Maaf, aku membuatmu kesal. Tapi aku jamin disini kita akan bersenang – senang." Ujar pemuda itu, membawa Sehun memasuki rumah tradisional tersebut. Sehun merasakan pipinya merona.
*#*#*#*#*#*
"Sana jauh – jauh." Ujar Sehun. Luhan terlihat kesal dan merebahkan dirinya di atas lantai, menggulung dirinya di dalam selimut tipis yang tak mampu mengurangi rasa dingin malam ini. Karena kamar di rumah itu kurang, akhirnya Sehun disuruh tidur sekamar dengan Luhan di kamar sepupu Luhan yang sedang di luar negeri.
"Bukannya kita pernah bercumbu, ya?" Tanya Luhan kesal. "Kenapa tidak mau tidur seranjang denganku?"
"Karena kamu rusa buas. Nanti kamu grepe – grepe aku. Nanti kalau kita ketahuan gimana? Emangnya kamu mau menikah muda?"
"Kamu pengen dicumbu, ya? Wah, ternyata pacarku ini mesum juga."
"Bukan, bodoh." Ujar Sehun malu, gadis itu tak dapat menutupi pipinya sehingga terlihat oleh Luhan. "Aku nggak mau tergoda lagi sama kamu."
"Jadi kemarin itu kamu tergoda?"
Sehun semakin merona. Gadis itu merebahkan dirinya, membelakangi Luhan.
"Selamat malam." Ujar Sehun agak ketus.
"Selamat malam." Balas Luhan dengan sedikit godaan. Sehun mencoba menutup matanya, namun ia tak bisa. Gadis itu kepikiran dengan Luhan yang pasti kedinginan tidur tanpa selimut hangat. Sementara Luhan mengamati punggung Sehun, ia tahu Sehun belum tidur. Keheningan terus menemani mereka berdua, hingga akhirnya Sehun merasa kesal dengan dirinya sendiri. Sehun berbalik, melihat Luhan yang sepertinya sudah tidur, atau pura – pura tidur.
"Lu,"
"Hmm?" Luhan ~yang sebenarnya pura – pura tertidur~, membuka matanya perlahan dan menatap Sehun. "Kenapa?"
Sehun menggeser tubuhnya ke tepi ranjang, kembali membelakangi Luhan.
"Kamu pasti kedinginan. Maaf aku bersikap egois. Kamu bisa tidur di sebelahku kok."
Luhan menyeringai. Gadis itu pasti merona sekarang, pikirnya.
"Kau yakin? Bukankah aku rusa ganas?"
"Aku memang mengizinkanmu tidur seranjang, tapi bukan berarti bisa menyentuhku ya." Sehun menggeser tubuhnya lagi, menyelimuti seluruh tubuhnya seperti kepompong. Luhan terkekeh melihat kelakuan gadis itu. Pemuda itu merebahkan dirinya di sebelah Sehun dan menghadap ke punggung Sehun.
"Tidak bisakah kau membagi selimutmu? Aku kedinginan."
Sehun tak bergeming, memilih untuk berpura – pura tertidur.
"Jangan pura – pura, aku tahu kau belum tidur. Aku janji tak akan menyentuhmu. Aku hanya ingin berbagi selimut denganmu." Ujar Luhan.
"Janji ya?"
"Iya." Ujar Luhan geli. Sehun membagi selimutnya dan kembali berusaha untuk tertidur.
'Selamat malam." Ujar Luhan.
"Selamat malam." Sehun menutup matanya berusaha untuk tidur, namun ia tak bisa. Debaran jantungnya begitu menggila, membuatnya takut Luhan bisa mendengar. Ia juga bisa merasakan hembusan napas Luhan di tengkuknya.
"Lu, bisakah kamu menjauh sedikit? Aku tidak nyaman."
Tak ada sahutan dari Luhan.
"Lu?" Sehun mencoba berbalik, dan ia mendapati wajah Luhan yang hampir berdekatan dengan wajahnya. Pemuda itu sepertinya sudah terlelap. Sehun tersenyum mendapati wajah terlelap Luhan yang menurutnya sangat manis saat tidur.
"Selamat malam, Luhan."
*#*#*#*#*#*
Cahaya matahari yang masuk melalui celah kain gorden membuat Sehun terbangun. Gadis itu mengucek matanya dengan kedua tangannya yang membuatnya terlihat imut. Mendapati wajah terlelap Luhan yang menggemaskan seperti semalam.
"Bangun Luhan, lepaskan aku. Aku ingin membantu Mama dan Haelmeoni." Ujar Sehun sambil berusaha melepaskan pelukan Luhan yang erat. Luhan mengeratkan pelukannya dan menggumam tidak jelas. Sehun yang bertubuh lemah tentu saja tidak akan mampu melepaskan dirinya dari kungkungan Luhan.
'Maafkan Sehunnie, Mama, Haelmeoni." Bisik Sehun dan kembali tidur di pelukan Luhan karena sebenarnya ia masih mengantuk. Gadis itu langsung terlelap dan memeluk Luhan dengan erat.
Kriett~
Luhan membuka matanya dan mendapati Heechul yang menatap mereka dengan terkejut dan penuh kecurigaan.
"Dia hanya tertidur di pelukanku, Ma." Ujar Luhan agak jengkel, membuat Heechul terkikik melihat kekesalan putranya tersebut.
"Mama tahu." Ujar Heechul. "Mama hanya ingin bertanya kapan kalian berdua akan bangun, agar Mama bisa menyisihkan sarapan untuk kalian."
'Terima kasih, tapi Sehunnie akan memasak untuk kami nanti. Mama tidak usah cemas dan nikmati saja berkencan dengan Papa di kebun."
"Ide bagus, thanks Honey." Heechul melenggang pergi tanpa lupa menutup pintu kamar. Luhan memandangi wajah terlelap Sehun yang sangat manis. Ia mengusap wajah Sehun dengan perlahan, merasakan kulit Sehun yang terawat. Tak lupa ia menghadiahkan sebuah kecupan kecil di kelopak mata Sehun, lalu mencium bibir Sehun. Ia lepaskan ciuman tersebut, lalu terdiam lama memandangi wajah Sehun. Ia kembali mencium Sehun, lanjut melumat bibir tipis itu membuat Sehun merasa gelisah dan terjaga. Gadis itu mengeratkan pelukannya dan mulai membalas ciuman Luhan. Luhan akhirnya melepaskan ciumannya dan menatap Sehun yang juga terengah – engah. Luhan tersenyum, membuat Sehun juga tersenyum.
"Apa ini mimpi? Kenapa Luhan tersenyum semanis ini kepadaku?" Ujar Sehun lirih. Luhan mengambil tangan Sehun dan mengecupnya lembut.
"Ini benar – benar aku, Sehun. Kamu tidak bermimpi."
"Tentu saja mimpi, da,..."
Luhan kembali mencium Sehun, melumat bibir gadis itu dengan lembut. Sehun membalasnya dengan semampunya, karena gadis itu memang minim pengalaman dengan seorang lelaki.
Bermenit – menit mereka habiskan dengan saling memakan bibir dan lidah masing – masing, dengan Luhan yang bersandar di dinding dan Sehun yang berada di pangkuan pemuda itu. Sehun terlihat agresif dari caranya melumat bibir Luhan dengan rakus, sementara Luhan hanya menerima dan menyentuh titik intim Sehun yang terekspos karena gadis itu hanya memakai kemeja hitam tipis kebesaran. Luhan tanpa sengaja melepaskan tali bra yang melingkar di leher Sehun sehingga ia dapat melihat gunung kembar yang menggoda tersebut menegang. Sehun tak peduli dan lanjut mencari juga menghisap lidah Luhan. Ia melepaskan ciuman mereka dan mendorong kepala Luhan ke belahan dadanya, menggesekkan payudaranya dengan wajah tampan kekasih kontraknya tersebut.
'Apa payudaraku kurang besar dibandingkan jalang – jalang itu, Lu?"
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?"
"Apa aku harus pasang implan agar ini besar?" tanya Sehun polos sambil meremas payudaranya. Luhan menggenggam tangan Sehun dan menggeleng.
"Payudaramu sudah besar, sayang. Jika kamu tambah, nanti kamu terlihat seperti sapi perah yang terlalu cantik." Luhan mengecup puting payudara Sehun dan melumatnya sebentar, lalu meremasnya dengan kasar.
"Jadi aku tidak akan terlihat cantik?"
"Kamu akan selalu terlihat cantik, tapi aku benar – benar puas dengan benda kenyal ini jika membesar dengan alaminya. Bukankah ini akan membuatnya menjadi lebih besar?"
Sehun tak mejawab dan sibuk menuntun kedua tangan Luhan untuk meremas payudaranya. Sehun kembali menyambar bibir Luhan dan mendekapnya, menciptakan siluet yang sangat cantik di pagi hari.
"Benar juga, yang ada aku nanti terlihat seperti sapi perah dan itu akan sangat menjijikkan." Gumam Sehun. Gadis itu bangkit dari pangkuan Luhan.
"Mau apa?" tanya Luhan bingung.
"Buka pakaianmu, Lu." Perintah Sehun, sementara gadis itu sudah menanggalkan kemeja berikut pakaian dalamnya, tak menutupi apapun.
"Hun?"
"Ayo, Tan Luhan." Sehun menarik Luhan dan melepaskan pakaian pemuda itu, menyisakan celana dalam Luhan. Sehun berjongkok di hadapan junior Luhan yang sudah membengkak dan mengecupnya pelan. Luhan menarik Sehun ke pelukannya dan mencumbu tubuh telanjang gadis itu, sementara Sehun terduduk pasrah dan mendesah.
"Tahan desahanmu sayang, atau kita akan ketahuan." Bisik Luhan, melumat bibir tipis yang telah membengkak itu. Kembali melumat puting payudara Sehun membuat gadis itu mendesah. Luhan merebahkan tubuh Sehun dan mengambil kemeja hitam Sehun, mengikatkan lengan kemeja itu ke mulut Sehun membuat gadis itu protes.
"Diamlah sayang, atau nanti kita akan ketahuan." Luhan mendudukkan Sehun kembali dan mengikat tangannya di belakang tubuh gadis itu, membuat dadanya membusung ke depan. Luhan menyeringai melihatnya.
"Tidakkah kau menikmati ini? Tak bisa melakukan sesuatu, hanya menerima kenikmatan dariku. Bukankah sensasinya akan berbeda?"
Sehun melotot, memberontak keras. Luhan terkekeh.
"Baiklah." Pemuda itu melepaskan ikatan di mulut Sehun.
"Sialan kau!"
"Waw, sejak kapan pacarku yang cantik ini pandai mengumpat?"
"Lepaskan tanganku juga."
"No, no, no." Desah Luhan. "Lihat ke belakangmu, sayang."
Sehun mengikuti kata-kata Luhan. Gadis itu terkesiap melihat dirinya yang terlihat bitchy di pantulan cermin itu.
"Apa pendapatmu?" bisik Luhan dari belakang, meremas kedua payudara Sehun yang membusung. Sehun yang pasrah hanya menyandarkan dirinya ke dada Luhan.
"Bitchy," jawab Sehun. "aku terlihat menjijikkan dan jalang."
"Kau cantik sayang." Luhan mulai menelusuri miss-v gadis itu, menelusupkan jarinya ke dalam lubang surga itu. Sehun semakin lemas, menutup matanya untuk meresapi kenikmatan itu. Luhan menyeringai.
"Bagaimana?"
Sehun berusaha menahan desahannya dengan menggigit bibir bawahnya. Luhan tak tega melihatnya seperti itu, namun mau bagaimana lagi.
"Luh,"
"Hmm?" Luhan menghentikan kegiatannya agar Sehun tidak kesusahan berbicara.
"Aku ingin mencoba gaya 69." Ujar Sehun. "Bagaimanapun juga tak mungkin aku membiarkanmu menegang seperti itu." Tangan Sehun yang terikat menyentuh kejantanan Luhan yang besar tersimpan di balik boxernya. Luhan melenguh pelan menghasilkan kikikan pelan dari Sehun.
"Luuh," Sehun menampilkan puppy eyesnya.
"Kenapa kau selalu bersikap manis dan menyebalkan di setiap waktu, hmm?" Luhan mencubit hidung Sehun dengan gemas, lalu merebahkan dirinya.
"Your pants?"
"You can use your shit mouth for that, babe."
"Tidak adil." Gerutu Sehun sambil menindih Luhan, menggigit pinggiran boxer Luhan dan berusaha melepaskannya dari Luhan. Seketika penis Luhan menampar pipinya dengan keras. Luhan tidak memperdulikan itu dan menjulurkan lidahnya, mencoba memasuki vagina Sehun, sementara Sehun mulai melahap penis Luhan dengan bersemangat hingga nyaris tersedak. Desahan dan lenguhan mereka nyaris tidak terdengar saking sibuknya menikmati tubuh pasangan mereka. Sehun yang merasa akan orgasme menyempitkan vaginanya membuat lidah Luhan terjepit, namun membuat pemuda itu melenguh nikmat. Tak lama kemudian Sehun orgasme, gadis itu melenguh nikmat dan melepaskan kulumannya.
"Hisap terus sayang, jangan dilepaskan." Ujar Luhan lirih. Sehun menurutinya, merasakan punya Luhan yang besar dan nyaris tak muat di mulutnya.
"Punyamu besar sekali Lu," keluh Sehun.
"Lanjutkan saja. Ini kan maumu."
Sehun mendecih pelan dan kembali memakan penis pemuda itu, Luhan berusaha menahan desahannya dan melenguh pelan.
"Come."
Sperma pemuda itu langsung menyerang wajah cantik Sehun, membuat gadis itu tersenyum puas. Sementara Luhan menggeram pelan, lalu menyeringai puas.
"Puas?"
"Lepaskan ikatan ini dulu." Ujar Sehun. Luhan terkekeh dan melepaskan ikatannya. Sehun langsung duduk di paha kekasih kontraknya itu. Mengambil dan mengoleskan cairan semen itu ke tubuhnya, terutama payudaranya sembari menatap Luhan imut.
"Kau mau self service dihadapanku?"
Sehun menggeleng imut. "Aku hanya ingin merasakanmu. Bagaimana serviceku tadi?"
"Tidak terlalu buruk untuk gadis perawan." Ujar Luhan sambil menyeringai, membuat pipi Sehun memerah karena malu. Luhan menarik Sehun dan menjilat wajah cantiknya lalu bermain dan melumat payudara besar itu. Mengakhirinya dengan sebuah french kiss yang panas.
"Kita tidak akan keluar kamar? Jam berapa sekarang?"
"Tenang saja," Luhan mengelus kepala Sehun dengan lembut. "Papa dan Mama menikmati kencan mereka. Kalau nenek aku yakin sedang di kebun sekarang."
Sehun menyamankan pelukannya. "bolehkah kita di kamar saja hari ini?
"Dan bercinta? Tentu saja." Sehun memukul kepala Luhan dengan keras, lalu terkikik manis dan memeluk Luhan dengan erat, menyembunyikan wajahnya di dada pemuda itu. Luhan memeluknya erat dan mengecup puncak kepalanya.
"Ah," Sehun teringat dengan smartphonenya dan mengambil benda itu di nakas.
"Kau mau apa?" Ujar Luhan, Sehun kembali merebahkan dirinya dan mengotak-atik benda tersebut. Luhan mengernyit mendapati aplikasi kamera yang aktif.
"Kau mau kita selca?"
"Eungg," Sehun mengarahkan kamera dan tersenyum menggoda, menatap Luhan yang hanya diam.
"Lu,"
"Kau yakin? Nanti kalau foto ini kedapatan bagaimana?"
"Kamu tidak mau?" tanya Sehun, mulai menampakkan wajah masamnya. "Ya sudah." Sehun mengeluarkan aplikasi dan menaruh smartphonenya di dekat kepalanya, menyurukkan kepalanya di dada Luhan kembali.
"Kau marah?"
"Kenapa harus marah?" tanya Sehun. "Untuk sesaat aku lupa kalau dasar hubungan ini hanyalah bisnis."
"Hei," Luhan mengangkat wajah Sehun. "Itu artinya kau marah."
"Kamu lapar?" tanya Sehun. "Bagaimana kalau kita memasak?"
"Oh Sehun."
Sehun merengut imut, membuat Luhan tak bisa menolak. Pemuda itu menyibak selimut dan menggendong Sehun ke kamar mandi.
*#*#*#*#*#*
Annyeohaseyo,
Thank you buat chingudeul yang mau membaca dan mereview FF ini, itu membuatku merasa senang karena ada yang berpendapat kalau ceritaku bagus. Sejauh ini, review yang kudapatkan selalu positif jadi aku berpendapat ternyata banyak juga yang tidak menyukai ceritaku sehingga terlalu malas untuk mereview. Dari hasil yang kulihat, yang membaca dan yang mereview ternyata sangat jauh jumlahnya dan tanpa kusadari aku menjadi patah hati ~ceilah bahasa gue~. Pada awal mempublish aku sebenarnya tidak terlalu berharap akan adanya review, namun tak kupungkiri kalau aku senang melihat jumlah reviewer pada chapter pertama. Dan aku tidak memungkiri kalau aku kembali patah hati saat melihat jumlah review pada chapter 2 dan 3.
Yahh, begitulah cuap-cuap curahan hatiku pada kali ini.
Next, HanHun itu sebenarnya pada bebal binti bego dan semacamnya tentang perasaan mereka masing - masing. Jadi aku berniat jahat dulu ~mianhae fansnya Lu-Ge dan Thehunnie Oppa~ dengan membuat mereka sama - sama sakit duluan. Kurasa cuma segitu yang bisa kuceritakan. Kalo soal cheerleadersnya ga kepikiran juga ya. Mau bikin OC, ntar ga enak liatnya, kalau mau bikin girlband, ntar dibilang diskriminasi girlband geemanaa getoh ~terinfeksi virus alay di kampus~. Tapi, ada saran ga, siapa ya yang cocok buat jadi orang ketiga dalam hubungan HanHun ini?
Cukup sekian deh cuap - cuap absurd aku. Once again, thank you buat chingudeul yang mau baca dan review cerita ini.
At Least,
REVIEW PLEASEE?
KAMSAHAMNIDAA!
