CHAPTER 3

Surat Izin

Sekitar Delapan Bulan Setelah Hari Kelulusan

Sudah delapan bulan berlalu sejak Chiba, Hayami, Fuwa, Yada, Hara, Okajima, Kimura, dan Sugaya mulai bersekolah di SMA 5 ini. Kedelapan siswa eks kelas 3E tersebut terpisah dalam tiga kelas. Sugaya, Hara, dan Okajima berada di kelas C. Fuwa, Kimura, dan Yada di kelas B, kemudian Chiba dan Hayami berada di kelas A. Duo Sniper ini memperoleh nilai yang cukup tinggi ketika ujian penerimaan kemarin. Dan Karena rangking mereka berdua ada di posisi yang dekat, mereka mendapat kesempatan untuk berada dalam satu kelas.

Seperti janji mereka berdua saat hari valentine di kelas 3E dulu, Duo Sniper ini selalu menjaga hubungan pertemanan mereka dengan baik. Sehari-hari, mereka berdua selalu tampak akrab dan terlihat berduaan. Berangkat sekolah selalu bersama, kadang makan siang berduaan, saling membantu ketika belajar kelompok, dan selalu satu kelompok ketika ada tugas kelompok. Keakraban mereka ini tentu saja menjadi bahan perbincangan hangat bagi teman-teman barunya di kelas A tersebut. Dan Tentu saja, Kawan-kawan eks kelas E dulu juga tidak bosan-bosannya menggoda mereka karena kedekatan mereka itu.

Anak-anak baru di kelas A cukup mendukung hubungan mereka berdua, layaknya teman-teman eks kelas 3E di kelas sebelah. Dan mereka sering sekali menggoda pasangan ini katika keduanya sedang bersama. Namun, baik Chiba dan Hayami seakan kebal dengan tingkah usil kawan-kawannya tersebut, dan ketika ada yang menanyakan perihal kedekatan mereka itu, keduanya selalu menjawab dengan jawaban yang hampir sama. "Jangan salah sangka, kami cuman berteman biasa!" Sifat mereka yang tidak bisa jujur pada diri sendiri memang masih melekat dengan kuat.

Suatu hari dihari Jum'at yang dingin, kala itu jam menunjukkan pukul 05.00. Hayami rinka, si Tsundere Sniper sudah bangun dari tidurnya. Semalam ia tidur lebih cepat dari biasannya. Jadi, pagi ini ia bangun terlalu pagi. Hayami langsung menuju kamar mandi untuk menggosok gigi, dan mempersiapkan segala keperluannya untuk sekolah. Di bawah, terdengar ibunya sedang memasak untuk sarapan mereka sekeluarga. Setelah mandi, ia pun berganti dengan pakaian seragam sekolahnya. Kemudian, ia turun untuk makan pagi bersama keluarganya. Hari itu ayahnya berangkat duluan karena ada meeting mendadak pagi ini, dan adiknya juga buru-buru berangkat karena ada latihan klub sepak bola pagi. Hayami masih punya banyak waktu sebelum berangkat, jadi dia membantu ibunya membereskan sarapan.

Setelah ia selesai membantu ibunya, ia naik kembali ke kamarnya untuk mengambil barang-barangnya. Namun, ia menyempatkan diri untuk mengecek pesan masuk di smartphonenya terlebih dahulu. Ada beberapa pesan yang belum dibaca, yaitu pesan dari beberapa teman kelasnya yang menanyakan tugas, kemudian dari grup chat anak-anak eks kelas 3E. Grup chat yang berisi 27 orang dan satu program AI ini selalu ramai tiap hari. Anak-anak eks 3E ini tidak mau kehilangkan kabar satu sama lain, dan tetap menjaga persahabatan mereka sampai detik ini. Hayami cukup senang dengan adanya grup chat ini. Baginya, teman-temannya di kelas 3E dulu adalah teman yang tidak akan terlupakan seumur hidup.

Hayami pun menyempatkan untuk membalas chat-chat tersebut, sembari melihat Update status di Timeline nya. Kebanyakan teman-temannya mengeluh di Timeline tentang cuaca yang dingin, ada yang kelupaan mengerjakan PR, bahkan ada yang baru saja bangun. Dan diantara semua status tersebut, ada satu status yang menarik perhatian dirinya, yaitu status milik teman baiknya, Chiba Ryunosuke. Ia cukup tertarik karena Chiba bukan lah tipe orang yang sering mengupdate status nya di media sosial. Dan bila Chiba sampai menulis sesuatu, biasanya ada satu hal yang sangat penting. Dalam Statusnya, Chiba menulis emoticon sakit (sick). Dan emoticon tersebut ditulis sekitar sepuluh kali, tanpa kata-kata tambahan. Penasaran dengan status tersebut, Hayami pun Menulis chat ke rekannya tersebut

Hayami : Tidak biasanya sepagi ini kamu update status... Kamu kenapa?

Chiba : Ah, Rin.. Aku sedang demam.. Sepertinnya hari tidak bisa masuk sekolah...

Hayami : Minum obat atau segera pergi ke dokter sana!

Chiba : Aaaa.. Sepertinya tidak bisa..

Hayami : Kenapa?

Chiba : Obat turun panas dirumahku habis, dan sepertinnya aku juga tidak kuat kalau harus keluar rumah...

Hayami : Ibumu dirumah kan? Cepat beri tahu beliau sana...

Chiba : Masalahnya itu... Aku sedang dirumah sendiri..

Hayami : Apa? Ibumu memangnya kemana?

Chiba : Kebetulan, Ayah ku sedang liburan bersama kantornya, dan beliau mengajak ibu dan adikku. Mereka baru berangkat kemarin siang, dan baru pulang hari Senin...

Raut muka Hayami berubah menjadi cemas

Hayami : Kamu sekarang tunggu disana, aku segera kesitu!

Chiba : Eh...? tunggu Rin, kamu tidak perlu repot-repot...

Chiba : Rinka...

Chiba : Halo Rinkaa..

Hayami tidak membalas chat tersebut, dan langsung ke bawah menemui ibunya.

"Ibu, maaf, aku boleh minta bekal makan satu porsi lagi?" kata Hayami

"Tentu saja sayang, ibu membuat banyak lauk hari ini.. ada apa?" tanya ibunya sambil menyiapkan satu kotak makan lagi.

"Dan satu lagi bu, maaf, tapi tolong izinkan aku membolos sekolah khusus hari ini..." kata Hayami dengan wajah memohon.

"Apa? Kamu memangnya mau kemana?" Ibunya bertanya dengan nada bingung

"Chiba Kun sakit, dan sedang sendirian dirumahnya, Ibu, ayah, dan adiknya sedang pergi liburan, dia tidak kuat untuk keluar sendiri membeli obat atau ke dokter. Aku harus bantu dia bu..." Kata Hayami memohon lagi

"Yaampun, kasihan Chiba kun, yasudah, ibu izinkan, tapi kamu jangan lupa kabari temanmu untuk mengizinkan kamu dan Chiba kun ke pihak sekolah ya? Sekalian, bawa obat penurun panas di lemari p3k itu!" kata ibunya sambil menunjuk lemari p3k di sudut ruangan dapur.

"Terimakasih bu.. Kalau begitu aku mau ambil barang-barang dulu.." Kata Hayami sambil mengambil obat turun panas, termometer, dan kain kompres.

Ibu Hayami cukup mengenal Chiba. Beberapa kali anak berponi itu mengunjungi rumah Hayami, untuk belajar bersama. Ibu Hayami tahu kalau Chiba anak yang baik, sehingga mengijinkan anaknya untuk berteman dekat dengannya. Jadi, permohonan Hayami untuk tidak masuk sekolah dan merawat Chiba hari ini dapat beliau kabulkan dengan mudah. Ia senang anaknya yang sedikit pemalu ini bisa bersikap baik dan membantu temannya yang sedang kesulitan.

Setelah bekal makanan disiapkan oleh ibunya, Hayami pun berlari ke kamarnya lagi untuk berganti baju. Ia kemudian memasukkan bekal makanan dan obat-obatan itu, kemudian beberapa cemilan kecil. Selanjutnya ia mengirim pesan chat kepada ketua kelasnya untuk memohon izin atas dirinya dan Chiba, sambil menjelaskan situasinya.

Hayami : Ketua kelas, selamat pagi... Aku mau minta tolong

Ketua kelas : Tentu saja Hayami san, ada apa?

Hayami : Hari ini Chiba kun tidak dapat masuk ke sekolah. Ia sakit demam. Jadi tolong izinkan ke guru piket hari ini. Surat izin akan dibawa besok..

Ketua Kelas : Baiklah, nanti aku sampaikan ke Guru piket.

Hayami : Dan satu hal lagi...

Ketua Kelas : Ada apa Hayami san? Katakan saja..

Hayami : Aku juga tidak dapat masuk sekolah.. tolong izinkan aku sekalian..

Ketua Kelas : Alasannya?

Hayami : hmm...

Ketua Kelas : ?

Hayami : Jangan salah sangka atau berpikir yang tidak-tidak ya, sebenarnya Chiba Kun sedang ditinggal dirumah sendiri oleh orang tuanya. Aku mau membantunya pergi ke dokter..

Ketua kelas : Ohhhhhhhhhhhhh... Aku mengerti... Aku mengerti... (emot blushing) (emot tersenyum)

Hayami : Tolong jangan berpikir yang tidak-tidak... Tolong...

Ketua Kelas : Ah, santai saja Hayami san... nanti aku sampaikan ke guru piket, dan jangan lupa besok bawa surat izin kalian berdua ya...

Hayami : Aku mengerti.. Terimakasih ketua..

Ketua Kelas : Sama-sama, salam untuk Chiba kun, "semoga cepat sembuh"...

Hayami : Nanti aku salam kan..

Ketua kelas : (emot blushing) (emot blushing) (emot blushing)

Hayami : STOP

Ketua kelas di kelas Hayami memang gadis yang cukup jahil. Namun, ia selalu mengerjakan tugasnya dengan baik, dan dapat dipercaya oleh teman-temannya. Hanya saja, dengan kejadian ini, Hayami bisa menebak kalau nantinya akan ada gosip baru lagi antara dirinya dengan Chiba. Namun, membantu Chiba yang sedang kesusahan adalah prioritas Hayami yang nomor satu. Semua gosip miring itu berusaha ia lupakan. Hayami kemudian segera turun ke bawah untuk berpamitan dengan ibunya.

"Aku berangkat bu,...!" Seru Hayami sambi mencium tangan ibunya

"Hati-hati sayang... salam untuk nak Chiba kun... Dan kalau demamnya tidak turun, antarkan dia ke dokter ya?"

"Aku mengerti bu.. " Kata Hayami sambil menutup pintu rumahnya.

Ia pun kemudian mengirimkan chat ke Chiba

Hayami : Tunggu sebentar, aku dalam perjalanan menuju rumahmu!

Chiba : Rin, tidak usah repot-repot...

Hayami : Sudah! Kamu menurut saja! (emot marah)

Chiba : aaaa... oke,,,

Hayami berlari-lari kecil karena ia ingin segera sampai ke rumah Chiba. Dia benar-benar mencemaskan keadaan rekannya tersebut. Memang dari luar Hayami terlihat sebagai seorang gadis yang pendiam dan jarang bercanda, namun jauh di hatinya, ia adalah gadis yang sangat peduli dengan keadaan teman-temannya. Apalagi dengan Chiba, rekannya inilah satu-satunya Pria yang paling bisa dia ajak berbicara secara terbuka. Karena mereka berdua punya sifat yang mirip.

Sekitar limabelas menit, Hayami sudah sampai ke rumah Chiba. Cukup cepat Hayami berlari, sehingga waktu tempuh menuju rumah Chiba yang biasanya dapat dicapai dalam dua puluh lima menit berjalan dapat dicapai dalam waktu setengahnya saja. Stamina anak-anak eks kelas 3E memang berbeda, karena dulu selama satu tahun penuh mereka dilatih untuk memaksimalkan kekuatan fisik masing-masing dalam menghadapi guru 'superhuman' mereka tersebut. Hayami pun segera menelfon Chiba untuk memberitahukan kalau dia sudah sampai di depan rumahnya.

"tuuut..."

"Halo, Rin.." terdengar suara lemas Chiba di balik telpon.

"Aku sudah berada di depan rumah mu. Kamu kuat membuka pintu tidak? Kalau tidak aku akan memanjat pohon untuk sampai ke kamarmu!" kata Hayami dengan cemas

"Waa, tunggu Rin, akan kubukakan pintu saja..."

Telfon dimatikan dan terdengar Chiba turun untuk membukakan pintu.

Cekrek! Pintu dibuka. Dan di dalam muncul Chiba yang bentuk nya agak tidak karuan karena demam tingginya.

"Rinka, kenapa kamu repot repot datang kemari?" Kata Chiba sambil mempersilahkan Hayami masuk.

"Jangan salah paham, aku cuma tidak mau sampai orang tua mu mencemaskanmu..! Ayo kuantar kamu ke kamarmu lagi..!" Hayami pun permisi masuk ke rumah Chiba

"Maaf ya hayami.. aku merepotkan mu lagi.."

"Sudah tidak perlu minta maaf, ayo segera kembali ke kamarmu.."

Chiba pun berjalan dengan sedikit sempoyongan karenan demam nya itu. Melihat keadaan rekannya itu, hayami dengan sigap merangkulnya, dan membantunya berjalan sampai ke kamarnya lagi. Chiba pun menurut saja kepada partnernya itu, dengan mukanya yang memerah karena malu, dan tentu saja karena demam itu. Dalam hati, Chiba sangat senang bisa didatangi oleh gadis yang selama ini sangat dekat dengannya itu.

Setelah itu, Mereka berdua sampai di kamar Chiba. Hayami langsung menyuruh Chiba untuk tidur dan menyelimutinya. Kemudian gadis itu mengecek suhu tubuh Chiba dengan termometer. Hasilnya? 38,8 derajat celcius. Tampaknya demam Chiba cukup parah.

"Yaampun, demam mu tinggi sekali.. kenapa kamu bisa sampai demam seperti ini?"

"Kemarin sepulang sekolah aku kehujanan. Kemudian semalam aku lembur main game, dan tidur lupa memakai selimut... Ceroboh sekali aku.."

"Huh! Kenapa disaat orang tuamu tidak ada kamu malah seenaknya sendiri? Sekarang tahu rasa kan..?

"Iya, aku menyesal.. Maaf ya Rin.."

"Tidak perlu minta maaf padaku... Cukup jangan kamu ulangi saja kecerobohan mu itu..! Oh ya, kamu belum sarapan kan?"

"Belum.."

Hayami kemudian membuka bekal makanan buatan ibunya tadi, sebotol termos berisi teh panas, dan obat-obatan yang dibawanya dari rumah tadi.

"Aku membawakan bekal makanan ini dari ibuku. Setelah makan nanti, minumlah obat ini.. ! " kata Hayami sambil menyodorkan obat dan kotak makan itu.

"Yaampun, terimakasih Rin, maaf aku bener-bener merepotkanmu.." Chiba hendak bangun dari tidurnya, tapi tampaknya ia terlalu lemah.

Muka Hayami ikut-ikutan memerah. Ia merasa kasihan melihat Chiba yang sedang lemah dan tidak kuat untuk bersandar di bersandar di bed itu. Dengan malu-malu Hayami memutuskan untuk membantunya makan.

"Kamu bersandar di bed saja, aku.. akan ... akan menyuapi mu.. "

Dengan perlahan Hayami membantu Chiba bersandar di bednya.

"Jangan berpikir macam-macam ya! Aku melakukan ini hanya karena kasihan padamu... !" Lanjut Hayami dengan style tsunderenya yang khas.

Muka Chiba tambah memerah, namun ia cuman bisa diam saja dan menurut pada gadis itu. Hayami pun sampai di titik ini juga sangat tersipu malu, tetapi ia lebih mementingkan untuk membantu rekannya tersebut. Hayami mulai menyuapi Chiba sedikit demi sedikit. Nampaknya, masakan buatan ibunya Hayami cocok di lidah Chiba. Makanan yang enak, ditambah disuapi oleh orang yang disukai, makin menambah kenikmatan makanan itu. Chiba pun tersenyum.

"Kenapa tersenyum?" tanya Hayami sambil menaikkan alis

"Masakan ibu mu memang enak sekali Rin, aku selalu suka.. "

Chiba memang sering bertukar lauk dengan Hayami di sekolah. Ia tahu betul kalau ibu Hayami sangat pintar memasak

"Tentu saja, jadi kamu harus menghabiskannya.. Oh ya, ibuku menitipkan salam untukmu.. 'semoga cepat sembuh' katanya!"

"Salamkan balik untuk beliau, 'terimakasih untuk semuanya ya' " Kata Chiba sambil mengunyah makananya.

Selama Hayami menyuapi Chiba, ia memalingkan pandanganya dari anak lelaki itu. Ia merasa malu dan canggung untuk bertatapan, tentu saja karena sifat tsunderenya tersebut. Duo Sniper ini memang sering berduaan ataupun pergi berkencan. Namun, menyuapi Chiba seperti ini baru pertama kali ini Hayami lakukan, dan hal ini benar-benar membutnya gemetaran.

Akan tetapi, dalam hati Hayami, ia benar-benar senang sanggup membantu anak lelaki yang perlahan mulai mengisi kekosongan di hatinya itu. Sementara bagi Chiba, ia sangat bahagia dan merasa beruntung bisa mendapatkan 'servis' dari gadis yang makin lama makin ia sukai itu.

Setelah suapan demi suapan akhirnya Chiba bisa memakan bekal itu sampai habis. Kemudian Hayami segera memberikan teh dan obat penurun panas yang dibawanya tadi. Chiba segera meminumnya.

"Oke, sekarang kamu harus tidur.. Tapi tunggu sebantar, aku akan membuatkan kompresan dulu, pinjam dapurnya ya.. !" kata Hayami sambil keluar dari kamar Chiba.

"Tentu saja Rin, Pakailah sesukamu.. " Chiba membenarkan posisi selimutnya.

Di dapur, Hayami mengisi air dalam sebuah baskom kecil, kemudian merendam sebuah handuk kompresan yang dia bawa dari rumah tadi. Setelah mendapat apa yang dibutuhkan, ia kembali ke kamar Chiba.

Didalam kamar, Chiba masih terbangun, memainkan smartphone nya.

"Kenapa kamu malah bermain Handphone? Istirahatlah..." kata Hayami sambil meletakkan baskom kompres di meja belajar Chiba

"Aku mau mengabari ketua kelas kalau aku tidak bisa masuk sekolah, dan juga sekalian mengizinkanmu untuk jam pertama dan kedua ini.." kata Chiba sambil mengetik di smartphonenya

"Tidak perlu, aku sudah mengirim pesan ke ketua kelas tadi.. aku sudah mengizinkan kita berdua karena tidak bisa masuk hari ini!... Oh ya, ketua kelas juga memberikan salam padamu, 'semoga cepat sembuh..' " kata Hayami sambil menyiapkan kompresannya.

"Apa? Kenapa kamu juga ikut tidak masuk? Kan kamu masih bisa menyusul jam ke tiga nanti Rin.."

"Aku mau menjagamu seharian disini! Kalau nanti setelah kamu minum obat demamnya tidak turun, aku bawa kamu ke rumah sakit!"

"Ehm,, tidak perlu repot-repot seperti itu.. Rinka"

"Jangan salah sangka, Ryuunosuke... aku tidak merasa kerepotan kok. Kalau aku yang ada diposisimu, kamu pasti akan melakukan hal yang sama kan?" kata Hayami sambil mengangkat kompresan dari dalam baskom.

"Yasudah kalau begitu sekali lagi terimakasih ya.. " kata Chiba dengan muka yang makin memerah.

"Sudah tidak perlu berterimakasih.. Maaf aku buka poni mu ya.. Ryuu!" Hayami beranjak mendekat ke sisi bed Chiba, hendak memasangkan kompresan yang ia siapkan barusan

Jantung Hayami kembali berdebar dengan kencang. Ia harus membuka poni rekannya tersebut, dan yang menantinya dibalik poni itu adalah sepasang mata yang selalu bisa membuat Hayami takjub dan tersihir. Dengan sedikit gemetaran, Hayami membuka poni Chiba untuk memasangkan kompresan itu ke dahi Chiba.

Poni itu terbuka, dan terlihatlah mata Chiba yang berwarna cokelat kemerahan tersebut. Pandangan mata mereka berdua saling bertemu. Hayami terpana melihatnya. Selama ini baru dua kali ini hayami melihat mata chiba secara seutuhnya. Pandangan mata itu begitu indah bagi Hayami. ia benar-benar suka pada tatapan mata Chiba, yang seakan mengandung sihir tersebut.

Baik Hayami maupun Chiba masih saling terpaku dan memandang satu sama lain. Sampai tiba-tiba Hayami memecah keheningan dengan berkata

"Indah sekali..."

Chiba pun bingung dengan perkataan itu, "A.. anu, apanya yang indah?"

Muka Hayami tambah memerah, dan dia segera menempelkan kompres ke dahi Chiba, kemudian mengembalikan poninya ke posisi semula.

"A... a... aaa... aku cuma salah ngomong tadi, tidak usah dipikirkan!" kata Hayami dengan terbata bata. Mukanya sudah sangat mirip dengan kulit tomat yang baru saja matang.

Chiba pun kembali menarik selimutnya dan memposisikan dirinya untuk tidur

"Oke, sekarang kamu harus tidur. Beristirahatlah. Aku pinjam novelmu itu ya, sambil menunggu demam mu turun..!" kata Hayami sambil menunjuk beberapa novel yang ada di rak buku Chiba

"Silahkan,,, anggap saja rumah sendiri.. Kalau mau makanan kecil, carilah di kulkas sana.." kata Chiba sambil bersiap tidur

"Sudah kamu jangan mencemaskanku. Aku sudah bawa makanan kecil sendiri.. Santai saja.. "

"Yasudah... selamat tidur, Rin..."

"S..Selamat tidur.."

Chiba pun tertidur dengan pulas setelah itu. Hayami duduk di depan meja belajar Chiba untuk membaca novel. Akan tetapi, ia tidak bisa fokus karena masih mengingat tatapan mata Chiba tadi. Sejak pertama kali melihatnya, ia sudah terpesona dengan mata Chiba yang tajam itu. Walaupun Chiba kurang bangga dengan pandangan matanya itu, tapi Hayami diam-diam sangat menyukainya. Masih segar dalam ingatannya, ketika ia meminta Chiba untuk menunjukkan kedua matanya padanya untuk pertama kali.

Ia mengingat bagaimana, dirinya terpana dengan betapa tajamnya dan dan indahnya mata Chiba itu. Seolah tatapan mata itu menyihir Hayami agar dirinya jatuh ke pelukan bocah berponi panjang tersebut. Namun, bukan hanya pandangan matanya saja yang membuat gadis tsundere ini mulai tergila-gila dengan rekannya itu. Ia selalu merasa sangat nyaman apabila bersama Chiba. Karena dengan anak lelaki itu dia bisa jujur, berbicara dengan apa adanya. Ia tidak pernah bisa sedekat itu pada anak lelaki lain. Dan perasaan macam ini baru ia rasakan pertama kali ini.

Sekitar dua jam berlalu. Hayami masih membaca novel, walaupun sudah mulai terkantuk kantuk. Kebetulan novel yang dipijamnya dari Chiba itu belum pernah dia baca, dan cukup menarik. Hayami cukup terlarut dalam cerita novel tersebut, dan enggan dikalahkan oleh rasa kantuk yang secara gigih membuatnya terus menguap itu.

Namun, dirinya kemudian teralihkan karena tiba-tiba Chiba mulai menggigau

"emm..."

"emmm, Rinka..."

Chiba menyebut nama rinka di dalam mimpinya. Rinka yang sedang membaca novel tersebut sontak kaget dan melihat ke arah Chiba. Mukanya memerah.

"iya, Rinka.."

"aku menyukaimu..."

"menyukaimu..."

Muka Hayami makin memerah mendengar kata-kata Chiba dalam mimpinya tersebut. Apa yang dimimpikan oleh Chiba? Kenapa dia bisa berkata seperti itu? Kenapa nama Hayami bisa disebut? Berbagai macam pertanyaan memenuhi kepala Hayami, dan dia jadi tidak fokus lagi membaca novel tersebut.

Hayami pun menggeleng-geleng kan kepalanya. Disatu sisi ia senang dengan apa yang diucapkan Chiba barusan. Namun disisi tsunderenya, hal itu membuatnya malu sekali.

Namun Hayami masih ingat dengan tugasnya, yaitu mengawasi Chiba. Gadis itu berniat untuk mengganti kompresan Chiba, karena tampaknya, kain kompresan tersebut sudah kering. Ia harus membuka poni rekannya itu lagi untuk mengambil kain kompresannya itu. Jantung Haymi kembali berdetak dengan kencang. Kini ia melihat wajah Chiba yang sedang terlelap.

"ketika tertidur mukanya terlihat lebih manis..." pikir Hayami dalam hati kecilnya.

Kemudian ia cepat cepat mengganti kompresnya, sambil mengecek suhu tubuh Chiba. dan ternyata, suhunya sudah mulai turun. Hayami pun tersenyum dengan lega.

Setelah mengganti kompresan itu, Hayami melanjutkan membaca novelnya. Namun ia pindah posisi ke samping bed Chiba. ia duduk diatas karpet sambil bersandar di bed. Sambil memakan makanan kecil yang ia bawa tadi, Hayami meneruskan membaca novelnya.

Namun, setelah beberapa saat berlalu kembali, kali ini tampaknya Hayami tidak dapat menahan kantuknya. Ia pun kemudian tertidur dengan posisi bersandar pada bed Chiba. kamar Chiba yang cukup nyaman dan bersih ini tampaknya membantunya untuk ketiduran lebih cepat.

Jam menunjukkan pukul 14.05. Hayami masih tertidur dengan pulas di samping bed. Kemudian, perlahan Chiba terbangun dari tidurnya. Ia melepaskan kompresan yang sudah kering di dahinya, lalu mengecek suhu tubuhnya. Ternyata suhu tubuhnya sudah berangsur normal, dan dia sudah merasa sangat baikan. Ia pun tersenyum dengan lega. Chiba pun menoleh ke meja belajarnya, mengira Hayami masih duduk di sana. Tetapi, ternyata Hayami sudah tidak disana. Ia baru sadar kalau Hayami ketiduran di samping bednya.

"Oalah.. dia malah ketiduran di sini.." Kata Chiba dalam hati

Chiba kemudian dengan pelan turun dari bednya. Ia tidak mau membangunkan Hayami yang tampak sangat pulas tidurnya itu. Chiba duduk bersila tepat di samping rekannya itu. Ia memperhatikannya dengan seksama. Rambut berwarna senjanya yang halus, kulitnya yang putih, dan bibirnya yang merona, membuat chiba terpaku selama beberapa saat. Ia seakan tidak bosan-bosan memandanginya.

"Kamu ini memang manis sekali Rin..." bisik Chiba pelan.

"Aku senang sekali hari ini kau mau merawatku sampai aku baikan.." tambahnya lagi.

Kemudian, tanpa menyia-nyiakan kesempatan, Chiba mengambil smartphonenya, dan mulai mengambil beberapa foto Hayami saat tertidur. Tidak lupa pula Chiba berselfie di dekat Hayami. Kapan lagi dia dapat kesempatan seperti ini... diam-diam Chiba jahil juga. Ia berencana menyimpan foto ini dengan sebaik-baiknya.

Chiba pun merasa lapar, dan dia memutuskan untuk memasak sesuatu untuk mereka berdua. Sebelum melangkah ke dapur, Chiba menyelimuti Hayami dulu agar ia tidak kedinginan. Kemudian Chiba pun berganti pakaian dengan baju yang lebih hangat. Ia tidak ingin kena demam lagi, sebab ia jadi demam seperti ini karena semalam lupa memakai selimut dan berganti baju yang hangat.

Di dapur, masih banyak bahan makanan yang bisa dimasak. Namun, Chiba memutuskan untuk membuat masakan yang simpel saja, yaitu nasi goreng. Memasak juga salah satu keahlian Chiba selain menembak dan bermain shogi. Sudah dari kecil ia sering membantu ibunya memasak. Ia juga selalu minta diajari memasak saat di dapur. Sampai saat ini Chiba sering memasak sendiri apabila ia ditinggal pergi oleh orang tuanya.

Sekitar lima belas menit, dua porsi nasi goreng sudah jadi, ia kemudian membawanya ke kamar. Di kamar, Hayami masih tertidur cukup pulas. Chiba tidak tega untuk membangunkannya. Ia kemudian meletakkan nasi goreng milik Hayami di meja belajar, dan Chiba pun makan duluan. Ia makan dengan lahap, setelah benar-benar sembuh dari demam nya.

Ketika Chiba sedang makan, tiba-tiba giliran Hayami yang menggigau. Chiba pun menghentikan makannya dan berniat untuk membangunkan Hayami.

"Aaahh.."

"Ryu.."

Chiba kaget karena namanya disebut dalam mimpinya.

"Ryuuu..no..."

"aku suka..."

"aku suka kamu..."

"uuhhh"

Muka Chiba kembali memerah, lebih merah dai saat dia demam tadi. Selain melihat Hayami yang sangat imut ketika tertidur, ia juga kaget dengan kata-kata yang diucapkan dalam mimpinya tersebut. Ia menggaruk-garuk kepalannya karena salah tingkah. Ada yang bilang kalau kata-kata yang dikeluarkan oleh orang yang menggigau adalah kejujuran. Chiba hanya bisa menelan ludahnya melihat Hayami yang mengeluarkan kata-kata yang cukup dinantinya itu.

Namun karena rasa lapar cukup menguasai Chiba, ia kemudian memutuskan untuk meneruskan makan siangnya. Ia makan dengan sangat lahap.

Sekitar limabelas menit, Chiba selesai makan. Ia pun turun untuk mencuci piringnya di dapur dan mencari minum. Setelah selesai mencuci piring, ia bergegas kembali ke kamarnya, dan di kamar, ia mendapati Hayami ternyata sudah terbangun, walau kelihatannya masih setengah saja terbangunnya.

"Rinka.." Chiba memanggilnya

"uum,, ryuu.. aku ketiduran ya..? maaf.." kata Hayami sambil mengucek matanya

"tidak apa-apa, oya. Terimakasih banyak ya, aku sudah sembuh.." kata Chiba sambil duduk bersila disamping Hayami

"benarkah? Syukurlah kalau begitu... Coba aku cek dulu ya" kata Hayami sambil tersenyum.

Hayami pun memastikan lagi dengan mengukur suhu tubuh Chiba dengan teremometer. Dan ternyata benar, demamnya sudah hilang

"Oya Rin, kamu sudah lapar kan? Makanlah dulu, aku sudah membuatkanmu makan siang, sepertinya belum begitu dingin.." kata Chiba sambil mengambilkan sepiring nasi goreng yang ia taruh di meja itu.

"yaampun, kenapa kamu malah repot-repot begitu? Makasih... " Hayami tersenyum sambil mengulurkan tangannya untuk mengambil makanannya itu.

Namun, Chiba malah menjauhkan piring itu dari jangkauan tangan Hayami.

"Aaa. Kamu tadi sudah menyuapi aku.. sekarang gantian ya... " kata Chiba sedikit menggoda

"a...a...aaa... apa kau bilang ? kenapa harus begitu?" muka Hayami kembali memerah

"Sudah pasrah saja Rin, anggap saja ini hutang budi ku... " Chiba pun mulai menyendok nasi goreng tersebut, dan mengarahkannya ke mulut Hayami.

"aaaa.. " kata Chiba

Gadis itu pun hanya bisa diam dan menuruti Chiba. Ia membuka mulutnya dan memakan nasi goreng itu dengan wajah yang memerah tidak karuan.

"Bagaimana? Enak kah?"

"E..Enak.. ini buatanmu sendiri? " tanya Hayami

"Tentu saja.. " kata Chiba sambil tersenyum

"A..aku sudah dengar kalau kamu bisa memasak. Tapi ini pertama kalinya aku merasakan masakanmu.."

"kamu menyukainya? " tanya Chiba sambil kembali menyodorkan suapan kedua

"Enak sekali.. "

" syukurlah kalau kamu suka.. " Chiba tersenyum

Lahapan demi lahapan, Hayami pun menghabiskan nasi goreng itu tanpa bersisa. Chiba kemudian menuangkan teh bekal tadi, dan memberikannya kepada Hayami. Mereka berdua pun kemudian ngemil dan minum teh, sambil berbincang bincang panjang lebar.

"Jadi, apa pendapatmu tentang kelas kita yang baru, Rin?

"Cukup menyenangkan... Teman-teman sangat baik.. Bagaimana kalau menurutmu?"

"Sama dengan pendapat mu.. sangat menyenangkan. Terlebih lagi, karena ada kamu di kelas.." kata Chiba dengan nada menggoda.

"M..memangnya, k..kenapa kalau ada aku?" Hayami mulai masuk ke perangkap godaan Chiba itu

"Yah, tentu saja bisa membuatku lebih bersemangat.. Melihat dirimu, aku bisa jadi lebih bersemangat Rin.."

"Ryuu, sudah cukup menggombalnya.."

"Ahahaha, aku serius.. "

"Huh! Dasar..!" Hayami memalingkan pandangannya dari Chiba dengan style tsunderenya.

Chiba tersenyum melihat rekannya itu tampak canggung karena ia goda terus dari tadi. Ketika sedang malu begini, wajah Hayami jadi terlihat makin manis, dan Chiba sangat menyukai itu.

"Oh iya, Ryuu, ada pelajaran yang tidak aku mengerti. Bisa kamu bantu aku sebentar?

"Oh, tentu saja.. Sekalian saja kita belajar bersama sekarang.."

Keduanya pun menghabiskan sore itu untuk belajar. Chiba mengajari Hayami pelajaran yang membutuhkan banyak perhitungan seperi Matematika dan Fisika, sedangkan Hayami gantian mengajarinya pelajaran yang banyak hafalanya seperti bahasa, dan Ilmu Sosial, dan Sejarah. Waktu berduan mereka sore ini mereka habiskan dengan baik, dan sedikit romantis.

Setelah sekian lama belajar, tak terasa jam sudah menunjukkan waktu pukul 17.55. langit mendung hari itu mulai berubah menjadi orange, dan Hayami yang sudah menghabiskan waktunya seharian di Rumah Chiba pun hendak pamit. Ia membereskan barang-barangnya dibantu oleh Chiba.

Setelah semua barangnya dibereskan, Hayami pamit untuk pulang. Chiba mengantarnya sampai ke pintu rumahnya

"Mau kuantar pulang rin? Ini sudah cukup sore lho.."

"Tidak perlu. Kamu segeralah mandi dan istirahat sana.."

"Kamu yakin? Aku sudah sembuh kok. Ayo kuantar saja.."

"Tidak perlu Ryuunosuke.. Aku bisa pulang sendiri.. oh ya, jangan lupa bawa sura izin mu ya besok..!"

"Hmm, baiklah kalau begitu.. "

"Yasudah, kalau begitu aku pulang dulu. Jangan tidur malam-malam, dan jangan lupa minum obat sekali lagi..!" kata hayami sambil beranjak mennggalkan Chiba.

"Tunggu Rinka!" Chiba sedikit berteriak, mencegah rekannya itu meninggalkanya. Hayami pun kemudian berbalik

"A..ada apa Ryuu?"

"Aku belum berterimakasih padamu.."

"Sudah tenang saja Ryuu, aku sama sekali tidak kerepotan kok"

Tiba-tiba, Kedua tangan chiba menggenggam tangan Hayami. Hayami yang menyaksikan kejadian itu, hanya bisa terdiam tanpa bisa menolak tangannya dipengang oleh rekannya tersebut.

"Terimakasi ya Rin, kamu benar-benar sangat membantuku hari ini. Aku berhutang padamu.."

"B..Baiklah R..Ryuu.. Senang bisa membantumu.. Kamu pasti akan melakukan hal yang sama kalau aku diposisimu kan?" Wajah Hayami memerah melihat rekannya itu berterimakasih dengan setulus hatinya.

"Iya tentu saja.. Salam juga untuk Ibumu ya, terimakasih sudah membawakanku bekal.."

"Iya,nanti aku sampaikan.."

"Hati-hati di perjalanan pulang ya, Rinka.."

"Tentu saja.. aku pulang dulu.. Ryuunosuke.."

Perlahan Chiba melepaskan genggaman tanganya itu, dan membiarkan Hayami pulang. Chiba melambaikan tanganya kepada rekannya itu, dan Hayami pun juga membalas lambaian tangannya itu. Chiba kemudian masuk ke rumahnya lagi, kemudian bersandar di belakang pintu. Mukanya benar-benar memerah. Selain karena ia baru saja menggengam tangan rekannya itu dengan erat, ia juga mengingat-ingat apa yang dikatakan Hayami ketika sedang menggigau tadi.

Sementara itu, Hayami yang berlari-lari kecil untuk pulang ke rumahnya itu, juga mengalami hal yang sama. Mukanya kembali memerah mengingat-ingat momen apa saja yang ia habiskan hari ini di rumah sahabatnya itu. Ia juga masih memikirkan perkataan Chiba yang tadi menggigau itu. Perasaanya campur aduk antara senang, bingung, dan malu.

Namun, satu hal yang jelas dirasakan oleh Hayami hari ini. Ia senang karena bisa membantu chiba sepenuhnya hari ini, dan ia juga lega karena Chiba telah sembuh dari sakitnya itu. Dan satu lagi, ia mulai sadar bahwa dirinya makin dekat dengan rekannya itu, dan tidak mau sampai kehilangannya. Perasan itu baru ia rasakan kali ini. Ia bertanya dalam hati. Apakah ini yang namanya perasaan suka?

...

NEXT CHAPTER

CHAPTER 4 – Pandangan

Terimakasih lagi kepada para pembaca, maaf update agak lama. Author Berterimakasih baaaanyak atas review dan tanggapannya dari pembaca sekalian. Bila pembaca sekalian menyukai fanfic ini, jangan lupa klik 'favorit' ya..hehehehe. Jangan bosan menunggu chapter-chapter selanjutnya ya, masih banyak kejutan yang tersimpan. Salam Sniper!