- Tittle : Our Love Story

- Chapter : 4

- Author : Tasha & Ririn

- Genre : Romantic & Friendship

- Ratting : T

- Timeline : Trio golden's forth year (yang telah aku hancurkan turnamen triwizard nya *digampar reader* XD)

..

Okay ..

_._._._._._._._._._._._._._ HAPPY READ, ENJOY ! _._._._._._._._._._._.

OUR LOVE STORY

Sudut Pandang Tasha (Tasha POV)

Ku pandangi kepingan salju yang turun perlahan lahan dari sudut jendela menara astronomi. Jam hampir menunjukan pukul 8, namun rasanya aku tak ingin beranjak dari tempat-ku duduk saat ini. Dibawah sana begitu banyak anak berwajah riang mengenakan jubah warna-warni mereka dan menggandeng lovely couple mereka untuk acara spesial malam ini. Mereka beruntung tentu, tak seperti aku yang kehilangan lovely couple-ku hanya karena ego-ku.

Jam berdentang dan aku tersentak. Sudah jam 8 tepat. Bagaimanapun aku telah berjanji dengan Neville dan aku tak ingin di cap sebagai seorang yang pembohong.

Kulangkahkan kaki-ku menuju Hufflepuff common room untuk mengganti jubah sekolah ini dengan jubah pink ber-kombinasi putih dengan kerah sanghai manis yang saat itu ku beli bersama Ririn dan Mione di Hogsmeade. Ririn. Oh iya. Aku sudah lama tidak mengobrol dengannya. Aku hanya tidak mood untuk bersosialisasi dengan siapapun akhir-akhir ini. Padahal dia yang selalu ada biasanya. dan kini aku mengabaikannya? Aku jadi merasa bersalah. Pasti dia sangat menghawatirkan-ku.

_._._._._._._._._._._._._._

Neville menggandeng tangan-ku dengan gugup dan melangkah melewati pintu Great Hall. Aku tak terlalu ingin memperhatikan suasana disana. Namun jubah jubah pesta para wizards tak bisa di hindari. Kami tentu sudah sangat terlambat karena sudah banyaknya anak yang mulai berlengang lenggong diatas lantai dansa. Mata-ku menjelajahi baris pertama di sebelah meja yang penuh dengan piring-piring. Disana ada Leoni. Dia mengenakan jubah satin ungu panjang. Rambut hitamnya yang mengkilap ia biarkan tergerai dipundaknya. Ia terlihat luar biasa cantik. Ia sedang asyik mengobrol dengan Harry, tersenyum dan melambai ramah ketika ia melihatku. Tatapannya agak terkesan terkejut. Tentusaja karena Neville yang menggandeng-ku malam ini.

Tak jauh dari Leoni dan Harry, aku melihat Tatha yang sedang asyik berdansa kecil dengan Ron jauh dari keramaian. Cukup cantik dengan gaun merah terangnya yang terlihat berkilau terkena cahaya lampu. Dia tidak melihatku datang karena masih asyik dengan Ron-nya.

Aku mengajak Neville duduk dibangku pojok dan menonton saja. Aku tak bisa menikmati ini semua.

Kulihat Risma sedang duduk sambil menikmati pumkin juice dengan lengan menggelayut di lengan Harry. Harry? Loh bukannya tadi Harry bersama Leoni? Ah. Mungkin tadi bukan Harry. Hanya mirip. Well, mata-ku memang sedikit swasta akhir-akhir ini.

Aku hanya duduk dan mulai memandangi hiruk pikuk para wizards yang terlihat sangat bahagia itu. Di ujung lantai dansa ada Surya yang sedang asyik menari tak jelas dengan Luna. Ia menengenakan jubah biru tua tebal. Aku tak tahu tarian apa itu. Ah. Seperti tidak tahu Luna saja.

Disebelah mereka, sepasang couple yang sedang menari berputar-putar dengan gerakan lambat terlihat sangat serasi. Siapa lagi. Hardie dan Ujie Azhari tentu saja. Mereka telihat sangat menikmatinya. Mereka yang paling terlihat sangat menyatu menurut-ku malam ini.

Tak jauh dari Hardie dan Ujie aku melihat Aurelista sedang bergoyang mengikuti irama bersama Fred. Atau mungkin George? Dan tak jauh dari mereka ada Dwie yang juga sedang asyik menggerakkan badan tak karuan barsama entah George atau Fred. Mereka terlihat sangat antusias.

Mata-ku beralih ke arah pasangan aneh yang sedang berjalan menuju ke arah-ku. Mione dan Yougie? Yougie? Bagaimana bisa?

"Hai Tasha!" sapa Mione dengan wajah kesal yang ketara sekali. Ia melambaikan tangannya seakan merasa kepanasan dan langsung pergi lagi untuk mengambil minuman sebelum aku sempat membalasa sapaannya. Aku hanya memandangnya bingung.

"ada apa dengannya?" tanyaku pada Yougie yang ikut bergabung duduk bersama-ku dan Neville. Dia hanya angkat bahu.

Di kerumunan anak-anak di dekat pintu, aku melihat Meira, sedang asyik berceloteh ria dengan seorang cowok. Masih tak percaya ku seka mata-ku yang mungkin berkabut karena lagi lagi mata-ku berkata cowok itu adalah Harry. Ya tuhan. Haruskah aku kembali ke dunia muggle-ku hanya untuk membeli kacamata? Tapi madam pomfrey pasti punya ramuan yang lebih manjur.

Ditengah-tengah lantai dansa aku melihat, yang sangat membuat-ku terkejut, Cedric sedang berdansa ria dengan Septhy. Septhy? Wah. Mungkin aku terlalu lama mengurung diri sehingga tak tahu kabar dari teman-teman yang lain. Tapi bagaimana dengan Mione? Ah tentu saja. Mione pasti menolak ajakan Ced.

Mata-ku mulai menjelajahi setiap sudut ruangan mencari seseorang. Tentusaja sesungguhnya aku tak ingin. Hanya saja...

Sepasang couple datang memasuki ruangan. Salah seorangnya berwajah familiar. Mengenakan jubah beludru hitam kelam yang terlihat sangat kontras dengan kulit putih pucatnya. Ia terlihat sangat menawan dengan jubah itu. Tangan Ila menggelayut manja di lengan Draco. Sesungguhnya ia terlihat cantik malam ini dengan balutan gaun perak panjang yang menyapu lantai. Namun itu tak dapat mengurangi rasa benci-ku padanya. Dia masih tetap saingan yang aku benci.

Cepat-cepat aku mengalihkan pandangan-ku menghindari rasa sakit yang tentunya akan segera menghampiri. Aku mencari pemandangan lain untuk mengalihkan. Namun sialnya mereka malah melangkahkan kaki menuju kesini.

"aku ingin minum" kutarik lengan Neville menuju ke meja bundar di ujung ruangan. Aku sebenarnya tak haus. Hanya ingin menghindari Draco.

"Hey Tasha" Harry menyapaku. Dan yang membuatku terkejut, dia bersama Metty, kakak kelas Hufflepuff-ku. Tadi Leoni, Risma, lalu Meira dan sekarang Metty? Apa apaan ini?

Kuseka mata-ku dengan ujung lengan jubahku, namun sosok Harry maupun Metty tidak berubah. Mungkin Aku benar-benar harus segera menghubungi madam Pomfrey.

Aku melihat Ririn bersama Risma berjalan lambat-lambat menuju kearah kami. Begitu melihatku Ririn mempercepat langkahnya dan tersenyum senang pada-ku. hak disepatunya yang cantik terlihat sangat tidak nyaman ketika ia berlari.

"Hai Tasha! kau datang!" ia memandangku dengan mata berbinar. Aku hanya tersenyum dan memandangnya. Risma terus menatapku dengan pandangan mengejek. Aku hanya membalas tatapannya dengan garang.

"er.. kau cantik" ujarku jujur pada Ririn. Apalagi jubah yang ia kenakan. Terlihat lebih indah jika dia yang mengenakannya. Jubah berwarna Pink cerah dengan model V neck berbahan ringan dan dihiasi dengan kerutan-kerutan yang manis dibagian depan. " Mana Oliver?" tanyaku ketika menyadari aku tak melihat couple tampan-nya itu.

"mengambilkan minum untuk-ku" jawabnya antusias dengan wajah memerah. Ririn begitu beruntung. Sangat. Dan aku pun harus ikut senang karenanya.

"You're gone" wajahnya berubah datar. Lebih ke arah sedih. Aku tahu yang ia maksudkan tapi aku tak ingin membahasnya malam ini. Ini malam mereka. Ririn dan Oliver. Aku tak ingin membuat semua menjadi berantakan.

"ayo kita berdansa" aku menarik tangan Neville menuju lantai dansa ketika Oliver datang membawa minuman untuk Ririn.

_._._._._._._._._._._._._._

Sudut Pandang Hermione (Hermione POV)

Yougie menungguku didepan kamar anak cewek dengan mulut yang tak bisa diam. Seandainya aku orang yang ego pasti aku membiarkannya menunggu semalaman dan mengunci diri disini. Sayangnya aku tak tega.

Kulangkahkan kakiku keluar dari kamar, Yougie memunggungiku dengan raut wajah kesal. Ia menoleh ketika aku datang.

"tumben kau cantik?" ejeknya dengan nyengir. Hanya kupelototi dia.

Yougie langsung mengajakku berdansa ketika banyak anak sudah mulai berdansa. kami datang terlambat jadi sudah pasti banyak anak yang sudah asyik berdansa. Sudah kutolak namun aku tetap kalah. Jadi kami berdansa dansa ringan di pinggir lantai dansa. Tanpa sengaja aku melihat ke arah sepasang couple yang sedang berdansa begitu mesra. Septhy sedang berdansa dengan seseorang. Hah? Jadi dengan dia? Mengapa aku jadi tak suka? Mengapa tau-tau perasaanku jadi tak suka pada Septhy? Apa aku... jangan-jangan...

"Yougie ayo kita pergi saja" aku menarik tangan Yougie ke tempat makanan merasa tak tahan melihat Cedric dan Septhy.

_._._._._._._._._._._._._._

Sudut Pandang Tasha

Aku berlari menjauhi keramaian. Aku duduk disebelah Fani.

"hai Fani. Sendirian?" tanyaku sekedar tuk basa basi.

"begitulah. Kau sendiri?"

"hanya bosan" jawabku sekenanya. Ia hanya tersenyum. Rambut hitamnya dipilin menyerupai sanggul anggun yang berkilau. Cukup cantik.

Lama aku melamun menatap para pasangan-pasangan didepan-ku sedang berbincang hingga aku menyadari suara tajam menyapa-ku. aku menoleh. Benar saja, Draco telah berdiri di samping-ku dengan Ila masih asik menggelayut manja dilengannya. Aku jadi sedikit iri padanya. Sedikit iri dan banyak benci.

Aku mengalihkan pandangan-ku darinya. Ingin sekali pergi dari sini tapi tak bisa. Ila akan semakin senang. Dan aku tak kan melakukan apapun yang dapat membuat Ila senang.

Kulirik Draco. Mata-nya terpaku pada Fani. "hai miss" sapanya ramah.

'apa?' batinku terkejut. Jangan.. jangan.. tak boleh dengan Fani! Dia seasrama dengan-ku dan dia baik!

Tiba-tiba air mata-ku mulai meleleh dikelopak mata. Cepat-cepat aku bangun dan berlari menjauhi mereka, meninggalkan Great hall. Aku berlari tersandung sandung menuju bukit didekat pondok sederhana Hagrid. Pemandangannya akan cukup menentramkan. Bintang-bintang itu akan menenangkan-ku. aku berlari melewati semak-semak kecil disamping kastil. Ada beberapa couple yang sedang asyik berdansa dibawah sinar bulan. Sekilas aku mengenali sepasang couple yang sedang berdansa sangat dekat dengan-ku. mereka hanya memandang-ku saat aku lewat.

Pasti mata-ku salah lagi.

Terlalu banyak air mata yang menggenang.

Pasti aku salah lihat lagi.

Karena aku melihat Sofie, teman baik-ku dari Ravenclaw, sedang berdansa kecil dengan... HARRY.

Namun aku sedang tak memperdulikan hal itu. Aku tak peduli jika mata-ku harus buta sekalipun. Jika kejadian ini tidak menimpaku, aku rela memberikan apa-pun. Bahkan nyawa-ku mungkin.

Aku menjatuhkan diri di rerumputan dingin yang tertimbun salju tipis. Kupandangi pondok Hagrid yang tertimbun lapisan salju mengingatkan-ku pada dongeng rumah jahe.

Draco? Apa benar.. jangan. Kumohon jangan. Tak boleh. Kenapa harus?

Kuhapus air mata yang sangat deras mengalir dipipi-ku dan membasahi bagian depan jubah pesta-ku. ini malam yang buruk. Malam terburuk yang pernah terjadi dalam hidup-ku.

'ksek ksek'

Aku menoleh. Ku kira aku mendengar suara sesuatu. Namun tak ada apa-apa.

'ksek ksek'

"siapa itu?!" aku mengambil tongkatku dari dalam jubah dan mengacungkannya "Lumos!"

"hey hey.. ini hanya aku.." suara itu menyahut bersama sosoknya yang tiba-tiba muncul. Tapi sialnya aku sudah mendahului dia untuk mundur dan melindungi diri, lupa bahwa aku ada di ujung bukit.

"aaaaa.." aku tergelincir menggelundung menuruni bukit. Salju terasa menembus jubah tipis-ku.

"Tashaaa" ku dengar Ila berteriak dari kejauhan. Kakinya yang panjang terdengar berlari cepat menuruni bukit...

Dan aku tak bisa mengingat apapun lagi.

_._._._._._._._._._._._._._

_._._._._._._._._._._._._._

A/N ::

engga bosen bosen buat ngomong ini = review please ~ XD