Terimakasih untuk reviewnya:

Dandeliona96: Aku sedikit bingung Al harus seperti apa. Jadi aku buat dia optimis lg buat ngedapetin Alisa hehe.

Aliooonggg: Makasih buat koreksinya ya. Aku usahain typonya jadi sedikit. Tetap koreksi ya kalo ada slah2 lg :D

Selamat Membaca Chapter 4

Scorpius Malfoy's POV

Aku selalu sarapan, makan siang, dan makan malam di meja Gryffindor sejak seminggu yang lalu, sejak pacaran dengan Drabble. Dengan terpaksa aku meninggalkan Al, meskipun dia sepertinya cuek dan tak masalah jika aku terus berada di meja Gryffindor. Sekarang dia sedang sibuk berbuat hal-hal yang aneh. Aku rasa kewarasan Al harus segera diperiksakan ke St. Mungo. Tindakannya yang terakhir-yang membuat seisi asrama Slytherin terpaku tak tahu harus menampilkan reaksi apa-belum mampu membuat Zabini bersimpati padanya. Al tak pernah berbuat seperti itu pada gadis-gadis, well, dia sama sepertiku, tak pernah bisa bersikap romantis. Apa yang dilakukan Al? sebaiknya tanyakan sendiri padanya. Aku-sebagai sahabatnya-malu jika harus mengingatnya.

Kembali pada masalahku. Aku selalu makan di meja Gryffindor untuk mengganggu Rose dan si Brengsek Westday. Meskipun aku dan Rose sudah lebih sering berbicara seperti biasa, aku tahu kalau dia selalu mendelik padaku setiap kali aku mengganggu waktunya dengan si Brengsek Westday. Si Brengsek Westday yang seorang ketua murid berhati baik dan tak pernah memiliki prasangka buruk apapun padaku selalu menyambut baik kedatanganku ke meja Gryffindor. Anak Hupplepuff sepertinya tak buruk juga, mereka lumayan baik hati. Apakah aku harus berhenti memanggilnya Brengsek? Ah tak perlu, nama itu sudah cocok untuknya. Sedangkan anak-anak Gryffindor-sang pemilik meja-selalu memandangku dengan pandangan tak suka. Mereka mungkin tahu jika anak Slytherin patut dicurigai, sebaik dan setampan apapun mereka haha.

"Rose, aku butuh saus," suruhku pada Rose yang sedang asik mengobrol dengan si Brengsek Westday di sampingnya.

Rose mendelik ke arahku. Tatapannya mengatakan 'Kau bisa ambil sendiri kan? Dasar pengganggu!'.

"Biar aku yang mengambilkannya untukmu, dear," sela Drabble memandangku pengertian, lalu mengulurkan tangannya untuk mengambil saus dan memberikannya padaku.

"Thanks, dear," ucapku datar dengan senyum yang dipaksakan.

Rose sudah sibuk lagi bicara dengan si Brengsek Westday yang duduk di hadapanku. Mereka sedang membicarakan sesuatu seperti rencana masa depan. Untung saja belum ada kata 'anak' yang kudengar. Awas saja kalau Westday membicarakan hal itu. Aku bisa meracuni makanan kesukaannya!

"Kau ingin melakukan apa setelah lulus Hogwarts, Malfoy?" Aku mendongak. Westday bertanya padaku. Rose memandangku malas.

Drabble yang berada di sebelahku tertarik ingin tahu,"Iya, dear. Kau ingin jadi apa? Meneruskan bisnis ayahmu? Pemain Quidditch profesional? Aku akan tetap mendukungmu, dear, asalkan bukan menjadi Auror. Aku bisa jantungan setiap kau pergi keluar rumah." Kate tertawa renyah."Auror adalah laki-laki terakhir yang ingin kunikahi."

Aku menatap Drabble. Kata-katanya membuatku bertambah semangat menjadi seorang Auror!

"Sayangnya dia akan menjadi Auror, Kate." Rose dengan sukarela menjawab pertanyaan dari Drabble. Suaranya terdengar seperti menahan geli.

Aku bisa melihat Drabble terpaku tak percaya.

Aku mengalihkan pandanganku ke Westday."Ya, aku akan jadi Auror."

"Auror juga tak apa-apa bagiku, dear,"ucap Drabble gugup.

Aku memberikannya senyuman-yang dipaksakan-untuk menenangkannya.

"Ah, jadi kau akan bekerja dengan Mr. Weasley, Malfoy," beritahu Westday

"Aku sudah tahu tanpa kau memberitahuku," jawabku datar."AKu sudah mengenal Weasley lebih dari kau, Westday."

"Eh." Sepertinya Westday tidak menduga dengan jawabanku yang sinis.

Rose mendelik padaku, tatapannya kali ini seperti mengatakan 'Dasar bodoh!'. Aku cuek. Siapa suruh mengatakan hal yang sudah kuketahui sejak dulu.

"Ah, well, kau benar, Malfoy. Kalian kan bersahabat." kata Westday berusaha untuk mengembalikkan suasana ke semula."Jadi Auror sepertinya juga mengasyikan. Tapi aku lebih suka berkelana. Aku akan melakukan perjalanan dan menulis beberapa buku tentang perjalannku. Setelah itu aku akan memikirkan untuk bekerja di kementerian."

Aku menatap Westday di hadapanku dengan malas. Memangnya siapa yang ingin tahu?

"Sepertinya kau terinspirasi dengan kisah Lockhart si pembohong itu, Westday?" Aku berhenti sejenak."Atau mungkin kau ingin jadi seperti dia?"

"Scorpius!" Rose menatapku tak suka."Sebaiknya kau diam saja."

"Tak apa-apa, Rose. Scorpius hanya bercanda." Si Brengsek Westday mencoba menenangkan Rose. Padahal wajahnya sendiri merah membara.

"Ya, aku hanya bercanda," ucapku santai lalu tertawa datar.

Rose mendelik lagi padaku. Ah, lama-lama matanya bisa kram kalau terus-menerus mendelik padaku.

Rose Weasley's POV

"Scorpius, sebaiknya kau makan di mejamu saja. Kau bukan anak Gryffindor!" kataku sebal pada laki-laki di sebelah kiriku. Aku, Scorpius, dan Al sedang dalam perjalanan menuju lapangan Quidditch. Ada pertandingan antara asrama Slytherin dan Ravenclaw sore ini. Meskipun aku sebal setengah mati dengan Scorpius karena dia selalu menggangguku dan Alex di meja makan, aku harus tetap menonton pertandingannya.

"Kalian kenapa lagi? Ribut soal apa sekarang?" Al mendecakkan lidah sambil geleng-geleng kepala."Aku tak mau konsentrasimu terganggu, Scorp."

"Aku tak mungkin terganggu, Al,"ucap Scorpius santai."Dan, dengar Rose. Aku makan di meja Gryffindor karena pacarku yang memintanya."

"Tapi kau selalu menggangguku, Scorp. Aku mau kalian jauh-jauh dariku dan Alex saat makan."

Scorpius hanya mengangkat bahu dan tersenyum meledek untuk menanggapi kesebalanku.

Ah, benar-benar menyebalkan. AKu sebal dengan Scorpius. Aku sebal dengan Kate. Bagaimana tak sebal kalau setiap makan bersama Alex selalu diganggu oleh kehadiran Scorpius dan Kate? Mereka berdua benar-benar membuatku muak. Selalu saja bersikap perhatian satu sama lain. Selalu menyebut satu sama lain dengan sebutan 'dear'. Memang mereka rusa?! Ah, abaikan.

"Ngomong-ngomong kenapa kau tak bersama Westday, Rose?" tanya Al.

"Alex sudah berada di lapangan Quidditch, Al. Dia menungguku di tribun Gryffindor." Aku tersenyum.

"Kenapa dia selalu bersama anak-anak Gryffindor? Apa dia terusir dari asramanya?" cibir Scorpius.

"Bukan urusanmu, Scorp. Urus saja pacarmu!"

"Ah, aku akan menangkap snitch untuknya," kata Scorpius, lalu melanjutkan,"Aku sudah berjanji padanya saat makan siang tadi."

"Snitch untuk Drabble? Sepertinya kau tambah tak waras saja, Scorp." Al tertawa.

"Well, Al. Kau bisa memasukkan quaffle sebanyak-banyaknya untuk Zabini," saran Scorpius mengabaikan ledekan Al.

"Eh, sepertinya bukan ide yang buruk," kata Al mempertimbangkan.

Aku mendengus. Nah, kewarasan mereka berdua harus segera diperiksakan ke St. Mungo. Aku tahu kalau mereka berdua takkan pernah melakukan hal-hal romantis atau sejenisnya untuk perempuan. Mereka bukan tipe laki-laki romantis! Dan soal menangkap snitch untuk Kate? Semoga Berneth Dawson yang menangkapnya duluan!

"Tak perlu mendengus, Rose," cibir Scorpius. "Apa kau ingin aku menangkapnya untukmu? Putus dulu dengan Westday!"

Dasar Scorpius! Anak yang satu ini benar-benar selalu membuatku sebal, jengkel, dan marah. Aku sudah bosan mendengar dia menyuruhku memutuskan Alex.

"Takkan pernah!" bentakku sebal, lalu aku berjalan cepat menuju lapangan Quidditch, meninggalkan mereka berdua di belakang.

Scorpius Malfoy's POV

"Kau membuatnya sebal lagi, Scorp," kata Al prihatin."Ayolah, kita harus cepat. Aku harus memimpin briefing."

Aku diam dan menyusul Al. Aku harus konsentrasi dengan pertandingan ini. Aku harus menangkap Snitch secepat mungkin. Aku harus menagabaikan Rose dan si Brengsek Westday untuk sementara. Kalau Dawson sampai menagkap Snitch duluan, bisa-bisa aku dibunuh Al.

Lapangan Quidditch sudah penuh oleh penonton saat kami memasuki lapangan. Aku bisa mendengar teriakan dan yel-yel dari penghuni asrama Slytherin. Panji-panji Slytherin juga berkibar dimana-mana. Ah, pertandingan memang selalu menyenangkan. Aku bisa merasakan euforia-nya.

Tim Quidditch kami diunggulkan untuk menang sore ini. Ini adalah Big Match antara Slytherin Sang Juara Bertahan dan Ravenclaw Yang Tak Terduga! Para proffesor duduk di podium. Denis Mclaggen, penghuni asrama Gryffindor duduk di samping Proffesor McGonnagall untuk mengomentari jalannya pertandingan. Aku menyisir tribun penonton, dan saat mataku terarah ke

tribun Gryffindor aku bisa melihat Drabble bersorak-sorak sambil mengibar-ngibarkan syal Slytherin milikku. AKu mendengus. Lalu pandanganku teralih pada Rose yang mengenakan syal Slytherin milik Al. Dia bersorak-sorak penuh semangat dengan Alex yang merangkul bahunya. Brengsek! Beraninya dia meletakkan tangannya di bahu Rose saat aku sedang bertanding! Tenang, tenang, tenang, Scorp. Jangan biarkan Si Brengsek Westday menghancurkan konsentrasimu. Aku mengatur napas.

Aku sedikit terperanjat saat seseorang menepuk bahuku. Ternyata Al.

"Konsentrasi, Scorp," katanya serius. Wajar saja dia mengatakan hal itu. Dia adalah kapten. Dan ini adalah pertandingan yang sangat penting."Abaikan mereka untuk saat ini."

Aku mengangguk. Al menepuk bahuku sekali lagi kemudian berjalan ke arah tengah lapangan.

Sebentar, apa tadi Al mengatakan 'Abaikan mereka untuk saat ini'? Apa dia tahu? Apa dia tahu yang aku pikirkan? Apa dia tahu apa yang menggangguku? Aku gelagapan sambil menatap punggungnya. Al tak mungkin tahu apa yang aku pikirkan kan?

"Ayo, Scorp." Druno mengajakku ke tengah lapangan. Pertandingan akan segera dimulai.

Suara penonton membahana saat Al menangkap Quaffle yang dilemparkan Madam Hoch. Aku langsung terbang mencari Snitch. Sangat susah menemukan Snitch yang berwarna emas berkilaun apalagi terbangnya sangat cepat. Dan memang benar kata Al, aku harus tetap menjaga konsentrasiku agar cepat mendapatkan Snitch.

Aku bisa mendengar sorak-sorai penonton saat Al sepertinya berhasil memasukkan Quaffle ke dalam gawang Ravenclaw. Yel-yel dari penghuni asrama Slytherin membahana. Aku tetap terbang mengitari lapangan untuk mencari Snitch. Apa aku harus memberi Al kesempatan untuk memasukkan Quaffle sebanyak-banyaknya ke gawang Ravenclaw? Sepertinya dia ingin terlihat hebat juga di mata Zabini. Oke, baiklah. Aku akan bersantai dulu sambil mengawasi Dawson. Sepertinya dia juga belum menemukan keberadaan Snitch.

Sepertinya pertandingan sudah berjalan sekitar 20 menit. Aku memandang papan skor. Slytherin unggul 70 poin dari Ravenclaw. Ah, aku harus mulai mencari Snitch.

"Scorpius, awas!" Aku melihat Bludger menuju ke arahku. Aku menghindar secepat yang aku bisa ke arah kanan. Bludgers melewatiku dan dipukulkan Druno kearah salah satu anak Ravenclaw. Ben Trevor. Sepertinya dia yang mengarahkan Bludger kearahku. Dan Bludgers sukses membuat dia bergantungan pada sapunya dengan satu tangan.

Fiuh. Aku menghela napas lega. Hampir saja nyawaku terancam. Bukan karena jatuh dari sapu tapi karena Al bisa membunuhku. Aku belum menemukan Snitch dan malah hampir terhantam Bludgers!

"Scorpius, apa yang kau lakukan?! Cepat cari Snitch!" Teriak Al marah. Sepertinya dia menyadari kejadian tadi.

Aku langsung menambah kecepatan dan mengitari lapangan. Nyawaku dipertaruhkan! Aku melihat Dawson yang sepertinya masih belum menemukan keberadaan Snitch di dekat gawang Gryffindor. Ah, dimana Snitch itu? Aku akan mencari di terowongan bawah. Ah, aku merasakan kepakan sayap Snitch di sebelah kiriku. Aku menoleh dan bisa melihat Snitch terbang cepat melewatiku. Baiklah, Ayo beraksi! Aku menambah kecepatan. Snitch terbang sangat cepat. Dari belakang aku bisa mendengar suara sapu terbang mendekatiku. Ah, Dawson melihatku menemukan Snitch! Seketika penonton bersorak-sorai mengetahui kami sedang mengejar Snitch.

Snitch terbang mendekati podium kemudian terbang ke atas. Aku mengejarnya. Dawson masih berada di belakangku. Aku mengulurkan tanganku ke depan. Mencoba mencapai Snitch yang tinggal beberapa senti dari tanganku. Snitch mengelak dan meluncur ke bawah. Ke tengah lapangan. Kemudian naik lagi. Snitch benar-benar mempermainkanku. Sorak sorai bertambah hebat. Dawson sepertinya menambah kecepatannya. Aku harus cepat! Aku berhasil menyusul Snitch dan mengulurkan tanganku ke depan lagi. Ayolah! Aku mohon.

Sorak sorai penonton membahana. AKu berhasil menangkap Snitch! Aku memamerkan Snitch ke udara, mengarahkan mata ke tribun Gryffindor, terpaku melihat Rose yang sedang berciuman dengan si Brengsek Westday, sekilas mendengar seseorang mengatakan 'awas!', dan aku merasakan tubuhku terjun cepat ke bawah lalu berdebam keras di tanah. Kemudian semuanya berubah gelap.

Rose Weasley's POV

Aku tak merasakan apa-apa selain bibir Alex dibibirku dan tangannya yang berada di bahu dan pingggangku. Lalu seseorang menyenggol bahuku, dan ciuman kami terhenti. Ah, benar-benar mengganggu! Alex tersenyum padaku. Aku membalasnya dengan senyuman yang lebih cerah. Kemudian aku tersadar dengan apa yang sedang terjadi saat anak-anak mulai berebut turun ke tengah lapangan. Aku bingunng. Alex juga terlihat bingung. Ada apa? Apa yang terjadi? Slytherin menang kan? Scorpius sudah menangkap Snitch nya kan?

"Sepertinya dia terluka parah." Suara-suara terdengar tak beraturan. Apa yang sedang terjadi?

Aku turun dari tribun dengan Alex. Alex bertanya apa yang terjadi pada anak kelas 3 Gryffindor.

"Scorpius jatuh dari sapu. Terhantam Bludgers. Terluka sangat parah," jawab anak itu tak beraturan.

Aku terpaku. Apa yang baru saja aku dengar adalah nama Scorpius? Scorpius terhantam Bludgers? Bukankah dia menangkap Snitch?

"Rose, Rose, Kau tak apa-apa?" Aku merasakan lengan Alex menopang bahuku. Aku memang merasa hampir jatuh, Scorpius terluka sangat parah?

"Rose, Rose."

"Kita harus ke Hospital Wings." Aku bisa merasakan sendiri bahwa suaraku bergetar.

Bagaimana mungkin Scorpius terhantam Bludger dan terjatuh dari sapu? Dia menangkap Snitch, bukan terhantam Bludger!

Hospital Wings ramai. Beberapa anggota tim Slytherin dan penghuni asrama Slytherin ada di depan pintu masuk. Wajah semua orang terlihat cemas. Aku merangsek masuk ke dalam rumah sakit. Alex membiarkanku. Berjalan perlahan menghampiri tempat tidur yang dikerumuni banyak orang. Lalu terpaku beberapa meter sebelum mencapai tempat tidur. Aku takut.

"Aku akan mengobatinya! Jadi semuanya pergi! Aku tak bisa bekerja jika kalian berkumpul disini." Suara madam Pomfrey membahana."Cepat!"

Anak-anak menjauh dari tempat tidur. Madam Pomfrey menutup tirai. Aku melihat Al. Pakaian Quidditchnya penuh dengan darah. Benar-benar darah!

"Rose." Al menyadari keberadaanku. Dia menuju kearahku. Kemudian menopang bahuku dengan lengannya."Ayo kita keluar.

Scorpius akan baik-baik saja."

"Tapi, Al.." Aku tak tahu harus menagatkan apa. Apa yang terjadi? Apa yang disana benar-benar Scorpius?

Aku mencoba menjauh dari Al."Aku harus melihat Scorpius, Al. Aku harus disana. Aku harus menemaninya."

Aku merasa diriku benar-benar kacau.

Al tetap menahanku dan membawaku keluar rumah sakit."Rose, tenanglah. Kita akan kesini lagi nanti. Madam Pomfrey sedang mengobati Scorpius. Dia akan baik-baik saja."

"Dia terluka parah Al." Aku terisak.

"Aku tahu. Maka dari itu kita harus membiarkan Madam Pomfrey bekerja, Rose. Tenangkan dirimu."

Kami sampai di luar rumah sakit. Al langsung menutup pintu. Di luar rumah sakit masih ada beberapa siswa dengan wajah khawatir. Aku melihat Kate yang sepertinya sedang menangis di pelukan teman-teman sekamarku. Aku terduduk lesu. Al juga terduduk lesu di sebelahku. Kenapa aku sampai tidak tahu kalau Scorpius jatuh? Seberapa parah dia terluka?

"Malfoy akan baik-baik saja, Rose." Suara Alex!

Aku mendongak. Alex berjongkok di depanku kemudian memelukku. Isakanku makin kencang.