kazuka : yippie!! akhirnya bisa apdet!
yukina : nih orang nekat, ngantuk2-an tetep jalan ngetiknya!!
kazuka : abisnya mau gimana lagi? udah terlanjur niat mau publish hari Sabtu... soalnya sabtu tuh kan rada senggang..... Lagipula aku baru nemukan cara untuk menghilangkan kantuk untuk mengetik secara seketika!
yukina : ada ya? gimana?
kazuka : aha! malam itu, kazu kan lagi ngatuk2nya, terus udah niatan tidur dulu. Tapi iseng-iseng buka fic2 Bleach English yang kependam di kurophie-chan, dan waktu itu saia baca fic yang ada adegan kissu-nya, tau-tau udah melek lebar!! Hwahahahaha!!!!!!!!!
yukina : te.... ternyata otak lo.... udah tercemar.... udah bukan otak anak kecil yang polos lagi!!
kazuka : eh, enak aja! Itu cuma rate T-an aja loo!! Udah, kelamaan talkshow plus resep gaje ala saia!! Have a happy reading! Plus don't forget to review this chapter!!
****I'm Not Yuri!****
Chapter 4
BLEACH © TITE KUBO
I'm Not Yuri! © kazuka-ichirunatsu23
"Lho? Lantas Yoruichi-sensei itu siapa kalau bukan uke atau seme-mu?" Ggio masih belum melepaskan nada menggoda dari intonasi bicara jahilnya.
Soi Fon menggeram kesal. Orang ini bukan orang yang baik, pikirnya. Ia cuma berbalik.
"Bukan urusanmu. Kau tak perlu tahu."
"Eh, ngambek ya?"
Soi Fon tak menjawab, dan lebih memilih pergi menjauh.
"Lho? Maaf deh, Soi Fon...."
Soi Fon berhenti melangkah mendengar namanya disebut dengan benar. Setidaknya ia bisa sedikit mengampuni pemuda itu, karena Ggio telah minta maaf.
"Huuh... Baiklah. Tapi jangan kau tanya dulu soal Yoruichi-sensei...."
"Oh, baik, baik.... Yuri-chan...."
"Apa kau bilang??!" Soi Fon kembali ke titik kemarahannya.
"Eh, ampun!" Ggio kabur dengan langkah seribunya.
Soi Fon tak ingin mengejarnya. Ia pikir itu tak perlu. Ia ingin sendiri dulu.
"Yoruichi-sensei...." katanya.
Ah, bisakah ada waktu dimana ia tak terus-terusan menyebut nama itu?
Setidaknya sedikit menepis alasan adanya nama 'yuri-chan'.
Tapi, sekali lagi, Yoruichi-sensei adalah poros cita-citanya, tumpuan ia untuk tetap berdiri, konsisten dan eksis di mimpi masa depannya.
xxx
Hari ini hari Sabtu. Lebih dari separuh siswa di sekolah ini menyorak-nyorakkan yel-yel kebahagiaan weekend. Siapa yang tidak senang akan kedatangan weekend? Pelepas lelah selama seminggu?
Soi Fon juga menyukainya. Weekend adalah tanda dimana ia bisa melakukan apapun yang ia suka, kalau perlu sampai weekend itu selesai dan hari baru dimulai kembali. Apalagi kalau bukan.... Lari sepuasnya.
Konyol? Ini bukan lelucon, setidaknya itu adalah alasan Soi Fon bagi yang mencemoohnya. Kita pasti selalu ingin mengejar mimpi kita, kan?
Dan mimpi setiap orang itu berbeda-beda, tergantung dari kepribadian, bakat dan usahanya.
Sekarang Soi Fon tengah berusaha mengasah poin ketiga dari keterangan di atas, sedang mengembangkan poin keduanya, dan sedang membentuk yang pertama.
Kepribadian?
Sepertinya agak berubah karena Yoruichi pergi meninggalkannya. Ia sekarang jadi seorang penyendiri, menjauh dari pergaulan, jarang berbicara, dan tentunya jadi sangat kurang berinteraksi dengan teman-temannya.
Mungkin ia butuh seseorang untuk membentuk lagi kepribadiannya yang baru. Yang lebih bersemangat, yang optimis, mengingat belakangan ini ia malah jadi sedikit pesimis akan masa depan.
Karena alasan yang sudah tersebutkan dan jelas-jelas diterangkan.
Bahwa ia perlu seorang partner, seorang yang mendukungnya dari belakang, atau mau berusaha bersamanya.
Rival pun tak apa, asalkan ada yang peduli akan dirinya yang sedang terpojok dalam sudut kesendirian tanpa api semangat yang membakar asanya.
Tas birunya ia letakkan begitu saja di atas batu, menyisakan bunyi gemeretak karena buku-buku di dalamnya. Ah, sekarang waktunya, ia akan maju, mengejar rekor Yoruichi. Baju seragamnya telah ia ganti dengan baju yang biasa ia pakai sehari-hari, penanda bahwa ia akan lama berada di sini.
Lama juga ia terus berlatih, terus hingga kakinya tak lagi sanggup. Sudahlah, waktu satu jam mungkin cukup untuk mengambil istirahat sejenak, pikirnya. Ia segera menuju ke arah tasnya, mencari sesuatu yang dapat melepaskan dahaganya.
"Ha? Tidak ada? Kemana air minumku?" tanyanya seorang diri, karena tak ada yang akan menjawabnya. Penghuni sekolah yang tersisa hanya dirinya seorang saat ini. Buku-bukunya sampai berhamburan tidak karuan karena ia membongkar tasnya sedemikian rupa.
"Ini yang kau cari?" lagi-lagi suara itu menyahut dari balik pohon.
"Kau?? Sedang apa kau disini?" Soi Fon lagi-lagi memasang wajah kesalnya pada laki-laki yang dengan cuek bersandar di depannya, memegang sebuah botol air mineral.
"Sedang berdiri." katanya, lalu membuka tutup botol itu dan meminumnya, "Dan barusan aku sedang minum."
BLETAK!
Sebuah batu kecil dengan sukses mendarat di dahi Ggio, sebagai wujud dari kekesalan Soi Fon yang mulai memuncak.
"Sakit, yuri-chan...."
"HA? Apa kau bilang?"
"Tidak. Bukan sesuatu yang penting untukmu." Ggio melempar botol minum itu pada Soi Fon, lalu beranjak dan duduk di depan Soi Fon.
Soi Fon dengan tangkas minum air dari botol yang tinggal separuh itu, baru mengeluarkan suaranya. "Kau tidak pulang?" tanyanya, mengambil posisi tepat di sebelah Ggio.
"Harusnya aku yang bertanya. Kau itu perempuan. Masa masih belum pulang juga? Hari ini kan Sabtu? Mana kau sendirian lagi....."
"Jangan samakan aku seperti anak-anak lainnya yang sibuk dengan weekend mereka. Aku bukan mereka. Aku lebih senang disini...."
"Memang apa istimewanya tempat ini?" Ggio memandang sekeliling. Di matanya tidak ada sesuatu yang istimewa, hanyalah lapangan dengan barisan pohon yang memagarinya.
"Bukan di pemandangannya. Ini tempatku berlatih, dan membuatku selalu mengingat.... Yoruichi-sensei...." Soi Fon menerawang. Tak ada yang tahu apa yang sedang melintas di pikirannya.
"Nah!! Yoruichi-sensei lagi, kan!! Dasar yuri-chan!"
"Berani mengatakannya satu kali lagi?" Soi Fon menggeram dengan tatapan menyeramkannya.
"Ti... Tidak.... Maaf." Ggio menyerah. Ia memang tipikal orang yang tidak mau melawan perempuan secara berlebihan.
"Kau sendiri? Kenapa masih belum pulang? Orang tua dirumahmu bagaimana?"
"Hahaa.... Orang tua? Aku tidak peduli."
"Kenapa bisa begitu?" Soi Fon mulai tertarik dengan arah pembicaraan ini.
"Aku tidak tinggal dengan ayah dan ibuku, tapi dengan.... Ah, sudahlah, malas aku menceritakan mereka." ekspresi Ggio berubah kesal. Berbalikan 180 derajat dengan sikap usilnya tadi.
"Oh, maaf..... Bukan maksudku menyinggung....."
"Ha? Kenapa kau yang minta maaf? Hahaha!!!" Ggio tertawa lepas. Soi Fon hanya tersenyum kecil.
"Kau ternyata bisa senyum juga ya...." sahut Ggio, memandang ke Soi Fon yang masih menyunggingkan senyumnya.
"Eh?" Soi Fon baru sadar. "Ke.... Kenapa memangnya? Tidak boleh?"
"Bukan! Memangnya ada yang melarangmu senyum. Baru kali ini aku melihatmu tersenyum begitu. Lebih manis daripada biasanya kan?" Ggio balas tersenyum.
"Hn....." Soi Fon berbalik, beberapa detik setelah menyadari kalau ia sedang tersipu, malu menunjukkannya pada Ggio.
"Kau tidak pulang? Harusnya kau yang dikhawatirkan orang tuamu, apalagi kau perempuan."
"Aku tidak punya orang tua. Aku tinggal sendiri. Daripada aku bosan di rumah, lebih baik aku disini."
"Kau juga.... Ah, maaf, aku tidak bermaksud membuatmu seperti ini. Aku tidak tahu kalau kau tidak punya orang tua...."
"Ti.... Tidak apa-apa...."
Ggio terdiam. Ia memandang wajah Soi Fon lekat-lekat. Ia dapat melihat butiran air mata yang menggenang di pelupuk matanya.
".... Karena itulah, aku menyayangi Yoruichi-sensei, seperti orang tuaku sendiri. Sebab cuma Yoruichi-sensei-lah yang mengerti aku.... Ah, kenapa aku jadi perempuan cengeng begini?!" Soi Fon mengusap matanya yang mulai tak bisa menahan air mata tadi.
"Nih...." Ggio menyerahkan selembar sapu tangan.
"Ah, te.... Terima kasih." Soi Fon meraihnya, dan menyeka wajahnya.
Ggio tersenyum. Jadi perempuan ini dekat dengan Yoruichi karena ia merasa Yoruichi adalah orang tuanya, bukan sesuatu yang macam-macam.... pikirnya.
"Yosh! Bukan waktunya untuk santai lagi! Aku harus mengejar rekor Yoruichi-sensei. Soi Fon berdiri, membersihkan celananya yang agak kotor.
Ggio cuma duduk bertopang dagu memperhatikan Soi Fon yang sedang berlatih. Menunggu hingga Soi Fon berbalik untuk istirahat lagi.
"Rekor waktu larimu cuma segitu? Lambat sekali!"
"Memangnya kau berapa? Apa kau bisa lebih cepat dariku?"
"Bagaimana kalau kita tanding! Siapa yang paling cepat keluar dari lapangan ini, menang! Dan yang kalah, harus traktir makan siang."
"Jangan-jangan kau.... Suka lari juga?"
Ggio mengangguk. "Inilah yang kukatakan dulu. Aku suka olahraga ini."
Soi Fon tersenyum cerah. Harapannya mulai terkabul sedikit demi sedikit. Ggio juga sama dengannya?
"Bagaimana? Setuju?" Ggio mengulurkan tangannya.
"Baik." Soi Fon menyambut uluran tangan itu dengan senyuman ambisiusnya yang biasa.
"Siap?" tanya Ggio yang sudah ambil kuda-kuda untuk lari.
"Ya. Dalam hitungan ketiga...."
"Satu.... Dua.... Tiga!" Ggio mengambil aba-aba.
Mereka berdua berlari, melintasi 'hutan' kecil yang membatasi lapangan itu.
"Heh! Kau lamban juga, ya!" kata Ggio melihat Soi Fon yang lumayan jauh tertinggal darinya.
"Tentu saja, bodoh! Aku sudah agak kelelahan karena tadi!!"
Ggio mengulurkan lidahnya, bermaksud mengejek. Tapi...
"Yuri-chan!! Awas, ada dahan di depanmu!!" ia malah bergerak berbalik, melihat Soi Fon yang sedang tidak awas dengan keadaan sekitarnya, dan sekian detik lagi, kalau ia masih belum sadar, ia akan menabrak dahan pohon yang cukup besar.
DUAKK!
Suara jatuh terdengar. Dua orang itu tengah bertatapan heran. Tidak bereaksi apa-apa hingga salah satunya sadar dengan posisi mereka saat ini.
Soi Fon terjatuh ke tanah, dengan Ggio.....
.... Di atasnya. Dengan jarak wajah yang cuma sejengkal satu sama lain, dan tangan Ggio masih berposisi di bahu Soi Fon setelah mendorongnya agar tidak kena dahan tadi.
"Minggir!! Mau apa kau?!" hardik Soi Fon. Kakinya sudah bereaksi untuk menendang, untungnya Ggio telah mengantisipasi untuk berdiri, menghindarinya.
"Eh, sudah untung kau kutolong! Kalau kau menabraknya, bagaimana? Sakitnya tidak main-main tahu!" Ggio menunjuk-nunjuk ke dahan tak bersalah itu.
"Cih...." Soi Fon berdiri, mengibas-ngibaskan bajunya yang kotor karena terjatuh barusan. "Terima kasih." ucapnya pelan. Ia tak peduli Ggio mendengarnya atau tidak.
Ggio tersenyum. "Tidak ada yang sakit, kan?"
Sedetik kemudian wajah Soi Fon tampak sedikit memerah. Ah, pertanyaan ini, pertanyaan yang terlalu 'tidak biasa' baginya yang memang belum pernah mendapatkan pertanyaan 'agak istimewa' tersebut. Yah, bisa dimaklumi, karena memang ia jarang bergaul, terlebih dengan laki-laki.
Soi Fon menggeleng cepat. "Aku tidak apa-apa."
Ggio berjalan mendekat, mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.
"Nih, tanganmu lecet. Supaya tidak berbahaya...." katanya lembut, menempelkan selembar plester luka pada bagian kulit Soi Fon yang lecet.
Soi Fon cuma diam. Ia tak tahu harus bereaksi seperti apa, karena ia sendiri pun tidak tahu sedang merasakan apa saat ini. Antara senang, jantung berdegup tak karuan, dan sedikit penaikan suhu pada wajahnya, saat merasakan jemari Ggio yang menyentuhnya dengan lembut. Ini terasa begitu.... Tidak biasa.....
"Terima kasih." ucap Soi Fon menarik tangannya, dan masih belum berani menatap seseorang di depannya itu.
"Hn.... Yuri-chan, kau merasakan sesuatu tidak?"
"Eh?" Soi Fon lagi-lagi terkejut. Ah, ia rasa wajahnya lagi-lagi memerah.
"Maksudku.... Apa kau tidak lapar? Sudah jam 2 siang....."
"Lapar?" Aha, Soi Fon telah terjebak di pertanyaan yang sempat membuatnya memerah. Dikira bertanya tentang apa.....
"Iya! Hn.... Mau makan bersamaku?"
"Dimana?"
"Dekat kok. Ayo!" Ggio mengulurkan tangannya.
Soi Fon berpikir sejenak. "Bolehlah." katanya, sambil menyambut uluran tangan itu. Yah, perutnya pun telah mengisyaratkan rasa lapar. Ia baru ingat, sejak tadi pagi, sedikit sekali makanan yang ia masukkan ke lambungnya sendiri. Tidak ada salahnya, kan?
Mereka lalu berjalan keluar lingkungan sekolah. Kebetulan sekolah itu terletak di tengah kota, jadi dekat dengan kafe, restoran, dan tempat-tempat makan lainnya.
Soi Fon dan Ggio masuk, dan disambut oleh seorang waitress, kafe yang satu ini memang agak berbeda dari kafe biasa, begitu masuk, seorang waitress ramah pun segera menyerahkan selembar kertas berisikan daftar menu.
"Selamat datang.... Wah, bersama pacarnya ya? Nah, silahkan, ini daftar menunya. Dan silahkan pilih tempat duduk yang nyaman." waitress itu tersenyum simpul.
"Pa.... Pacar?" tanya Soi Fon. Dan baru saja ia sadar penyebab ia dikatai kekasih Ggio barusan....
Mereka dengan anehnya tidak sadar bahwa dari sekolah hingga tempat ini, berjalan dengan berpegangan tangan! Soi Fon buru-buru melepas genggaman tangan Ggio, lalu berpaling malu. Sementara waitress itu cuma tersenyum kecil.
"Hei, yuri-chan! Mau sampai kapan mau berdiri di situ? Ayo, sini!" panggil Ggio yang tahu-tahu sudah mengambil tempat duduk di dekat jendela. Soi Fon berjalan geram ke arahnya.
"Jangan panggil aku dengan nama itu di tengah umum seperti ini! Memalukan!!" Soi Fon menggebrak meja, namun tidak dengan keras, ia takut dirinya dipermalukan untuk kedua kalinya.
Ggio cuma tersenyum jahil seperti biasa. "Kalau kau mau duduk, akan kutraktir kau. Tapi jika kau marah padaku, silahkan pulang dan berlatih sepuasmu sendirian."
Soi Fon mendesah. Sudahlah, ia tak punya pilihan yang lebih baik. Ia lebih memilih duduk dan ditraktir, kebetulan, uang saku yang ia dapatkan dari saudaranya sudah menipis.
"Kau mau apa?" tanya Ggio. Wajahnya tertutup kertas daftar menu.
"Apa sajalah." Soi Fon membuang muka. Ia lebih memilih melihat ke televisi kafe daripada memperhatikan orang di depannya.
"Kau masih marah?"
"Siapa yang tidak marah kalau dipermalukan seperti itu?"
Ggio terdiam. "Baiklah, aku minta maaf, Soi Fon. Aku berjanji tak akan mempermalukanmu lagi di tengah umum seperti ini."
Soi Fon menghela nafas. "Baik. Awas kalau hal ini sampai terjadi dua kali."
Ggio mengangguk sembari tersenyum. "Sebagai permintaan maafku, kau boleh pesan apapun yang kau mau."
"Benar?"
"Tentu saja."
Soi Fon dengan tangkas merebut daftar menu itu, dan dalam hitungan detik ia pun memanggi seorang waitress.
"Saya mau ini.... Ini.... ini dan ini...." kata Soi Fon menunjukkan beberapa gambar menu sekaligus. Waitress itu pun mencatatnya.
"Dan kau, mau apa?" tawar Soi Fon.
"Hn.... Terserahlah. Sama dengan salah satu menu yang kau pesan pun boleh."
"Baiklah, menu yang saya sebutkan terakhir, dua porsi ya! Kalau minumnya, kami berdua pesan orange juice!" seru Soi Fon.
"Kau ternyata rakus juga ya....." kata Ggio setelah waitress itu pergi.
"He? Memangnya salah ya?"
"Tidak juga.... Cuma kau seperti beberapa hari tidak makan saja...."
Soi Fon tersenyum kecil. "Aku memang jarang sekali makan di tempat seperti ini."
"Lho? Jarang?"
"Ya. Kau tahu, kan, aku cuma hidup sendiri dengan biaya dari keluargaku yang mau berbaik hati memberiku uang untuk sekolah dan makan sehari-hari. Mana bisa pergi ke tempat seperti ini...."
Beberapa menit kemudian, nampan besar telah sampai ke hadapan mereka berdua.
"Selamat menikmati." seorang waiter berlalu, setelah menyajikan berpiring-piring makanan tersebut.
Soi Fon memulai makannya dengan gerakan yang lumayan cepat, sementara Ggio hanya menyuap porsinya dengan ekspresi yang santai.
"Eh, ngomong-ngomong, kau suka lari, ya?" mulai Ggio setelah beberapa saat mereka terhanyut dalam hening.
"Lari? Yah, begitulah. Sejak kecil." kata Soi Fon, menyisakan jeda sesaat karena ia harus menghabiskan makanan di mulutnya. "Kau sendiri? Sejak kapan?"
"Sama sepertimu. Tapi...."
"Tapi apa?"
"Ah, bukan sesuatu yang besar. Hn, kau tidak punya teman lain dalam hal ini, kan?"
"Yah, begitulah. Aku belum menemukan partner atau pembimbing lagi setelah Yoruichi-sensei. Kau pasti mengerti bagaimana rasanya harus berjuang sendirian."
"Kau tidak harus sendirian," Ggio meletakkan sendoknya, kemudian mengulurkan jemari kelingkingnya pada Soi Fon. "Bagaimana kalau kita berjuang bersama? Janji?"
Soi Fon menatapnya sesaat. Ia dapat membaca, walau ia bukan ahli dalam hal ini, kalau Ggio serius. "Bo... Boleh..." Soi Fon akhirnya mengaitkan kelingkingnya pada kelingking Ggio. Hingga dua jemari itu bertaut, sebagai bukti dan saksi atas sebuah janji.
"Nah, mulai sekarang, kita berjuang bersama, ya. Mengejar cita-cita kita sebagai seorang atlet." Ggio tersenyum lebar.
"Ya. Tentu saja." Soi Fon juga tersenyum lebar. Senyum yang telah tersimpan bertahun-tahun, akhirnya kembali ia tampakkan pada seorang Ggio.
Senyum karena jalannya semakin lebar terbuka....
"Ayo makan lagi!! Kalau sudah selesai, kita bertanding lagi!"
Soi Fon lagi-lagi tersenyum. Sudah satu keinginanny terkabul.
x.x.x
..... Tapi siapa yang dapat menduga, apa yang terjadi esok?
x To Be Continued x
kazuka : nah, langsung aja yah, kita bales-balesin ripyu! Kii-chan, ayo, bacakan ripyu pertama!
yukina : *sebel dipanggil kii-chan* pertama, dari kishina nadeshiko.... dia sebel ama ShuuNao tuh!!
kazuka : hee.... maaf saia masukin ShuuNao! Abisnya saia suka pair itu! Cocok!! Sama2 dewasa!! *digeplok Shina*
yukina : lalu dari Chizu_Michiyo-gak-login, dia hepi karena ada Ggio tuh!!
kazuka : ya iyalah!! Ggio kan keren!! Chizuu!! Kita sama!! Sama2 naksir Ggio!! Lalu.... *ngegeser yukina buat liat ripyuan* nah, kata BinBin-Mayen Kuchiki, dia gak rela Ggio mati!! SAMA!!! Kubo-senseeiiii!! Hidupkan Ggio kembali!!!
yukina : kata kurou-chan, dia juga suka pair ini!! Sama kayak kita dongg!!
kazuka : ya iyalah!! Mereka tuh sebenarnya cocok! Nah, kita jawab ripyu dari shirou10hana, gak nyangka ya? Hehe.... Mereka kan cocok....
yukina : kemudian dari Jess Kuchiki, ayo jawab!!
kazuka : karena ini fic pertama yang SoiGgio di Indo, maka akan berusaha saia APDET teruss!!! lalu dari red-deimon-beta,emang cocok kan? apalagi yang waktu mereka bertarung itu!!!
yukina : yo! lanjut! dari RodeoHyorinmaru, kazu ini cewek loh!! Walau terkadang bertingkah kayak cowok, kaki di atas, ketawanya gak jelas.... hpphhh!!! *dibekep kazu*
kazuka : Ggio itu kan yang di episode 220-an ntuu loh!!!
yukina : lalu, dari Ruki_ya....
kazuka : Ggio emang saia bikin usil! Liat aja wajahnya! *langsung dicakar Ggio* Soi Fon inget Yoruichi? Yah memang kan..... bisa ngerti dari chapter ini kan?
yukina : kemudian, dari ChellySeliee is Cho, ternyata aku mirip OC-nya Cho!!
kazuka : beneran gak sengaja loh! Kazu 'nyiptain' yukina bermata oranye, karena saia seneng oranye! Kan kayak Ichigo... rambutnya biru, karena kazu cinta biruu!!!
yukina : nah, ini dari shiNomori naOmi, dia tanya, Ggio itu yang mana?
kazuka : Ggio tuh yang Fraccion-nya Barragan Luisenbarn, Espada no.2! Hah? Di-fave??? Huaaa!! MAKASIIIHH!!! *kegirangan gak jelas*
yukina : Lauren-chan d-animefreak, katanya dia juga suka SoiGgio!!
kazuka : hwaaa!!! sama!! Eh, di fave juga????????????? MAKASIIIH!!!!!!!!!!!!
yukina : oke..... sekian dulu balesan ripyu-nya! Makasih yang udah baca, dan jangan lupa, REVIEWW!!!
