Sebelumnya: Masih dalam dekapan Hinata dan air mata yang mulai mengering, Naruto merenungkan kata-kata Hinata lumayan cukup lama. Dalam bibirnya yang terkunci, lelaki itu telah menetapkan sebuah pilihan.

Naruto akan berusaha. Lagi.

.

.

FIX YOU

.

Disclaimer: Naruto by Mashashi Kishimoto

Story: Ichiro Vava

Warning: AU, OOC, Typo, monoton, flat, dan masih jauh dari sempurna

.

.

Happy Reading!

.

20 Desember.

Hinata menatap sejenak kalender kecilnya di atas nakas. Dua angka dengan bulatan merah menjadi pusat perhatiannya. Masih dua minggu lagi hingga mencapai tanggal tersebut. Tak ada keterangan tertulis karena Hinata sudah mengingat dengan jelas di luar kepala akan apa yang ia lakukan nanti di tanggal itu.

Hinata menghela nafas pelan. Matanya beralih pada langit senja yang berubah kemerahan. Sudah sore rupanya. Dirinya ingat belum membuat makan malam dan membereskan beberapa pakaian yang baru saja ia lipat. Hari libur bagi Hinata lebih banyak dihabiskan dengan bersih-bersih apartemen dan berbelanja kebutuhan pokok. Jika ada waktu lebih, gadis bersurai nila itu akan menyempatkan diri untuk berjalan-jalan sendiri di sekitar taman dekat komplek apartemen. Terkadang Naruto juga ikut bersamanya.

Bicara soal Naruto, Hinata tiba-tiba teringat dengan kejadian tempo hari di apartemen lelaki kuning itu. Sebenarnya Hinata enggan mengingat hal yang menurutnya memalukan itu –saat Naruto menindihnya lalu mengusap wajahnya dan menatapnya dalam. Ah, Hinata sungguh ingin melupakannya.

Hinata hanya ingin tahu apa tindakan Naruto selanjutnya setelah mendengar saran darinya. Seingat Hinata, waktu itu Naruto tak mengatakan apapun. Lelaki itu nampaknya juga tak mengangguk atau melakukan hal lain sebagai isyarat pengganti lisan. Menunggu cukup lama, akhirnya Hinata sadar kenapa Naruto tak bersuara.

Naruto rupanya tertidur pulas, dalam posisi yang sama di atas tubuh Hinata. Dengkuran halus yang keluar dari celah bibir lelaki itu membuat Hinata tersenyum tipis. Namun, di saat bersamaan ia juga dibuat kebingungan. Hinata tak mungkin membiarkan Naruto tidur seperti bayi besar di pelukannya –jujur, tubuh Naruto lumayan berat– dan Hinata agaknya pun tak tega untuk sekadar membangunkan Naruto yang mulai menjelajah bunga tidur.

Satu-satunya cara yang terbesit di pikirannya adalah memindahkan tubuh Naruto. Akhirnya, dengan tenaga perempuan yang tak seberapa besar, Hinata mulai menyingkirkan tangan Naruto di tubuhnya dan mendorong bahu lebar lelaki itu dengan amat perlahan. Hinata menghembuskan nafas lega saat dirinya telah lolos sepenuhnya dari tubuh besar Naruto. Diam-diam Hinata juga menggumamkan kalimat syukur karena Naruto sepertinya tak terbangun dari tidur pulasnya. Tak lupa Hinata juga mengambil selimut coklat milik Naruto yang tergeletak di seberang ranjang dan menyelimuti lelaki itu sampai bahu.

Hinata hanya tak melihatnya. Saat gadis itu telah berbalik hendak kembali ke apertemennya sendiri, lelaki yang baru saja ia selimuti tadi tanpa sadar menyunggingkan senyuman. Mungkin saja itu karena Naruto terlalu larut dalam buaian mimpi indahnya, atau mungkin karena rasa hangat dari selimut tebal yang membungkus tubuhnya, atau bisa jadi karena hal lain yang bahkan ia sendiri tidak tahu pastinya.

Jika saja Hinata tahu, mungkin ia juga akan memberikan senyum yang sama pada Naruto yang masih terlelap. Sayangnya, Hinata tidak tahu.

...

0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0

...

Suasana sepi menyelimuti sekitar. Naruto yang tengah berada di teras balkon hanya terdiam menatap langit malam tanpa bulan maupun bintang. Gumpalan awan yang berkumpul menandakan mungkin sebentar lagi akan turun hujan. Dan benar saja, karena tak lama titik-titik air mulai berjatuhan membasahi tangan kecoklatan milik Naruto yang bertumpu di pembatas balkon.

Naruto menghela nafas dalam-dalam memerhatikan rintik hujan yang makin lama makin mengganas. Laki-laki itu mencoba memikirkan sesuatu, namun kepalanya terasa penuh oleh berbagai macam hal. Membuatnya diserang pening mendadak.

Drrtt.. Ponsel di sakunya bergetar.

Dari: Hinata

Untuk: Naruto

'Naruto-kun, kau belum tidur?'

Naruto tergugu sejenak menatap layar ponselnya. Tumben sekali Hinata bertanya padanya lewat pesan. Biasanya jika ada perlu, Hinata akan langsung datang ke apartemennya tanpa permisi. Dan.. darimana pula Hinata bisa tahu jika ia masih terjaga? Setahunya, ia mengunci pintu apartemennya saat petang tadi. Jikalau Hinata ingin masuk, gadis itu pasti akan mengetuk pintu dulu.

Dari: Naruto

'Bagaimana kau tahu? Jangan-jangan kau masuk diam-diam ke apartemenku.'

Naruto menyeringai kecil membaca balasan pesan untuk Hinata. Ia tak sabar menunggu respon gadis bermahkota nila itu.

Dari: Hinata

'Sembarangan! Memangnya aku pencuri? Kau saja yang tidak peka kalau aku melihatmu sejak tadi.'

Naruto celingukan kesana kemari dan nihil. Ia tak menemukan batang hidung Hinata disekitarnya. Tangannya bergerak menggaruk tengkuk belakangnya yang mulai meremang. Di tempat lain, Hinata berusahan menahan kikikannya yang hampir lolos. Ia lalu mengetik beberapa kalimat lagi untuk Naruto.

'Ekspresimu lucu sekali, Naruto-kun. Mungkin aku harus memberitahumu sedikit cerita tentang apartemen ini. Katanya, tiap malam saat hujan turun deras, seorang wanita misterius akan datang menemui laki-laki yang suka merenung sendirian.'

Tanpa disangka, dahi Naruto terlipat. Sebulir keringat muncul di area pelipisnya. Di tengah perasaan aneh yang tiba-tiba melingkupinya, laki-laki berparas kucing itu mencoba terkekeh pelan. Angin malam di tengah hujan berhembus makin kencang.

Dari: Naruto

'Jangan bercanda, Hinata. Kau pikir aku akan percaya dengan takhayul seperti itu? Aku bukan lagi anak kecil yang mudah untuk ditakuti.'

Hinata yang entah ada di mana terlihat manggut-manggut sambil tersenyum aneh. Pesan Naruto tentu sangat berbeda dengan keadaan asli pemuda itu.

Dari: Hinata

'Oh.. Kalau begitu cobalah menoleh ke samping kanan.'

Lipatan di dahi Naruto semakin dalam. Sesungguhnya ia masih bingung akan perintah Hinata agar dirinya menoleh ke samping –letak apartemen Hinata. Mungkinkah gadis itu ingin menunjukan sesuatu atau memberinya kejutan? Entahlah. Tanpa berpikir lebih jauh, Naruto menolehkan kepala kuningnya dengan cepat. Hal yang tak terduga pun terjadi.

"Hwa!"

"IBUUU!"

Terkejut? Pasti. Lihat saja wajah Naruto yang memutih seperti kehabisan banyak darah. Saking terjekutnya, dirinya sampai terjerembab ke belakang dengan posisi duduk di lantai teras. Mulutnya sedikit membuka dengan mata melotot tak percaya dengan apa yang ia lihat di hadapannya. Naruto nyaris tak sadarkan diri.

"Berisik, kuning! Kau bisa diam tidak?!" Ebisu, tetangga sebelah kirinya berteriak tak kalah lantang dari balik apartemennya. Laki-laki berkacamata bundar itu terlonjak kaget di tengah istirahat malamnya gara-gara teriakan Naruto yang memanggil ibunya.

Naruto sendiri tak menanggapi kekesalan Ebisu karena ulahnya. Melihat pemandangan di depan matanya saja Naruto kehilangan kata-kata –perempuan pucat berpakaian serba putih dengan rambut gelap nan panjang yang menutupi seluruh wajahnya. Tubuh tegap Naruto sekonyong-konyong kaku membeku. Tidak mungkin perempuan 'misterius' itu adalah hantu sadako yang dulu pernah ia tonton filmnya waktu kecil hingga membuatnya terkencing sambil menangis.

"Haha.. aku benar-benar tak menyangka reaksimu seperti itu, Naruto-kun. Hahaha!" tawa Hinata, perempuan 'misterius' tadi, meledak tak terkendali. Tangannya menyibak rambut panjang yang menyembunyikan wajah tanpa dosanya karena berhasil menggoda Naruto. Mata pucatnya sampai dibuat mengeluarkan air mata karena terlalu banyak terbahak. Baru kali ini ia melihat sisi lain dari teman kuningnya yang katanya pemberani itu. Benar-benar sebuah kejutan langka.

Di pihak lain, lelaki bersurai kuning itu merasa dongkol setengah mati dengan wajah memerah menahan malu. Lihatlah, Hinata yang ia kenal kalem bisa tergelak bak iblis di matanya. Gadis itu sungguh-sungguh telah memberinya sebuah 'kejutan' tak terlupakan.

Naruto segera berdiri dari duduknya dan menghampiri Hinata yang masih terkekeh seolah tak puas melihat penderitaannya. Namun, karena apartemen mereka dibatasi oleh sebuah dinding, Naruto jadi tak dapat untuk sebatas mencekal tangan Hinata yang semula bersandar di dinding pembatas apartemen mereka berdua. Hinata buru-buru menjauh beberapa langkah sebelum Naruto mencapainya.

"Hinata! Awas saja, aku akan membalasmu nanti!" seru Naruto setengah mengancam. Pemuda itu masih menatap kesal Hinata yang dengan santai menumpukan dagu di dinding balkon, seolah-olah tak mengacuhkan Naruto yang mulai mencak-mencak.

"Baiklah, akan kutunggu," Hinata mengerling jahil lewat sudut matanya kepada Naruto. Satu tangannya terulur ke depan untuk meraih tetesan hujan yang belum mereda.

"Ini pembalasanku untuk yang waktu itu. Saat kau menjatuhkan cinnamon rolls-ku. Aku belum merelakannya sampai sekarang," intonasi suara Hinata berubah dingin.

Naruto memandang tak yakin temannya itu. Otaknya mencoba mengingat namun sia-sia. "Kapan aku melakukannya? Apakah makanan manis itu lebih berharga daripada melihat temanmu sendiri yang hampir mati kepanikan karena tingkahmu tadi? Kau sungguh jahat, Hinata," komentar Naruto.

Hinata mengangkat bahunya, "Biar saja. Daripada melihatmu yang terus memandang langit dengan maa kosong dan tanpa ekspresi, alangkah lebih baik jika kau menunjukan wajah horormu. Setidaknya kau bisa membuat orang tertawa karena itu. Contohnya aku,"

Naruto tak menjawab dan memilih memerhatikan Hinata yang masih betah memainkan rintik hujan. Setengah lengan kaos panjang yang dikenakan gadis itu basah terkena tempias air dan Hinata terlihat mengabaikannya. Naruto pun menarik kesimpulan; Hinata rupanya menyukai hujan. Namun, bukan hal itu yang menjadi fokus utama Naruto sekarang, melainkan ucapan Hinata barusan.

"Apa aku terlihat menyedihkan?" tanya Naruto pelan.

Tangan Hinata tertarik manjauh dari guyuran hujan, kemudian ia menggulung lengan kaosnya yang basah dan menggeser posisinya selangkah mendekat ke arah Naruto, "Kupikir setiap orang yang melihatnya akan berpikir begitu. Iya, kau sedikit menyedihkan, Naruto-kun,"

Naruto menghembuskan nafas kasar, "Hah.. sudah kuduga,"

"Kenapa? Kau masih memikirkan Sara-san?" Hinata menoleh dengan wajah seperti orang yang baru memenangkan kuis berhadiah –seolah tebakannya betul seratus persen. Tepat di waktu bersamaan, Naruto juga tengah memandang ke arahnya. Mata mereka beradu beberapa saat. Terperanjat, keduanya memilih untuk memutus kontak mata dan menatap lurus ke depan.

"Bagaimana kau tahu?" tanya Naruto asal. Bukan rahasia umum lagi Hinata banyak tahu tentang dirinya. Tak ada gunanya juga berkilah.

Kepala Hinata terangkat menatap langit malam, "Em, hanya menebak saja. Ekspresimu wajahmu juga gampang dibaca,"

Naruto tersenyum miring dalam diam. Wajahnya tertunduk menatap lantai teras apartemennya yang basah terkena cipratan hujan. Dirinya tengah malas berdebat panjang lebar dengan Hinata. Apapun yang Hinata katakan, hampir semua tak dapat ia tampik kebenarannya. Diam adalah salah satu cara terbaik menanggapi tuturan gadis itu.

"Jadi, kau sudah menemuinya?" tanya Hinata.

Naruto menggeleng tanpa sepatah kata. Ia tahu siapa yang dimaksud Hinata.

"Kalau begitu, kapan kau akan menemuinya?"

"Entahlah,"

"Kau tidak takut akan menyesal nantinya? Waktu terus berjalan, Naruto-kun. Mungkin sebentar lagi kau akan mendengar kabar Sara-san yang mengandung anak pertamanya. Lalu, kau putuskan untuk menunggu waktu yang tepat. Waktu berjalan lagi hingga Sara-san telah melahirkan, dan kau memutuskan menunggu waktu yang tepat lagi. Jika kau terlalu lama menunggu masa yang tepat, cepat atau lambat dia akan benar-benar melupakanmu,"

Hujan telah sepenuhnya berhenti, namun masih menyisakan hawa dingin yang menguar ke berbagai penjuru arah. Suasana senyap mendominasi sekitar. Karbondioksida yang bercampur uap air terbuang beberapa kali dari sistem pernafasan. Paling tidak Naruto masih bisa bernafas normal setelah mencerna kata-kata Hinata.

"Tenang saja, Naruto-kun. Di dunia yang luas ini masih banyak perempuan cantik dan juga baik. Tuhan telah mengatur segalanya, termasuk orang yang akan menjadi pasanganmu kelak. Jika Sara-san tidak ditakdirkan jadi pendampingmu, percayalah Dia akan mempertemukanmu dengan seseorang yang lebih baik lagi. Oh!"

Hinata berjengit saat ponselnya bergetar. Alarm-nya berbunyi.

"Ah, sudah jam delapan. Aku lupa tadi sedang menghangatkan sisa makan malam. Aku tinggal dulu ya. Jangan melamun sampai larut malam, Naruto-kun, atau hantu sungguhan akan datang menghampirimu. Hihi.."

Hinata melambaikan sebelah tangannya dan masuk ke dalam apartemennya, meninggalkan Naruto yang masih terpekur di tempat semula. Hening datang sesaat Hinata telah benar-benar hilang dari pelupuk matanya. Gadis itu membiarkan Naruto seorang diri beradu dengan sunyi kembali.

Di benaknya, lelaki kuning itu tengah bertanya sekaligus mencari jawaban yang tak pasti. Keraguan kemudian mendatanginya. Hatinya kembali diganjal perasaan baru yang membuatnya bingung.

Benarkah ia masih mencintai Sara?

...

0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0

...

Beberapa detik Hinata diam terpaku di depan pintu masuk apartemennya. Didapatinya lelaki bertubuh tegap yang ia ketahui sebagai salah satu penghuni apartemen lain tengah bersandar di dinding tembok dengan menekuk sebelah kakinya. Kedua tangannya terselip ke dalam kantong jaket tebal yang dikenakan. Hinata sendiri saat ini memakai sebuah syal. Mendekati musim dingin membuat orang-orang menggigil dua kali lipat.

"Selamat pagi, Naruto-kun," Hinata menyapa dengan halus seperti biasa. Naruto, laki-laki yang bersandar di tembok tadi berjalan mendekati Hinata hingga menyisakan cela beberapa jengkal. Naruto sedikit menunduk guna melihat Hinata yang tubuhnya jauh lebih pendek darinya. Sebaliknya, Hinata mendongak karena Naruto lebih tinggi darinya.

"Hinata, bisa kita bicara sebentar?" Naruto membuka suaranya. Tanpa sadar ia sudah menggenggam pergelangan tangan Hinata dan menarik gadis itu untuk menuju ke arah tangga.

Sebelum langkah Naruto yang menariknya makin jauh, Hinata yang merasa bingung dengan cepat berhenti untuk menahan laju kaki Naruto yang kelihatannya tidak sabar.

"Kau belum menjawab sapaanku, Naruto-kun," kata Hinata tepat saat Naruto menoleh padanya.

"Aku sedang tidak mau bergurau, Hinata," Naruto dengan wajah seriusnya hampir menggapai tangan Hinata kembali sebelum gadis itu mundur selangkah ke belakang. Menghindari Naruto.

"Aku juga tidak berniat membuat guyonan di pagi hari, Naruto-kun. Ada apa denganmu? Kau terlihat sedikit.. aneh?" Hinata bertanya dengan nada khawatir yang terselip.

Naruto memalingkan pandangannya ke arah lain. Terlihat merenungkan sesuatu. Selama beberapa detik pula Hinata setia menunggu Naruto untuk bersuara, namun nyatanya pemuda itu tak kunjung berkata-kata.

"Kalau tak ada lagi yang ingin kau katakan, biarkan aku lewat, Naruto-kun. Aku harus berangkat berkerja atau Ino akan memberiku ceramah gratis nanti,"

"Kupikir aku sudah tidak mencintai Sara lagi, Hinata,"

Ucapan lirih Naruto sukses membuat Hinata menghentikan langkahnya. Butuh waktu lima detik bagi gadis bersurai gelap itu untuk memastikan bahwa pendengarannya tidak salah tangkap. Dan sekali lagi saat ia memerhatikan lamat-lamat mimik wajah Naruto yang tertunduk, barulah ia sadar bahwa pemuda itu tak berbohong.

Sekarang benak Hinata yang dipenuhi pertanyaan seperti 'kenapa?' atau 'bagaimana bisa?'. Hinata tidak tahu apakah ia harus senang atau kecewa dengan ungkapan Naruto. Hinata bisa saja merasa senang karena teman kuningnya itu dapat dengan cepat melupakan perasaan berlebihnya pada Sara. Tapi, di sisi lain ia juga sedikit merasa kecewa. Hinata kecewa karena mungkin saja Naruto teramat takut menyatakan cintanya, makanya lelaki pirang itu berkata demikian pada Hinata. Argghh.. semuanya membuat Hinata bingung.

"Naruto-kun, kau sedang tidak sakit 'kan? Pusing, mual, atau yang lainnya mungkin?" dugaannya mungkin sedikit konyol, melihat fisik Naruto yang seratus persen sehat. Sebenarnya Hinata masih kurang yakin, karena itulah ia bertanya dengan pertanyaan yang cukup ngawur.

Naruto mendengus dan memutar bola matanya. Diacaknya pelan rambut panjang Hinata yang terurai. Raut wajahnya telah berubah seperti biasanya. Ramah dan hangat.

"Kau pikir aku kenapa? Hamil? Ada-ada saja pikiranmu, Hinata," Naruto merasa sedikit tak terima, tapi pada akhirnya ia malah terkekeh pelan karena sangkaan Hinata terhadap dirinya. Kedua tangannya terangkat lalu bertengger di pundak mungil Hinata.

"Habisnya kau terlihat aneh. Terlebih kata-katamu soal Sara-san yang kau ucapkan tadi," Hinata mencoba menepis pelan tangan besar Naruto, namun yang terjadi sungguh di luar ekpektasinya. Bukannya terlepas, genggaman Naruto di bahunya malah makin mengerat.

Hinata bisa terlambat kerja kalau terus begini.

"Yang kukatakan itu memang benar, Hinata. Kau tidak percaya padaku?" Naruto masih berusahan menyakinkan Hinata. Iris birunya menatap intens iris mutiara milik Hinata yang terlihat was-was. Antara wajah Naruto yang terlalu dekat dan waktunya yang semakin menipis.

Pada akhirnya Hinata memutuskan untuk memercayai Naruto dengan mengangguk seyakin-yakinnya meskipun dirinya sendiri merasa belum yakin. Persetan! Hinata hanya ingin Naruto melepaskannya sekarang.

"A-aku percaya padamu, Naruto-kun. Jadi, bisa lepaskan aku? Aku hampir terlambat.." kata Hinata dengan rupa memelasnya.

"Ah.. maafkan aku," kelabakan, Naruto memutus kontak jemarinya pada bahu Hinata, "Haruskah aku mengantarmu? Gara-gara aku dirimu hampir terlambat," tawar Naruto sambil menggaruk rambut belakangnya.

Hinata menggeleng secepat kilat. Naruto tak lebih seperti alap-alap saat beradu dengan jalan raya, apalagi dalam keadaan mendesak seperti sekarang. Ia lebih memilih diomeli Ino daripada terkena serangan jantung karena kelakuan Naruto yang berkendara di luar batas.

"T-tidak perlu. Aku sudah terbiasa naik bus, Naruto-kun. Lagipula arah kantormu berbeda dengan toko bunga milik Ino. Kalau begitu aku berangkat dulu, Jaa.."

Cepat-cepat Hinata bergegas pergi sebelum Naruto menghentikan dirinya lagi dengan berbagai macam alasan maupun tawaran. Melihat Hinata yang bersikap seperti itu membuat Naruto mengangkat alisnya cukup tinggi. Memorinya menguak peristiwa tempo hari yang mana ia meminta bantuan Hinata untuk menemaninya ke supermarket. Masih terekam jelas di ingatannya betapa pucatnya wajah Hinata setelah turun dari boncengannya.

"Mungkin aku harus mengurangi kecepatan berkendara saat Hinata membonceng. Aku takut jika semisalnya ia terkena serangan jantung," ucapnya bermonolog.

Memang seharusnya itu yang kau lakukan, Naruto!

...

0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0

...

Sudah satu minggu terakhir kota Tokyo sering diguyur hujan. Mulai dari gerimis sampai hujan deras. Hal itu pula yang terjadi di sore menjelang petang saat ini, ketika Hinata baru saja selesai bekerja dari Yamanaka Florist tempatnya mencari nafkah. Gadis bersurai nila itu terpaksa menahan keinginannya untuk segera menuju ke halte yang jaraknya lumayan jauh dari tempatnya berdiri sekarang.

Hinata memang menyukai hujan layaknya ia menyukai cinnamon rolls. Tapi jika hujan itu turun di musim gugur yang hampir berakhir seperti sekarang, rasa-rasanya lebih baik ia bergelung di bawah selimut dan kotatsu daripada harus berlarian di bawah guyuran hujan.

"Hinata-san?"

Merasa ada yang memanggil namanya, kepala Hinata menoleh ke arah sumber suara. Dirinya dibuat terperangah mendapati seorang wanita muda yang berdiri tak jauh darinya. Wanita itu, Sara, tersenyum hangat padanya.

"Sara-san? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Hinata.

"Maaf jika aku mengganggumu, Hinata-san. Aku hanya ingin membicarakan sesuatu denganmu. Ini tentang Naruto-kun. Bisakah?" kata Sara pelan.

Hinata membulatkan matanya tanpa disadari oleh Sara. Apakah Sara mulai menyadari jika Naruto memiliki perasaan lebih untuknya? Atau mungkin sebaliknya –Sara yang punya perasaan lebih terhadap Naruto.

"Aku tidak keberatan. Namun, kurasa lebih baik jika kita bicara di tempat lain," jemari Hinata menunjuk ke sebuah kedai kopi yang bersebrangan dengan Yamanaka Florist.

"Tentu. Aku akan mentraktirmu, Hinata-san."

"Baiklah."

Kedua perempuan itu lalu berjalan memasuki kedai kopi dengan berbagai macam pertanyaan dan asumsi yang bersarang di benak masing-masing. Dan hampir semuanya menyangkut pada seseorang yang sekarang berada di tempat yang berbeda.

Benar. pertanyaan mereka tak jauh-jauh dari sosok bernama Uzumaki Naruto.

.

To be Continued

.

A/N:

Sebelumnya saya minta maaf karena updatenya lama. Disini saya lagi diserang virus mager gara-gara kesibukan di dunia nyata. Tolong maafkanlah... #nangkuptangan.

Maaf jika kurang panjang dan terasa monoton. Saya cuma dapat feel-nya segitu. Mungkin fic ini bakal saya buat jadi 5-6 chap, tergantung situasinya nanti.

.

Balasan Review:

Deandra (guest): Terima kasih juga. Di sini Hinata memang masih menganggap Naruto temennya. Nggak lebih. Kita lihat saja nanti ke depannya

Lemot (guest): Makasih.. ini udah dilanjut.

.

Jangan lupa meninggalkan jejak.

Terima kasih...

Vava