- Claire POV -
"Jadi kau menerima ajakan Sere-nee dengan umpan Cliff," gumam Ann. Aku mengangguk kecil, mengabaikan jemari Ann yang tengah memainkan sulur dari tanaman merambat yang kutanam belum lama ini tepat di atas pintu masuk.
Bola mata berwarna biru langitku memperhatikan secarik kertas bertuliskan angka-angka, sementara jemariku membuat sebuah tarian menggunakan pena berisi tinta hitam. Sesekali tarian pena berhenti karena jemariku berpindah menuju tombol-tombol angka yang ada di atas sebuah mesin penghitung. Belakangan ini aku memang lupa membuat pembukuan dana untuk musim semi.
"Kalian piknik hari apa?" seru Ann kembali memecah keheningan yang diisi oleh goresan pena maupun suara dari mesin penghitung kala aku menyentuhnya.
"Um... Sere bilang hari Minggu ini di Mother Hill's," kuletakkan pena milikku dan memandangi kumpulan angka dan huruf di atas secarik kertas. "Selesai!" pekikku girang sembari menyenderkan tubuhku pada senderan kursi.
"Mother Hill's ya. Berarti tempat itu," pekik Ann yang membuatku menaikkan sebelah alis kananku. Tak mengerti dengan apa yang dimaksud dengan 'tempat itu'.
Kuputar kursi milikku sekitar seratus tiga puluh derajat. Niatanku untuk menanyakan apa yang dimaksud Ann sirna saat menyadari penampilan gadis tomboy yang sejak ia datang tidak pernah kulirik.
"Ann, ka--kamu Ann kan?" tanyaku percaya dan tidak. Jari telunjuk kananku mengacung ke arah Ann secara naik turun.
Ann hanya mengangguk pelan dengan semburat merah muda yang samar mewarnai wajahnya. Kupandangi sosok Ann dari atas hingga bawah, membuatku ragu apa ia benar-benar putri Doug yang terkenal tomboy itu.
Rambut coklat panjangnya yang biasa dikepang kini digerai. Membuatku ingat akan rambut Popuri yang bergelombang, perbedaanya hanya pada warna dan poni yang ada. Ann menyematkan sepasang jepit rambut dengan hiasan manik-manik berbentuk kupu-kupu kecil dengan warna yang senada dengan rambutnya. Apalagi poni gadis itu dibuat belah kanan yang terlihat sangat cocok dengan wajah Ann.
Tubuhnya yang biasa dibalut pakaian overall kini dibalut oleh baju terusan berwarna putih bersih. Di sekeliling rok diberi hiasan renda-renda. Sementara bagian lengannya yang panjang sedikit transparant dengan jahitan berbentuk bunga di beberapa tempat. Manis.
Sementara sepatu ket yang biasa dikenakan Ann berganti dengan sepatu pentopel berwarna hitam dengan sepasang kaos kaki putih dengan hiasan pita merah di tiap sisinya. Seratus persen tidak seperti Ann.
"Terlalu aneh ya?" tanya Ann sembari memutar tubuhnya sekali. Membuat rok putihnya sedikit terangkat dan rambut coklatnya menari.
Kugeleng kepalaku, "Tidak, malah cocok sekali," seruku pelan. Semburat merah muda semakin terlihat jelas di wajah manis Ann yang tak diberi make up apapun.
"A-a-arigatou ne."
"Lalu... setan mana yang membuatmu menjadi secantik ini?" tanyaku dengan nada main-main. Ann terdiam dan mulai memelintir ujung rambutnya dengan wajah merah merona.
Huwaah, dia benar-benar manis hari ini.
"Sere-nee si setan jahil."
Hah? Aku terdiam, aku tahu Ann senang bercanda. Tapi aku tak tahu kalau selera humornya sudah sampai titik membuat julukan aneh untuk orang lain.
Jam dinding terus berdetak seiring berjalannya waktu. Detik demi detik terus berjalan, menambah waktu akan kesendirianku setelah Ann memutuskan untuk pergi ke tempat Jack, atau bisa disebut ke rumahku dan Jack.
Kuhabiskan dengan menarikan ulasan pensil di atas kertas buram, membentuk sebuah sketsa karangan bunga yang kurasa akan cantik bila kubuat.
'Klining,' suara gemericik lonceng menghentikan kegiatanku.
Kuputar badanku ke arah pintu masuk dengan mata terpejam, menunjukkan senyum seorang penjual bunga dan menyerukan yel-yel yang biasa kita temui kala menyambangi sebuah toko, "selamat datang, ada yang bisa dibantu?"
Tak ada jawab, kubuka kelopak mataku yang baru saja terpejam untuk membuat senyum penjual bunga.
"Ah, Cliff," pekikku pelan. Wajahku serasa memanas kala menyadari siapa gerangan yang baru saja membuat gemericik lonceng yang sangat kusukai. Aku masih ingat saat Jack menghadiahkan lonceng itu padaku.
"Ma-maaf menggagu, bisa tolong seikat gem soil?" pinta Cliff dengan nada ragu. Pandangannya tertuju lurus ke arah kedua sepatu boot yang melekat di ujung kakinya.
"I-iya, tunggu sebentar ya," pekikku sesaat sebelum menghilang dari hadapan Cliff di balik pintu.
Hah, lagi-lagi aku melakukannya... kapan aku bisa memulai pembicaraan dengan Cliff?
Kalau saja aku bisa seperti Ann yang tidak salah tingkah.
- Ann POV -
Semilir angin yang terus bertiup menerpa tubuhku, membuat rok putihku melambai dalam tiupannya.
Bayangan dari pohon apel yang berada di atasku membuat cahaya matahari yang cukup terik terasa begitu sejuk. Kusenderkan tubuhku pada pohon tersebut. Mengindahkan kemungkinan rok putihku kotor akibat tanah yang menempel.
"Guk! Guk!" salak seekor anjing kecil berbulu coklat, dilingkarkannya tubuh mungil miliknya. Membuat posisi tidur yang cukup lucu.
Perlahan kuelus pelan bulu-bulu coklatnya yang begitu lembut dan membuatku gemas.
Kututup kelopak mataku dan mendengarkan bisikkan suara angin. Kulirik arloji kecil yang kumasukan ke dalam saku kecil milikku.
"Jam dua belas, Jack kemana sih?" gerutuku kesal. Kusapu pemandangan di sekitarku, kecambah nanas memenuhi seluruh tempat yang ada.
Puas memandangi kecambah nanas pandanganku berpindah menuju arak-arakkan awan putih yang terbilang hanya sedikit.
Dengkuran halus dari Seiru di sampingku dengan kokokan ayam-ayam yang berkeliaran di sekitar menemaniku. Arak-arakan awan terus berjalan mengikuti angin yang bertiup.
"Eh, lho, kau siapa?" tanya seseorang yang membuyarkan pandanganku akan arak-arakan awan.
Kutolehkan kepalaku, menatap ke arah sang pemilik suara.
"Jack!" pekikku. Jack yang baru saja turun dari kudanya menatapku dengan pandangan bingung tak mengerti.
"Kau mengenalku?" tanya Jack sembari menunjuk ke arah dirinya sendiri.
"Ei! Kau tidak mengenaliku ya?" kugembungkan pipiku. Menatap Jack dengan pandangan kesal.
"Ah! Wajah merengut itu, Ann ya? Kukira Popuri yang mengecat rambut," Jack mengetuk pelan kepalanya sendiri. Dijulurkannya sedikit lidah dengan alis yang dibuat menekuk ke bawah.
"Terlihat seperti Popuri memangnya?"
"Tidak kok, hanya saja kalau dari belakang mirip."
"Oh..."
"Lalu... ada apa kemari, tidak biasanya kau datang," Jack mendekatkan wajahnya ke arahku. Membuat jarak di antara kami hanya beberapa centimeter.
"U-um... ha-hanya ingin..." bola mataku melirik ke arah kananku, sulit rasanya menatap langsung ke arah iris biru milik Jack. Wajahku serasa terbakar dengan jarak sedekat ini.
"Hum...? Hanya apa?" tanya Jack dengan nada main-main.
"Tidak jadi!" bentakku spontan. Wajahku benar-benar terasa sangat panas kali ini.
"Hoh... ya sudah... padahal kau sudah semanis ini."
"E-eh-hmp!" aku tak melanjutkan ucapanku. Sesuatu menghentikan niatku untuk membuka mulut dan berucap apapun.
Sesuatu yang mengunci mulutku untuk terbuka. Lembut dan hangat...
Semilir angin musim panas bertiup. Detik arloji menggema di telinga milikku disertai bisikkan angin.
Kami terdiam beberapa saat sebelum kecupan yang dibuat oleh Jack terlepas. Semburat merah muncul di wajah Jack dengan nafas yang tak beraturan.
Kusentuh bibirku sendiri, menyakinkan diri bahwa tadi bukan mimpi. Bahwa Jack baru saja menciumku.
- Flashback, Malam sebelumnya -
Ann termenung di atas tempat tidurnya, pandangannya tertuju pada sebuah buku bersampul merah muda yang sempat diambilnya dari tas Sere.
Iris berwarna biru (A/N iya kan? Matanya Ann biru?) terus bergerak ke kanan dan ke kiri. Menyusuri bentuk abjad yang menjadi kalimat dan membentuk sebuah kisah.
"Aku pulang!" pekik sebuah suara yang diiringi suara terbukannya pintu kamar. Buru-buru Ann menyembunyikan buku di tangannya di bawah bantal.
Tapi gagal, sang pemilik buku atau yang lebih dikenal dengan nama Sere menyadari gelagat Ann tersebut.
"Ann, kalau kau menyukai buku itu baca saja," pekik gadis berambut hitam itu. Memunculkan semburat merah di wajah Ann.
"Ma-maaf Sere-nee," ucap Ann.
"Hem, memangnya buku apa?" Sere berjalan mendekati Ann. Meraih buku yang baru saja disembunyikan oleh Ann, "Cara menjadi feminime? Ann, kupikir kau tidak pernah berfikir mengenai hal seperti ini."
"Se-Sere-nee! Aku kan juga seorang anak perempuan!" jerit Ann dengan suara pelan. Semburat merah sudah benar-benar menjajah seluruh bagian wajahnya.
Sere menaikkan kedua sudut bibirnya. Membuat seulas senyum jahil yang dilengkapi dengan pandangan jahil pula, "mau mencoba memakai rok?"
"E-eh?"
Ruise : Sebelum kita bales review Rui mau bilang…
Sere : Sangan dianjurkan untuk memflame chapter ini, mengingat author sedang nggak mood nulis tapi tetep aja di post
Ruise : Dan Rui juga nyadar, Rui terlalu memfokuskan perhatian pada dua tokoh saja, dan mengabaikan yang lain.
Anisha Asakura
Ruise : Jack, bangunin gih.
Jack : (Nggak dengerin dan ngacir ke dermaga)
Ruise : WOI!!!!!
Skye : Tentu saja itu adalah surat pemberitahuan bahwa aku akan mencuri, mencuri hati sang bidadari dengan romantisme cinta
All – Skye : Dan gatot alias gagal total
Skye : (Pundung)
Sere : (Ngeliatin yang ngelempar bakul) emang aku punya doppelganger ya?
Ruise : Nggak punya aja gw udah stress.
Claire : Maksudnya? Ikut ke fic? Boleh…. XD
Vi ChaN91312
Sere : Batas waktuku sudah habis… tapi aku mendapatkan batas waktu yang tidak terbatas, akibat dia…
Ruise : Yay! Dendam kesumat!
Sere : Untuk tahu siapa yang dimaksud dia selamat membaca 'Lovely Ghost at School' di Moba Mingle
Ruise : Tapi inggrisnya ancur lho
Yuriforsummer
All : Ini sudah update!!!
teacupz'
Ruise : Nggak, nggak salah paham, ntar emang ada yang sial… mungkin aku ganti genre sama judul kali ya…
Sere : (Melirik teks asli chapter 3) Master bego! Lu dah nulis perbaikannya di note paling bawah kan!? Napa masih typo
Ruise : Huwaa… baru nyadar pas di post T-T
Sere : Kan bias edit!!!
Ruise : Carter!!! (Ngibrit belakang Carter)
Yue Ecchi
Sere : Boleh aja (Meluk Yue dengan senyum setan)
Ruise : (Makin ngumpet)
Carter : Hum… dingin, amat sangat dingin mengingat siklus eritrosit yang sudah tak mengalir dikarenakan jantung yang berhenti memompa. Hanya jiwa yang masih diragukan keberadaanya yang menyokong tubuh itu tetap bergerak.
Sere : (Nyadar + Ngelepasin Yue yang pucat pasi)
Ruise : Waaa… Yue-san!?
Sere : Nada-chan mana?
Ruise : Ntar gw bawa! Takut kejar-kejaran ama anjing Jack!!!
Harvest Moon – Natsume
Mind to Flame? XP
