.
.
((Lupakah dirimu, wahai adikku? Dulu kau suka lagu itu.
Lagu yang dileburkan padaku melalui alunan jari lentik Ibu. Untaian nada-nada pilu mengiris hati sampai ngilu, menembus langsung mencari ulu, hanya kumainkan jika pedih tengah menusukku—ketika perutku berbalur bercak-bercak ungu dan biru berkat berkilo beban yang dijejali Ayah padaku (dan juga berkat dirimu, namun kau tak pernah /mau/ tahu, terima kasih wahai adikku). Viola yang bisu kupaksa bernyanyi hingga dia pelan-pelan menjerit, (melengking) saat tongkat menggesek sitar yang mulai berderit-derit (berkeretekan di engselnya), bagai belati yang memotong-motong jemari.
Hampir kumuntahkan isi lambungku saat kau malah tersenyum dan memuja, dengan mata yang bercahaya,—
"— Indah sekali, Kakak."
Apakah sedikit saja kau—pernah—menyadari kalau tepuk tanganmu baru saja menyoraki kesedihan ku?))
.
.
Hetalia © Hidekaz Himaruya
Trias Politica © MooMoo
.
.
TRiAS POLiTiCA
/pars pro toto ; taking a part for the whole /
english roses III
.
.
Elegy—
Sudah berapa kali Scott Kirkland memainkan lagu ini? Tak terhitung rupanya, dia sendiri sudah lupa berapa lama, terus dia mainkan berkali-kali sampai dihapal mati; cukup gerakkan jemari tanpa perlu berpikir lagi dan biarkan viola itu bernyanyi sendiri. Dia serahkan jiwa pada gesekan tongkat ini, yang melecut dawai jadi vibrasi.
Elegy,
lagu yang paling dia benci.
"Bukankah kau benci lagu itu?"
Satu kedipan, dan ia tak lagi sendirian. Di sebelahnya, di atas atap gazebo yang bertiraikan gelap, Irene Kirkland muncul dari ketiadaan, dua kaki tersilang menyeruak membelah kegelapan, hanya bermodalkan pakaian dalam dan entah apa yang baru saja dia lakukan. Kreskrestes, bunyi barisan gigi meraup jantung sekepal tangan menjawab pertanyaan.
Scott menurunkan viola dan mengangkat alis. Jantung penuh kalori walau rasanya memang manis."Bukankah aku sudah bilang kalau kau tambah gemuk, Irene?"
KRES.
"Bukankah aku sudah bilang kalau lingkar pinggangku bukan urusanmu, Scott?"
Dari balik topeng hitam kusut berkerut-kerut, pria itu mendengus. Ah biarlah, jantung lebih baik daripada testis pria—onggokan-onggokan bergetah yang direbus bibinya tiap senja.
(dan testis itu pahit, dan berlendir, dan jantung memang lebih baik dalam hal nilai gizi.)
"Aku ingat sekali kalau kau benci lagu itu, meski dulu sering memainkannya." Irene mengenang, membongkar masa-masa yang dulu begitu tenang. Dia dan Scott dan Wales dan seorang lagi dalam sesi musik di sore hari, dengan viola dan mini cello dan soprano dan sepasang kaki mungil yang berusaha menggapai pedal piano.
(seorang lagi yang sudah mati dan takkan kembali dan irene kirkland takkan pernah melihat kaki mungil itu menari-nari tap-tap-tap di bawah piano lagi)
"Kau hanya memainkannya saat sedang depresi—dan butuh pelampiasan."
"Tepat."
"Atau kalau kau hampir menangis gara-gara Ayah."
"Tepat."
"Atau kalau Arthur memintamu bermain."
Kres kres.
Tring. Sitar melenting.
"Tepat."
.
.
.
.
Malam ini hampir saja jadi tragedi. Hampir saja Alfred mati—atau minimal cedera berat yang melibatkan patah tulang dan tempat tinggi.
Reka ulang. Di satu sudut buntu taman itu berdirilah pohon tinggi menjulang. Alfred dapat ide brilian untuk memanjat sampai ke atas—seperti yang suka didongengkan para petualang : saat tersesat, naiklah ke tempat tinggi untuk mencari jalan pulang. Dia panjat pohonnya tanpa pikir panjang, terus dan terus hingga entah berapa lama berselang, sosoknya benar-benar hilang dari jarak pandang.
Matthew cemas, tapi dia bersikukuh tetap berdiri menjejak tanah karena untuk urusan keseimbangan dia memang paling payah. Dari bawah dia hanya bisa memandang jengah—sedikit berharap-harap jikalau Alfred dapat petunjuk untuk menentukan arah.
(karena mereka sudah hampir menyerah, astaga, labirin ini luasnya bikin terperangah)
Namun di cabang tertinggi kaki pemuda itu tergelincir—atau lebih tepatnya, Alfred berani bersumpah atas nama daging ham dalam burger dan tomat di tengah salad, kalau ada sesuatu yang sekencang tali mengikat pergelangan kaki dan menariknya turun—hingga di matanya dunia berayun dan atas menjadi bawah dan bawah menjadi atas dan Alfred membayangkan matimatimati ketika tubuhnya jatuh bermeter-meter dari tempatnya mendaki dan dia mengutuk gravitasi bumi namun—
itu semua tidak terjadi karena ada seorang pemberani (—yang pastinya bukan Matthew,) yang sigap menangkap dan menyelamatkannya bagai adegan pangeran menolong putri dalam suatu laga aksi.
Sehingga Alfred, si pemeran tuan putri, batal mati hari ini. Tak ada tragedi yang terjadi. Selamat, selamat.
DUK dan ketika Alfred buka mata segalanya kembali jadi sedia kala, atas dan bawah bergulir ke tempatnya semula. Matthew lari menghampiri, wajahnya pucat pasi, dan Alfred akhirnya menyadari kalau si ksatria gagah yang menggendongnya itu memang bukan Matthew.
Jadi siapa?
Dia mendongak, dan si penolong menunduk. Mereka bersua muka, agak lama, mulut Alfred menganga tak bisa berkata-kata – dalam hati dia sangat tak percaya, ya ampun aku digendong ala pengantin—sampai Matthew yang ketakutan menerjang sang kakak dalam ribuan pelukan, terisak-isak sampai napasnya cegukan. Mereka bertiga bertoplakan ke tanah dengan Alfred terjepit di tengah-tengah.
Matthew beringsut di bahunya dan butuh beberapa waktu untuk meyakinkan adiknya kalau Alfred baik-baik saja tanpa kepala pecah atau rusuk patah—dan menenangkan Matthew yang histeris itu perkara susah.
Setelah berterima kasih dan Matthew meminta maaf berkali-kali pada si penolong, mereka mulai sesi basa-basi dan memperkenalkan diri.
Waiter itu bernama Welsch, usia dua puluh tahunan, hanya pria desa biasa yang baru saja naik pangkat jadi pelayan. Saat ditanya sedang apa beliau di dalam taman, dia mengaku (setengah malu setengah ragu sambil menggaruk-garuk pipi, sungguh pria yang lucu) kalau mengedarkan bir dan whiskey itu agak membosankan dan dia ingin menjajal taman.
Seperti petualang, katanya.
Kebetulan saja dirinya lewat tepat ketika Alfred tergelincir– walau Alfred menyela kalau dia tidak tergelincir, tetapi ditarik dari bawah oleh benang-benang setajam kaca yang nyaris memutus pergelangan kakinya.
.
Welsch tertawa dan berkata, "Itu tidak mungkin. Kulihat kau hilang keseimbangan dan terpeleset di atas sana."
.
Melihat Alfred di tengah panorama yang miskin cahaya? Bagaimana bisa? Beragam tanya menggelitik Matthew sampai gatal, namun dia tahan karena dia anak yang sopan, tanpa tahu akan gelondong benang tenun di saku celana si pelayan.
.
.
.
.
Deg deg deg. Tes tes. Gumpalan organ di tangan berdenyut pelan, selang pembuluh riuh bergelantungan dan bulir-bulir darah mengalir berjatuhan. Di bawah sinar temaram pemberian bulan, jantung itu secantik apel merah yang siap dimakan. Hmmm, jantung segar memang selalu membuatnya ketagihan. Apalagi yang masih ricuh berdetak-detak, legit dan hangat, tak kuasa dia menahan nikmat.
"Itu milik siapa?"
"Alps Zwingli," jawabnya sambil menggigit lagi dan cairannya banjir ke sela-sela gigi. Kres. Hap. "Pria brengsek, tapi kuakui dia punya otot perut yang bagus. Saat ini dia sedang bergentayangan di dalam rumah—tanpa jantung."
Scott tahu kalau di suatu koridor dalam manor tersebutlah seorang pria, terseok seperti mesin soak dengan sepotong besar daging tercungkil dari dada, dan itu membuatnya harus menahan tawa.
"—dan dia itu memberitahuku tempatnya." Scott menoleh. "Ruang kerja, lantai tiga, paling ujung kiri. Dejavu?"
Mata sehijau hutan membesar, membulat beberapa saat, lalu memicing murka. Brengsek. Dia tahu tempat itu—teramat tahu. Dulu, bersenja-senja dia habiskan waktu di tempat itu, ketika dia adalah seorang anak kecil pemalu, getol mengintip ayahnya bekerja melalui celah-celah pintu.
Para keparat itu sampai tega menjajah ruangan ayahnya yang keramat. Sungguh tak punya muka.
"Aku tak tahan lagi, Irene."
"Aku mengerti," Irene menatap sang bulan yang serona dadih, putih dan halus namun ada lingkaran merah di pinggirannya yang mulai tergerus, "tapi belum saatnya. Tak bisakah kau tunggu sebentar saja?"
bulan sebentar lagi ditelan merah.
Scott menggeretakkan gigi, menutup mata dan berusaha mengendalikan diri. Benar—seberapapun inginnya dia mengingkari, namun tak ayal mereka harus menunggu sebentar lagi. Malam masih terlalu dini untuk dinodai. Tanda-tandanya belum pasti.
bulan sebentar lagi akan menyerah.
"Ngomong-ngomong di mana Seborga? Harusnya dia sudah sampai, kan?"
Scottt menunjuk ke arah bawah. Alis Irene terangkat. Di bawah tak ada siapa-siapa—kosong dan hampa. Scott ini bagaimana?
"Lebih tepatnya, seharusnya ada di bawah. Dia masuk dalam proteksi bersama seorang anak kecil—"
"Bukankah itu berbahaya?"
"—dia tahu aku tak mau diganggu."
Tak kuasa Irene jadi khawatir—menurutnya, Seborga itu masih terbilang amatir. Bahkan cingulum miliknya baru saja naik pangkat dari putih jadi biru. Bagi Irene, Seborga yang lebih muda itu tak lebih dari anak kecil bau susu.
Namun Scott tidak terlihat cemas.
"Sekali-sekali tidak apa-apa, kan? Ini bisa jadi ajang latihan sebelum nanti malam."
"Tapi—"
"Lihat itu, Seborga sudah keluar."
"Mana, mana?"
.
.
.
.
"Tersesat?"
"Bukan tersesat Kak, lebih tepatnya terjebak." Matthew mengoreksi, ranting di tangannya kembali lincah menari-nari. Gores sana, gores sini, dan Bibbidi-Bobbidi-Boo, terpetalah taman labirin ini. Si pelayan mengejar garis-garis di tanah dengan wajah terperangah—campuran antara setengah kagum, setengah jengah, setengah lengah."Coba lihat ini. Aku dan Alfred sudah melintasi semua patung di tiap titik... demi Tuhan bahkan kami melintasi patung dewi pembawa pedang itu dua kali!— tapi tidak sekalipun kami mencapai bagian tengah. Atap gazebonya saja tidak kelihatan. Seakan-akan kami dipermainkan taman ini."
Kalau mau jujur Alfred masih kurang mengerti, tapi dia mengangguk-angguk penuh percaya diri.
"Mungkin kau salah jalan."
"Kami sudah mencoba semua jalan. Yang ini, yang itu, semuanya. Tapi jalurnya selalu berputar-putar, mau mengambil belokan yang manapun." Ranting dibuang, napas dibuang. "Seperti ada sihir yang mempermainkan kami—mengingat mantan pemilik manor ini adalah para penyihir. Tidak heran kalau di sela-sela rumah ini banyak sihir."
Seratus untukmu, Nak, ujar pria itu dalam hati.
Welsch—Wales Kirkland, hanya bisa buang napas panjang. Hipotesa yang benar-benar tak terbantahkan. Taman labirin ini tak ada bedanya dengan belantara liar, penuh jebakan dan dijelali rintangan, selalu enggan untuk dijinakkan—hanya 'anggota' keluarga Kirkland yang bisa santai di taman tanpa perlu hilang berbulan-bulan.
(ah, berarti, apakah ada tamu lain seperti anak-anak ini yang tergoda masuk hutan dan tak bisa kembali? tersesat dan kelaparan sampai-sampai harus memakan daging sendiri? dari tangan sampai kaki hingga habis tak bersisa lagi? hi-hi-hi- -hi, wales tersenyum-senyum dalam hati, geli.)
"Kak Welsch?"
Ups, ups. Wales mengusung senyum palsu, berpura-pura agar lakonnya sebagai pelayan baru nan lugu tidak terendus anak-anak dungu itu.
(yang membuat ujung mulutnya senut-senut nyut-nyut-nyut karena tidak dirancang untuk tersenyum selebar itu—karena sejatinya dia seorang pria yang kaku)
"Bagaimana kalau kita cari jalan pulang? Sepertinya Kakak masih hapal rute ke pintu masuk."
"Benarkah! Ayo kita keluar!" teriak Alfred girang sebelum tulang keringnya jadi sansak tendangan Matthew.
"Kak, kami masih mencari adik kami." Matthew menjelaskan, menghiraukan Alfred yang berguling-guling kesakitan. "Dari tadi dia hilang, jadi kami mencarinya ke dalam taman."
Kepala tertaling. "Adik?"
"Iya. Anak perempuan. Berkuncir dua dan pakai gaun biru. Rambut dan kulitnya kecoklatan. Apa kakak lihat?"
Telunjuk Wales mengacung. "Yang itu?"
.
Tanpa menunggu barang sedetik, Alfred dan Matthew berbalik. Seorang pemuda, bertuxedo licin dan dasi pita, dengan topeng sewarna tanah menyembunyikan wajah ramah. Kedua tangannya merengkuh si gadis kecil (sang cinderella, adik kecil mereka semua)— Sey—yang tertidur pulas, senyumannya besar terlukis di atas kanvas, di sekeliling mulutnya ada remah-remah pink gula kapas. Wajahnya bahagia, tak ada lagi bilur air mata yang tersisa, kepalannya berlelehan kembang gula aneka warna.
Di tangan kirinya ada boneka kelinci, mungil berpita coklat tanah, ekspresinya artifisial namun ramah.
"Ya ampun, Sey!" Alfred dan Matthew spontan mengerubungi, khawatir.
"Tidak apa-apa, kok. Dia cuma kelelahan." Pemuda tak bernama itu menyerahkan Sey pada Alfred, begitu waspada bagai mempersembahkan harta dari kaca, dan sang kakak menggendong adiknya di punggung. "Tadi aku menemukannya menangis di taman, jadi kuhibur dia sambil bermain. Tidak apa-apa, kan?"
Alfred mengangguk, dalam hati lega. Mengurus tangisan Sey itu menguras jiwa raga—baik England, Alfred, dan Matthew, semuanya sudah makan pengalaman dengan air matanya.
(dan pukulannya, dan tendangannya, dan terutama sekali gigitannya. sey pandai meniru england)
"Terima kasih, ya." ucap Matthew tulus apa adanya. Alfred menoleh ke arah Wales, ribuan harap berpendar-pendar di mata.
"Nah, Kak, katanya masih hapal rute keluar?"
.
.
.
.
Seperti seekor anjing liar terlunta-lunta, pasrah diombang-ambing jalanan kota yang terlihat sama di depan mata, sungguh analogi yang tepat untuk England—walau bedanya yang mempermainkan pemuda itu bukanlah lika-liku metropolitan melainkan koridor-koridor dengan interior serupa. Mau belok kanan, belok kiri, sejauh mata memandang tak ada yang berbeda—
—sama-sama berdinding bata, sama-sama kosong tanpa satupun manusia—(kecuali seorang lady dan gentleman yang barter liur di sudut gelap, England berusaha keras untuk lewat dengan mata tidak tertambat), dan yang terpenting, sama-sama pelit cahaya.
Bayangkan, dia hampir gila karena buta namun cahaya yang mengisi cakrawala hanya titik-titik lampu lilin di dinding.
Gentleman sejati tidak emosi, tetapi setelah berpuluh-puluh menit dia berjalan seorang diri hanya ditemani tap-tap-tap langkahnya dan kretek-kretek angin menggedor-gedor bingkai jendela (seakan berkata buka-buka-buka), yang bisa dia pikirkan hanyalah marahmarahmarah—KEMANA FRANCIS DI SAAT BEGINI?
Tidak cukup hanya dengan omelan. Tamparan. Tendangan, kalau perlu.
Dan saat itu—entah karena guratan takdir di telapak tangan atau karena Tuhan jatuh kasihan, Francis Bonnefoy lewat di saat tepat, keluar dari sebuah pintu sambil mengisap rokok dan menyimak sebuah surat. Surat bersegel istana, tapi England begitu dibutakan murka.
England menendang, menampar dan mengomel secara berurutan.
.
"Bodoh!"
PLAK
"Idiot!"
PLAK
"Bedebah! Tolol! Gila! Menyebal—"
Meski kedua tangannya telah terkunci, bibirnya masih komat-kamit memuntahkan beragam kata bernada bencibencibenci dan kakinya terus menyepak tanpa henti. Namun pandangan Francis (yang begitu dalam, walau sampai taman surga membara pun England takkan mengakuinya) dan tangannya yang kokoh memborgol pergerakan England.
"Tenang, tenang, petite lapin. Tarik napas panjang, haaah, dan ceritakan—ada apa?"
"Anakmu," tukas England tajam, "tiga-tiganya. Hilang. Entah kemana. Sudah hampir satu setengah jam. Tidak ada. Apa saja yang kau lakukan?"
England histeris lagi.
"Angleterre, tenang!"
Satu pelukan, yang awalnya berniat baik untuk menenangkan dan meredam api kemarahan, malah jadi senjata makan tuan karena diakhiri dengan tamparan.
(tamparan kelima, dengan kedua tangan, sekaligus yang paling dahsyat —england makin tua makin kuat)
"Jangan peluk-peluk!"
"Oke, oke."
"Jangan senyum-senyum!"
"Okeee."
Francis mengusap pipinya. Memerih dan memerah, walau masih kalah merona dengan semburat di wajah England (yang mengepulkan asap-asap mendidih dan hampir berbuih).
"Nah, tadi apa yang kau katakan?"
"Anakmu," matanya melotot, "tiga-tiganya hilang. Awalnya Sey yang pergi, namun Alfred dan Matthew yang mencarinya tidak kembali juga. Aku khawatir, benar-benar khawatir, apalagi ayah mereka malah hilang entah kemana. Dan aku tidak tahu harus mencari anak-anak itu dulu atau ayah mereka dulu."
Strike tepat pada sasaran.
"Dan sekarang sudah hampir jam dua belas, tapi mereka tidak kembali juga. Dan aku tersesat. Dan aku menyaksikan sepasang manusia tanpa sopan santun yang saling bertukar liur di tempat umum—tidak, Francis, aku tidak mengintip! Dan aku akhirnya menemukanmu berasyik-asyik merokok sambil membaca surat—padahal pelayan itu bilang kau sedang rapat. Dan aku—"
"Sssh. Yang lain bisa mendengarmu."
Mata mereka spontan beralih pada pintu. England langsung menutup mulut, sadar bahwa masih ada tamu, dan dia terlihat agak malu. Sebal, merasa dipermainkan, dia memutar tumit dan berbalik, memunggungi Francis sambil melipat tangan. Sungguh kekanakan, memang.
"Yah, terserah kalau kau mau tetap berdiskusi ria bersama kolega-kolegamu dan mengabaikan anakmu, berarti aku akan mencari mereka sendi—"
"Kau bilang anak-anakku hilang, kan? Kau kira aku ayah yang mengabaikan anaknya?"
Strike tepat pada sasaran.
.
Francis masuk ke dalam pintu (untuk berpamit kepada para tamu) dan keluar setelah beberapa waktu.
Dia memasukkan surat (yang sempat terhempas pasrah di lantai) berlambang istana itu ke dalam saku.
Sayangnya, surat itu (disusun dari berbaris-baris rahasia yang dijaga ketat oleh para ksatria—jika sampai bocor taruhannya adalah nyawa, nyawa-nyawa paling berharga di istana) meleset masuk sakunya hingga jatuh dan membisu begitu saja di lorong itu, terlupakan dan terhiraukan, bahkan setelah Francis dan England telah lama berlalu.
Namun seorang pelayan muda (yang berseragam merah berkancing emas dan bertopi sangat tinggi hingga bayangannya menodai wajah) pembawa troli menyelamatkan surat itu dari kepulan debu, membacanya sekilas, mengenalinya, lalu mengklaim surat itu jadi miliknya. Dia memasukkannya dalam saku, matanya yang sewarna madu menggelap melihat bulan merah di luar jendela, dan dia pergi dari tempat itu tanpa ragu.
Seiring langkah ringannya, tap-tap-tap-tap driiik driiik, sang pelayan menyiulkan sebuah lagu.
.
.
.
.
Pintu di hadapan mereka tampak menggoda. Alfred dan Matthew sama-sama menghela napas lega, karena taman labirin ini benar-benar buat dua saudara hampir gila. Mereka sudah muak dengan taktik permainan dan persimpangan kiri-kanan dan langkah-langkah tanpa tujuan.
Setelah sedikit prosesi basa-basi berisi ucapan terima kasih dan sampai jumpa, Alfred dan Matthew sepakat untuk kembali ke aula (karena perut alfred sudah menggeram luar biasa minta diumpani makanan pesta) dan Welsch beserta rekan sejawatnya (yang entah siapa namanya) memutuskan untuk kembali ke pekerjaan mereka semula.
Terlalu lama bolos, katanya.
Mereka melambaikan tangan dan menebar senyuman, namun sesegera mungkin setelah dua anak itu menghilang, Wales berbisik ditahan, "Legifer."
Satu kata itu menghantam Seborga bagai ribuan bata. "Benarkah? Yang mana?"
"Yang adiknya. Aku melihat peluru ramai berjatuhan dari tubuhnya."
Seborga mengerang, senyumannya hilang. Gawat ini, bisa-bisa semuanya akan berang. "Sial, tidak kusangka ada yang terlewat. Padahal aku sudah hati-hati agar tidak dihukum Irene..."
Di benak Seborga ada seorang nenek sihir, nenek sihir bertudung hitam dalam cerita, merebusnya dalam kuali raksasa dan ada latar suara tawa menggema HA-HA-HA-HAAA.
"Tapi sepertinya tidak apa-apa, dia kan cuma anak-anak." Wales melipat tangan. "Dan dia belum 'terjaga', masih bau mentah. Buktinya dia tak bilang apa-apa saat melihatku."
"Yah, benar juga—atau dia pura-pura tidak melihat."
Seborga teringat suatu cerita. Para Legifer yang telah bangun bisa mengendus kawanannya, seperti gerombolan binatang liar dalam hutan belantara. Insting bertahan, katanya. Sebut saja satu nama, Wales. Andaikata Seborga juga Legifer, dia akan melihat benang-benang halus menguar dari tubuh rekanannya, tipis dan melayang seringan pintalan laba-laba, walau aslinya tak ada apa-apa di sana.
(dan dia memang laba-laba, laba-laba pemintal benang)
Wales mendongak—dan di atas sana, diapit bintang-bintang bercahaya, ada kelereng cantik bernama bulan purnama, hampir bersimbah merah seluruhnya, hanya menyisakan sepotong kecil putih yang semakin fana.
(seperti darah, terus merekah, seperti karat, seperti corengan lipstick di kemeja dan bunga poppies)
"Sudah hampir waktunya. Ayo kita kembali."
.
.
.
.
Itu kamar untuk orang-orang kehormatan—orang-orang penting bertitel petinggi kerajaan. Ruangannya besar, lantainya licin, atapnya tinggi dan perabotnya mewah menawan. Kamar itu didominasi merah, merah yang membara di mana-mana, membakar tempat tidur berlapis sutera sampai tirai di jendela, segalanya dijejali merah sesuai dengan selera si tamu undangan.
Ya, Israel Yerushalayim menyukai warna merah. Hangat dan indah, mengingatkannya pada sekepal batu mirah, mengingatkannya pada rumah dan bunga merekah
—mengingatkannya pada darah dari daging terbelah.
Yang manapun sama saja, bukan?
Pria itu duduk di tempat tidur, terus menatap pohon di luar jendela, di mana seekor pungguk sedang asyik-asyiknya mendengkur. Uhu-uhu, begitu. Bola mata mereka bersua tak lama, emas melebur bersama emas, dan Israel mengisap rokoknya dalam-dalam. Dia setengah telanjang, tubuhnya yang tegap hanya memakai celana panjang, keringatnya cukup banyak berlinang.
Di sebelahnya ada seorang pria—pemuda—bukan, seorang remaja. Berambut hitam pendek dan berkulit kecoklatan, terhempas tengkurap hingga hidungnya menghirup bantal. Remaja tanpa sehelai busana, setiap serpih seragamnya berceceran bagai pecahan kelopak bunga, dan ada merah bercampur putih menganaksungai di antara sela paha. Kondisinya bercerita akan betapa brutalnya Israel bercinta.
Keheningan masuk tanpa permisi di ruangan ini. Hanya ada suara uhu-uhu yang berang dan geletar gelondong kayu meranggas jadi arang.
"Sampai kapan kau mau mengintip di situ?"
Tap.
Tanpa ragu-ragu, Scott Kirkland keluar dari persembunyiannya di sudut itu.
Tap tap tap.
Trek. Dia berhenti, tak ingin mendekati lebih dari ini. Tak sudi.
"Israel Yerushalayim," suaranya berat dan menuduh, "apa yang ingin kau bicarakan denganku?"
Israel melempar surat itu. "Hadiah untukmu."
Dalam satu kibasan Scott menangkapnya, menyimaknya sebentar saja, mengenalinya, pupilnya membesar karena tak percaya.
Mata hijaunya bergulir, pandangannya cepat menjilat butir-butir huruf terpahat dalam surat.
Baginya—Ah tidak, bagi keluarga Kirkland, isi surat itu tak ubahnya sebuah hadiah dari Santa. Keping terakhir untuk jerih payah mereka. Obat pahit untuk sakit hati mereka. Namun—
" –Dari mana kau dapatkan ini?"
Seringai Israel mendadak keji. Tanpa hati nurani, dia menjambak remaja di sebelahnya, akar-akar rambut mengancam untuk tercerabut dan erangan sakit tertanggal di mulut. "Pelacur kecil ini yang memungutnya."
Mata hijau Scott tertuju pada lelehan putih dan merah di atas seprai sewarna mirah, dan terdengar rintihan sakit yang patah-patah.
"Kenapa kau berikan ini padaku?"
Isapan rokoknya diculik angin malam. "Karena kau pasti membutuhkannya."
Alis Scott bertaut dalam, dan dia perlahan menggeram. Apa ini jebakan? Bisa saja—dia tak boleh begitu saja menggantung harapan. Gegabah dalam mengambil keputusan itu tak diperbolehkan. Baiklah, tinggal satu pertanyaan.
"... Kenapa kau membantu kami?"
Senyumnya lebar.
.
"Membantu kalian? Aku melakukan ini untuk diriku sendiri."
.
Tak beberapa lama setelah Scott Kirkland menguap jadi udara, Israel kembali memainkan pelacur kecil favoritnya. Remaja itu mengerang, menggeliat pelan bagai ulat terpampang matahari siang, dan mengelinjang saat jemari-jemari kasar tak putus-putus menginvasi selangkangannya. Tangannya mengait bantal dan mencakar-cakar gatal, napasnya tercekal.
Dia tertatih-tatih, merintih, segalanya terasa perih.
Israel tersenyum. Keparat ini paling cantik dengan anus berkarat.
.
"Bangun, Palestine. Sebentar lagi giliranmu dimulai."
.
.
.
.
Hanyalah gereja lokal tanpa hiasan, berdempetan dengan sebuah panti asuhan. Rapi, sederhana dan apa adanya, tanpa dentingan lampu kristal ataupun patung seronok dimana-mana, namun suasananya disesaki kehangatan. Bangku-bangku kayu berbaris, jadi penonton setia orkestra doa yang dinyanyikan tiap Minggu pagi. Di pusatnya ada patung Bunda Maria, putih suci dengan mimik penuh sahaja, dan seorang pendeta khusyuk melantunkan puja-puja untuknya. Suaranya sarat akan cinta.
Pria itu bersenandung tanpa henti, tersenyum-senyum sendiri, dan perlahan dia berlutut dengan tangan mengatup,
"Hail Mary,
full of grace,
the Lord is with thee; "
"Blessed art thou among women,
and blessed is the fruit of thy—"
"SPAAAAIN!"
"Bapaaa!"
Sang pendeta—Spain, menoleh dan berdiri. Seorang suster berbalut biru dan remaja lelaki berseragam katolik putih-ungu tengah menghampiri, berlari-lari hingga gema langkah mereka bekeredap di gereja yang sepi. Sahut-sahutan, dum-dum-dum tap tap, dua pasang kaki turun-naik berkali-kali. Si pendeta jadi geli.
(aah, dua orang yang paling dia cintai. melebihi apapun di dunia ini)
"Bella~ Romanito~ Hati-hati, lantainya li—"
WUSH dan Romano pun meluncur menyapu lantai.
"—cin. Tuh kan."
"Bapa, ini gawat!" koar Bella, sang suster, mengobrak-abrik bahu si pendeta, kepanikan jelas tengah mendera. "Keluar, lihat keluar!"
Kepalanya tertaling. "Keluar?"
"Iya, keluar!" Romano ikut mengaduk-aduk ayah angkatnya, hidungnya merah parah. Spain jadi pusing-pusing dibuat mereka berdua. "Keluar! Bulannya jadi—"
.
Mata hijau Spain sama berbinar dengan bulan di luar jendela. Dia mengintip keluar sambil tersenyum nakal, begitu girang seakan terkenang hal yang buat dia senang, sungguh beda dengan reaksi yang dibayangkan Romano dan Bella.
"Wah, itu kan Red Moon!" sahutnya ceria, melambai-lambai pada teman lama, "Sudah belasan tahun aku tidak melihatnya."
"Bapa?"
"Spain?"
Dia menoleh. "Cantik, kan? Merah menyala di tengah-tengah hitam... seperti kilauan batu permata."
"Cantik apanya! Bagaimana kalau itu suatu pertanda? Tadi bulannya biasa-biasa saja, kok!" hardik Romano sengit, agak sebal karena Spain bahkan tidak berjengit.
" Tenang saja, itu bukan pertanda apa-apa, Sayang!" Romano menepis tepukan di kepalanya. "Bukan pertanda apa-apa bagi orang desa macam kita."
"Maksudnya, Bapa?"
"Yah... Bagi para penyihir—" pria itu bersandar di ambang jendela, masih melirik bulan dari sudut mata, membayangkan kawanan serigala tengah berpesta,
"—ini lambang kesialan."
.
.
.
.
Ada suara jeritan.
.
.
english roses III end
.
.
next chapter : english roses IV
A U T H O R ' S N O T E
... BAHKAN DI CHAPTER INI PUN ENGLAND DAN SCOTT TETEP GA KETEMU.
*rajamed*
*dihajar rame-rame*
Ah udahlah. Yang penting 'adegan itu' berhasil saya masukin di chapter ini. 'Adegan itu' adalah...
-jengjerejengjengjeng-
BANG ANTO JADI PENDETA!
*dibuang ke blekhol*
Dari zaman TP pertama, saya pengen banget masukin adegan gereja di atas cuma ga kesampean. Dan iya, itu Bella jadi suster. Abis kepikirannya kalau Spain jadi pendeta, susternya pasti Belgium *shot* *bang Anto ga punya cewe laen sih* *bang, cari cewe dong*
Adegan yang udah sering banget di cerita-cerita : Barang penting jatoh dari saku, terus diambil tokoh antagonis.
Dan iya, Israel itu tokoh yang 'kelihatan ga berpihak, tapi punya agenda tersendiri di cerita' – makin ke depan dia makin ga jelas mihak ke mana. Kalau Palestine mah jelas-jelas dedengkot Israel. Tapi... *spoiler* dia juga ga jelas bakal mihak mana, hahaha *ketawa setan*
Well, review? ouo Kalau ga tahu mau tulis apa, sepatah kata 'Update!' juga cukup kok ouo
.
.
G L O S S A R Y
Cingulum : Semacam 'kabel' atau tali yang digunakan dalam ritual Wicca, biasa digunakan di pinggang (walau ada juga yang bilang tidak boleh digunakan). Warna cingulum melambangkan tingkatan orang tersebut. Mulai dari putih, biru, merah-putih-biru, emas (untuk pendeta pria, melambangkan matahari) dan perak (untuk pendeta wanita, melambangkan bulan).
Mirah : Batu rubi.
Red Moon : FENOMENA ALAM (untuk proses kejadiannya secara science, baca Wikipedia *shot*). Namun di kalangan Wiccans, Red Moon melambangkan kesialan atau tragedi yang akan terjadi. Dan saya ga tahu apakah Red Moon itu awalnya bulannya putih jadi merah, atau bulan merah dari awal. Yang saya baca sih kejadian Red Moon muncul jam lima pagi, berarti harusnya dari putih ke merah ya?
.
.
R E V I E W R E P L Y
MaroonScarlet : Wah makasih ya! Emang judul fic ini ga menarik (dan menjebak, kirain ngomongin politik taunya sihir-sihiran) tapi makasih banget udah coba klik dan baca! :)
