Mari mengheningkan cipta sejenak, mendo'akan saudara/i kita yang sedang mengalami musibah di Palu dan Donggala. Terima kasih.

#PrayforPalu

#PrayforDonggala

#PrayforIndonesia

xxxxx

Geiranger

x

x

x

Naruto belongs to Masashi Kishimoto

x

x

x

Tokyo, Japan

"Ohh. Sekarang mau main rahasia-rahasiaan denganku? Gak seru deh, Kak!"

Sakura langsung menutup teleponnya ketika sang kakak di ujung sana masih enggan memberitahu alasan Emir Gara mencari berlian-berlian itu. Bukan karena uang? Lantas apa? Gengsi? Tidak mungkin. Gara bukan tipikal orang yang gemar mengoleksi barang-barang mewah kemudian dipamerkannya di media sosial. Dirinya sangat yakin akan hal itu. Walau tak dipungkirinya, Gara sangat gigih mengumpulkan pundi-pundi harta. Entah untuk apa. Padahal warisannya saja sudah lebih dari cukup untuk menghidupi dirinya hingga tujuh turunan.

Sakura melemparkan ponselnya begitu saja ke atas kasur karena kesal. Ia baru saja akan bangkit dari tempat tidur ketika layar ponselnya kembali menyala, dengan nomor Kakashi tertera di sana. Tapi Sakura memilih mengabaikannya dan beranjak ke luar kamar. Pagi itu lumayan cerah. Matahari bersinar terik walau siang belum menyingsing. Ia memadamkan lampu-lampu di apartemennya, kemudian membuka gordyn jendela besar di ruang duduk yang mencurahkan penerangan alami dari cahaya matahari ke seluruh sisi apartemennya.

Wanita cantik itu beralih ke dapur, menatap malas ke arah bak cuci piring yang masih penuh dengan peralatan makan yang tak sempat dicucinya semalam. Padahal tadi malam ia hanya memasak chicken pasta dan hasselback potatoes lasagna, tapi dalam sekejap dapurnya jadi kotor dan berantakan.

Akhirnya, mau tak mau, Sakura memulai harinya dengan menunaikan tugas mulia sebagai perempuan alias bersih-bersih. Pertama, ia membereskan kekacauan di bak cuci, kemudian menggosok kerak-kerak sisa tumpahan saus dan lelehan keju di kompor serta cipratan segala rupa pada dinding keramik. Bersih-bersih merupakan pekerjaan melelahkan. Biasanya Kakashi yang mengemban tugas tersebut, tapi sejak mereka pisah rumah beberapa tahun lalu, Sakura harus rela mengerjakan semuanya.

"Pisah rumah? Terdengar seperti pasangan suami istri saja."

Sebenarnya Sakura lah yang memilih hengkang dari penthouse mewah sang kakak di Chiyoda dan pindah ke sebuah apartemen sederhana di Shinjuku. Kakashi sempat menentang keputusannya dan mendesaknya agar kembali ke penthouse. Menurut pria itu, Sakura hanya buang-buang uang, membayar sewa apartemen yang bahkan jarang ia tempati, lantaran wanita itu lebih sering melanglang-buana berkeliling dunia melakukan pekerjaannya yang memang bertaraf internasional.

Tapi, Sakura tak mempermasalahkan soal uang. Ia ingin ketenangan, menyepi dalam kesendirian, dan terpuruk dalam kegundahan hatinya. Kakashi tak pernah mau tahu, bahkan tak berusaha mengerti bahwa setiap wanita butuh ruang untuk dirinya sendiri.

xxxxx

Sakura langsung menyelidiki Koyuki Uchiha begitu ia tiba di Jepang. Sesungguhnya, ia selalu merasa lebih penasaran dengan para kliennya yang rela merogoh kocek tak sedikit untuk melenyapkan nyawa orang-orang yang mereka benci, daripada latar belakang targetnya sendiri. Melihat gaya hidup mewah dan glamour yang dijalani Koyuki Uchiha, Sakura sudah bisa memastikan kalau wanita itu berhasrat membunuh suaminya sendiri demi harta warisan.

"Mungkinkah Koyuki tahu mengenai berlian sembilan ratus milyar dollar yang tersembunyi di perairan Geiranger milik Sasuke?" Sakura membuang pikiran itu jauh-jauh. Keberadaan Kalung Brisingamen dewi Freya sama misteriusnya dengan keberadaan kota emas Atlantis yang terkubur di dasar samudera. Banyak teori dan analisa yang berseliweran, namun tak ada satu pun yang terbukti kebenarannya.

Sakura mengambil sebotol jus jeruk dari dalam kulkas dan menuangkannya ke dalam gelas kaca. Ia menderetkan foto-foto Sasuke Uchiha yang diambilnya secara candid di atas meja pantry. Berbeda dengan istrinya, penampilan pria itu biasa saja. Sasuke lebih suka mengendarai sedan biasa daripada mobil sport mewah. Pria itu hanya memiliki dua credit card, yang platinum untuk sang istri, sementara dirinya sendiri menggunakan tipe gold yang jarang sekali digunakannya untuk membeli barang-barang mewah atau branded demi melambungkan gengsi.

"Tampan," gumamnya seraya memandangi salah satu foto Sasuke yang memperlihatkan wajahnya secara close-up. Sakura sering bertemu dengan pria tampan dalam pekerjaannya dan tak jarang, mereka sendiri yang mendatanginya. Baginya, Kakashi juga lumayan tampan. Bahkan, ia tak segan memuji ketampanan Kakashi jika kakaknya itu sedang merajuk.

Well, bisa dibilang Kakashi merupakan satu-satunya pria tampan yang cukup sering mengisi hari-harinya dengan cetusan super perhatian seperti, "racun sianida pesananmu sudah kukirim. Jangan terlalu sering menggunakannya, nanti cepat habis. Itu mahal dan susah sekali mendapatkannya," atau melayangkan pertanyaan blak-blakan seperti, "kapan kau akan membunuh sasaranmu? Jangan lama-lama! Masih ada target lain yang harus disingkirkan dari muka bumi ini!"

Dan ungkapan penuh cinta yang paling disukai Sakura adalah, "uangnya sudah kutransfer ke rekeningmu." Perhatian sekali kan kakak tampannya itu?! Meski kadang sangat menyebalkan kalau Kakashi mulai bersikap sok misterius seperti saat ini. Sudahlah. Tinggalkan saja si tampan Kakashi dengan segala ketampanannya.

Sakura meneguk jus jeruknya lagi dan kini memandang wajah tampan Sasuke yang ia abadikan ketika pria itu sedang makan siang di sebuah restoran bersama kakaknya. Dua pria Uchiha. Dua-duanya tampan. Sayang sekali dua-duanya sudah ada yang punya. Dan yang satunya segera meregang nyawa.

Namun... Entah karena ketampanannya yang memerangkap jiwa atau memang ada sesuatu yang lain, yang lebih misterius dalam diri Sasuke Uchiha yang telah membangkitkan rasa ingin tahunya hingga sedemikian besar. Sakura tak pernah merasakan firasat ini sebelumnya. Biasanya ia selalu percaya diri dan yakin bisa menyelesaikan pekerjaannya. Tapi, kali ini... Sakura merasa ragu dan... Takut.

Bukan takut akan kematian. Sakura sudah terlalu sering berada dalam situasi yang bisa merenggut nyawanya kapan saja hingga kematian hanya terdengar sesulit PR matematika baginya.

Bukan. Bukan kematian. Tapi... Sesuatu yang lain. Sesuatu yang bisa merusak hidupnya lebih buruk daripada kematian. Sesuatu yang bisa membuatnya terperosok, jatuh begitu dalam hingga mungkin ia takkan bisa bangkit kembali seperti sedia kala.

Dan... Entah kenapa instingnya mengatakan bahwa Sasuke Uchiha memiliki sesuatu itu. Sasuke Uchiha memiliki sesuatu yang mungkin bisa menghancurkan dirinya hingga berkeping-keping.

Hawa dingin seketika menyergap tubuhnya. Apa pun sesuatu itu, yang jelas itu tidak baik bagi kelangsungan hidupnya. "Jangan berpikir macam-macam, Sakura! Kau harus segera melenyapkan Sasuke dan mencari Brisingamen di perairan Geiranger."

Sakura pun beringsut bangkit menuju ruang duduk dan menyalakan laptop yang masih tak bergeser dari posisinya, sejak tadi malam ia letakkan di atas meja kaca berbentuk oval. Ia memutar kembali video Sasuke dan Izumi Uchiha yang direkamnya secara sembunyi-sembunyi. Mereka sedang bersenda gurau bersama anak-anak di salah satu pekarangan Namikaze Academy, tempat keduanya bekerja sebagai pengajar seni musik.

Dalam video itu, Sasuke terlihat seperti orang lain. Seorang laki-laki yang berbeda. Pria itu tertawa begitu lepas dan tatapannya tak sekali pun beralih dari Izumi, yang sejatinya adalah istri dari kakaknya sendiri. Tak butuh kemampuan khusus bagi Sakura untuk mengetahui bahwa hanya Izumi adalah satu-satunya wanita yang menguasai segenap cinta dan kasih sayang milik Sasuke Uchiha.

Izumi adalah teman sekelas Itachi Uchiha saat masih SMP. Mereka berpacaran sejak lulus SMA dan hubungan asmara mereka berlanjut hingga ke jenjang pernikahan empat tahun yang lalu. Tahun lalu, Izumi melahirkan seorang bayi laki-laki yang diberi nama Itsuki.

Pasti sangat berat bagi Sasuke yang harus berlapang dada menyaksikan wanita yang dicintainya hidup bahagia bersama kakaknya sendiri. Terpancar jelas dalam sorot mata Sasuke kalau ia belum bisa merelakan Izumi bersama Itachi. Sakura bisa melihat perasaan cinta Sasuke kepada Izumi, sejernih ia melihat dasar danau Konigssee di Berchtesgaden.

"Aku akan merasa sangat bahagia jika memiliki seseorang dalam hidupku yang akan selalu memandang diriku layaknya Sasuke memandang Izumi," tanpa sadar Sakura membisikkan secercah angan dalam kebisuan angin semilir yang menyisip melalui jendela.

"Tapi kau tidak punya siapa pun dan tidak juga pantas memilikinya. Siapa yang akan mencintai seorang pembunuh seperti dirimu, Sakura?" Sekali lagi dirinya diingatkan untuk menghadapi kenyataan yang telah membentang di depannya. Tidak ada apa pun yang menantinya di ujung sana, selain kematian. Itu berlaku saat ini dan juga selamanya.

Suara bel pintu yang dibunyikan dengan tidak sabar membuyarkan lamunan Sakura. Wanita itu menoleh ke arah jam digital di atas drawer. Pukul delapan pagi. Kernyitan tipis terbentuk di keningnya. "Siapa yang menyambangi apartemenku pagi-pagi begini?" Sakura tak merasa memiliki janji temu dengan siapa pun. Ia pun tak memesan makanan take away sepagi ini.

"Iya... Iya... Aku datang." Sakura pun beranjak dari duduknya dan bergegas menuju pintu, mengintip sebentar sosok si pemencet bel tak sabaran melalui lubang kecil di pintu. Wanita itu setengah merengut setengah terkejut ketika melihat sosok yang mendatangi apartemennya. Siapa lagi kalau bukan kakaknya tercinta?!

"Kenapa kau tak menjawab teleponku?" Kakashi langsung masuk sambil menyeret kopernya tanpa dipersilakan terlebih dahulu oleh sang pemilik rumah. Pria itu langsung bertolak ke tempat Sakura setelah pesawatnya mendarat di bandara Narita dua jam lalu. Rasa cemas serasa menguliti tubuhnya ketika Sakura tak jua mengangkat telepon.

Walaupun adik kandungnya itu merupakan seorang pembunuh profesional, tapi rasa takut akan kehilangan Sakura kerap kali menghinggapinya hatinya. Wait, hati? Are you serious? Ya. Hati. Kakashi yang pandai tawar-menawar harga nyawa manusia bagai barang obralan di toko loak itu ternyata masih punya hati. Setidaknya pria tampan berambut perak itu masih memiliki hati yang menyayangi sang adik tercinta.

"I don't see any problem. Kau juga tidak mau menjawab pertanyaanku kan?!" Sakura menyahut dengan nada sinis, melewati sang kakak tanpa memandang ke arahnya. Ia kemudian duduk di sofa dekat jendela dengan tangan bersedekap seraya menyilangkan kedua kaki jenjangnya.

Kakashi melempar mantelnya, tampak terganggu dengan sifat keras kepala sang adik. "Jadi kau masih mempermasalahkan alasan Gara? Yang benar saja! Jangan seperti anak kecil, Sakura!" Meskipun kesal karena Sakura mengabaikannya, tapi Kakashi akhirnya bisa bernapas lega karena adiknya baik-baik saja, walau kecantikannya berkurang sedikit karena cemberut.

"Aku yang akan menyelam ke dasar laut untuk mencari Kalung Brisingamen, Kak. Jika kau lupa yaa. Jadi, kurasa aku berhak tahu apa alasan Gara mengincar berlian Wittelsbach." Sakura menekankan kalimat terakhirnya sambil menatap tajam sang kakak yang duduk di hadapannya.

Kakashi menghela napas berat, kemudian mendongakkan kepalanya menghadap langit-langit, berusaha menghindari delikan sang adik yang lebih tajam dari sebilah belati. Sebenarnya ia tak tahu harus memulai penjelasannya dari mana. Kakashi hanya mendengarkan sekilas ketika Gara mengungkapkan alasannya mencari berlian-berlian tersebut beberapa tahun yang lalu. "Gara mengumpulkan berlian-berlian itu karena dia meyakini akan kemunculan sebuah kekuatan dahsyat jika semua berlian tersebut disatukan," ungkapnya.

"Semua? Memangnya ada berapa berlian?" Sakura makin penasaran. "Jika satu berlian saja harganya sembilan ratus dollar, bagaimana jika ada dua atau lima berlian lagi?!" Sisi materialistisnya mulai mendominasi.

Kakashi berpikir sejenak. "Tujuh... Seingatku Gara hanya menyebut tujuh berlian sih," ujarnya sedikit tak yakin. Ia hanya mengingat segelintir pembicaraan antara dirinya dan sang emir karena pada awalnya, ia menganggap bahwa ocehan Gara tentang berlian-berlian itu adalah mitos belaka.

"Tujuh berlian??!!" Sakura terbelalak. Kakashi tak bisa menahan diri untuk tidak menatap bibir tipis sang adik menganga lebar saking kagetnya. "Dan Gara sudah mengumpulkan berapa banyak?"

"Baru satu. Berlian Koh-i-Noor yang ditemukan di Cordoba." Raut kekecewaan tercermin dari tatapan Sakura, namun ia lantas memakluminya. Semua hal yang bernilai tinggi tentu saja takkan mudah diperoleh begitu saja. Termasuk sebongkah berlian yang digadang-gadang memiliki kekuatan misterius. Entah kekuatan macam apa, Sakura tak mau tahu dan tak ingin mengetahuinya juga.

Namun... Masih ada satu hal yang masih menggelayuti pikirannya. Dirinya masih bisa memahami jika Gara berhasrat mengumpulkan semua berlian tersebut karena pria itu meyakini adanya sebuah kekuatan misterius yang menurut Sakura mungkin isapan jempol belaka. Tapi... Mengapa Kakashi begitu bersemangat menemukan berlian Wittelsbach di dasar perairan Geiranger yang bahkan keberadaannya belum bisa dibuktikan?

Kakashi merupakan orang paling realistis yang dikenal Sakura seumur hidupnya. Kakashi yang mengajarinya banyak hal, termasuk jangan memercayai siapa pun selain dirimu sendiri. Jadi, ketika Kakashi mematok budget yang harus digelontorkan Emir Gara Al Kazim untuk menemukan Kalung Brisingamen jika ingin menggunakan jasa mereka, Sakura bertanya-tanya dalam hati; Apa yang melatarbelakangi Kakashi menerima pekerjaan yang sulit diterka dengan akal sehatnya?

Apakah Kakashi memercayai adanya kekuatan misterius dalam berlian Wittelsbach? Ah, tidak mungkin! Konyol sekali membayangkan Kakashi yang bahkan tak meyakini adanya Tuhan, ternyata memercayai mitos Kalung Brisingamen milik Dewi Freya. Atau jangan-jangan Kakashi ingin mencuri berlian itu dari Gara? Cukup masuk akal sih, tapi bukankah Kakashi juga berteman baik dengan Gara, sama seperti dirinya?! Jadi... Apa alasan Kakashi sesungguhnya?

"By the way... Kenapa kau bersemangat sekali menemukan berlian Wittelsbach?" Sakura pun berinisiatif menanyakannya langsung kepada yang bersangkutan.

Kakashi terkesiap kaget di kursinya. Pria dengan bekas luka sayatan di mata kiri –namun sama sekali tak mengurangi ketampanannya, menatap Sakura tanpa kata. Ia sudah memprediksikan kalau adiknya itu akan bertanya demikian. Sakura adalah wanita yang cerdas. Kakashi bangga sekali akan hal itu, walau terkadang harus memutar otak memerah ingatan untuk berkelit dari pertanyaan-pertanyaan menjebak yang sering dilontarkan Sakura. Kakashi hanya mengangkat bahu, sambil menjawab singkat, "aku hanya ingin membuktikan omongan Gara."

Tawa Sakura terdengar dipaksakan seolah Kakashi baru saja berusaha membuatnya tertawa dengan melontarkan lelucon tidak lucu. "Aku sangat mengenalmu, Kak! Kau bukan tipikal orang yang mau repot-repot membuang tenaga untuk sesuatu hal yang tidak pasti," sergah Sakura seraya menatap intens sang kakak yang mulai gelisah dalam duduknya.

Kakak semata wayangnya itu mungkin pandai memperdaya orang lain, tapi Kakashi takkan bisa mengelabui satu-satunya orang yang paling mengenal dan paling peduli pada dirinya. Sesungguhnya Sakura tak meragukan keputusan Kakashi menerima pekerjaan ini. Justru ia merasa senang karena Kakashi bersedia membantunya secara langsung, bukan duduk di belakang layar dan membiarkan Sakura menghadapi segala resiko mematikan seperti yang biasa dilakukannya.

"Jika keberadaan kitab sihir Raja Solomon hanyalah mitos, kenapa sebagian orang rela melakukan banyak konspirasi dan kerusakan untuk meruntuhkan Masjid Al Aqsa di Palestina?!" Kakashi malah membalasnya dengan sebuah pertanyaan mencengangkan.

"Aku tidak mengerti maksudmu, Kak." Sakura tak memahami apa hubungan kitab sihir Raja Solomon dengan topik yang sedang dibicarakan oleh mereka, selain bahwa –sebagaimana Kalung Brisingamen milik Dewi Freya, kitab sihir milik Raja Solomon merupakan satu dari serangkaian mitos yang paling terkenal di seluruh dunia.

"Untuk sebagian orang yang memercayai adanya kitab sihir itu, mereka akan melakukan segala hal demi mendapatkannya. Begitu juga Gara yang meyakini kekuatan berlian-berlian tersebut," sahut Kakashi seraya bangkit dari sofa dan berjalan menuju dapur. Semenit kemudian ia kembali ke ruang tamu dengan segelas jus jeruk di tangannya.

Pria itu mengambil tempat di sisi Sakura, duduk di sana dengan punggung bersandar pada lengan sofa. "Akhir-akhir ini pekerjaanku cukup santai," kata Kakashi dan meneguk minumannya. "Lagipula... Gara tetap akan membayar dua milyar dollar jika kita tak mendapatkan berlian itu." Ia mengangkat bahu dan menambahkan, "it's win-win solution, Babe," sambil menempelkan gelasnya yang berembun ke pipi Sakura.

"What the hell?!" Sakura sontak menepis tangan Kakashi karena sensasi dingin yang menyengat kulitnya. Kakashi hanya tergelak melihat ekspresi Sakura, lantas menenggak jusnya hingga tak tersisa.

"Fokus saja pada pekerjaanmu." Kakashi menaruh gelas kosongnya di atas meja.

"Kau harus memikirkan bagaimana caranya memasuki perairan Geiranger di wilayah Sasuke Uchiha dan menyingkirkan pria itu untuk selamanya... Aku akan memusatkan pencarian di sekitar Alesund," ujaran bernada serius tercetus dari Kakashi yang memandangnya dengan tatapan sedingin es.

Atmosfer di sekitar mereka terasa pekat dan berat. Sakura merasa seperti kembali diingatkan akan sosok asli Kakashi Hatake. Sama seperti dirinya, Kakashi merupakan pencabut nyawa. Bahkan lebih mematikan karena hingga detik ini Sakura belum bisa menjatuhkan Kakashi dalam latih tanding maupun mengejutkannya ketika pria itu tidur. Kakashi selalu waspada, selalu berhati-hati. Sulit diterka dan sulit ditembus.

"Hoaamm~ Perjalanan dari London ke Tokyo memang melelahkan. " Kakashi memecah keheningan, mencairkan suasana. Kesan mengerikan sudah membias dari wajah tampannya. Kelopak matanya sedikit menutup akibat rasa kantuk yang melanda. "Aku ingin tidur sebentar," katanya pada Sakura seraya bangkit dan mengayunkan langkah menuju kamarnya di sebelah kamar Sakura.

Namun Kakashi tak lantas tidur ketika ia masuk kamar dan mengunci pintu. Pria itu duduk di tepi tempat tidur dengan setumpuk pertanyaan dan spekulasi mengenai Red Cloud. Alasan sesungguhnya mengapa Kakashi setuju untuk menemukan berlian Wittelsbach lantaran indikasi adanya campur tangan Red Cloud dalam pekerjaan ini.

Gara sudah memperingatkannya akan keterlibatan Red Cloud di Alhambra. Salah satu kaki tangan Red Cloud, Mario Jose Deidaramos sudah gagal. Tapi hal itu tidak akan membuat Red Cloud menyerah begitu saja. Sebaliknya, mereka akan lebih berhati-hati dan mungkin lebih... Beringas. Kakashi tak bisa membiarkan adik kesayangannya melawan Red Cloud sendirian. Bahkan mungkin mereka berdua pun akan sulit memukul mundur Red Cloud jika sang mastermind mengirimkan antek-antek yang lebih tangguh dari Deidaramos.

Keberadaan Kalung Brisingamen memang belum pasti, tapi eksistensi Red Cloud telah meraja lela di seluruh dunia. Interpol beserta seluruh organisasi intelijen di Uni Eropa sudah memburunya bertahun-tahun. Begitu pula dengannya. Kakashi takkan membiarkan Red Cloud lolos kali ini. Ia takkan segan menghabisi antek-antek Red Cloud di Norwegia. Setelah itu, Kakashi akan membongkar identitas sang mastermind dan menyeretnya ke neraka.

x

x

x

to be continued

x

x

x

Notes :

Chapter ini berfokus pada 'KakaSaku sibling'. Entah mengapa diriku kepengen bikin Kakashi yang siscon. Maap-keun kalo jadinya malah gaje begini T.T

Insya Allah chapter depan Sakura sudah melancong ke dataran Skandinavia bersama Sasuke. Ditunggu saja kelanjutannya yaa, Fellas! Terima kasih sudah berkenan mampir dan menjejak di Geiranger. Feel free to critic and review. Thank anyway :)