Gomen-minna... Tsuki baru bisa update sekarang. Tsuki udah kuliah sekarang, Surprise! *nggak ada yang tanya.* setelah Tsuki masuk kuliah Tsuki jadi sibuk banget, apa Tsuki yang menyibukan diri ya? Hmm... abaikan. Tsuki udah semester 2 nih dan tau nggak? Tsuki sekarang lagi UTS, hahahahahaha. Bukannya Tsuki belajar Tsuki malah ngetik fanfic, hehehehehe. Biarkan, Tsuki memang nakal. Tapi Tsuki senang bisa update karena Tsuki yakin banyak yang nunggu lanjutan ceritanya. *GR* hehehehe dari pada Tsuki lama-lama tsuki bales review dulu.
Runriran : Tsuki update nih, maaf menunggu lama m(_ _)m
Guest : Tsuki update, maaf menunggu lama m(_ _)m
Guest : Arigatou... Tsuki update, xixixixixi SEMANGAT! Maaf menunggu lama m(_ _)m
dwidobechan : Tsuki update, maaf menunggu lama m(_ _)m
DheKyu : hmm... Tsuki maunya gitu, tapi... mungkin Sasukenya nyangka bahwa itu hanya perasaan sebagai Tou-san Naruto. Tsuki update, maaf menunggu lama m(_ _)m
Naozumi Ariadust : Tsuki update, maaf menunggu lama m(_ _)m
Naru on the way : hehehehe, gpp ko. Arigatou... kita sehati membuat Naruto sadis rupanya. Tsuki update, maaf menunggu lama m(_ _)m
DON'T LIKE? DON'T READ!
Naruto punya Masashi Kishimoto. Bukan punyaku. Tapi kalo dikasih boleh juga. hahahahaha.*di amaterasu Itachi*
Pairing : Sasuke, FemNaru
Warning : TYPO, OOC, pokoknya kesalahan ada dipenulis.
Antara Aku dan Tou-san
Naruto segera masuk kedalam mobilnya dan segera pulang, betapa terkejut dirinya ketika dia sudah melihat Tou-sannya, Kushina dan Minato sudah berada didepan rumahnya.
"SIAL!" Naruto memukul kesal setir mobilnya.
TIN TIN TIN
Naruto membunyikan klakson mobilnya dan secara bersamaan ketiga orang yang ada di depan rumahnya menengok membuat ketiga orang itu tersenyum kecuali Tou-sannya. Naruto melewati ketiga orang itu lalu masuk sebelum dirinya membuka garasi dengan tombol otomatis yang ada di mobilnya. Naruto segera memakirkan mobilnya ke garasi, membiarkan ketiga orang yang telah menunggunya menunggu lagi.
Naruto segera masuk kedalam kamarnya dan menekan sesuatu dibawah tempat tidurnya, beruntung kemarin malam dia bertanya kepada Tou-sannya. Setelah ditekan, semua pintu yang ada di kamar Naruto menghilang digantikan oleh tembok yang berwarna sama kecuali untuk kamar mandi. Setelah semuanya yakin Naruto segera kedepan dan menyambut semuanya atau bisa kita sebut menyambut Tou-sannya.
"Wah... udara disini sangat bersih." Kushina menjatuhkan tubuhnya di sofa.
"Tentu saja." kata Naruto tidak peduli.
"Ne... Tou-san, bagaimana menurutmu?" Naruto memeluk tangan Sasuke.
"Tidak buruk."Sasuke berkomentar membuat Naruto tersenyum dan menambah keeratan tangannya memeluk tangan Sasuke.
"Lihat... kami bawa banyak makanan, kita akan masak bersama Naru-chan..." Kushina ikut memeluk Naruto membuat Naruto risih dan melepaskan pelukannya dan pelukan Kushina kepadanya.
"Aku tidak perlu memasak bersamamu, cukup aku yang memasak." kata Naruto dingin kepada Kushina.
"Bersama lebih baik." Kushina tersenyum lembut kepada Naruto dan memeluk erat Naruto.
DEG!
Naruto merasakan perasaan yang aneh, entah mengapa dia merasakan sesuatu yang hangat dalam hatinya setelah dipeluk dan mendapatkan senyum dari Kushina.
"Baiklah..." Naruto menggaruk bagian belakang kepalanya, dirinya masih tidak mengerti apa yang dirasakannya tadi.
"YOSH! Ayo kita ke dapur..." Kushina mengambil semua barang bawaannya dan menarik Naruto bersamanya.
Naruto melihat bahan didepannya dan dirinya tidak yakin akan kandungan sayuran yang dibawa Kushina. Dia tidak mau Tou-sannya makan makanan yang tidak sehat.
"Apa tidak kita ganti saja sayurannya? Aku punya banyak sayuran di kebun belakang." Naruto memberikan usul, tetapi Kushina menggoyangkan tangannya bertanda tidak setuju.
"Kau tidak boleh membuang-buang makanan, Ai-chan." Kushina tersenyum lagi lalu mengambil salah satu sayuran dan memotongnya. Naruto yang melihat Kushina begitu bersemangat akhirnya mau tidak mau mengikuti.
Naruto menikmati masak bersama Kushina karena jujur saja ini pertama kalinya dia memasak bersama, karena jika di rumah dia selalu masak sendiri untuk Tou-sannya dan dia tidak mempunyai teman sehingga tidak ada yang bisa diajaknya untuk memasak bersama. Dalam hati Naruto sebenarnya merasakan senang apalagi ketika dapur menjadi sangat ramai akibat Kushina mencoreng muka Naruto dengan kecap yang secara sengaja ditumpahkan di telunjuknya. Naruto tidak menanggapi tapi lama-kelamaan akhirnya Naruto ikut juga dan ketika semuanya matang wajah mereka berdua penuh dengan tepung, kecap atau apapun kecuali sambal atau cabe.
"Kalian itu perang atau memasak?" tanya Minato setelah melihat Naruto dan Kushina.
"Tentu memasak. Lalu apa? Hahahaha..." kata Naruto sambil tertawa, membuat Minato dan Sasuke yang baru melihat tawa Naruto terdiam, tak berapa lama kemudian Minato dan Sasuke tersenyum.
"Akhirnya aku bisa melihatmu tertawa." Minato mengacak rambut Naruto dan Naruto yang mendapat perlakuan itu terdiam.
"Ternyata kau gadis yang baik." Sasuke berkata denga sangat lembut dengan senyum yang masih mengembang diwajahnya.
TES!
Air mata Naruto jatuh.
"Eh?" Kushina terkejut melihat Naruto menangis.
"EH? Apa-apaan aku ini." Naruto menghapus air matanya.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Sasuke.
"Ah... aku tidak apa-apa. Aku ada urusan sebentar. Pakai saja kamar yang kalian inginkan." Naruto segera berlari menuju kamarnya.
BLAM!
Naruto masuk kedalam kamarnya dan entah mengapa air matanya tidak mau berhenti, air matanya terus mengalir tapi dirinya bukan merasakan sakir atau apapun dia merasakan bahagia.
"Tou-san... mengapa aku begini?" Naruto menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Naruto turun ke bawah setelah perasannya menjadi baik, lagi-lagi dia dibuat tidak mengerti dengan semuanya. Ketika dia ke bawah semua telah menunggunya di meja makan tetapi dia masih melihat barang-barang Kushina, Minato dan tou-sannya, itu menandakan mereka belum memilih kamar.
"Maaf, aku terlambat. Tapi kalian bisa makan duluan ada hal yang harus aku lakukan." Naruto berjalan melewati semuanya dan mengambil kotak makan yang ditaruhnya di atas meja dapur, dan ketika melewati meja makan lagi, dia tidak melihat ada satu orangpun yang menyentuh makanannya.
"Kami akan menunggumu." Minato memberitahu Naruto yang tampak sedang bertanya dalam pikirannya tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Naruto hanya menjawabnya dengan anggukan dan senyum lalu segera berlari menuju kamarnya. Ditaruhnya tempat makan itu kedalam alat biasa yang telah mengirimkan makanan selama dirinya di Bumi. Setelah mengirimnya Naruto segera memencet kaca beningnya untuk memastikan bahwa Tou-sannya mendapatkan makanan itu dan memakannya.
"Tou-san sudah menerimanya." tiba-tiba muncul sosok Tou-sannya di layar kacanya.
"Tou-san harus makan. Aku tahu Tou-san pasti susah sekali makan jika sudah bekerja. Tou-san sudah tua-"
"Tou-san tahu. Tapi, Naru-chan juga harus makan." Sasuke menyuruh Naruto secara tidak langsung untuk menutup telfonnya dan segera makan.
"Aku menyayangi Tou-san." Naruto tersenyum lembut lalu menutup telfonnya. Setelah itu dia segera kebawah dimana semuanya telah menunggu.
Di Tempat Sasuke
Sasuke tersenyum ketika Naruto mematikan telfonnya, dia tahu Naruto sangat senang sekarang dan dia tahu kenapa semua itu terjadi. Itu semua terjadi akibat kedua orang tuanya yang asli berada disana dan lagi, dia tahu bahwa jika Minato dan Kushina berada di sekelilingnya dia akan merasakan bagaimana indahnya hidup. Sasuke menghela napas lalu membuka makanannya ketika aroma dari makanan itu menusuk hidungnya dia tahu masakan siapa itu. Dia segera memakan makanannya untuk menyakinkan dirinya sendiri.
"Aku tidak pernah menyangka aku akan memakan masakan buatan Kushina lagi dan tentunya Naruto pasti ikut membantu." Sasuke memakan makanannya lagi dan dia merasakan sesuatu yang berbeda tapi dia tidak tahu apa itu. Dia hanya memakannya dengan lahap dan setelah menghabiskan makanannya dia tahu kenapa ada rasa yang berbeda pada makanan itu, yang berbeda adalah karena Kushina, Minato dan Naruto tidak ada bersamanya.
"Ck."
Sasuke berdiri lalu membuka jendela yang ada di ruangan kerjanya membiarkan udara disana masuk. Dia sangat merindukan mereka semua.
"Naru-chan, apa Tou-san dapat bersama dirimu lagi?"
Naruto makan bersama dan dia merasakan hangatnya sebuah keluarga, dia memang sering makan bersama Tou-sannya tetapi entah mengapa hatinya beranggapan bahwa makan kali ini lebih bahagia dari biasanya. Setelah makan mereka membereskan meja makan bersama-sama, hal yang belum pernah dilakukannya lagi. Entah akan terjadi berapa kejadian lagi yang belum pernah dirasakannya.
"Ai-chan... Ai-chan akan tidur denganku, bukan?" Kushina memeluk tangan Naruto dan bagian dari dirinya tidak menolak sehingga dia tidak melepaskan pelukan itu. Tanpa Naruto sadari hatinya mulai menerima keberadaan Kushina.
"A-aku tidak mau." kata Naruto sedikit gagap. Kushina hanya tersenyum mendengarnya apalagi setelah melihat wajah Naruto yang sedikit memerah.
"A-chan!" Kushina menggembungkan pipinya.
"Oi, kalian tidak mengajakku?" Minato membuat muka sedih lalu menatap Kushina dan Naruto.
"Hey, ini hanya untuk wanita." Kushina menaruh kedua tangannya di pinggang. Naruto memandang Kushina dan Minato secara bergantian sebelum dirinya tertawa kecil. Minato, Kushina dan Sasuke yang ada disana melihat Naruto ketawa untuk kedua kalinya lagi-lagi tersenyum. Karena Kushina dan Minato tidak mau tawa itu hilang akhirnya melanjutkan pertengkaran mereka kembali.
"Kenapa kita tidak tidur bersama saja." kata Sasuke sambil melihat TV yang mati, dia ingin menyalakannya tetapi dia tidak tahu karena tidak ada tombol atau remot disana.
"Tou-san." Naruto memeluk Sasuke dari belakang, Naruto mengalungkan tangannya ke leher Tou-sannya.
"Ai-chan. Dimana remotnya?" tanya Sasuke yang ternyata tidak terganggu juga akan pelukan itu.
"Cukup sebutkan kata kuncinya." Naruto berbisik kepada Tou-sannya.
"Kata kunci?" tanya Sasuke yang dijawab anggukan oleh Naruto. Kushina dan Minato yang melihat Sasuke sudah mulai akrab dengan anaknya dimasa depan, itu anggapan mereka, berjalan menuju mereka berdua dan ikut memeluk Sasuke dan Naruto.
"Ai-chan, kau tidak boleh pilih kasih seperti itu." Kushina memeluk erat Naruto.
"Kita adalah keluarga." kata Naruto bermaksud untuk menyalakan TV. Tapi disalahkan arti oleh Sasuke, Minato dan Kushina.
"AI-CHAN..." Kushina dan Minato berteriak lalu memeluk Naruto sangat erat membuat Naruto mengeratkan pelukannya juga yang mengakibatkan Sasuke seperti dicekik.
"Kushina, Minato, Ai-chan. Lepaskan!" Sasuke mencoba untuk melepaskan Naruto dan ketika matanya terbuka dan melihat kedepan dia melihat TV nya menyala. 'Kita adalah keluarga. Apakah itu sandinya?' batin Sasuke sambil melepaskan pelukan Naruto.
Pada saat malam harinya mereka akhirnya memutuskan untuk tidur bersama di kamar Sasuke, karena kamar Sasuke memang kamar terbesar disana, kamar pilihan Naruto untuk Tou-sannya. Sasuke tidak tahu akan diberikan kamar sebesar ini.
"Ai-chan, bagaimana jika Aku dan Minato juga tinggal disini?" Kushina bertanya malu-malu kepada Naruto. Mendengar apa yang dikatakan oleh Kushina, Naruto terdiam sebentar tapi menurutnya 'mengapa tidak.'
"Aku punya banyak kamar dan mungkin akan lebih baik jika diisi. Kalian bisa tinggal dimana saja kecuali kamarku." Naruto berkata acuh tak acuh, dia sangat tsundere sekarang. Kushina yang mendengar jawaban itu segera memeluk Naruto.
"Arigatou..." tanpa dirasakan oleh Kushina muncul air mata di sudut matanya.
"Kushina, jangan menangis." Minato menggoda Kushina.
"Ka-ka-kau diam... hiks, hiks, hiks." Kushina menangis sambil menunjuk-nunjuk Minato.
"Kalian ini." Sasuke menggelengkan kepalanya.
Kushina segera menghapus air matanya dan menggenggam tangan Naruto. Dan setelah itu mereka mengganti pakaian bergantian di kamar mandi.
Kasur Sasuke ternyata cukup untuk menampung mereka berempat. Kushina dan Minato marah-marah karena ingin disamping Naruto, akhirnya Naruto harus mengalah dan membiarkan Kushina dan Minato berada di sampingnya karena menurutnya Tou-sannya tentu akan mengalah untuk kali ini. Sebenarnya Sasuke juga ingin tidur disebelah Naruto, tetapi Naruto sudah memutuskan dan dia harus menerima keputusan itu.
Mereka semua melihat ke atas dimana langit-langit berwarna putih menjadi tempat memfokuskan mata.
"Ai-chan, jika Sasuke adalah Tou-sanmu, siapa Kaa-sanmu?" Kushina membuka pembicaraan.
"Ya, siapa Kaa-sanmu?" Minato sama tertariknya dengan topik yang dibuka oleh Kushina karena dia belum pernah melihat Sasuke dekat dengan wanita.
"Dia sudah mati." kata Naruto dingin dan menyebabkan seluruh bulu kuduk yang mendengarnya berdiri.
"Eh? Maafkan aku." Kushina merasa tidak enak karena telah mengatakan kata-kata yang mengingatkan Naruto dengan Kaa-sannya.
"Ini tidak seperti yang kalian pikirkan. Menurutku, aku sejak lahir tidak mempunyai Kaa-san, karena Kaa-san tidak mengharapkan aku ada. Itu sama saja dia mati dimataku." Naruto melanjutkan pembicaraannya. Kushina, Minato dan Sasuke membulatkan matanya, mereka sangat terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Naruto.
Minato yang tepatnya disamping Naruto dan Sasuke bangkit dari tidurnya dan duduk, menatap Sasuke lalu mendekatkan dirinya ke Sasuke dan berbisik.
"Jangan-jangan kau menghamili wanita diluar nikah." nada Minato bercanda tetapi Sasuke tahu ada rasa kesal dan peringatan dinadanya, Minato menyalahkan Sasuke, Sasuke hanya menatap kedepan.
"Aku tidak akan menyesali sesuatu hal yang bahkan belum terjadi." kata Sasuke datar.
Kushina yang ternyata adalah fujoushi berteriak histeris melihat Minato dan Sasuke walaupun dia tidak tahu apa yang dibicarakan oleh mereka.
"Hua... jika aku lihat-lihat mata dan rambut Ai-chan sama seperti Minato. Jangan-jangan Minato adalah Kaa-sanmu." Kushina meneriakan anggapannya dengan senang. Naruto yang mendengarnya segera menatap Sasuke dan Minato yang mematung.
"A-a-aku kira Tou-sanku normal." Naruto bahkan termakan omongan Kushina.
"KUSHINA... APA YANG KAU KATAKAN?" Minato menatap marah Kushina begitu pula Sasuke dan dibalas tatapan innocent oleh Kushina.
"Itu menurutku, lihat!" Kushina duduk lalu menunjuk Naruto.
"Matanya sepertimu dan rambutnya sepertimu. Aku yakin jika rambut Ai-chan dipotong pendek dan tiga garis halus dipipinya hilang dia akan sama persis denganmu." Kushina mengeluarkan teorinya lagi. Minato yang berganti menatap Naruto akhirnya diam, yang dikatakan oleh Kushina benar.
"Kau menerimanya, bukan?" Kushina menyilangkan tangannya.
"Aku masih belum terima, bagaimana aku bisa hamil jika begitu?" Minato masih bertahan.
"Kau lupa? Banyak alat canggih yang tercipta dimasa depan." Kushina mengingatkan bahwa hal itu mungkin saja terjadi.
"Tapi..." Minato bermain dengan tangannya.
"Jika begitu aku uke. AKU TIDAK MAU..." Minato berteriak tidak terima lalu menatap Sasuke.
"Oi, kau tidak boleh menerima anggapan itu begitu saja. Jangan-jangan kejadian yang terjadi adalah kalian itu orang tua asli Ai-chan, tapi kalian tertinggal pesawat yang akan mengantar kita ke tempat Ai-chan tinggal dimasa depan dan berhubung waktu itu aku sedang bermain dengan Ai-chan dan tidak tahu kalian tertinggal. Aku akhirnya yang harus menjaga Ai-chan. Jadi sebenarnya aku bukanlah Tou-san asli Ai-chan karena-"
"TOU-SAN!" Naruto bangkit lalu berteriak membuat semuanya diam dan terkejut, begitu pula dengan Sasuke. Naruto tidak terima dengan anggapan itu, dia tidak terima mengetahui bahwa Tou-sannya tidak menganggapnya seperti anaknya sendiri.
"Tou-san... Tou-san adalah Tou-san Na-."Naruto menghentikan perkataannya karena dia ingat bahwa dirinya disini bukan bernama Naruto tetapi Kawai.
"Tou-san adalah Tou-san Ai." dan perlahan Naruto menangis.
"Sepertinya kita sudah terlalu jauh." Minato memeluk Naruto dan menenangkan Naruto. Kushina menggaruk bagian belakang kepalanya.
"Maaf, aku memilih topik yang salah."
"Tou-san... Tou-san adalah satu-satunya keluarga Ai. Ai tidak punya lagi keluarga selain Tou-san. Bagaimana Tou-san mengatakan itu kepada Ai." Naruto terisak dipelukan Minato. Sasuke menghela napas lalu bangkit dan duduk, dia menepuk pundak Minato. Minato terkejut dengan tepukan itu tapi dia mengerti yang dibutuhkan Naruto saat ini adalah Tou-sannya. Minato melepaskan pelukannya dan Naruto masih terisak.
Kushina dan Minato mundur ketika Sasuke mendekat ke arah Naruto.
"Tou-san minta maaf." kata Sasuke pelan dan memeluk hangat Naruto. Naruto terkejut tetapi memang ini yang dibutuhkannya.
"Tou-san jahat, Tou-san jahat." Naruto meronta-ronta dari pelukan Sasuke tapi Sasuke memeluknya bertambah erat membuat Naruto tidak bisa meronta lagi.
"Hey, tadi hanya bercanda." jiwa seorang Tou-san dihati Sasuke sepertinya bangkit.
"Tapi itu tidak lucu." Naruto memeluk balik Sasuke.
"Sudah Tou-san katakan, Tou-san minta maaf." Sasuke mencium puncak kepala Naruto membuat Naruto bertambah keras menangis.
"Hua... akhirnya Tou-san mengakuiku." Naruto seperti baru sadar bahwa Sasuke memanggil dirinya Tou-san.
Kushina dan Minato sudah keluar dari kamar itu sejak tadi.
"Sepertinya kita biarkan mereka tidur berdua untuk malam ini. Masih ada malam berikutnya untuk tidur bersama, bukan?" Minato menatap Kushina yang sepertinya tidak menyetujui pendapat Minato.
"Sepertinya memang harus seperti itu." Kushina menghela napas, dia harus mengakui bahwa yang dikatakan oleh Minato benar.
"Lalu dimana kamar kita?" tanya Kushina lagi.
"Seperti yang dikatakan Naruto. Semuanya boleh kecuali kamarnya. Atau... kau ingin tidur bersamaku?" goda Minato yang sukses membuat semburat merah muncul dipipi Kushina.
"Ka-kau! Berani macam-macam akan kupukul kau." Kushina memperlihatkan kepalan tangannya membuat Minato harus menelan ludahnya dan tertawa garing.
"Sepertinya kapan-kapan. Hehehehe."
Minato dan Kushina mencari kamar, Minato memilih kamar disebelah Naruto. Dia mengetahui itu kamar Naruto karena kamar itu berbeda dengan kamar lainnya karena kamar itu terdapat alat pendeteksi untuk masuk. Minato dan Kushina awalnya ingin masuk tetapi alat itu tidak mengizinkannya masuk, berbeda dengan kamar lainnya yang hanya menggunakan kartu untuk masuk dan kartunya sudah berada didepan kamar itu. Minato puas dengan kamarnya.
Kushina memilih untuk tidur di kamar sebelah Sasuke karena menurutnya akan tidak adil jika dia tidur disebelah kamar Naruto juga. Dia membiarkan Minato yang berada diatas dengan anggapan Minato akan cepat bertindak jika terjadi apa-apa dengan Naruto. Dan dirinya sudah cukup dengan Sasuke dibawah untuk membuat semuanya aman. Kushina sangat menyukai kamarnya.
Naruto membuka matanya dan terkejut ketika melihat Tou-sannya ada didepannya. Wajahnya sejajar dengan dada bidang Tou-sannya, dia tertidur dipelukan Tou-sannya. Naruto tersenyum dan menyamankan lagi posisinya dipelukan Tou-sannya itu. Sasuke memeluk erat Naruto dalam tidurnya, dia tidak tahu jika Naruto sudah bangun sedangkan dirinya masih terlelap tidur.
Naruto baru merasakan kembali tidur dengan Tou-sannya dan dia sangat merindukan itu. Tapi kemudian dia ingat kepada Tou-sannya yang ada dimasanya. Dengan perlahan dia melepaskan pelukan itu dan keluar dari kamar tanpa membuat Tou-sannya terbangun. Dia masuk kedalam kamarnya lalu mengambil kaca bening yang ada di kamar.
Naruto menelfon Tou-sannya.
Di Tempat Sasuke
Sasuke tertidur di tempat kerjanya seperti biasa karena Naruto lupa memperingatkan Tou-sannya untuk kembali ke kamarnya untuk tidur. Sasuke memang terlihat sangat manja tetapi dia sangat gila pekerjaan sehingga dia sering lupa dan Naruto yang sering memperingatkannya. Tetapi Naruto tidak lagi bersamanya sehingga dia tidak bisa mengontrol dirinya sendiri dalam bekarja.
Komputer besar dan transparan di depan Sasuke mengeluarkan suara bahwa ada telfon masuk. Naruto sudah menelfon telfon kamar Tou-sannya tetapi tidak diangkat dan dia tahu harus kemana dia menelfon.
Sasuke membuka matanya karena terganggu dengan suara tersebut dan kesalahannya adalah menjawab telfon tersebut.
"TOU-SAN..." Naruto berteriak. Untungnya dia berada di kamarnya yang sudah dibuatnya kedap suara.
Mata Sasuke yang awalnya mengantuk terbuka sempurna dan melihat layar komputernya dimana Naruto sedang menggembungkan pipinya.
"TOU-SAN?!" Naruto mempertanyakan kenapa Tou-sannya tidak berada di kamar.
"Tou-san sudah tidur di kamar tadi. Tapi... Tou-san terbangun dan kesini, dan Tou-san akhirnya tertidur." Sasuke menjelaskan.
"Benarkah?" tanya Naruto penuh selidik.
"Benar." kata Sasuke yakin. Padahal dia berbohong dan Naruto tahu itu.
"Sekali lagi aku melihat Tou-san begini. Aku akan pulang!" Naruto mengancam Tou-sannya.
"Naru..." Sasuke meminta pengertian Naruto membuat Naruto menghela napas dipagi hari seperti ini.
"Jika Tou-san mau aku tetap disini, Tou-san tidak boleh seperti itu." Naruto menatap sendu Tou-sannya.
"Tou-san minta maaf, bagaimana? Apakah kau senang?" tanya Sasuke mengalihkan topik. Naruto menghela napas lagi.
"Baik-baik, aku tahu Tou-san mengalihkan pembicaraan. Aku tentu sangat senang disini. Tou-san baik-baik saja bukan?" Naruto tersenyum.
"Kau tidak lihat? Tou-san tentu baik-baik saja." Sasuke ikut tersenyum.
"Aku rindu Tou-san. Aku ingin pulang." Naruto tiba-tiba mengatakan kata-kata yang membuat Tou-sannya membulatkan matanya dan Sasuke ikut menghela napas.
"Tapi kau hanya kurang dari seminggu lagi disana." Sasuke mengingatkan walaupun dia juga sangat merindukan Naruto dan mungkin tidak akan bertemu lagi dengan Naruto secara langsung, karena semuanya akan berbeda, Naruto akan bersama Kushina dan Minato yang notebenenya adalah orang tua asli Naruto.
"Tiga hari lagi adalah ulang tahun Tou-san. Aku akan pulang pada saat ulang tahun Tou-san." Naruto menyeringai.
"Memang Naru-chan tahu bagaimana pulang?" Sasuke ikut menyeringai.
"Tou-san, kau tidak-"
Pembicaraan Naruto terhenti ketika mendengar suara peringatan bahwa Kushina sedang berada didepan kamarnya dan mengetuk pintu kamarnya.
"Sudah... sana. Kushina tampaknya ingin memasak sarapan bersama." Sasuke menyuruh Naruto untuk menutup telfonnya.
"Eh? Aku belum selesai bicara." Naruto tidak terima keputusan Tou-sannya.
"Naru-chan bisa menelfon Tou-san semau Naru-chan. Naru-chan tidak perlu khawatir. Tou-san selalu ada untuk Naru-chan." Sasuke menatap Naruto penuh kasih sayang membuat air mata muncul di sudup mata Naruto. Naruto mengingat kejadia tadi malam dan tersenyum.
"Tou-san?" Naruto ikut menatap Sasuke sendu.
"Hn."
"Aku menyayangi Tou-san dan mencintai Tou-san. Tou-san adalah Tou-san Naru. Tidak akan ada yang bisa menggantikan posisi Tou-san sebagai Tou-san Naru. Karena Tou-san adalah Tou-san terbaik yang dipilih oleh Kami-sama untuk Naru." Naruto tersenyum tetapi air mata mengalir dari matanya. Sasuke terkejut dengan perkataan Naruto tapi kemudian dia menggaruk bagian belakang kepalanya.
"Arigatou, Naru-chan. Naru-chan adalah anak terbaik yang Tou-san punya. Tou-san sangat berterima kasih kepada Kami-sama telah membawa Naru-chan menjadi anak Tou-san. Tou-san mencintai Naru-chan juga." Sasuke memberikan senyumnya yang paling tulus dan penuh kasih sayang.
"Oke, bye.. Tou-san."
Dan Naruto mematikan panggilannya.
Sasuke menatap layar komputernya yang berubah menjadi kembali transparan.
"Jika Tou-san boleh menjadi egois dan tidak dipenuhi rasa dendam. Tou-san tidak akan mengirimmu kesana. Tou-san ingin kau hanya bersama Tou-san dan menjadi anak Tou-san. Tapi... Tou-san tidak bisa, Tou-san juga ingin orang tuamu merasakan bagaimana rasanya menjadi Tou-san dan Kaa-san." Sasuke terdiam lama sebelum akhirnya bangkit untuk membereskan mejanya. Jika nanti Naruto telfon kembali dan mengetahui semuanya masih berantakan dia akan marah-marah lagi.
"Dia sama pemarahnya dengan Kushina." Sasuke mengacak rambutnya pelan.
To be continued
Bagaimana? Tsuki minta maaf kalo cerita ini ternyata lebih pendek dari cerita-certa sebelumnya dan chapter sekarang ga ada pembunuhan dulu supaya relaks sebentar ga pembunuhan terus. Tapi... chapter selanjutnya Tsuki bakal kasih kisah pembunuhan lainnya. Tsuki mau bikin yang lebih sadis lagi nih, tapi Tsuki ga bisa janji bisa update kapan. Hehehehhe, gomen minna~~. Tsuki tunggu reviewnya aja ya… ~(^0^~) ~(^0^)~ (~^0^)~
