Awalnya kau adalah berkah.

Akan tetapi, kabut itu telah hilang dari mataku. Dan kini aku menyadari apa dirimu sebenarnya.

Kau adalah bencanaku.

Kau adalah penghalangku.

Kau mengambil seluruh perhatian father, seluruh cintanya, tanpa menyisakan sedikitpun untukku. Father tersenyum padamu, memanjakan, bahkan membelai kepalamu. Sedangkan aku hanya bisa memandang dari kejauhan. Penuh rasa iri dan cemburu.

Semua kisah yang kau dekap di dalam hatimu itu...tentang diriku di masa lalu yang menggenggam tangan mungilmu dengan lembut...

Aku akan mewarnai semua kenangan itu dengan sesuatu yang tidak bisa kau ingat lagi. Bahkan mawar merahpun dikelilingi duri yang menyakitkan. Memegang tangkainya dengan rasa percaya yang naif, aku berharap kau terluka karenanya.

Adik tiriku, Scorpius Malfoy,

aku tidak akan pernah menyayangimu lagi.

.

.

Hanya Mimpi Buruk di Tengah Malam Berbadai

an 'Atropa Malfoy' spin off—

[ketika Atropa tenggelam ke dalam rasa iri dan amarahnya]

Rozen91

Harry Potter © J. K. Rowling

.

.

Untuk seorang remaja yang mulutnya selalu keblablasan, Primrose Weasley bisa dibilang cukup observatif untuk anak seusianya. Ia menopang dagu dan menatap lekat. Scorpius melirik saat gadis itu tiba-tiba saja duduk di hadapannya. Iris biru berkerling. Tatapan Score berubah awas.

Albus selalu menyuruhnya untuk berhati-hati terhadap gadis Weasley ini.

'Primrose...dia...uh, kau mungkin akan menganggapnya seperti anak kecil. Kau pernah dengar istilah 'kesan pertama sangat penting di pertemuan pertama'? Primrose menilai seseorang hanya dari penampilan luar dan sikapnya di pertemuan pertama. Tapi, dengar, Primrose punya intuisi yang tajam. Jadi, dia tidak mungkin menilai orang sembarangan...atau mungkin, jika dia memang menilaimu sembarangan...kau akan langsung tahu. Ya. Kau pasti akan langsung tahu.'

"Weasley." Scorpius menyapa dengan hati-hati. Iris biru menatap diam, lalu bersinar riang.

"Malfoy," katanya, " Aku beruntung bertemu denganmu. Kau tahu, sejak pertemuan pertama kita, aku selalu ingin bertemu dengamu lagi sampai-sampai terbawa mimpi." Primrose tertawa geli. Scorpius mengangkat satu alis.

"Hei," ucap gadis itu dengan nada rendah, "apa salah Atropa Malfoy padamu?"

Sudut mata sang Malfoy mengejang. Raut wajahnya memperlihatkan ketidaknyamanannya. "Apa maksudmu bertanya seperti itu?"

"Eeeh," kata Primrose, memutar bola matanya ke samping—senyum kecilnya penuh rahasia. "Kau tahu, Albus selalu menghalangi-halangiku untuk bertemu denganmu. Dan pertanyaannya adalah 'kenapa Albus melakukan itu?'. Benar. Kenapa dia melakukannya?" Primrose mengangkat bahu dan tangannya sembari menelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Sikapnya yang penuh canda itu membuat Scorpius mengepalkan tangan.

"Kenapa? Kenapa? Ah, Malfoy, itu karena," gadis berambut merah mencondongkan badan, tersenyum lebar di depan wajah Scorpius, "aku adalah penggemar kakakmu."

Iris kelabu melebar.

'Bukankah itu berarti kabar buruk bagimu, huh?'

Primrose tidak mengatakannya, namun senyum enteng di wajahnya seolah menyampaikan demikian. Ia memundurkan badannya, terlihat santai dan puas. Scorpius yang melihatnya seakan naik pitam.

BRAK!

Kepalan tangan itu memukul meja. Scorpius berdiri dengan wajah geram. Iris biru Primrose tidak terlepas dari badai yang tampak di mata remaja di seberang meja. Hidung Scorpius merengut, menatap gadis itu seolah Primrose baru saja mengatakan sesuatu yang menjijikkan.

"Terhadap orang seperti itu...terhadap perempuan itu..." geramnya, "apa yang bisa kau kagumi darinya!?"

Sejenak gadis Weasley di seberang meja tertegun. Kemudian ia menundukkan wajah, menyembunyikan senyum aneh di bibirnya.

"Semuanya," jawab Primrose mantap, "Atropa Malfoy sempurna. Dia adalah sosok teladan yang dielu-elukan di seluruh penjuru Britain Raya. Prestasi, pencapaiannya, bakatnya, dan pembawaannya. Apakah yang kurang dari itu semua? Tidak ada. Karena itulah, aku mengaguminya." Ia mengulang, "Semua orang mengaguminya."

Lantas Scorpius terhenyak. Pernyataan gadis itu menamparnya telak di wajah.

Kemudian ia menangkap ekspresinya.

Tampak seperti sedang menunggu serangan balasan yang bisa menghancurkan pernyataan itu.

Kala itu, Scorpius hanya bisa terdiam seribu bahasa.

Primrose hanya menghela nafas. Tersenyum maklum dengan sorot mata kecewa. Seolah Scorpius tidak bisa memenuhi ekspetasi gadis itu. Memangnya apa yang diharapkan oleh Primrose Weasley?

Primrose menyukai kecantikan. Menyukai ketampanan. Kelihaian. Dan mengagumi kesempurnaan. Atropa Malfoy memiliki semuanya dan popularitasnya pun tidak main-main. Karenanya, Primrose sangat takjub padanya. Kemudian ia mendengar tentang Malfoy bungsu yang merupakan adik dari orang yang ia kagumi. Sayang sekali, Scorpius Malfoy tidak sama seperti panutannya. Tidak sama seperti Atropa. Tidak memiliki kesempurnaan Atropa.

Dan lucunya, Albus memintanya untuk tidak berprasangka terhadap Scorpius Malfoy. Dan membantunya, katanya.

Primrose tergelak.

Memangnya kepantasan apa yang kau miliki agar orang-orang bisa membantumu, Scorpius Malfoy?

Kau hanyalah bayangan.

Selamanya tinggal di bawah kaki kakak tirimu.

xxx

Albus meletakkan pena bulunya, tidak jadi menulis. Ia menoleh ke arah anak laki-laki di sampingnya. Iris hijaunya memerhatikan dengan seksama. Scorpius terpekur, tenggelam dalam renungan. Ini sangat tidak biasa dilihat. Samar-samar Albus bisa menduga penyebabnya. Baru-baru ini ia berpapasan dengan Primrose. Murid Gryffindor tiba-tiba saja berkata bahwa dia tidak akan membantu Scorpius—sampai-sampai menyebutnya 'seseorang yang tidak bisa membuat dirinya layak untuk dibantu'. Tak perlu dikatakan lagi; pasti Primrose berhasil berbiacara dua mata dengan Scorpius.

Albus menghela nafas. Padahal ia sudah berusaha untuk menghalangi sepupunya itu.

"Apa Primrose mengatakan sesuatu padamu?"

Scorpius terlonjak. "Eh?"

Ekspresi Malfoy bungsu itu sangat jelas menunjukkan bahwa dugaan Albus benar. Al memejamkan mata seraya memijit pangkal hidungnya. "Kau tahu, kau tak perlu memikirkan apapun yang dia katakan."

Hening sejenak. Bibir Scoorpius terbuka. "Apa kau tahu kalau dia adalah salah satu penggemar Atropa?"

"Bukan rahasia lagi." Albus mengedikkan bahu. "Dia selalu menjadikan nama itu sebagai referensi dan panutan yang harus semua orang ikuti. James sampai muak mendengarnya."

"Kenapa kau memperkenalkannya padaku?"

"Ah," ucap Albus, berpikir, "biarpun tidak kuperkenalkan, sebenarnya Primrose pasti akan menempelimu juga. Sudah sejak lama dia ingin tahu tentang dirimu. Dan juga," iris hijau menatap dalam, "karena aku ingin dia berpihak padamu."

Score mengangkat alis, meminta penjelasan lebih lanjut.

"Primrose punya keahlian untuk mengumpulkan informasi dengan cepat. Informasi yang ia dapatkan akan sangat membantumu apalagi jika menyangkut tentang Atropa Malfoy. Karena itulah, Score, jika kau ingin menjatuhkan Atropa Malfoy dari singgasananya," kedua mata Albus berkilat serius, "maka sebaiknya Primrose tidak menjadi musuhmu."

Scorpius mengernyitkan alis. "Maksudmu, aku harus melakukan segala cara agar dia bisa berpihak padaku?" tanyanya tidak yakin.

Albus mengangguk, membenarkan.

Scorpius menghembuskan nafas kalah. Mengangkat satu tangannya seperti orang yang hendak memberikan argumen kekalahan. "Kalau kau sepupunya, kau pasti sudah tahu apa seleranya. Dia bilang aku tidak sempurna seperti Atropa. Tentu saja, aku tidak sempurna. Aku manusia. Dan mungkin saja Weasley sangat buta hingga terperdaya oleh ilusi Atropa."

Albus tidak berkata apa-apa. Jikapun memang ingin membela Primrose, apa yang bisa ia katakan? Tingkah Primrose memang tampak seperti manusia yang terkena ilusi. James bahkan berpikir bahwa sepupu mereka itu mungkin pernah dimantrai hingga jadi seperti itu.

"Kau tahu," ucap Albus setelah lama terdiam, "kakak tirimu hanyalah manusia seperti kita berdua, tidak lepas dari kelemahan. Jika kita memandang kesempurnaan Atropa Malfoy sebagai suatu bentuk kelebihan, bukankah masuk akal jika berpikir bahwa kaupun punya kelebihan—yang berbeda dengan 'kesempurnaan' itu?"

"...kelebihan... aku tidak pernah memikirkan hal itu. Coba pikir, menurutmu, aku punya kelebihan apa?" tanya Scorpius penasaran.

Tiba-tiba Albus membisu. Mengerjapkan kedua matanya seolah baru terbangun.

Benar juga.

Memangnya apa kelebihan Scorpius?

xxx

James memiringkan kepalanya. "Kelebihan?"

Albus menghela nafas. "Well, ini tentang Primrose. Dia sepertinya tidak mau membantu Score. Dan kupikir Score harus memperlihatkan kelebihannya agar Primrose bisa tertarik padanya."

Kakak laki-lakinya lantas mengulas senyum jenaka. "Bukankah Primrose kita memang seperti itu?"

Albus menatapnya datar. "Kau sudah tahu semua ini akan terjadi," tuduhnya. James mengedikkan bahu dan hanya tertawa. Albus sama sekali tidak terkesan.

Iris coklat terang James berkerling saat ia mencondongkan badan. "Aku tahu apa yang harus dilakukan. Setelah makan malam, kau dan Scorpius datanglah ke menara kandang burung hantu."

Albus menaikkan alis. James tidak menanggapi pertanyaan yang ia lihat di raut wajah adiknya. Dengan santai ia menepuk bahu murid Slytherin itu, berkata, "Percayakan semuanya padaku."

Baiklah, Albus memang khawatir, namun ia tetap mengangguk walaupun ragu.

xxx

"Ah, Malfoy muda." Primrose menaruh tangan di pinggang sembari menatap dengan dagu terangkat tinggi. Mata birunya berkilat saat melihat tatapan masam Scorpius. Ia menoleh ke arah sepupunya. "James, biar aku dengar apa yang ingin kau katakan," ucapnya, terdengar cukup bersemangat.

Sudut bibir James berkedut. "Baiklah, aku akan berterus terang."

"Itu yang terbaik. Kita berdua memang selalu bersikap jujur dan terbuka."

Albus mengeluarkan suara tak setuju.

James mengulurkan tangannya, senyum percaya diri tersungging di bibirnya. "Primrose, sepupuku," ucapnya, "apakah kau mau bergabung bersama kami," iris coklatnya berkilat penuh misteri, "dan menyaksikan jatuhnya Atropa Malfoy dari kesempurnaan yang selalu kau banggakan itu?"

Raut wajah Primrose membeku, nnamun mendadak senyum lebar terulas seolah tidak bisa ditahan. "Jangan bercanda, James. Apa kau yakin bisa melakukannya?"

James menyeringai. "Kami yakin."

Primrose tak mampu menahan senyum meremehkan. "Dan apakah kartu as-mu adalah Scorpius Malfoy? Omong kosong apa yang kau racaukan ini? Apa kau pikir dia memiliki sesuatu yang bisa membawamu pada kemenangan?"

Sebelum James membuka mulut, Scorpius menimpali tanpa diminta. Dari ekspresinya terlihat betul kalau dia terganggu dengan asumsi Weasley tentang dirinya. "Aku mungkin tidak bisa menjanjikan apa-apa. Tapi, pastinya aku tidak akan tunduk pada kepalsuan."

"Kepalsuan?" Primrose mendengus, menahan tawa, "Kau menyebut kesempurnaan Atropa Malfoy sebagai kepalsuan?"

"Kau tidak tahu apa yang aku tahu tentang orang itu, Weasley," tekan Scorpius.

"Ah, Malfoy," ucap Primrose, "kau orang yang menarik. Kau punya tekad yang kuat, namun sayang, kau punya banyak kekurangan." Ia menoleh ke arah James, "Cousin of mine, aku ingin melihat apakah ambisi kalian untuk menjatuhkan Atropa Malfoy itu akan berhasil atau tidak. Aku sangat yakin pada kegagalan kalian, tapi bukan masalah jika aku ingin mengusir kebosanan dengan mengikuti khayalan kalian."

James lantas tersenyum. Sudut bibir Albus berkedut, mengerti ke arah mana pembicaraan ini akan berujung.

"Very well," bibir gadis itu melengkung ke atas saat pupil birunya bergulir menatap remaja albino itu, "aku akan membantumu, Scorpius Malfoy."

Dengan demikian, Scorpius berhasil menggaet 3 anggota untuk kelompok pemberontaknya.

Iris biru berkerling di bawah bayangan poni merahnya. Primrose melirik remaja itu dengan senyum aneh yang tersembunyi di balik tangannya.

Apakah kau akan menang?

Atau kau akan kalah?

Sangat menarik!

xxx

Malam itu Scorpius pulang sendiri ke asrama karena James menahan Albus, berkata bahwa dia harus menulis surat untuk ibu mereka. Pantas saja ia mengajak bertemu di menara kandang burung hantu. Keberadaan Weasley di dekatnya sangat mengganggu karena gadis itu terus menatapnya dengan mata berbinar-binar seraya bergumam, 'adik Atropa, wajah Atropa. Mirip. Hmm, sempurna.' Tanpa menunggu Albus menyelesaikan urusannya, Scorpius langsung pamit pergi.

Perjalanan di koridor agak hening. Sepertinya para siswa sudah kembali ke asrama masing-masing. Dan di saat itulah, sepatu seseorang menapak dari ujung koridor di hadapannya. Sepatu hitam mengilap berhenti bergerak saat pemiliknya menyadari siapa siswa yang berambut putih yang berjalan ke arahnya. Warna mata dan rambutnya langsung berubah. Biru gelap.

Kala itu Scorpius mengangkat wajahnya. Lantas kakinya tak jadi melanjutkan langkah. Mendongak ke atas, ia terdiam.

Sorot mata Edward Lupin terlihat suram dan kecewa.

"Aku sudah menyarankanmu untuk tidak masuk ke Hogwarts. Scorpius, kau juga adalah sepupuku dan aku tidak ingin sesuatu terjadi padamu, karenanya aku memberikanmu saran itu. Namun, rupanya kau lebih berani dari kelihatannya. Aku sudah salah sangka." Ia berbisik rendah, "Tapi, kau harus tahu, dear cousin, aku tidak akan bisa melindungimu dari Atropa. Kau paham itu, 'kan?"

Scorpius diam di tempatnya. Kedua tangannya terkepal erat. Sementara Edward tanpa melirik sekalipun, berjalan melewati anak laki-laki itu.

Terkadang Scorpius ingin berteriak di mukanya, memuntahkan seluruh ketidakadilan yang sepupunya itu tujukan pada dirinya. Padahal Scorpius juga adalah sepupunya, tapi Teddy lebih memihak pada Atropa. Tidak pernah membela Scorpius. Sangat tidak adil!

Teddy...dan juga perempuan itu...

xxx

"Ditambah satu orang lagi, sekarang kami berempat."

"Bisa kulihat kau cepat menyesuaikan diri."

"Yeah, seperti itulah. Aku tahu kau tidak akan menunggu setelah kuberitahu, dan aku harus bersegera jika kau memutuskan untuk bergerak cepat."

"Ah, aku tidak menyangka akan tiba saat dimana kau akan berdiri berseberangan denganku."

"Ya, 'kan!?" ucap remaja itu, bersemangat karena mereka memikirkan hal yang sama. "Bahkan tak pernah kubayangkan hal seperti ini akan terjadi. Tapi, tidak masalah. Bukankah hal ini akan membuat semuanya semakin menegangkan? Aku tidak sabar melihat apa yang kau lakukan padanya dan bagaimana dia akan mengatasinya!"

"Baiklah," Atropa menelengkan kepalanya, tersenyum ramah, "tapi, ingat." Ia membuka mata, iris kelabunya tenang. "Kau harus siap dengan akibat. Jika dia terkena masalah, maka kalian bertiga tidak akan lepas dari masalah itu."

Remaja di depannya mengeluarkan suara gugup. "Uh, kuharap kau tidak terlalu keras padaku."

Atropa lantas tertawa kecil. "Jangan khawatir. Tujuanku adalah untuk menghancurkan siapapun yang menjadi temannya dan," ia melirik gadis itu, "siapapun yang membantunya."

Kedua alis remaja itu melengkung ke atas, berkerut. Menatap seperti sedang memelas. "Tolong, jangan sampai melibatkan mommy. Mommy sangat menakutkan kalau marah."

Sejenak Atropa meragukan ucapan sepupunya itu. Saat tinggal di rumah keluarga Weasley, jujur saja, dia hampir tidak pernah melihat aunt Lavender marah. "Entahlah," kata Atropa, "hindari saja masalah besar."

"Oh?" wajah gadis di depannya berubah cerah, "Aku sangat pandai di bidang itu."

"Very well, cousin," bibir Atropa mengulas senyum, menaruh tangan di puncak kepala gadis itu, "kau mempunyai kesempatan untuk ikut serta dalam game ini. Perhatikan dan tentukan langkahmu dengan baik." Gadis Gryffindor di depannya tersenyum penuh determinasi. Atropa melengkungkan kedua matanya, "Karena aku tidak akan berbelas kasih."

"Tentu saja. Aku juga akan berusaha dengan sungguh-sungguh." Gadis berambut merah mengangkat kepalan tangannya, memperlihatkan tekad. "Baiklah, sebelum seseorang tahu aku berbicara denganmu, aku akan pergi sekarang. Sampai jumpa, Atropa."

Membalas gadis yang hendak memunggunginya itu, Atropa ikut melambaikan tangan. Tersenyum dengan wajah ramah andalannya. "Sampai jumpa, Primrose."

Kemudian, ketika keheningan telah memenuhi koridor kosong. Atropa sedikit menelengkan wajah saat memejamkan mata. Bulu mata perak yang lebat menggesek kulit saat ia tersenyum hingga tulang pipinya meninggi.

Bibir merah terbuka. Berbisik, "Kau sudah punya pion dengan jumlah yang sebanding denganku."

Senyumnya melebar bersemaan dengan kelopak matanya yang terbuka. Sepasang iris kelabu hanya memperlihatkan kegilaan. Atropa menekuk kepalanya ke belakang dan merentangkan kedua tangannya.

"My dear step-brother, Scorpius Malfoy!

Aku akan memulai permainannya sekarang!"

Senyum keji menghiasi bibir merah.

Atropa berkata dengan nada meremehkan.

"Dan James Potter,

kau akan menyesali semua keputusanmu.

Kau melibatkan dirimu dalam game ini dan

kau akan hancur karenanya."

Dengan demikian,

secara sepihak

papan permainan dibuka.

_bersambung_

Rozen91: Demikian chapter hari ini. Bagaimana menurut kalian?

Hermione : Bukan urusanku.

Draco : ...

Rozen91: Oh? Apa ini terlalu tiba-tiba bagi kalian berdua? Well, kalau begitu aku tidak akan memaksa. Untuk kali ini aku akan mengakhiri diskusi kita lebih cepat dari jadwal. Tapi, bukan masalah. Yah, selama kalian bisa memberi komentar untuk chapter selanjutnya. Bagaimana?

Hermione : Aku tidak peduli.

Draco :... Apa aku sudah membuat keputusan yang salah dengan memasukkan Score ke Hogwarts?

Rozen91: fufufu~ menarik, bukan, Mr. Malfoy? Sebuah keputusan pasti punya dampak baik dan buruk. Kita lihat saja apa yang akan terjadi.

Draco : ...keras kepala. Kau tidak akan mengatakannya, huh? Kalau begitu, biarkan aku bertanya satu hal.

Rozen91: Silahkan.

Draco: Kenapa kau mengundang wanita ini? Dia bahkan tidak peduli dengan anak itu.

Rozen91: Jelaskan maksud anda.

Draco: Aku berasumsi bahwa kau mengundang aku dan dia sebagai perwakilan dari masing-masing pihak. Posisiku sudah jelas. Tapi, jika kau mengundang wanita ini sebagai perwakilan dari anak itu, kau sudah membuat kesalahan yang sangat fatal.

Rozen91: Brilian, Mr. Malfoy. Asumsi yang brilian. Sayangnya, tujuan undangan ini tidaklah sebesar itu.

Draco: Jadi, apa yang kau inginkan?

Rozen91: Anda tahu, aku mengundang kalian untuk menjadi penonton. Orkestra ini adalah milik Atropa Malfoy—

Hermione: Buang-buang waktu. Aku tidak peduli dengan itu.

Rozen91: Sayang sekali, Ms. Granger. Aku memaksa. Saat kalian berdua duduk di kursi itu, kalian telah menerima kontrak dan harus mematuhi host. Ini bukan lagi tentang undangan, tapi kontrak.

Hermione : Lakukan sesukamu. Aku tidak tahu setolol apa kau untuk memaksaku menonton itu.

Rozen91: ...baiklah. Bagaimana dengan anda, Mr. Malfoy?

Draco: Heh. Kau masih mau mendengar pendapatku?

Rozen91: Ah, well. Aku lanjutkan, orkestra Atropa Malfoy kali ini dipersembahkan hanya untuk Scorpius Malfoy. Ini adalah orkestra yang cukup besar dan menuntut analisis. Aku ingin kalian berdua mengambil peran sebagai ahli intrepretasi dari orkestranya.

Draco : Oh? Dua interpretasi, maksudmu? Bukankah makin membingungkan?

Rozen91: Ini adalah orkestra yang dibuat oleh amatiran. Cukup mudah menebak apa yang sedang terjadi.

Draco: Begitu?

Hermione: ...

Rozen91: Baiklah, sama-sama kita akan menyaksikannya di chapter selanjutnya. Kalau begitu, saya tutup chapter ini.