Jimin | Yoongi | other member appears | R-15 | We don't take any profit with this chara

.

My Cheerful Boyfriend

Story by

chriseume

.

Do not Plagiarize

.

Enjoy!

.

.

.

.

"Kau sudah tahu jika Yoongi Hyung anak bungsu dari Presdir Min?"

Pertanyaan Taehyung yang baru saja datang ke kamarnya, membuat Jimin menghentikan pergerakan tangannya ketika sedang menulis. "Ada apa dengan pertanyaanmu, Tae?"

Taehyung menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang Jimin. "Aku hanya bertanya, bodoh. Tapi kurasa, kau pasti sudah mengetahui hal itu."

"Ini semua tidak ada hubungannya dengan Yoongi Hyung, Tae. Dia tidak bisa ikut disangkutpautkan sama sekali soal ini."

"Ya, aku tahu." keduanya hening selama beberapa saat. "Kau sedang menulis apa, Jim?"

"Universitas apa saja dan jurusan apa saja yang akan ku masuki setelah lulus." Jimin memutar kursi belajarnya. Menatap Taehyung yang berbaring di atas ranjangnya. "Kau sudah memutuskan untuk masuk mana?"

"Sepertinya aku akan pindah ke Jepang, bung, sampai aku selesai kuliah."

"Wow," Jimin bertepuk tangan. "Itu berita bagus. Lalu, jurusan apa yang akan kau pilih?"

"Teknik mesin." jawab Taehyung pasti. "Bagaimana denganmu? Apa kau tidak berpikir untuk masuk ke universitas seni saja untuk terus mengembangkan bakat menarimu?"

.

.

.

.

Bulan demi bulan berlalu dengan cepat. Para siswa tingkat akhir sudah mulai mengikuti ujian-ujian yang diharuskan, maupun uji coba ujian negara. Banyak dari mereka begitu khawatir mengenai diri mereka sendiri. Apakah mereka akan lulus dan dapat mengikuti ujian universitas atau tidak. Termasuk Min Yoongi.

"Hyung, sudahlah, kau harus beristirahat. Otakmu juga akan kelelahan jika kau terus-menerus belajar."

Yoongi tidak menghiraukan Jimin. Ia terus saja mengerjakan soal-soal fisika yang tertera di atas buku latihan.

"Yoongi Hyung,"

"Diamlah, Jim."

"Hyung, kau bisa jatuh sakit jika seperti ini."

"Diam, Jimin."

"Min Yoongi!"

Brak!

Jimin memukul meja dengan begitu keras. Yoongi menghentikan kegiatannya mengerjakan semua soal itu. Melempar pensilnya ke atas meja, dan mulai terisak kecil.

"Yoongi Hyung, ma—maafkan aku. Astaga, Hyung, aku—"

Yoongi memeluk Jimin tiba-tiba. Ia tidak tahu mengapa ia melakukan ini semua. Yang ia tahu, ia hanya membutuhkan Jimin. Semakin lama berada di sekitar Jimin, ia semakin candu akan kehadiran lelaki itu.

"Jimin," panggilnya di sela isak tangisnya. "Jim…"

"Ne, Hyung?"

"Berjanjilah padaku,"

"Aku berjanji, Hyung."

"Berjanjilah untuk tidak meninggalkanku…"

.

.

.

.

Jimin memandangi pemandangan musim dingin dari jendela kamarnya. Ia terus menerus memikirkan sesuatu. Ia tidak mengerti, mengapa Yoongi selalu mengatakan untuk berjanji tidak meninggalkannya?

Lelaki itu menyandarkan kepalanya ke jendela. Walaupun sudah berpacaran hampir satu tahun lamanya, Jimin bisa merasakan betapa Yoongi masih memberikan jarak antara mereka. Ada sesuatu yang selalu Yoongi sembunyikan darinya.

Jimin selalu berusaha untuk mencari tahu segala sesuatu mengenai Yoongi dengan usahanya sendiri, maupun oranglain. Namun, ia masih percaya, jika masih ada rahasia dari Yoongi yang tidak bisa ia temukan.

Terkadang, ia berpikir, apa seharusnya ia bertanya langsung pada Yoongi? Tetapi, di satu sisi dirinya, ia begitu takut akan kehilangan Yoongi. Jimin belajar begitu banyak dari beberapa kesalahan orang-orang yang ada di sekitarnya, terkadang ada hal-hal yang tidak perlu kau ketahui dan itu akan menjadi lebih baik.

.

.

"Min Yoongi."

Yoongi menunduk. Ia tidak berani menatap wajah Ayahnya, yang kini duduk di berseberangan dengannya.

"Yoongi, apa kau ingin mengecewakanku?"

"Tidak, Ayah."

"Lalu? Mengapa kau melakukan semua itu? Kau pikir, Ayah tidak tahu setiap detail kehidupanmu, Min Yoongi?"

Yoongi meremas celananya. "Ayah, terkadang kau dan Ibu terlalu ikut campur dengan kehidupanku."

"Apa?! Ulangi perkataanmu!" Yoongi semakin menundukkan kepalanya ketika Ayahnya mulai berteriak padanya. "Katakan itu sekali lagi, Min Yoongi, dan kau tahu apa yang akan terjadi dengan bajingan kecil itu."

Yoongi membulatkan matanya. Ia mengangkat kepalanya, dan menahan air matanya. "A—Ayah, aku mohon, aku… aku memohon padamu, Ayah, biarkan—" Yoongi menunduk, menyeka air matanya. Ia tidak berani lagi mengangkat kepalanya. Buliran air matanya tidak mau berhenti begitu saja.

"Bahkan kau menangisinya?"

"Ayah," ucap Yoongi lirih. "Berikan aku waktu dan aku akan melakukan apapun yang Ayah mau, tapi kumohon—"

"Ayah tahu, Yoongi. Jika kau menepati janjimu, Ayah tidak akan pernah menyentuh bajingan—"

"Jangan panggil dia bajingan, Ayah. Namanya, Park Jimin."

.

.

.

.

Setelah melewati masa-masa sulit sebagai siswa tingkat akhir, mereka semua kini bergembira karena tidak ada yang tidak lulus di sekolah mereka. Para siswi saling merangkul teman-teman dekat mereka, dan menangis bersama karena mengingat jika tidak akan melalui hari-hari bersama lagi.

Para siswa sendiri memutuskan untuk menghabiskan waktu dengan bermain sepuas-puasnya, sebelum mereka harus kembali belajar untuk tes universitas.

Jimin menoleh ke arah pintu atap sekolah yang terbuka. "Selamat, Hyung."

Yoongi tersenyum manis dengan kedua rona merah muda di pipinya. "Aku juga ikut bangga dengan nilaimu yang masuk di urutan dua puluh besar, Jimin."

"Ini semua berkatmu, Hyung." Jimin mengusak rambut Yoongi dengan lembut. Jimin menatap tangan Yoongi. "Kau benar-benar merubahku, Hyung." ia menarik dengan lembut pergelangan tangan Yoongi dan mengenggamnya dengan erat. "Aku tidak tahu, bagaimana jadinya diriku jika aku tidak bertemu denganmu, dan jatuh cinta padamu." lanjut Jimin dan menghadiahi tangan Yoongi dengan kecupan.

"Jangan berlebihan, Jim. Semua potensi itu juga ada padamu," balas Yoongi dengan senyum manisnya. "Jimin, apa kau tidak ingin memelukku?"

"Wow, ini sungguh aneh seorang Min Yoongi menjadi manja dan minta dipeluk." kata Jimin diakhiri dengan kekehan kecil.

"Ya!"

"Bercanda, Hyung." Jimin menarik tubuh Yoongi dan memeluknya dengan hangat. "Hyung, aku beruntung bertemu denganmu."

"Hmm."

"Hyung, sebagai siswa yang meraih tingkat pertama, apa orangtuamu akan datang?"

"Tidak tahu."

"Kenapa kau berbicara seperti itu."

"Mereka sibuk bekerja, Jim. Sudahlah, aku tidak ingin membicarakan mereka."

Jimin terkekeh, dan semakin memeluk Yoongi erat. Ia dapat merasakan detak jantung kekasihnya yang seirama dengannya.

"Jimin,"

"Ya, Hyung?"

"Bagaimana denganmu? Siapa yang akan datang ke acara kelulusanmu?"

"Orangtuaku belum kembali juga dari perjalanan bisnis mereka, mungkin, paman dan bibiku."

Yoongi hanya terdiam dan menenggelamkan wajahnya ke dada bidang Jimin.

"Jimin,"

"Ya?"

"Saranghae."

.

.

I want to help myself realize why I even loved you at all. So I decided to make a mixtape of all of your favorite songs and replay it in the car over and over. I could taste your lips by third track, and I could feel your skin by the fourth, but I wanted you here by the first.

.

.

TBC

.

.