Kita itu sama [berbeda]

"Ibuku memaksaku agar aku menjadi idol. Korea selatan dan gaya hidup mereka yang bermewah mewah. Aku tahu kalau aku memang berbakat menjadi artis, maksudku menari dan menyanyi? Kupikir itu hal mudah yang seharusnya bisa dilakukan semua orang. Tapi aku tidak bisa membantah. Ibuku ingin aku mendapatkan yang terbaik, tapi untuk pertama kalinya, aku berfikir kalau keputusan Ibu tidak sebaik dan semenakjubkan itu aku – bla bla bla bla"

Tidak ada tanggapan. Jungkook tahu.

Sejak hari itu Jungkook, bisa dibilang disandera oleh sekumpulan preman preman itu. dan mereka menugaskan pria manis bersurai abu abu yang ia ketahui bernama Jihoon untuk menjaga dirinya agar tidak kabur.

Jungkook bisa stress jika ia melalui pagi hingga petang hanya dengan berdiam diri – selain makan dan tidur ketika memang lelah -. Jadi ia berbicara terus menerus sepanjang ia masih sadar. Jihoon juga tak lagi bersuara setelah bergumam menjawab panggilannya ketika Jungkook mengajak dirinya berkenalan. Anak itu lebih banyak diam. menatap Jungkook saja tidak. Sudah dua hari mereka berdua seperti itu. selagi para preman itu tidak ada, Jungkook akan berbicara tanpa mengenal rem tanpa peduli Jihoon menanggapi atau tidak.

Terkadang Jihoon akan menulis sesuatu di buku bindernya yang bersampul coklat gelap. Seringkali dia membaca sampai jika Jungkook menghitung, dua hari ini anak itu sudah habis membaca dua buku.

Jungkook baru tahu kalau ada preman yang betah melahap ribuan kata seperti Jihoon, karena Jungkook yang terlahir di keluarga berpendidikan pun muak sekali jika dihadapkan dengan setumpukan buku. Lagipula Jungkook juga tidak ingin menyebut Jihoon preman.

Jihoon tidak anarkis. Tidak bar – bar. Dan tidak meminum alkohol. Dia benar benar diam sepanjang hari kalau dia mau. Ketika ditanya oleh ketua preman itu dia hanya diam dan menjawab seadanya dengan isyarat, tanpa mengeluarkan suara. Kadang preman itu murka dan memukuli Jihoon didepan Jungkook. Tapi Jihoon benar benar bungkam dan tidak mau berbicara.

Jungkook heran. Jihoon itu tidak bisu, tapi dia tidak mau berbicara.

Jungkook juga mengambil sebuah kesimpulan lain ketika tak sengaja melihat tulisan tangan Jihoon yang begitu rapi dan teratur. Bukti jika jemarinya terampil menulis dan terlatih. Jihoon itu sama seperti dirinya. Maksudnya – dia tidak dibesarkan di lingkungan preman sejak kecil.

Jungkook membuka mulutnya dan melahap ramyeon sisa semalam yang dijadikan makan siang oleh Jungkook. Preman preman itu benar benar menjijikkan. Sudah dua hari berlalu dan tidak ada satupun telfon masuk untuk mencari seorang mahasiswa bernama Jeon Jungkook. Inginnya Jungkook bilang kalau orang tuanya memang seperti itu, mereka terlalu sibuk, dan mengurus anak mereka yang diculik itu tidak ada didalam daftar "pekerjaan penting" mereka.

Preman yang bertubuh paling kekar, tadi pagi memerintahkan Jihoon untuk memberi Jungkook makan dengan Ramyeon sisa tadi malam.

Tapi berhubung Jungkook juga lapar, ramyeon itu tetap enak meski sudah dingin dan agak mengembang.

Jungkook memperhatikan wajah Jihoon dari dekat. Luka luka itu nyata. Dan nampaknya setiap hari luka itu bertambah. Di pergelangan tangan Jihoon juga ada perban. Ada handsaplast di bagian kening. Sepertinya itu bekas kemarin Jihoon didorong oleh salah satu preman hingga membentur dinding.

"apa kau juga disandera mereka?" mulut Jungkook melontarkan pertanyaan tanpa diperintah.

Pergerakan tangan Jihoon berhenti sesaat. Jihoon menatap Jungkook tepat di mata tapi ia hanya diam, beranjak dari duduk untuk mengambil air putih disisi lain ruangan. Kemudian kembali lagi dengan segelas air di tangan kanan dan sekaleng cola di tangan kiri. Ia membantu Jungkook meminum airnya setelah itu memuaskan dahaganya sendiri dengan cola.

"apa kau tahu, aku tidak takut disandra mereka" Jungkook memulai pembicaraan "meski aku dipukuli dan itu terasa sakit. Aku tahu kalau aku tidak apa apa. Disini aku hanya tertekan karena memikirkan tidak bisa memainkan game ku yang terbaru atau tugas membuat video dance untuk tugas akhir semester. Aku mengambil jurusan Dance di universitas ku karena ibu yang meminta. Tapi sekalipun aku sudah mendapatkan tawaran dari beberapa agensi, hingga aku tampil di showcase, dia tidak pernah datang" pemuda bermarga Jeon itu bercerita tanpa menatap Jihoon. "kau awalnya bukan dari lingkungan seperti ini kan? Kupikir kita sama. Maksudku, aku tidak menyukai kehidupanku disana. Aku tidak suka disetting tapi aku juga tidak mau mengecewakan, aduh... bagaimana mengatakannya ya...-"

"kita berbeda"

Seolah ada efek gelombang kejut, Jungkook terlonjak. Pemuda bersurai gagak itu menatap Jihoon yang tadi bersuara. Tatapan Jihoon lurus ke dinding, sebelum ia menoleh pada Jungkook dengan kepala yang agak dimiringkan. Jihoon bersuara pelan;

"apa yang membuatmu merasa kalau kita sama?"

Jungkook agak tercekat. Pemuda tampan itu membasahi bibirnya, kemudian berujar dengan agak ragu "apa ya..." Jungkook merenung sejenak "tapi aku yakin kalau aku tidak salah" pemuda Jeon itu mengulas senyum lebar hingga membuat mata kanannya yang bengkak terasa perih karena terhimpit pipi "kita ini sama sama tidak menerima takdir kan ya?" kemudian Jungkook tergelak dan tertawa keras.

Jihoon menoleh pada Jungkook. Masih dengan wajah yang minim ekspresi. Terlebih matanya nyaris benar benar tertutup oleh poni, karena Jihoon malas menggunting rambutnya yang mulai memanjang. Jihoon tidak ingin bertanya kenapa tidak ada satupun orang yang mencari Jungkook ketika pemuda yang nampaknya berusia lebih tua dari dirinya itu diculik. Barangkali orang tuanya merasa kalau Jungkook sudah cukup dewasa. Mampu menjaga dirinya sendiri, dan diculik adalah suatu ketidak mungkinan yang hakikatnya untuk tidak terjadi adalah mutlaq.

Giliran manik bening Jihoon yang mengerling pada Jungkook yang kini masih tertawa. Tubuhnya penuh dengan otot yang padat. Tidak bisa melawan? Bah. Jihoon mendengus. Dia tahu preman preman itu bodoh, tapi tidak pula sebodoh ini untuk tidak menyadari kalau pemuda yang mereka culik itu hanya berpura – pura. Hanya bermain main. Jihoon tahu sejak awal kalau si Jeon Jungkook ini lebih terlihat seperti menyerahkan diri pada kawanan preman. Kalau tidak bisa melawan, siapapun tolong jelaskan bagaimana otot padat itu bisa terbentuk. Si Jungkook ini jelas jelas pandai bela diri.

"kau tidak lelah dipukuli?" Jihoon menarik kedua tungkai kakinya untuk ia peluk.

Manik hitam Jungkook agak membola. Sedikit terkejut karena Jihoon mengajak dia bicara lebih dulu."Eung..."

"kenapa tidak melawan?"

Jihoon menyela jawaban Jungkook dengan pertanyaan lain.

"ilmu bela dirimu sia sia"

Jungkook agak cemberut. Tapi pemuda Jeon itu berusaha terlihat keren dengan mengangkat dagu sok angkuh – padahal wajahnya babak belur begitu – "darimana kau tahu aku bisa ilmu bela diri"

"bisep mu" Jihoon menjawab singkat.

Jungkook berasa seperti dihantam oleh batu dengan berat ratusan kilo. Jihoon ini pintar ya. Jungkook tidak berniat untuk berbicara lagi. Sudah cukup berbicara sok pintar seperti tadi dan seketika dia langsung merasa orang paling bodoh di dunia karena Jihoon berhasil membuatnya terpojok dan membuatnya kehabisan kata kata. Bisa – bisa nanti kalau dia bicara lagi, dia dikira orang tolol.

Jungkook mengalihkan pandangannya ke arah lain ketika Jihoon bangkit dari duduknya dan berjalan ke belakang sebuah lemari kayu yang sudah lapuk. Ia mengeluarkan sebilah besi berukuran, kurang lebih 200 sentimeter. Jungkook mengernyit. 'untuk apa pula besi itu'

"sekali lagi aku tanya –"

Jihoon berjalan kembali ke sofa sembari menenteng besi.

Jihoon bergumam sendiri sembari menimang besi berkarat itu.

" –kau ingin keluar dari sini atau tidak?"

...

"aku jatuh cinta kepada orang lain. Jika diungkapkan, maka semua akan berakhir. Orang lain dan bahkan siapapun, tidak akan peduli, ya kan?"

Jeon Jungkook –

...

Berteman dengan Jihoon sejak kecil. Menjadi teman sekelas. Sebangku. Bahkan satu ekstrakulikuler. Pergi ke sekolah dan pulang bersama. Mengerjakan tugas sekolah bersama. Menghabiskan akhir pekan bersama. Agaknya Guanlin baru menyadari kalau setelah Jihoon pergi, ada sebuah pecahan mozaik yang hanya bisa diisi oleh orang yang sudah menghabiskan banyak waktu dengan kita, mengerti kita, dan berada disisi kita untuk waktu yang lama. Dan dalam kasus Guanlin. orang itu adalah Jihoon.

Sebenarnya Guanlin cukup sadar. Ketika ia mulai pergi clubbing bersama teman teman barunya, kencan buta, party tanpa mengajak Jihoon. Ia sadar kalau sensai nya berbeda. Hanya saja ia terlalu keras kepala untuk menerima itu semua dan memilih untuk menolak fakta yang terus berteriak didalam kepalanya mentah mentah. Guanlin berusaha untuk memberitahu dirinya sendiri, kalau 'teman itu bukan Cuma Jihoon' waktu luang pun bisa ia nikmati bersama dengan kawan kawannya yang lain.

Jihoon mungkin tidak bosan.

Tetapi Guanlin iya.

Sepanjang sejarah pertemanan keduanya, tidak pernah ada pertengkaran. Jika bukan Guanlin yang mengalah, maka Jihoon yang akan memberikan jalan tengah. Bukankah kebanyakan teman masa kecil seperti itu? karena mereka sudah saling memahami hingga sampai ke hal hal paling kecil, pertengkaran hebat sesungguhnya sangat sulit terjadi.

Karena baik Jihoon maupun Guanlin, keduanya mengatakan apa yang mereka tidak sukai atau mereka sukai dengan gamblang. Jujur satu sama lain. Tidak pernah ada dusta. Itu pula yang membuat pertemanan mereka seakan tidak pernah kandas di makan waktu.

Guanlin sendiri awalnya berharap begitu.

Sampai mereka duduk di bangku tahun pertama sekolah menengah atas.

Entah dapat ilham dari mana, tiba tiba Guanlin berfikir kalau lingkup pertemanannya tidak mungkin hanya berputar pada Jihoon. Guanlin tahu kalau selama beberapa tahun ini, semestanya seakan hanya sebatas Jihoon.

Jihoon sendiri tidak pernah melarang Guanlin berkawan dengan siapapun. Tapi Guanlin tahu ada tali tak kasat mata yang mengekang dan meminta Guanlin untuk tetap tinggal disisi Jihoon. Sekalipun permintaan itu tidak pernah disuarakan, Guanlin tahu kalau Jihoon tidak ingin siapapun selain Guanlin. karena anak sulung keluarga Park itu memiliki rasa khawatir yang berlebihan untuk memulai pertemanan.

Itu yang Guanlin saksikan.

Ketika akhirnya Jihoon, Woojin dan Guanlin masuk sekolah menengah pertama sebagai satu angkatan – sekalipun Woojin disekolahkan di Asrama – Jihoon bahagia sekali.

Awalnya Guanlin juga tidak masalah dengan pertemanan mereka yang monoton. Guanlin juga tahu kalau hati kecilnya selalu berteriak kasihan pada Jihoon. Ia ingin membantu Jihoon untuk berteman dengan orang banyak. Tapi disisi lain ia juga tahu kalau itu tidak akan semudah yang ia bayangkan. Kau tanya siapa ia? Kala itu ia hanya seorang bocah berusia sebelas tahun yang baru masuk jenjang sekolah menengah pertama.

Kemudian ada saat dimana Guanlin muak.

Guanlin jengah.

Guanlin bosan.

Dan Guanlin ingin marah.

Tapi berhubung mereka adalah kawan masa kecil, juga hatinya selalu tidak tega pada Jihoon yang introvert. Amarah itu tidak pernah ia suarakan. Kekesalan itu tidak pernah ia ungkapkan.

Guanlin kira perasaan itu akan lenyap seiring berjalannya waktu kemudian ia bisa menjalani hari harinya bersama Jihoon seperti biasa, tetapi –

– banyak hal terjadi, tidak sesuai dengan perkiraan bukan?

Dan delapan tahun yang lalu ia masih ingat bagaimana Baek Jiheon berkata dengan wajah yang heran, agak khawatir, dan ada secercah rasa kagum.

"kak Guanlin sama Kak Jihoon teman masa kecil ya?"

"kak Guanlin nggak bosan sama kak Jihoon terus?"

"wah, hebat ya"

"kalau aku, sama teman teman masa kecilku tidak ada yang seperti itu. Paling kami memang hanya akan bertahan ketika, yah waktu itu saja. Kemudian ketika masuk SMP, lalu SMA, tidak ada yang bertahan lama"

Bukan. Perkataan Baek Jiheon bukan alasan mengapa ia bisa menjaga jarak dengan Jihoon. Guanlin memang sudah menyukai Baek jiheon semenjak gadis dengan eyesmile itu pertama kali menginjakkan kaki di sekolah mereka. Cinta pertama Guanlin bisa dibilang. Tapi Guanlin juga bukan orang yang senaif itu sampai mengorbankan pertemanan demi cinta. Orang orang yang melakukannya itu sinting.

Tapi lingkup pertemanan Baek Jiheon yang terkenal di club paduan suara, dan mendapat tawaran untuk menjadi anggota pemandu sorak ketika masa orientasi, tentunya berputar pada kalangan orang orang yang diidolakan di sekolah. Orang orang yang pandai bergaul. Orang orang yang pertemanannya luas. Orang orang yang selama ini hanya sebatas saling mengenal nama dengan Guanlin, tapi tidak berteman dekat.

Dan Baek Jiheon seolah menjadi pintu gerbang bagi mereka dan Guanlin.

Perlahan Guanlin mulai membuka diri pada orang asing selain Jihoon. Berbanding terbalik dengan kehidupan monotonnya dengan Jihoon. Guanlin merasa kalau orang – orang asing itu tak kalah menyenangkan.

Jadi ia menikmati nya.

Guanlin mulai mengambil kegiatan ekstra yang tidak ada Jihoon disana. Ikut organisasi yang Jihoon menolak untuk ikut.

Guanlin mulai paham cara menyenangkan untuk menghabiskan uang.

Itu cukup menyenangkan.

Meski hati kecilnya sering menjerit

'bukan ini yang aku inginkan'

Lalu sisi lainnya akan berteriak

'bagaimana tidak? Bukankah ini menyenangkan! Jauh lebih menyenangkan daripada ketika bersama Jihoon'

Kemudian sisi yang tadi menjerit akan membalas

'tapi bukan ini yang aku maksud!'

Dan Guanlin tidak pernah mengerti arti perdebatan kecil dihatinya. Memilih untuk menikmati kehidupan barunya, meski ia sepenuhnya sadar kalau waktunya dengan Jioon nyaris habis.

Guanlin pikir tidak apa apa.

Apalagi disemester kedua sekolah menengah atas, Ayah Jihoon menikah lagi dengan seorang janda beranak satu yang merupakan pejabat negara aselon II – sepangkat Asisten Deputi – anaknya adalah laki laki yang usianya sepantaran dengan Jihoon.

Jihoon tidak akan kesepian kan?

Jadilah ia fokus pada kehidupannya sendiri. Dan bersikap sewajarnya ketika benar benar sedang bersama Jihoon.

Toh tidak pernah ada kata 'sahabat' diantara mereka.

Jika seandainya ada, mungkin Guanlin akan merasa lebih berhati hati ketika perlahan mengurangi frekuensi pertemuannya dengan Jihoon. Karena mereka adalah 'sahabat'. Tapi tidak. Dalam hubungan mereka, kata itu tidak ada. Yang ada adalah kalimat "teman masa kecil" yang bagi Guanlin, sama sekali tidak mengikat.

Lebih bangsat nya lagi. Guanlin tidak tahu harus resah atau menangis atau tertawa ketika mendapatkan panggilan dari Hwang Hyunjin, saudara tiri Jihoon yang tiba tiba mengabarkan kalau ia sedang ada di Jepang dan mengajak Guanlin meet – up.

Yang lebih parah. Entah kenapa Guanlin kesal pada dirinya sendiri karena mengiyakan ajakan itu. di Hiroshima pula. Cari mati

...

"jadi sekarang kau bekerja untuk Departemen Pertahanan?"

Hyunjin mengangguk "lalu kau?"

Guanlin menggendikkan bahu "entah. ada tawaran dari beberapa lembaga negara tapi aku tidak tahu akan menerimanya atau tidak"

"kenapa? 'beberapa' itu berarti mereka ingin kau bekerja disana karena kemampuan mu memang dibutuhkan?"

"butuh berapa tahun agar aku bisa mendapatkan posisi memuaskan tanpa setumpuk pekerjaan? Aku bukan kau yang anak Deputi negara Hwang Hyunjin" Guanlin berkata sarkas

Hyunjin tertawa kecil. Menyesap americano nya sedikit.

Guanlin menghisap rokok yang baru ia nyalakan kemudian berucap"mewah sekali hidupmu" ia menghembuskan asap rokok itu "lulus SMA sudah dipastikan masuk sekolah kedinasan, sebodoh apapun dirimu"

Hyunjin kembali tertawa. Kali ini agak sangsi "satu satunya yang menyenangkan dari hidupku adalah, aku menghabiskan masa kecil ku hingga akhir sekolah menengah atas tanpa bekerja keras"

"bisa kita bertukar?"

"wah, tentu! Aku mau sekali. Tapi sayang itu sudah lewat enam tahun yang lalu" Hyunjin menyesap americano nya lagi. Wajahnya agak murung ketika mengucapkan kalimat terakhir. Dan Guanlin menyadarinya.

"Woojin menolak berbicara padaku. Sampai saat ini"

"bukankah sejak dulu memang begitu?" Guanlin bertanya balik dengan nada tidak peduli

"tentu saja berbeda dasar dungu" Guanlin mendelik ketika disebut begitu, tapi Hyunjin acuh dan tetap melanjutkan "dulu itu setidak sukanya dia pada aku, pasti dia akan mengajak aku bicara karena – yah, dia diajari sejak kecil kalau keluarga itu nomor satu. Dengan atau tanpa ikatan darah sekalipun" ia bertopang dagu "tapi setelah Jihoon pergi, dia mendiamkan semua orang di rumah. Hanya kadang kadang saja ia berbicara pada Ayah. dia tidak setega itu untuk mendiamkan ayahnya yang sudah banting tulang hingga bisa menjadikannya tentara seperti sekarang"

Guanlin menatap Hyunjin remeh "katakan itu pada Ibumu yang tidak mau memberikan sedikit saja uang untuk membiayai sekolah anak tirinya"

Hyunjin tertawa kecil mendengar sindiran Guanlin "Bundaku itu kepala batu. Lagipula kalau sekarang dia menyesal, sudah terlambat. Anak kandung Ayah yang satu itu bahkan sudah dua langkah diatasku. Sedikit lagi pangkatnya akan lebih tinggi, diatas aku, bahkan Bunda"

"hoo... Ibumu tidak akan bisa omong besar soal jabatannya lagi"

"tolong jangan bicara seperti itu. aku tahu dia menyebalkan, tapi dia tetap wanita yang sudah melahirkan ku di dunia ini"

"yang membuatmu berpisah dengan Ayah kandungmu, dan berusaha memisahkan Ayah tirimu dari anak anak kandungnya? Rasa hormatku pada wanita berstatus ibu sudah dua kali dikecewakan dengan prahara keluarga kalian"

Hyunjin tersenyum tipis. Americano nya sudah habis. Jadi ia memesan segelas latte pada pelayan yang baru saja lewat.

"hebat bukan? Masih berfikir ingin bertukar nasib denganku?"

"oh, tentu aku mau. Hidupmu jauh lebih baik daripada Jihoon dan Woojin yang harus bermusuhan dengan Ibu Kandung mereka sampai mereka tumbuh dewasa"

Tiba tiba Hyunjin menjentikkan jari. Pemuda tampan bermarga asli 'Hwang' itu mengeluarkan sebuah map kertas dari dalam tas punggung yang ia bawa kemudian menyerahkannya pada Guanlin. yang mana membuat orang yang bersangkutan mengangkat sebelah alis.

Tanpa berbicara apapun, Guanlin membuka map itu. mengeluarkan isinya. Kemudian membaca kertas yang sepertinya adalah dokumen dari pengadilan Korea Selatan. Guanli sudah tidak terheran heran lagi ketika ia berhadapan dengan anggota keluarga Park, yang memberikan dokumen milik lembaga negara seperti meminjamkan PR pada teman sekelas.

"Ibu kandung Jihoon?" Guanlin bertanya setelah membaca dokumen itu sampai habis.

Hyunjin mengangguk. "dia bercerai dengan suami keduanya"

"dan hak asuh anaknya nya jatuh di tangan wanita gila itu?"

"dia boleh saja seorang sociopath tapi harus aku akui dia itu pintar. Woojin tidak turun tangan masalah ini, karena – eum... kemarin dia bilang itu bukan urusannya" Hyunjin tampak mengingat ingat "Woojin dulu tidak membenci Ibu kandungnya, tapi banyak hal terjadi dalam enam tahun, kau tahu itu kan?" pembicaraan mereka terpotong karena ada seorang pelayan datang mengantarkan segelas latte yang tadi Hyunjin pesan "dia meminta ayah untuk memberitahu mantan suami Park Seulgi, untuk selalu mengawasi anak nya. Bagaimana pun juga ibumu itu memiliki gangguan kejiwaan yang kita tidak tahu apa pemicunya. Sebenarnya berbahaya jika hak asuh adik ku ada di tangan Seulgi. Tapi kami tidak punya cukup bukti untuk menunjukkan pada pengadilan kalau Ibu Kandung Woojin dan Jihoon itu memiliki gangguan kejiwaan"

"wah kau bahkan menyebut anak itu adikmu"

"saudara Woojin dan Jihoon, saudaraku juga" Hyunjin menghela nafas "aku hanya berusaha menebus kesalahan ku di masa lalu"

"kau sadar juga pernah berbuat salah" Guanlin menggoda saudara tiri Jihoon itu dengan wajah menyebalkan "aku pikir kau akan selamanya menjad si manja Hwang Hyunjin yang akan menangis ketika ditinggal di Busan sehari saja, tanpa ada Ibumu disana"

"tolong jangan bahas hal itu lagi"

Kali ini Guanlin yang terkekeh pelan "tapi lucu ya. Keluargamu itu. Paman Jimin tidak gila saja aku bersyukur sekali"

Hyunjin tersenyum pahit "aku tidak heran Jihoon bisa depresi" ia mendengus pelan "semakin kita dewasa, semakin kita tidak mendapatkan toleransi. Semakin kita dituntut. Dan Jihoon tidak bisa mengeluh"

Guanlin diam. tidak menanggapi. Tahu jika Hyunjin belum selesai bicara.

"dia itu anak pertama. Waktu menuntutnya untuk lebih dewasa dari aku dan Woojin. Begitu pula Ayah dan Bunda"

Hyunjin menatap gelas latte nya yang masih terisi penuh. Belum berkurang sedikit pun.

"aku mengerti kalau ayah ingin anak anaknya cepat berkembang. Tapi, ayah juga melupakan kalau Woojin dan Jihoon – terutama Jihoon – pernah mengalami hal yang jarang dialami anak anak lain seusia mereka. Aku paham kalau mereka tidak punya pilihan. Ayah juga tidak punya. Mau tidak mau mereka harus bisa berdiri meskipun luka mereka yang masih basah terus menerus ditabur garam"

"dan Jihoon adalah yang paling berpotensi"

Hyunjin menanggapi ucapan Guanlin dengan anggukan. Kemudian ia menyesap latte nya perlahan. Ia bergumam "aku tidak percaya akhirnya aku akan membicarakan hal ini dengan mu.

Guanlin mengusak rambutnya ke belakang. Inginnya topik ini segera selesai, tapi pertemuannya dengan Jihoon kemarin membuatnya tidak bisa asal mengakhiri topik pembicaraan ini. itu kalau dia memang serius ingin membawa Jihoon kembali ke Korea Selatan dan membantu Hyunjin serta Woojin menyelesaikan masalah internal mereka dengan kehadiran Jihoon. Bagaimanapun juga, Guanlin juga memiliki keterlibatan sebagai penyebap kepergian Jihoon.

"maaf saja ya, aku ini hidup dengan mereka beruda lebih lama daripada kau" Guanlin menatap Hyunjin sinis "aku juga tahu banyak hal hal kecil yang tidak kau ketahui"

...

Guanlin berjalan menuju halte bus dengan earphone terpasang di kedua telinga. Ia membawa map kertas yang tadi diberikan Hyunjin.

"anggap saja sebagai kenang kenangan"

Kenang kenangan dengkul mu. Yang ada beban pikiran Guanlin justru bertambah. Mereka akhirnya selesai mengobrol ketika jam menunjukkan pukul sepuluh malam – itu karena cafe tempat mereka mengobrol hendak tutup – . Karena malas berjalan jauh jauh. Ia memilih untuk menanti bus di halte yang berada tak jauh dari sebuah gedung apartemen.

Panggilan dan pesan yang masuk ke ponselnya seharian ini pun tidak ada yang Guanlin balas. Malas. Di benak Guanlin sekarang hanya ada bayangan kasur, bantal, guling, selimut.

"ayolah bus... cepat datang... cepat bawa aku pulang... cepat bawa aku menjelajah ke pulau kapas" Guanlin bergumam sendiri dibalik masker hitam yang ia kenakan. Guanlin memasang tudung hoodie nya ke kepala. lengkap sudah. Ia terlihat seperti tunawisma yang numpang tidur di halte.

Lima belas menit berlalu. Dan bus tak kunjung datang. Guanlin nyaris saja jatuh tertidur jika saja suara yang begitu ia kenal, suara yang sama yang membuatnya tidak bisa tidur karena merasa bersalah sejak kemarin, sekalipun matanya sudah terasa berat dan meminta istirahat.

"what do you mean – i already told you that we're never dating in the first place" itu suara Jihoon. Suara setenang alunan harpa itu berkata dingin.

Guanlin sontak membuka mata dan menemukan Jihoon berdiri berhadapan dengan seorang pemuda bersurai kelam. Tepat diseberang jalan tempat ia duduk di halte. Menanti Bus.

"you don't have to take a responsiblity about me. You know that. You know it well if i hate someone act's like they know me more than my self" ah, Jihoon dan bahasa inggris nya yang fasih membuat Guanlin bernostalgia.

Guanlin agak menundukkan kepala. jaga jaga agar Jihoon dan pemuda itu tidak menyadari keberadaannya. Tapi sepertinya mereka berdua terlalu sibuk dengan entah apa masalah mereka hingga keduanya tak menyadari eksistensi familiar – ini untuk Jihoon – tengah memperhatikan mereka dari kejauhan.

"kau menjauhiku" pemuda itu berkata dengan nada rendah

"aku tidak"

"ok, aku memang jarang pulang. Tapi itu tidak bisa kau jadikan alasan untuk lebih sering menginap di panti asuhan kan? Maksudku, untuk apa aku membelikanmu apartemen mahal jika akhirnya kau menumpang di rumah Jinyoung?"

"aku tidak pernah meminta" Guanlin mendengar Jihoon mendesis "dimanapun aku tidur, atau tinggal, itu urusanku. Kau tidak punya hak untuk mengatur urusanku. Kau bukan ayah ku Jeon Jungkook"

"Jihoon... kita tidak pernah mempermasalahkan ini sebelumnya, jadi sekarang aku tanya apa mau mu? Aku tidak pernah melarangmu menginap disana, tapi setidaknya kabari aku, jangan buat aku khawatir"

"kenapa kau tidak khawatir saja dengan pacarmu itu, siapa namanya? Tzuyu? Dia lebih butuh kekhawatiranmu daripada aku"

"itu hanya hubungan yang dibuat oleh agensiku Jihoon!" pemuda itu membentak Jihoon. Membuat Jihoon terkesiap. Matanya membola, dan ia mundur selangkah. Guanlin nyaris bangkit dari duduknya untuk menghampiri mereka sebelum Guanlin mendengar Jihoon balas membentak

"maksudmu sebenarnya apa!?" Wajahnya memerah karena emosi "maksudmu mengatakan semuanya padaku itu apa!? Aku tidak butuh kau beritahu kalau dia itu bukan pacarmu yang sebenarnya, aku juga tidak butuh kau kabari kalau hari ini kau pulang terlambat atau apalah. Aku juga tidak merasa punya kewajiban jika aku harus memberitahumu apa yang sedang atau akan aku lakukan – berhenti bersikap jika kita ini berpacaran karena baik kau dan aku, tidak pernah ada yang berargumen seperti itu"

Jihoon mendorong bahu Jungkook kasar

"berhenti berkata kau menyayangiku jika akhirnya kau hanya akan pergi seperti mereka!"

Kemudian Jungkook menarik Jihoon kedalam pelukannya dengan paksa. Merengkuh pinggang dan bahu Jihoon yang lebih pendek darinya dengan erat. tidak mempedulikan Jihoon yang memberontak, meminta dilepaskan.

Hingga beberapa menit berselang. Pukulan Jihoon pada dada Jungkook perlahan terhenti. Pun Guanlin yang tidak peduli ketika bus menuju rumah Jinyoung baru saja ia lewatkan. Matanya hanya terpaku pada Jihoon yang perlahan merapatkan dirinya pada Jungkook. Memberikan bahasa tubuh agar dipeluk lebih erat. tangan kanan Jungkook merambat naik, berhenti tepat di surai Jihoon yang kini berwarna coklat. Dari tempatnya duduk, Guanlin bisa melihat kalau wajah pemuda itu agak ragu, tapi dari ekspresi nya – nampaknya Jungkook itu ingin memberikan kecupan pada surai Jihoon yang lembut.

Ah, Guanlin saja tidak bisa melupakan tekstur helai rambut Jihoon yang lemas, yang ketika kau usak akan kembali jatuh, yang dulu berwarna hitam serupa dengan milik Guanlin.

Tapi Jungkook tidak melakukannya. Ia hanya menarik kepala Jihoon agar lebih rapat padanya. Bersandar pada dada bidangnya yang hangat. Sementara kedua tangan Jihoon terkepal didada Jungkook.

Bis yang selanjutnya datang. Dan kali ini – mau tidak mau Guanlin harus berdiri. Bus ini adalah yang terakhir, jika ia melewatkannya, maka bisa bisa ia akan menginap di halte sampai pagi menjelang. Menjelma menjadi tunawisma dalam semalam.

Guanlin menghela nafas, bangkit dari duduknya dan melangkah mendekati bus. Ia duduk di pinggir jendela yang membuatnya dapat leluasa menatap Jihoon dan Jungkook yang tengah berpelukan. Guanlin baru saja ingin berbalik menghadap depan jika saja matanya tidak bersibobok dengan onyx lain yang membuatnya tertegun dan tidak bisa mengalihkan pandangannya dari kedua manusia lain yang berada di seberang jalan.

"Apa itu?"

"Apa Jeon Jungkook baru saja menatapnya nyalang?"

...

Preman preman itu datang dengan membawa korban baru. Seorang wanita. Wanita tersebut berpakaian minim. Sepertinya salah seorang pekerja seks komersial di Bar yang tidak beruntung karena harus berhadapan dengan sekumpulan pria yang kekurangan pemuas nafsu, pun peliat uang, brengsek pula. Dari pembicaraan mereka, perempuan itu hendak digilir sembari direkam.

Jungkook melirik Jihoon yang hanya berdiri diam disebelahnya tanpa ekspresi yang berarti. Jungkook tidak mengerti apa maksud ucapan Jihoon kemarin. Tapi ia menjawab "tentu saja aku ingin keluar" dengan nada pongah. Meski sebenarnya, jika ia dijadikan babu disinipun ia tidak keberatan – sensasi bebas dari kekangan rumah sendiri itu berbeda. Makanya sekalipun ditendang, dipukul, ditampar sampai berdarah darah. Jungkook tidak berisik. Dia bukan anak manja yang hanya berlindung dibalik ketiak orang tuanya seperti yang orang orang bilang.

Adegan group sexitu cukup brutal. Jihoon benar benar diminta untuk menjaga Jungkook alih alih merekam kegiatan maksiat mereka.

Alhasil preman preman itu memegang kamera bergantian.

Ketika wanita itu sudah mencapai batas, ia pingsan dengan vagina berlumur air mani dan darah. Serta tubuh penuh sperma, coretan spidol bertuliskan "aku ingin makan penismu", dan keringat melumuri tubuh langsing yang kini terkapar dengan ekspresi konyol seperti terlalu banyak menghisap ganja.

"uh, ini melegakan" ucap salah satu preman sembari menendang wanita itu tepat diselangkangannya.

Jungkook mendesah jengah. Muak menyaksikan pemandangan penuh dosa dihadapannya. Jadi ia mengalihkan pandangannya pada Jihoon yang –

sudah tidak ada ditempatnya.

Jungkook berjengit.

Ia lantas mencari cari kemana sosok itu hingga merasakan ada bau anyir dan cairan basah mengenai pipi nya ketika menoleh.

"Jihoon! Apa yang kau lakukan bocah brengsek!"

Manik Jungkook membola. Seakan bisa keluar dari tengkorak Jungkook kapan saja.

Otak preman yang bertubuh paling bongsor berhamburan di lantai, sementara tempurung kepalanya sudah pecah karena dihantam Jihoon menggunakan besi.

Tanpa mengatakan apapun.

Dengan sorot matanya yang dingin nan kosong Jihoon menghabisi preman preman yang mengepungnya dengan brutal.

Jungkook tidak dapat berkedip saking shock nya. Ia hanya bisa terpaku menyaksikan Jihoon mengayunkan batangan besi itu ke leher satu dari dua yang tersisa dari total tujuh preman yang tadi hendak menyerbu Jihoon. Membuat kepala preman itu menggantung hanya dengan kulit, sementara tulang lehernya berhasil Jihoon potong.

Preman terakhir. Yang memiliki postur tubuh tak berbeda dengan Jungkook merapat didinding. Jatuh terduduk dengan pistol mengacung. Tubuhnya gemetar. Sesekali melirik ke teman temannya yang sudah tak bernyawa, berjengit sendirian lalu berusaha memantabkan tangannya yang mengarahkan pistol itu ke kepala Jihoon.

"Ji – Jihoon... le – lepaskan be – bes- besi itu!?"preman itu berteriak dengan suara gugup. Pun getaran ditangannya yang semakin cepat.

"Jihoon... kami menyelamatkanmu – a – aku menolongmu... kau ad – ad – adalah jemaat gereja y – yang taat kan?" ia berusaha bernegosiasi.

"tentu" Jihoon bersuara pelan. Menatap preman dihadapannya yang ketakutan setengah mati dengan pandangan kosong.

Jungkook dapat mendengar preman itu mendesah lega. Mulut preman itu baru saja akan terbuka, tetapi terhenti ketika menyaksikan Jihoon perlahan lahan mengangkat batang besi itu hingga lebih tinggi dari kepalanya sendiri.

"tapi Tuhan tidak suka orang yang berbuat jahat pada orang yang lebih lemah –"

Dan begitu mengayunkan besi itu pada si preman. Kepalanya menjadi tak berbentuk. Disertai bunyi tengkorak pecah yang mengerikan.

"– semoga Tuhan mengampunimu"

...

To Be Continue

...

Pojokan nyampah Rac-Chan:

Jiun jadi yandere bor

Eum... ada yang bingung?

Open Q & A

See ya!

Fast update sebagai bentuk permintaan maaf :3

Sincerely

'shouharaku'

300618