Tittle : The Past

Cast : Xi Luhan and all the member.

Warning And Disclaimer : seluruh member milik keluarga dan tuhan-nya, saya hanya pinjam nama dan ide cerita murni milikku.

P.S : seluruh kronologi, sejarah, dan sihir yang terjadi dalam cerita ini murni fiksional dari author.

"OH MY GODNESS!" pekik Luhan tak percaya. "KKAMJONG!"

Tak ada bedanya dengan ekspresi Luhan, ekspresi wanita itu sama terkejutnya sehingga tidak menyadari bahwa bahunya terekspos dengan jelas mengakibatkan para pria yang mengetahui tata norma membuang mukanya secara spontan.

Bunyi berisik dari dalam kamar, menyadarkan Luhan dan wanita itu. Pria ber-hanbok merah berdiri dan menghampiri mereka dengan tatapan marah. Ia menyentak lengan gisaeng tersebut hingga membuatnya kehilangan keseimbangan. Namun karena jarak antara Luhan dan gisaeng tersebut berdekatan. Tangan bebas sang gisaeng menarik tangan Luhan hingga membuatnya ikut tertarik kearahnya.

Karena pergerakan tersebut, tangan Luhan berusaha mencari pegangan untuk mencari keseimbangan tapi ia tak sadar kalau sudah mendaratkan tangannya di dada seorang wanita. Helaan napas kaget terdengar sangat jelas hingga membuat Luhan tersadar dan menarik tangannya secepat mungkin. Ia tidak mampu berkata apapun dan terdiam memandang tangannya.

Pria ber-hanbok merah itu terdengar menggeletukkan giginya. "Karena ini kecelakaan, aku akan membiarkan hal ini berlalu," ujarnya dan menarik gisaeng itu kasar.

Luhan terpaku menatap kepergian kedua orang yang sangat dikenalnya. Tangannya menjulur untuk meraih dua sosok yang mulai menjauh. "Kkamjong-ah, Sehunnie." Gumamnya antara sedih dan tidak percaya.

*Past*

"Luhan ge, apa yang membuat kita kembali kesini?" tanya Tao yang di seret oleh Luhan dari kelasnya bersama Chen, Lay dan Kris. Kembali ke tempatnya semalam menemukan pemandangan senonoh. Kembali ke kawasan gisaeng.

Luhan menoleh dengan senyuman sejuta arti pada Tao. "Bukankah kau tidak merasa nyaman dengan pelajaranmu bersama Chen, Tao-ah?" ucap Luhan basa-basi, tujuan sebenarnya menarik Tao adalah karena dia jago bela diri sehingga bisa melindunginya juga ia belum terlalu fasih berbahasa Goryeo tidak seperti Kris dan Lay yang cepat menyerap sehingga kemungkinan besar bocah ini tidak akan mengerti percakapan yang kemungkinan besar akan terjadi.

Tao hanya mengagguk sembari menelan ludahnya susah payah, ternyata rumor yang menyatakan bahwa senyuman cenayang kesayangan raja Guan mematikan telah dirasakannya secara langsung. Senyuman yang menawan juga menakutkan dengan penuh makna.

Luhan yang tidak menyadarinya langsung menyeret Tao menuju pintu gerbang dan segera bertanya pada gisaeng yang lewat di hadapannya.

"Ada yang bisa saya bantu tuan? Di siang hari yang cerah Ini?" tanya sang gisaeng centil, Luhan hanya bisa menahan rasa mualnya.

"Err, aku…mencari seorang gisaeng." Ujar Luhan ragu-ragu.

"Ini masih sangat siang tuan tampan," balas gisaeng itu, berkedip nakal. "Tidakkah anda bisa menahannya untuk nanti malam?"

Luhan mengurut dadanya menahan marahnya. "Maaf nona," ujarnya penuh penekanan. "Saya tidak ada niatan untuk apapun yang sedang berputar di pikiran anda." Tao mundur selangkah, walaupun ia tidak mengerti apa yang diucapkan oleh Luhan tapi ia tahu satu hal bahwa sang cenayang sedang menahan amarah. "Sekarang bisakah anda memberi tahu dimana Kkamjjong berada?"

Gisaeng itu terlihat bingung. "Siapa Kkamjjong tuan?" jawab Gisaeng itu memilih untuk serius ketika merasakan amarah seseorang sedang terbangun.

Luhan menepuk jidatnya. "Aku tidak tahu apakah namanya berlaku juga disini sama seperti yang lain? tapi itu patut dicoba!" ujarnya pada dirinya sendiri. "Bisakah aku bertemu dengan Kim Jongin?"

Dahi gisaeng itu berkerut mencoba mengingat teman kerjanya dengan nama tersebut. "Hamba tidak mengenal Kim Jongin tuan. Namun ada gisaeng bernama Jongin dari keluarga Lee."

"Tunjukkan aku jalannya!" titahnya langsung.

Luhan dan Tao digiring ke pavilion utama di kawasan itu. "Nona Jongin, ada seseorang yang ingin bertemu anda?" gisaeng itu mengumumkan kehadirannya namun tak ada jawabannya. "Nona Jongin!"

"Nona Jongin! Apakah anda sudah bangun?"

Tiba-tiba sebuah benda di lempar ke depan jendela hingga menimbulkan suara memekikkan telinga serta mengagetkan mereka. gisaeng itu berbalik dengan takut. "Sepertinya nona Jongin tidak sedang ingin di ganggu. Sebaiknya tuan-tuan kembali nanti malam?"

Luhan memandang aneh gisaeng dihadapannya. "apa dia gisaeng tertinggi disini?"

"Benar tuan, nona Jongin adalah Gisaeng terbaik dari rumah minum ini."

"Tapi apa ia tidak bisa berbicara? Mengapa ia harus melempar sesuatu untuk mengusir?" decih Luhan sebal serta tak percaya.

"Nona Jongin tidak pernah berbicara semenjak ia dibawa kerumah minum tuan."

Luhan mengeryit heran. "Kau pergilah, biar aku bertemu dengannya."

"Tapi tuan…"

"PERGI!" desis Luhan dengan lirikan yang ia tak sadari sangat mengerikan. Gisaeng itu segera menunduk memberi hormat dan lari dari tempat. "Ada apa dengannya Tao?"

Tao menggeleng, sejujurnya ia sudah ketakutan setengah mati sejak suara Luhan yang menahan amarah ditambah lagi percakapan yang ia tidak mengerti berujung pada desisan suara Luhan. "A…ak…ak..aku tak tahu Luhan ge."

"Kau kenapa?" tao lagi-lagi kembali menggeleng. Sedangkan Luhan mengedikkan bahunya sembari berjalan mendekati kamar yang ditempati Jongin. Ia membukanya paksa hingga terbuka lebar dan segera menghindari baskom besi yang melayang bebas menuju wajahnya.

"YAK MICHEOSEO!" teriaknya dan segera terpaku ketika melihat keadaan kamar yang cukup luas tapi berantakan. Sedangkan sosok Jongin dengan mata bengkak serta hanya berpakaian dalaman wanita dengan bahu terekspos.

Jongin sendiri mengeryit heran. Baru Luhan yang meneriakan bahasa Korea padanya. Sedangkan Tao segera mengalihkan pandangannya kelantai dengan pipi bersemu.

Tangan Luhan yang masih memegangi pintu segera melepasnya dan mengambil selembar perkamen dengan tinta hitam yang beraturan di dalamnya. Ia mengangkat matanya dan menatap Jongin bingung. "Hangul?" ucapnya tidak percaya.

Ucapan Luhan membuat mata Jongin membulat dan bangkit dari duduknya lalu menghampiri Luhan, sama tak percayanya dengan Luhan.

"Tao masuk!" suruhnya, namun Tao hanya mengangkat kepalanya kaget dan tak bergerak. Luhan segera menariknya masuk dan menutup pintu serta menyegelnya dengan tusuk rambut.

Luhan kembali menoleh pada Jongin yang menatapnya dengan pengharapan dan pandangan tidak percaya. "Kkamjjong…Kkamjjong… kaukah itu?"

Jongin membawa tangannya menutup mulutnya yang terbuka lebar. Matanya berkaca-kaca. "Hyung…hyung…hyung kupikir aku sendirian di dunia ini?" racau Jongin yang langsung memeluk Luhan yang segera membalasnya. Ia sudah menangis tersedu-sedu. "Kau tidak tahu seberapa stressnya aku menemukan diriku di dunia ini dengan identitas perempuan serta status yang seperti ini!"

"Kau juga tidak tahu 'kan bagaimana shocknya aku menemukan diriku sebagi Oracle kerajaan China!" sahut Luhan yang juga ikut menangis dan melimpahkan keluh kesahnya. "Aku adalah Xi Chu Lie, oracle kejam yang menggunakan kepercayaan raja untuk mengambil keuntungan pribadi."

Jongin melepaskan pelukannya dan dengan mata yang berair. "Siapa Xi Chu Lie?"

"Dia ada di buku sejarah Tiga Kerajaan sebagai mastermind dibelakang kudeta di masa pemerintah permasuiri Ki." Jelas Luhan.

"Aku tidak tahu, tapi yang penting kita sama-sama menderita hyung." Ungkap Kai yang segera menarik Luhan untuk duduk, sama sekali tidak menyadari keberadaan Tao.

"Bagaimana kau bisa disini Kkamjjong-ah?"

"Setelah Sehun tidak sengaja membuatmu terbentur meja, kami semua panic dan membawamu ke rumah sakit. sehun sangat merasa bersalah, ia tidak meninggalkan sisimu sama sekali semenjak hyung dinyatakan koma," jelas Kai antusias.

"Kurasa itu menjelaskan kenapa aku berada disini tanpa terbangun dari mimpi burukku." Sahut Luhan sarkastik.

"Yeah mungkin, tapi itu tidak menjelaskan mengapa aku disini? Setelah berhasil menyeret Sehun pulang, aku menggantikannya menjagamu. Tapi setelah itu aku terbangun disini sebagai wanita." Sambungnya penuh horror. "Beruntungnya aku mengenal alat music tradisional dan mengetahui beberapa tarian."

"Kurasa hidupmu sedikit lebih baik Kkamjjong-ah, aku bangun dengan modus hilang ingatan karena aku tak tahu harus berbuat dan bersikap seperti cenayang tertinggi." Kai menyengir tak berdosa dan langsung di kagetkan dengan kedua tangan Luhan yang tiba-tiba mendarat di dadanya.

"Errr, apa yang kau lakukan hyung?" tanya Kai heran, tapi tidak menyingkirkan tangan Luhan.

"Apa kau benar-benar wanita Kkamjjonga-ah?" Luhan balas bertanya dengan wajah polos.

Dengan kasar Kai menyingkirkan tangan Luhan dan mendelik tak percaya. "Diamlah hyung," ujarnya dengan nada tersinggung. "Aku sudah berusaha membuatnya terlihat menonjol tapi tidak menarik perhatian." Balasnya sembari mengukur dadanya dengan telapak tangannya. "Apa kurang besar hyung?"

"Begitulah," timpal Luhan yang menelengkan kepalanya, mencoba melihatnya dari sudut yang berbeda. "Kurasa kau harus menyumpalnya dengan tambahan kain. Walaupun aku mengenalmu sebagai pria normal, tapi aku harus mengakui kau terlihat cantik dalam balutan hanbok itu."

"Sekitar sebesar ini," ucap Luhan yang lagi-lagi memposisikan tangannya untuk menangkup dada Kai.

"Tapi hyung, semakin banyak kain semakin panas." Sahut Kai yang juga meletakkan tangannya diatas tangan Luhan hingga pekikan Tao menyadarkan mereka.

Refleks mereka melepaskan tangan mereka dan mengambil jarak. "TIDAK! Ini tidak yang seperti yang kau pikirkan Tao!" jerit Luhan panic.

"Panda hyung?" tanya Kai pada Luhan mencoba mengkonfirmasi.

Pemandangan Luhan yang memeluk dan menangkupkan tangannya di dada seorang gisaeng sudah membuat tuli Tao dengan suara Kai yang jelas-jelas terdengar manly. Tao memandang Luhan dengan campuran horror, tidak percaya dan merendahkan.

"Lu..han ge, aku…aku…" Tao sepertinya tidak bisa menemukan sebuah kata.

"Hanya sebuah cara hyung," seru Kai mengangguk mantap pada Luhan yang terlihat masih tidak mengerti. Namun gerakan berikutnya membuat mulut Luhan menganga dan Tao dengan cekatan menutup matanya.

Kai dengan beringasnya merobek pakaian atasnya berserta roknya hingga membuatnya bertelanjang dada. Dengan sigap Luhan memukul kepalanya.

"Aigoo! APPO HYUNG!" seru Kai sembari mengelus kepalanya.

"Kau gila! Buat apa kau buka baju dengan gaya dramatisasi begitu?" sentak Luhan marah. "Kau membuatku merasa seperti seme yang mesum!"

Luhan menghela napasnya kasar dan beringsut mendekati Tao yang masih menutup wajahnya. "Tao, dengarkan gege! Buka matamu dan kau akan mengerti." Tao menggeleng dan masih menutup matanya.

"Walaupun Tao adalah preman disini, tapi terbukti dia sangat menghormati privasi seorang wanita." Ungkap Luhan pada Kai dengan bahasa Korea. "Tapi tetap saja kepribadiannya sama saja dengan Tao yang kita kenal."

"Kau tahu hyung? Aku sudah lumayan senang saat kau bilang Tao adalah preman. Setidaknya wajah dan pekerjaannya saling mendukung." Ucap Kai kecewa. "Tapi ya sudahlah."

"Bisakah kau tidak melenceng dari topic dan bantu aku menyadarkan Tao yang pemalu ini?" pinta Luhan sembari memijat pelipisnya pelan. Ia berjongkok di hadapan Tao dan melepas paksa tangan itu serta menutupi pandangan Tao dari Kai yang masih berdiri dengan bertelanjang dada.

"Tao, percaya padaku! Gisaeng yang kau lihat bukanlah wanita." Ungkap Luhan lembut dan perlahan beralih agar Tao melihat Kai.

Kai yang tidak mengerti mandarin tersenyum lebar dan pose seperti pemotretan sedangkan Tao menganga lebar, antara tak percaya dan takjub. Luhan sendiri menepuk dahinya, frustasi dengan gaya Kai.

"Luhan ge?" ucap Tao terbata.

"Tao kenalkan ini Kim… bukan, maksudku Lee Jong In. Dia, err, menyamar menjadi seorang gisaeng."

"Apa yang kau katakan hyung?" tanya Kai, bingung.

"Aku hanya mengenalkanmu padanya." Luhan kembali duduk begitu pula dengan Kai. "Sebenarnya bagaimana bisa kau berakhir dengan menjadi gisaeng seperti ini Kkamjjong?"

Kai mengedikkan bahunya, ia melirik Tao yang perlahan tersadar dari keterkejutannya. "Tapi kalau dari ingatan yang perlahan kembali, Lee Jongin dimada ini berasal dari keluarga miskin yang terpaksa menjual putra mereka bekerja di rumah minum. Tapi kepala gisaeng di rumah ini menemukan potensi Jongin dan membuatnya menjadi gisaeng."

"Kau juga punya ingatan yang kembali?" Kai hanya mengangguk. "Aku juga, terkadang ingatan ini membuatku bingung. Apakah aku berasal dari masa ini atau masa depan?"

Mereka terdiam dan termenung, begitu pula dengan Tao yang memilih diam dan akan bertanya nanti hingga kata-kata Kai memecahkan kesunyian.

"Jadi, apa kita bisa kembali kemasa depan jika kita memang berasal dari masa depan?"

"Molla, tapi" Luhan memandang Kai tak yakin. "Kita perlu 13 darah."

*Past*

"Itu berarti kita perlu menemukan Suho hyung, Baekhyun hyung dan Chanyeol hyung?" ujar Kai mantap.

"Itu belum pasti dan kau melupakan Sehunnie, Kkamjjong!" Luhan mencoba mengingatkan.

Kai malah mendengus sebal, baru saja ia ingin berkata. Pintu yang masih tersegel dengan tusuk rambutnya tersentak seperti berusaha dibuka. Mereke berdua – lupakan Tao yang tidak mengerti apa-apa – menatap horror pintu tersebut.

"Pakai bajumu Kkamjjong," bisik Luhan yang langsung dituruti Kai dengan mengambil selimutnya dan melilitkan itu di tubuh bagian atas bersamaan dengan pintu yang menjeblak terbuka.

Keadaan hening. Luhan menatap tak percaya sosok dihadapannya, rupanya ia telah melupakan bagaimana cara pertemuan pertamanya dengan Kai.

"Sehun…nie," lirih Luhan yang langsung menoleh ke arah Kai yang menatap kesal pada Sehun.

Sedangkan Sehun menatap bengis Luhan dan beralih pada Kai. "Berani sekali kau menolakku dan menerima pria rendahan ini!"

Luhan melirik pakaiannya yang memang terlihat seperti rakyat jelata. Ketika Sehun beranjak mendekati Luhan dengan aura menyeramkan, dengan sigap Tao menghadang. Baru saja Sehun akan melayangkan pukulan ke wajah Luhan, tubuhnya telah terbanting ke lantai kayu dengan tangan kanan terkunci dibelakang punggungnya.

"Kkamjjong-ah, sebaiknya kau pergi kemar lain dan memakai baju." Bisik Luhan ditengah erangan Sehun. "Dengan keadaan seperti ini, posisiku dan Tao akan terpojok. Carilah bantuan agar Sehunnie tidak mengejarku kembali ke istana."

Dengan itu Kai keluar dari kamarnya dengan beberapa potong pakaian menuju kamar kepala rumah minum ini untuk menunggu suasana tegang. Setelah Kai menghilang dari balik pintu, Luhan berbalik menghadap Tao dan Sehun yang meronta.

"Tao, kita harus pergi dari sini tanpa ia mengikuti kita." Pinta Luhan yang menemukan keuntungan berbahasa mandarin disaat genting seperti ini. "Lakukan sesuatu!"

Tao mengangguk dan menarik Sehun hingga berdiri lalu membantingnya hingga tersungkur cukup jauh. Dengan cepat Tao menarik tangan Luhan dan pergi dari rumah gisaeng itu. di belakang mereka, Sehun berlari mengejar mereka namun terhambat oleh seorang wanita dengan dandanan lengkap gisaeng beserta Kai yang berdiri di belakang wanita itu.

Setelah cukup jauh berlari dari tempat itu, Luhan memperlambat langkahnya diikuti oleh Tao. Tanpa mereka sadari, terkurung dalam kamar Kai telah menghabiskan waktu mereka seharian. Langit sudah sangat gelap dan jalanan sudah sepi.

Luhan berbalik menghadap Tao yang berjalan dibelakangnya, "Berjalanlah disampingku Tao, kau tidak perlu mengikuti adat kasta itu padaku. Kita sederajat, mengerti?" Tao mengangguk pelan, matanya tidak berhenti memancarkan keterkaguman.

Luhan kembali melanjutkan langkahnya setelah berjalan beriringan bersama Tao menuju istana. Setelah cukup lama dilanda kesunyian, Luhan berucap. "Tao, jangan katakan apapun tentang Jongin. Jika identitasnya terbongkar, maka kekuasaanku tak akan menyelamatkannya."

Tao memandang Luhan bingung. "Menyelamatkannya? Dari apa?"

"Seperti yang kau lihat? Jongin adalah pria, tidakkah kau berpikir bahwa selama ini ia melakukan penipuan dengan menyamar menjadi wanita."

Tao mengerti dan mengangguk mantap. "Hamba mengerti, hamba akan tutup mulut."

"Kita dalam derajat yang sama Tao, jangan gunakan kata hamba." Titah Luhan, sedikit geram bercampur geli melihat sosok Tao yang penurut ini.

Tao lagi-lagi mengangguk. "Sepertinya, Jongin sangatlah berarti untuk anda, Luhan ge?"

Luhan tersenyum membuat Tao tanpa sadar bersemu. "Ia adalah adikku, adikku yang harus mengalami apa yang juga kualami."

Tao tersenyum lembut. "Luhan ge, kurasa semua desas-desus tentangmu adalah sebuah kebohongan."

Luhan berhenti melangkah, diikuti Tao 3 langkah kemudian. "Desas-desus tentangku?"

"Ya, banyak yang mengatakan bahwa Luhan ge adalah tukang sihir yang kejam. Semua perintah raja yang dikeluarkan adalah sebenarnya titah Luhan ge. Bahkan kudengar, Luhan ge pernah mengorbankan adik gege sendiri untuk upacara pengorbanan." Secara tidak sadar, kalimat Tao telah mengkonfirmasi segala kecemasan yang dirasakan Luhan tentang sikap dan tingkah lakunya di masa ini. "Tapi sekarang aku tahu, aku tahu bahwa semua itu adalah kebohongan."

Luhan tersenyum kecut, namun dengan cepat menggantinya dengan senyum manis. "Tentu saja, mana mungkin aku tega melakukan semua yang dikatakan desas-desus itu." balas Luhan menyetujui Tao, tapi sesungguhnya semua yang dikatakan Luhan hanya untuk mempertahankan egonya dan membohongi dirinya sendiri. "Ayolah kita harus pulang, aku yakin Lay dan Kris pasti sudah khawatir menunggu kita?"

Luhan dan Tao kembali ke pavilion yang telah disediakan oleh pihak kerajaan. Mereka berjalan lambat-lambat berusaha mengulur waktu ketika mendapati Lay, Kris dan Min Seok berdiri menanti mereka di pintu masuk.

"Tao, ingat! Jangan katakan apapun." Ucap Luhan memperingati.

"Ya, Luhan ge."

Luhan tersenyum lebar mencoba menutupi rasa lelah dan kesalnya dari ketiga pria yang telah menunggunya dengan tatapan marah. "Apa yang kalian lakukan disini? Angin malam tidak cocok untuk tubuh kalian." Tanya Luhan mencoba mengalihkan topic pembicaraan yang akan berlangsung.

"Luhan ge, darimana saja anda seharian ini?" tanya Lay langsung pada topic.

Luhan memberengut dan masuk kedalah paviliunnya sembari memberi kode pada yang lainnya untuk masuk. "Aku hanya mencari anggota lain" dustanya.

Min Seok menatapnya penasaran. "Dan apakah kau menemukan mereka?" luhan menggeleng santai dan merebahkan dirinya di sebuah kursi.

"Tapi, anda tidak bisa pergi begitu saja tanpa pengawalan!" sergah Kris yang mengingat tujuan pembicaraan ini. "Bagaimana jika sesuatu menimpa anda?"

"Aku membawa Tao, dan ia cukup untuk melindungiku. Buktinya, aku kembali ke istana dengan selamat."

"Bukan maksudku meremehkan kemampuan Tao, Luhan ge" Sambung Min Seok, "Hanya saja, pengawalan satu orang tak bisa anda gunakan selamanya."

Luhan tersenyum lelah. "Bisakah kita membicarakan hal ini esok? Aku dan Tao cukup lelah mengelilingi kota hari ini"

Lay ingin mengatakan sesuatu, namun melihat ekspresi lelah yang terpancar dari keduanya. Ia segera menutup mulutnya dan mengundurkan diri, diikuti oleh yang lainnya.

Luhan mulai melepaskan pakaiannya satu persatu dan menggantinya dengan pakaian bersih. Tapi pikirannya tak berpusat pada apa yang ada dihadapannya. "Langkah selanjutnya adalah menemukan Suho, Chanyeol dan Baekhyun," pikirnya bersamaan dengan selimut yang menutupi tubuhnya. "Lalu setelah itu apa?"

*Past*

Beberapa hari berlalu tanpa Luhan melakukan kegiatan berarti. Setiap pagi ia bersandiwara menuju kuil dan berdoa. Ia bahkan tak tahu apa yang harus dilakukannya sebagai cenayang. Bagaimana cara seorang cenayang berdoa. Alhasil, ia hanya terduduk di depan patung untuk beberapa waktu yang lama atau terkadang meniup lilin di sekitar ruangan berdoa satu persatu.

Kris, Lay dan Tao hanya bisa bungkam. Mereka tidak tahu apa yang mengganggu pikiran tuan mereka dan tidak tahu apa yang harus di lakukan.

Ini hari kedelapan, dimana Luhan seperti biasa terbangun dini hari dan menuju kuil. Kali ini ia tidak berdiam diri dihadapan patung melainkan meniup lilin satu persatu hingga matahari terbit dan beranjak menuju kolam di dekat kuil dan kembali termenung.

Suara derap langkah mendekati Luhan dan yang lain. Namun Luhan sendiri tidak menyadarinya dan tetap terdiam. Beberapa pasukan tersebut berpasasan dengan ketiga pria yang berdiri tidak jauh dari Luhan dan memberi salam sebelum melewati mereka.

Sayangnya, pasukan itu berhenti saat jarak mereka cukup jauh. Tapi yang memancing pasukan itu untuk berhenti adalah pimpinan mereka. ia kembali berbalik dan menghampiri tiga utusan Guan tersebut.

"Maafkan saya mengganggu," ujar pimpinan pasukan itu, tidak lain adalah Sehun dalam balutan pakaian pengawal kerajaan tertinggi.

Panggilan Sehun membuat mereka berbalik dan mengejutkan Tao serta Sehun yang saling mengenali satu sama lain. Tao sendiri tidak bisa berkutik sementara Sehun memandanginya dengan tajam.

"Bagaimana kau bisa disini?" hardik Sehun keras, mengejutkan tidak hanya Tao namun semuanya hingga Luhan beranjak dan menghampiri mereka.

"Sehunnie," ucapan lirih Luhan membuat Sehun memandangnya dan membulatkan matanya.

"Kau!" tanpa sadar Sehun memekik dan menunjuk Luhan tepat diwajahnya.

Luhan melangkah, menutup jarak diantaranya dengan Sehun. Tangannya menurunkan tangan Sehun yang segera membatu. Sedangkan tangannya yang lain mulai menyentuh pipi Sehun dan membelainya. Tatapan sendu dari Luhan membuatnya sama sekali tidak berkutik dan tenggorokannya yang seperti tercekat.

Luhan menyingkirkan bulu dari topi yang dikenakan oleh Sehun dan menangkup wajah tanpa cela itu dengan kedua tangannya. "Bogosipda," ungkap Luhan lirih dan memeluknya.

TBC

sekali lagi terimakasih untuk semua yang sudah baca ff ini walaupun menjadi silent reader but please, make some review for me