Disclaimer : Naruto © Masashi Kisimoto
Date a Live © Koshie Tachibana
Summary : Jika para spirit wanita tidak muncul di Kota Tenguu, melainkan di dunia shinobi, khususnya Konoha. Apa yang akan dilakukan Naruto untuk mempertahankan kedamaian yang sudah susah payah ia raih dari ancaman makhluk yang disebut spirit? Apa yang akan terjadi pada kehidupan Naruto selanjutnya? Simak saja ceritanya. . . . . [Naruto Hareem][No Lemonade Juice]..
Genre : Adventure, Humor, & Little bit Romance
Rate : M (Naik Rate)
Setting : Canon dunia shinobi, Konoha, 6 tahun setelah Movie The Last.
Warning : Maybe Humor, Typo, OOC, Gaje, Menistakan banyak Chara, dll.
Pair : Naruto Mass Hareem
Kamis, 18 Februari 2016
Happy reading . . . . .
Spirit, Uzumaki, dan Kekacauan
By Si Hitam
Chapter 4. Si Roh Api Efreet, Kotori.
Gerah, gerah, geraaaahhhh...
Ughhhh,, hari yang panas ini memang enak kalau mandi. Dan sekarang kita lihat kegiatan apa yang sedang terjadi dikamar mandi rumah keluarga Uzumaki.
"Kau capek tidak Yoshino-chan?"
"Belum, aku masih kuat kok Naruto-nii"
"Yoossshh,, ayo semangat. Sedikit lagi kita selesai membersihkan kamar mandi ini"
Yaaahh,, begitulah keadaan didalam kamar mandi itu, belum ada hal erotis yang menegangkan, masih sekedar kegiatan kecil dan itupun dengan pakaian lengkap yang menempel dibadan. Yoshino menggunakan baju terusan putih sedangkan Naruto menggunakan kaos dan celana pendek. Namun walau begitu, tetap ada kemungkinan menjurus ke adegan berbahaya jika ada yang tidak sanggup menahan diri.
"Oh iyaaa,, ngomong-ngomon si Yoshinon mana?" tanya Naruto, agak heran karena biasanya Yoshinon selalu menempel ditangan Yoshino dan tidak terpisahkan.
"Yoshinon tidak mau badannya basah katanya, jadi dia ku tinggal di kasur"
"Ohh, bagus lah. Jadi aku tidak perlu ribut-ribut dengannya disini"
"Kenapa sih, Naruto-nii selalu ribut jika bersama dengan Yoshinon"
"Habisnya dia sendiri yang tidak bisa diam, dia pasti duluan mengejekku dan memulai keributan"
"Aaahh, iya ya.. Mungkin Yoshinon menyukai Naruto-nii. Makanya dia bersikap seperti itu"
"Tau deh,, masa bodoh." balas Naruto cuek.
Tidak lama kemudian, acara bersih-bersih kamar mandipun selesai.
"Nahh, sekarang sudah selesai. Ayo kita keluar sekarang" ajak Naruto.
"Nanti saja, bagaimana kalau kita mandi dulu sama-sama" pinta Yoshino,
Nah kann?,,, belum apa-apa sudah ada kejadian yang menjurus pada adegan erotis. Yoshino lagi yang memulai.
"Emmmmm,,," Naruto tampak berpikir,,, "Yosh, baiklah. Ayo kita mandi sama-sama, aku juga gerah dan keringatan karena bersih-bersih tadi" Naruto langsung setuju tanpa pikir panjang.
Keduanya pun beranjak berdiri, mengambil handuk yang tergantung disudut kamar mandi.
"Naruto-nii menghadap kesana. Aku ingin melepas pakaianku"
"Iyaa, aku mengerti kok. Kau juga yaa, jangan berbalik. Aku juga ingin melepas pakaianku"
Hmmm, keduanya sudah mulai melepas baju, bahkan tidak sungkan ataupun malu lagi melepas baju bersamaan dalam sutu ruangan. Yah, katakanlah ini sangat berlebihan untuk sepasang pria dan wanita yang tidak terikat dalam hubungan pernikahan maupun saudara.
Tidak perlu waktu lama, keduanya kini sudah polos tanpa sehelai benangpun. Masih saling membelakangi, lalu mereka segera melilitkan handuk masing-masing untuk menutupi area berbahaya. Naruto melilitkan handuk dipinggangnya, sedangkan Yoshino dari atas dada hingga pahanya.
Selesai,,,
"Nah, ayo duduk di bangku kecil itu" kata Naruto pada Yoshino.
"Iya, Naruto-nii"
Yoshino langsung menurut, lalu Naruto pun mengambil satu bangku kecil lagi lalu mendudukkan dirinya tepat dibelakang Yoshino.
"Aku akan memandikanmu duluan, Yoshino-chan"
"Okkee, nanti setelah ini aku yang akan menggosokkan punggung Naruto-nii"
"Sip deh. Nah, tutup matamu, biar airnya tidak kena mata"
Yoshino pun menurut lalu Naruto langsung mengguyurkan air dari shower ke atas kepala Yoshino.
Tidak lama guyur mengguyu, acara mandi lanjut ketahapan selanjutnya, yaitu sabun-sabunan.
Yoshino masih setia duduk dibangku kecilnya, sedangkan Naruto berada dibelakang Yoshino sudah mengambil sejumlah cairan sabun ke telapak tangannya,
"Nah, angkat tanganmu dulu, Yoshino-chan"
Naruto segera mengusapkan sabun ke tangan Yoshino, hingga berbusa. Kemudian lanjut mengusapkannya ke tangan Yoshino yang satunya, ke daerah leher, ketiak lalu turun sedikit ke,,,,,,
"Ahnnn,, Ge-geli Naruto-nii" Yoshino tiba-tiba meloloskan satu desanan dari mulutnya.
"Aaah, maaf ya Yoshino-chan.. Aku tidak sengaja menyentuh bagian itu.. Hehee"
"Umm,, tidak apa-apa. Lakukan saja lagi, aku suka kok, rasanya enak. Tapi yang lembut yaa, jangan keras-keras."
"Benarkah?" Naruto tampak senang, "Saaa,, kalau begitu siap-siap yaa.. Yang kedua ini pasti tidak akan bisa kau tahan"
sshhhh,,,,,
Naruto mengusap lagi dengan sangat lembut..
"Aahhhm,, emm... Naruto-nii,, ber-eenghhh-henti dulu.."
"Heh,, apa ku bilang kan?, kau pasti tidak tahan hingga mendesah begitu"
Tampak bahwa handuk yang melilit dibadan Yoshino telah sangat basah dan sedikit turun, menampakkan bagian-bagian dari tubuh Yoshino yang baru berkembang, dan seharusnya tidak boleh dilihat oleh Naruto.
Yoshino adalah gadis loli yang berumur sekitar 13 tahunan. Gadis seperti ini punya ciri dan pesonanya tersendiri yang mampu membangkitkan gairah seksual pria pengidap lolicon.
Dari belakang, jelas sekali Naruto dapat melihat betapa mungilnya tubuh Yoshino didepannya ini. Mudah saja baginya untuk mendekap Yoshino kedalam pelukannya sekarang. Tampak jelas di mata Naruto, kulit putih mulus yang agak kemerahan seperti merona dan punggung kecil serta bahu mungil yang seakan menantang birahi Naruto.
"Emm,, coba berbalik deh, Yoshino-chan. Biar aku bisa membersihkan bagian depan tubuhmu" kata Naruto. Ooowwwww,,,,, sebut saja ini modus.
"Oke" sahut Yoshino tanpa menaruh curiga. Dia langsung berbalik badan dan menghadap Naruto.
Dan sekarang, Naruto bisa melihat pemandangan surga yang selalu diimpi-impikan oleh para lolicon diseluruh dunia.
Wajah Yoshino yang sungguh imut, pipinya yang bersemu merah, bibir mungil kemerahan yang seakan minta dikecup. Lalu dadanya yang sedikit berkembang sejak pertama kali Naruto melihatnya, bagian itu tampak jelas dari balik handuk Yoshino yang melorot kebawah. Mungkin akibat ulah tangan nakal Naruto tadi.
'Sialaaaannnnn. Shikamaru, mulai sekarang aku akan mengikuti jalanmu dan menjadi lolicon. Do'akan temanmu ini menjadi lolicon sejati...'
Naruto yang sudah tidak tahan lagi, jiwa dan raganya menjadi panas karena pemandangan tubuh Yoshino. Setelah dia membersihkan darah segar tanda kebejatan yang sedikit keluar dari lubang hidungnya, akhirnya Naruto mengambil tidakan berani, "Naaaahhh, Yoshino-chan. Bagaimana kalau kita bermain-main sebentar?" ajak Naruto sambil menyeringai.
"Eh? Main apa, Naruto-nii?" tanya Yoshino dengan wajah imut nan polosnya.
"Ahh, permainan yang pasti sangat kamu sukai, permainan yang membuatmu menjerit-jerit kesenangan."
"Beneran?" Yoshino langsung memasang wajah tertarik senang.
"Ya iya lah" jawab Naruto dengan yakin.
Setelah Naruto mengambil sesuatu,,
"Yosshh,, kita mulai." kata Naruto semangat.
ctekkk...
Suara sesuatu yang terlepas dan terjatuh...
Yoshino tampak diam saja, mungkin karena malu karena dibeginikan.
"Sudah lah, jangan memasang tampang malu begitu. Yoshino-chan. Aku memang melihatmu, tapi setelah ini kau juga akan melihatku" kata Naruto.
"I-iya, Naruto-nii"
Naruto berdiri, lalu melepaskan sesuatu lagi.
"I-itu besar sekali, Naruto-nii" kata Yoshino menunjuk benda yang baru di lihatnya itu.
"Kenapa? Terkejut? Bukankan kemarin kau sudah melihat benda ini. Saat kau mengobati ku dikamarku"
"Iya sih... Tapi kan tetap saja aku ma-maluuuu..."
"Tidak usah dipikirkan, ukurannya memang sudah seperti ini sejak dulu kok"
"Begitu ya,,, heheee... Boleh aku pegang, Naruto-nii?" tanya Yoshino dengan wajah polos.
"Tentu saja. Silahkan Yoshino-chan"
Yoshino pun mulai memegang benda itu setelah mendapat ijin dari Naruto.
"Ahhh,, eeughh,, yah disana Yoshino-chan. Pegang lebih kuat agar tidak lepas, benda ini memang agak licin"
Yoshino pun mengeratkan pegangannya,
"Sekarang coba kau tiup..! Pelan-pelan saja, gunakan semua perasaanmu ya" kata Naruto.
Sesuai intruksi Naruto, Yoshino mencoba meniup-niup benda itu."
"Bagus, kau cepat belajar Yoshino-chan." puji Naruto, lalu "Uugghhh,,,,," melenguh dengan suara tertahan.
Namun yang ada hanya cairan seperti busa putih kecil dalam jumlah sedikit yang dihasilkan.
"Cuma begini saja, Naruto-nii?" tanya Yoshino yang seakan tidak puas.
"Belum,, benda ini akan bekerja jika dimasukkan kedalam lubang itu"
"Begitu ya. Ya sudah, tunggu apa lagi? Ayo masukkan sekarang..."
"Ah, beneran?" Naruto makin senang. "Ayo sini, lebih mendekat padaku!"
Yoshino mendekat dan Naruto pun mengambil posisi terbaik untuk memasukkan benda itu ke lubang yang dia maksud.
"Kau siap Yoshino-chan?"
Yoshino mengangguk, "Ummmm,,,,"
Dengan posisi yang sudah pas, Naruto langsung memasukkan benda besar tadi kedalam lubang.
Bleessshhhh..
"Awwwww..." Yoshino merintih kesakitan.
"shhh,, perih banget yaa?" kata Naruto iba pada kondisi Yoshino.
"I-iya, Naruto-nii. Perih banget..."
"Tahan sebentar, nanti perih itu juga akan hilang sendirinya"
Tak lama kemudian, setelah perih yang dirasakan Yoshino menghilang, permainan pun kembali berlanjut.
Mengeluarkan kembali benda tadi dari dalam lubang, dan memperlihatkannya pada Yoshino...
"Wahhh,,, bagus ya..." Yoshino tampak senang, "Ayo lakukan lagi, Naruto-nii"
"Okey"
Naruto pun kembali memasukkan benda tadi ke lubang yang sama lagi,,,
"ahhnn,," Yoshino tampak mendesah karena geli melihatnya.
"Kata orang hasilnya akan lebih bagus kalau di kocok"
"Lakukan saja, Naruto-nii"
"Sippp" Naruto pun mengocok dengan cepat dan lebih kuat...
"Aaarrhhh... Kocok lebih cepat lagi..." pinta Yoshino.
"Um,, akan ku kocok sampai keluar isinya"
"yaa-aaaakhh"
ctekkk...
Pintu kamar mandinya tiba-tiba terbuka,, seorang wanita berambut indigo panjang masuk melewati pintu itu.. Dia melihat suaminya dengan perempuan lain didalam kamar mandi dengan posisi memalukan, tanpa pakaian dan hanya dililit selembar handuk.
Suasana menjadi tegang...
Akankan Naruto akan mendapat siksaan lagi dari sang istri?
krikkk,, krikkk,,
krikkk,, krikkk,,
krikkk,, krikkk
"Sudah selesai membersihkan kamar mandinya?Jangan bermain gelembung sabun, lebih baik lakukan hal lain." kata Hinata santai, perempuan yang baru saja masuk kekamar mandi itu.
"Sudah kok, Hinata-sama?" Jawab Yoshino, "Iya kan, Naruto-nii"
Naruto mengangguk...
"Ahh,, baguslah... Kau memang bisa di andalkan Yoshino-chan. Aku beruntung kau mau jadi bagian keluarga ini."
"Ah, iya. Terima kasih Hinata-sama. Kau mau dan sudi menerimaku dirumah ini."
"Umm,... Yaa aku juga senang kau disini. Tidak seperti dua spirit lain, Tohka-chan dan Miku-chan tidak bisa diandalkan untuk membersihkan rumah"
". . . ."
"Oh iya, Naruto-kun.."
"Eh,,, i-iya Hinata"
"Setelah ini kau cabuti rumput diperkarangan rumah satu persatu. Hukumanmu belum selesai."
"Iya, iyaaa"
"Tapi awas,, tidak boleh pakai kagebunshin atau jutsu apapun, mengerti!"
"Wakarishimashitaaa..." jawab Naruto lesu.
Yah, begitulah hukuman yang Naruto terima karena berani makan ramen instan dirumah saat bukan jadwalnya. Hukuman membersihkan rumah. Seisi rumah sudah dibersihkan, kamar mandi juga sudah, dan sekarang tinggal perkarangan saja lagi. Hinata sudah membuat aturan, ramen instan hanya boleh di makan sekali seminggu saja, yaitu pada hari sabtu sore.
.
AN : Sebenarnya permainan di kamar mandi antara Naruto dan Yoshino hanyalah kegiatan bermain gelembung sabun. Untuk kalian yang otaknya pada ngeres, para mesumers akut dan lolicon hentong, siniiiihhh,,, aku kasih penjelasan...
Suara ctekk, benda yang terlepas itu bukan handuknya Yoshino, tapi tutup botol cairan pembuat gelembung sabun.
Lalu Yoshino terdiam, bukan sebab dia malu karena ditelanjangi tapi itu wajah bingung tidak tahu permaian apa yang akan dimulai.
Naruto melepas sesuatu lagi, itu bukan handuknya, tapi suara alat pembuat gelembung yang dibuka dari wadah pembungkusnya, alat itu ukurannya cukup besar, makanya Yoshino terpana.
Ketika Yoshino memegang benda itu, memang licin sebab tangan Naruto yang tadi memegangnya masih berbusa bekas sabun mandi.
Lalu Yoshino meniup-niup benda itu agar gelembung sabun nya terbentuk.
Naruto memasukkan benda itu kedalam lubang, maksudnya kedalam lubang botol cairan pembuat gelembung.
Yoshino merintih kesakitan karena sedikit percikan cairan sabun itu terkena matanya.
Botolnya dikocok kuat-kuat agar gelembung yang dihasilkan saat ditiup nanti jadi banyak walau sebenarnya ini mitos
Dan jangan lupakan suara lenguhan Naruto dan desahan dari Yoshino hanya karena mereka berdua sama-sama gemes ketika bermain membuat gelembung sabun, bukan karena sebab lain.
Heheheeeeeee,,, hayo lohh,, berapa orang reader yang kena perangkap adegan sugestif ini?
.
.
.
Sore hari yang cerah namun tidak terlalu panas, sekarang sudah hampir jam setengah lima. Waktu yang bagus untuk sekedar jalan-jalan, menikmati suasana hiruk pikuk pusat desa Konoha. Hari ini pun adalah hari sabtu dimana besoknya adalah hari libur, tentu menjadi hari yang ditunggu-tunggu banyak orang, terutama pasangan yang ingin kencan.
Yaaaa, kencan. Satu makhluk bertipe laki-laki berambut pirang ini juga sedang kencan, walau ia sendiri sudah hampir 6 tahun menjadi kepala rumah tangga. Tidak salah juga kan berkencan dengan istri sendiri? Tapi sepertinya pengecualian untuk Naruto, dia memiliki agenda kencan yang tidak wajar jika dibandingkan dengan kencan-kencan pasangan pada umumnya.
"Naruto-nii,,, itu namanya apa?" tanya seorang gadis belia yang berjalan didepan Naruto.
Gadis belia yang keimutannya tiada tanding di Konoha, gadis itu berambut biru dengan dengan iris mata berwarna senada. Mengenakan pakaian khas remaja-remaja seumurannya berupa baju terusan pendek sampai paha berwarna putih tanpa lengan. Pesona yang dia miliki sebagai loli supercute membuat para lolicon manapun tidak akan sanggup berkedip walau mata sangat perih karena terlalu lama memandangnya. Dia bertanya sambil menunjuk kearah bangunan berbentuk bundar yang terletak dibawah tebing tinggi.
"Itu bangunan kantor Hokage, pemimpin desa ini. Kau harus tanamkan dalam pikiranmu bahwa suatu saat aku akan menjadi hokage dan menempati bangunan itu, Yoshino-chan"
"Cuihh,, jangan bicara omong kosong, kepala tai berjalan" ejek boneka kelinci berwarna putih bernama Yoshinon yang menempel ditangan kiri Yoshino.
"Oooowwhh,,, Yoshinon... Mulai yaa ngajak berantem, kelinci busuk tak punya kaki. Kau mau badanmu ku lumuri oli bekas, biar ga bisa dibersihkan lagi hah?" ancam Naruto.
"Tidaaaakkkk,, lariiiiiiii Yoshino-chaaaaann" teriak si kelinci tadi...
Entah kenapa, kaki Yoshino bergerak sendiri berlari menjauh sedikit dari Naruto walau sebenarnya Yoshino tampak enggan. Mungkin sebagian anggota gerak Yoshino sudah diambil alih oleh boneka kelinci jadi-jadian tadi.
"Hei, Yoshino-chan,,, jangan jauh-jauh yaa... Jangan sampai tersesat" kata Naruto memperingatkan.
"Iyaaa, Naruto-nii"
Yap, pertama kencannya jadi tidak wajar karena Naruto yang sudah berusian sekitar 25 tahun dan sudah menjadi kepala rumah tangga, sedang kencan dengan gadis belia tipe loli.
Tidak lama kemudian,
"Hiieeee,,, menjijikkan" gerutu seorang gadis yang sedang mendorong kereta bayi berisi balita perempuan manis yang sepertinya sedang terlelap tidur didalam sana.
Gadis ini memiliki rambut berwarna indigo terang, dengan iris mata berwarna sama, mengenakan gaun selutut yang sangat indah yang sepertinya tidak cocok untuk suasana sekarang ini. Namun begitu, pesonanya sebagai wanita cantik dan anggun tetap tidak hilang. Jangan lupakan kalau gadis ini memiliki badan supersemok dengan dadanya yang berukuran bombastis.
"Kenapa lagi sih, Miku-chan?" tanya Naruto pada gadis yang menggerutu dibelakangnya ini, dan dapat dipastikan bahwa balita dalam kereta bayi yang didorong gadis itu adalah anak Naruto.
"Laki-laki menjijikkan yang disana itu menatapku terus dari tadi" jawab Miku seraya menunjuk seorang pria di sudut jalan.
Naruto yang melihatnya, hanya menaikkan sebelah alis matanya. Dia mengenal laki-laki itu, Ebisu sensei, salah satu pengajar di akademi ninja saat dirinya masih bersekolah disana dulu dan sampai sekarangpun Ebisu masih mengajar di akademi. Naruto mafhum, Ebisu sensei masih belum punya pasangan sampai sekarang, alias Jones. Jadi wajar kalau melirik gadis yang sedang bersamanya ini.
"Sudah lah, Miku-chan. Dia tidak akan berani mengganggumu"
"Tapi Naru-chan,,, aku tidak suka. Boleh aku mencincang dia?"
"Eittt, ja-jangan Miku-chan" Naruto jadi sedikit panik, dia mengerti kalau Miku sangat membenci laki-laki, kecuali dirinya, mungkin ada hal traumatik dimasa lalu. Tapi kalau sampai ingin mencincang, tetap saja kan berlebihan?, "Kau tenang saja, aku pasti akan melindungimu,,"
"Benar kah?"
"Iyaa, sumpah."
"Ahihihihiii" Miku tampak cekikikan senang atas janji Naruto kepadanya.
Kencannya yang dijalani Naruto menjadi semakin tidak wajar karena selain dengan gadis loli tadi, ternyata Naruto juga membawa gadis cantik dan anggun berbadan semok dengan dada yang sangat besar.
Belum sampai disana,
"Isssshh,, Bolt-kun jorok. Sini ku bersihkan ingusmu" kini gadis berambut ungu panjang berwajah manis yang bicara. Dia sedang mengandeng bocah laki-laki disamping kanannya, dan ketika melihat bocah ini mengeluarkan ingus, dia berniat membersihkannya.
"Aaaahh, tumben kau bisa bertindak benar, Tohka-chan..." puji Naruto pada gadis itu.
Gadis ini berjalan disebelah kanan Naruto, dia bertindak seperti layaknya ibu-ibu muda yang mengurus anak pertamanya dengan penuh curahan kasih sayang. Bocah laki-laki tadi sudah pasti anak Naruto. Gadis tadi sudah seperti istri yang didamba-dambakan pria manapun. Dia mengenakan pakaian kasual berupa kaos berlengan panjang dengan rok sampai dibawah lutut. Gadis ini benar-benar berwajah manis, cantik, dan bentuk tubuhnya sangat ideal untuk ukuran gadis seumurannya, membuat wanita manapun iri padanya.
"Ahaaaaa,,, terima kasih Naru."
"Tingkah mu yang seperti ini pasti ada maunya, iya kan?"tebak Naruto. "Katakan saja, Tohka-chan!"
"Eheheee,, ummmm,,, bolehkan aku minta kencan ramen. Boleh yaaaa,, boleeeehhhh,,, sudah dua hari loh aku tidak makan kencan ramen"
"Iya-iyaaa,,, aku juga ingin makan ramen"
"Asyiiiikkkk,,,, aku cinta Naru..." kata Tohka dengan riang.
Kencannya Naruto tambah tidak wajar lagi. Ternyata selain dua gadis tadi, Naruto juga membawa serta gadis cantik lain dalam acara kencannya, yang kali ini gadis bertipe periang hiperaktif.
Belum habis sampai disini
"Naruto-kun,,!"
Naruto dengan segera mengalihkan pandangannya kesebelah kiri, dimana ada seorang wanita luar biasa cantik dimatanya yang sedang mengamit lengan kirinya. Wanita ini tampak sedikit kesal,,,,
"Ada apa Hinata?"
"Kau terlalu perhatian dengan spirit-spiritmu. Aku ini istrimu yang sah, harusnya kau lebih memperhatikan aku, lebih menyayangi dan lebih mencintaiku..." katanya dengan wajah cemberut.
Wanita ini berambut indigo gelap panjang dengan poni rata yang menutupi dahinya. Memiliki iris mata seindah permata amethys, serta wajah cantik dengan kulit putih bersih tanpa noda seperti porselin. Dan wanita inilah satu-satunya wanita yang terikat dengan Naruto dalam ikatan suci pernikahan.
Inilah yang paling membuat kencan Naruto menjadi hal yang seharusnya mustahil terjadi. Jika saja itu bukan Naruto maka fenomena ini tidak akan pernah ada. Naruto kencan dengan tiga 'selingkuhan' sekaligus, istilah lebih sopannya adalah selir, lalu membawa serta pula istri sahnya, alias sang permaisuri. Dan lagi ternyata dua anak kecil tadi adalah anak Naruto sendiri dengan istrinya yang sah ini.
Sungguh, hal ini sangat mustahil, namun kemustahilan itu tidak berlaku untuk Naruto, membuat pria manapun sangat iri ketika melihatnya. Naruto lah satu-satunya pria yang memiliki harem, hal baru dikalangan ninja Konoha sebab harem biasanya hanya di tekuni oleh laki-laki dengan jabatan tinggi seperti daimyo saja, atau paling tidak mafia perbudakan.
"Heiii,, ternyata istriku ini sedang cemburu. Ahaaaaa,,, baru pertama kali aku melihatmu seperti ini, Hinata"
"Hmmpphh,," Hinata memalingkan muka, agar wajah cemberutnya tidak dilihat suaminya lagi.
"Ayolaaahhh,,, kau tahu kan hanya kau satu-satunya perempuan yang ada dihatiku?. Tiga gadis spirit tadi hanya peliharaan kita saja." kata Naruto menggombal dengan santainya.
Dan perkataan gombal Naruto itu berdampak sangat buruk, suasana suram seketika langsung menggantikan suasana hangat acara kencan tadi. Aura tidak mengenakkan keluar dari tiga gadis spirit, Tohka, Miku dan Yoshino. Para penduduk Konoha disekitar Naruto langsung menjauh, mengungsikan diri mencari tempat aman karena mereka tahu apa yang sedang terjadi.
Para spirit akan tenang jika ada cinta untuk mereka, dan jika emosi mereka memburuk, mereka dilanda badmood, maka bersiap-siapkan akan terjadinya amukan yang sanggup meratakan wilayah Konoha. Belum lagi ancaman munculnya spacequake yang bisa melenyapkan apapun. Semua orang sudah tahu tentang hal ini, makanya para penduduk langsung menjauh.
"Itttaaaaiiiiii..." Naruto mengaduh, "Kenapa kau mencubitku sih, Hinata?" tanya Naruto dengan tampang bodohnya.
"Naruto-kun. Hati-hati kalau bicara,,, hal seperti gombalan yang kau ucapkan barusan aku tidak butuh, jadi tidak usah kau ungkapkan lagi. Sekarang lihat sekelilingmu!" kata Hinata memperingatkan.
Naruto melihat kesekelilingnya, alarm tanda bahaya di otaknya langsung merespon kejadian ini,,,
"Eheheheeee,,, a-anooo Tohka-chan, Miku-chan, Yoshino-chan,,, se-sepertinyaaa tadi kalian mendengar suara hantu deh" kata Naruto mencoba mangkir dari kesalahan yang dibuatnya. Jelas sekali dia panik, ketakutan melihat aura hitam dengan hawa membunuh yang sangat pekat menguar-nguar dari tubuh Tohka, Miku, dan Yoshino.
"..."
"..."
"..."
Tidak ada respon apapun dari tiga gadis spirit tadi, hawa suram mengerikan masih menyelimuti pusat desa Konoha.
"Ka-kalau begitu, kalian boleh minta apapun dari-ku" tawar Naruto, berharap dengan cara ini semua masalah akan selesai.
Aura suram seketika hilang, digantikan dengan perasaan cerah. Itu untuk orang lain namun tidak untuk Naruto, karena,,,,,
"Aku ingin makan ramen 100 mangkok disuapi Naru dari mulut ke mulut..!" pinta Tohka cepat.
"Naru-chan,,, nanti dirumah kau harus jadi Naruko-chan, bertelanjang, lalu aku akan memakaikan salah satu gaunku padamu!" kata Miku dengan mata berkilat-kilat serta gerakan bibir sensual seakan mendapatkan santapan menggiurkan.
"Naruto-nii,, ba-badanku gerah. Nanti setelah pulang mandikan aku yaaa...!, bantu aku sabunan sekalian kita berendam bersama." pinta Yoshino malu-malu.
"I-iya deh" Naruto mengiyakan saja, daripada tiga gadis spirit ini mengamuk.
Kasihan Naruto, 100 mangkok ramen bukan jumlah sedikit, gama-chan nya pasti langsung kosong, dan lagi minta disuapi dari mulut ke mulut, jangan gila...!. Disuruh Miku telanjang, aaarrgghh berarti keperawanan Naruko kembali terancam. Lalu memandikan Yoshino,,, aiisshhh bisa-bisa jiwa Loli Naruto semakin tumbuh dan berkembang. Ini bukan hal bagus bagi kesehatan jiwa Naruto.
Naruto menatap Hinata disamping kirinya,,, "Hinata sayaaanngg,, to-tolong bantu aku yaaa" pintanya memelas.
"Aaaaahh, itu urusanmu, Naruto-kun. Kau sendiri yang membuat kacau, maka kau yang menyelesaikannya"
"Huueeeee" Naruto menangis dengan suara yang dibuat-buat seperti anak kecil.
"Oh iya, satu lagi Naruto-kun.. Jyuken dan pukulan suci milikku siap kapanpun jika kau melakukan hal yang tidak-tidak..." tambah Hinata lagi.
"TIDAAAKKKKK..."
Yah, begitulah kencan terburuk yang pernah dialami Naruto.
"Hihihiiiii,,,,,," Hinata tampak cekikikan senang melihat keadaan suaminya yang sekarang.
Sebenarnya semua hal ini membuat Hinata bahagia, kesampingkan hal tentang cinta untuk spirit, maka suasana keluarga seperti sekarang inilah yang diharapkan Hinata. Lagipula ia yakin, Naruto itu adalah miliknya sehaja baik tubuh dan hatinya, dan yang pasti Naruto tidak akan pernah berpaling darinya.
Usut punya usut, ternyata kencan ini ada atas usulan Hinata. Awalnya adalah permintaan Yoshino yang ingin di ajak berkeliling Konoha dan bermain-main, lalu Hinata yang mendengarnya mengusulkan agar dijadikan kegiatan kencan saja sekalian. Sesuai yang tertulis di novel laknat karangan Jiraiya, spirit yang sering di ajak berkencan akan memperkuat rasa cinta dalam hati mereka. Hinata berpedoman pada itu, sehingga dia minta Naruto agar membawa Tohka dan Miku juga sekalian.
Lalu Hinata yang sedang tidak ada kerjaan, memilih ikut agenda kencan Naruto bersama para spirit dengan membawa serta kedua anaknya, Bolt dan Himawari. Bolt sudah bisa jalan, namun perlu digandeng tangannya agar tidak bertindak aneh-aneh atau bahkan hilang ditengah kerumunan warga di pusat desa. Begitupun Himawari, karena masih bayi jadi dia berada didalam kereta dorong bayi.
Begitulah acara kencan Naruto, namun sepertinya kurang tepat jika disebut kencan, lebih pas jika dikatakan sebagai acara senang-senang keluarga.
Jika di tilik lebih seksama, maka akan terlihat sebuah kejanggalan dalam agenda yang di usulkan oleh Hinata ini. Yoshino yang masih memiliki jiwa anak-anak dan memiliki rasa ingin tahu yang besar, berjalan duluan didepan. Miku menjaga Himawari dan mendorong kereta bayinya, ya memang dari sananya Miku sangat menyukai Himawari, bayi perempuan yang sangat imut ini. Lalu Tohka yang sedang menggandeng Bolt, Tohka dan Bolt memang sangat dekat karena keduanya adalah teman sepermainan, mereka berdua sama-sama periang dan hiperaktif. Miku dan Tohka sudah seperti babby sitter saja. Dan satu-satunya wanita yang mengamit lengan Naruto erat layaknya orang yang sedang dalam puncak masa kasmaran hanyalah Hinata.
Hohooo, Hinata itu jenius dan bisa dikatakan licik. Miku dan Tohka sepertinya tidak sadar kalau sedang dimanfaatkan Hinata. Yoshino tidak perlu dikhawatirkan karena dia yang tampak paling antusias berkeliling desa Konoha. Jadi dapat disimpulkan kalau sebenarnya ini hanyalah modus Hinata saja, menyuruh Naruto kencan dengan semua gadis spirit, padahal dia sendiri yang ingin kencan dengan suaminya, tanpa harus terganggu dengan kewajiban mengurus anak-anaknya. You're the best, Hinata.
Ahhhh,, sungguh masa-masa yang sangat membahagiakan bagi semua anggota keluarga Uzumaki, namun itu semua sepertinya harus berakhir sekarang karena,,,
"KEBAKARAAANNN,,, TOLOOONNGGGG,, DISANA ADA KEBAKARAAANNNNNN...!"
Teriak para warga yang tiba-tiba berhamburan dijalanan, dan telihat dari arah ujung jalan ada asap hitam mengepul di sore ini, bukti bahwa memang sedang ada kebakaran di sana.
Byakugan
Hinata langsung menggunakan doujutsu hebat miliknya, dan setelah mengamati sebentar,
"Haaaaaahhhh,," Hinata membuang nafas panjang seperti orang pasrah yang ditimpa sial. Lalu segera menonaktikan mata Byakugannya.
"Apa yang kau lihat disana, Hinata?"
"Tugas khusus baru untukmu" jawab Hinata singkat.
"He? Maksudmu?"
"Sudahlah, kita harus kesana sekarang..." usul Hinata.
"Ummm,, baiklah, ayo" seru Naruto, lalu membawa serta semua anggota keluarganya, termasuk tiga gadis spirit yang sudah dia ikat dengan cintanya.
.
Setelah sampai di lokasi adanya kebakaran, wajah Naruto langsung berubah masam. Ini tambahan masalah untuknya.
"Jadi ini yang kau maksud tugas khusus baru untuk ku, Hinata?"
"Memang apa lagi, ini sudah menjadi tugas khusus untukmu kan? Tidak ada orang lain yang bisa melakukannya selain kau, Naruto-kun"
Keadaannya adalah, setelah Naruto bersama Hinata dan kedua anaknya serta tiga gadis spirit peliharaanya tiba ditempat kejadian, memang sedang ada bencana. Ada kebakaran dan penyebab kebakaran ini tidak lain adalah seorang gadis spirit yang sedang mengamuk menggunakan sihir api. Hinata mengidentifikasi ada Roh Api Efreet dalam spirit itu yang menjadi sumber kekuatannya.
Spirit yang dimaksud adalah spirit berwujud gadis remaja 15 tahunan. Memiliki rambut merah yang diikat model twintail dengan pita hitam. Iris mata gadis ini berwarna merah. Dia memakan pakaian berupa kimono putih bercorak merah khas serorang pendeta wanita dengan model yang minim dan agak terbuka. Ada aksesoris serupa sepasang tanduk kecil yang menghiasi kedua sisi kepalanya. Spirit ini memiliki pesona kuat khas gadis remaja.
"Siapa orang yang mengamuk itu, Naruto-nii?" tanya Yoshino
"Dia spirit sama seperti kita, Yoshino-chan" Miku lah yang menjawab pertanyaan barusan.
"Jadi apa yang akan kau lakukan Naru?" tanya Tohka, "Mengajak dia bergabung dengan keluarga kita?"
"Yah,, mau bagaimana lagi. Dia sama seperti kalian, jadi dia akan masuk menjadi bagian dari keluarga kita juga. Tidak apa-apa kan?" sahut Naruto.
"Ummm," Tohka mengangguk.
"Ya, tidak apa-apa.. Aku malah senang ada lebih banyak wanita,,, ufufufuuuu" sambung Miku. Yeahh,, jiwa lesbi nya kambuh.
"Jadi tunggu apalagi, Naruto-kun?. Cepat kesana dan tenangkan spirit yang mengamuk itu..!" seru Hinata.
"Nanti dulu Hinata. Aku ingin lihat seberapa baik ninja-ninja Konoha mengatasi amukan spirit. Apa mereka bisa menangkap spirit itu atau tidak? Ini bisa jadi latihan untuk para ninja"
"Benar juga sih apa katamu, Naruto-kun"
"Lagian, aku malas kalau menghadapi spirit yang mengamuk, bisa-bisa aku langsung dipanggangnya jika mendekat kesana. Lebih baik aku menuggu dia ditangkap dulu, baru aku menyelesaikannya"
"Ya sudah kalau itu mau mu, Naruto-kun"
Jadi mereka semua sepakat, Naruto akan menunggu sebentar sampai spirit berambut merah itu di hentikan, namun setelah cukup lama menunggu ternyata harapan Naruto tidak menjadi kenyataan sebab disana...
Trankkkkkk...
Trank,,Trank,,Trank,,Trank,,
Trank,,Trank,,Trank,,Trank,,
Trank,,Trank,,Trank,,Trank,,
DDHUUUAARRRRR...
"Aarrggghhhhhhh..." para ninja yang berusaha menahan amukan spirit tidak bisa berbuat banyak. Terlempar kesana kemari karena serangan si spirit berambut merah itu.
"Hahahahaaaa... Makanya, jangan macam-macam denganku. . . . Mau,,. kalian semua ku habisi hah?" teriak si spirit dengan sombongnya.
Berbagai macam senjata sudah mereka gunakan, namun tidak sedikitpun bisa menggores luka di tubuh spirit yang bersenjatakan kapak besar itu. Yang ada malah mereka yang harus terlempar karena disabet kapak tumpul dan berat itu. Menyerang dari belakang pun percuma karena si spirit mempunyai sihir api yang bisa dikendalikan sesukanya dan membakar apapun yang mendekat padanya.
tap...
Seorang pemuda, berambut hitam dengan dua bola mata berbeda yang tersemat di rongga mata sebelah kiri dan kanan. Dialah Uchiha Sasuke, sang legenda Uchiha yang mewarisi kekuatan Rikudou Sennin.
"Ooooohhhh,, masih ada yang berani menatangku ternyata?" si spirit kembali bicara.
Sasuke tidak menanggapi dengan ucapan namun dengan tindakan. Dia langsung mengaktifkan susano'onya karena dia merasa spirit ini kekuatannya tidak bisa diremehkan. Dengan susanoo berwujut tengkorak yang melindungi tubuhnya, dia mulai bergerak maju.
"Aku tidak tahu sihir apa yang kau gunakan, tapi baiklah..."
Camael, Canon Mode
Slapp,,,slapp,,,Slapp,,,slapp,,,Slapp,,,slapp
Senjata berupa kapak yang merupakan malaikat pelindung spirit, berubah mejadi sebuah meriam besar dan itu diarahkan pada susano'o Sasuke.
Aura berupa api yang mengelilingi spirit tadi, bergerak masuk kedalam moncong meriam miliknya, seakan sedang melakukan pengisian amunisi.
Sasuke bergerak maju seolah tidak menghiraukan serangan apa yang akan diarahkan padanya. Dia yakin Susano'onya bisa bertahan.
Megiddo
Beeeaammmmm...
Tembakan lurus agak miring keatas mengenai susanoo Sasuke yang lebih tinggi dari posisi spirit penyerang tadi, lalu tembakan itu terus melaju kebelakang hingga lenyap setelah melewati awan nun jauh disana.
"Heh... Lihat kan seberapa hebat kekuatanku"
Sasuke terdiam, beruntung dia masih hidup. Tembakan meriam api megiddo dari sang spirit berhasil menembus dan melubangi susano'onya, melenyapkan bahu kanan serta lengan atas susano'o miliknya. Untung tidak mengenai tubuhnya sendiri yang posisinya di bagian tengah didalam rangka rusuk susano'o.
Sasuke geram, ini diluar perkiraannya,,, "Kau yang memintaku serius,,,, baiklah.. Akan ku tunjukkan kekuatanku yang sebenarnya"
Swwuuusssshhh...
Dalam sekejap, Sasuke membentuk ulang sosok astral susano'onya. Tidal lagi berwujud tengkorak, namun wujud sempurna bersupa sosok Samurai Tengu dengan armor lengkap dan sepasang sayap. Tinggi susano'o ini mencapai 50 meter hingga dapat terlihat dari penghujung sudut desa Konoha.
Walaupun spirit tadi dibuat terkejut dengan kekuatan Sasuke, tapi wajahnya tidak sedikitpun menunjukkan raut wajah takut.
tappp...
Naruto mendaratkan kakinya ditengah arena, "Sudah cukup, mundurlah Sasuke.! Kau akan merusak desa jika menggunakan kekuatan sebesar itu"
"Cih... aku tidak akan melupakan ini, lihat saja nanti. Dasar spirit berdada rata" ejek Sasuke..
Oowwwhhh,, fetish Sasuke memang kearah dada yang besar, tapi kalau sampai mengejek yang berdada rata, maka siap-siap lah jika pulang kerumah kalau ada yang mengamuk, karena istrinya juga berdada rata, sangat rata, benar-benar rata.
"Brengsek... Apa katamu hah?" teriak gadis spirit. Namun tidak mendapat kan respon karena Sasuke sudah hilang dan menjauh pergi.
Tersisalah Naruto dan gadis spirit berambut merah.
"Jadi kau yang akan melawanku selanjutnya, aku tidak takut" kata si spirit dengan congak pada Naruto.
"Eheheee,,, tenanglah. Perkenalkan, namaku Uzumaki Naruto. Aku tidak ingin bertarung denganmu, aku hanya mau membantu masalahmu saja"
"Ohh, namaku Kotori. Masalahku adalah, tidak ada yang mau memberikan permen lolipop padaku."
"He?" Naruto cengo, "Hanya karena lolipop kau mengamuk dan hampir menghancurkan desa ini?"
"Habisnya, aku minta baik-baik, mereka tidak mau memberiku, malah katanya harus ada uang. Yang benar saja, aku tidak punya uang, bahkan aku pun tidak tahu seperti apa uang itu"
'Ya ampun,,, hanya karena masalah kecil seperti ini, Konoha terancam bahaya. Ammpuuunnnn,,, bener-bener deh,,,,'
"Umm, bagaimana kalau aku memberimu lolipon satu peti. Kau mau, Kotori?" tawar Naruto.
"Tentu saja, mana lolipopnya? Aku mau sekarang, Naruto.!"
"Iya, tapi ada syaratnya"
"Apa?"
"Kau harus tinggal dirumahku."
"Haaaaaahhh? Dasar sukebe, ecchi, mesum,, kau gila,, aku tidak sudi"
Zsshhhtttt,,,
Dhuaarrrrrr...
Tanah tempat Naruto berpijak langsung hancur setelah dihantam kapak besar spirit bernama Kotori. Dia secepat kilat menyerang Naruto.
Kotori tampak marah besar karena ajakan Naruto. Beruntung Naruto sigap menghindar dengan melompat mundur kebelakang.
"Heiii, Kotori. Tenanglah...! Kau tidak sendirian, ada makhluk berjenis sama sepertimu yang tinggal denganku"
"Jangan bohong padaku.."
"Kalau kau tidak percaya, coba lihat kesana" kata Naruto menunjuk kearah yang dia maksud.
Tampak dari sudut sana, ada Tohka, Miku, dan Yoshino yang melambai-lambaikan tangan pada Naruto dan Kotori. Hinata, walaupun tidak ikut melambai, tapi dia memasang senyum manis.
"Tiga perempuan disana sama sepertiku? Bagaimana bisa?" Kotori langsung mengenali makhluk yang sama jenis dengan dirinya, sesama spirit.
"Yaahh, bagaimana ya menceritakannya..." Naruto menggaruk tengkuknya pertanda bingung. "Ikut saja dulu denganku, nanti ku ceritakan semuanya"
"Heh?" Kotori masih tampak belum percaya sepenuhnya.
"Ayolah Kotori,, aku bukan orang jahat. Buktinya mereka semua terlihat senang-senang saja dan bahagia bersamaku" bujuk Naruto.
". . . . . . ."
"Hei,, bagaimana jika aku memberimu dua peti lolipop,, aaaahhh tidak... satu gudang deh kalau mau ikut denganku.."
Kotori mengangkat kepalanya, matanya menatap Naruto. Bujukan seperti ini tidak bisa dia tolak, hingga akhirnya,,,, "Baiklah,, aku mau ikut denganmu. Tapi aku ingin satu gudang lolipop setiap hari untukku"
"Bereeeess,,,, Ayooooo" ajak Naruto seraya berjalan menuju keluarganya
Dan Kotori pun dengan santainya mengikuti Naruto di belakang.
'Heeeeeehhhh,,, ternyata spirit yang muncul kali ini mudah banget ditaklukkan. Hanya dengan diiming-imingi lolipop saja sudah cukup. Aduuuuuuhhh, tahu begini tidak perlu aku kan yang mengambil dia kerumahku. Bahkan laki-laki manapun di Konoha ini bisa menaklukkan Kotori dengan hanya memberinya lolipop. Jadi nyesel aku, seandainya aku minta shinobi lain seperti Kakashi sensei, Kiba, Lee atau Sasuke saja tadi, pasti aku tidak akan bertambah repot. Tapi ya sudahlah,, ambil hikmahnya saja, dengan begini suasana rumahku akan semakin ramai. Semoga saja masalah tidak bertambah lagi nanti.'
.
.
.
Hari ini Uzumaki Naruto bersama istrinya, yang sah tentunya, yakni Uzumaki Hinata, sedang berkunjung ke kantor Hokage. Bukan dalam rangka mempererat silaturahmi dengan Rokudaime Hokage, Hatake Kakashi, karena menurut mereka berdua itu sama sekali tidak penting. Hal lebih penting yang di inginkan oleh Naruto dan Hinata disana adalah masalah rumah.
Rumah yang di huni oleh keluarga Uzumaki saat ini terasa sangat sempit dan membuat penghuninya tidak nyaman. Andai saja hanya keluarga kecil Uzumaki yang menghuni pasti tidak jadi masalah, namun sejak kemarin sudah terhitung empat gadis spirit yang tinggal bersama di rumah keluarga Uzumaki, alias numpang.
Tentu saja hal itu membuat sulit karena banyak hal. Pertama, kebutuhan akan jumlah bahan makanan meningkat karena ada satu spirit yang sangat rakus dalam urusan makan, dan ukuran meja makan yang harus diperbesar sehingga ruang makan terasa sempit, begitu pula anggaran untuk kebutuhan pakaian juga meningkat, terlebih salah satu spirit sering meminta dibelikan gaun.
Kedua, keperluan mandi juga sering bikin repot, sebab semua gadis spirit punya kebiasaan mandi lama dan sehari 4 kali mandi. Akibatnya Naruto seringkali tidak mandi jika ada urusan keluar rumah. Walau pada beberapa kesempatan para gadis itu mengajak Naruto mandi bersama, namun Naruto tidak akan berani melakukannya atau tubuhnya akan bebak belur karena jyuken ataupun pukulan suci istrinya.
Ketiga, masalah tidur. Naruto dan Hinata punya kamar sendiri, begitupula Bolt dan Himawari yang satu kamar juga. Sisa satu kamar lagi dirumah itu sering jadi rebutan para spirit, jadi setiap malam pasti heboh. Dan yang paling tidak mengenakkan bagi Naruto maupun Hinata ialah, saat mereka sedang bercinta dan bercumbu ria, selalu saja merasa di awasi. Itu pasti kerjaan para gadis spirit yang suka mengintip. Dan banyak lagi hal lainnya yang tidak bisa disebutkan satu persatu.
Oleh karena itulah, disani Naruto dan Hinata dengan hawa mengintimidasi meminta sesuatu pada Rokudaime Hokage, Hatake Kakashi.
"He?, katakan sekali lagi dengan jelas, Naruto!" ucap Kakashi yang belum sepenuhnya percaya permintaan Naruto.
"Kami ingin minta rumah baru, yang besar dan luas" ucap Naruto tegas.
"Aaaah, sekalian perabotannya yang lengkap juga, Hokage-sama" tambah Hinata.
"Apa alasannya aku harus menuruti permintaan kalian?"
"Rumah kami yang sekarang terasa sempit sejak menampung para gadis spirit, Kakashi sensei"
"Betul sekali. Pertama masalah makan . . . . . . . . . . . . . hingga masalah tidur dan banyak lagi hal lainnya" Hinata menambahkan alasan permintaannya sejelas-jelasnya panjang lebar.
Kakashi tidak bisa membalikkan keadaan, dia tidak punya alasan untuk bilang tidak, tapi...
"Begini Naruto, Hinata. Kas Desa Konoha sedang kritis, kau tahu kan kalau hutang mantan Hokage Kelima Tsunade-hime itu segunung, jadi desa kita ikut kena imbasnya"
"Yah, itu urusanmu sensei, yang ini lain lagi" sahut Naruto.
Kakashi menatap kearah Hinata, "Hinata, kau kan berasal dari keluarga bangsawan Hyuga, keluargamu pasti banyak uang. Kenapa tidak minta kesana saja?"
"Aku tidak mau merepotkan ayahku, Hokage-sama. Lagipula semua hal yang berkaitan dengan spirit tidak ada sangkut pautnya dengan Hyuga. Para spirit secara administratif adalah beban dan tanggung jawab desa Konoha. Kami berdua hanya menjalankan tugas dan bertanggung jawab secara langsung untuk mengurus mereka" jawab Hinata.
"Tap-,,," Kakashi hendak bicara namun sudah dipotong duluan,
"Tidak ada kata 'tapi'. Kau tidak punya hak untuk memilih, Kakashi sensei. Kau hanya harus menyediakan rumah baru untuk kami, maka selesai" potong Naruto.
"Ya, atau kau mau kami berdua lepas tangan akan tanggung jawab terhadap 4 spirit dirumah kami, dan membiarkan mereka mengamuk di Konoha?" ancam Hinata.
'Ya ampun, sialan, kampret. Suami istri ini membuatku tidak bisa berkutik. Seenaknya meminta rumah, memangnya aku orang tua mereka apa? Aku saja yang menjadi Hokage cuma dikasih mesh kecil sebagai rumah dinas, eeeeh mereka malah minta rumah besar dan luas. Awas saja kalian berdua ya...!'
"Baiklah,, aku akan mencarikan rumah yang kalian inginkan"
"Ah ya,, keputusan bagus, Kakashi sensei" kata Naruto diiringi senyum cerahnya.
"Um, terima kasih banyak atas kerjasamanya, Hokage-sama" sambung Hinata dengan senyum manisnya.
Naruto dan Hinata pun saling pandang kemudian, dengan senyum menyeringai kemenangan terpatri dari bibir mereka.
'Cihh,,, jadi mereka berdua memang sengaja merencanakan ini' kata Kakashi dibenaknya.
"Oh iya, tadi aku sudah bilang kan kalau aku minta perabotannya juga, lengkap" celetuk Hinata tiba-tiba
"Yaaaa~~~" ucap Kakashi pasrah.
"Kalau begitu, kami pamit undur diri ya, sensei" kata Naruto, "Ayo Hinata"
"Tunggu, ada satu lagi" potong Hinata sebelum pulang,
"Apa sayang?" tanya Naruto heran,
Kakashi pun jadi mengangkat kepalanya yang tadi menunduk lesu,
"Gajimu perbulan berapa, Hokage-sama?" tanya Hinata pada Kakashi.
"15 juta ryo. Kenapa memangnya?"
"Aku ingin uang tiga kali lipat dari itu masuk ke rekeningku setiap bulan"
"HA?" Kakashi terkejut histeris.
"Naruto-kun sepi order misi, jadi kami perlu tambahan pemasukan. Kau mengerti kan kalau biaya hidup untuk empat orang itu tidak sedikit, terlebih lagi mereka semua adalah gadis-gadis, Hokage sama?"
Kakashi mengangguk pasrah saja. Percuma melawan,,,,
"Nah, bagus. Sekarang ayo kita pulang, Naruto-kun."
"Ahh,, kamu memang hebat, Hinata" puji Naruto
Lalu pasangan suami istri itupun meninggalkan Kakashi dalam penderitaannya.
BRAAKKKK...
Tiba-tiba meja kerja Hokage terbelah jadi dua, pelakunya tidak lain adalah sang hokage itu sendiri, dengan Raikiri aktif ditangan kanannya, mudah saja dia memenggal meja tadi. Meniru kelakuan rekan sejawatnya yaitu raikage dari Kumo.
"Kalau begini aku bisa di maki habis-habisan oleh para tetua karena membuang-buang uang kas Konoha. SIALAAAANNNNN... Keluarga Uzumaki, aku pasti akan buat perhitungan dengan kalian suatu saat nanti"
Dengan wajah sangar karena marah, Kakashi menumpahkan emosinya dalam sumpah serapah.
.
Ketika pagi hari yang sudah menjelang siang ini, Hinata sedang badmood. Dia baru saja datang dari kantor Hokage, dan disana ia dibikin kesal oleh sang Rokudaime. Setelah memaksa Kakashi 5 hari yang lalu, dengan segera uang bulanan sudah di transfer, lalu rumah baru yang besar dan mewah sudah ada, namun ada beberapa perabotan yang masih bisa dipakai di rumah lama untuk dibawa kerumah baru. Karena hari ini Naruto sedang sakit, jadi Hinata meminta Kakashi agar menugaskan beberapa Ninja atau ANBU untuk membantunya pindahan, namun Kakashi tidak bisa mengabulkannya karena tidak ada Ninja maupun ANBU yang sedang bebas tugas hari ini.
Dan beginilah akhirnya, Hinata yang sudah terlanjur badmood dengan wajah yang tertekuk kesal sambil menggerutu tidak jelas, berjalan di jalanan pusat pertokoan Konoha.
"Ggrrrr. . . . ." Hinata kembali menggeram untuk kesekian kalinya.
Tatkala Hinata melihat dua rekan sesama kunoichi sekaligus rekan sesama ibu rumah tangga yang sedang jalan tidak jauh dari posisinya, seketika itu bohlam putih terang menyala disamping kepala Hinata. Aaaaahh~~~, sepertinya Hinata tertular kebiasaan suaminya yang selalu mendapat ide aneh brilian yang tentu saja merugikan orang lain. Hinata menyeringai keji.
"Ohaiyo,, Sakura-san, Temari-san..." sapa Hinata lalu berjalan mendekat pada dua teman yang baru disapanya itu dengan memasang senyum manis.
Sakura dan Temari yang merasa dipanggil, seketika berhenti.
"Oh,,, Hinata-chaaaan" jawab Sakura, berlari kecil lalu memeluk istri dari sahabat setimnya yang kelewat bodoh. Sakura dan Hinata bisa dikatakan dekat sejak dulu.
"Ohaiyo, Uzumaki-san" kata Temari. Nah, kalau Temari memang tidak terlalu dekat dengan Hinata, karena dia baru-baru ini saja tinggal di Konoha bersama suaminya, Shikamaru.
Begitulah, selama beberapa tahun awal masa pernikahannya dengan Shikamaru, Temari masih tinggal di Suna, sampai dia mendapatkan pengganti dirinya yang menjabat posisi penting di negri padang pasir itu. Temari baru 2 bulan ini saja menetap di Konoha.
"Kalian sedang sibuk tidak?" tanya Hinata pada dua wanita perkasa tersebut.
Ya, siapa yang tidak tahu keperkasaan Sakura. Dia wanita terkuat selain Tsunade di desa Konoha. Temari pun sama, selain sebagai pejabat penting, dia merupakan tentara wanita terkuat dari Sunagakure.
"Tidak juga, ada apa Hinata?" tanya Sakura.
"Emmm, begini. Kalian tahu kan kalau anggota keluargaku bertambah empat orang. Yaaa, empat gadis spirit itu"
"Ya, tahu kok" sahut Temari.
"Rokudaime-sama memberi kami rumah baru yang luas"
"Wah, bagus tuh kalau punya rumah baru. Terus?" kata Sakura.
"Rencananya aku mau pindahan hari ini, tapi tidak ada ninja yang sedang bebas tugas untuk disuruh memindahkan perabotan dirumahku. Naruto sedang sakit gigi, jadi dia tidak bisa diandalkan sekarang."
". . . . ."
"Bisa tidak kalian berdua yang membantuku memindahkan perabotanku. Kalian berdua kan wanita kuat dan perkasa."
"Eh,, sepertinya ada pasien dirumah sakit yang harus ku urus deh, Hinata-chan" celetuk Sakura tiba-tiba.
"Hmmm,, aku juga harus mencari Shikadai. Bocah itu pasti tidur disembarang tempat, aku takut kalau dia diculik" sambung Temari.
Dua wanita perkasa itupun berbalik badan, hendak melenggang pergi.
"Kalian berdua tahu kan, apa kekurangan kalian dan bagaimana fetish suami kalian?" tanya Hinata pada dua wanita tadi sebelum pergi jauh.
Ya, Sakura kurang bobot dadanya, dan Temari kurang muda usianya. Lalu Sasuke doyan dada berukuran besar, dan Shikamaru itu pengidap lolicon.
Sakura dan Temari berbalik lagi, menghadap Hinata. Dimata mereka, yang terlihat adalah Hinata yang menyeringai jahil. Tak ubahnya dengan seringaian si idiot Naruto yang sedang mengerjai orang lain.
"Ahh, euhhh. . . . " Sakura dan Temari tidak tahu harus menjawab apa.
"Bagaimana yaaah, kalau seandainya Miku-chan pindah kerumah keluarga Uchiha, dan Yoshino-chan pindah kerumah keluarga Nara. Mudah saja menyuruh dua spirit itu pindah, mereka selalu menurut apa kata-kataku. . . . Aaaahhh~~~~,,, pasti asik tuh. Sasuke-san dan Shikamaru-san pasti tidak akan menolak, dan kalau aku minta Rokudaime-sama untuk membuatkan surat tugas pada mereka berdua memelihara spirit itu, Rokudaime-sama pasti menyetujui permintaanku. Jadi tidak akan ada seorangpun yang bisa mencegahnya" ucap Hinata lancar. Sambil membayangkan keadaan rumahnya yang mungkin akan kembali damai seperti dulu.
"Jangan lakukan itu, Hinata-sama. Aku mohon. . . " pinta Sakura
"Yaaa,, aku akan melakukan apapun yang kau perintahkan, Hinata-sama" ucap Temari.
"Kasihanilah hambamu yang hina ini, Yang Mulia Hinata-sama" ucap Sakura dan Temari berbarengan.
Orang-orang di jalanan memandang heran, ada dua wanita, satu berambut merah mudah, dan satunya lagi berambut pirang berkuncir, sedang bersujud di kaki wanita berambut indigo panjang. Ya, di mata mereka semua, dua wanita tadi bersujud seperti orang yang memohon ampun agar tidak dihukum gantung.
"Ummm, baguslah.. Kalau begitu, ayo ikut aku sekarang" kata Hinata dengan mood yang kembali cerah, "Oh iya, banyak sekali loh perabotan dirumahku yang harus dipindah. Ada tiga buah lemari pakaian besar, lalu meja makan beserta kursinya, enam kasur ukuran King Size, dua bathtube keramik untuk mandi berendam, dua buah tandon air ukuran 3000 liter, lemari mainan Bolt-kun dan Hima-chan yang terisi penuh, mesin cuci, 30 lembar tatami, dua kulkas besar, peralatan masakku juga banyak, dan baaaaaanyak lagi barang-barang lainnya. Aaaaaahh~~~, sepertinya di gudang juga banyak barang-barang yang masih bisa dipakai. Hmmm, tidak apa-apa kan Sakura-san, Temari-san?" kata Hinata dengan senyuman manis.
"Kami adalah hambamu. Perintahmu adalah nafas hidup kami, Yang Mulia Hinata-sama" jawab keduanya.
"Umm,,, aku baru ingat. Kedua tandon ukuran 3000 liter itu kebetulan sedang terisi penuh. Kan sayang kalau airnya dibuang, jadi sekalian angkat tandon dengan airnya ya..."
Oooohhh~~~,,, sepertinya nanti Sakura dan Temari harus mencari tukang urut setelah menjadi kuli dadakan.
.
.
.
May be To be Continued. . . .
.
Note : Kali ini tidak ada omake dulu, di chap depan aja bagian aksi nakal Kotori. Langsung next preview aja karena cuplikan yang hinggap dikepalaku kali ini lumayan panjang.
Oh iya, mengenai cuplikan dibawah ini, karena sudah naik rate ke M, di bikin panas aja sekalian, walau aku ga membuat lemon. Hohoooooo...
...
...
...
Next Preview...
Pada pertengahan malam yang terakhir, disebuah kamar dengan cahaya remang nan temaram, di atas kasur yang spreinya sudah tidak karuan lagi,,,
"Aaahhhnn,,,,, ughh,, yah disitu Naruto-kunhhh" racau seorang wanita beserta desahan erotis yang keluar dari mulutnya.
"Ghh,," si pria yang sedang menunggangi wanita tadi melenguh keenakan. "Hinata, bagian ini memang selalu nikmat,, ughh"
"Ayoo-aahnn,, Lebih cepathhh, Naruuu..."
Dan susuai permintaan si wanita, si pria pun semakin liar gerakannya.
"Sedikit lagi,,,, hime"
"Akhh,,, yah akuhh juga, didalammmmm..."
"Kau tidak takut hamil?"
"Aku sedang tidak masa subur,, ahhnn"
Tidak lama kemudian,
"UGHH/AAAAKKHH..." keduanya pun menjerit karena mencapai puncak bersamaan.
dan,,,
Brukkkk...
Si pria menjatuhkan diri, berbaring telantang disamping tubuh wanita tadi setelah mengeluarkan semua yang ia punya.
"hhaaaaahhhh,,,," Naruto, pria tadi membuang nafas lelah.
"Kau sudah capek, Naruto-kun? Padahal aku belum puas, aku masih ingin lagi..."
"Kalau kau masih ingin, lakukan saja sesukamu, Hinata"
Dan setelah mengumpulkan tenaga beberapa saat, Hinata mulai aksinya. Kali ini dia yang menaiki badan Naruto. Woman on The Top. Dengan segera Hinata menyesuaikan posisi tubuhnya, membuat penyatuan kembali antara ia dengan suaminya.
"Aaaakhnnn," Hinata mendesah setelah mendapat posisi yang ia inginkan, "Nee Naruto-kun."
"Apa, hime?"
"~*tiiiit*~mu ini masih tahan berapa lama lagi?"
"Lakukan saja, cukup kok untuk membuatmu sampai puncak empat atau lima kali lagi"
"Assyiiikk,, suamiku ini memang perkasa"
"Kau juga, yang terbaik Hinata"
Hinata memulai gerakannya, namun,,
grepp...
belum seberapa sudah berhenti. Kedua tangan Naruto menahan pundak Hinata.
Suasanya berubah menjadi menegangkan, Naruto lah yang pertama kali menyadari adanya silent killing menakutkan, hawa membunuh pekat yang seakan mengancam nyawa siapapun.
Masih dalam kondisi menyatu, "Kau merasakannya juga kan Hinata?" tanya Naruto.
"Umm.,,," Hinata mengangguk.
Byakugan
Dengan mata ini, Hinata bisa melihat seluruh penjuru Konoha hingga radius 10 kilometer, membuat dia mengetahui semua yang terjadi dan darimana asal hawa membunuh tadi.
Hinata langsung berubah cemberut,
"Ada apa sebenarnya Hinata?" tanya Naruto yang heran melihat perubahan ekspresi istrinya.
"Spirit baru muncul lagi"
"Ampun deh, menganggu saja" Naruto lansung kesal, "Jadi sekarang?"
"Mau bagaimana lagi, terpaksa kita kesana... Tapi selesaikan satu ronde lagi yah" pinta Hinata, lalu lanjut mengoyangkan pinggulnya.
"Okke sayangg..."
Kegiatan pun berlanjut beberapa menit lagi. Setelah selesai dan cukup puas, mereka berdua pun langsung mencari pakaian masing-masing dan segera keluar menuju sumber masalah.
Tidak perlu waktu lama hingga akhirnya Naruto dan Hinata sampai di tempat kejadian. Tidak seperti empat spirit sebelumnya yang muncul di siang bolong, kali ini spirit muncul saat dini hari dan parahnya adalah tempat munculnya di area lokalisasi di sudut desa Konoha. Emmm yah,, Konoha itu di isi dari berbagai macam ras, etnis, klan, dan strata sosial, jadi wajar kalau ada tempat lokalisasi para pelacur berdiri di desa itu.
Tampak di tengah area lokalisasi, yang dikelilingi oleh banyak ninja dan ANBU, ada seorang gadis spirit yang sangat cantik, namun dengan wajah dan senyum psikopat. Gadis spirit itu mengenakan gaun dominan berwarna merah terang, rambut hitam legam yang di ikat model twintail, serta sepasang senjata api bertipe musket dan flintlock gun di masing-masing tangannya. Mata kirinya yang merah menyala dalam gelapnya malam, seakan mampu memangsa jiwa siapapun yang menatapnya.
"Naruto... Kenapa baru datang sekarang hah?" wanita bersurai merah muda, langsung memberondong Naruto yang baru datang dengan amarah.
"Kami sudah menunggu mu sejak tadi tahu" sambung wanita yang bersurai pirang pucat yang juga menunjukkan raut wajah marah.
"Hei, tenang lah sedikit, Sakura-chan, Ino" pinta Naruto. Yaaa, dia akui kalau dia memang terlambat karena melanjutkan sebentar kegiatannya yang terganggu.
"Merepotkan... Spirit yang ini sangat berbahaya tahu...!, Sudah hampir 30 orang jadi korban tewas. Yah walau tidak masalah sih karena para korban itu rata-rata pelacur dan pria hidung belang." kata Shikamaru.
"Iya. Kau harus segera menghentikannya, Naruto. Nanti bisa bertambah lagi korban tewas" tambah Kiba.
"Hanya kau yang bisa, Naruto" sambung Sai.
"Hn. . . . ."
"Dengan semangat masa muda, taklukkan spirit psikopat itu, Naruto..!"
"BISA TIDAK KALIAN DIAM HAH? SUDAH UNTUNG AKU MAU DATANG KESINI" kini Naruto yang giliran berteriak marah.
Teman-teman Naruto langsung terdiam. Mereka semua lengkap, ada Shikamaru, Ino, Chouji, Sasuke, Sakura, Lee, Tenten, Shino, Kiba, Temari, dan Sai serta beberapa ninja-ninja lainnya yang Naruto kenal. Tidak satupun di antara mereka yang berani berkutik jika Naruto sedang marah.
Hening sejenak, hingga akhirnya Shino yang biasanya diam bertanya, "Naruto, kenapa dengan leher dan pundakmu? Kok bisa merah-merah begitu? Habis di serang sekawanan nyamuk?" tanyanya dengan pertanyaan yang jauh ngelantur.
Walaupun ngelantur, namun benar adanya. Jelas sekali kelihatan dari leher dan pundak Naruto, ada baret-baret merah, mungkin karena Naruto bergegas kesini dan hanya mengenakan kaos dengan kerah lebar serta celana selutut. Lain dengan Hinata yang sempat memakai pakaian lengkap dan tertutup.
"Ooohhh ini?... Ini bekas cakaran Hinata, dia bermain liar tadi" aku Naruto dengan entengnya.
blussssshhhh..
Hinata langsung malu sampai batas maksimal. Wajahnya semerah tomat dan telinganya berasap.
Sontak semua orang membatin, 'Pantas saja Naruto marah-marah, rupanya karena kegitannya tadi terganggu.'
Naruto melihat ke arah spirit yang seperti psikopat itu,
"Gh,, kenapa sih spirit selalu muncul di Konoha? Kenapa tidak di Suna saja, padahal ada Kazekage muda tampan yang masih Jones disana" gerutu Naruto.
tek tok tek tok
tek tok tek tok
tek tok tek tok
Clinggggg..
Ide brilian lagi-lagi hinggap di otak Naruto.
zzzzsssshhhttt
Naruto menghilang dengan Hiraishin, membuat bingung semua orang. Lalu tidak sampai semenit kemudian,,,,
zzzsshhtttt,
Naruto telah kembali, kali ini dengan membawa serta pemuda tampan berambut merah. Kazekage Kelima Sunagakure, Sabaku no Gaara.
Yah, barusan Naruto pergi ke Suna dengan Hiraishin karena ia pernah meletakkan satu segel hiraishin miliknya disana. Lalu langsung menjemput Gaara di kamarnya dan membawanya paksa ke Konoha.
"Naruto, apa-apaan kau hah? Mengganggu tidurku.." tukas Gaara kesal.
"Aku punya sesuatu yang menarik untukmu" kata Naruto.
"Apa?"
"Kau sudah tau tentang makhluk bernama spirit yang belakangan ini muncul di Konoha kan?"
Gaara mengangguk. Informasi tentang spirit saat ini memang sudah menjadi pengetahuan umum sejak kemunculannya, bahkan karena kejadian ini, novel Icha-Icha seri terakhir Jiraiya semakin banyak dicetak ulang.
"Tuh lihat kesana" tunjuk Naruto pada spirit psikopat yang masih belum kabur.
"Dia itu spirit, Naruto?" tanya Gaara memastikan apa yang dipikirkannya.
"Ya, dia spirit... Sekarang lihat baik-baik,,, dibalik wajahnya yang cantik dan tubuhnya yang seksi, jelas sekali kalau dia seperti seorang gadis psikopat. Aku pikir dia cocok untukmu yang masih jones mengingat kau dahulu adalah anak psikopat yang suka membunuh sebelum kau bertemu dengan ku"
"Yayayayaaaa, aku mengerti. Aku hanya perlu menaklukkan spirit itu dengan cinta ala psikopat saja kan? Serahkan spirit yang ini padaku, Naruto" kata Gaara dengan semangat.
"Sippp" jawab Naruto...
Tidak lama kemudian,,,
Brukkkk...
Gaara terlempar dan mendarat disamping Naruto. Walau baju tidurnya yang bergambar kaktus sudah lusuh, tapi wajahnya tetap kelihatan tampan.
"Aku menyerah Naruto. Jiwa psikopatnya lebih kuat daripada aku"
"Hadeeehhh,,," Naruto pasrah.
"Pulangkan aku sekarang ke Suna" pinta Gaara.
"Yare yaree..."
Naruto pun memegang pundak Gaara lalu mengirimnya dengan Hiraishin ke tempat yang dituju.
Setelah itu, Naruto yang sudah tidak punya pilihan lain lagi. Maju bersiap menghadang sang spirit psikopat.
Sementara di tempat lain yang sangat jauh dari Konoha,
Brukkk...
Gaara terjatuh dengan tidak elitnya,,,
"Ini dimana? Ini bukan Suna kan? Lagipula ini kamar siapa?" gumam Gaara yang sangat kebingungan.
Gaara menoleh ke kiri kanan, lalu dia langsung ketakutan ketika melihat di atas kasur, sedang terduduk seorang wanita berambut jingga dengan setelan tidur hanya berupa bra dan celana dalam. Mata yang berkilat-kilat dan wajah penuh nafsu dari wanita itu jelas membuat Gaara merinding.
'Sialan kau Naruto, kenapa kau mengirimku ke kamar Mizukage Kelima? Ini gawat,, keperjakaan yang selama ini ku jaga sepenuh hati untuk istri masa depanku bisa hilang.' pikir Gaara dibenaknya.
Sejurus kemudian, wanita bernama Mei Terumi yang tadinya duduk dikasur, sudah beralih kebelakang Gaara dan memeluk Gaara erat.
Bagai singa betina kelaparan, dengan mata yang menyala-nyala dan air liur yang menetes dari bibirnya, Mei berucap, "Tidak ku sangka malam ini aku kejatuhan laki-laki tampan. Arigatou, Kami-sama... Akhirnyaaaa,,, masa hidup ku sebagai perawan tua akan berakhir... Hihihihiiiiiiiii..."
"TIDAAAAAAAKKKKKK..." Gaara berteriak kencang.
dan adegan panas aliran keras hardcore dimana Gaara jadi pihak submisif pun dimulai,,,
Adegannya, kalian bayangin aja sendiri...!
.
.
.
