CHAPTER 4

Neji tersenyum sinis mendengar jawaban Itachi.

'feeling dia bilang?' teriak neji frustasi dalam hati.

"Bagaimana jika aku menolak?" Tanya Neji.

Lagi-lagi itachi hanya tersenyum. Tapi kali ini merupakan senyum meremehkan.

"Kau pasti akan datang ke Uchiha Mansion sabtu malam," Jawab Itachi sambil berdiri dan melangkah keluar, tapi ia tampak berhenti sebentar dan berbalik.

"Dan oh ya…. Syuting ke korea itu sekaligus bulan madu mu bersama sasuke setelah kalian menikah,"

Mata lavender neji membulat dengan sempurna. Jemari tangannya sudah berada di kepalanya dan menjambak-jambak rambutnya.

Kemudian terdengar suara langkah kaki seseorang memasuki ruangan itu.

"Neji?kau baik-baik saja?" Tanya tenten khawatir.

"Aku ingin pulang," Kata neji mengabaikan pertanyaan tenten. Tenten hanya melongo melihat kelakuan artisnya.

Setelah sampai di lobi sambil menunggu mobilnya datang, neji meraih ponsel di saku celananya. Setelah menekan beberapa nomer Neji menempelkan ponsel itu ke telinga kirinya.

"Halo.." terdengar sahutan dari seberang.

"Ino? Ini aku." Kata neji berbicara pada suara wanita yang keluar dari speaker ponselnya.

"Neji?"

"Bisakah kita bertemu di apartemenku?" Tanya neji sambil menghela nafas panjang.

"Tentu saja, aku akan segera berangkat,"

"Bye,"

"Bye," Neji menutup ponselnya.

Tampak mobil sedan berwarna hitam berhenti di depannya. Neji sudah akan menaikinya ketika tiba-tiba ia merasakan ada seseorang yang menarik baju nya. Neji menoleh.

Seorang anak perempuan kecil yang kira-kira berusia 10 tahun berdiri di belakang Neji. Tangan kecilnya memegang sebuah buku dan polpen. Kemudian menyodorkan nya pada neji. Neji tersenyum kecil.

"Boleh aku meminta tanda tanganmu?" Tanya nya penuh kepolosan.

Neji mengangguk sebelum meraih kertas dan polpen itu dan menanda tanganinya.

"Terima kasih." Kata anak kecil itu sambil tersenyum lebar dan melambai pada neji yang sudah masuk ke dalam mobilnya. Neji balas melambai. Perasaannya sedikit membaik dengan melihat senyum anak kecil itu.

Sesampainya di apartemennya Neji langsung membanting tubuhnya ke tempat tidur. Hari ini benar-benar melelahkan, apalagi bertemu dengan Uchiha bersaudara itu. Sungguh menyebalkan.

Tiba-tiba terdengar suara bel pintu. Neji segera beranjak. Senyuman langsung terukir di wajahnya ketika ia membuka gadis berambut pirang yang diikat tinggi dengan rok jeans pendek dan kaos berwarna orange berdiri menunggu Neji mempersilahkan masuk. Mata biru pudarnya melirik nakal pada neji yang berdiri terpaku memperhatikan nya.

"Apa kau menyuruhku kemari hanya untuk memperhatikan ku di depan pintu?" Tanyanya.

Neji segera sadar dan mempersilahkannya masuk. Gadis itu langsung melempar tasnya ke sofa terdekat dan berlari memeluk Neji. Tak lupa ia mendaratkan kecupan singkat di bibir Neji.

"Kau merindukanku?" Tanya gadis itu. Tangannya melingkar di leher Neji sementara tangan Neji memeluk pinggang gadis itu.

"Sangat," Jawab neji sambil membenamkan wajahnya ke lekukan leher gadis itu. Parfum beraroma strawberry langsung menguar dan memasuki rongga-rongga hidung Neji.

Neji dan Ino bukanlah sepasang kekasih. Mereka hanya menjalin hubungan tanpa status dan tentu saja tanpa diketahui orang lain selain mereka dan manajer masing-masing. Ino yang merupakan artis dan penyanyi yang sedang naik daun merasa jika kehidupan pribadinya terkuak maka pamornya akan turun, begitu juga dengan Neji. Jika neji merasa sedang membutuhkan seseorang maka ia akan menghubungi ino, begitu pun sebaliknya.

"Kau sudah mendapat tawaran dari Asuma?" Tanya ino sembari melepaskan diri dari neji dan berjalan menuju dapur.

"Yah. Aku menerimanya," Neji mengikuti dari belakang.

"Satu bulan di korea tentu akan sangat menyenangkan. Iya kan Neji?"

Neji hanya terdiam. Pikirannya sedang melayang entah kemana.

"Neji?" Ino menyodorkan segelas anggur pada Neji.

Neji segera tersadar dari lamunannya dan meraih gelas itu.

"Entahlah," Neji meneguk anggur itu dan duduk di sofa ruang tamunya.

Langit sudah terlihat agak gelap pertanda sore hari. Pemuda berambut panjang itu menatap ke arah matahari yang mulai kembali ke peraduannya melalui jendela.

"Kau tidak suka bisa berada di korea bersamaku selama satu bulan?" Ino ikut mendudukkan diri di samping Neji. Neji menggeleng. Pikirannya sedang kalut. Tentu saja ia senang bisa berada di korea bersama dengan Ino tanpa ada yang curiga tapi dengan keadaan ini ia tidak yakin bisa bersenang-senang.

"Aku tidak tau. Ya, aku senang bisa berada di dekat mu tanpa ada orang lain yang curiga, tapi ini akan buruk bagiku," Neji bingung bagaimana harus mengungkapkannya. Ia tidak mungkin bercerita pada Ino mengenai rencana pernikahannya dengan bungsu Uchiha dan bulan madunya ke korea. Ino pasti menganggapnya gila.

"Aku tidak mengerti Neji. Kau aneh sekali. Apa kau sudah menemukan seseorang?" Ino meletakkan gelasnya ke meja dan memegang kedua pipi neji agar pemuda itu menatapnya.

"Menikahlah denganku, Ino." Ino membelalakkan matanya mendengar kalimat neji barusan. Neji sendiri tidak percaya dengan deretan kata-kata yang baru saja di ucapkannya karena ia sendiri tidak yakin apakah ia mecintai Ino atau tidak. Ino menghela nafas sebentar sebelum kembali menatap mata lavender Neji.

"Neji, dengar. Kau mengajakku menikah? Neji, apa kau yakin? Maksudku.. kita bahkan bukan seorang kekasih, tidak ada yang mengetahui hubungan kita dan… entahlah neji. Ini tersemua terlalu buru-buru dan aneh bagiku. Kau hari ini bersikap tidak biasa dan tiba-tiba mengajakku menikah? Aku… aku tidak bisa…" Neji sudah menduga jawaban Ino. Ia pasti menolaknya. Mereka saling diam. Neji meneguk habis anggurnya sementara ino mengambil tasnya dan berdiri.

"Aku harus pergi, neji. Sampai bertemu di korea." Ino mencium singkat bibir neji dan melangkah menuju pintu sebelum berbalik.

"Dan… kuharap hal ini hanya kita berdua saja yang tau. Selamat malam Neji." Terdengar suara pintu yang tertutup. Neji langsung menyandarkan tubuhnya di sofa dan membuang nafas panjang.

Benarkah ia tidak mempunyai pilihan? Ini sangat mengejutkan bagi nya. Hidupnya sebagai aktor yang semula baik-baik saja, penuh kepopuleran, penggemar, ia sangat menikmatinya. Lalu datang berita mengenai perjodohannya dengan sang Uchiha, benar-benar membuatnya gila. Merasa lelah, akhirnya neji malah tertidur di sofa.

.

.

.

.

Sementara itu di kediaman sasuke.

"Perkenalkan, Ini dokter Haruno Sakura. Dia yang akan menjadi dokter pribadimu. Nona haruno, ini sasuke." Madara Uchiha memperkenalkan seorang gadis cantik pada sasuke sebagai dokter pribadinya.

Haruno sakura membungkukkan badannya di hadapan sasuke. Dokter itu memilki rambut sebahu yang berwarna pink, dengan kulit putih dan mata hijau emerald.

"Mohon bantuannya, sasuke-san." Kata sakura lembut.

"Hn." Jawab sasuke pendek dengan tampang masam.

"Baiklah. Nona haruno.."

"Anda bisa memanggil saya sakura saja, Madara-sama." Kata sakura memotong kalimat Madara.

"ehm.. baiklah sakura. Kau akan datang kesini seminggu sekali untuk mengecek keadaan sasuke. Kalau begitu selamat bertugas," Madara meninggalkan kamar sasuke yang di dominasi warna biru itu.

Kamar yang cukup luas dengan satu tempat tidur, beberapa fasilitas elektronik super canggih, langit-langit kamar yang bisa di set menjadi transparan dan sebuah kamar mandi yang cukup mewah.

"Boleh saya memeriksa obat yang selama ini anda minum, sasuke-san?" Tanya sakura memulai tugasnya. Waktu baru menunjukkan pukul 7 malam.

Sasuke yang tengah membaca buku di atas tempat tidurnya melirik laci meja yang ada di sebelah kanannya. Selimut berwarna biru membungkus tubuhnya dari kaki hingga pinggang. Sakura yang mengerti segera membuka laci meja itu dan mengambil sebuah botol obat yang berisi butiran pil yang berwarna hijau.

"Jadi, sudah berapa lama anda menderita penyakit leukemia?" Tanya sakura sembari memeriksa obat itu. Uchiha Sasuke. Si pemuda angkuh dank eras kepala ini sudah 5 tahun menderita penyakit leukemia. Ia mengetahui nya ketika ia berusia 13 tahun. Tepat 3 tahun setelah meninggalnya kedua orang tuanya. Ia selalu berusaha tampak tenang dan baik-baik saja di depan semua orang dengan memasang tampang datarnya. Ia tidak ingin dikasihani orang lain. Sudah cukup orang-orang di luar sana yang memujanya karena ketampanan dan kekayaan yang dimilikinya, ia benar-benar muak dengan hal-hal seperti itu. Ketika ia menyelesaikan kuliahnya di London, sang kakak membayar seorang dokter ahli kanker untuk meneliti dan mecari obat bagi penyakit sasuke. Tapi sayang sekali, sang dokter hanya menemukan obat yang dapat memperlambat kerja kanker itu. Sang dokter pernah menawari sasuke untuk mengikuti program kemoterapi bagi penderita penyakit leukemia, tapi sasuke menolaknya mentah-mentah.

"5 tahun." Sasuke melanjutkan kembali kegiatan membaca nya.

"Dan selama itu pula anda mengkonsumsi obat ini?" Obat itu juga sebagai pengganti agar sasuke tidak perlu melakukan cuci darah yang seharusnya dilakukan rutin selama seminggu sekali.

"hn."

'Huh.. dokter ini cerewet sekali.' Batin sasuke kesal.

"Anda mendapatkannya di rumah sakit London?"

Sasuke menutup buku nya dengan kasar dan menatap tajam pada sakura yang duduk di sofa kamarnya.

"Itachi membayar seorang dokter disana untuk membuat obat itu. Bisakah kau segera memeriksaku dan keluar dari kamarku secepatnya?" kata sasuke ketus dengan memberi penekanan di kata Secepatnya. Sakura langsung gugup mendapat tatapan mematikan khas keluarga Uchiha.

'pemuda ini…. Angkuh sekali.' Teriak sakura dalam hati. Tapi ia segera mengambil tas nya dan mengeluarkan beberapa alat kesehatan untuk memeriksa keadaan sasuke. Setelah selesai sakura langsung mngemasi peralatannya dan sebelum pergi ia sempat berpesan pada sasuke.

"Jangan melakukan aktivitas yang bisa membuat anda lelah. Dan makan makanan yang bisa menambah kadar sel darah merah anda. Saya sarankan juga anda untuk mengikuti kemoterapi. Penyakit anda sudah memasuki stadium akhir."

Sasuke melempar buku nya ke atas meja. Pemuda berambut hitam raven itu menghela nafas dan menatap langit-langit kamarnya yang berhiaskan cahaya-cahaya bintang. Langit-langit kamarnya itu sudah di set transparan dan di beri lensa atau kaca seperti pada teropong sehingga benda-benda langit bisa terlihat dengan jelas melalui mata telanjang. Sasuke sangat suka memandang langit. Ia merasa menemukan kedamaian ketika menghitung jumlah bintang, melihat meteor-meteor yang berterbangan, asteroid dan benda-benda langit lainnya.

Tok..tok..tok… terdengar seseorang mengetuk pintu kamarnya.

"Masuk" sahut sasuke.

Tampak Itachi muncul dari balik pintu membawa sebuah nampan berisi segelas susu.

"Malam, little brother…" sapa Itachi sambil tersenyum.

"Tolong katakan pada kakek, aku tidak suka dengan dokter itu. Dia cerewet sekali. Apalagi rambut pink noraknya itu," Kata sasuke sinis. Itachi hanya tertawa kecil dan meletakkan nampan itu di meja sebelum duduk di tepi tempat tidur sasuke.

"Memangnya kakek menyuruhmu menyukai dokter itu? Yang ada, kakek menyuruhmu untuk menyukai Neji," Kata itachi santai. Entah kenapa wajah sasuke langsung merah mendengar nama Neji. Itachi menahan tawa melihat ekspresi adiknya.

"Baka aniki…" sasuke menarik selimutnya sampai sebatas leher dan berbaring berbalik membelakangi itachi.

"Hey, jangan ngambek begitu. Ayo minum susu dulu sebelum tidur," kata itachi mengusap kepala sasuke.

"Aku bukan anak kecil," Teriak sasuke tanpa mengubah posisi tidurnya.

"Sasu-chan.." panggil Itachi menggoda adiknya.

Sasuke langsung bangkit dan menarik rambut panjang itachi yang diikat ke belakang.

"Adawwww…." Itachi langsung berteriak kesakitan merasakan tingkah brutal adiknya.

"Jangan berani-berani memanggilku dengan embel-embel chan," Ancam sasuke.

Itachi menelan ludah sebelum mengangguk. Sasuke pun langsung melepaskan tarikannya dari rambut Itachi dan menyambar segelas susu yang tadi di bawa itachi. Dalam sekali teguk, susu itu sudah ludes.

Itachi tersenyum melihat sasuke yang meminum susunya, meskipun ia harus mengorbankan rambut indahnya untuk di jambak sasuke.

"Sasu-chan memang anak pintar.." kata itachi sambil membawa nampan dan berlari sebelum sasuke melempar televisi ke kepalanya.

"Baka aniki…" teriak sasuke murka.

.

.

.

.

Angin pagi hari di musim dingin berhembus, membawa hawanya yang dapat membuat siapa saja menggigil. Namun tidak dengan pemuda dengan postur tubuh yang cukup tinggi, rambut hitam raven dan kulit pucat. Ia berdiri tidak bergeming memandangi dua onggokan tanah di hadapannya. Mata black pearl nya mengungkapkan kerinduan yang amat sangat.

"Sudah lama tidak berkunjung,sasuke?" Tanya seseorang yang tengah melangkah di belakang pemuda itu. Pemuda yang di panggil sasuke itu menoleh. Namun segera kembali ke posisi nya semula ketika ia tau siapa yang datang.

"Kau mengikutiku?" Tanya sasuke datar.

Pemuda yang berusia 4 tahun lebih tua dari sasuke itu berhenti dan berdiri di samping sasuke.

"Hh… sudah 8 tahun ya, sasuke?" kata pemuda itu sambil menghela nafas panjang. Tidak menyadari bahwa ternyata waktu berjalan sangat cepat.

Sasuke hanya terdiam. Ia masih memandangi dua onggokan tanah yang di masing-masing nya terdapat batu nisan yang bertuliskan :

Uchiha Fugaku

Putra dan Ayah tercinta

Uchiha Mikoto

Menantu dan Ibu tercinta

"Kau kesepian?" Lagi-lagi hanya pertanyaan-pertanyaan yang di keluarkan Itachi.

Hanya keheningan yang menjawab pertanyaannya.

"Sama saja. Ada atau tidaknya mereka, kau tau sendiri jawabannya. Iya kan, Itachi?" sasuke akhirnya menjawab. Suaranya terdengar bergetar, entah karena ia menahan hawa dingin atau menahan amarah dan kesedihannya.

"Maafkan aku." Kata Itachi lirih. Ia kemudian berjongkok dan meletakkan dua tangkai bunga mawar putih ke atas makam kedua orang tua nya yang meninggal 10 tahun lalu itu.

"Kau tidak perlu," Sasuke segera sudah melangkah menjauhi tempat itu ketika akhirnya itachi kembali memanggil.

"Sasuke.."

Sasuke menghentikan langkah kaki nya dan menunggu. Hening sesaat, angin kembali berhembus.

"Kau lah yang tidak perlu. Kau tidak perlu bersikap seolah tidak terjadi apa-apa," Kata itachi setengah berteriak. Gigi nya bergemeletuk di dalam mulutnya sementara kedua tangan pucatnya terkepal erat.

Sasuke menoleh. Ekspresi nya sangat datar.

"Tapi memang tidak terjadi apa-apa kan? Mereka hanya mati dan kau harus menggantikan posisi mereka di perusahaan. Itu saja. Tidak perlu ada yang kau khawatirkan," ujarnya sarkastik.

"Kau selalu memasang wajah datarmu seolah tidak peduli pada apapun. Hentikan. Hentikan itu, sasuke. Berhenti bersikap seolah kau kuat dan bisa menghadapi segalanya padahal kau tidak." Tanah lapang dengan rumput hijau yang kini ditutupi salju itu penuh dengan teriakan Itachi. Kabut pagi masih menyelimuti pagi itu seolah tidak peduli dengan dua orang kakak beradik yang kini tengah berdiri berhadap-hadapan itu.

"Kau bahkan tidak menangis ketika ayah dan ibu meninggal, padahal waktu itu kau baru berumur 10 tahun. Kau tidak pernah bermain atau pun berbicara dengan anak lain. Kau selalu menutup dirimu. Bisakah kau hentikan itu? Bisakah kau berhenti berpura-pura bahwa kau baik-baik saja padahal kau sedang sekarat." Nafas itachi tersengal setelah berteriak pada sasuke.

Sasuke hanya menatap kosong pada sebuah pohon sakura yang menaungi makam kedua orang tuanya.

"Kau dengar aku? Keluarkan semua yang ada di dirimu, sasuke." Kata itachi, nafas nya masih tidak menatap bola mata kakaknya yang berwarna senada dengan mata miliknya.

"Kenapa kau peduli?" Sasuke tersenyum sinis.

"Karena aku kakakmu," Ucap Itachi tegas.

Sasuke kembali melengkungkan bibir tipisnya dan kembali memandang pohon sakura. Mata onyxnya tampak berkaca-kaca.

"Apa yang harus kulakukan?" Tanya sasuke lirih.

"Apa yangharus kulakukaaaannnn… haaahh…?" Teriak sasuke. Suaranya membahana di padang rumput yang sangat luas itu.

"Kenapa aku selalu memasang wajah datarku ini? Karena aku tidak tau harus bersikap atau berekspresi bagaimana. Kenapa aku tidak menangis ketika mereka mati? itu karena aku tidak ingin membuatmu khawatir. Aku selalu menutup diriku karena tidak ada seorang pun yang mau mencoba memahamiku. Kau dan kakek selalu sibuk dengan urusan kantor dan meninggalkan aku sendiri di rumah. Kepada siapa aku harus bicara ketika tidak ada seorang pun yang mau berteman denganku tanpa memandang marga ku. Jadi apa yang harus kulakukan, itachi?" teriak sasuke. Tanpa ia sadari air mata sudah memenuhi wajah pucatnya.

"Beritahu aku bagaimana aku harus bersikap.." sasuke menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan jatuh berlutut.

Itachi langsung menghampiri sasuke dan memeluk tubuh adiknya itu. Sasuke menumpahkan seluruh air matanya di pelukan itachi, akhirnya ia bisa mengungkapkan segalanya. Segala kepedihan, kesedihan, kesepian yang selama ini ia pendam sendiri.

Lama mereka terdiam, Itachi terus memeluk adiknya sampai isak tangis sasuke benar-benar berhenti.

"Kau tidak perlu bersikap apa-apa. Yang harus kau lakukan hanyalah mencoba terbuka dengan orang lain dan menuangkan apa yang selama ini kau rasakan. Kau tidak perlu menyembunyikan kesedihanmu karena takut membuatku khawatir. Kau tau, justru sikapmu selama ini lah yang membuatku khawatir." Kata itachi sambil mengusap-usap kepala sasuke. Sasuke yang masih menyandarkan kepalanya di dada itachi hanya mengangguk lemah. Ada perasaan lega ketika mendengar perkataan itachi barusan.

"Jadi sekarang, lepas semua topeng stoic mu itu. Oke, sasu-chan?" kata itachi tersenyum tulus.

Sasuke langsung menyikut perut kakaknya.

"aww…" rintih itachi pura-pura kesakitan.

"Kubilang apa tentang embel-embel chan?" bentak sasuke cemberut.

"Iya-iya. Sudah ayo kita pulang." Itachi melepaskan pelukannya dan segera berdiri.

"Gendong." Kata sasuke sambil mengulurkan kedua tangannya.

"Dasar manja." Itachi terkikik geli melihat tingkah adiknya tapi ia segera berjongkok di depannya.

Sasuke pun langsung menaiki punggung kakaknya itu.

"Kau ini.. makin berat saja." Dengus itachi sambil berjalan menuju mobilnya yang terpakir tidak jauh dari tempat pemakaman keluarga itu.

.

.

.

.

Tok…tok…tok..

"Nejiiii… buka pintunyaa…." Teriak seorang wanita dengan rambut coklat yang di ikat cepol dua menggedor-nggedor sebuah pintu berwarna putih. Tangan kirinya menggandeng seorang anak perempuan berumur 5 tahun dengan model rambut bob.

Sementara itu pemuda tampan berambut panjang yang tengah tertidur di sofa itu perlahan-lahan membuka matanya. Rasa kantuk masih terlihat jelas di wajahnya. Tapi tampaknya ada sesuatu yang mengusiknya. Setelah merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku ia pun beranjak dan melangkah menuju pintu. Tampak seorang wanita yang tengah menggandeng seorang anak perempuan.

"Tumben sekali kau tidak langsung masuk," Ujar neji keheranan melihat tenten tidak langsung masuk ke apartemen nya seperti yang biasanya ia lakukan.

"Kunci nya ketinggalan," Jawab tenten ketus sambil masuk ke dalam apartemen neji.

"Paman… itu.." Anak kecil yang tadi di gandeng tenten itu menunjuk-nunjuk pipi neji.

"Ada apa?" Tanya neji heran sembari meraba-raba pipi nya.

"Itu di pipi paman macih ada ilelnya," Kata gadis kecil itu terkikik geli. Neji langsung berlari ke kamar mandi ketika ia mendengar perkataan anak perempuan tenten itu bahwa ada iler di pipinya.

"hey.. momo jangan nakal dengan paman Neji." Seru tenten dari dapur. Gadis kecil yang merupakan putri kedua tenten itu segera berlari menghampiri ibunya yang tengah membuat kopi di dapur.

Sementara neji masih sibuk mandi dan memebersihkan dirinya. Namun beberapa menit kemudian ia keluar dengan memakai kaos berwarna hitam dan celana jeans pendek. Rambutnya ia gerai begitu saja. Wajahnya memperlihatkan kelelahan yang amat sangat.

"Pagi, neji." Sapa tenten sambil menyerahkan secangkir kopi padanya.

Mereka kemudian duduk di sofa di ruang tamu apartemen milik neji. Momo yang memegang segelas susu di kedua tangannya hanya memperhatikan dua orang dewasa yang hanya saling terdiam. Neji menghela nafas panjang.

"aku minta libur hari ini." Ucap neji tidak bersemangat.

"Kau.. baik-baik saja?" Tanya tenten hati-hati, tampaknya mood neji sedang tidak bagus hari ini.

"Hari ini hari jumat jadi aku bisa menunda semua jadwalmu," Tambahnya. Neji meminum kopi nyadan meletakkannnya di meja.

"Momo, mau kah kau memberi makan ikan koi peliharaan paman neji?" kata tenten lembut.

Momo segera meletakkan gelas susu nya dan berlari-lari kecil menuju ruang tengah dimana akuarium kecil berisi dua ekor ikan koi itu berada.

"Neji, dengar. Kau tampak kacau. Apa terjadi sesuatu padamu?" Kata tenten setelah memastikan momo tidak mendengar pembicaraan mereka.

"Entahlah. Tenten, bisakah kau meninggalkan ku sendiri?" Kata neji.

"Aku tidak akan pergi sebelum kau menceritakan apa yang terjadi. Apa ini ada hubungannya dengan undangan makan malam hiashi-sama?" Tenten memegang pundak neji.

Pria bermata lavender itu menutup matanya dan mengangguk lemah. Tangan kanannya menyibakkan rambutnya yang jatuh di keningnya.

"Kau akan menganggapku gila." Kata neji sarkastik.

"Neji, aku sahabatmu. Kau bisa menceritakan segalanya padaku." Ujar tenten lembut. Ia mencoba memberi pengertian pada neji yang sepertinya sedang menghadapi masalah berat.

"Ayahku menjodohkanku dengan seorang laki-laki," Tenten membelalakkan matanya tidak percaya.

"Apa?" Ia mencoba memastikan lagi pendengarannya.

"Ayahku menjodohkanku dengan bungsu uchiha, Sasuke. Besok malam kami berdua akan di pertemukan," Jelas neji. Ia tampak sangat frustasi. Tenten mencoba mencerna dengan baik penjelasan neji barusan. Ia membetulkan posisi duduknya dan kembali menghadap pada neji.

"Dan.. apa keputusanmu?"

"Heh… keputusan? Pilihan pun aku tidak punya. Entahlah, tapi ini sungguh konyol. Aku…aku.. aku tidak bisa, tenten. Karirku akan hancur." Mereka kembali saling terdiam. Jarum jam sudah menunjukkan angka 11. Tenten benar-benar tidak menyangka, ia kira selama ini hal-hal seperti ini hanya ada di film.

"Kau tidak perlu menerimanya kalau kau tidak bisa, neji." Kata tenten akhirnya. Ia juga bingung harus berkata apa. Pikirannya benar- benar buntu. Sebagai sahabat, ia tentunya juga tidak ingin melihat neji tertekan seperti itu.

"Tapi Uchiha itu bisa melakukan apa saja padaku." Ucap neji setengah berbisik.

"Mereka tidak bisa melakukan apapun padamu. Ini hidupmu, neji. Bukan milik uchiha dan bukan pula milik ayahmu. Putuskan sesuai dengan kata hatimu." Tenten mengusap-ngusap punggung neji. Ia sudah menganggap neji seperti adiknya sendiri.

"Aku tidak tau. Aku tidak tau, tenten. Entah mengapa, hatiku seperti mengatakan bahwa aku harus menerima ini. Tapi,.." neji tidak dapat melanjutkan kata-katanya. Tiba-tiba tenten beranjak dari tempatnya duduk dan masuk ke dalam kamar neji. Beberapa menit kemudian ia keluar sambil membawa laptop milik neji dan duduk kembali di samping neji.

"Jangan pedulikan penggemarmu. Kau tidak mengerti seperti apa mereka." Ujar tenten sembari menghidupkan laptop itu. Beberapa saat kemudian tenten memutar laptop itu ke hadapan neji.

"Mungkin, menikah dengan laki-laki bukan keputusan yang buruk."

Neji menatap layar laptop yang disodorkan tenten. Disitu tertulis situs yang di buka tenten.

.

"Apa ini?" Tanya neji heran.

"Bacalah. Kau akan terkejut melihat para penggemarmu." Kata tenten penuh keyakinan.

Mata lavender neji kembali teralih pada layar laptop itu. Ia pun mulai membaca baris demi baris kata yang tersusun di dalam situs itu. Mata nya yang semula menyipit kini membulat dengan sempurna.

"NejiGaara? Apa tokoh ini maksud nya aku dan penyanyi berambut merah itu? Tapi kami berdua sama-sama laki-laki," Tanya neji setengah berteriak. Matanya masih belum lepas memandang layar laptop itu. Tenten hanya tersenyum.

"Mereka menyebut diri mereka Fujoshi. Mereka semua fans mu. Mereka membuat cerita-cerita fiksi yang tokohnya bisa kau dengan aktor lain. Tapi dari pengamatanku, banyak yang menulis cerita cintamu dengan penyanyi bernama gaara itu. Entahlah, mungkin menurut mereka kalian berdua… cocok," Jelas tenten.

"Tapi dia laki-laki." Sanggah neji.

"That's it neji. Jika kau memang mau menerima perjodohan ini dan mengkhawatirkan penggemar dan karirmu, maka dengan fakta ini kau tidak perlu khawatir ataupun ragu."

"Apa maksudmu?" Neji masih belum mengerti.

"kau mencintai pekerjaanmu kan? Jadi kupikir, ini mungkin adalah ide bagus. Kalian akan menjadi pasangan paling serasi yang pernah ada." Kata tenten bersemangat. Seperti nya ia tertular sifat sang suami Rock Lee yang semangatnya selalu menggebu-nggebu.

"Tapi aku bukan gay." Ucap neji tegas.

"But, who knows?" Kata tenten sembari mengangkat kedua bahunya. Neji kembali menghela nafas panjang. Tiba-tiba momo berlari memeluk tenten.

"Kenapa, sayang?" Tanya tenten heran melihat tingkah putri bungsu nya itu.

"Aku lapal." Kata gadis manis itu. Alis tebalnya mengernyit. Gadis kecil itu memang sangat mirip dengan sang ayah yang juga memiliki alis tebal dan juga rambut potongan bob, tapi mata momo lebih mirip tenten yang berwarna coklat. Tenten kembali memandang neji sebelum berdiri dari tempatnya duduk.

"Semua keputusan ada di tanganmu, neji. Pikirkan dengan baik-baik. Aku harus pergi. Jangan lupa istirahat." Pesan tenten sembari keluar dari apartemen dengan menggandeng momo yang sudah merengek-rengek minta makan. Neji langsung menyadarkan kepala nya ke sofa. Tapi tak lama kemudian ia berjalan menuju dapur untuk makan. Ia sampai lupa kalau ia belum mengisi perutnya dari kemarin. Tak ada yang dilakukannya setelah makan, karena lelah ia masuk ke kamarnya dan tidur. Tapi belum lama ia memejamkan mata tiba-tiba ponselnya berdering.

"Halo?" Sapa neji masih setengah mengantuk.

"Neji, ini paman." Terdengar suara berat sang paman, Hyuuga Hiashi.

"Iya paman?" neji langsung mendudukkan dirinya. Selimut putih yang membungkus tubuhnya melorot sampai ke pinggang.

"Err… sebenarnya paman ingin menanyakan keputusanmu. Apa kau menerima peerjodohan itu?" Tanya sang paman penuh harap. Neji terdiam sejenak. Ia tampak sedang berpikir.

"Tunggu aku besok di Uchiha Mansion. Aku akan memberikan keputusanku disana besok malam." Kata neji akhirnya.

"Tapi neji.." sang paman tampaknya masih belum puas dengan jawaban neji yang menggantung itu.

"Maaf paman aku sedang sibuk." Neji langsung menutup ponselnya dan kembali tidur.

Pemuda ini memang sudah tidak bisa di ganggu gugat jika sudah mengenai urusan tidur.

.

.

.

Sementara itu Uchiha sasuke tengah berada di sebuah toko pakaian mewah milik seorang desainer terkenal bersama sang kakek. Ia di paksa Uchiha Madara untuk membeli jas baru yang akan di pakainya besok malam dalam acara pertemuan dengan keluarga Hyuuga.

"Kau cocok sekali dengan jas itu, sasuke." Komentar madara ketika melihat sang cucu keluar dari kamar ganti dengan memakai sebuah setelan jas hitam dengan dalaman kemeja berwarna biru, warna kesukaan sasuke.

"Hn." Jawab sasuke malas-malasan.

Tentu saja ia tidak akan berada di tempat itu jika sang kakek tidak menyeretnya. Sang desainer yang berdiri di samping madara hanya menggut-manggut setuju dengan komentar madara ketika melihat sasuke. Ia yakin sekali bungsu Uchiha ini memang cocok dengan pakaian apapun.

Beberapa karyawan wanita yang kebetulan berada di ruangan itu terkagum-kagum melihat ketampanan sasuke. Dalam hati mereka berharap bahwa suatu hari nanti mereka akan mempunyai calon suami yang mirip dengan seorang Uchiha Sasuke.

"kau suka?" Tanya madara pada sasuke yang hanya berekspresi datar ketika memandang dirinya sendiri di depan cermin.

"Hn." Jawab sasuke. Entah 'hn' andalan nya itu bermakna ya atau tidak.

"Baiklah tuan sasori, aku ambil jas ini." Kata madara pada desainer berambut merah itu.

Sang desainer mengangguk singkat dan menyuruh pegawainya untuk mengurus segalanya. Setelah membeli jas itu, madara dan sasuke sudah dalam perjalanan menuju Uchiha mansion. Istana mereka.

"Kakek.." Panggil sasuke pada sang kakek yang berada di sampingnya.

Matanya tidak beralih dari menatap langit melalui kaca jendela mobil mewah itu.

"Ya?" jawab sang kakek memandang sasuke lembut.

"Aku tidak ingin neji mengetahui penyakitku ini." Kata sasuke tanpa ekspresi.

Sang kakek mengernyitkan dahinya. Namun ia menatap wajah pucat sasuke dan ekspresi nya langsung berubah menjadi mengerti.

"Baiklah," Kata sang kakek singkat.

Tak berapa lama mereka sampai di depan pintu gerbang berwarna putih yang menjulang tinggi.

TBC

Apakah membosankan? Apakah kepanjangan? Saia mohon jangan sungkan-sungkan untuk terus mengingatkan saia mengenai typo dan EYD yang kurang tepat. Saia tidak akan marah.. paling ngamuk,.. jiakakak *ditampol* kidding…

Addeeewwww…. Saia pengennya Neji sama Sasu-chan langsung nikah dan hidup bahagia selamanya aja.

Tapi apalah daya otak dodol saia minta jalan cerita yang membingungkan kayak begini.

Semoga anda semua suka. Review kalian adalah energy bagi semangat saia.

Tapi berhubung baterai lepi saia udah mepet, mata juga udah merem melek nahan ngantuk.

Jadi saia TBC saja. Playlist lagu2 sedih saia juga udah abis.

Akakakak.

Terima kasih juga buat yang udah ripiu… makasiiiiihhh… banget… maaf ga bisa bales satu2… saia masih dengan permasalahan dodol saia tentang ga bisa balas ripiu…

Nanti kalo sempat saia bales satu2… wkwkwkwk

Thank you..

Mind to review?

WITH LOVE,

^MUTMUT CHAN^