Infinite Justice

Gundam Seed/Destiny - Sunrise & BANDAI

Sci-fi/Friendship/Romance/Family

T

Kira/Lacus

OOC, time skip, typo(s), alur kebut, gajeness, AUowowowowow

.


Summary

"Dia tahu apa itu cinta. Tapi ia tidak mengerti. Ia tahu apa itu marah, tapi ia bingung saat Lacus marah dan menangis sekaligus saat ia tidak mau berhenti memanggilnya Nee-chan. Ya, Kira tahu banyak hal, tapi ia tidak dirancang untuk mengerti."


.

Infinite Justice

Ritsu-ken

Hope you enjoy!

.


Athrun hanya duduk meringkuk di dekat jendela kamarnya pagi itu. Subuh, lebih tepatnya. Langit masih gelap dan fajar belum terlihat. Ia tak bisa tidur. Tentu saja dia tidak bisa tidur setelah pembicaraan semalam dengan Ketua Dewan Siegel Clyne dan Prof. Dr. Ulen Hibiki, dua orang yang sangat berpengaruh dalam sejarah perkembangan Orb.

Anak lelaki berambut gelap itu menghela nafas berat dan mengacak-acak rambutnya. Sungguh, kejadian seperti ini tidak pernah ia duga. Ia menurunkan telapak tangannya ke pipi dan mulai bertopang dagu.

Ia tidak bisa meninggalkan Cagalli.

.


Empat jam yang lalu, perpustakaan…

.

"Dia mau kau apakan, Seig?" Ulen menoleh rendah ke arah temannya sambil tersenyum tipis, senyum yang hambar. Bola matanya lebih tertarik pada garis-garis kasar di karpet.

Siegel melipat kedua lengannya di depan dada dan menghela nafas. "Dia sudah membawa Lacus pulang dengan selamat. Jadi kurasa kau yang lebih pantas menentukan apa yang akan kita lakukan padanya," jawabnya tenang.

Ulen mendengus. "Bagimu yang penting Lacus selamat, ya? Huh, kau benar-benar tidak menganggap Kira sebagai anakmu," cibir lelaki berambut keemasan itu. Ia menyesap tehnya sakali lagi, sengaja menimbulkan suara keras.

"Memang Kira bukan anakku," celetuk Siegel yang langsung membuat Ulen tersedak. Pria itu mendesah saat sahabatnya mengirimkan death glare, "Bukan begitu, Ulen. Kau 'Ayah' Kira yang sebenarnya. Kau yang lebih berhak menentukan. Bagaimana pun anak ini bermasalah dengan Kira, kan? Bukan Lacus?"

Ulen berdecak lagi dan meletakkan tangan kirinya di pinggul. "Siapa namamu, Nak?" tanyanya dengan tatapan tajam ke Athrun.

"Athrun," jawabnya singkat, "hanya Athrun."

Alis Ulen dan Siegel bertaut. Siegel menoleh ke arah Ulen. Namun pria bermata sipit itu hanya mengangkat tangannya rendah. Hal itu bisa dicari nanti. "Kalau gadis berambut pirang itu?"

"Adikku, Cagalli."

"Hanya Cagalli?"

Athrun mengangguk. Tatapannya sangat tajam untuk anak seumurannya. Iris emerald itu berkilat waspada, merasa tidak nyaman dengan isi pembicaraan ini. Ulen hanya diam sembari mengelus-elus tepi dagunya. Matanya terus berpindah antara sosok Athrun dan Cagalli.

Rambut biru tua-pirang, mata hijau-emas, bentuk hidung, warna kulit—Ulen menaikkan sebelah alisnya. Ia telah membuat hipotesa. Dan ia akan melakukan pembuktiannya nanti.

"Kau akan tinggal di sini untuk beberapa hari. Dan adikmu akan pergi dengan Tuan Siegel dan Lacus," ujarnya datar.

Mata Athrun membulat. Ia baru saja hendak memukul meja kecil di sampingnya kalau ia tidak melihat sosok kedua gadis kecil yang sedang tidur di sofa. Tangannya terkepal kuat dan gemetar, menahan emosi. "Aku tidak setuju! Aku harus bersama Cagalli! Terus bersama Cagalli! Dan siapa juga yang mau tinggal bersamamu di sini? Pulangkan kami ke Onogoro!"

"Ulen—"

"—diam, Sieg," potong Ulen sambil mengangkat tangannya. Matanya masih tak lepas dari iris hijau itu. Semakin tajam, malah. "Ini bukan tawaran. Ini perintah."

"JANGAN BERCANDA!" bentak Athrun, tidak peduli lagi dengan dua orang yang sedang tidur di sana. "Kenapa semua orang dewasa selalu berlaku seenaknya? Lebih baik aku menyeret Cagalli sekarang juga, pergi dari rumah busuk ini dan kembali ke rumah kami!"

Keheningan canggung mulai menguasai keadaan. Hanya terdengar suara nafas Athrun yang memburu dan Siegel yang sedang menggumamkan lullaby di samping Lacus dan Cagalli agar kedua anak itu tidak terbangun oleh perdebatan yang terjadi.

"Memangnya kalian punya rumah?"

Pertanyaan itu sukses membuat Athrun membeku. Ia mengepalkan tangannya di samping paha dan menggertakan giginya geram. Ia terus menunduk dan mengalihkan pandangannya, tidak berani menatap pria di depannya. Ia takut jika ia menatap sosok itu, pria itu akan tahu apa yang dipikirkannya.

Ia takut dengan sorot tajam itu.

Akhirnya Ulen hanya menghela nafas panjang dan berbalik menuju dapur. "Pikirkan lagi apa yang akan kau lakukan, Nak. Kurasa kau dan aku sama-sama tahu…" pria itu menoleh sejenak ke belakang, memperhatikan Athrun yang masih terpaku di tempat, "…pilihan mana yang lebih baik. Bagimu… juga Cagalli."

.


Perhatian Athrun teralih begitu melihat sekelebat bayangan putih di halaman. Ia menyibak tirai dan menempelkan wajahnya lekat-lekat ke jendela. Ia bisa melihatnya dengan jelas. Sosok itu sedang berhadapan dengan sebuah robot sepantaran berbentuk seperti termos gemuk dan berwarna biru gelap.

Menyadari siapa sosok itu, Athrun segera berlari ke luar kamar dan menuju halaman. Angin dingin segar menyambut kedatangannya begitu ia membuka pintu. Athrun menggosok-gosok lengannya, berharap rasa dingin itu berkurang. Sebenarnya ia sudah terbiasa dengan udara dingin bahkan badai, tapi setelah semalaman berada di tempat yang hangat, sepertinya ia harus mulai membiasakan diri lagi.

"Kira?" panggil Athrun ragu. Ia menelan ludah. Lidahnya terasa kelu saat mengucapkan nama itu. Entahlah, mungkin ia hanya merasa… canggung?

Sosok yang dipanggil itu menoleh dan terkejut, tidak menyangka akan sosok si pemanggil. Namun ekspresi itu segera terganti oleh senyum ramah yang menghiasi wajahnya. "Kau ingat namaku."

Angin pagi kembali berhembus. Nanyian serangga yang bersembunyi di balik rumput mengiringi pertemuan mereka berdua—atau bertiga. Hembusan angin itu sukses menggoyang helaian rambut birunya yang mulai menutupi wajah. Begitu pun milik coordinator di depannya. Kemeja putih polosnya yang tidak dimasukkan dan celana kain hitamnya berkelebat ke depan dan belakang. Athrun terpana. Jujur, ia terpesona. Kalau ia tidak ingat sosok anak kecil di depannya saat di jembatan tempo hari, ia yakin ia tidak akan menyangka kalau anak ini adalah robot.

Baiklah, mungkin ia akan tetap tahu karena Kira pernah menindih badannya dan membuatnya sesak nafas.

"Tidak bisa tidur?" tanya Kira sopan.

Athrun menggaruk tengkuk dan mengalihkan pandangannya ke hamparan rumput tinggi yang mengelilingi mereka. "Yah, begitulah." Ia mengangkat kepalanya lagi, memperhatikan siluet lelaki berambut coklat di depannya yang terlihat 'normal' seolah bukan robot yang baru rusak kemarin. Ulen Hibiki memang hebat, batinnya. "Bagaimana perasaanmu?" tanyanya canggung. Athrun yakin wajahnya mulai memerah sekarang, ia harap hanya sedikit.

"Perasaan? Maaf, aku tidak mengerti."

Athrun membelalak. Ia tahu ia baru saja menanyakan hal yang bodoh. Hanya ciptaan Tuhan yang memiliki perasaan dan dia hanyalah mesin. Tapi Athrun tidak akan sebingung ini kalau ia tidak ingat betapa 'terlihat' marah dan takutnya Kira saat di Onogoro kemarin.

Kira diam—memperhatikan sosok anak lelaki di depannya—mencari tahu penyebab Athrun diam. Mengerti, Kira menjawab, "Aku bereaksi sesuai program "Emosi" yang Master tanam di kepalaku. Berbagai proyeksi kehidupan manusia sehari-hari sudah terekam. Reaksi manusia saat ia diejek, diberi hadiah, kecewa, takut, semuanya terlihat dengan jelas. Chip inti akan mengirimkan sinyal apa-apa yang harus kulakukan selanjutnya untuk merespon apa yang terjadi di sekelilingku, sebagai manusia..."

Kira berhenti menjelaskan saat melihat Athrun yang hanga diam, bengong. Kira sweatdrop. Harusnya aku tahu, anak umur 12 tahun belum mengerti yang beginian! "Ehm... intinya, aku tidak benar-benar marah waktu itu. Dan… anu… Athrun-san?"

Athrun menggeleng cepat dan melambai beberapa kali, "Tidak apa, teruskan! Aku mengerti kok. Aku cuma terkesan," ujarnya cepat.

Wow, hebat juga. Dia benar-benar mengerti, kan?

Kira berdeham, "Yah, maaf terlambat tapi…," ia berbalik menghadap Athrun dan menuduk dalam-dalam, "…terima kasih telah menolong Nona Lacus. Aku sangat senang."

Athrun menghela nafas dan menaikkan sebelah alisnya. Sebelah tangannya terpaku di pinggang. "Kenapa kau kaku banget, sih? Memang contoh manusia zaman apa yang ada di programmu itu? Pakai bahasa sembarangan aja, jangan yang formal-formal! Aku jadi merasa tua."

"Ah, ngomong-ngomong soal tua, nanti sore temani ambil kue, yuk!" timpal Kira cepat.

Apa hubungannya tua dengan kue? Batin Athrun.

"Oh, ya. Kau sendiri ada masalah apa? Mukamu kusut banget," celetuk coordinator itu lagi tiba-tiba.

"Oh?" Athrun tersentak sendiri. Ia ingat tentang masalahnya sendiri sekarang. Dan hal itu membuat wajah pucatnya semakin kusut. Kira gelagapan, merasa tidak enak. Setelah menghela nafas panjang, akhirnya Athrun menceritakan semua isi pembicaraan semalam. Ia sendiri tidak tahu kenapa ia perlu menceritakannya pada Kira.

.


Tawa ringan terdengar lepas setelah cerita Athrun selesai. Anak berambut biru gelap itu merengut. "Apanya yang lucu?"

Kira mengibaskan tangannya beberapa kali sambil menggumamkan kata maaf. "Tidak, hanya saja kau bisa juga, ya jadi begitu kalap kalau berhadapan dengan Master. Aku hanya geli membayangkannya."

"Kalap?" ulang Athrun tidak mengerti.

"Ah, kau tidak tahu? Kalap itu semacam lepas kendali, begitulah. Master memang terlihat seram sesekali. Tapi aku tidak pernah melihatnya secara langsung, hanya pernah lihat saat ia bericara dengan rekan-rekan kerjanya. Aku juga belum pernah melihatnya marah di rumah."

"Eh? Kau belum pernah kena marah?"

Kira mengangguk mantap. "Master selalu berwajah lembut di depanku. Aku sendiri bingung. Tapi kembali ke topik utama," Kira mengambil nafas pendek, "Master bukan tipe orang yang melakukan sesuatu berdasar perasaan spontan. Ia pasti punya rencana dan alasan tersendiri menyuruhmu menetap dan mengirim Cagalli ke tempat Nona Lacus."

"Alasan apa pun aku tidak peduli! Aku hanya ingin bersama Cagalli," balas Athrun cepat. Matanya lebih tertarik pada tanah di bawah kakinya yang telanjang.

Kira diam, ingatannya kembali ke kejadian kemarin di gang. Athrun yang memasang posisi melindungi Cagalli, menariknya pergi. Belum banyak, sih yang ia lihat. Tapi satu hal yang ia tahu, Athrun sangat menyayangi Cagalli.

Tapi ada yang aneh.

"Apa Cagalli benar-benar adikmu? Secara biologis?"

Badan Athrun menegang. Tapi ia cepat-cepat mendelik pada Kira karena coordinator itu kembali memakai bahasa rumitnya. "Kami tidak ada hubungan darah. Memangnya kenapa? Cagalli tetap adikku!"

Kira hanya diam dan tersenyum tipis, menunggu Athrun melanjutkan.

Anak bermata tajam itu kembali menghela nafas, entah yang keberapa hari ini. "Aku bertemu dengannya suatu hari di musim dingin tahun lalu. Sosoknya lebih kurus dari sekarang. Badannya gemetar semua dan ia hanya duduk meringkuk di ujung gang tempat kita bertemu kemarin," Athrun mengangkat wajahnya dan menatap deretan awan yang mulai terlihat, "awalnya aku ingin menyapanya baik-baik karena merasa kasihan, tapi saat aku mendekatinya, ia malah memelototiku dan menggertakkan giginya. Seperti anjing herder yang melihat rampok."

Kira menahan tawa. Ia kini tahu kalau tatapan tajam Cagalli ternyata bakat alami, bukan ajaran Athrun. Ah, apa ini takdir?

"Kesal-kesal aku sudah siap mengusirnya dan mengatakan kalau itu adalah wilayahku. Tapi kalau mengingat Cagalli yang masih sangat kecil, mungkin sekitar 3 tahun, aku jadi mengurungkan niat. Manusia macam apa yang mengusir anak sekecil itu sendirian di jalanan? Aku tidak mau jadi orang-orang dewasa yang seenaknya saja membuang apa yang tidak dibutuhkannya."

"Kau dan Cagalli dibuang?" tanya Kira hati-hati.

Athrun menoleh ke arah Kira dan menatapnya lekat-lekat. "Ya! Kami dibuang! Terus memangnya kenapa?" Belum sempat Kira berkata-kata, Athrun lebih dulu mengulurkan tinjunya di depan wajah Kira—hanya mengulurkan. Kira mundur satu langkah—menelan ludah jika ia manusia. "Kau lihat saja, aku akan hidup bebas dengan caraku sendiri. Bangkit dengan kakiku sendiri dan membuktikan pada mereka kalau aku bisa menjadi 'seseorang' meski mereka menganggapku tidak berguna."

Angin segar kembali berhembus pelan menerbangkan helaian-helaian rambut biru yang menutupi mata hijaunya. Kira terpaku, iris hijau itu begeitu jernih dan tajam, tidak kosong. Dan itu sudah cukup membuktikan keseriusan deklarasi seorang anak manusia berumur 12 tahun.

Kira mendengus dan kembali menghadap robot biru di depannya. Robot itu adalah Robot Kebun yang mengurus halaman rumah Ulen. "Baiklah, paling tidak langkah pertama yang bisa dilakukan adalah memotong rambutmu yang berantakan itu dan mengganti beberapa pakaian. Juga mandi." Ia rentangkan kedua tangannya tinggi-tinggi ke udara dan mengibaskannya beberapa kali. "Aaaah~ sepertinya hari ini akan jadi hari yang melelahkan."

Athrun mengerjap beberapa kali. "Eh? Kau tidak mengerti, ya? Aku, kan sudah bilang kalau aku dan Cagalli—"

"Jangan egois," potong Kira datar. Athrun mematung.

Kira menutup kedua matanya dan merasakan belaian lembut angin pagi yang menggelitik kulitnya. Ah, ia harus berterimakasih pada Master Ulen untuk kulit baru yang lebih sensitif. "Kau tidak bisa berdiri sendiri untuk mencapai sesuatu yang besar—maaf aku berbahasa yang rumit lagi. Kau harus berkorban, bukan berarti kau tidak bisa bertemu Cagalli lagi, kan? Memangnya kau tahu jarak dari sini ke kediaman keluarga Clyne?"

"I… itu sih…."

"Lihat? Kau bahkan tidak tahu tapi sudah lebih dulu menggerutu panjang lebar."

Athrun berpaling. Ia kalah.

"Kalau dilihat dari obrolan kita tadi—kau bisa mengerti penjelasanku tentang mekanisme kerja program "Emosi"-ku. Kau tertarik pada bidang mesin, robot, teknologi atau semacamnya, ya?" tanya Kira tanpa mencoba melihat si lawan bicara.

"Yah, lumayanlah. Aku pernah mengotak-atik mesin Mini Bank," jawab Athrun sekadarnya sambil mengangkat bahu, seolah itu hal yang biasa saja.

"Nah, apa kau akan membuang kesempatan untuk belajar 'mengotak-atik lebih banyak' langsung dari masternya? Di rumah Tuan Siegel pun aku yakin Cagalli akan mendapat pendidikan yang sesuai dengan kemampuannya—percayalah, Master bisa menganalisis sesuatu dengan sangat cepat. Lagipula di sana ada Nona Lacus. Bagus, kan kalau ada teman sebaya? Makanan enak, kasur empuk, baju bagus, apa lagi, ya? Rumah yang nyaman, buku—"

"—iya! Iya! Aku mengerti!" sela Athrun cepat. Kira menoleh sedikit dan tersenyum ketika melihat wajah teman barunya yang merona. "Kurasa tak ada pilihan yang lebih bagus." Anak itu berjalan dan berhenti di samping Kira.

Kira terkekeh dan kembali memasang seulas senyum tipis. Kali ini terlihat sendu. "Kalau begitu sebagai langkah pertama, kau mau mengotak-atiknya?"

Athrun melirik Kira, menyadari nada bicaranya yang melunak. Pandangan matanya kini kembali ke sosok robot termos yang sejak tadi hanya diam.

"Dia… sepertinya 'kesakitan'."

Kini Athrun mengerti kenapa Kira tiba-tiba terlihat sedih.

.


TBC


.

waaaaah~ satu tugas selesai~ khukhukhukhu *grin*

Blasan untuk review nonlog-in:

Meii Neider

Ei! Lama gak keliatan! kenapa gak log-in aja? ^^ Makasih ya udah ngikutin terus ceritanya dan pujiannya *blush*. Ini udah update. Semoga menghibur ;) makasih reviewnya!

Magus-15IchiGo

aaaaaiiii~ mau dong lihattt! kayaknya jago gambar nih. bolehkah intip-intip karyanya? *grin* #bletak!#

saya paling seneng kalo ada readers yang jadi kayak orang gila-maaf-kalo baca fic saya XD entah nangis sendiri, ketawa sendiri, jerit sendiri (?), joget sendiri (?), guling2 (mulai lebaynya) *ngek*

heee, terima kasih atas pengertiannya. maaf banget, ya. dan sekali lagi terima kasih atas reviewnya. ^^ semoga chapter kali ini bisa menghibur ;)

.

Naaah? Bagaimana chapter kali ini? menjengkelkan karena gak maju-maju? (TT_TT) atau makin membingungkan? ( TTnTT) hahaha. silakan tinggalkan kritik dan saran di kolom review! Kritiknya pedes-pedes juga gak masalah kok, lumayan buat koyo (lho?) *plak*.

Terima kasih buaaaanyaaak untuk para readers dan reviewer yang sudah meluangkan waktunya untuk baca fic ini ^^

HAPPY FANFICTION FESTIVAL!