Disclaimer : Naruto dan kawan-kawan milik Masashi Kishimoto.
-Save Naru!-
~Zara Zahra~
[Romance, Drama]
{SasuNaru, ShikaNaru, KibaNaru, GaaNaru, NejiNaru, ItaKyuu(?)}
# Shounen ai! OOC, typo(s), misstypo(s), Bahasa Indonesia yang kurang baik dan kurang benar, Terlalu pendek, bikinan amatir , alur mudah ditebak, dan yang pasti banyak kekurangan, dan mohon diberi kritik dan saran agar aku bisa membuatnya jadi lebih baik ^_^ #
.
.
Aku mau bilang satu hal lagi. kalimat yang di Italic itu adalah beberapa penggalan percakapan atau peristiwa yang ada di masa lalu mereka.
.
.
Chapter 4 : Regret
Sekarang pukul 5 sore. Sekolah telah usai. Naruto dan Kurama saat ini terlihat sedang berjalan kaki menuju ke rumah. Mereka berdua hanya berjalan dalam keheningan. Biasanya Naruto akan berbicara panjang lebar pada Kurama di sepanjang perjalanan. Tapi kali ini, ia terlihat sedang diam memikirkan sesuatu.
'Hmmm... ada apa dengan mereka ya? Ini cuman perasaan ku saja atau mereka memang terlihat murung semenjak jam istirahat tadi?' ternyata Naruto sedang memikirkan kelima sahabatnya itu. Dari kacamata penglihatan Naruto, setelah jam istirahat tadi kelima temannya ini memang sedikit (sangaaaaat sedikit) aneh. Walau sikap mereka terlihat biasa-biasa saja, tapi Naruto yakin ada hal yang tidak beres. Dan itu terjadi setelah ia memesan makanan dari kantin. Ketika ia berbicara dengan Gaara, Naruto yakin kalau Gaara tampak mengalihkan matanya kearah lain. Seperti tak ingin menatap matanya secara langsung. Begitu juga yang lain. Mereka terlihat mengalihkan mata mereka agar tak melihat wajah Naruto. 'Apa aku melakukan sesuatu yang membuat mereka marah lagi?' pikir Naruto lagi.
"Ne Kyuu-nii... ada apa dengan mereka? Sejak tadi siang tingkah mereka sedikit aneh. Kyuu-nii tau sesuatu?" Tanya Naruto pada Kurama. Dan Kurama hanya diam tak menjawab. Kurama tentu saja tau apa yang membuat mereka terlihat aneh seperti itu. Ya... mereka merasa bersalah dan kecewa pada diri mereka sendiri karena suatu hal.
"Kyuu-nii! Dijawab dong!" kata Naruto karena Kurama yang belum juga menjawab pertanyaannya.
"Tidak apa-apa. Mereka baik-baik saja. Mungkin mereka hanya kurang istirahat. Kalau kau menunggu hingga besok pasti mereka sudah bersikap normal lagi." Jawab Kurama.
"Benarkah?" tanya Naruto tak yakin. Dan Kurama hanya mengangguk.
"Hm... baiklah... mungkin aku hanya terlalu khawatir pada mereka." Kata Naruto. Dan Kurama hanya diam menatap Naruto yang berjalan didepannya.
.
.
~(o_o)(-_-)~
.
.
Naruto dan Kurama akhirnya sampai dirumah. Naruto lalu membuka pintu dan memberi salam.
"Tadaima~" seru Naruto dengan suara lantang.
"Ah! Okaeri, Naruto!" Ternyata Sang ayah yang menjawab salamnya. Saat ini Naruto melihat ibu dan ayahnya sedang duduk diatas sofa diruang tamu. Dan diseberang mereka duduk 4 orang lain yang tak terlihat oleh Naruto, karena mereka duduk memebelakangi Naruto. Naruto kemudian masuk dan menghampiri mereka yang sedang duduk itu. Sedang Kurama, ia masih berdiri diam didepan pintu.
'Sial... entah kenapa aku memiliki firasat buruk...' kata Kurama dalam hati. ia merasa kenal dengan salah satu yang duduk membelakanginya itu. Dan itu bukanlah dengan merasakan chakra atau apa, tapi ia memang memiliki 'radar khusus' dan insting yang tajam untuk mengetahuinya
Naruto yang menghampiri mereka akhirnya melihat dengan jelas siapa 4 orang tamu yang duduk itu. Ternyata mereka adalah keluarga Uchiha. Uchiha Fugaku, Uchiha Mikoto, dan tentu saja kedua anak mereka, Uchiha Itachi dan Uchiha Sasuke.
"Halo paman Fugaku, Halo bibi Mikoto!" sapa Naruto pada kedua orang dewasa berambut hitam itu. Dan si kepala keluarga Uchiha hanya menjawab dengan menganggukkan kepalanya.
"Halo juga, Naru-chan..." balas Mikoto dengan senyum lembutnya.
"Halo Itachi-nii, hai Sasuke!" Naruto kini menyapa kedua bersaudara Uchiha.
"Halo Naruto-kun~" balas Itachi dengan senyum ramahnya.
"Hn." Dan Sasuke hanya membalas dengan singkat. Ia mengalihkan matanya kearah lain, tak ingin menatap kedua sapphire Naruto lebih lama. Dan Naruto hanya bisa diam ketika Sasuke terlihat enggan untuk melihatnya lagi.
"Naruto, kau tak lupa dengan kegiatan rutin keluarga kita dan Uchiha kan? Nah... kali ini mereka akan menginap di rumah kita. Jadi, nanti malam Sasuke-kun akan tidur sekamar denganmu saja ya, Naruto?" kata Kushina pada Naruto.
"Baik Kaa-chan!" kata Naruto. 'Sasuke akan tidur dikamarku... dengan begitu mungkin aku bisa menanyakan tingkah dia yang aneh ini' pikir Naruto.
Sedang Sasuke entah kenapa saat ini merasa tidak terima dengan hal itu. Seharusnya ia senang karena bisa tidur sekamar dengan Naruto. Tapi karena Sasuke masih kepikiran dengan apa yang diucapkan Kurama siang tadi, malah membuat Sasuke merasa sangat-sangat-sangat bersalah pada Naruto. Bahkan hanya dengan menatapnya saja, itu membuat Sasuke mengingat kesalahan dan kegagalannya di masalalu. Betapa tak bergunanya dia, karena tak bisa melindungi Naruto kala itu.
"Nah! Naruto, lebih baik sekarang ganti bajumu. Kaa-san dan bibi Mikoto akan menyiapkan makan malam sekarang." Ujar Kushina pada Naruto. Naruto lalu mengangguk, dan kemudian berjalan menuju lantai 2, dimana kamarnya berada.
Dua perempuan yang ada disana lalu beranjak menuju ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Begitu juga dengan kepala keluarga Uchiha dan Namikaze. Mereka juga beranjak menuju ke ruang kerja pribadi milik Minato, untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan. Dan kini tertinggallah 2 bersudara Uchiha yang masih duduk disofa, dan Kurama yang masih berdiri diam didepan pintu.
.
.
.
.
'Ternyata benar-benar dia...' kata Kurama dalam hati. Kurama akhirnya benar-benar yakin ketika ia mendengar Naruto menyapanya tadi. Siapa lagi dari ketiga laki-laki yang ada di keluarga Uchiha itu yang memiliki suara yang terdengar ramah itu selain dia?
Itachi yang mengetahui kalau rubah orange 'tersayangnya' masih berdiri didepan pintu, ia lalu menoleh kebelakang dan menatap rubah itu. Kurama yang ditatap langsung membatu. Dan Itachi yang melihatnya hanya tersenyum aneh.
"Halo Kyuu-chan~~" sapa Itachi pada Kurama. Kurama yang mendengar suara Itachi yang terdengar menggoda (?) itu langsung merinding. Kurama melihat Itachi mulai berdiri dan terlihat menghampiri dirinya. Sebelum Itachi bergerak menghampirinya, Kurama langsung mengambil langkah seribu menjauh dari Itachi dan dengan cepat berlari menuju kamar Naruto.
Itachi yang melihat tingkah rubah itu hanya bisa tersenyum geli.
.
.
.
.
Kurama yang sudah sampai didepan pintu kamar Naruto. Ia lalu melompat dan meraih gagang pintu dengan satu kakinya lalu membukanya. Ia langsung masuk kedalam dan dengan cepat mendorong pintu kamar tersebut. Naruto yang masih didalam kamar terkejut ketika mendengar pintu kamarnya yang tiba-tiba saja terbuka.
"Kyuu-nii!? Kupikir siapa, Kyuu-nii bikin kaget saja!" ucap Naruto. Sedang Kurama tidak menghiraukan ucapan Naruto. Setelah menutup pintu kamar Naruto itu, Kurama lalu berjalan dan kemudian melompat keatas ranjang Naruto. Dan kemudian Kurama lalu tiduran diatasnya. Ia yang sebelumnya terlihat panik itu kini merasa lebih rileks sekarang.
"Ada apa, Kyuu-nii?" Naruto berjalan dan kemudian duduk ditepi ranjang disamping Kurama yang lagi tiduran.
"Tak ada apa-apa." Jawab Kurama dengan singkat.
"Benarkah?" tanya Naruto lagi.
"Iya!" ujar Kurama dengan sedikit membentak.
"Kalau tak ada apa-apa, ya sudah lah." Kata Naruto lagi. Naruto lalu berdiri dan berjalan menuju pintu kamarnya. Sekarang ia akan keluar, karena sebentar lagi makan malam.
"Kyuu-nii tidak ikut turun?" tanya Naruto karena Kurama tidak beranjak juga dari acara tidur-tidurannya.
"Tidak. Kau bawa saja makanan untukku kesini." Kata Kurama dengan santainya. Dan tak lupa dengan nada perintahnya.
"Huh! Main suruh-suruh orang saja." Gerutu Naruto, yang masih bisa didengar oleh Kurama.
"Kau tak mau?" tanya Kurama.
"Tidak-tidak~ Aku akan membawakannya setelah makan malam selesai. Kyuu-nii tunggu saja disini." Kata Naruto. Walau Naruto terdengar mengeluh, ia tetap saja memenuhi permintaan Kurama. Lagipula sebenarnya ia tak keberatan melakukannya.
Dan Kurama yang mendengar ucapan Naruto hanya mendengus. 'Sifatnya tak pernah berubah.' Pikir Kurama dalam hati. Walau bagaimanapun kesalnya Naruto dengan seseorang, ia tak pernah membenci orang tersebut. Baik hati sekali kan?
.
.
~(o_o)(-_-)~
.
.
Suasana makan malam di kediaman Namikaze saat ini terasa hening. Tak ada satupun yang berbicara. Yang terdengar hanya lah suara sendok dan garpu yang berdenting ketika sedikit bersentuhan dengan piring. Salah satu faktor keheningan tersebut adalah keluarga Uchiha yang memang selalu disiplin dan tertib (?) ketika makan. Pasangan Namikaze yang ada disana juga diam dan memakan makanan yang terhidang dihadapan mereka dengan tenang. Mereka sudah terbiasa dengan situasi hening seperti ini. Dan Naruto, bocah berusia 17 tahun yang biasanya selalu ribut dan banyak berbicara ini juga terlihat diam.
Naruto tengah menatap Sasuke yang duduk berseberangan dengan tempat duduknya itu. Sasuke yang mengetahui Naruto yang terus memperhatikannya itu hanya diam tak menghiraukan. Sebenarnya Naruto ingin menanyakannya pada Sasuke sekarang, tapi ia urungkan karena tak ingin membuat kedua orang tua Sasuke khawatir ketika ia menanyakan tingkah aneh Sasuke disekolah tadi.
'Tak bisa ya...' pikir Naruto kemudian.
.
.
.
.
Setelah makan malam selesai, Naruto kemudian naik kekamarnya untuk membawakan makanan pada rubah orange yang dianggapnya kakak itu. Naruto membuka pintu kamarnya dan melihat Kurama masih tidur diatas ranjang, walau matanya tidak tertutup.
"Aku bawa makananmu, Kyuu-nii." Kata Naruto sambil meletakkan makanan untuk Kurama diatas lantai. Kurama yang mendengar ucapan Naruto lalu bangkit berdiri dan melompat turun dari ranjang. Kurama lalu memakan makanan yang dibawakan Naruto tadi. Naruto yang melihat Kurama sudah memakan makanannya itu lalu keluar dari kamar dan turun lagi kelantai satu.
Setelah Kurama menghabiskan makanannya, ia juga keluar dari kamar Naruto.
.
.
Kurama terlihat mengendap-endap ketika turun ke lantai satu. Ia memperhatikan baik-baik siapa saja yang berada disekitarnya, ia juga semakin meningkatkan sensitifitas radar 'Keriput' miliknya. Meski Kurama sebenarnya bisa saja mengusir Itachi dengan mencakar atau menggigitnya, si Keriput itu pasti tak akan menyerah dan terus mengganggunya. Dan juga dengan wujud Kurama yang berbentuk rubah ini, tentu saja kalau adu kekuatan Itachi lebih unggul darinya. Lain persoalannya kalau ia sedang dalam wujud manusianya.
Kurama menuruni tangga dengan hati-hati. Setelah selesai menuruni tangga terakhir, sekali lagi ia memperhatikan sekitar. Dan ia tak menemukan Itachi dimanapun. Hanya Naruto yang terlihat duduk sambil menonton TV sendirian. Kepalanya terlihat menyembul dari balik sandaran sofa. Setelah yakin tak ada dia, Kurama lalu berjalan menghampiri Naruto.
Yang tak diketahui Kurama, sebenarnya Itachi juga sedang duduk disamping Naruto. Bedanya, Itachi sedang bersembunyi disamping Naruto. Ia sengaja merendahkan kepalanya agar Kurama tak melihat dirinya yang sedang duduk itu. Itachi juga menghilangkan hawa keberadaannya, karena Itachi mengetahui kalau Kurama memiliki sensor radar yang cukup tinggi, apalagi untuk mendeteksi dirinya ini. Naruto juga tentu saja tahu apa rencana Itachi, jadi dia hanya diam saja, bertingkah seperti tak ada seorangpun disampingnya.
Saat Kurama sudah berada didekat Naruto, ia terkejut ketika melihat Itachi yang sedang duduk disamping Naruto. Pantas saja Kurama tak melihat Itachi, ternyata dia menundukkan kepalanya hingga kepalanya tak terlihat dari belakang sofa. Saat ini Itachi terlihat tengah menatap Kurama dengan senyum jahil yang terpasang diwajahnya.
Kurama ingin berlari menjauhi Itachi. Berdekat-dekatan dengan Itachi itu sama saja dengan berdekatan dengan iblis yang suka mengganggu! Tapi belum sampai ia berbalik untuk berlari, Itachi sudah keburu menangkapnya.
"Eep! Mau lari kemana Kyuu-chan~~~" kata Itachi sambil menggendong Kurama dengan kedua tangannya. Sedang Kurama langsung memberontak dipelukan Itachi.
"Lepaskan aku keriput!" Kurama masih memberontak. Ia menggerak-gerakan tubuhnya dengan liar, berusaha lepas dari pelukan maut Itachi. Tapi usahanya sia-sia. Itachi malah semakin mempererat pelukannya, membuat Kurama tak bisa bergerak bebas.
"Kenapa kau selalu menghindar dariku, Kyuu?" tanya Itachi.
"Tentu saja! Siapa yang mau berdekatan dengan keriput mesum sepertimu." Jawab Kurama dengan ketus. Sedang Itachi hanya tertawa geli.
"Aku tak akan mengapa-apakan mu kok! Memangnya darimana kau tau kalau aku mesum?" kata Itachi sambil mengecup hidung Kurama. Sedang Kurama langsung mematung.
"Grrr.. Apa-apaan kau! Cepat lepaskan aku!" Kurama kembali memberontak.
"Kau benar-benar manis deh kalau sedang marah." Kata Itachi sambil tersenyum. Tapi kali ini bukan senyum jahil, tapi senyum menawan lah yang ditunjukannya, membuat Itachi terlihat lebih 'awesome' lagi.
BLUSH
Andai saja saat ini Kurama dalam wujud manusianya, sudah pasti seluruh wajahnya sudah memerah. Entah karena pujian yang diucapkan Itachi atau karena senyumnya yang benar-benar...
'Shit! Apa yang kupikirkan sih!' kata Kurama dalam hati.
"Ha-ah... Kyu... kenapa tak merubah tubuhmu jadi manusia saja sih?" kata Itachi sambil mengangkat Kurama dengan kedua tangannya. Itachi lebih suka melihat Kurama dalam wujud manusianya. Kurama dalam wujud manusianya itu kan lebih...
'Manis dan sexy~~' pikir Itachi ngeres.
Itachi sesekali juga melempar-menangkap Kurama dengan kedua tangannya, seperti sedang bermain dengan bayi.
"He-hei! Turunkan aku!" Kurama terlihat panik ketika tubuhnya dilambungkan Itachi keatas. Itachi yang melihat raut panik Kurama lagi-lagi hanya tertawa. Memang menyenangkan mengerjai Kurama yang terlihat lemah begini. Tapi kalau dia sudah berwujud manusia... tak akan ada lagi kesempatan untuk memain-mainkan nya seperti ini.
'Sial! Beraninya dia mempermainkanku seperti ini!' inner Kurama mulai mengamuk. Kurama lalu menggigit lengan kanan Itachi dengan keras hingga Itachi sampai mengaduh kesakitan.
'Bekasnya nggak bisa hilang sampai besok nih...' pikir Itachi. Itachi terpaksa melepaskan pelukannya dari Kurama, alhasil Kurama dapat dengan bebas melepaskan diri. Ia dengan cepat langsung melompat turun dan berlari keluar dari kediaman Namikaze itu. Sepertinya ia harus kabur keluar dulu hingga situasi dirumah itu cukup kondusif bagi dirinya.
"E-eh? Kyuu-nii!" teriak Naruto ketika melihat Kurama yang berlari keluar rumah. Padahal saat ini sudah pukul 10 malam, dan Kurama malah keluar rumah. Bagaimana kalau kakaknya itu sampai tertangkap oleh pemburu? Rubah berekor sembilan itu kan hewan langka! Bagaimana kalau nii-chan nya itu dijual orang keluar negri? Bagaimana kalau dia dijadikan objek bahan percobaan? Bagaimana kalau ia tak bisa bertemu dengan nii-chan nya lagi untuk selamanya? HUWEEEE~~~~ TAT
"Biar aku yang mengejarnya, Naruto. Kau tak perlu cemas." Kata Itachi menenangkan Naruto. Lagipula Itachi merasa pikiran Naruto terlalu ngawur. Kalau memang Kurama hewan langka dan banyak diburu orang, seharusnya Kurama sudah tak ada disini semenjak 17 tahun yang lalu kan? Kurama itu tentu saja bisa menjaga dirinya sendiri. Pemburu selevel manusia bisa kalah olehnya dengan sekali cakar.
"Benarkah? Apa lebih baik aku ikut mencari Kyuu-nii juga?" tanya Naruto tak yakin. Itachi hanya mengejarnya seorang diri. Bagaimana kalau Itachi nanti tersesat? Bagaimana kalau Itachi terjatuh dan luka? Bagaimana kal—
"Tenang saja Naruto... aku bisa mengejarnya sendiri. Lebih baik kau tunggu saja dirumah ya." Kata Itachi memotong seluruh pikiran aneh Naruto. Naruto akhirnya tenang dan menganggukkan kepalanya menyetujui. Itachi tersenyum sambil mengacak-acak rambut Naruto dengan sebelah tangannya.
"Tunggu dulu... Nii-chan mengerti dengan apa yang Kyuu-nii bilang? Kok bisa?" tanya Naruto pada Itachi. Ia baru sadar, ketika mendengar ucapan Kurama yang memang ditanggapi Itachi dengan lancarnya. Dan ia cukup terkejut. Naruto pikir hanya dirinya sendiri yang mengerti dengan apa yang diucapkan Kurama.
"Tentu saja aku mengerti. Dengan jelas sekali." Ujar Itachi sambil tersenyum misterius, membuat Naruto yang melihatnya sedikit bingung.
"Sudahlah... tak usah pikirkan hal yang tidak penting. Sekarang nii-chan pergi dulu, ya?" kata Itachi. Naruto kemudian mengagguk mengerti. Beberapa saat kemudian Itachi pun keluar dari kediaman Namikaze tersebut dan mencari Kurama yang sudah menghilang entah kemana.
.
.
.
.
Naruto kembali duduk dengan rileks diatas sofa. Ia yakin kalau Itachi bisa menemukan Kurama. Jadi ia tak perlu cemas lagi. Lagipula Kurama itu kuat kan? Jadi apa yang harus ia khawatirkan? Naruto jadi bingung sendiri. Kenapa ia jadi paranoid sekali sih?
'Sudahlah... Lebih baik pikirkan masalah yang lain.' Kata Naruto dalam hati.
'Lebih baik aku mencari Sasuke sekarang' pikir Naruto lagi. Ia kemudian bangkit dari sofa, dan kemudian mulai mencari Sasuke.
.
.
.
.
Sasuke yang dicari ternyata sedang duduk di halaman belakang. Ia mendudukkan dirinya disebuah kursi yang memang disediakan disana untuk bersantai. Ia menatap kedepan, dimana didepan sana terdapat sebuah taman bunga kecil yang ditanami berbagi macam bunga. Ia terlihat kurang tertarik. Ia lalu melihat langit, dimana diatas sana itu sangat gelap. Seperti sebuah lautan hitam yang tidak berdasar. Namun walaupun begitu, langit itu terlihat indah, ketika diatas sana ada ribuan bintang dan sebuah bulan yang menghiasi langit tersebut.
Mengingat-ingat langit malam, Sasuke jadi teringat sesuatu. Ia kemudian merogoh sakunya, dan menemukan apa yang dia cari. Sebuah kalung kristal kecil berwarna hitam pekat, dengan tali gantungannya yang juga berwarna hitam. Sasuke menatap kalung itu cukup lama. Ia sedikit tersenyum tipis, ketika mengingat ucapan dari orang yang memberikan kalung ini kepadanya.
"Kau ingin tahu kenapa aku memberimu kalung berwarna hitam ini padamu, Sasuke? Kenapa bukan kalung dengan warna yang lain?"
"Hn."
"Karena... Warna nya mengigatkan ku pada langit malam. Dan juga mengingatkan ku dengan matamu. Meskipun gelap, namun entah kenapa aku tak merasa takut ketika melihatnya. Malah, aku merasa senang dan ada perasaan tenang ketika melihat matamu dan langit malam itu."
"Hm? Apa kau baru saja menggombal padaku?"
"Hei! Aku serius! Kenapa reaksimu begitu sih!?"
"Pfftt.. Iya iya. Aku senang mendengarnya. Terima kasih sudah mau menerimaku."
"Iya. Aku sayang padamu, Sasuke."
"Hn."
Sasuke kemudian memejamkan matanya, dan kemudian berusaha duduk dengan nyaman diatas kursi itu. Itu adalah salah satu dari kenangan yang paling berkesan baginya, dan ia tak akan pernah melupakannya. Meskipun ia tau kalau bukan hanya dirinya yang mendapat kalung yang seperti ini, tapi ia sudah merasa senang.
Bicara mengenai Naruto, ia merasa tak enak hati pada Naruto karena dirinya yang selalu menghindari Naruto seharian ini. Tapi mau bagaimana lagi, ia melakukannya untuk mengurangi perasaan yang sudah bercokol dihatinya ini. Perasaan Bersalah, dan Penyesalan. Ia tahu kalau sebaiknya ia tak melakukannya dengan menghindari Naruto seperti anak kecil yang sedang merajuk pada ibunya seperti ini. Itu tidak mencerminkan sifatnya sekali. Tapi mau bagaimana lagi, otak jeniusnya ini tak memiliki solusi lain yang lebih tepat dan lebih baik untuk menyelesaikannya. Lihat saja, hanya dengan menatap wajah manis yang seperti kucing itu saja Sasuke merasakan perasaan bersalah yang amat sangat menyakitkan.
Sasuke kembali membuka matanya ketika mendengar suara langkah kaki yang terdengar sedang berjalan kearahnya. Ia buru-buru menyimpan kembali kalung kristal itu.
.
.
~(o_o)(-_-)~
.
.
Kurama terus saja berlari. Ia yakin 100% kalau si Keriput itu akan mencarinya. Walau ia tau si Keriput itu tak akan bisa mengejarnya setelah ia berlari sekencang ini, tapi memang siapa yang bisa menebak pikiran Uchiha itu. Dan dengan pikiran seperti itu Kurama terus saja berlari.
Saking fokusnya ia berlari, ia tak menyadari ada seorang manusia yang sedang berjalan berlawanan arah dengannya, dan hal itu membuat kepala si rubah berekor sembilan itu harus bertabrakan dengan sepasang kaki yang berbalut celana jeans hitam tersebut.
BRUK
"Ouch!" Kurama mengaduh. Ia sedikit mengusap kepalanya dengan sebelah kakinya, dan kemudian dengan cepat berdiri kembali untuk melihat siapa yang berani-berani menabraknya sembarangan. Padahal yang sebenarnya bersalah adalah Kurama yang tak melihat-lihat ketika berlari, tapi sepertinya ia tak menerima kalau ia yang salah. 'Dia yang salah karena menghalangi jalanku!' pikir Kurama sewot.
Kurama lalu mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang menabraknya. Ia lalu melompat kebelakang dan langsung berdiri dalam posisi siaga ketika melihat siapa orang tersebut. Kurama menggeram dan menatap tajam orang tersebut.
.
.
~(o_o)(-_-)~
.
.
'Dia tak ada dimanapun...' ujar Naruto dalam hati. Naruto memang sudah mencari kesegala penjuru rumah. Mulai dari dapur, kamar mandi, Kamar itachi, bahkan kamar nya sendiri, dan kamar orang tuanya sudah ia cari. Tapi ia tak menemukan Sasuke disana.
'Apa ada tempat yang belum kucari ya?' Naruto memikirkannya lagi.
"Hmm... AH! Halaman belakang!" satu tempat yang terakhir yang belum ia kunjungi. Naruto lalu mulai berjalan menuju ke halaman belakang rumahnya itu.
Ternyata Sasuke memang sedang ada di halaman belakang. Naruto melihatnya sedang duduk santai disana, dan Naruto melihat tangan Sasuke yang sedang memegang sesuatu. Sebuah kalung. Ia yakin kalau yang sedang digenggam Sasuke itu adalah kalung. Tapi, ia tak dapat memperhatikannya lebih jauh karena Sasuke sudah terlebih dahulu menyimpannya sebelum Naruto mendekat menghampiri Sasuke. Naruto juga tak lagi memikirkan kalung itu lagi, karena ia kembali memikirkan hal yang lain.
"A-ano... Sasu-" Naruto baru saja ingin berbicara, tetapi Sasuke sudah memotongnya.
"Aku kekamar dulu" Sasuke langsung bangkit berdiri, dan masuk kembali kedalam rumah. Ia terus saja berjalan dengan sedikit cepat dan tak menghiraukan Naruto yang masih diam berdiri mematung.
"Cih. Si Teme itu..." tubuh Naruto terlihat sedikit gemetar karena menahan amarah. Ia mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Apa-apaan sikapnya itu! Seenaknya saja memotong ucapan orang. Naruto tahu kalau si Teme itu menghindarinya secara terang-terangan sekarang, tapi yang tadi itu... sudah tak bisa ditoleransi lagi. 'Sebenarnya apa salahku pada dia itu sih!' kata Naruto dalam hati. Ia pun berlari menyusul Sasuke yang pasti sekarang berada dikamar nya.
.
.
~(o_o)(-_-)~
.
.
Kurama, dan orang yang menabrak (atau ditabraknya) tadi itu kini sedang ada disebuah taman yang tak jauh dari tempat mereka bertemu tadi. Si pemuda itu tampak sedang duduk di salah satu bangku taman, dengan Kurama yang berdiri beberapa meter jaraknya dari tempat duduk si pemuda itu. Matanya masih mengawasi pemuda itu. Tingkat kewaspadaannya tidak menurun sedari tadi.
"Hei. Kenapa kau berdiri sejauh itu, rubah? Tenang saja, aku tak akan mengapa-apakanmu kok, un." Kata si pemuda itu. Dan Kurama tidak mengindahkan ucapan pemuda itu. Malah ia semakin waspada ketika mendengar ucapan tadi.
'Dilihat dari tingkah lakunya yang terlalu santai ini... si brengsek ini pasti sudah mengingatnya' pikir Kurama dalam hati.
"Hei-hei. Jangat terlalu waspada begitu. Kenapa kita tak berbincang santai saja, bukankah kita sudah tak bertemu selama... hmm.. 600 tahun? Cukup lama kan, un?" ujar pemuda itu lagi.
'Sudah kuduga. Dia sudah ingat.' Pikir Kurama. 'Ini gawat...' lanjutnya lagi.
"Apa yang kau lakukan disini?" akhirnya Kurama bersuara juga. Bahasanya tentu saja memakai bahasa rubah.
"Tak ada... hanya berjalan-jalan saja. Dan kebetulan sekali, aku bertemu disini denganmu. Sepertinya pertemuan kita ini takdir, un." ujar pemuda yang kita ketahui bernama Deidara. Dan yang tak disangka, Ternyata Deidara mengerti apa yang diucapkan Kurama. Kurama yang mendengarnya hanya memutar bola matanya.
" 'Salam pertemuan' kita yang pertama... Bagaimana menurutmu?" Deidara kembali bertanya. Kurama terdiam, memikirkan sebentar maksud dari bocah bom yang ada didepannya ini. Ia kemudian paham. Kurama menggeram.
"Tenang saja... satu milimeter saja si Akasuna itu mendekatinya, aku akan menghabisinya detik itu juga" ujar Kurama. Sedang Deidara hanya tertawa.
"Seperti yang kuduga dari Kyuubi no Kitsune... kau memang tak pernah bermain-main, un." Ujar Deidara lagi. Mereka berdua selama beberapa saat terdiam. Kemudian Deidara bertanya lagi.
.
"Bagaimana kabar si Pirang itu, un? Dia masih hidup kan?" Kata Deidara. Dan itu adalah pertanyaan yang paling fatal akibatnya.
Kurama yang mendengarnya menggeram lagi. Aura membunuhnya menguar. Ia mengeluarkannya tak tanggung-tanggung, membuat Deidara yang duduk tak jauh dari sana sedikit merinding. Mata merahnya berkilat tajam, dan ia tak akan segan-segan mengeluarkan kekuatannya saat ini juga.
"Wew... menakutkan sekali, un." Deidara masih saja berkomentar yang tidak perlu. Ia memang sedikit takut, tapi hal itu tak akan membuatnya lari terbirit-birit atau pun kencing dicelana. Malah Ia hanya terkekeh, sedikit senang karena berhasil membuat rubah orange itu menunjukkan 'taringnya' lagi.
Dan Kurama mulai bersuara.
"Seperti yang kubilang tadi..."
.
"...Sedikit saja kalian menyentuhnya..."
.
"Aku akan membunuh kalian semua untuk yang kedua kalinya, dengan tanganku sendiri!"
.
Lagi-lagi Deidara hanya tertawa mendengar ancaman Kurama.
"Tenang saja..."
.
"Aku- ah! Maksudku 'kami', tak akan melakukan apapun kok, un! Setidaknya belum..."
.
"Tapi kami akan memberi 'salam kedua' para si pirang manis itu. Kau tunggu sambil duduk yang manis saja dulu ya!" setelah mengatakan itu, tiba-tiba Deidara sudah menghilang dari tempat itu, meninggalkan sebuah daun yang mulai jatuh perlahan dari tempat ia duduk tadi.
.
.
.
Kurama yang merasa Deidara bernar-benar tak ada disana lagi, lalu menurunkan pertahanannya.
Kurama lalu menghela nafas. Ia membaringkan tubuh rubahnya yang sebesar kucing itu diatas rumput. Dan ia pun memejamkan kedua matanya. Sebaiknya ia istirahat dulu sebentar. Menghadapi Deidara itu memang mudah baginya. Dan padahal tak terjadi pertarungan. Tapi entah kenapa... Kurama sudah merasa lelah sekali. Mungkin ia terlalu tertekan ketika bertemu salah satu dari mereka itu.
Srek srek
Kurama menaikkan telinganya. Ia mendengar suara di sebuah semak-semak yang tak jauh dari tempatnya tiduran. Beberapa saat kemudian ia melihat seseorang keluar dari semak-semak tersebut.
'Se-sejak kapan dia ada disitu...' Kurama sedikit terkejut ketika mengetahui orang yang keluar itu adalah Itachi. Itachi kemudian berjalan dan menghampiri Kurama.
"Sejak kapan kau berada disitu? Kau juga menguping pembicaraan kami?" tanya Kurama.
"Sejak tadi. Dan kau tak menyadarinya sampai sekarang?" ujar Itachi pada Kurama.
'Mungkin aku terlalu fokus pada bocah bom itu... sampai tak menyadari si Keriput ini.' pikir Kurama.
"Hei... lebih baik sekarang kita pulang. Naruto khawatir padamu." Kata Itachi. Ia kini bersikap tenang. Tak mungkin ia bersikap kekanakan disaat seperti ini kan?
Itachi lalu mengangkat Kurama dan memeluknya. Kurama terlihat tidak protes atau memberontak sedikitpun. Itachi yang mengetahui itu lalu tersenyum lembut. Sesekali ia mengelus kepala Kurama, menenangkan Kurama yang ia tahu sedang lelah sekali. Kurama hanya diam dan membiarkan Itachi mengelus dan mengusap kepalanya. Lagipula ia sendiri juga merasa tenang dan nyaman, ketika merasakan tangan Itachi dengan lembut membelai bulunya itu.
"Malam ini kau tidur dikamarku saja ya, Kyuubi." Kata Itachi.
"Hmmm... terserah kau saja. Tapi lebih baik kita cepat pulang. Aku sudah mengantuk. Hoamm..." kata Kurama sambil menguap lebar. Itachi terkekeh geli ketika melihat tingkah Kurama saat ini. Mereka berdua pun lalu berjalan pulang menuju kediaman Namikaze.
.
.
~(o_o)(-_-)~
.
.
Sasuke kini sudah berada didalam kamar Naruto. ia menutup pintu kamar lalu berjalan kearah kasur king size milik Naruto dan membaringkan dirinya disana. Ia tau kalau Naruto sedang mengejarnya kesini, jadi ia harus menenangkan dirinya dulu sebelum menghadapi Naruto. Dan sepertinya otaknya juga harus berpikir keras lagi untuk menyelesaikan masalah ini. Bagaimana caranya agar ia bisa bertingkah normal lagi. Walau ia tahu perasaan bersalah ini tak akan hilang. Dan memang tak akan pernah hilang sampai dia mati. Ia tahu akan hal itu.
BRAK!
Terdengar suara pintu yang dibuka -atau dibanting- dengan keras. Pintu kamar Naruto yang baru saja ditutup Sasuke dengan lemah lembut (?) itu kini dibanting sendiri dengan kasar oleh sipemilik ruangan itu sendiri. Sasuke yang mendengar suara itu hanya diam tak bergeming. Ia masih berbaring diatas ranjang itu dengan tetang. Padahal jantungnya sudah dag-dig-dug mengetahui Naruto yang sudah sampai kemari.
Si pelaku pembantingan pintu atau yang kita ketahui bernama Naruto itu lalu masuk kedalam kamarnya itu dan juga menutup pintu itu tak kalah kerasnya. Ia juga tak lupa mengunci pintu itu. Ia tak ingin Sasuke kabur dan lari lagi dari dirinya seperti tadi.
Naruto berdiri didepan pintu selama beberapa menit. Ia harus menormalkan nafasnya yang terengah-engah karena berlari itu dulu. Ia juga harus meredakan kekesalannya pada tingkah Sasuke itu juga.
Tarik nafas... Buang... tarik nafas dalam-dalam... lalu buang... itu saja yang dilakukan Naruto selama beberapa saat untuk meredakan kekesalannya itu. Setelah yakin kalau dia sudah siap, ia lalu menghampiri Sasuke yang terlihat tertidur telentang diatas ranjangnya itu. Ia lihat mata Sasuke sudah tertutup, tapi ia yankin kalau Sasuke belum tertidur sungguhan.
"Sasuke." Naruto memanggil nama Sasuke. Tapi yang dipanggil tidak menyahut. Ia masih saja memejamkan matanya.
"Sasuke... kau kenapa?" Naruto bertanya. Tapi Sasuke masih saja diam.
"Hoi Teme!" Naruto memanggil Sasuke lagi. Tapi kali ini lebih keras. Dan Sasuke masih saja diam.
Naruto mulai terlihat kesal kembali. Naruto lalu berlari dan menerjang Sasuke yang sedang tertidur telentang itu. Sasuke tentu saja terkejut. Ia lalu membuka matanya, dan melihat Naruto sudah berada diatasnya. Sasuke masih diam. Ia tidak memberontak ataupun melakukan hal yang aneh. Ia hanya diam, menatap wajah Naruto yang terlihat kesal diatasnya ini.
"Sebenarnya apa yang terjadi sih!? Kenapa kalian menghindariku seperti ini!?" tanya Naruto lagi.
"Se- sebenarnya apa salah ku? Kenapa kau meng-hindari ku se-seperti ini!?" Naruto bertanya lagi. Tapi kini suaranya terdengar bergetar. Ia tak bisa menahan dirinya sendiri agar tidak menangis. Matanya sudah menjatuhkan kristal bening itu. Dan kristal air itu jatuh, tepat diwajah Sasuke. Sasuke terkejut ketika melihat Naruto yang menangis.
"Sakit.. Hiks.. rasanya sa-sakit.. a-aku tak tahu kenapa... tapi ketika kau dan yang lain menghindariku seperti ini... a-aku takut... hiks..." ujar Naruto sambil terisak. ia mencengkeram kain bajunya, tepat dibagian dadanya. Naruto sendiri tak tahu kenapa, tapi dadanya terasa sakit ketika melihat mereka semua menghindarinya.
Sasuke yang mendengar ucapan itu mengumpat didalam hatinya. Menyumpahi dirinya sendiri. Ia tak menyangka Naruto akan terluka seperti ini. Dan ia merutuki kebodohannya ini. Ia lalu memeluk Naruto, lalu memutar tubuhnya, membuat posisi Naruto berubah menjadi tertidur menyamping disampingnya. Naruto masih saja meneteskan air matanya. Sasuke yang melihat itu, lalu mengusap air mata tersebut.
"Hei... jangan menangis..." kata Sasuke sambil mengusap air mata Naruto. dan kemudian Sasuke memeluk Naruto.
"Maafkan aku... aku janji tak akan melakukan hal bodoh seperti tadi lagi padamu..." ujar Sasuke sambil mengelus rambut pirang Naruto. Naruto yang mendengarnya kemudian perlahan menghentikan tangisannya.
"K-kau bisa berjanji tak akan meninggalkanku lagi?" ujar Naruto sambil melepaskan pelukan Sasuke darinya.
"Ya. aku janji. Aku- maksudku kami, akan berada disampingmu... selamanya." Ujar Sasuke lagi. Kali ini ditambah dengan senyuman tulus. Naruto yang mendengarnya juga ikut tersenyum.
.
"Tapi aku masih penasaran... kenapa seharian ini kau, Shikamaru, Neji, Gaara, bahkan Kiba menghindariku?" tanya Naruto. ia kan memang belum diberitahu dari tadi.
"Kalau kubilang : 'Kami menghindarimu karena marah pada diri kami sendiri', apa kau akan percaya?" kata Sasuke. Naruto yangmendengarnya jadi semakin bingung.
"Hah? Apa maksudmu dengan marah pada diri sendiri itu? Aku tak mengerti." Kata Naruto. Sasuke hanya terkekeh. Wajah Naruto terlihat sangat manis kalau berpose kebingungan seperti ini.
"Sudahlah... tak usah dipikirkan. Lebih baik kita tidur sekarang." Ujar Sasuke sambil membawa Naruto kedalam pelukannya lagi.
"E-eh, Sasuke..." Naruto terlihat akan protes dan melepaskan pelukan Sasuke darinya. Tapi tak jadi, karena ia melihat Sasuke sudah tertidur. Wajahnya entah kenapa terlihat seperti Lega di mata Naruto. Seperti beban berat yang biasa dipikulnya sudah tak ada lagi. Naruto hanya tersenyum, dan kemudian ikut memejamkan matanya, memasuki alam mimpi.
.
To Be Continue...
.
Yuhuuuu~~ Aku kembali~~ Adakah orang disini? #ditabok
Hehe~~ gomen... Aku terlalu lama mengupdate-nya ya? Gomennasai~
Aku harap masih ada yang mau membaca fic gaje ku ini...
Tapi ku rasa kedepannya aku masih lelet updatenya. Ku harap kakak semua masih bersedia menunggu... (siapa yang nunggu?)
.
Kali ini chapter 4 ada SasuNaru ama ItaKyuu! Ada yang permintaannya terkabul tuh. Gimana? Gimana? Bagus nggak? Jelek gak?
Tapi kayaknya SasuNaru nya terlalu dipaksakan ya? Apalagi yang di bagian akhir itu...
uh... AKU GAGALL! *jambakrambutsendiri*
Tapi aku dah berusaha. Jadi yang kuperlukan adalah koreksi dari kesalahan ku. Jadi aku terima kritik dan Saran nya nih... tentunya lewat Review ^_^
Dan ini balasan Review chap lalu...
1. eizan . ki : Pasti kak! Justru flashback masalalu mereka itu yang penting. Tapi aku gak tau chapter berapa mau dibuat. Tunggu dengan sabar saja ya ^_^
2. hanazawa kay : Sama-sama~ tapi sebenarnya untuk apa sih kakak berterimakasih? O_O?
3. mifta cinya : Yup~~ Benar~ 100 buat kak mifta! Akatsuki musuhnya~ ; bukan kekuatan special kok. Cuman chakra medis. Gaara dimasa lalu itu hebat sekali dibidang pengobatan. Ini sudah dilanjut ^_^
4. Aiko Michishige : gak paham? Yang mana? Kalo masih gak ngerti boleh Tanya kok ; ini sudah dilanjut~ makasih ya.
5. Neko Twins Kagamine : Seru? Serius? Arigatou~
6. yunaucii : makasih atas sarannya kak ^_^ aku terima dengan senang hati~
7. Namikaze Ichilaw : Selamat Datang Reader baru~ Makasih udah bilang menarik. Kupikir bakalan gak ada yang bilang bagus karena kurasa ceritanya terlalu gaje. ; ini sudah dilanjut~
8. Guest : Tentu saja. Kalau cuman sebatas memperebutkan Naruto, justru aku malah bingung gimana ngelanjutin certanya.
9. white dragon : ini sudah dilanjut~ Arigatou.
10. guardian's feel : Tentu saja. Inti masalahnya itu ada di masalalu mereka. Zaman lalunya itu zaman ninja, tapi bukan ninja kayak di canon. Yang sama cuman system chakra nya aja.
11. Zahra : sudah dilanjut~ terima kasih sudah review ^_^
.
.
Terima kasih banyak atas reviewnya. Aku senang deh. Jangan lupa Review chap 4 ini juga ya... #Plakk!
Reviewnya kutunggu lho~~ :-)
~-:-~
review
ReViEw
rEvIeW
REVIEW
~-:-~
