Chapter 4

Sahabat Kecil
Author newbie mohon maaf apabila ada salah kata
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pairing : SasuHina
Rated : T
Warning : OOC, Typo, ect

Cerita Sebelumnya :

Sekarang aku tahu, alasan kenapa dia begitu kasar, kenapa kata-katanya begitu menyakitkan, kenapa dia begitu haus akan kekuatan dan kenapa aku tidak sanggup membencinya. Dia kesepian, hahaha, mungkin yang dia katakan memang benar, tentang betapa sok tahunya diriku terhadap dirinya. Aku tersenyum kecut, kau memang gadis yang memuakkan Hinata.

.

.

.

.

.

Aku masih menatapnya dari kejauhan, lalu tiba-tiba mata kami bertemu, beradu pandang beberapa detik lalu segera ku tundukkan kepalaku, mencoba menghindari matanya, dan segera berjalan pergi.

"Hinata"

Aku menoleh, ku dapati sesosok laki-laki berambut kuning melambaikan tangannya padaku, Naruto. Pipiku merona, aku sedikit menundukkan kepalaku, berusaha menyembunyikan rona merah di pipiku sambil tersenyum kikuk.

"Kemarilah, ada yang ingin aku bicarakan"

Aku berjalan ke arah Naruto, kulihat Sasuke masih berdiri disampingnya bersama Sakura yang tengah terseyum ramah ke arahku, dia cantik sekali pikirku, aku memang sedikit dekat dengan Naruto, karena dia ramah dan baik kepada siapa saja, sangat berbeda dengan Sasuke, sementara Sakura aku hanya mengenal dia sebatas teman satu kelas saja, tidak lebih. Jadi aku sedikit canggung tiba-tiba berada diantara mereka bertiga.

"Kami mau pergi makan ramen, kau mau ikut?" tawar Naruto.

Aku menggelengkan kepala "Aku harus latihan"

"Ayolah Hinata chan, anggap saja sebagai penambah stamina sebelum latihan, nee?" bujuk Sakura.

Aku menatap Sasuke, yang berdiri di samping Sakura, 'dia pasti tidak nyaman kalau aku ikut' batinku sambil tersenyum kecut,"Anoo, maaf Sa-" "Aku tidak keberatan" potong Sasuke tiba-tiba, aku mengadahkan kepalaku, sudah kuduga dia pasti tidak nyaman apabila ada aku.

"Kubilang aku tidak keberatan, jadi ayo makan ramen bersama" lanjutnya, Mataku membulat, terkejut. Aku hanya tersenyum kecil kemudian mengangguk.

~o~

"Ngomong-ngomong Hinata, kau rajin sekali latihan ya" ujar Naruto sambil asik mengunyah mie ramen.

"Hey, Naruto telan dulu kalo mau ngomong" ujar Sakura.

"Hahaha, gomen-gomen" jawab Naruto.

"Karena aku lemah" jawabku lirih

"Hmm?" Naruto bingung.

"Kau tidak lemah Hinata, kau ini kuat, kau hanya terus menerus meremehkan dirimu, karena itulah kau tidak tahu seberapa kuat dirimu sebenarnya, percayalah pada dirimu sendiri Hinata" lanjut Naruto sambil tersenyum lebar ke arahku.

Aku mengangguk, inilah yang aku sukai dari Naruto, kata-katanya selalu membuatku menjadi tenang, aku selalu mengagumi Naruto.

~o~

"Jaa Sasuke, antar Hinata sampai kerumah ya" ujar Naruto sambil melambaikan tangan.

"A-aku bisa pulang sendiri Naruto kun"

"Aah, tidak apa-apa lagi pula rumah kalian searah, hati-hati dijalan Hinata chan, Sasuke kun" lanjut Sakura.

Selama perjalanan kami hanya terdiam, terbenam akan pikiran masing-masing, tidak ada satupun yang berusaha mengawali topik pembicaraan, aku mendongkakkan kepala, menatap langit yang dihiasi ribuan bintang yang cantik. Tiba-tiba teringat kembali kejadian di belakang gedung 1 bulan yang lalu. Aku menatap Sasuke disampingku, wajahnya datar menatap kejalanan yang sudah mulai sepi.

"A-a-ano, Sasuke kun" ujarku ragu-ragu, membuka topik pembicaraan.

Dia menoleh kearahku, menaikkan alisnya seolah membuat ekspresi 'Ada apa? Jangan ganggu aku!'

"Ini rumahku" ujarku malu-malu sambil menunjuk pagar besar yang berada tepat disebelah kiriku.

Aku menundukkan kepalaku, menggengam erat jemariku, aku gugup, sangat gugup. Bahkan keringat dingin sudah mulai menetes membasahi pelipisku.

"A-aku mm-minta m-maaf, s-su-sudah bersikap sok tau terhadap dirimu"

"Te-terima kasih sudah mengantarku, selamat malam" ku bungkukkan badanku, dan segera berjalan pergi dari hadapannya.

"Aku juga" ujar sebuah suara menghentikan langkahku.

Aku menoleh, Sasuke memalingkan wajahnya, samar-samar ku lihat semburat merah muncul di pipinya.

"Aku minta maaf telah berkata kasar kepadamu" lanjutnya, kemudian berjalan pergi meninggalkanku.

Sementara aku masih berdiri mematung didepan pintu gerbang rumahku, mencerna apa yang baru saja dia katakan sambil menatap punggung Sasuke yang mulai menjauh. Aku tersenyum kecil "Hati-hati dijalan Sasuke kun"

~o~

"Tadaima.." ujarku seraya melepaskan sepatu.

"Kau baru dari mana saja Hinata?" ujar sebuah suara yang amat aku kenali, Hyuuga Hiashi, ayahku.

"Melewatkan latihanmu, kau adalah penerus Hyuga! Hinata! Kau bahkan tidak sanggup mengalahkan Hanabi, tapi sudah berani membolos latihan, ganti bajumu dan segera berlatihlah bersama Neji, dia menunggumu di ruang tengah"

Aku menganggukkan kepala, dan segera pergi kekamar untuk mengganti pakaianku, sudah hampir 3 jam ku habiskan waktuku dengan berlatih bersama Neji, entah berapa kali tubuhku di lemparnya hingga membentur dinding. "Cukup" seru ayahku. Matanya menatap nanar ke tubuhku yang terbaring penuh luka.

"Besok, jangan sampai terlambat Hinata" ujarnya sebelum meninggalkanku.

~o~

Setelah mandi dan mengobati luka-lukaku aku pergi ke kamarku, membuka jendela kamarku lebar-lebar, menikmati hembusan angin malam yang seolah mampu membawa terbang lelahku, penatku dan rasa sakit di tubuhku. Tiba-tiba ku rasakan air mata membasahi pipiku, bagaimana? bagaimana cara agar bisa sekuat dirimu Naruto kun.

TBC

Hello, makasih yang udah mau setia baca fanfic aku dari chapter 1 sampai dengan chapter 4 ini, see you next chapter :))